Selamatkan Bahasa Indonesia!

Selamatkan Bahasa Indonesia!

 Apa yang membuat seorang pemuda Batak merasa sama dengan pemuda Jawa? Apa yang membuat pemuda Papua tidak merasa berbeda dengan pemuda Sunda? Apa yang mampu menyatukan berbagai suku di nusantara dalam suatu komunikasi dan interaksi antar suku? Pemersatu itu adalah Bahasa Indonesia. Bahasa nasional yang diyakini mampu menjembatani berbagai suku tanpa menghilangkan identitas kesukuan mereka. Delapan puluh tahun yang lalu para pemuda dari berbagai suku bangsa di Indonesia berkumpul. Mereka mengikrarkan persatuan mereka dalam apa yang disebut Sumpah Pemuda. Salah satu kalimat dalam Sumpah Pemuda itu dengan jelas menjunjung tinggi bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Kini tugas kitalah sebagai kaum muda untuk terus menjaga komitmen terhadap ikrar Sumpah Pemuda.

Namun apa yang terjadi saat ini? Bahasa Indonesia kian tenggelam. Tergerus oleh berbagai istilah asing yang kian merambah kehidupan sehari-hari. Masyarakat Indonesia tampaknya lebih tertarik kepada bahasa asing, sebagian besar bahasa Inggris. Gejalanya tampak di berbagai segi. Mulai dari perbincangan di situasi formal sehari-hari maupun pada komunikasi berbasis media massa.

Gejala yang langsung bisa ditengarai salah satunya melalui media televisi. Televisi merupakan media massa yang menggunakan istilah bahasa asing paling intens diantara media massa. Televisi, sebagai media yang paling sering dikonsumsi masyarakat  tentu berandil besar dalam kemunculan fenomena kegemaran menggunakan istilah-istilah bahasa asing.

Salah satu saluran televisi, Metro TV, merupakan saluran televisi yang paling banyak menggunakan istilah bahasa Inggris sebagai nama program acaranya. Today’s Dialogue, Public Corner, Showbiz News, World News, Save Our Nation, Top Nine News, dan Kick Andy merupakan contoh-contoh program acara berbahasa Indonesia yang memakai bahasa Inggris sebagai judul acaranya. Stasiun televisi lain juga tak lepas dari hal ini. Di RCTI ada acara gosip bernama Go Spot. Sedangkan Trans TV memiliki komedi situasi bernama Coffe Bean Show. Kedua-duanya mengambil nama program dari bahasa Inggris untuk acara yang berbahasa Indonesia.

Masih banyak program yang memakai judul bahasa Inggris di stasiun-stasiun televisi lainnya. Namun tampaknya tidak ada yang melampaui kegencaran MTV dalam penyisipan bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia. Lebih dari sekedar penamaan program acara seperti MTV What’s Up, MTV Global Room, MTV Morning Greeting, dan MTV Zipper. VJ MTV (Sebutan pembawa acara MTV yang merupakan kependekan dari Video Jockey) juga sering menyisipkan kata-kata, ungkapan, bahkan berdialog dalam bahasa Inggris. Karena segmen MTV adalah anak muda, otomatis dampaknya adalah generasi muda saat ini cenderung mengagungkan bahasa Inggris daripada bahasa Indonesia.

Intensitas penyisipan bahasa asing di televisi sayangnya tak diiringi dengan acara pendidikan bahasa asing (dalam hal ini bahasa Inggris) di televisi. Alhasil, yang berkembang di masyarakat adalah bahasa Inggris gaul yang bercampur aduk dengan kata-kata bahasa Indonesia. Itulah yang menjelaskan kemunculan ungkapan-ungkapan seperti, Please deh, So what gituloh,OMG (Kependekan dari Oh My God namun tetap dibaca O em ji), pengucapan klien menjadi klayen, produk menjadi prodak, dan lain-lain.

Fenomena yang sama juga terjadi pada media cetak. Dunia pernovelan kini menggunakan bahasa Inggris dalam pendefinisian beberapa aliran baru. Teen Lit, Chick  Lit, dan yang paling baru Movie Lit serta Song Lit[1], kesemuanya merupakan nama-nama aliran novel yang memakai istilah bahasa Inggris. Media-media baru yang mengambil satu fokus tertentu, seperti sinema, ponsel, musik, dan tema-tema lainnya, malah lebih gencar dalam penggunaan bahasa Inggris. Baik sebagai nama media maupun judul per rubriknya. Sebut saja Cinemags, M2 (Movie Monthly), On Screen, Gadget, Hot Chords, Trax, Hot Game, dengan nama rubriknya Highlight, Review, Preview, Sneak Peak, Bloopers, Hot News, dan lain-lain. Anehnya, kegemaran dalam menggunakan bahasa asing ini tidak menimpa media-media khusus lain seperti majalah tanaman, kesehatan, dan majalah religi. Nampaknya fenomena ini hanya terjadi pada media yang berkaitan dengan gaya hidup dan yang bersegmen anak muda.

Banyak hal yang sebenarnya menjadi penyebab mengapa bahasa Indonesia seakan menjadi orang asing di negeri sendiri. Pertama, citra penggunaan bahasa Inggris dianggap identik dengan kemajuan, modernitas, kecanggihan, dan gaya hidup masa kini. Hal ini diperparah dengan fakta bahwa sebagian besar konsumsi produk teknologi masih bergantung pada produk luar negeri.

Karena bahasa yang umum digunakan komputer, piranti lunak, telepon genggam, serta berbagai produk lainnya adalah bahasa inggris maka penggunaan bahasa Indonesia tak terpakai di produk tersebut. Hal ini sudah berlangsung sangat lama. Sehingga meskipun produk teknologi yang menggunakan bahasa Indonesia telah diluncurkan, seperti sistem operasi komputer Windows versi bahasa Indonesia, namun produk itu kalah karena pemakaian bahasa Inggris dibidang teknologi terlanjur melekat di hati penggunanya. Kita lihat “download” lebih populer dibanding “unduh” dan “misscall” lebih populer dibanding “panggilan tak terjawab”.

Akhirnya berbagai pihak beramai-ramai menggunakan bahasa Inggris agar dianggap modern, maju, canggih, dan trendi. Bahasa Inggris tak hanya diselipkan dalam percakapan baik formal maupun informal. Melainkan juga dipakai sebagai istilah dalam dunia pendidikan[2], teknologi komunikasi[3], dan perdagangan[4]. Sebagian besar istilah asing tersebut tetap digunakan kendati sudah ada padan katanya dalam bahasa Indonesia.

Kedua, kini anak-anak telah diperkenalkan bahasa asing dalam usia yang sangat dini. Bahasa Inggris tak hanya diajarkan mulai kelas 1 SD. Di beberapa TK juga telah diajarkan bahasa Inggris.  Bahkan ada pula bahasa Mandarin dan bahasa Jerman di beberapa TK lainnya. Akibatnya mereka kehilangan kesempatan untuk lebih dekat dengan bahasa Indonesia dan bahasa daerahnya. Padahal di usia yang sangat dini perlu ada penanaman rasa cinta terhadap bangsa dan negara. Dan hal itu tentu tidak bisa dilakukan tanpa pembelajaran bahasa Indonesia secara intensif.

Faktor ketiga adalah belum adanya undang-undang yang mengatur kaidah tata bahasa dengan jelas. Kini formalitas hukum mengenai tata bahasa nasional mutlak diperlukan. Hal itu disebabkan perkembangan teknologi informasi yang mencapai taraf komunikasi antar bahasa dan budaya tanpa batas ruang dan waktu. Selain itu pemaksaan globalisasi kepada seluruh negara di dunia juga berpotensi mengancam bahasa nasional. Tanpa undang-undang kebahasaan, infiltrasi bahasa asing ke dalam bahasa Indonesia akan makin gencar dan menjadi-jadi. Bukankah kedaulatan Indonesia sudah digempur dari segala lini? Kita sudah tak memiliki kedaulatan pangan, kedaulatan pertahanan militer, juga kedaulatan ekonomi. Jadi bukan suatu hal yang mustahil kelak kedaulatan bahasa akan bobol dan bahasa Indonesia punah karena tidak kita lindungi dan lestarikan.

PERLINDUNGAN TERHADAP BAHASA INDONESIA SECARA EFEKTIF

            Seperti apa undang-undang kebahasaan yang efektif? Undang-undang itu setidaknya memuat lima hal. Pertama, pengaturan mengenai penggunaan bahasa Indonesia sesuai EYD dan koridornya. Kedua, paraturan penggunaan bahasa Indonesia dalam media mass. Ketiga, peraturan menyangkut penempatan penggunaan bahasa asing. Keempat, perlindungan terhadap bahasa daerah. Kelima, perlakuan khusus di bidang kesenian.

Pengaturan penggunaan bahasa Indonesia sendiri menyangkut beberapa aspek. Pertama, pengunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar wajib dipraktekkan dalam semua lingkungan dan aktfitas formal. Lingkungan tersebut mencakup semua institusi pendidikan, tempat kerja, serta fasilitas-fasilitas umum.

Kedua, pengaturan penggunaan bahasa Indonesia dalam media massa. Sebagai alat komunikasi yang menyeluruh, media massa jelas merupakan penentu keberlangsungan suatu bahasa. Karenanya media massa harus dirangkul, didisiplinkan, serta dijadikan instrumen pengawal dan pelestari bahasa Indonesia. Dalam penjelasan yang lebih rinci ada beberapa hal yang harus diterapkan pada media massa di Indonesia. Hal itu terdiri dari pengaturan bahasa Indonesia pada semua media cetak dan acara televisi bersifat formal, pembatasan iklan berbahasa asing, serta penghapusan sikap pengistimewaan bahasa Inggris dalam tayangan asing. [5]

Ketiga, penempatan pendidikan bahasa asing dalam kaidah yang benar. Televisi selalu menampilkan tayangan yang jor-joran dalam menyelipkan bahasa asing (dalam hal ini bahasa Inggris). Namun sangat jarang atau bahkan tidak pernah menampilkan pendidikan bahasa asing sebagai salah satu tayangannya. Akibatnya muncul banyak bahasa Inggris salah kaprah yang disebut bahasa Inggris setengah matang dalam cergam Lagak Jakarta. Bahasa Inggris akhirnya hanya dipakai sebagai pemoles bahasa pergaulan sehari-hari untuk menunjukkan bahwa pembicara adalah orang yang maju meski tidak jelas maju kemana. Inilah yang harus diubah. Tiap stasiun televisi setidaknya harus menayangkan setidaknya satu program pendidikan bahasa asing. Dengan pendidikan yang benar, masyarakat akan mampu menguasai bahasa asing tanpa harus selalu berbahasa asing. Ini dibuktikan dengan KH Agus Salim yang meskipun menguasai lima bahasa tidak serta merta selalu berbahasa asing. Ia bahkan menjunjung tinggi bahasa Indonesia.

Keempat, harus ada perlindungan khusus terhadap bahasa daerah. Jangan sampai keanekaragaman daerah yang salah satunya berupa bahasa daerah tergerus oleh hal-hal baru yang masuk dari luar. Ini bisa diterapkan dengan pengoptimalan pengajaran bahasa daerah melalui pelajaran muatan lokal (Mulok). Wewenang pengajaran bahasa daerah melalui mulok ini sebaiknya didesentralisasikan dengan diserahkan ke tiap kota, bukan sentralistik dengan ditentukan oleh pusat maupun provinsi. Karena walaupun sudah berada pada provinsi yang sama, Jawa Timur misalnya. Bahasa Jawa yang dipakai di Surabaya lain dengan bahasa Jawa yang dipakai di Malang maupun di Blitar. Karena bentuknya mulok maka bahasa daerah ini tak perlu diujikan dan hanya bertujuan pembelajaran agar anak didik tidak tercerabut dari budaya daerahnya.

Kelima, harus ada pengaturan khusus untuk bidang kesenian. Kreatifitas seniman tidak boleh dibelenggu dengan peraturan kebahasaan ini. Meski harus diakui saat ini semakin banyak musisi yang menggunakan bahasa Inggris dalam lirik lagunya, baik hanya menyelipkan atau menggunakan dengan penuh. Hal semacam ini cukup diarahkan dengan membentuk organisasi-organisasi kesenian yang mengarahkan seniman-seniman Indonesia. Selain itu untuk mendorong kecintaan terhadap bahasa Indonesia, harus ada penghargaan untuk seniman-seniman (terutama musisi karena karya-karya musisi yang sering diterima secara luas oleh masyarakat) atas konsistensi mereka menggunakan bahasa Indonesia dan keberhasilan mereka membuat lirik yang bagus dari bahasa Indonesia. Musisi-musisi yang pantas diganjar penghargaan ini antara lain Efek Rumah Kaca dan Koil.

KUNCI UNTUK MENIMBULKAN KECINTAAN PADA BAHASA INDONESIA

Tentu saja semua poin dalam peraturan kebahasaan itu tidak akan efektif tanpa mengambil langkah kunci untuk menimbulkan kecintaan pada bahasa Indonesia. Langkah kunci apakah itu? Tentu saja kembali pada pendidikan bahasa dan sastra. Tanpa adanya pendidikan bahasa dan sastra yang baik dan berkualitas tidak mungkin rakyat Indonesia akan mencintai bahasanya sendiri. Mereka tidak akan mungkin mencintai karena paksaan peraturan. Mereka harus diajak mengenal, mempelajari, dan berakrab-akrab dengan bahasa dan sastra Indonesia terlebih dahulu. Barulah kecintaan itu akan timbul dengan sendirinya. Meskipun peraturan kebahasaan itu tetap perlu untuk menekan infiltrasi bahasa.

Pelajaran dan pengajaran bahasa dan sastra di sekolah-sekolah dan juga di universitas-universitas harus dievaluasi ulang. Selama ini mayoritas praktek pendidikan bahasa dan sastra hanya berkutat pada hapalan dan latihan soal saja. Peserta didik tidak diajari untuk mengenal karya sastra, memahaminya, dan membuat karya sastranya sendiri. Selama ini peserta didik hanya diarahkan untuk mencetak skor atau nilai dalam Rapor dan ujian-ujian. Inilah yang keliru. Bahasa dan Sastra tidak sama dengan Matematika dan Fisika. Karenanya tidak bisa dan tidak boleh diperlakukan sama dengan pelajaran eksakta lainnya. Hendaknya dalam hal bahasa, selain diajarkan materi-materi bahasa, peserta didik seharusnya dilibatkan dalam banyak praktek ataupun pengamatan langsung. Misalkan peserta didik diputarkan rekaman pidato Soekarno. Bisa juga difasilitasi dengan pengadaan lomba-lomba terkait bahasa Indonesia, seperti lomba menulis essei, lomba pidato, lomba debat, maupun lomba-lomba lainnya yang memotifasi peserta didik. Sedangkan dalam hal sastra, peserta didik hendaknya dikenalkan pada karya-karya sastra bermutu milik anak bangsa. Dikenalkan bukan berarti hanya sebatas pada melihat sekelumit cerita dan latar belakangnya namun diajak untuk membaca secara penuh karya sastra tersebut. Ada banyak karya sastra anak bangsa yang bisa direkomendasikan untuk pembelajaran sastra di sekolah dan perguruan tinggi, mulai dari Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, Jalan Tak Ada Ujung karya Mochtar Loebis, kumpulan-kumpulan cerpen dari WS Rendra, maupun karya sastra-karya sastra anak bangsa yang lebih baru seperti Laskar Pelangi karya Andrea Hirata dan Petir karya Dewi Lestari. Peserta-peserta didik juga harus dibina dengan intensif dengan mengarahkan mereka untuk memulai menulis karya sastra baik berupa puisi atau cerpen. Mereka juga bisa dipertemukan dengan sastrawan-sastrawan lokal di tingkat kota serta didorong untuk mengikuti kompetisi-kompetisi dalam bidang sastra. Pembinaan juga bisa diambil dengan jalan membuka forum-forum diskusi, komunitas penikmat sastra, kuliah tamu maupun kunjungan ke institusi pendidikan oleh sastrawan, atau dengan penyelenggaraan lomba-lomba di tingkat internal institusi pendidikan dengan dewan juri yang berisi gabungan sastrawan berkompeten dan pengajar bahasa Indonesia. Langkah-langkah semacam ini memang tak sontak melahirkan hasil yang langsung bisa dilihat secara instan. Karena bagaimanapun juga pendidikan adalah suatu proses yang memakan waktu dan juga lebih bersifat investasi jangka panjang. Namun hanya dengan penggunaan dua pedang, pendidikan dan peraturan kebahasaan inilah, bahasa Indonesia bisa diselamatkan dan dilestarikan.

 


[1]Movie Lit kependekan dari Movie Literature, cerita film yang dibuatkan versi novelnya. Sedangkan Song Lit, kependekan dari Song Literature adalah aliran novel yang dtulis berdasarkan suatu lagu. Aliran baru ini diusung oleh Gagas Media yang telah sukses mengadaptasi film-film Indonesia ke dalam Novel. Beberapa diantaranya Metal Vs Dugem yang diangkat dari lagu Project Pop dan Sandaran Hati yang diangkat dari lagu Letto.

[2] Infiltrasi bahasa Inggris paling tampak dalam papan nama sekolah. Hampir setiap sekolah mulai dari tingkat SD hingga SMA kini memiliki nama dalam bahasa inggris selain nama aslinya. Beberapa universitas juga membuka program studi dengan nama bahasa Inggris. Seperti Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti dengan Corporate Social Responcibility dan Hospitality Management, Universitas Tarumanegara dengan Pogram Studi Urbanm and Real Estate Development

[3] Istilah dari bahasa Inggris masih kerap dipakai dalam hal yang menyangkut komputer dan peralatan elektronik lainnya. Istilah-istilah seperti software dan hardware lebih sering digunakan dibanding padan katanya dalam bahasa Indonesia; piranti lunak dan piranti keras. Istilah telepon genggam juga telah kalah populer dengan handphone.

[4] Beberapa istilah asing yang populer dalam dunia perdagangan adalah; entrepeneurship yang menggusur kata kewirausahaan, writerpeneurship yang menggantikan istilah kepenulisan, franchise yang menggeser padan katanya; waralaba, delivery service yang lebih populer dibanding layanan antar, dan masih banyak contoh lainnya.

[5] Sudah bukan rahasia lagi bahwa hampir seluruh tayangan berbahasa asing selain bahasa Inggris akan disulihsuarakan ke dalam bahasa Indonesia. Sementara mayoritas tayangan yang menggunakan bahasa Inggris tetap ditayangkan dalam bahasa aslinya disertai dengan teks berbahasa Indonesia. Ini menimbulkan pertanyaan di diri kita, apa keistimewaan yang dimiliki bahasa Inggris sehingga mendapat perlakuan istimewa seperti ini? Anggapan bahwa bahasa Inggris adalah bahasa dunia mungkin saja menjadi salah satu penyebabnya. Hanya saja ini hal ini tampaknya ditelan mentah-mentah oleh praktisi pertelevisian. Karena akibat jangka panjangnya adalah munculnya rasa inferior dari penonton terhadap bahasanya sendiri, bahasa Indonesia. Di sisi lain penonton juga akan terkooptasi dengan pikiran bahwa bahasa Inggris adalah bagian tak terpisahkan dari kemajuan dan modernitas. _

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: