Kepastian

soviet_revolution1

Puluhan tahun lalu ia memprediksi bahwa kapitalisme akan runtuh. Bukan karena kapitalisme itu jahat atau karena kapitalisme itu tidak bermoral melainkan karena kontradiksi yang terkandung di dalamnya sendiri. Karena itu setelah mengalami sekian proses sejarah, mulai dari kelahiran, kejayaan, kapitalisme akan menemui tahap stagnansi, kemunduran, hingga kematian. Proses tak terelakkan ini disebut dalam potongan kalimat yang terkenal, “Kapitalisme akan menggali lubang kuburnya sendiri” Sejarah kemudian akan berganti. Seperti feodalisme yang digantikan kapitalisme, sosialisme akan bangkit menggantikan kapitalisme.

Sejarah itu sendiri merupakan sejarah perjuangan kelas. Perjuangan antara kelas tertindas melawan kelas penindas. Antara budak melawan tuan budak, antara tani hamba melawan tuan tanah, dan antara proletar melawan kapitalis. Sebuah pertentangan tak terdamaikan yang hanya bisa dihapus dengan kehancuran sistem sosial ekonomi yang memunculkan penindasan itu sendiri. Bagaimana sistem sosial ekonomi memunculkan penindasan? Sistem sosial ekonomi memunculkan penindasan apabila 1.Kepemilikan alat produksi dikuasai segelintir pihak. 2.Terdapat beberapa pihak yang terlibat penuh dalam kerja produksi sementara ada pihak lain yang tidak terlibat. 3.Terdapat monopoli hasil-hasil produksi terutama oleh pihak yang menguasai alat produksi namun tidak terlibat kerja produksi. Sistem sosial ekonomi inilah yang menandai perjalanan manusia mulai dari fase komunal primitif kemudian fase perbudakan, fase feodalisme, hingga fase kapitalisme yang hidup hingga kini.

Kapitalisme pada awalnya radikal. Ia menentang hak-hak istimewa feodalisme, hak yang muncul karena garios keturunan bangsawan, ia menghendaki pemisahan agama dengan negara yang sebelumnya membuat raja menjadi keturunan dewa atau utusan tuhan dan semua yang melawannya dianggap murtad dan tak beriman, ia menghendaki kebebasan pers, ia menghendaki adanya demokrasi, bukan perintah dan ketaatan mutlak kepada raja. Hingga feodalisme bertekuk lutut dan hancur.

Namun kapitalisme yang awalnya radikal dan progresif di hadapan feodalisme kini mulai menua serta semakin reaksioner. Karena kontradiksi internalnya sistem ini menghambat kemajuan masyarakat bahkan memunculkan kerusakan di sana-sini. Kontradiksi utama kapitalisme ditunjukkan dengan kenyataan dimana sistem sosial ekonominya menganduk kerja produksi yang semakin bersifat sosial, dilakukan secara kolektif oleh kaum pekerja khususnya proletar atau kelas buruh, namun hasil produksinya dimonopoli oleh segelintir pihak yaitu kapitalis. Kapitalisme menggembar-gemborkan demokrasi dan persaingan bebas. Namun pasar bebas itu pun penuh kontradiksi. Dalam persaingan akan ada pemenang dan pecundang. Pemenang menguasai hasil lebih banyak dan menguasai pasar lebih luas. Pecundang akan terlempar ke lapisan bawah. Sementara yang tak sampai hancur akan saling menggabungkan diri merger atau terpaksa menjadi bawahan dari sang pemenang. Ini berjalan sedemikian lama pemenang pasar selalu menyingkirkan lawan dan meluaskan kekuasaannya, dan keberadaannya mengarah pada monopoli. Kapitalisme mencapai puncak tertinggi imperialisme.

Sementara barang-barang terus diproduksi namun semakin sedikit yang mampu membeli. Jurang perbedaan antara kelas penguasa dengan kelas tertindas semakin menganga lebar. Segala perkembangan yang ada hingga hari ini menampakkan bukti bahwa kapitalisme menggali lubang kuburnya sendiri. Krisis demi krisis kian terjadi. Ahli teori borjuasi menampik bahwa kaum buruh akan semakin terpuruk dan berdalih bahwa kaum buruh kini bisa mencapai kerja 8 jam sehari, obatmurah, dan kebebasan berserikat. Mereka lupa. Beban yang diambil dari kelas buruh di negara dunia pertama dan kedua telah dilempar ke pundak kelas buruh dari negara dunia ketiga. Buruh-buruh di Asia dan Afrika memiliki kondisi yang tak jauh berbeda dari gambaran yang diberikan Friedrich Engels dalam Working Class Condition in England.

Tapi kenyataan yang dibungkam toh akan berontak dan buka suara. Gempa krisis kapitalisme pun tidak hanya terjadi di rantai terlemah kapitalisme melainkan juga di pusat-pusatnya. Ini menjadi bantahan keras terhadap mereka yang menjadi musuh sosialisme yang selama ini terus menebarkan kebohongan bahwa ramalan kapitalisme akan mati adalah ramalan tak terbukti. Ini menunjukkan kesalahan dan kelemahan berpikir mereka karena mengukur sejarah dan perkembangan sosial hanya dengan umur atau usia manusia.

Gelombang gerakan rakyat yang merupakan faktor subyektif melengkapi syarat-syarat obyektif selalu muncul dari waktu ke waktu danterjadi semakin massif. Mulai dari 1905 sampai 1917 di Russia, 1918-1923 di Jerman, 1919 di Hungaria, 1920 di Italia, 1925-1927 di Cina, 1936 di Spanyol dan Prancis, 1956 di Hungaria, 1968 muncul lagi di Prancis, 1972-1973 di Chile, 1974-1975 di Portugal, 1978-1979 di Iran sampai 1980-1981, disusul dengan 1992 di Chiapas, Mexico, Amerika Latin, lalu kini Tunisia, Mesir, Libya dan seluruh Timur Tengah, lalu Yunani, lalu Spanyol, bahkan Inggris, Perancis, Belanda, dan Eropa pun tidak lolos dari gelombang revolusi. Siapa bilang kapitalisme adalah akhir dari sejarah? Siapa bilang kapitalisme selalu tegak? Feodalisme bertahan sampai delapan abad sebelum ambruk dan digulingkan kapitalisme. Sekarang kapitalisme belum lengkap berumur tiga abad sudah terseok-seok dan dirongrong disana-sini. Siapa bilang kapitalisme tidak mungkin tumbang?! Hari depan sosialisme semakin terang benderang. Kelas Buruh akan memimpin rakyat tertindas menuju kemenangan revolusi. Alat produksi akan dikembalikan untuk memenuhi kebutuhan rakyat pekerja, demokrasi akan dibersihkan dari kontaminasi borjuasi, dan saat itu mereka yang menempuh perjuangan panjang akan berseru, “Kini dari setiap orang sesuai kemampuannya, unuk setiap orang sesuai kebutuhannya”

Comments
6 Responses to “Kepastian”
  1. Saridin mengatakan:

    Tulisan yang mantab Comrade, terus kobarkan api-api perlawanan terhadap kapitalisme……

  2. Dalam sosialisme, masyarakatnya bisa koq jadi sejahtera. Dalam kapitalisme juga; masyarakatnya bisa koq jadi sejahtera. Kalok keduanya bisa bikin masyarakat jadi sejahtera, maka sebenarnya apanya yang salah ya?

    • luki1986 mengatakan:

      Dalam kapitalisme tentu bisa. Pertanyaannya adalah lapisan yang mana dari masyarakat? Apakah lapisan atas yaitu kelas borjuasi-kapitalis? Kesejahteraan macam apa? Dalam perkembangan dan kemajuan kapitalisme memang dimungkinkan adanya reformasi-reformas atau perbaikan-perbaikan kecil terhadap kesejahteraan lapisan bawah termasuk kelas buruh. Wujudnya bisa berupa perwujudan 8 jam kerja, penyediaan obat murah, dan adanya jaminan sosial tenaga kerja. Namun perbaikan yang diberikan ini selain juga diambil dari nilai lebih yang dihasilkan buruh namun dimonopoli kapitalis, juga dihasilkan dengan memindahkan beban kerja dari buruh negara dunia pertama dan kedua ke pundak buruh dari negara dunia ketiga, seperti asia, afrika, dan amerika latin. Di sana kondisi buruh lebih parah, dengan belasan jam kerja per hari, kondisi pemukiman kumuh, tidak adanya jaminan keselamatan, dibayar dengan upah serendah-rendahnya bahkan banyak yang menggunakan sistem kerja kontrak dan outsourcing sehingga bisa dipecat kapan saja, dan terancam tidak saja oleh kekurangan gizi namun juga penyakit mematikan seperti malaria dan demam berdarah.

      • Bagi beberapa orang, NILAI BARANG ditentukan oleh FAKTOR PRODUKSINYA, terutama oleh faktor TENAGA KERJA.

        Berapakah harga seekor RUSA? Katanya tergantung pada BIAYA BERBURU + BIAYA MEMBAWANYA KE PASAR hingga sampai ke KONSUMEN.

        Di kasus di atas, HARGA RUSA tergantung pada UPAH TENAGA KERJA. Makin mahal biayanya, makin tinggi pula harga rusa itu. Sangat logis juga ya

        Tapi, bagaimana kalo tidak ada yg butuh Rusa? Di kasus seperti ini, berapakah harga seekor Rusa?

        Kalok gak ada PERMINTAAN, rusa tadi ternyata tidak berharga walaupun biaya tenaga kerjanya sudah tinggi dan sudah pula dibayarkan.

        Jadinya, harga rusa ditentukan permintaan dan penawaran dan bukan semata2 oleh biaya tenaga kerja.

        Jadinya nih, Teori Nilai (dari) Tenaga Kerja udah gak berlaku lagi dong. Bagaimana menurut mas brooo?

  3. luki1986 mengatakan:

    Pertanyaan Bung Rusman membutuhkan jawaban yang komprehensif. Jadi saya harap Bung Rusman mau menyimak penjelasan dari saya dalam suatu tulisan tersendiri (karena membutuhkan ruang lebih besar daripada ruang komentar). Bung bisa klik halaman berikut https://bumirakyat.wordpress.com/2012/04/16/nilai-nilai-dalam-kapitalisme-sebuah-jawaban-untuk-bung-rusman/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: