Ketika Kelulusan Dimaknai dengan Ritual Wisuda

Kartun Wisuda
Kartun Wisuda

Wisuda pada dasarnya tak lebih dari sekedar pesta perayaan kelulusan mahasiswa. Pesta prestise yang diadakan di penghujung studi mahasiswa semata. Mahasiswa (lebih tepatnya orang tua mahasiwa) dikuras kantongnya untuk membayar toga dan upacara kelulusan. Alasan seperti kenang-kenangan dan demi kebanggaan serta menyenangkan hati orang tua, seringkali dijadikan argumen untuk mempertahankan tradisi wisuda.

Faktanya, wisuda tidak lebih dari pemanfaatan keluguan orang tua. Karena dari suku apapun, dari kalangan ekonomi manapun baik kaya ataupun miskin umumnya rela berkorban apapun demi pendidikan sang anak, sang calon wisudawan.

Ironisnya, prosesi berbiaya tinggi ini tidak diikuti timbal balik yang berarti dari segi akademik. Tidak ada pemberian soft-skill dan tidak ada materi pendidikan tambahan. Padahal pada kenyataannya, mahasiswa “ditendang” dari kampus ke dunia persaingan kerja yang ganas. Bagaimana bisa hal semacam itu diperingati dengan perayaan?

Prosesi wisuda umumnya hanya terdiri dari fase-fase sederhana. Prosesi dimulai dari masuknya rektor dengan para pembantu rektor beserta para dekan demi mewisuda para calon wisudawan. Setelah itu dilanjutkan dengan sesi berfoto bersama orang tua, teman, atau pasangan wisudawan.

Pakaian wisudawan pun sudah ditentukan. Seragam utamanya adalah toga yang wajib dibeli. Calon wisudawan dilarang mengenakan wisuda pinjaman ataupun sewaan dari orang lain. Padahal baju toga hanya dipakai hanya pada prosesi itu. Artinya satu kejadian seumur hidup. Selain kewajiban mengenai toga, masih ada ketentuan dress-code tambahan. Pria umumnya mengenakan hem putih dan celana hitam. Sedangkan wanita mengenakan kebaya tradisional tipis beserta kain jarik. Tentu saja bagi kaum wanita prosesi menjadi lebih panjang. Karena mereka harus mengawali prosesi lebih pagi dengan mengantri di salon untuk merias diri.

Nova Ariani, wisudawan D-III Bahasa Inggris angkatan 2004, mengaku bahwa dirinya menghabiskan biaya sebesar Rp 550.000,- dalam kegiatan wisuda yang berlangsung hanya sehari. Di beberapa kota besar lainnya, biaya itu belum termasuk iuran alumnus, trophy, biaya toga, biaya foto wisuda, biaya foto keluarga, serta VCD/DVD dokumentasi wisuda. Lucunya, bagi mereka yang tak mau mengikuti prosesi ini diancam tidak akan mendapat sertifikat kelulusan. Baik untuk masuk maupun sekedar lulus dari perguruan tinggi ternyata sama-sama memakan biaya yang tinggi.

Ditengah kondisi perekonomian bangsa yang tengah anjlok dan angka kemiskinan yang naik, kita seharusnya bertanya pada diri sendiri. Apakah sudah tepat memaknai kelulusan dengan pesta ala kaum borjuis? Bukankah ini makin mengukuhkan fakta bahwa kampus merupakan menara gading diantara kaum ekonomi lemah? Kaum akademis, baik para pendidik maupun yang terdidik tidak sepatutnya mempertahankan tradisi ini. Kaum akademis tidak sepatutnya mengekor watak politisi korup yang kreatif dalam membuat proyek yang memperkaya kantong pribadi namun menguras uang rakyat dan minim manfaat.

Kaum akademis sepatutnya berkaca pada kaum ekonomi lemah. Rp 30.000,- bagi seorang penjual nasi goreng adalah biaya listrik per bulan. Rp 20.000,- adalah pendapatan maksimal selama per hari dari tukang ojek di desa. Dan itu berarti Rp 600.000,- per bulan (bayangkan, hanya selisih Rp 50.000,- dari biaya wisuda untuk satu orang selama sehari). Sementara Rp 10.000,- dapat dipakai untuk makan minimal dua kali sehari. Cukup bermanfaat untuk memperpanjang nyawa orang yang kekurangan.

Grameen Bank (Bank Orang Miskin) milik Muhammad Yunus di India, meminjamkan uang senilai Rp 1.000,- (tanpa bunga) kepada orang miskin di India. Dan dengan jumlah yang sebenarnya kecil itu, Grameen Bank mampu membebaskan banyak keluarga miskin dari cengkeraman lintah darat sekaligus mengangkat taraf hidup mereka.

Biaya wisuda yang sebenarnya tak bermakna ini seharusnya diarahkan untuk pembinaan kaum ekonomi lemah. (Apalagi di masa di mana subsidi ke bawah banyak yang dikebiri). Usaha yang muncul dan sukses dari pembinaan ini tentunya akan menyedot tenaga kerja. Efek lanjutannya, tentu saja angka pengangguran dan kriminalitas turun. Sehingga beban negara akan berkurang dan lekas lepas dari ketergantungan utang luar negeri.

Peran kaum akademis selayaknya dijalankan sebagai pengabdi masyarakat melalui ilmu yang mereka serap semasa kuliah. Karena kewajiban seseorang yang berilmu adalah mengamalkan ilmunya demi kebaikan orang banyak.. Jangan terjebak pola hidup kapitalis, dimana segala hal dikomersilkan. Sehingga hidup hanya mementingkan diri sendiri. Ingat, Nabi Muhammad menyebarkan Islam secara gratis dan cuma-cuma. Apakah kita kaum akademis merasa lebih tinggi dengan memasang tarif mahal atas keilmuan kita?

Lukito

Comments
4 Responses to “Ketika Kelulusan Dimaknai dengan Ritual Wisuda”
  1. odin mengatakan:

    Kalo Gitu untuk lebih mempersiapkan diri para ALUMNInya dalam Soft-Skill lebih baik kuliah di IPDEI – saya yaknik bisa….. karena di IPDEI mata kuliahnay UP to DATE dengan DUNIA KERJA mau bukti datang aja ke IPDEI …GRATIIIIIIIS….datangnya….

  2. M Imron Rosadi mengatakan:

    saya sangat setuju sekali dengan artikel pean mas. bahkan sekarang kaum tertinggi akademis bisa jadi julukan dosen pengasong itu bisa terjadi di kampus dimana saja karena tentang hal itu diungkapkan sosiolog Fakultas Ilmu Sosial Poltik Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof Dr Heru Nugroho dalam pidato pengukuhan guru besar di Balai Senat, UGM link artikelnya>> http://us.news.detik.com/read/2012/02/14/155840/1842197/10/sosiolog-ugm-awas-banyak-dosen-jadi-pengasong. dan hal itu tidak hanya terjadi pada saat ritual wisuda tetapi pada saat masa-masa kuliah benar-benar sangat di rasakan para adek-adek tingkat kita di kampus kita lebih khususnya di fakultas kita. kapitalisme benar- benar merambah ke dunia pendidikan sekarang mas karena para pengajar/akademis merasa lebih hebat dari hebat dan jual mahal padahal timbal baliknya sangat-sangat buruk sekali kepada Mahasiswanya bahkan sangat mempersulit untuk lulus dari setiap matakuliah yang di tempuh. kaum petinggi akademis yang sangat anarki kepada mahasiswanya.

    • luki1986 mengatakan:

      Benar, Bung, Imron. Tepat pula apa yang disampaikan Bung Heru. Tidak hanya dosen pengasong namun juga dosen yang menjadi alat kepanjangan tangan rezim penguasa. Banyak sekali kasus perlawanan rakyat terhadap penguasa dimana kalangan birokrasi kampus berpihak pada penguasa, bukan rakyat. Misalkan kasus sengketa tanah, kasus malpraktik, dan sebagainya. Namun apa yang kita alami ini bukanlah kapitalisme pendidikan melainkan komersialisasi pendidikan. Apa bedanya? Kapitalisme pendidikan meskipun membuat pendidikan makin mahal dan hanya bisa dijangkau segelintir kalangan, diiringi dengan kualitas pendidikan, profesionalitas, kebebasan akademik, misalkan ketika dosen dikritik dalam kelas maka akan senang saja menyambut dengan perdebatan. Berbeda dengan komersialisasi pendidikan. Komersialisasi pendidikan membuat biaya pendidikan tinggi namun kualitasnya rendah. Semakin banyaknya mahasiswa yang ditampung tidak didahului peningkatan ruang kelas/gedung dan penyediaan fasilitas, maraknya pungli dan korupsi, tidak ada kebebasan akademik, juga rendahnya profesionalitas. Karena itu perjuangan mahasiswa hendaknya jangan berlarut-larut dan terjerumus dengan perebutan kursi politik BEM/Senat/DPM atau ritual perploncoan yang memecah belah, melainkan harus fokus pada perjuangan melawan komersialisasi pendidikan dan memperjuangkan kepentingan ekonomi politik mahasiswa.

  3. raisyha03 mengatakan:

    iya nih,,,,,aku juga pusing ma adekku yang mau wisuda.sampe ibuku ngotot mintak biaya kiriman padahal akunya lagi paceklik banget.kesalnya lagi….harus pake acara rental mobil buat bawa beberapa orang kampung,kalau gak gitu bakal malu katanya sama2 teman2nya.Emang harus gitu ya….?soalnya aku gak mengenyam bangku kuliah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: