Membela Agama dan Membela Komunisme (1)

Membela Agama dan Membela Komunisme (bag I)

Surat kabar pagi itu memuat kabar yang sebenarnya tidak mengejutkan tapi tetap menjengkelkan: Opera-narasi Tan Malaka dilarang diputar. Batu TV didatangi polisi dan Kodim. Alasannya klise, khas Orde Baru (Orba): berpotensi mengganggu keamanandan stabilitas negara(1).

Kabar ini tidak mengejutkan. Mengapa? Karena reformasi yang katanya berhasil menumbangkan Orba ternyata gagal dan mati di tengah jalan. Kekuasaan militer masih utuh, Koramil, Kodam, Kodim, Babinsa masih ada. Lingkar kekuasaan masih diisi kaum kapitalis birokrat dan politisi Orba. Soeharto sampai mati tidak pernah diadili bahkan hendak dianugerahi gelar pahlawan. Cengkraman imperialis masih kuat, tambang-tambang dikuasai Freeport, Exxon Mobil, dan perusahaan multi nasional lainnya, kondisi yang kian mempertegas status Indonesia sebagai negara setengah jajahan. Kasus pelanggaran HAM mulai dari pembantaian 65, peristiwa tanjung priok, sampai tragedi Mei 98, dan berbagai kasus penghilangan aktivis belum dituntaskan. Stigma anti komunis masih kuat dimana-mana. Buah dari propaganda Orba yang merasuk kuat. Mereka yang dianggap kiri akan dianggap komunis dan mereka yang dianggap komunis pasti dianggap atheis. Kiri-komunis-atheis cukup jadi alasan yang sah bagi seseorang untuk dilarang, diancam, diintimidasi , dan bahkan diperlakukan lebih rendah daripada seekor anjing. Anjing ketika mati, akan dikasihani, dan bahkan dikuburkan. Tapi jasad Ibnu Santoro, lulusan perguruan tinggi AS yang tidak tahu menahu tentang PKI namun ikut terseret dan jadi korban pembantaian 65, dilarang dikubur di desanya sendiri karena dianggap sebagai anggota PKI. Sebagaimana yang kita lihat dalam film Shadow Play, propaganda Orba telah meninggalkan benih-benih otoritarian yang sampai kini masih tumbuh subur. Kata PKI dan komunis sudah jadi begitu peyoratif konotasinya. Seorang guru bahasa Indonesia di sebuah SMAN di Malang bahkan menyatakan Pramoedya Ananta Toer adalah seorang komunis. Jadi ketika Batu TV dilarang menyiarkan opera Tan Malaka, kabar ini sesungguhnya bukanlah kabar yang mengejutkan. Tan Malaka itu komunis, dan komunis itu atheis, dan atheis itu anti pancasila, dan itu akan meresahkan masyarakat. Begitulah jalan pikiran hasil didikan Orba. Lantas masyarakat yang mana? Bagian mana dari opera-narasi yang meresahkan? Baik kepolisian maupun Kodim sama-sama tidak tahu. Mereka tidak paham materi yang akan disiarkan. Konyol. Dua alat pertahanan negara ini rupanya tidak tahu, Tan Malaka adalah karib dekat Soedirman, Jendral pertama Indonesia, yang bersama-sama dalam Persatuan Perjuangan menuntut kemerdekaan Indonesia 100%.

Kabar ini menjengkelkan.Mengapa? Karena setelah 13 tahun Seoharto turun dari kepresidenan, 45 tahun berlalu sejak Orba berdiri, kita masih tidak punya kekuatan yang berarti untuk meruntuhkan tirani semacam itu yang masih berdiri hingga kini. Jangankan meruntuhkan tirani, kita bahkan tidak mampu menghapus politik stigmatisasi hasil propaganda Orba yang masih bercokol di pikiran sampai sekarang.Agama dan Komunisme masih laku untuk dipertentangkan satu sama lain sehingga bisa dipakai sebagai pembungkaman dan pembunuhan karakter. Hal semacam ini juga yang menimpa LPM Ecspose (2). Kita tidak akan berdiskusi lagi tentang kasus yang dialami LPM Ecspose melainkan kita akan mempertanyakan lagi. Benarkah PKI atau Komunisme anti agama?

Mari kita mulai semuanya dari teori determinisme ekonomi. Determinisme Ekonomi adalah teori yang menyatakan bahwa ada dua unsur yang berpengaruh dalam membentuk perkembangan manusia. Pertama, struktur ekonomi yang disebut substruktur. Substruktur menduduki posisi dominan karena keberadaan manusia secara langsung berkaitan dengan unsur pemenuhan kebutuhan ekonominya. Bilamana substrukturnya merupakan sistem sosial ekonomi yang bersifat kerjasama, gotong royong, atau kita sebut saja bersifat kolektif, maka akan mendorong penciptaan suprastruktur yang bersifat kolektif atau melindungi sifat kolektif dari substruktur itu. Sebaliknya bila substrukturnya berwatak eksploitasi maka akan memicu penciptaan suprastruktur yang juga bersifat eksploitatif, menghisap, atau menindas. Suprastruktur, bangunan yang berdiri di atas substruktur ini, terdiri dari dua elemen pokok yang diciptakan untuk melindungi kepentingan pihak yang menguasai substruktur. Dua elemen pokok itu terdiri dari Ide dan Pelaksana Ide.

Apa yang dimaksudkan sebagai Ide disini lebih dari sekedar gagasan. Melainkan seperangkat tata sikap, nilai, dan persepsi dimana melaluinya dibangun sebuah konstruksi mengenai bagaimana cara masyarakat mengerti dan berhubungan dalam dunia ini. Ide ini bisa berupa ideologi politik, hukum, kebudayaan, norma, adat-istiadat, bahkan termasuk kepercayaan dan agama. (3) Tentu saja ide bukanlah sesuatu yang netral. Mayoritas Ide itu ditentukan oleh kelas penguasa. Kelas penguasa menjalankan dominasi dalam dua bentuk. Pertama, dominasi ekonomi nyata atau paksaan dan kekerasan. Kedua, dominasi dengan cara mengontrol ide yang berdasarkan substruktur sesuai kepentingannya, agar diterima oleh kelas lainnya. Bentuk kedua ini dinamakan dengan Hegemoni.

Seperti yang diungkapkan Antonio Gramsci, Hegemoni bisa dicirikan dalam beberapa hal. Pertama, hegemoni ditampakkan seakan-akan sebagai sebuah ‘kesepakatan’ dari mayoritas masyarakat atas ‘gambaran hidup’ yang disuguhkan oleh pihak penguasa. Kedua, nilai-nilai, baik moral maupun politik, yang termasuk dalam sebuah ‘kesepakatan’ tersebut, secara meluas akan menjadi milik penguasa. Ketiga, Ide dibuat sebagai ‘hal yang masuk akal’ atau common sense bagi mayoritas rakyat. Sehingga ada anggapan bahwa sudah merupakan hal yang alami untuk berpikir sesuai ide tersebut. Keempat, persetujuan berlangsung pada masa damai namun kekerasan fisik bisa digunakan untuk menyokong dan melindunginya demi menindas sekelompok minoritas yang dianggap membangkang, selama persetujuan mayoritas masih ada.(4)

Hegemoni dikukuhkan berkat adanya pelaksana ide. Pelaksana Ide adalah aparatus yang berfungsi untuk menjalankan ide itu. Pelaksana ide bisa berupa negara, partai politik, organisasi politik, lembaga hukum, militer, kepolisian, organisasi massa, lembaga pendidikan, media massa, dan lain sebagainya.

Agama, dalam hubungannya dengan prinsip determinisme ekonomi (yang tidak hanya dianut oleh kaum komunis, namun juga kaum anarkis, sosialis, sosial demokrat, dan banyak sekali kaum politik lainnya) dengan demikian hanyalah bagian dari suprastruktur. Agama bisa digunakan baik untuk penindasan maupun perlawanan.

Memang prinsip materialisme-dialektika-historis tidak memberi tempat sama sekali tentang keberadaan tuhan. Materialisme misalnya bisa didefinisikan sebagai suatu filsafat yang menekankan bahwa dunia ini secara keseluruhan tersusun oleh materi. Kain, kertas, kayu, tanah, besi, air adalah contoh-contoh materi. Materi yang memiliki susunan atau komposisi tertentu tidak hanya membentuk namun juga menentukan bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini berada dalam kondisi ruang dan waktu tertentu. Materi juga jangan dibatasi hanya pada segala sesuatu yang tampak secara indrawi. Banyak materi seperti udara, bakteri, virus justru tidak tampak secara kasat mata. Bahkan atom, zat yang menyusun segala sesuatu di dunia ini, termasuk materi yang tidak tampak. Materialisme disana memang tidak berbicara tentang tuhan. Dan seperti yang diamini Kant, selama tuhan tidak bisa dibuktikan keberadaannya, secara bersamaan tuhan juga tidak bisa dibuktikan tidak ada. Demikianlah kita meninggalkan perdebatan tentang keberadaan tuhan.

Ketika Karl Marx dan Friedrich Engels mengambil posisi atheis, hal ini sebenarnya tidak bisa dilepaskan dari sikap reaksioner dan menindas dari kaum agamawan di Eropa sana. Kita tentu masih ingat bagaimana surat pertobatan diperjual belikan dengan pundi-pundi uang dan emas berkilauan dari Gereja Katolik kepada kaum bangsawan. Bagaimana kalangan agamawan hidup bergelimang kemewahan di samping keluarga kerajaan dan memberikan legitimasi kekuasaan bahwa raja adalah wakil tuhan di muka bumi dan ditakdirkan berkuasa. Engels di tahun 1839, waktu ia masih baru berusia 19 tahun, menerbitkan tulisan-tulisannya tentang kemiskinan di Wuppertal. “Kemiskinan yang luar biasa terdapat di lapisan kelas bawah di Wuppertal”, tulisnya, “di mana dari 2500 anak-anak usia sekolah di Elbertfeld saja, 1200 anak tidak bisa menikmati bangku sekolah, dan tumbuh menjadi dewasa sebagai buruh pabrik, supaya para industrialis tidak perlu membayar buruh dewasa, dan dapat membayar buruh anak-anak dengan upah separuh dari buruh dewasa”. Industrialis yang bersangkutan ternyata berasal dari kalangan Pietis, kaum yang melahirkan organisasi penginjil Jerman dan menyebarkan Injil sampai di lembah-lembah Pegunungan Tengah di Tanah Papua. Kenyataan ini membuat Engels sangat kecewa dan menjadi sangat sinis terhadap kalangan agamawan sekaligus pemilik pabrik-pabrik di Wuppertal tersebut, terutama ketika mereka berdalih bahwa buruh anak-anak itu dibayar serendah mungkin, agar tidak menghabiskan uang mereka untuk minum-minum. Kekecewaan macam ini bisa jadi turut mendorong Engels, partner sejati Marx menjadi seorang Atheis yang sengit.(5)

Kita memang tidak bisa memungkiri fakta historis bahwa agama juga sering dipakai sebagai alat penindasan dan untuk melegitimasi kekuasaan. Dalam konteks Eropa, salah satu ide yang digunakan untuk melindungi substruktur ini adalah agama. Eropa pada masa feodal mengenal slogan “Raja adalah utusan Tuhan di dunia”. Slogan ini didengung-dengungkan untuk menciptakan kepatuhan pada kelas penguasa. Mereka yang mempertanyakan, menyangkal, bahkan melawan raja akan dianggap sama dengan melawan Tuhan. Sejarah mencatat era ini sebagai masa kegelapan (the dark ages), sebab perkembangan ilmu pengetahuan dikekang dibawah manipulasi agama yang menjadi doktrin dan dogma demi melegitimasi kekuasaan kelas penguasa. Pola penggunaan ide yaitu pemanfaatan agama untuk kepentingan kelas penguasa ini juga terjadi di banyak tempat lainnya. Di Rusia ada Tsar, kaisar yang menjadi kepala negara sekaligus kepala gereja untuk melegitimasi pemerintahannya yang otoriter. Di Jepang, Kaisarnya dikatakan merupakan keturunan dewa matahari dan titahnya yang suci hanya boleh ditafsirkan oleh Shogun. Sementara di India ada sistem kasta yang berlaku dan menindas masyarakat.

Pemikiran Marx tentu tidak bisa dijadikan doktrin kaku. Ia sendiri menolak sikap dogmatisme dan perilaku membebek yang tidak sesuai dengan prinsip kritis dan cermat. Klaimnya yang menyatakan agamawan adalah pendukung status quo dan anti perubahan sosial sebagaimana yang diungkapkannya dalam Critique of Hegel’s Philosophy of Right (1843) tidak selamanya benar. Karena banyak sekali kaum agamawan yang terlibat dalam perjuangan sosial. Tidak hanya tokoh-tokoh dalam kenabian, bahkan tokoh dalam sejarah kontemporer juga ada. Agama Kristen punya Ibu Theresa, Hindu punya Mahatma Gandhi, Islam punya Muhammad Yunus dengan Grameen Banknya, dan lain-lain. Bahkan tidak sedikit agamawan yang terlibat dalam perjuangan sosial di bawah panji marxisme, sosialisme, dan komunisme. Termasuk di Indonesia, dan kontribusinya sangat besar dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Tan Malaka, salah satu pemimpin PKI, adalah seorang datuk yang khatam Al-Qur’an dan menulis Naar De Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia), jauh sebelum Hatta berpidato tentang Indonesia Merdeka dan Soekarno berpleidoi Indonesia Menggugat. Ya, buku konsepsi Indonesia yang lepas dari kolonialisme pertama kali ditulis oleh seorang Komunis. Ia bahkan sempat menganjurkan agar Komunis Internasional beraliansi dengan Pan Islamisme untuk mengusir Kolonialisme. Kemudian ada Haji Misbach. Seorang aktivis pergerakan Sarekat Islam yang terkenal sebagai Muslim Komunis. Bagi Misbach, Islam dan Komunisme sama-sama memandang perjuangan sosial demi menegakkan keadilan masyarakat sebagai sebuah kewajiban, sama-sama menghormati HAM, dan bahwa keduanya berjuang terhadap berbagai bentuk penindasan. Seorang Muslim yang sejati sangatlah mustahil menolak dasar-dasar komunis. Sebuah dosa besar apabila memakai agama Islam sebagai selimut untuk memperkaya diri (ini ditujukan bagi pemimpin-pemimpin SI). H. Misbach pula yang memopulerkan istilah “sama rasa sama rata” sebagai doktrin kaum komunis karena komunisme tidak membiarkan adanya perbedaan-perbedaan nasib, komunisme ingin melenyapkan kelas-kelas manusia, dan itu juga dilakukan oleh Islam. (6)

Upaya mempertentangkan agama dan komunisme sebenarnya merupakan upaya yang lapuk terutama sejak bangkitnya teologi pembebasan di Amerika Latin yang kemudian menyebar ke negara-negara di benua lainnya. Teologi pembebasan awalnya merupakan gerakan nasrani yang menggunakan perpaduan ajaran nasrani dengan analisis marxisme untuk mendorong perjuangan sosial. Salah satu tokohnya, Gustavo Gutierrez, pada tahun 1971 berhasil menggemparkan kalangan gereja dengan karya kontroversialnya, The Theology of Liberation: History, Politic, Salvation. Ia menyatakan “Bila iman adalah suatu komitmen kepada Allah dan umat manusia, maka mustahil keberimanan kita pada hari ini mengabaikan komitmen kepada proses pembebasan umat manusia (dari segala kemiskinan dan penindasan)”. Kebangkitan kiri-tengah di amerika latin juga tidak bisa dilepaskan dari peran serta teologi pembebasan. Hugo Chavez, presiden Venezuela sendiri mengaku bahwa ia merupakan seorang Trotskyist dan sekaligus penganut Teologi Pembebasan.

Pembahasan ini dimaksudkan untuk menjernihkan permasalahan hubungan antara agama dan komunisme. Sebagaimana yang dikatakan Pram, “Seorang terpelajar harus berlaku adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan.” Kita tentu harus adil dalam menghargai jasa seseorang dan sebuah golongan, terlepas apa pun agamanya, apa pun pandangan politiknya, apa pun jenis kelaminnya, dan apa pun rasnya. Serta terlepas dari masalah kita suka atau tidak suka. Patut kita perhatikan kutipan dari seorang aktivis komunis sekaligus pastor penganut teologi pembebasan: “Dunia tidak dibagi antara kaum yang beriman atau tidak beriman, melainkan antara kaum penindas dan kaum tertindas” (bersambung)

  1. Lihat http://www.surya.co.id/malangraya/polisi-larang-opera-tan-malaka.html

  2. Lihat http://persma.com/baca/2009/10/17/ecpose-bukan-komunis.html

  3. Lihat Materi Dinamika Tatanan Masyarakat, Transfer Wacana Sosial, PPMI Kota Malang 2010

  4. Lihat Gramsci, The Prison Diary

  5. Coen Hussain Pontoh, Dia yang Datang dari Jalan Berbeda, Jurnal Indoprogress, dan Sumbangsih Friedrich Engels, Rumah Kiri

  6. Happy Susanto mengutip AK. Pringgodigdo, Sejarah Pergerakan Rakyat Indonesia, (Jakarta, Penerbit Dian Rakyat, 1979), cet. viii, hal. 26.

Comments
2 Responses to “Membela Agama dan Membela Komunisme (1)”
  1. zen john mengatakan:

    kalo menurut saya, apapun ideologi satu bangsa, yang penting MENSEJAHTERAKAN RAKYATnya..dan dalam kasus di indonesia, asalkan tidakbertentangan dengan falsafah awal negara kita, tidak bertentangan dengan UUD 45 dan pancasila..

  2. luki1986 mengatakan:

    Benar, Bung. Karena itu menilai suatu kondisi dari suatu wilayah tidak bisa serta merta dengan melihat apa ideologi yang dianut secara resmi disana. Kondisi Uni Soviet pada 1917-1922 dengan demokrasi pekerja jelas berbeda dengan kondisi 1922-1945 yang totaliter. Sosialisme ala Bolivia juga jelas sangat bertolak belakang dengan ‘komunisme’ ala Korea Utara. Begitu pula rezim orde baru yang mengatasnamakan pancasila ternyata menjalankan sistem kapitalisme-birokrasi lewat rezim fasis-militeristis. Sistem komunal juga tidak harus berlabel komunis atau sosialis. Masyarakat Samin, tatanan masyarakat spanyol pada revolusi 1936, hingga junta pemerintahan baik di Chiapas sama sekali tidak berlabelkan komunis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: