Carter

-Kevin Carter-

Balita perempuan berjuang merangkak meraih makanan. Kurus tubuhnya, gelap kulitnya, membungkus tubuh kering nyaris tanpa daging. Balita perempuan akhirnya ambruk ke bumi gersang. Di belakangnya, burung kondor, burung pemakan bangkai, berdiri menunggu dan memandang. Kevin Carter memotretnya dan menjual fotonya ke Newyork Times. Seluruh mata memandang. Setahun kemudian ia memenangkan anugerah Pulitzer Prize pada 26 Maret 1993. Setahun kemudian, pada 27 Juli 1994, sang fotografer perang bunuh diri dan kehilangan nyawanya.

Siapa Kevin Carter sebenarnya tak begitu banyak orang yang tahu. Sebagian besar orang hanya mengetahui potret tentang bencana kelaparan di Sudan yang menggemparkan tersebut. Sementara sosok Carter tenggelam di balik potret dan cerita bahwa ia bunuh diri karena depresi akibat menelantarkan bocah di dalam potret itu.

Kevin Carter dilahirkan di Afrika Selatan yang pekat akan rasisme dan apartheid. Politik rasisme yang merupakan saudara kandung kolonialisme. Politik diskriminasi warna kulit yang menempatkan kaum kulit putih pendatang dengan derajat lebih tinggi dibandingkan kaum kulit hitam pribumi. Sejak kecil Carter dibesarkan dalam sebuah keluarga kulit putih dari kelas menengah serta dalam lingkungan bertetanga yang steril dari kulit hitam. Bukan sekali atau dua kali dalam masa kanak-kanaknya Carter menyaksikan barisan polisi menggusur atau meringkus orang-orang kulit hitam yang bermukim secara ilegal disana. Sikap apa yang ditunjukkan keluarga Carter, keluarga Katolik dengan pandangan liberal, terhadap peristiwa itu? Tidak ada.

Ini membawa pertentangan besar di diri Carter. Roma Carter suatu kali pernah mengingat dan berkata, “Polisi seringkali meringkus orang kulit hitam hanya karena tidak membawa surat izin. Mereka seringkali diperlakukan dengan sangat buruk dan kami merasa tidak bisa melakukan apa-apa. Namun Kevin sangat marah karena itu. Ia sering bertengkar dengan bapaknya. Kevin sering berkata, ‘Mengapa kita tidak bisa berbuat apa-apa? Mengapa kita bahkan tidak berteriak pada polisi-polisi itu?’”[1]

Lulus SMA, Carter tidak melanjutkan kuliah untuk studi farmasi dan ditarik masuk ke dalam wajib militer. Sesuatu yang sebenarnya ia benci. Sedemikian bencinya ia berusaha menggagalkannya dengan cara memilih mendaftar ke Angkatan Udara (AU), berharap agar standar AU yang tinggi membuatnya tidak lolos. Ia keliru. Carter malah lolos dan terperangkap wajib militer disana setidaknya selama empat tahun lamanya.

Dalam militer ia menyaksikan lagi diskriminasi rasisme seperti yang ia saksikan di masa kanak-kanaknya. Seorang pelayan kulit hitam dicaci dan dinistakan di depan matanya oleh kawan-kawan tentara kulit putihnya. Kali ini ia tidak tinggal diam. Carter membela sang pelayan. Orang yang tidak saja berbeda kulit namun juga berbeda kelas sosial dengan dirinya. Sebagai hadiahnya, Carter dihujani pukulan dan tendangan oleh tentara-tentara yang mengeroyoknya.

Carter memilih mangkir tugas sebagai tentara. Sesuatu yang dalam bahasa resmi bisa disebut desersi. Sesuatu yang oleh sesama tentara bisa dianggap sebagai berkhianat. Namun juga sesuatu yang banyak dilakukan mantan tentara yang lebih menuruti panggilan nurani daripada menuruti panggilan negeri untuk setor nyawa demi membantai sesama manusia.

Tanpa ijazah kuliah dan tanpa pengalaman kerja, Carter hanya bisa dapat kerja dengan menjadi DJ. Kerja itu hanyalah kerja dengan upah ala kadarnya. Hidupnya keras dan susah sampai dalam satu titik hidupnya ia pernah mencoba bunuh diri. Tanpa pekerjaan yang mencukupi, Carter terpaksa kembali dan menyelesaikan hutang wajib militernya.Sebuah peristiwa pengeboman gereja di Pretoria tahun 1983 kemudian mengubah hidupnya. Itulah untuk pertama kalinya ia tahu apa yang diinginkannya:menjadi seorang fotografer berita.

Adalah kerja di Johannesburg Star yang membawanya menjadi fotografer perang. Fotografer yang bersentuhan dengan konflik dan berbagai kekerasan. Disana ia ditugaskan mengabadikan konflik dan brutalitas akibat apartheid. Carter adalah fotografer pertama yang mengabadikan praktek necklacing, sebuah praktek penyiksaan dengan cara mengikat dada dan tangan korban dengan karet ban yang dilumuri bensin kemudian dibakar. Korban Necklacing umumnya mati setelah dua puluh menit.

Orang yang mati dan berhasil didokumentasikan pertama kali karena hal ini adalah seorang perempuan kulit hitam bernama Maki Skosana. Saudari perempuannya yang bernama Moloko menceritakan kesaksiannya kepada Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi bahwa Maki Skosana dibakar sampai mati dengan karet ban di lehernya ketika ia sedang menghadiri pemakaman kawannya. Tubuhnya dibakar dan beberapa pecahan kaca dimasukkan ke dalam vagina-nya. Bahkan setelah ia mati masih ada orang yang melemparkan batu besar ke wajahnya.[2]

Carter disana menyaksikan dan menjadi orang pertama yang mendokumentasikan necklacing. Ia sendiri kemudian menyatakan, “Saya ngeri dan kadang jijik atas apa yang saya lakukan. Tapi orang kemudian mulai bicara tentang foto-foto itu…lalu saya merasa bahwa mungkin tindakan-tindakan saya tidak sepenuhnya buruk. Menjadi saksi atas hal yang semengerikan ini bukan sepenuhnya tindakan buruk.[3]

Bulan Maret tahun 1993 menandai perjalanan Carter ke Sudan. Sebuah negeri yang terkena bencana kelaparan massal akibat perang saudara yang berkepanjangan. Disanalah ia menyaksikan peristiwa yang tak kalah mengerikan: seorang balita perempuan yang kelaparan diintai oleh seekor burung pemakan bangkai.[4] Foto ini kemudian diterbitkan oleh The New York Times dan juga The Mail & Guardian, sebuah majalah mingguan Johannesburg. Sementara selang beberapa waktu kemudian Kevin Carter diganjar oleh anugerah Pulitzer Prize.

Apa yang terjadi dengan balita perempuan dalam foto tersebut? Banyak dan berbagai macam reaksi kemudian bermunculan baik berupa ratusan telepon yang masuk ke kantor berita untuk menanyakan hal tersebut. The Times pun sampai mempublikasikan catatan editorial tersendiri. Carter sendiri dianggap memotret sang balita hanya untuk mencari uang dan seketika pergi setelah ia selesai memfotonya. Hujan kritik dan hujatan senada menimpa Carter karena hal itu. St. Petersburg Times di Florida dalam artikelnya bahkan menulis, “Seseorang yang mengatur lensa untuk mendapatkan frame yang tepat terhadap si balita yang menderita sebenarnya juga merupakan pemangsa. Ia hanyalah burung pemakan bangkai lain disana yang berwujud manusia.”[5] Bahkan tidak sedikit dari kawan-kawan fotografer dan wartawan yang tidak ada bersamanya heran dan kecewa mengapa ia tidak menyelamatkan balita itu.

Tak ada yang tahu apa yang berkecamuk di benak Carter terkait hal itu. Tak ada yang tahu apa yang ada dalam pikirannya dan mengapa ia tidak menulis benar atau tidak bahwa ia melakukan hal itu. Apakah benar atau tidak ia mengambil foto dan kemudian menelantarkan sang balita tersebut. Bahkan hingga Carter mati ia tidak pernah memberikan klarifikasi. Klarifikasi justru datang dari Joa Silva[6], koleganya sesama fotografer yang ada di tempat kejadian dengan Carter di saat itu.

Menurut Silva, mereka berdua (Carter dan Silva) pergi ke Sudan dengan mengikuti Operasi Garis Hidup Sudan PBB dan mendarat di Sudan Selatan pada 11 Maret 1993. Awak PBB memperingatkan mereka bahwa pesawat akan kembali terbang 30 menit lagi begitu bantuan pangan selesai dibagikan. Awak PBB kemudian mulai membagikan dan seketika itu, semua perempuan desa berhamburan keluar dari gubuk-gubuk mereka menuju pesawat PBB. Sementara Silva mencoba mencari para gerilyawan, Carter berkeliling hanya beberapa puluh meter dari pesawat.

Saat itu, menurut Silva, Carter sangat tersentak karena itu merupakan pengalaman pertamakali baginya menyaksikan bencana kelaparan sehingga dia banyak mengambil foto anak-anak yang menderita kelaparan tersebut. Mengikuti Carter, Silva kemudian juga mengambil beberapa foto anak-anak kecil di atas tanah yang menangis kelaparan. Foto-foto ini kemudian tidak dipublikasikan oleh Silva. Saat itu para orang tua dari sibuk mengambil makanan-makanan dari pesawat PBB, sehingga hanya sementara saja mereka meninggalkan bayi dan anak-anaknya. Situasi inilah yang diabadikan dalam foto Carter. Dimana saat itu ada burung pemakan bangkai yang mendarat dibelakang si balita perempuan tersebut. Agar bisa memotret keduanya, Carter mengendap-endap sangat pelan agar burung tersebut tidak kabur. Dia kemudian berhasil mengambil foto dalam jarak sekitar 10 meter dan setelah beberapa jepretan Carter menghalau burung pemakan bangkai tersebut. Kesaksian Silva ini dibenarkan oleh José María Luis Arenzana dan Luis Davilla, dua orang fotografer Spanyol, yang juga berada di tempat dan waktu yang sama dengan Carter dan Silva.[7]

Demikianlah sudah tiga orang, semuanya fotografer yang berada di tempat dan waktu yang sama dengan Carter, memberi kesaksian dan menyanggah bahwa Carter memotret balita tersebut untuk kepentingannya pribadi. Namun hingga kini tidak ada yang benar-benar tahu apa yang menyebabkan Carter memutuskan mengakhiri hidupnya sendiri.

Hari itu tanggal 27 Juli 1994, Kevin Carter mengendarai mobil pick upnya seorang diri dan berhenti di tepi sungai Braamfontein Sprui, tempat ia dulu sering bermain saat masih anak-anak. Ia kemudian membuat sambungan pipa dari knalpot mobil dan menghubungkannya ke jendela yang kemudian ia tutup erat-erat semua celah udaranya dengan selotip. Carter kembali menyalakan mesin dan perlahan karbon monoksida keluar dari mesin dan masuk ke dalam mobil. Perlahan oksigen semakin menipis. Perlahan asap karbon kian memenuhi setiap sudut dalam mobil itu. Perlahan asap karbon semakin meracuni paru-paru Kevin Carter dan menghentikan hidupnya.

Kevin Carter meninggal pada usia 33 tahun. Dalam pesan bunuh dirinya tertulis, “Saya tertekan…tidak punya telepon…tidak punya uang untuk bayar uang sewa…tidak punya uang untuk anak-anak…tidak punya uang untuk bayar hutang…uang!!! Saya dihantui oleh ingatan-ingatan tentang pembantaian, mayat-mayat, orang-orang yang marah, dan penderitaan…oleh anak-anak yang terluka dan kelaparan, oleh orang-orang gila yang suka sekali menarik pelatuk dan menembaki orang-orang lainnya, kadang dari polisi, kadang para penghukum mati…kalau saya cukup beruntung saya akan bergabung dengan Ken[8]

Kevin Carter meninggal dalam usia muda, tidak hanya meninggalkan kedua orang tuanya namun juga meninggalkan seorang putri yang saat itu masih berusia enam tahun. Carter adalah gambaran bahwa fotografer dan juga wartawan adalah kaum pekerja yang meskipun menempatkan hati dan pikirannya untuk memberi kesaksian di garis depan dengan mempertaruhkan nyawa dan keselamatannya, dan dengan pertentangan hebat yang selalu dialami tiap terjun ke lapangan, namun seringkali upah yang mereka peroleh tidak seimbang dan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan keluarganya. Dalam industri media upah paling tinggi tetap saja dimiliki oleh manajer perusahaan media atau juragan pemilik media yang sama sekali tidak melakukan kerja lapangan meliput berita dan memberi kesaksian. Sementara fotografer dan wartawan berkali-kali harus rela meninggalkan keluarganya untuk memenuhi panggilan kerja dan dalam hal ini seseorang akhirnya meninggalkan keluarganya untuk selama-lamanya.

Apa yang terjadi bukanlah sekedar peristiwa seorang kolega yang kehilangan seorang fotografer pekerja keras. Namun disana ada orang tua yang kehilangan anaknya dan seorang putri yang kehilangan bapaknya. Di luar sana tentu ada banyak fotografer dan wartawan yang senasib dengan Carter. Ini tentu bukan masalah jumlah dan masalah statistika. Karena tiap nyawa manusia yang terenggut dan tersia-sia adalah tragedi yang tetap sama besarnya. Kita yang masih hidup dan mengetahui memiliki beban tanggung jawab untuk menjawab masalah ini. Kita yang masih hidup dan mengetahui memiliki beban tanggung jawab untuk menyikapi. Kita yang masih hidup dan mengetahui memiliki beban tanggung jawab untuk memilih: apakah kita akan mempertahankan sistem ini ataukah kita menghapuskannya dan menggantinya dengan sistem yang lebih manusiawi.


[1] Lih. “THE LIFE AND DEATH OF KEVIN CARTER Visiting Sudan, a little-known photographer took a picture that made the world weep. What happened afterward is a tragedy of another sort.” oleh Scott Macleod/Johannesburg, dimuat di The Times, dan diposkan di thiisyesterday.com.

[2] Lih. Zinzi Clemmons, “People who I have Known Who Have Died”, diterbitkan oleh Indiana University Press

, 2011, hal. 46-47.

[3] Lih. Tim Porter, “Covering War in Free Society”, dalam “First Draft by Tim Porter – Newspapership, Readership, and Relevance in Digital Age”, diposkan dalam timporter.com, 18 Februari 2003.

[4] Lih. “Story” dalam kevincarterfilm.com

[5] Ibid 1

[6] Joa Silva merupakan kawan seprofesi Kevin Carter yaitu sama-sama fotografer perang dan wilayah konflik. Umurnya lebih panjang daripada Carter, ia kini masih hidup meskipun harus kehilangan kedua kakinya karena menginjak ranjau di Kandahar, Afghanistan, pada tahun 2003. Karya-karyanya telah memenangkan berbagai penghargaan termasuk World Press Photo.

[7] Lih. Kesaksian Joa Silva, José María Luis Arenzana, dan Luis Davilla dalam “The Boy Who Became A Postcard”, oleh Akio Fujiwara, 2005, sebagaimana dikuti wikipedia berbahasa Inggris dalam http://en.wikipedia.org/wiki/Kevin_Carter.

[8] Ibid 1 Ken Oosterbroek juga seorang fotografer perang yang bekerja di The Star dan salah satu anggota penting The Bang Bang Club selain Kevin Carter sendiri. Meskipun Ken OOsterbroek adalah sahabatnya, mereka berdua, Kevin Carter dan Ken Oosterbroek adalah dua orang dengan kepribadian yang sangat berbeda. Ken adalah fotografer yang sangat sukses dengan istri yang sangat mencintainya. Ken meninggal dalam tugas pada 19 April 1994 karena tertembak di Thokoza, 25 km dari Johannesburg saat meliput pemilu pertama Afrika Selatan yang membolehkan partisipasi semua penduduk terlepas dari warna kulit yang ada.

Comments
2 Responses to “Carter”
  1. nadhirulmaghfiroh mengatakan:

    bagus sekalii..
    sangat menyentuh.
    :’)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: