Sajak-Sajak Otto Rene Castillo

Sajak Sajak Otto Rene Castillo

Otto Rene Castillo, kelahiran 1936, adalah seorang revolusioner Guatemala, pejuang gerilyawan, dan seorang penyair. Setelah pecahnya kudeta 1954 yang disponsori CIA untuk menggulingkan pemerintahan Arbenz, Castillo terpaksa pergi ke pengasingan di El Salvador, dimana dia bertemu dengan Roque Dalton dan para penulis lainnya yang membantunya menerbitkan karya-karya awalnya. Ketika diktator Armas mati pada tahun 1957 dia kembali ke Guatemala dan pada tahun 1959 pergi ke Republik Demokratik Jerman (Jerman Timur) untuk kuliah dan mendapatkan gelar S2.

Castillo kemudian pulang ke Guatemala pada tahun 1954 dan aktif di Partai Buruh, serta mendirikan Teater Eksperimental Ibu Kota, sekaligus menulis dan menerbitkan sejumlah sajak. Di tahun yang sama, ia ditangkatp namun berhasil melarikan diri, dan terpaksa mengasingkan diri sekali lagi,. Namun kali ini bukan ke El Salvador namun ke Eropa. Di akhir tahun ia kemudian secara diam-diam kembali ke Guatemala dan menggabungkan diri ke dalam gerakan gerilya bersenjata di pegunungan Zacapa. Pada tahun 1967, Castillo dan para pejuang revolusioner lainnya tertangkap. Dia dan beberapa kawannya disiksa dengan kejam kemudian dibakar hidup-hidup[i].

Sajak-Sajak Otto Rene Castillo

 

Apolitical Intellectuals[ii]

One day
the apolitical
intellectuals
of my country
will be interrogated
by the simplest
of our people.

They will be asked
what they did
when their nation died out
slowly,
like a sweet fire
small and alone.

No one will ask them
about their dress,
their long siestas
after lunch,
no one will want to know
about their sterile combats
with “the idea
of the nothing”
no one will care about
their higher financial learning.

They won’t be questioned
on Greek mythology,
or regarding their self-disgust
when someone within them
begins to die
the coward’s death.

They’ll be asked nothing
about their absurd
justifications,
born in the shadow
of the total lie.

On that day
the simple men will come.

Those who had no place
in the books and poems
of the apolitical intellectuals,
but daily delivered
their bread and milk,
their tortillas and eggs,
those who drove their cars,
who cared for their dogs and gardens
and worked for them,
and they’ll ask:

“What did you do when the poor
suffered, when tenderness
and life
burned out of them?”

Apolitical intellectuals
of my sweet country,
you will not be able to answer.

A vulture of silence
will eat your gut.

Your own misery
will pick at your soul.

And you will be mute in your shame.

 

Intelektual Apolitis

Suatu hari

Para intelektual

apolitis

dari negeriku

akan ditanya

oleh rakyat kita

Mereka akan ditanya

apa yang mereka lakukan

saat bangsa mereka sekarat

secara perlahan,

seperti nyala api

kecil dan sendiri

 

Tak ada yang akan bertanya

tentang gaun dan jas mereka,

tentang tidur siang mereka

setelah makan siangnya,

tak ada yang mau tahu

tentang pertempuran-pertempuran kosong mereka

dengan gagasan-gasan kosong

tak ada yang akan peduli

tentang pembelajaran finansial tinggi mereka

 

Mereka tak akan ditanya

tentang mitologi Yunani

atau tentang rasa jijik sendiri

saat seseorang diantara mereka

mulai mati

sebagai pengecut yang binasa

 

Mereka tidak akan ditanya

tentang pembenaran mereka

yang tidak masuk akal

yang dibuat di bawah bayang

kebohongan semata

 

Pada hari itu

orang-orang sederhana akan mendatangi mereka

Mereka yang tidak punya tempat

di halaman-halaman buku dan puisi

dari intelektual apolitis,

namun yang tiap harinya mengantarkan

roti dan susu mereka

yang menyupirkan mobil mereka

yang mengurus taman dan anjing mereka

yang bekerja untuk mereka,

dam mereka akan bertanya:

“Apa yang kau lakukan saat rakyat miskin menderita,

saat kelembutan dan kehidupan dicerabut dari mereka?”

 

Intelektual apolitis

dari negeriku tercinta

kalian tak akan mampu menjawabnya

 

Burung nazar kebungkaman

akan memakan nyalimu

 

Penderitaanmu

akan mencongkel jiwamu

Dan kau akan membisu dalam rasa malu

Satisfaction[iii]

The most beautiful thing

for those who have fought a whole life

is to come to the end and say;

we believed in people and life,

and life and the people

never let us down.

Only in this way do men become men,

women become women,

fighting day and night

for people and for life.

And when these lives come to an end

the people open their deepest rivers

and they enter those waters forever.

And so they become, distant fires, living,

creating the heart of example

The most beautiful thing

for those who have fought a whole life

is to come to the end and say;

we believed in people and life,

and life and the people

never let us down.

Kepuasan

Hal yang paling indah

bagi mereka yang telah berjuang seumur hidupnya adalah

menutup usia dengan berkata;

kami percaya pada rakyat dan kehidupan

dan kehidupan dan rakyat

tak pernah mengecewakan kami

 

Hanya begini cara lelaki menjadi lelaki

dan perempuan menjadi perempuan

berjuang siang dan malam

untuk rakyat dan kehidupan

dan ketika hidup mereka sampai pada akhir hayatnya

rakyat membuka sungai terdalam mereka

dan mereka memasuki air tersebut selamanya

sehingga menjadi api di kejauhan yang tetap menyala

mencipta jiwa-jiwa teladan

 

Hal yang paling indah

bagi mereka yang telah berjuang seumur hidupnya adalah

menutup usia dengan berkata;

kami percaya pada rakyat dan kehidupan

dan kehidupan dan rakyat

tak pernah mengecewakan kami

Before The Scales, Tomorrow:[iv]

And when the enthusiastic

story of our time

is told,

who are yet to be born

but announce themselves

with more generous face,

we will come out ahead

–those who have suffered most from it.

 

And that

being ahead of your time

means much suffering from it.

But it’s beautiful to love the world

with eyes

that have not yet

been born.

 

And splendid

to know yourself victorious

when all around you

it’s all still so cold,

so dark.

Di Depan Lereng-Lereng, Masa Depan:

Dan ketika kisah yang paling menggairahkan

dari zaman kita diceritakan,

dari zaman yang belum dilahirkan

namun telah diumumkan

dengan wajah bersahaja

kami akan keluar menampakkan diri

–kami yang paling menderita darinya

 

Dengan demikian

Mendahului zaman

Berarti menanggung banyak penderitaan

Namun mencintai dunia dengan mata yang belum dilahirkan

adalah suatu keindahan

 

Dan begitu indah

Menyadari dirimu menang

Ketika semua di sekitarmu

Masihlah dingin dan gelap

 

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 75 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: