Ode untuk Mia

Ode untuk Mia


Seperti jati, satu persatu yang telah bertahan lewati badai dan kemarau kini menua, tumbang, dan mati.

Mereka yang telah hidup tanpa pernah menunduk, mereka yang patah namun tak pernah menangis dan menghiba.

18 hari yang lalu, Mia Bustam, seorang perempuan, seorang seniman, seorang ibu, dan seorang penerjemah menyusul mereka.

Apa hendak dikata, turut pergi pula seorang pejuang dalam jiwa yang sama.

Namun serupa kata Tagore, jati yang mati jadi rabuk yang suburkan tanah dan bumi.

Engkau yang mati tinggalkan bekal dan inspirasi untuk lawan tirani.

 

Masih segar dalam ingatan semua yang menyambutmu pulang.

Usai lepas dari penyiksaan dan pemenjaraan itu kau hanya tersenyum dan berkata.

“C’est la vie”, inilah hidup.

Di senyummu tak ada dendam, tak ada benci.

Hanya ketegasan menuntut segala kehormatan yang dirampas.

Hanya keteguhan yang layak penghormatan bagi yang berhak.

Dan engkau berhak, seperti juga Pram dan Hay Djoen yang lebih dulu tiada.

 

Selamat tinggal, kawan Mia.

18 hari sudah engkau tinggalkan manusia dan buminya yang fana.

Di sini sejarah masih belum diluruskan dan kehormatan belum dipulihkan.

Karena tirani masih kokoh berdiri dan rakyat belum menang.

Seperti jati, istirahatlah dengan damai, biar perjuangan ini kami coba teruskan.

Mengenang Mia, Sang Perempuan Berhati Singa

Tulisan ini dibuat karena terinspirasi tulisan Bung Dhani berbentuk Obituari yang ditujukan untuk mengenang Maemunah Thamrin, istri kedua dari Pramoedya Ananta Toer. Sejak itu saya yakin akan dua hal. Pertama, persma.com memerlukan rubrik baru: obituari. Bukan untuk mengenang jasa-jasa seorang pahlawan yang sudah meninggal sebagaimana yang selalu dilakukan Orde Baru dengan membangun tugu dan melaksanakan indoktrinisasi lewat rekayasa sejarah di buku-buku pelajaran. Melainkan karena kita berhutang, kepada orang-orang yang meninggal itu, mulai dari aktivis, sastrawan, dan lainnya, sebuah kewajiban untuk menyampaikan kesaksian, meluruskan sejarah, dan yang lebih berat lagi: meneruskan perjuangan mereka yang kini telah mati namun cita-citanya belum terealisasi. Kedua, ya, hal kedua yang saya yakini itu adalah, saya perlu menulis sebuah obituari tentang Mia Bustam. Seorang aktivis tangguh sekaligus seorang ibu yang teguh.

91 tahun yang lalu Mia lahir dengan nama Fransisca Emanuela Sasmiati. Lahir di tengah keluarga priyayi, berdarah ningrat, dan besar dengan menempuh pendidikan Belanda tak lantas membuat Mia jadi borjuis kecil. Memang takdir orang siapa yang tahu. Karena siapa sangka ternyata Mia Bustam kemudian ambil garis kiri dan jadi aktivis Lekra (Lembaga Kebudajaan Rakjat) serta Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia).

Bersama Lekra, ia rutin melakukan kegiatan Turba (Turun ke Bawah), sebuah praktek yang mewajibkan seniman-seniman di bawah naungan Lekra untuk menggali bahan berkarya dengan hidup dan bekerja bersama rakyat. Metodenya mereka sebut tiga sama: bekerja bersama rakyat, makan bersama rakyat, dan tidur bersama rakyat. Tidak boleh dibolak-balik. Tidak boleh diutak-atik. Mia membenarkan itu dan menceritakan pengalamannya, “Kita orang disuruh turun ke bawah, mengalami hidup dengan rakyat, bahkan tidur dengan bantalnya mereka. Tahu sendiri kan kalau bantalnya petani itu kadang saking tuanya bisa sampai ‘mengkilap’. Tapi kita gak boleh jijik.”(1)

Mia Bustam kemudian menikahi Soedjojono. Pria yang dianggap sebagai bapak seni lukis modern Indonesia itu melamarnya dan Mia menjawab ya. Selama 19 tahun Mia hidup mendampingi sosok pendiri Persagi (Persatuan Ahli Gambar Indonesia) dan SIM (Seniman Indonesia Muda) itu. Hidup macam apa yang dimiliki sepasang kekasih yang keduanya sama-sama seniman, saya tak pernah tahu. Soedjojono lebih berkutat di seni lukis sementara Mia Bustam di sastra. Tapi batas-batas itu pun tak kaku. Mia pun pernah menghasilkan beberapa lukisan yang oleh banyak seniman dipandang mengandung garis-garis yang tak kalah dengan lukisan Soedjojono. ”Dulu kalau Bapak melukis, saya disuruh nungguin di sebelahnya. Lama-lama saya lihat, oo… melukis itu gampang ternyata,” kenang Mia. Kelak, tepatnya pada tahun 1964 lukisan karya Mia sempat diikutsertakan dalam pameran Indonesia di Eropa.

Kehidupan mereka berdua sebagai suami istri, toh, tidak berjalan selamanya. Ketika Soedjojono terpikat perempuan lain dan meminta ijin berpoligami, Mia dengan tegas menolak. Sikap ini sikap yang sangat wajar mengingat Mia pernah menjabat sebagai anggota pleno Gerwani, organisasi pergerakan perempuan yang menentang keras poligami. Meskipun Soedjono sering meminta Mia untuk tak pernah meninggalkannya, Mia tetap kukuh pada pendiriannya. Ia minta cerai ke suami yang pernah mengabadikannya dalam sebuah lukisan saat ia hamil muda.

Belakangan, tepatnya pada tahun 1958, Seodjono yang pernah jadi anggota DPR dari fraksi PKI itu malah dipecat dan dipreteli jabatannya bersama dengan kemelut dalam kehidupan rumah tangganya. Partai memang punya kebijakan keras terhadap anggota atau kadernya yang ditengarai memiliki skandal dengan perempuan lain. Tak hanya Soedjojono, Njoto, wakil ketua bidang agitasi dan propaganda PKI sekaligus pemimpin Harian Rakjat juga dipreteli dari jabatannya karena punya skandal dengan perempuan Rusia. Mia dan Soedjojono sendiri kemudian secara resmi bercerai pada tahun 1959. “Waktu itu umur Rhino tiga tahun.”, kenang Mia. (Rhino adalah anak bungsu Mia dan Soedjojono. Mereka berdua punya delapan anak) “Rhino sedang menggembala kambing sambil nyanyi lagu-lagu rohani di dekat asrama Realino.”  Di sela lagu-lagu itu tiba-tiba ia menyanyi lagu ’Internasionale’ yang digubah Ki Hajar Dewantoro itu.”

Bangunlah kaum yang lapar/Bangunlah kaum yang hina/Kehendak mulia dalam dunia/Senantiasa bertambah besar//Singkirkan paham dan adat lama/Kita massa-rakyat yang sadar/Dunia telah berganti rupa/‘tuk kemenangan kita//Perjuangan penghabisan,/Bangkit dan melawan/Dan internasionale pasti di dunia//Perjuangan penghabisan,/Bangkit dan melawan/Dan internasionale pasti di dunia

Siapa yang tidak kaget mendengar anak kecil umur tiga tahun bukannya menyanyi bintang kecil, pelangi-pelangi, atau potong bebek angsa, tapi malah menyanyikan Internasionale? Lagu perjuangan buruh ciptaan Eugene Pottier yang sudah digubah ke banyak bahasa. Mia Bustam kemudian bercerita bahwa nyanyian anak bungsunya itu kemudian didengar orang. “Seorang biarawan mendekat, tanya namanya. ”Apa Bapakmu masih ada?” Rhino bilang, ”Sudah pergi, Romo….” Lalu ditanya lagi, ”Siapa namanya?” Rhino menjawab, ”Soedjojono.”

Bercerai dan membesarkan anak-anaknya seorang diri tak lantas menyurutkan aktivistasnya, baik sebagai aktivis Lekra maupun Gerwani.Ia bahkan produktif dalam menulis, termasuk menerjemahkan karya sastra dan karya tentang sastra.

“Bung Hay Djoen waktu itu sangat menganjurkan agar menerjemahkan buku-buku dari luar negeri supaya orang sini juga bisa membacanya.”

”Ya, novel, ya apa sajalah.”

“Terus saya ditanya sama Bung Hay Djoen,

‘Lho, Mia mau menerjemahkan apa?’,

saya pilih The Disintegration of Personality dari Doestoevsky.

‘Wah bagus itu’, katanya.”

“Belum sampai dimulai, nah, dateng tank-nya pak Harto itu.”, sambung Mia sambil terkekeh kecil.

“Jadi belum pernah jadi bikin, lha sekarang bukunya juga sudah hilang”

Tahun itu, tahun 1965. Masa terjadinya titik balik terhadap kekuatan yang ada di Indonesia. Pecah peristiwa G30S dan dimulailah propaganda hitam serta kampanye pembersihan terhadap semua orang yang dicap PKI. Banyak orang, mulai dari buruh, petani, dosen, guru, mahasiswa, wartawan, seniman, sampai orang yang tidak tahu menahu perkara apa yang terjadi kemudian ditangkap AD (Angkatan Darat) yang berada di bawah komando Soeharto. Mia dan kawan-kawannya di Lekra termasuk dari ratusan ribu bahkan sampai jutaan yang kemudian ditangkap, dipenjara, dan disiksa, tanpa pernah menjalani proses pengadilan.

Hari itu, Mia Bustam ditangkap tentara di kantor Lekra. Di sudut matanya tak ada setitikpun air mata yang menggenang apalagi menetes. Tidak ada pula peluk dan cium sama sekali saat ia direnggut dari anak-anaknya.

“Wis ya, Cah. Saya cuma bilang begitu. Karena kalau saya cium mereka, saya pasti nangis dan saya tidak mau. Menangis itu menandakan kelemahan. Dan itu tidak perlu diperlihatkan pada orang jelek. Orang jahat.”(2)

Sejak itu hingga 13 tahun kemudian, Mia dijebloskan ke dalam penjara tanpa tahu apa kesalahannya. Selama itu Mia pernah mengalami enam kali pemindahan penahan dari satu kamp ke kamp lainnya serta dari satu penjara ke penjara lainnya. Mulai dari Benteng Vredeburg, Penjara Wirogunan, sampai Plantungan dan Bulu, ia sendiri pernah merasakan dibuang ke pulau Buru. Mia Bustam paham betul apa itu siksaan dan keteguhan. Di dalam penjara selama masa penahanan itulah, Mia menyaksikan dan merasakan sendiri kekejaman Orde Baru (Orba) sekaligus kekerdilan jiwa-jiwa otoritarian. Birokrat-birokrat penjara sangat doyan berceramah dan bahkan mencap para Tapol (Tahanan Politik) itu sebagai komunis pengkhianat negara, atheis anti agama, bahkan tidak pancasilais. Perkataan itu toh ternyata bertolak belakang dengan perlakuan mereka mulai masalah ketidakadilan jatah makanan sampai praktek korupsi. Dalam sebuah memoar yang ditulis Mia ketika ia bebas, Mia yang masih segar ingatannya, menulis praktek-praktek kriminal aparat penjara yang mulai dari mengutip kiriman uang untuk para tahanan, sampai merampas jatah kasur,seprai, dan handuk yang kemudian dipakai sendiri oleh para aparat dan birokrat penjara itu. Mereka yang secara munafik mengaku sebagai hamba hukum itu kemudian berbuat lebih biadab lagi dan mengakibatkan beberapa Tapol perempuan sampai hamil di penjara.

Kisah ini sebenarnya hanya sekelumit dari kekejian rezim fasis Orba yang telah berkuasa selama 32 tahun lebih lamanya. Pelanggaran HAM dan pembantaian menjadi sebuah kenyataan sejarah yang mencoreng muka Indonesia dan mencoreng nilai-nilai kemanusiaan. Max Lane, seorang pengajar di Victoria State University, yang pada tahun 1972 tengah menulis skripsi tentang sejarah politik di Bali dan mengumpulkan data di Bali mendengar pengakuan dari para saksi mata bahkan dari para pelaku pembantaian yang sangat mencengangkan tentang pembantaian pada 1965an. Orang-orang anti-komunis dari PNI (Partai Nasional Indonesia) yang masuk ke penjara di salah satu kabupaten, menembak mati puluhan tahanan politik dengan menggunakan senapan mesin. Dalam catatan kesaksian Max Lane menulis pula tentang seorang penduduk yang menyaksikan sendiri bagaimana seorang elemen anti-komunis memotong kepala aktivis-aktivis organisasi massa (ormas) Partai Komunis Indonesia (PKI) di desanya dengan menggunakan pedang.(3)

Mia Bustam sendiri lolos dari pembantaian macam itu. Ia kemudian dibebaskan dari Penjara Wanita Bulu, Semarang pada 27 Juli 1978. Dia antara Tapol-Tapol yang bertahan melewati penyiksaan dan tetap menjaga teguh prinsip dan semangat hidupnya, Mia adalah salah satunya. Seperti jati ia tetap berdiri kokoh. Setelah sembilan tahun lamanya ia bertahan hidup di Pulau Buru dan berhasil melalui 14 tahun masa pemenjaraan 14 tahun di berbagai penjara, tanpa pengadilan, tanpa pernah dinyatakan bersalah, bahkan tanpa tuduhan jelas, akhirnya Mia dibebaskan. Saat ia kembali menghirup udara bebas lepas dari penjara dan berjumpa kembali dengan anak pertamanya, Mia hanya memberi senyum hangat dan menjabat tangannya seperti dua sahabat yang lama tak jumpa, dan berkata mantap, ”C’est la vie.” Inilah hidup!(4)

Penjara dan penyiksaan memang bisa membuat Mia menderita lahir dan batin namun tak sanggup membunuhnya. Dan seperti yang dikatakan seseorang, sesuatu yang tak sanggup membunuh kita hanya akan membuat kita tambah kuat, sebagaimana bara api dan tempaan godam menguatkan logam jadi pedang. Tak sekalipun dan tak sedikitpun Mia berhenti menulis. Setiap hari diisinya dengan kegiatan menulis dan membaca. Goresan bolpoin di atas kertas-kertasnya kemudian dibacakan dan diketikkan Nasti, salah satu anaknya. Hasilnya semenjak lepas dari penjara Mia sudah menghasilkan dua buku: Soedjojono dan Aku serta Dari Kamp ke Kamp.

Sebagai seorang perempuan yang berumur 91 tahun, pikiran Mia masih jernih dan ingatannya masih tajam. Hanya pendengarannya yang mulai berkurang. Di sisi lain semangat hidupnya tak surut sedikit pun. Solidaritasnya terjalin tidak hanya dengan korban pembantaian 1965 namun juga dengan semua korban rezim fasis Orba, termasuk dengan keluarga korban tragedi Semanggi. Bagi orang-orang seperti Mia Bustam, pelurusan sejarah dan pemulihan nama baik butuh lebih dari sekedar permintaan maaf melainkan tindakan kongkrit mulai dari mengadili semua pelaku yang bertanggungjawab, pencabutan hukum produk rezim fasis Orba, hingga pengubahan sistem yang anti rakyat ini. Hal itu tentunya sesuatu yang tidak mungkin terjadi di bawah rezim yang mana politisinya sempat mengusulkan Soeharto dijadikan sebagai pahlawan nasional.

18 hari yang lalu, Mia Bustam akhirnya meninggal dunia di umur 91 tahun. Dunia tidak saja kehilangan seorang patriot, seorang aktivis perempuan, dan seorang seniman. Dunia kehilangan seorang perempuan dan seorang ibu yang sekokoh jati, berhati singa, namun penuh cinta. Tidak sedikitpun ia menyimpan dendam. Tidak kepada Soedjojono yang tak pernah mengunjunginya dan menengok anak-anaknya sejak mereka bercerai hingga Soedjojono meninggal di tahun 1986 dan tidak pula ia menaruh dendam terhadap pelaku-pelaku pembantaian. Ia hanya menuntut keadilan dan kehormatan bagi mereka yang berhak, termasuk dirinya. Mia Bustam menutup usia dan meninggalkan 8 anak, 20 cucu, dan 11 cicit. Mia Bustam sendirian berjuang untuk membesarkan anak-anaknya dan mendidik mereka menjadi kuat, berprinsip, dan berani , seperti jati, tak ikut angin berhembus, tak tunduk pada badai,  meski sekeras apapun hidup itu. Selamat tinggal Mia Bustam, kau wariskan inspirasi untuk lawan tirani dan kami berhutang sebuah perjuangan untuk diteruskan.

(1)     Komunitas Kotak Hitam, Yang Bertanah Air Tak Bertanah

(2)     Baca, Gunawan, Rudi dan Haksoro Angga, Penutup Kisah Mia Bustam

(3)     Baca, Lane, Max, Tragedi 1965, 5 Oktober 2010, Jurnal Indoprogress

(4)     Lihat, Hartiningsih, Maria. Sejarah: Sebuah Bongkah Ingatan di Punggung Gelombang. Kompas, Jumat, 10 Desember 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: