Pilihan

choices-3

Dalam hidup ada pilihan-pilihan mudah. Pilihan mudah umumnya muncul dalam waktu yang cepat dan bisa diambil dalam tempo yang singkat. Seperti lebih baik memilih Iwan Fals daripada Kangen Band atau lebih baik Chrisye daripada Ian Kasela. Pilihan lain bisa juga seperti lebih baik pilih-pilih buku daripada pilih-pilih parpol di Indonesia. Tapi ada juga pilihan-pilihan sulit yang harus diambil dalam waktu singkat.

Seperti ketika seseorang baru sadar bahwa pintu rumah belum dikunci ketika sialnya dia sudah di tengah, benar-benar di tengah, 1jarak perjalanan untuk sampai ke tempat kerja. Dia, atau kita yang mungkin pernah mengalaminya,  bisa saja memilih untuk kembali serta mengunci rumah, dan dengan demikian memastikan rumah aman dari pencuri, namun dengan resiko dia terlambat kerja dan dimarahi atasan. Sebaliknya dia juga bisa terus mengebut ke tempat kerja dan menghadapi resiko rumahnya akan kemalingan.

Pilihan manapun ada resikonya. Ambil satu maka harus mengorbankan yang lain. Kasus pilihan sulit yang terjadi di jalan ini banyak macamnya. Saya pikir 5 dari 10 orang pernah mengalaminya. Seperti menemui kejadian tabrak lari di jalan dimana korban sampai tak sadarkan diri, melihat orang tengah dipalak preman, dan lain sebagainya. Kita tentu saja akan terkejut menyaksikan hal itu. Kita juga tak mau hal itu terjadi pada kita. Umumnya orang yang masih punya nurani akan berhenti dan berusaha menolong. Entah bersama-sama menggotong si korban, meminggirkan kendaraannya, mengejar si penabrak yang tengah kabur, ataupun berusaha mencari pertolongan. Namun kadang kita dihinggapi perasaan takut, takut nanti kita dipersalahkan, takut kita akan terseret urusan ruwet dan merepotkan, entah harus menjadi penjamin di rumah sakit maupun harus jadi saksi di peradilan kelak. Kadang kita terlalu takut sampai-sampai kita tetap berlalu tak acuh, kadang cukup dengan berharap dalam hati bahwa hanya  atau lebih buruknya hanya diam menjadi penonton dan bersama-sama dengan yang lain memacetkan jalanan.

Tidak memilih pun sebenarnya juga sebuah pilihan. Pilihan untuk tidak memilih bisa saja karena bingung, malas, atau takut, sehingga memutuskan tidak memilih atau tidak melakukan apa-apa. Apakah memilih untuk tidak memilih selalu merupakan pilihan mudah? Tidak. Tersebutlah suatu hari di bawah tirani fasis Orde Baru ada sekelompok pemuda memutuskan untuk tidak memilih partai manapun dari tiga partai Orde Baru yang ikut pemilu. Bukan karena bingung. Bukan karena malas. Bukan karena takut. Melainkan karena menolak. Menolak pemilu yang penuh manipulasi dan demokrasi semu. Hingga kini pun masih banyak yang Golput. Memang apa yang bisa kita harapkan dari demokrasi borjuis selain demokrasinya kaum beruang dan berpunya? Mendengar itu tentu saja akan ada orang bijak yang entah muncul dari mana dan berkata, “Ya, kalau semua pilihan buruk, pilihlah yang keburukannya paling sedikit.” Nah, seandainya kalau kita lapar lalu disodori tiga makanan. Makanan pertama basi satu hari, makanan kedua basi dua hari, makanan ketiga basi tiga hari. Apakah kita akan memilih pilihan yang keburukannya paling sedikit? Apakah kita akan memilih makanan yang kebasiannya paling baru? Apakah kita akan makan makanan yang basi satu hari? Saya, sih, tidak. Lebih baik kelaparan. Begitu juga orang yang Golput. Dan kelaparan itu menyakitkan. Sama seperti pemuda-pemuda yang menyerukan Golput itu dulu. Karena harus berhadapan dengan kekuasaan, dengan tiran, dan dengan kematian.

Sartre sempat menyatakan, “pilihan yang kita buat dalam keadaan hidup tertindas adalah pilihan sejati karena dibuat saat langsung menghadapi kematian, karena selalu dapat dinyatakan seperti ini:lebih baik mati daripada…” Karena itu kita menjumpai ungkapan seperti “merdeka atau mati” atau “lebih baik mati sebagai orang bebas daripada hidup sebagai budak”, dan lain sebagainya. Karena saat manusia menghadapi kematian, manusia bisa menjadi dirinya sendiri.

Pilihan yang diambil saat menghadapi kematian adalah pilihan yang sangat berani. Betapa banyak orang yang mati dalam pertempuran surabaya, reformasi 1998, dan betapa banyak orang yang mati dalam revolusi di timur tengah. Semuanya jadi harga mahal yang harus dibayar untuk memperjuangkan kemerdekaan dan kebebasan. Harga mahal disini tidak hanya diukur dari seberapa banyak mereka yang mati menurut angka statistik. Harga mahal itu karena setiap nyawa yang melayang merupakan nyawa manusia. Disana yang muncul bukan peristiwa tunggal: manusia mati dalam penembakan. Secara bersamaan muncul peristiwa lain: istri kehilangan suaminya, orang tua kehilangan anaknya, kawan kehilangan sahabatnya, dan lain sebagainya.

Namun tak sedikit pula pilihan yang diambil saat menghadapi kematian adalah pilihan yang jauh dari kesan heroik. Banyak pilihan demikian malah menyerupai sebuah tragedi. Indonesia adalah negara dengan setumpuk kisah tragis itu. Ada kisah bapak tua memilih makan arang karena ia tak mampu beli beras, ada nenek tanpa rumah yang mati di pinggir jalan dengan berselimutkan koran, ada buruh migran yang pulang dengan kondisi babak belur dan cacat di badan. Pilihan itu meski diambil saat berhadapan dengan kemiskinan, kelaparan, dan kematian jelas bukan pilihan terbaik.

Presiden pertama di Indonesia ini mati dengan membawa pilihan getir ke dalam liang lahatnya. Di saat yang menentukan, di hadapan kenyataan kudeta merangkak sang Jenderal, ia memutuskan untuk tidak melakukan perlawanan. Semua orang bertanya-tanya, termasuk mereka yang mendukungnya, yang sudah menyusun barisan dan kekuatan untuk membelanya. Ia membiarkan dirinya dan rezimnya jatuh. Soekarno bukanlah Ho Chi Minh. Soekarno bukanlah Tan Malaka. Bagi seorang Soekarno kejatuhannya itu lebih baik daripada kemungkinan perang saudara meletus di Indonesia dan ketika itu Inggris akan masuk dari Malaysia, Amerika Serikat akan menyerbu lewat Filipina, dan dari selatan akan berdatangan armada tempur Australia, mencabik-cabik Indonesia. Pilihat yang pahit. Pilihan yang getir. Jutaan orang mati dan tak terhitung kekayaan alam yang kemudian kelak dibawa lari.

Demikianlah, sangat sulit untuk menentukan pilihan terbaik apalagi di tengah posisi terjepit. Karena pilihan terbaik sangatlah relatif dan subyektif. Meskipun kita telah diajar bertahun-tahun untuk jadi seorang moralis puritan dengan seperangkat contoh mana yang terpuji dan tercela namun tetap saja membicarakan dan melakukan adalah dua hal yang berbeda dengan beban yang jauh berbeda pula. Maka bukan pilihan yang benar itu sendiri yang terbaik karena kita juga berada dalam keterbatasan manusia. Alih-alih pilihan yang terbaik maka yang terbaik adalah keberanian untuk memilih dan menghadapi konsekuensi atas pilihan tersebut. Karena yang lebih buruk daripada salah memilih adalah tidak adanya keberanian untuk memilih sama sekali.

Begitu banyak ada kasus perempuan dipukuli suaminya selama bertahun-tahun namun tidak berani mengambil pilihan untuk melapor ke pihak berwajib dan meminta cerai. Begitu sering kita mendengar kawan kita curhat tentang masalah yang dia alami namun hanya sekedar mencari tempat pelampiasan saja bukan mencari solusi. Mungkin mereka adalah teman dekat kita sendiri atau bahkan kita juga sempat berlaku demikian.

Pada akhirnya sangat penting bagi kita memiliki keberanian untuk memilih. Berani memilih dan berani menghadapi akibat pilihan tersebut. Meskipun kita keliru memilih namun kita akan menyadari kekeliruan tersebut dan bisa segera memperbaikinya. Dari sekian kekeliruan dan kesalahan itu kita bisa mengambil pelajaran. Dan dari sekian pelajaran itu setidaknya kita bisa jadi jauh lebih bijak dan lebih mampu mengambil keputusan yang tepat kelak. Demikianlah pentingnya keberanian mengambil pilihan. Demikianlah pentingnya keberanian dalam menghadapi kehidupan. Bertahun-tahun lalu Pram menyatakan perkataan yang kebenarannya hingga kini tidak berlalu, “”Dalam hidup kita, cuma satu yang kita punya, yaitu keberanian. Kalau tidak punya itu, lantas apa harga hidup kita ini? Kalau mati, dengan berani; kalau hidup, dengan berani. Kalau keberanian tidak ada, itulah sebabnya setiap bangsa asing bisa jajah kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: