Udin Pulang Hari Ini

Udin berlari tergopoh-gopoh memasuki gang-gang kampung yang sempit dan gelap. Nafasnya memburu dan peluhnya bercucuran. Sesekali ia menoleh ke belakang seperti dikejar setan. Sampai di suatu sudut ia akhirnya meringkuk, sembunyi. Cepat-cepat ia tiarap berusaha serata mungkin dengan tanah. Tinggal matanya yang mengawasi sekitarnya. Barang beberapa menit kemudian lewatlah beberapa polisi yang tampaknya mengejar dirinya. Udin menggigit bibirnya. Berusaha membungkam mulutnya sendiri serapat mungkin. Jangan sampai ia bersuara. “Kalau sampai aku ketahuan, tamatlah aku” pikirnya. Satu-satunya suara yang tak mampu dibungkamnya adalah suara yang timbul dari jantungnya yang berdebar keras. Ia tahu suara jantung pasti tak bakal kedengaran orang lain tapi Udin yang ketakutan merasa suara detak jantungnya terdengar memekakkan telinganya. Ia takut mereka mendengarnya. Ia takut tertangkap.

Akhirnya polisi-polisi itu pergi. Udin masih meringkuk, menunggu. Ia takut kalau-kalau mereka kembali. Setelah merasa cukup aman, ia keluar dari persembunyiannya. Dan berlarilah ia pulang.

Tempat yang ditujunya untuk pulang bukanlah rumah sebenarnya. Cuma gedung tua yang terbengkalai. Disana tinggal beberapa bocah seperti dirinya dan beberapa orang tua yang menggelandang.

Dikeluarkannya apa yang tadi disembunyikan di kantong jaket lusuhnya. Tangan kirinya mengeluarkan segepok dompet tebal dan tangan kanannya mengeluarkan pisau lipat yang masih berlumuran darah. Dicarinya kran yang masih menyala dan dicucinya pisau itu disana. Langkahnya berat. Tubuhnya terasa amat penat.

“Ucok mana?” tanyanya sambil meringis pada bocah perempuan yang menghampirinya.

“Mana aku tahu, kan tadi pergi sama kamu.” balas bocah yang tampaknya berusia lebih muda daripada Udin.

“Masa’ dia ketangkep?” gumam Udin

“Dapet berapa?”

“Bentar aku lihat dulu.”

Dibukanya dompet tebal berbahan kulit itu. Penuh lembaran lima puluh ribuan. Jemari Udin bergerak lincah ke sela-sela kertas sambil bergumam menghitung.

“Dapet banyak, ya?” tanya si bocah perempuan tak sabar.

“Lumayan” jawab Udin sambil tersenyum tipis.

“Nih, buat elu.”

Si bocah perempuan meringis senang.

“Eh, lu nggak sampai ngebunuh orang, kan?” tanya si bocah perempuan yang khawatir setelah melirik pisau lipat Udin

“Nggak, lah. Cuma gue gores dikit. Kalau aja dia nggak bikin ulah waktu ada polisi patroli pasti nggak bakal gua apa-apain. Gue nggak kaya’ Ucok yang emosian. Kalau Ucok sih nggak boleh pegang pisau, emosi dikit udah mau bacok aja.”

“Perut lu kenapa?” tanya si bocah yang heran melihat Udin meringis sambil memegangi perutnya.

“Ah, nggak, kalau nggak kelaperan paling juga kena maag”

“Trus kenapa gak beli makan? Kan sekarang udah ada uang.”

“Lu gila ya? Pengen gua ketangkep polisi?”

“Jangan marah, dong. Kan gue cuma kuatir.”

“Terus Ucoknya mana?”

“Waduh, nggak tau juga. Tadi waktu kabur sengaja misah biar nggak ketangkep.”

“Udah gak usah kuatirin Ucok. Ntar besok juga nongol lagi. Sekarang tidur sana, lu. Kecil-kecil udah begadang.”

“Yee…”

Ditunggunya Ucok sambil duduk di atas alas kardus. Disandarkannya ke tembok, punggungnya yang masih basah oleh keringat. Ditimbang-timbangnya dompet kulit itu. Sedikit rasa berdosa rupanya ia rasakan juga di hatinya. Tapi buru-buru ditampiknya. Pikirnya ia memang tak punya pilihan lain. Bukan salahnya kalau ia lahir dan dibuang dalam kardus. Kalau bisa memilih tentu ia mau dilahirkan sebagai anak orang kaya. Mau apa-apa tinggal minta. Sekolah setinggi apapun bisa. Mau makan mewah tinggal sebut saja. Tak pernah kelaparan. Tak pernah kekurangan. Bahkan tak pernah merasakan panas jalanan dan dinginnya malam. Ah, enaknya anak orang kaya.

Pikirannya kemudian melayang ke Haji Muchlis, orang yang dulu sempat menampungnya. Setiap mengingat takmir masjid berjenggot putih itu, Udin merasa rindu namun juga merasa sedih di saat yang bersamaan. Kata tetangganya, Udin ditemukan di tangga masjid saat Subuh menjelang. Saat itu tak ada orang lain yang mau mengasuhnya. Jadilah pak tua yang tiap harinya berjualan sayur ini membapaki Udin yang tak berbapak dan beribu. Haji Muchlis membesarkan Udin dengan sepenuh hati seperti membesarkan anaknya sendiri. Paginya Udin disekolahkan dan malamnya diajarinya ia mengaji.

Sebenarnya Udin bersyukur, ia dibuang ke masjid dan bukannya diaborsi. Namun Udin yang lama-kelamaan tumbuh dewasa, akhirnya tahu mengapa Haji Muchlis sering makan belakangan dan makan sendirian tak bersama-sama dengan Udin. Suatu kali Udin mengintip Haji Muchlis dan ia kaget karena Haji Muchlis hanya makan nasi dengan jumlah yang sangat sedikit bahkan tanpa lauk. Di kesempatan yang lain pun Udin sempat memergoki Haji Muchlis yang sebenarnya cuma berpura-pura makan. Lama-kelamaan Udin berpikir bahwa dirinya hanya menjadi beban bagi Haji Muchlis. Dipikirnya ia cuma menyusahkan hidup Haji Muchlis yang sudah susah. Seandainya ia tak ada, mungkin Haji Muchlis tak perlu pura-pura makan. Seandainya ia tak ada, mungkin Haji Muchlis tak perlu sering-sering berpuasa. Keputusan Udin makin bulat saat SMPnya meminta bayaran yang besar untuk wisuda dan rekreasi. Siang itu Haji Muchlis rupanya masih di masjid, Udin mengedap-endap ke rumah. Dikemasinya beberapa pakaian secukupnya ke dalam tas lusuhnya. Ditinggalkan surat yang tadi malam di tulisnya dengan berurai air mata. Ia minta maaf tak bisa pamit dengan baik-baik, lagipula Haji Muchlis tak akan mengizinkannya.

Tiga tahun sudah ia hidup di jalanan. Hari ini anak seumurannya pasti tengah gembira merayakan kelulusan SMA. Sudah lebih dari sekali Udin menyaksikan anak-anak SMA dalam kemeja penuh coret-coret, berkonvoi sepeda motor keliling kota. Sudah lebih dari sekali Udin melihat anak-anak seumurannya pergi dan pulang sekolah. Dan sudah lebih dari sekali, Udin yang sering mengamen ke jendela-jendela mobil tempat anak-anak itu berada, memandang mereka dengan perasaan iri. Iri pada mereka yang berpunya, punya ayah, punya ibu, punya keluarga. Kadang selain iri ia juga jengkel. Baru ia mendekat tapi si sopir sudah menolaknya datang dengan isyarat tangan.

Pikiran Udin kembali menerawang. Seperti apa kira-kira Ibunya. Andai bayi manusia punya ingatan sebaik orang dewasa, tentu ia tak akan lupa paras perempuan yang melahirkannya ke dunia. Tak perlu ketemu. Fotopun kalau ada selembar, cukuplah adanya. Siapa ya dia sebenarnya, pikir Udin. Apa dia juga kesusahan gara-gara aku?

Perut Udin makin sakit sementara Ucok tak kunjung datang. Udin lalu tertidur. Dalam mimpinya ia tengah berjalan lurus menyusuri aspal jalanan yang entah mengapa sangat sepi dan lengang. Sayup-sayup didengarnya suara Haji Muchlis yang memanggil-manggil namanya dari arah belakang. Ditengoknya ke belakang. Dilihatnya Haji Muchlis berlari ke arahnya sembari berteriak-teriak memanggil namanya. Namun entah mengapa sosok Haji Muchlis semakin menjauh dan suaranya pun makin sayup. Sementara dari arah depan ada suara yang memanggilnya pula. Seorang perempuan cantik yang tidak pernah dikenalnya namun entah mengapa dirasanya bukan seseorang yang asing baginya.

*

Paginya, akhirnya Ucok pulang ke persembunyian mereka. Gadis kecil itu menyambut Ucok dengan gembira sambil memberi tahu bahwa Udin membawa uang banyak semalam. Ucok yang gembira kemudian menatap Udin yang masih terbaring di atas kardus.

“Heh, pemalas! Ayo bangun! Sudah pagi, ini. Ayo bagi uangnya biar kucarikan makan, hehe.” Ucok berkata sambil melempar topinya ke Udin.

Tapi Udin tak bergerak.

Ucok datang menghampiri.

“Din, bangun dong!” Ucok menepuk pipi Udin.

Tapi Udin tetap tak bergerak.

“Din?” Ucok mulai mengguncang-guncangkan tubuh Udin.

Tapi Udin tetap tak bergerak

Tangan Ucok tak sengaja menyentuh bagian jaket Udin yang basah dan lengket. Dilihatnya jemari-jemarinya yang kini berlumuran warna merah.

“DIN?! BANGUN, DIN!” Ucok mulai panik dan kembali mengguncang-guncangkan tubuh sahabatnya yang dulu pernah menyelamatkannya dari keroyokan preman Ibu Kota.

Tapi Udin masih terbaring dan tak terbangun. Tidak pula menjawab kebingungan Ucok. Tidak pula menatap si gadis kecil yang matanya mulai berkaca-kaca menatap tubuh Udin yang kini tak bernyawa lagi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: