Nilai-Nilai dalam Kapitalisme (Sebuah Jawaban untuk Bung Rusman)

Anti Kapitalisme

Pertanyaan Bung Rusman membutuhkan jawaban yang komprehensif. Jadi saya harap Bung Rusman mau menyimak penjelasan dari saya. Terutama untuk mengetahui beberapa perbedaan yang ada. Baik mengenai harga, nilai guna, nilai tukar, komoditas, kapital, dan lain sebagainya. Karena jawaban tersebut membutuhkan ruang yang lebih besar maka akan saya tuangkan dalam satu tulisan tersendiri.

Pertama-tama kita bicara mengenai komoditas. Komoditas adalah barang yang dibuat di luar diri kita, atau benda yang memenuhi satu jenis kebutuhan manusia. Namun bukan itu saja prasyarat suatu hal disebut komoditas. Suatu hal disebut komoditas bila ia setidaknya mengandung dua nilai yaitu nilai guna dan nilai tukar.  Apa perbedaan di antara keduanya? Mari kita bahas lebih lanjut.

Kegunaan suatu hal membuatnya memiliki nilai guna. Nilai guna menjadi nyata hanya bila benda itu digunakan atau dikonsumsi. Selain itu nilai guna adalah media simpan nilai tukar yang berwujud material. Apa perbedaan antara nilai guna dan nilai tukar? Nilai guna adalah nilai barang diukur dari kegunaannya untuk memenuhi kebutuhan tertentu (dengan catatan disini kita tidak membedakan antara kebutuhan dan keinginan). Misalkan daging rusa memiliki nilai guna bagi orang Kanada untuk memenuhi kebutuhan pangannya akan daging. Sebaliknya kotoran rusa tidak memiliki nilai guna bagi orang Kanada baik karena tidak bisa untuk memenuhi kebutuhan pangannya maupun tidak bisa digunakan untuk pupuk. Kesimpulan adalah nilai guna merupakan kegunaan suatu hal adalah untuk memenuhi kebutuhan tertentu dari masyarakat. Nilai guna ini tergantung dari jenis barang dan kebutuhan dalam masyarakat. Misalnya, seseorang yang membutuhkan air minum tidak bisa ditawari koran, walaupun harganya sama. Contoh lain misalkan suatu mesin pemanas ruangan atau heater memiliki nilai pakai nol untuk kota Surabaya atau Semarang, meskipun harganya mahal.

Di sisi lain, nilai tukar adalah nilai hal yang diperjual belikan di pasar. Tipe-x dan roti jelas memiliki nilai guna yang berbeda. Satu untuk menutup kesalahan penulisan yang menggunakan pena, sedangkan roti digunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan. Namun keduanya bisa memiliki nilai tukar yang sama sebesar Rp 5.000,- misalnya. Ini yang perlu kita perhatikan: semua pembeli akhir dari suatu komoditas membeli hal tersebut demi nilai guna yang terkandung di dalamnya. Sedangkan semua pembeli yang bukan pembeli akhir, membeli hal tersebut demi nilai tukar yang terkandung di dalamnya, dengan kata lain membeli bukan untuk memenuhi kebutuhan melainkan untuk memperoleh laba atau nilai lebih di dalamnya.

Pertanyaan Bung Rusman berintikan bantahan tersirat bahwa tidak benar harga suatu komoditas hanya ditentukan oleh nilai kerja yang terkandung di dalamnya. Ini benar sekali. Harga komoditas MEMANG tidak hanya ditentukan oleh waktu kerja yang di dalamnya dibutuhkan untuk memproduksi komoditas tersebut melainkan juga dipengaruhi oleh laku tidaknya komoditas itu di pasar, atau dengan kata lain juga dipengaruhi hukum permintaan dan penawaran. Bilamana permintaan tinggi harga komoditas akan naik di atas nilai tukarnya sedangkan kalau permintaan rendah maka harga komoditas akan turun di bawah nilai tukarnya. Namun yang patut dipahami bahwa yang menentukan secara utama tetaplah nilai tukar dari komoditas tersebut. Sebab nilai tukar merupakan poros dimana di sekelilingnya harga komoditas bisa naik atau turun. Sehingga mempengaruhi pula terhadap besaran nilai lebih atau kapital yang akan diperoleh dari komoditas tersebut. Dengan demikian sampai pada titik ini saya pikir pertanyaan Bung Rusman sudah saya jawab. Namun saya harap Bung Rusman tetap menyimak lebih lanjut untuk memahami kapitalisme dengan lebih dalam.

Sebelum kita membahas mengenai nilai lebih atau kapital kita harus memahami dan menggarisbawahi bahwa terhadap nilai guna dan nilai tukar yang terkandung dalam benda tersebut, nilai kerja manusia merupakan faktor yang jauh lebih penting, yang membedakan tiap komoditas. Barang yang berguna hanya bernilai bila usaha manusia termasuk atau tercakup di dalamnya. Matahari yang bersinar, angin yang berhembus, oksigen yang ada dalam udara yang kita hirup di pagi hari, dengan demikian tidak termasuk. Karena besarnya nilai barang diukur dari jumlah kerja yang terkandung dalam barang tersebut. Jumlah kerja diukur dari rentang waktu. Contohnya menjahit pakaian memerlukan waktu lebih lama daripada memintal benang dan menenun kain apalagi memetik kapas. Hal ini disebut dengan nilai kerja yang dimiliki oleh mereka yang memproduksi komoditas tersebut. Dengan kata lain nilai kerja buruh. Nilai kerja buruh ini juga mempengaruhi nilai tukar sehingga memunculkan pula perbedaan nilai-nilai tukar antar komoditas.

Namun hal ini tidak berhenti atau sesederhana ungkapan Bung bahwa “Makin mahal biayanya, makin tinggi pula harganya.” Agar suatu barang menjadi komoditas maka ia harus diserahkan dulu kepada pihak lain yang akan memanfaatkan nilai gunanya melalui pertukaran. Dengan kata lain, komoditas tidak hanya harus menghasilkan nilai guna untuk orang lain, hal ini disebut sebagai nilai guna sosial.

Kenyataannya pertukaran tidak berjalan seimbang. Selalu terdapat kelebihan yang dimunculkan. Sebagian menyebutnya sebagai “laba”, sementara dalam terminologi sosialisme ilmiah, hal itu disebut sebagai nilai tambah atau surplus value. Barang yang ada untuk menghasilkan nilai tambah ini disebut dengan kapital.

Apa itu Kapital?

Kapital adalah segala sesuatu yang dipergunakan untuk mendatangkan nilai baru disamping nilai yang ada dalam dirinya sendiri, terlepas dari banyaknya jumlahnya. Sesuatu yang besar tidak bisa disebut kapital bila ia tidak mendatangkan nilai baru. Misalkan uang sebesar satu milyar yang hanya dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan selama setahun. Ia tidak bisa disebut kapital karena tidak menimbulkan pertambahan nilai. Nah, lain halnya dengan uang seribu rupiah yang dipinjamkan dengan bunga. Misalkan uang seribu rupiah tersebut dipinjamkan dengan bunga sebesar 10% maka peminjam harus mengembalikan sebesar Rp 1.100,-. Disini uang seribu rupiah tersebut disebut kapital, karena telah mendatangkan nilai baru sebesar Rp 100,- disamping nilai yang dikandung dirinya sendiri sebesar Rp 1.000,-.

Kita akan kembali membahas mengenai nilai lebih. Pertambahan nilai lainnya juga bisa muncul dalam bentuk selain peminjaman bunga. Misalkan uang Rp 1.000,- tadi dibelikan suatu barang, lalu barang tersebut dijual diatas harga belinya semula sebesar Rp 1.000,- menjadi seharga Rp 1.100,-.  Disini uang Rp 1.000,- tersebut juga menjadi kapital karena mendatangkan nilai baru sebesar Rp 100,-.

Bentuk lain juga bisa muncul dalam contoh sebagai berikut: Uang Rp 1.000,- dipakai untuk membeli bahan mentah dan membayar tenaga kerja untuk menggarap bahan mentah tersebut menjadi barang jadi. Kemudian barang jadi tersebut dijual sebesar Rp 1.500,-. Disini barang jadi dijual melebihi nilainya sendiri (yaitu Rp 1.000,-) dengan cara menambahkan nilai baru sebesar Rp 500,-. Karena pertambahan nilai itulah maka disini, sekali lagi, uang Rp 1.000,- tersebut disebut sebagai kapital.

Selain dalam bentuk uang, kapital juga bisa berbentuk barang. Misalnya satu mesin pompa angin seharga Rp 1.000.000,-. Mesin ini kemudian disewakan kepada seorang montir bengkel atau usaha tambal ban dengan harga sewa sehari sebesar Rp 1.000,-. Katakanlah daya tahan atau umur mesin tersebut bisa mencapai lima tahun. Maka dalam lima tahun penyewaannya, mesin  pompa angin tersebut telah mendatangkan total setoran dari montir kepada pemilik sebesar Rp 1.800.000,-. (360 (hari) x 5 (tahun) x Rp 1.000 (sewa per hari) = Rp 1.800.000,-). Dalam hal ini nilai baru yang dihasilkan oleh mesin pompa angin tersebut sebesar Rp 800.000,- (Rp 1.800.000 (total setoran) – Rp 1.000.000 (harga mesin pompa angin). Karena mesin pompa angin tersebut berhasil mendatangkan nilai baru diluar nilainya yang asli maka mesin pompa angin tersebut disebut kapital. Hal yang sama berlaku pada mesin cetak, mobil, truk, dan barang-barang lainnya yang mendatangkan nilai baru di luar nilai aslinya, sehingga digolongkan juga sebagai kapital.

Begitu juga daging rusa dalam analogi Bung Rusman. Daging rusa yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan tidak bisa disebut kapital karena tidak menghasilkan nilai lebih. Sementara daging rusa yang diperoleh dengan menggaji seorang pemburu kemudian daging yang diperoleh dijual ke pasar untuk menghasilkan nilai lebih, maka daging tersebut menjadi kapital pula.

Dari pembahasan di atas maka kita sudah mengenal bahwa kapital memiliki dua bentuk, yaitu kapital uang dan kapital barang.Kapital uang atau lazim disebut sebagai kapital finansial (finance capital) memiliki kekuatan yang lebih besar dibandingkan dengan kapital barang. Sebab kapital finansial mudah dipindahkan, disimpan, dijaga, dan dipertukarkan kepemilikannya, dibandingkan dengan kapital barang. Demikianlah kapital finansial memiliki dominasi lebih besar dalam sistem perekonomian dibandingkan dengan kapital barang.

Dalam kegiatan usaha ekonomi, dua bentuk kapital ini melahirkan tiga macam kapital, yaitu kapital riba, kapital dagang, dan kapital usaha. Kapital riba adalah kapital finansial yang bergerak dalam usaha pinjam-meminjam dengan disertai bunga. Mulai dari ukuran dan skala kecil seperti renternir hingga skala besar seperti bankir. Sedangkan kapital dagang adalah kapital barang yang diperjualbelikan tanpa melalui proses produksi. Dengan pengecualian kapital barang yang disewakan, karena kapital barang yang disewakan digolongkan sebagai kapital riba. Serta macam ketiga, yaitu kapital usaha. Apa itu kapital usaha? Kapital usaha adalah kapital untuk memproduksi komoditas. Komoditas adalah barang atau produk yang diproduksi untuk memenuhi kepentingan pasar. Dengan kata lain untuk diperjualbelikan demi mencari keuntungan. Bukan untuk memenuhi kebutuhan. Kapital usaha ini dalam memproduksi komoditas harus melibatkan tenaga kerja untuk menggarap komoditas, serta untuk menghasilkan nilai lebih harus mengeksploitasi tenaga kerja tersebut.

Bagaimana bisa tenaga kerja dieksploitasi? Tenaga kerja dieskplotasi atau diperas karena upah yang diterima pekerja tersebut bukan ditentukan dari seberapa banyak produk yang dihasilkan pekerja. Bagaimana bisa begitu? Ambillah contoh, seorang buruh yang bekerja di pabrik pakaian. Ia wajib bekerja selama delapan jam per harinya. Upah umum kira-kira sebesar Rp 1.040.000 per bulan. Sementara ia wajib bekerja selama delapan jam sehari untuk 26 hari kerja. Berarti dalam sehari ia bekerja dengan imbalan Rp 5.000 per jam. Dalam delapan jam kerja, buruh mampu menghasilkan 10 potong celana dari satu gulung kain. Harga kain sebagai bahan setengah jadi sebelum diolah menjadi bahan jadi, yaitu celana, seharga Rp 120.000,- per gulung. Biaya produksi tambahan seperti harga benang, listrik, perawatan mesin, dan lain-lain, ditetapkan sebesar Rp 30.000,-. Dengan demikian total biaya produksi per hari untuk 10 celana jadi siap pakai, sebesar Rp 190.000,- ( Rp 40.000,- untuk upah buruh + Rp 120.000,- untuk bahan mentah + Rp 30.000,- untuk biaya produksi tambahan). Namun kapitalis dapat menjual ke pasar minimal seharga 50.000,- untuk satu celana. Sehingga dari 10 celana bisa didapatkan uang sebesar Rp 500.000,-. Dengan demikian nilai baru yang dihasilkan sebesar Rp 310.000,- (Rp 500.000,- dari total harga 10 celana di pasar – Rp 190.000,- dari total biaya produksi untuk 10 celana). Pertanyaannya adalah siapa yang menghasilkan nilai lebih tersebut? Siapa yang mengerjakan pekerjaan selama delapan jam sehari untuk mengolah bahan setengah jadi menjadi celana siap pakai? Jawabannya adalah buruh. Namun kemanakah uang Rp 310.000,- tersebut masuk? Apakah masuk ke kantong buruh? Bukan. Karena buruh hanya dibayar Rp 40.000,- sehari. Bahkan dalam banyak kasus di kota Malang di pabrik-pabrik yang menerapkan sistem kerja kontrak dan atau outsourcing hanya membayar buruh sebesar Rp 10.000,- sehari. Inilah bentuk perampasan nilai lebih yang sebenarnya dihasilkan oleh buruh namun tidak dibayarkan kepada buruh. Jadi salah satu dasar kontradiksi kapitalisme adalah buruh menghasilkan nilai lebih dalam jumlah besar namun dirampas oleh kapitalis tersebut.

Apa itu Kapitalis?

Dengan demikian muncullah pertanyaan siapakah yang merampasnya nilai lebih dari kelas buruh atau kaum pekerja? Mereka adalah pihak yang mempekerjakan dan mengupah buruh namun mereka sendiri tidak bekerja atau terlibat dalam kerja produksi namun menumpuk keuntungan melalui kapital yang mereka miliki. Siapakah mereka yang tidak bekerja ini? Mereka adalah kaum pemodal atau dengan kata lain kaum kapitalis.

Terdapat banyak kasus lain dimana bahkan bilamana ada tuntutan untuk memenuhi kebutuhan ekspor, buruh wajib bekerja hingga sampai 16 jam per hari. Dalam satu hari minimal buruh harus mengerjakan 3.000 celana boxer. Berapakah harga celana boxer itu di pasaran? Sebuah celana boxer GAP yang dijual di outlet ternyata mencapai Rp 112.000,-. Berapakah upah yang diterima buruh GAP tersebut? Hanya sebesar Rp 500,-.

Apa itu Kapitalisme?

Demikianlah apa yang disebut kapital dan kapitalis. Kapitalisme sebagai suatu era datang dengan menghancurkan era feodalisme. Kapitalisme dimulai di eropa dengan penghapusan tatanan feodal, penghancuran absolutisme dengan penegakan sistem demokrasi, penghancuran dogma agama dan relasinya terhadap kekuasaan dengan penetapan sekulerisme, kebebasan beragama, serta digalinya kembali pemikiran-pemikiran Yunani. Sedangkan sebagai sistem sosial ekonomi, kapitalisme adalah corak produksi dimana kapitalis (para pemodal atau pemilik kapital) yang menguasai alat produksi dan tidak terlibat dalam proses produksi meraup mayoritas hasil produksi dengan cara mengeksploitasi kaum buruh (atau disebut juga dengan kelas proletar) yang tidak memiliki kapital sama sekali, tidak menguasai alat produksi sedikit pun, namun terlibat secara penuh dalam kerja produksi. Malahan menghasilkan nilai lebih yang dinikmati oleh para kapitalis.

Sebagai penjelas tambahan, kapitalisme sebagai corak produksi bisa dijelaskan dalam empat ciri berikut:

  • Baik input dan output produksi dikuasai secara pribadi dimana barang dan jasa dilabeli dengan harga di pasar.
  • Produksi dijalankan untuk memenuhi kebutuhan pasar dan bertujuan untuk meraup keuntungan.
  • Penguasa alat produksi, yaitu kapitalis, merupakan kelas yang dominan atau berkuasa, yaitu kelas borjuasi, yang memperoleh pendapatan mereka dari surplus atau nilai lebih yang dihasilkan dari produk yang dihasilkan oleh kelas buruh atau kelas pekerja, yang dialokasikan secara bebas sesuai kemauan kapitalis.
  • Fitur penentu dari kapitalisme adalah ketergantungan pada kerja-upahan pada segmen yang luas dari suatu populasi; khususnya kepada kelas pekerja (proletariat) yang tidak memiliki kapital dan harus hidup dengan menjual tenaga kerjanya untuk memperoleh upah sebagai gantinya.

Berdasarkan ciri-ciri diatas, jelas bahwa kapitalis menjalankan kegiatan ekonomi bukan untuk memenuhi kebutuhan pribadinya melainkan untuk menumpuk keuntungan. Sehingga proses pertukarannya tidak sama dengan perdagangan tradisional. Perdagangan tradisional memiliki yang bisa digambarkan sebagai Barang – Uang – Barang. Dimana barang  dipertukarkan dengan uang untuk memperoleh barang lagi (yang menjadi kebutuhan dari penukar). Misalnya seorang petani memiliki beras kemudian menjual beras tersebut untuk memperoleh uang. Uang yang diperoleh petani tersebut kemudian digunakan untuk membeli pakaian. Disini jelas petani bukan seorang kapitalis karena selain ia tidak melakukan pertukaran dengan pertambahan nilai, ia juga melakukan pertukaran untuk memenuhi kebutuhannya. Bukan untuk menumpuk keuntungan. Hal ini berbeda dengan kapitalis yang mana skema pertukarannya berupa Kapital – Barang – Kapital atau Kapital – Kapital – Kapital. Misalkan seorang kapitalis dagang memiliki uang sebesar Rp 1.000.000.000,- yang kemudian ia belikan telepon seluler (ponsel) sebanyak 1.000 unit yang masing-masing unitnya ia jual lagi sebesar Rp 1.250.000,- sehingga untuk 10 unit ia bisa menjual sebesar Rp 1.250.000.000,-  dan dengan demikian ia memperoleh nilai tambah sebesar Rp 250.000.000,-. Begitulah contoh skema pertukaran kapitalis yang bergerak dalam macam kapital dagang.

Kehidupan seseorang dalam sistem sosial ekonomi dan dalam era kapitalisme, ditentukan oleh kepemilikannya atas kapital. Seseorang yang tidak memiliki kapital maka secara langsung maupun tidak langsung tidak memiliki nilai dan kedudukan di masyarakat. Sebaliknya, semakin besar kapital yang dimilikinya maka semakin besar peran dan kedudukannya di masyarakat. Ini membuat kapitalis memiliki peran dan kedudukan paling tinggi di masyarakat sebaliknya kelas buruh memiliki peran dan kedudukan yang paling rendah. Demikianlah kapitalisme tidak hanya berpengaruh pada sistem sosial ekonomi sebagai basis atau substruktur tatanan masyarakat yang berlaku melainkan juga mempengaruhi bangunan atas atau suprastrukut tatanan masyarakat.

Kesimpulannya adalah Kelas buruh mengalami penindasan paling besar dari kapitalisme, karena meskipun kelas buruh menciptakan nilai lebih namun mereka tidak menikmatinya. Nilai kerja yang diterima oleh Kelas buruh yang menjual tenaga kerjanya untuk memproduksi komoditas ditekan serendah-rendahnya oleh kapitalis agar hanya mampu membeli komoditas untu bertahan hidup. Dari nilai kerja berbentuk upah kerja itu pun kemudian dikembalikan lagi kepada kapitalis agar bisa membeli komoditas yang ironisnya mereka ciptakan sendiri. Inilah lingkaran setan kapitalisme. Buruh merupakan produsen sekaligus konsumen namun semua nilai lebih yang mereka hasilkan malah masuk kantong kapitalis.

Akan sangat menarik untuk membahas bagaimana kontradiksi internal kapitalisme menyebabkan krisis kapitalisme yang juga merembet ke krisis sosial. Namun tentu saja untuk itu diperlukan suatu tulisan sendiri yang terpisah. Saya harap Bung Rusman mau menunggu dan tetap menyimak di Blog ini.

Comments
14 Responses to “Nilai-Nilai dalam Kapitalisme (Sebuah Jawaban untuk Bung Rusman)”
  1. Wehhhh lengkap nih. Mantabs mas broo. Insya Allah jadi amal Jariyah nih. Aamiiiin.

    BTW, ada beberapa pertanyaan tambahan nih. Gak apa2 ya. Sesama pembelajar to ya ;-)

    1. Bagaimana ya kalo pabrik pakaian di contoh di atas merugi? Siapakah yang menanggung kerugian: Buruhnya atau pemilik (pemodal) pabriknya kah?

    Sepertinya, buruh tdk mau tahu ttg rugi atau tidak ruginya perusahaan. Buruh hanya ngikuti kontrak kerjanya aja ya. Pokoknya, buruh bekerja dan menerima upahnya.

    2. Misalkan sebuah pakaian udah bisa dibuat oleh mesin tanpa bantuan tenaga kerja. Nah, terus apakah tenaga kerja itu tetap nunggu jadi buruh atau malah dia lebih baik jadi pengusaha (wirausaha) dan mempekerjakan orang lain? (Mantan) Buruh makan buruh dong?

    3. Supaya produksi bisa lebih massal, maka sebuah pekerjaan biasanya dipecah dlm rangkaian aktivitas yg kecil-kecil.

    Seperti pada kasus pembuatan pakaian di atas. Ada yg sudah dispesialisasi sedemikian rupa sehingga seorang pekerja HANYA mengerjakan 1 aktivitas kecil saja. Nah apakah jadi wajar bila utk kerjaan yg super kecil tadi gajinya dibuat besar, sementara tingkat persaingan harga yg dihadapi oleh perusahaan cukup tinggi?

  2. luki1986 mengatakan:

    Tentu dengan senang hati, Bung. Mari berdiskusi.
    1. Kerugiannya seperti apa? Karena ada jenis-jenis kerugian yang berbeda-beda. Saya ambil contoh dengan peristiwa aktual, ya. Kenaikan BBM menyebabkan naiknya ongkos produksi. Kenaikan ini menyebabkan pemodal harus membayar lebih mahal. Untuk menghindari kerugian, pemodal bisa saja melakukan sekian efisiensi dan memangkas pemborosan namun dari sekian langkah tersebut langkah paling mudah dan paling sering diambil adalah menimpakan beban tersebut ke atas pundak buruh. Baik dengan memotong hak normatif, menambah jam kerja, mengurangi tunjangan, bahkan melakukan PHK secara massal terhadap buruh tetap kemudian membuka kembali penerimaan dengan menerapkan sistem kerja kontrak dan atau outsourcing. Dimana buruh bisa digaji jauh di bawah UMK dan bisa dipecat sewaktu-waktu.

    Dalam hal ini kita harus memahami pula bahwa kapitalis tidak berada dalam satu tingkat atau satu faksi kekuatan yang sama. Untuk di Indonesia kita bisa membaginya ke dalam tiga kelas. borjuasi komprador (kapitalis yang bekerjasama dengan imperialis dan modal asing), borjuasi nasional (Bornas) atau borjuasi sedang (kapitalis kecil, modal pribadi, ruang gerak lokal), dan kapitalis birokrat (kabir).

    Kelas borjuasi komprador berada dalam kekuatan paling tinggi karena mendapat sokongan internasional. Mereka tenang-tenang saja ketika ada kenaikan BBM dan TDL. Karena itu berfungsi untuk menyingkirkan para kompetitor/pesaing kecil yang berwujud borjuasi nasional atau borjuasi sedang. Borjuasi nasional juga terjepit, ia menghadapi saingan besar berwujud borjuasi komprador dan menghadapi kebijakan-kebijakan yang dibuat kapitalis birokrat sehingga menekan pasar dan usahanya. Contohnya perjanjian yang ditandatangani Kabir menyebabkan banjir barang murah dari luar negeri sehingga komoditas Bornas tidak laku.

    Secara historis, kalangan Bornas di negara-negara dunia ketiga ini tidak memiliki peran progresiff, karena daripada melawan intervensi imperialisme, serbuan pasar bebas, dan lain sebagainya, Bornas lebih suka memindahkan beban kerja ke atas pundak buruh. Ya, itu tadi. Untuk mempertahankan keberadaan dirinya sendiri.

    Bagi Bornas, keadaan memang tidak memungkinkan dia menggaji buruh sesuai UMK. Namun daripada mengubah perusahaan itu jadi koperasi sehingga corak produksinya lebih demokratis, Bornas lebih suka menutup usahanya. Dimana walaupun merugi, seringkali ia masih tetap kaya sementara buruh yang kehilangan pekerjaan dan bahkan kadang kehilangan pesangonnya semakin menderita.

    Kesimpulannya apa? Faksi-faksi kapitalis bisa saja berbeda namun tetap saja yang menanggung kerugian paling besar adalah kelas buruh.

    2. Dalam kerja produksi, tenaga kerja memegang peranan paling penting. Memang keberadaan alat kerja (misalkan mesin) dan sasaran kerja (misalkan bahan baku) juga merupakan hal yang penting. Namun selama tidak ada tenaga kerja yang menggunakan alat kerja untuk mengolah sasaran kerja (sehingga tenaga kerja itu disebut tenaga produksi), maka tidak akan menghasilkan hasil produksi. Pengandaian Bung melupakan satu hal:siapa yang membuat mesin pembuat baju itu? Lagi-lagi kelas buruh.

    3.Itu merupakan bagian dari paham Fordisme. Pertanyaannya adalah apakah benar buruh hanya mengerjakan sedikit bagian kerja? Seringkali tidak. Mereka, di negara-negara dunia I, tetap harus bekerja selama delapan jam dan sekian target yang harus dicapai. Jadi misalkan dia hanya bertugas melipat kotak seluler, dia tetap harus melakukannya dalam sekian jam kerja dan sekian ratus pak yang ditargetkan pemodal agar dia selesaikan.

    Pandangan bilamana nilai lebih yang dihasilkan buruh dikembalikan ke buruh akan membuat pemodal rugi adalah pandangan tidak benar. Karena dia tetap akan bisa untung walaupun dengan marjin yang lebih kecil. Tidak perlu memakai sudut pandang sosialisme. Bahkan menurut pandangan Sosial Demokrasi (Sosdem) sebaliknya, dengan kesejahteraan yang meningkat, buruh akan semakin produktif dan mampu membeli produksi dari barang-barang konsumsi, yang pada gilirannya akan menambah keuntungan pemodal juga.

  3. Weh keren nih Mas Luki. Jawabannya mencerahkan. Tanya lagi ya mas … ;-)

    1. Kasus kerugian yg kutanyakan memang belum dibatasi ya. Coba kita batasi dikit ya. Misalnya terjadi kerugian di pabrik pakaian. Tetapi karena kontrak kerja atau karena hal lain, sang pemilik tidak melakukan PHK atau pemotongan gaji. Nah dalam kasus seperti ini, kerugian itu ditanggung siapakah?

  4. luki1986 mengatakan:

    Terima kasih. Jangan panggil “Mas”. Panggil Luki saja tidak apa-apa atau kalau kurang berkenan lebih baik panggil, “Bung” saja.

    Bentuk-bentuk kerugian tentu ada banyak. Dalam pabrik pakaian bisa saja kerugian berupa naiknya ongkos produksi (karena harga BBM naik, harga bahan baku mahal, Tarif Dasar Listrik (TDL) meningkat, dan sebagainya) maupun kerugian dalam bentuk lain seperti kebakaran pabrik.

    Kerugian-kerugian tersebut umumnya sudah diperkirakan dalam manajemen pabrik dan terdapat beberapa langkah efisiensi diluar pemotongan gaji atau PHK. Baik berupa efisiensi produksi, pemangkasan pengeluaran, pengurangan iklan, dan lain sebagainya. Umumnya kerugian tersebut tidak selalu berarti bahwa kas perusahaan benar-benar minus melainkan muncul dalam bentuk pemasukan yang berkurang. Jadi masih dalam batas yang bisa ditanggung pemodal. Kalaupun pemodal bangkrut, permasalahan ini akan ditangani secara hukum. Termasuk bagaimana menangani nasib buruh-buruh yang bekerja di pabrik tersebut.

  5. Thanks atas jawabannya ya bung Luki. Aku nih penasaran. Soalnya aku nih PEMILIK sebuah jasa potong rambut, dengan 2 orang tenaga kerja.

    Aku pengen tahu posisiku aja. Misalnya nih, gak ada pelanggan masuk utk potong rambut. Bisakah aku tidak menggaji mereka? Ntar kalo ada pelanggan barulah mereka kugaji. Kalopun akan digaji, harusnya cuman gaji menjaga salon saja ya. Atau bagaimanakah?

  6. luki1986 mengatakan:

    Lho, Bung bukan kapitalis kalau begitu. Bung yang mengerjakan pembukuan atau administrasi, kan? Bung termasuk kelas borjuasi kecil. Karena menguasai sebagian kecil (hanya sebagian kecil) alat produksi, tetap terlibat dalam sebagian kerja produksi, dan menikmati sebagian hasil produksi. Borjuis kecil umumnya tidak memiliki kapital, kalaupun memiliki modal, modalnya terbatas. Sehingga praktek ekonominya dalam corak produksi bukanlah penumpukan keuntungan melainkan untuk memenuhi kebutuhan hidup.

    Kemampuan terbatas Bung Rusman untuk memberi gaji sesuai kebutuhan hidup layak dengan demikian bukanlah kesalahan Bung. Karena dalam spektrum yang lebih luas, penyediaan lapangan pekerjaan dengan gaji layak sebenarnya merupakan tanggung jawab negara. Kesimpulannya adalah kalau pun Bung hanya mampu menggaji menyesuaikan frekuensi pemasukan dari pelanggan atau gaji jaga salon saja, itu sangat masuk akal. Meskipun patut diketahui kalau kebutuhan hidup tenaga kerja itu tidak menunggu datangnya pelanggan.

    Dalam sistem yang berlaku saat ini, terdapat setidaknya tiga kelas tertindas: Borjuasi Nasional (Borjuasi Menengah), Borjuasi Kecil, dan di lapisan paling bawah adalah kelas Buruh. Borjuasi Nasional (Bornas) tertindas karena kebijakan pasar bebas dan tidak mampu bersaing dengan perusahaan imperialis (MNC/TNC) sementara setiap saat digencet dengan berbagai kenaikan ongkos produksi dan juga berbagai uang pelicin yang harus disetor pada Kapitalis Birokrat (Kabir). Sedangkan borjuasi kecil juga tergencet dengan berbagai praktek dan kebijakan pemerintah yang menyengsarakan (kenaikan harga BBM, kenaikan biaya pendidikan, kenaikan TDL, dll.), dan berbagai kasus khusus di dalamnya. Kaum tani dan mahasiswa juga tergolong borjuasi kecil.

    Jadi kesimpulannya adalah bornas, borjuasi kecil, dan kelas buruh berada dalam posisi sama-sama tergencet. Meskipun dengan intensitas dan kasus yang berbeda, khususnya kelas buruh adalah yang paling berkepentingan untuk menghapus penindasan tersebut. Disinilah pentingnya bekerjasama dan bersama memperjuangkan hak-hak sosial ekonominya. Baik mulai dengan menolak kenaikan BBM, menuntut jaminan sosial yang menyejahterakan, menolak pasar bebas, maupun hingga memperjuangkan sistem sosial ekonomi yang lebih baik.

  7. Coba diteruskan dikit lagi ya. Bagaimana kalok aku yg pemilik salon tersebut dikelompokkan sebagai kapitalis menurut definisinya bung Luki aja.

    Jadi, aku hanya pemilik modal dan gak kerja apapun di usaha salon tersebut (aku hanya duduk manis di rumah dan terima setoran saja).

    Intinya, aku ingin disebut sebagai kapitalis pada per-usaha-aan salon tersebut. Lalu dengan kasus seperti ini:

    Bila tidak ada pelanggan yg masuk untuk potong rambut, maka siapakah yg membayar semua ongkos operasional per-usaha-an salon itu?

    Terus, apakah buruhku (tenaga kerja di salon itu) tetap kugaji atau sama sekali tidak kugaji ya?

    Asumsinya: usaha salon itu tetap harus operasional menunggu pelanggan, dan aku tidak mem-PHK.

    • luki1986 mengatakan:

      Jadi ini pengandaian, ya. Dengan asumsi bahwa kerja potong rambut, perawatan alat-alat salon, dan tata buku serta manajerial semuanya dikerjakan oleh tenaga kerja. Sementara bagian terbesar pendapatan masuk ke kantong Bung. Maka ongkos operasional (seperti listrik, air, dan pajak) tetap ditanggung pemilik atau pemodal. Sedangkan buruhnya tetap harus digaji karena mereka tetap bekerja, karena meskipun mereka tidak memotong rambut, mereka juga mengerjakan pekerjaan lainnya.

  8. Sip bung Luki. Aku sangat setuju dengan jawaban yg di atas ini. Bila semua sudah dibayar sang KAPITALIS seperti dijawaban Bung Luki di atas, maka apakah aku yang kapitalis itu termasuk SEDANG MEMPERBUDAK buruhku?

  9. luki1986 mengatakan:

    Ya, tidak, Bung. Tuan Budak berbeda dengan Kapitalis sebagaimana sistem perbudakan juga berbeda dengan Kapitalisme. Dalam sistem perbudakan, tuan budak tidak menggaji budaknya. Tuan budak hanya memberikan makan dan pakaian. Untuk budak, tidak ada kebebasan sama sekali. Jangankan kebebasan berpendapat maupun berorganisasi, budak malah bisa dipekerjakan sewenang-wenang. Sementara kapitalis harus “bergerak” dalam aturan hukum, termasuk kepada buruh harus memberikan gaji, hak normatif, lingkungan kerja layak, dan kebebasan berpendapat dan berorganisasi.

  10. Sip mas. Kukira dah jelas banget sekarang.

    Sementara kapitalis harus “bergerak” dalam aturan hukum, termasuk kepada buruh harus memberikan gaji, hak normatif, lingkungan kerja layak, dan kebebasan berpendapat dan berorganisasi.

  11. luki1986 mengatakan:

    Terima kasih. Senang berdiskusi dengan Bung Rusman.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: