Kiri – Pandangan dan Gerakannya bag. ii

Kiri - Pandangan dan Gerakan 2

Materialisme Historis

Apa itu materialisme? Materialisme adalah suatu filsafat yang menekankan bahwa dunia ini secara keseluruhan tersusun oleh materi. Kain, kertas, kayu, tanah, besi, air adalah contoh-contoh materi. Materi yang memiliki susunan atau komposisi tertentu tidak hanya membentuk namun juga menentukan bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini berada dalam kondisi ruang dan waktu tertentu. Materi juga jangan dibatasi hanya pada segala sesuatu yang tampak secara indrawi. Banyak materi seperti udara, bakteri, virus justru tidak tampak secara kasat mata. Bahkan atom, zat yang menyusun segala sesuatu di dunia ini, termasuk materi yang tidak tampak[1].

Lalu apa itu materialisme historis? Materialisme Historis adalah pendekatan metodologis dari studi terhadap masyarakat, ekonomi, dan sejarah, yang pertama kali diartikulasikan oleh Karl Marx sebagai “konsepsi materialis terhadap sejarah.” Materialisme Historis memandang sebab-sebab perkembangan dan perubahan di masyarakat dengan cara dimana manusia secara kolektif memproduksi kebutuhan hidup. Fitur-fitur non ekonomi dari masyarakat, misalnya kelas-kelas sosial, struktur politik, dan ideologi, dipandang disebabkan dari aktivitas ekonomi di masyarakat itu sendiri. Bagaimana bisa begitu? Mari kita lihat bagan proses kehidupan sosial-ekonomi berikut.

Penjelasan

                Manusia sebagai makhluk hidup harus memenuhi berbagai macam kebutuhannya. Mereka harus makan, minum, memakai baju, memiliki rumah, dan lain sebagainya. Baik kebutuhan primer, sekunder, maupun tersier. Tidak hanya untuk bertahan hidup namun juga untuk hidup (lebih) layak. Kebutuhan tersebut tidak mungkin tersedia dengan sendirinya atau jatuh dari langit. Dengan kata lain diperlukan kerja produksi atas kebutuhan itu. Seseorang yang perlu makan, maka harus ada kerja produksi untuk memproduksi makanan. Padi harus ditanam, dipanen, diolah jadi beras, dan ditanak jadi nasi. Seseorang yang perlu pakaian, maka harus ada kerja produksi untuk memintal kapas, menjadi benang, menjadi kain, dan dijahit menjadi baju. Dari kedua contoh tersebut, yang juga berlaku pada contoh-contoh lain pula, setidaknya diperlukan tiga hal dalam kerja produksi. Dua hal pertama adalah alat kerja dan sasaran kerja. Misalnya untuk menggarap tanah dan menanam padi, diperlukan alat kerja berupa bajak atau traktor serta diperlukan sasaran kerja berupa tanah atau bibit padi itu sendiri. Perpaduan antara alat kerja dan sasaran kerja disebut sebagai alat produksi. Namun alat produksi saja tidak bisa menjalankan kerja produksi dan menghasilkan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan. Karena itu diperlukan hal ketiga, hal paling penting, yaitu tenaga kerja, dalam hal ini misalkan manusia atau petani yang menggarap tanah dengan menggunakan bajak atau traktor di sawah. Nah, perpaduan antara tenaga kerja dengan alat produksi itu disebut sebagai tenaga produktif.

Selanjutnya seiring dengan perkembangan masyarakat, selain sesuai kodrat manusia sebagai makhluk sosial, tidak mungkin memproduksi seluruh kebutuhan manusia seorang diri, karena itu diperlukan lebih dari satu tenaga produktif untuk melakukan berbagai macam kerja produksi. Hubungan antar tenaga produksi secara sederhana dibagi menjadi dua watak corak produksi; positif atau negatif. Bagaimana cara menentukan apakah suatu corak produksi itu tergolong positif atau negatif? Ia ditentukan setidaknya melalui tiga hal. Pertama, apakah alat produksi dimiliki secara bersama-sama atau dikuasai segelintir pihak. Kedua, apakah kerja produksi dikerjakan oleh semua orang (dibagi secara adil), ataukah ada sebagian pihak yang bekerja keras dan sebagian lain berpangku tangan. Ketiga, apakah hasil produksi dinikmati oleh semua orang atau dikuasai segelintir pihak. Bilamana corak produksi berwatak positif, maka bisa disebut sebagai hubungan produksi yang bersifat gotong royong, kerja sama, atau kolektif. Sebaliknya bila corak produksi tersebut berwatak negatif maka dinamakan sebagai penindasan, penghisapan, atau eksploitasi.

Berikutnya corak produksi tersebut akan menjadi basis yang melandasi bangunan besar suprastruktur mencakup hukum, politik, kebudayaan, dan banyak hal lain yang terdiri dari dua hal utama:ideologi dan pelaksana ideologi.

Apa yang dimaksudkan sebagai Ideologi dalam hal ini merupakan seperangkat tata sikap, nilai, dan persepsi dimana melaluinya dibangun sebuah konstruksi mengenai bagaimana cara masyarakat mengerti dan berhubungan dalam dunia ini. Ideologi mencakup politik, hukum, kebudayaan, norma, adat-istiadat, bahkan termasuk kepercayaan dan agama. Perkembangan atau perubahan dalam corak produksi akan membawa perubahan pula terhadap ideologi dan pelaksana ideologi.

Tentu saja ideologi bukanlah sesuatu yang netral. Karena itu ideologi yang dominan merupakan bentukan kelas penguasa. Mayoritas Ideologi itu ditentukan oleh kelas penguasa. Kelas penguasa menjalankan dominasi dalam dua bentuk. Pertama, dominasi ekonomi nyata atau paksaan dan kekerasan. Kedua, dominasi dengan cara mengontrol ide yang berdasarkan basis sesuai kepentingannya, agar diterima oleh kelas lainnya. Bentuk kedua ini dinamakan dengan Hegemoni.[2]

Hegemoni bisa dicirikan dalam beberapa hal. Pertama, hegemoni ditampakkan seakan-akan sebagai sebuah ‘kesepakatan’ dari mayoritas masyarakat atas ‘gambaran hidup’ yang disuguhkan oleh pihak penguasa. Kedua, nilai-nilai, baik moral maupun politik, yang termasuk dalam sebuah ‘kesepakatan’ tersebut, secara meluas akan menjadi milik penguasa. Ketiga, Ideologi dibuat sebagai ‘hal yang masuk akal’ atau common sense bagi mayoritas rakyat. Sehingga ada anggapan bahwa sudah merupakan hal yang alami untuk berpikir sesuai ide tersebut. Keempat, persetujuan berlangsung pada masa damai namun kekerasan fisik bisa digunakan untuk menyokong dan melindunginya demi menindas sekelompok minoritas yang dianggap membangkang, selama persetujuan mayoritas masih ada[3].

Hegemoni dikukuhkan berkat adanya pelaksana ide. Pelaksana Ideologi adalah aparatus yang berfungsi untuk menjalankan ideologi itu. Pelaksana ideologi bisa berupa partai politik, organisasi massa, lembaga hukum, militer, kepolisian, organisasi massa, lembaga pendidikan, media massa, dan lain sebagainya, termasuk salah satu yang paling penting: negara.

Negara tidak ada di tahapan pertama perkembangan sejarah sesuai teori materialisme-historis yaitu tahapan komunal primitif. Masyarakat komunal primitif saat itu tidak mengenal kesenjangan sosial dan pembagian masyarakat ke dalam kelas-kelas akibat antagonisme kelas. Penemuan-penemuan antropologis telah memperkuat fakta ini. Suku Bushmen di Afrika dan suku pribumi Iroquois di Amerika merupakan beberapa contoh masyarakat komunal primitif. Keduanya tidak mengenal kasta-kasta sosial, tidak ada posisi di masyarakat yang lebih tinggi dari orang lain, tidak ada hak-hak dan status istimewa, bahkan posisi laki-laki dan perempuan cenderung setara. Untuk lebih detilnya mari kita bahas tahapan pertama perkembangan sejarah sesuai teori materialisme historis[4], yaitu tahapan komunal primitif.

Masa Komunal Primitif

Teori materialisme-historis membagi perkembangan sejarah ke dalam beberapa tahapan sesuai perkembangan corak produksinya. Pertama, masa komunal primitif, dimana masyarakat hidup secara komunal, secara berkelompok (dalam komune-komune), agar bertahan hidup menghadapi kerasnya alam dengan memanfaatkan alat-alat produksi yang masih sederhana atau primitif. Komune tersebut memenuhi kebutuhan hidupnya dengan cara  berburu binatang (baik untuk dimakan maupun dipakai kulitnya sebagai pakaian). Setidaknya terdapat ciri-ciri mendasar dari masyarakat Komunal Primitif. Pertama, Kerja Produksi berdasarkan pola Berburu dan Mengumpulkan. Kedua, Alat produksi, baik berupa senjata berburu maupun alat untuk mengolah hasil buruan, dimiliki bersama. Katiga, terdapat pembagian kerja bagi semua orang, siapa yang bertugas untuk memburu binatang, siapa yang bertugas mengumpulkan buah atau tanaman yang bisa dimakan, serta siapa yang berpartisipasi mengolah makanan, (dengan kata lain tidak ada yang berpangku tangan). Sehingga, keempat, ketika semua proses produksi selesai, seluruh anggota komune (dengan demikian setiap orang) menikmati semua hasil produksi.

Corak produksi Komunal Primitif ini juga membawa pengaruh pada suprastruktur, yang juga merupakan ciri keempat, dimana keputusan keputusan diambil lewat musyawarah. Meskipun saat itu ide-ide tentang demokrasi belum lahir, namun musyawarah dalam Komune tersebut diikuti partisipasi oleh semua anggota Komune, setidaknya mereka yang dewasa. Selain itu posisi semua orang cenderung setara atau egaliter, tidak ada kasta-kasta sosial dan status-status istimewa.

Bagaimanapun juga dalam masa Komunal Primitif, kerja produksi berdasarkan perburuan secara primitif memiliki dua kerugian mendasar. Ketika kelompok pemburu komunal lebih kuat, binatang-binatang buruan cenderung habis dan punah[5]. Sebaliknya ketika binatang-binatang lebih kuat maka perburuan bisa saja gagal atau lebih parah lagi, banyak pemburu yang mati dalam perburuan. Akibatnya kerja produksi dalam bentuk perburuan mengalami kemunduran.

Apakah komune-komune kemudian mengalami kepunahan pula? Tidak. Karena di sisi lain, anggota Komune yang melakukan kerja produksi dalam bentuk mengumpulkan makanan (seperti memetik buah) dan mengolahnya untuk dimakan mulai menemukan teknik bercocok tanam. Mereka mengamati dan menemukan bahwa sisa makanan yang mereka buang ke tanah, seperti biji-bijian, bisa tumbuh dan menghasilkan sesuatu yang bisa mereka makan kembali. Pekerja komunal pengumpul makanan, mayoritas merupakan perempuan, yang menemukan dan mengembangkan teknik bercocok tanam ini berhasil menjaga Komune dari bencana kelaparan dan kematian. Masyarakat Komunal Primitif juga tidak perlu lagi berpindah-pindah sehingga mereka bisa menetap dan mendirikan desa. Hal ini kemudian mengantarkan Kaum Perempuan kepada posisi istimewa di dalam masyarakat Komunal Primitif sehingga muncullah konsep Matriarki. Hal ini tidak saja memberikan pengaruh berupa penentuan garis keturunan berdasarkan ibu melainkan  juga munculnya mitos-mitos berupa dewi kesuburan di berbagai kepercayaan.

Kemunduran  dalam perburuan dan kemajuan dalam bercocok tanam kemudian memunculkan berbagai macam perubahan. Mulai muncul pembagian tugas dengan lebih kaku. Kelompok pemburu yang mayoritas laki-laki kemudian mengambil alih praktek bercocok tanam dan meminggirkan Kaum Perempuan ke peran domestik, baik sebagai penghasil tenaga kerja (ibu) untuk menggarap lahan bercocok tanam, maupun sebagai pengolah makanan di rumah. Ini pada kelanjutannya menghancurkan Matriarki dan memunculkan Patriarki.

Kemajuan-kemajuan teknik ini kemudian memunculkan surplus produksi yang lebih tetap, stabil, dan dengan jumlah lebih besar bila dibandingkan dengan teknik berburu. Kemajuan teknik ini juga mendorong munculnya alat-alat produksi baru seperti tempat penyimpanan makanan, yang selanjutnya membebaskan anggota-anggota tertentu dari masyarakat komune primitif dari kebutuhan untuk memproduksi makanannya sendiri. Dengan begitu sebuah pembagian kerja tertentu secara ekonomi dapat berkembang.[6]

Sedangkan secara eksternal, surplus panen yang tidak mungkin mereka konsumsi semuanya sendiri, mendasari munculnya sistem barter antar Komune. Komune yang unggul dan berlimpah dalam panen tertentu kemudian mengutus wakilnya untuk barter dengan komune lain. Misalnya Komune penghasil gandum bertukar dengan penghasil jagung, penghasil jagung bertukar dengan Komunal Pemburu lain (yang masih eksis) dengan ikan atau daging. Sehingga baik Komune yang sudah beralih ke sistem bercocok tanam maupun Komune yang masih berupa pemburu primitif tetap bisa berhubungan melalui sistem barter.

Sistem barter ini semakin memperkokoh pembagian kerja dalam masyarakat bercocok tanam karena memunculkan satu jenis pekerja baru yaitu utusan Komune untuk melakukan barter. Utusan ini mengambil keuntungan dengan mencari selisih barter dan seiring dengan ditemukannya alat tukar (sebelum ditemukannya uang) baik berupa kerang, gigi hiu, dan lain sebagainya, utusan ini mengutip kelebihan untuk dirinya sendiri.

Tentu saja dalam perkembangannya terdapat kesenjangan antara Komune. Baik Komune yang sukses dalam bercocok tanam di satu sisi dan Komune gagal yang masih berupa kelompok pemburu. Meskipun terdapat sistem barter yang memungkinkan pertukaran namun bilamana suatu Komune begitu menurun dalam kerja produksinya hingaa tidak mampu menghasilkan hasil produksi, maka Komune tersebut tidak punya sesuatu yang tersisa untuk dibarterkan. Terdesak untuk memenuhi kebutuhan makan mereka, Komune Pemburu Primitif ini lantas menyerbu Komune yang bercocok tanam. Karena Komune yang masih berpatok pada perburuan memiliki keunggulan baik dalam jumlah pemburu maupun senjata-senjata buruan untuk membunuh binatang, mereka berhasil memenangi peperangan antar Komune tersebut. Sebagai hasilnya, komune pemenang tidak hanya menguasai hasil panen dalam jumlah besar namun juga menguasai anggota dari Komune yang dikalahkan untuk digunakan sebagai tenaga kerja paksa. Dengan demikian kesetaraan sosial di masyarakat Komunal Primitif hancur dengan munculnya kelas-kelas di dalamnya.

Terbaginya masyarakat ke dalam Kelas disebabkan oleh faktor-faktor ekonomi, sebagai contoh yang terjadi di Mesir Kuno atau Yunani Kuno, dimana tidak terjadi adanya penaklukan-penaklukan, yang menjadi penyebabnya pembagian kerja dalam masyarakat. Pembagian kerja ini mengasumsikan adanya pemisahan para produsen yang terlibat di dalam berbagai bentuk aktivitas produksi dan adanya pertukaran antar produksi yang dihasilkan oleh kerja mereka. Pertama-tama, terjadinya pemisahan antara kerja bertani dan kerja beternak, kemudian pekerjaan kerajinan tangan terpisah dari kerja pertanian, dan akhirnya muncul usaha jasa (seperti manajemen, pencatatan, administrasi publik) dipisahkan dari kerja manual. Pembagian kerja secara sosial dan pertukaran antar surplus hasil produksi inilah yang menyebabkan terjadinya pemilikan pribadi terhadap alat-alat produksi. Dengan demikian sistem komunal dan egaliter ini makin rusak karena pemusatan kekuasaan terhadap kontrol produksi oleh segelintir orang. Mulai muncul dua pihak yang berbeda dalam pembagian kerja. Pertama, pihak yang mengerjakan/menggarap sawah, mengurusi ternak, peralatan, dan mengatur peralatan dimana bila mereka tidak bekerja maka masyarakat itu akan goyah. Kedua, pihak yang menguasai surplus atau nilai lebih yang dihasilkan dari pihak pekerja. Untuk pertama kalinya, eksploitasi dikenal dalam sejarah manusia, yaitu kehendak, kemampuan, dan praktek segelintir manusia mengambil keuntungan dari sekolompok manusia lainnya. Ini kemudian memunculkan kelas-kelas dalam masyarakat yang mengandung sifat-sifat antagonis satu sama lain dikarenakan pemilikan alat-alat produksi secara komunal dihilangkan. Kemunculan kelas ini tertampakkan sebagai pengelompokan-pengelompokan sosial yang tidak setara dalam proses produksi sosial. Masyarakat kemudian terbagi menjadi golongan kaya dan miskin, penindas dan tertindas serta kesenjangan pun merajalela.[7]

Sistem Komunal Primitif dengan demikian hancur baik oleh sebab-sebab eksternal maupun internal. Perang-perang dan sekian penaklukan terhadap Komune-Komune semakin mempercepat kesenjangan sosial dan pembagian masyarakat ke dalam kelas-kelas inter-antagonistik. Keberadaan kelas budak dan dan kelas tuan budak menandakan peralihan ke masa perbudakan.

Masa Perbudakan

 Dengan demikian kita memasuki pembahasan tahapan kedua dalam sejarah masyarakat yaitu masa perbudakan. Masa perbudakan ditandai dengan beberapa ciri khusus. Pertama, munculnya kelas-kelas inter-antagonistik dalam masyarakat. Apa yang dimaksud sebagai kelas-kelas inter-antagonistik adalah dua kelas sosial yang kepentingannya saling bertentangan satu sama lain namun keberadaannya saling terikat. Kelas-kelas pertama yang muncul dalam peradaban manusia adalah Kelas Budak dan Kelas Tuan Budak.

Ciri kedua dalam masa perbudakan adalah berkembang pesatnya agrikultur sebagai seni bercocok tanam dengan skala luas yang diiringi domestifikasi binatang. Peran penting agrikultur adalah untuk menyokong sejumlah besar populasi manusia sehingga memungkinkan perkembangan desa-desa menjadi dusun-dusun, dusun-dusun menjadi kampung-kampung, kampung-kampung menjadi kota-kota kecil, dan seterusnya, yang mana perkembangan itu menuntut keberadaan ciri ketiga dari Masa Perbudakan: Statisme.

Statisme merupakan-pemusatan kekuasaan dan otoritas pada segelintir orang atau segelintir pihak yang kemudian berkembang menjadi pemerintah. Pemerintah disini umumnya merupakan wakil-wakil atau para utusan dari Kelas Tuan Budak. Mereka memiliki wewenang untuk menentukan hukum, aturan, kebijakan politik, ekonomi, dan lain sebagainya, termasuk menyusun bala tentara.  Untuk apa? Untuk melindungi Kelas Tuan Budak dan kepemilikan pribadinya. Keberadaan kepemilikan pribadi inilah yang kemudian menjadi ciri keempat Masa Perbudakan.

Kepemilikan Pribadi berbeda dengan Kepemilikan Perseorangan. Kepemilikan perseorangan adalah segala sesuatu yang dimiliki seseorang dimana orang lain tidak ikut memilikinya[8]. Misalkan baju, pakaian, celana dalam, kendaraan, dan lain sebagainya. Sedangkan Kepemilikan Pribadi bukanlah hubungan antara barang dan pemiliknya. Lebih kompleks dari itu, kepemilikan pribadi merupakan suatu hubungan sosial yang merupakan penguasaan, pengendalian, dan pengerjaan orang-orang lain untuk menggarap suatu sasaran kerja (baik berupa tanah, bahan mentah, dan sebagainya) dengan menggunakan alat-alat, yang mana salah satu atau keduanya dimiliki secara pribadi (baik oleh orang per orang, oleh keluarga, atau sekumpulan pihak) untuk menghasilkan keuntungan yang dinikmati sendiri.

Keberadaan Statisme sebagai ciri ketiga masa Perbudakan dan Kepemilikan Pribadi sebagai ciri keempat masa Perbudakan akan saling berhubungan dan memunculkan ciri kelima yaitu berkembangnya Demokrasi dan Otoritarianisme secara bersamaan. Bagaimana bisa? Bukankah keduanya saling bertentangan? Benar. Namun dalam hal ini harus dipahami bahwa Demokrasi berkembang dan berlaku pada lingkup yang terbatas sekali yaitu di kalangan Kelas Tuan Budak itu sendiri. Sedangkan populasi terbesar dalam masyarakat, yaitu Kelas Budak, tidak mempunyai hak sama sekali. Para Budak ditindas sepenuh-penuhnya dan dirampas hak-haknya sampai ke batasan mereka hanya diberi makan dan minum ala kadarnya dan pakaian sederhana, kalau bukan malah makanan dan pakaian yang tidak layak. Salah satu contoh sejarah yang bisa kita tengok tentang ciri kelima ini adalah masyarakat Yunani kuno. Mereka tercatat dalam sejarah telah memberikan sumbangsih tidak saja di bidang filsafat melainkan juga demokrasi. Sayangnya demokrasi mereka juga merupakan demokrasi para Tuan Budak dan penindasan terhadap kelas Budak. Otoritarianisme ini akan semakin berkembang dan menguat dengan bangkitnya kekaisaran Roma dan eskpansi-ekspansi yang dilakukannya.

Mengapa demikian? Karena meluasnya perbudakan terjadi seiring berjalannya ekspansi. Termasuk pada ekspansi yang dilakukan oleh Romawi ke daerah-daerah luar. Mayoritas populasi dari daerah yang diduduki Romawi akhirnya diperbudak sehingga terciptalah suplai budak dengan jumlah sangat besar dan ras sangat beraneka ragam karena terkumpul dari hampir seluruh penjuru Eropa dan Mediterania. Yunani, Illyrians, Berbers, Jerman, Inggris, Thracians, Galia, Yahudi, Arab, dan banyak masyarakat dari daerah yang ditaklukkan berakhir sebagai budak. Di pusat Romawi yaitu di Kota Roma sendiri jumlah budak mencapai 400.000 jiwa. Rezim Romawi, sejak kebangkitannya hingga keruntuhannya, memiliki sekitar 100 juta orang yang ditangkap dan diperbudak atau diperjualbelikan di pasar budak[9].

Bagaimanapun juga masa perbudakan ini menemui keruntuhannya akibat kontradiksi di dalam sistemnya sendiri. Ketika Kelas Tuan Budak menguasai tanah dan budak, yang merupakan sarana utama untuk menumpuk kekayaan, di sisi lain mayoritas populasi masyarakat hampir tidak memiliki atau benar-benar tidak memiliki apa-apa, khususnya Kelas Budak. Padahal para budak lah yang bekerja keras menggarap tanah, membangun rumah, mendirikan kuil dan gedung-gedung, namun mereka tidak mendapatkan imbalan apa-apa. Kecuali hanya dibiarkan hidup dengan diberi sedikit makan dan pakaian. Kondisi ini malah seringkali bisa berubah semakin parah karena budak menjadi hak milik Tuan Budak, Tuan Budak bebas menggunakan Budak secara sewenang-wenang. Budak perempuan bisa dimanfaatkan untuk melayani nafsu seks Tuan Budak sementara budak laki-laki bisa dimanfaatkan untuk menghibur Tuan Budak dengan cara saling diadu satu sama lain seperti yang biasa disaksikan di Colosseum.

Eksploitasi dan penindasan demikian selanjutnya memunculkan pemberontakan Budak dimana-mana, salah satunya dipimpin oleh Spartakus, sang mantan budak. Pemberontakan budak menambah cepat keruntuhan sistem perbudakan. Selain tidak mungkin untuk mengerahkan sepenuhnya tenaga pemerintah untuk menumpas perang-perang pemberontakan budak, sistem perbudakan selalu menuntut penambahan jumlah budak dan dengan demikian menuntut perluasan wilayah dengan jalan ekspansi secara terus menerus. Sedangkan di sisi lain dalam sistem perbudakan, pemerintahan (baik dalam bentuk kerajaan, kekaisaran, maupun bentuk lainnya) dengan wilayah yang terlalu besar tidak mungkin mampu mengelola kekuasaan secara stabil dan bertahan seterusnya. Menghadapi sistem perbudakan yang tidak mungkin dipertahankan lagi, kelas bangsawan yang baru muncul sebagai transformasi dari kelas tuan budak, kemudian membebaskan para budak dengan memberikan tanah-tanah garapan. Dengan syarat: para penggarap tanah ini harus membayar pajak, upeti, atau menyetor sebagian hasil panennya kepada pemerintah. Siapa itu pemerintah? Tidak lain dan tidak bukan adalah para bangsawan, bekas tuan budak, yang kini menjelma sebagai kelas baru, yaitu kelas Tuan Tanah. Ini membawa kita pada masa baru: masa feodalisme.

Masa Feodalisme

Masa feodalisme merupakan tahapan ketiga dalam perkembangan masyarakat sesuai perkembangan corak produksi menurut teori Materialisme Historis. Apa ciri-ciri masa Feodalisme? Pertama, corak produksi ditentukan berdasarkan kepemilikan atau penguasaan tanah. Hal ini berbeda sifatnya dengan masa perbudakan karena di masa feodalisme masyarakat dibagi ke dalam dua kelas, yaitu kelas Tuan Tanah yang menguasai tanah dalam jumlah besar dan kelas Tani Hamba, yaitu para petani penggarap yang wajib menyetor pajak, upeti, atau sebagian hasil panennya. Ciri kedua masa feodalisme adalah formalisasi golongan sosial secara turun temurun (atau berdasarkan ikatan keluarga). Baik berupa pewarisan jabatan pemerintahan dari ayah ke anak maupun berupa dibaginya masyarakat ke dalam kasta-kasta sosial. Ciri ketiga dari masa feodalisme adalah bangkit dan berkuasanya aristokrasi dan teokrasi (kebangsawanan dan kependetaan) yang saling mendukung satu sama lain. Dimana suatu bangsawan (yang merupakan kelas Tuan Tanah yang berkuasa), biasanya dipimpin oleh raja atau kaisar, mendapatkan legitimasi kekuasaan dari kalangan pendeta untuk berkuasa sebagai wakil tuhan di muka bumi. Sehingga siapapun yang menentang atau bahkan mempertanyakan kekuasaan raja/bangsawan bisa dicap sebagai penentang tuhan atau pembangkang agama. Atas legitimasi ini, kalangan pendeta sebagai imbal baliknya, diberikan hak-hak istimewa, baik dilimpahi harta, fasilitas, jabatan pemerintahan, maupun hak khusus dimana agama atau kepercayaannya diadopsi sebagai agama resmi pemerintah. Sedangkan agama atau kerpecayaan lain dilarang, berikut sekian batasan hak maupun sanksi terhadap para penganut agama atau aliran kepercayaan lain. Kekuasaan aristokrasi dan teokrasi ini kemudian membuat kelas penguasa yaitu Kelas Tuan Tanah semakin percaya diri untuk mengembangkan kekuasaan pemerintah di atas pondasi yang juga merupakan ciri keempat feodalisme: negara-bangsa. Negara Bangsa dibentuk kelas Tuan Tanah di atas puing-puing sisa-sisa kejayaan imperium masa perbudakan. Konsep ini dilahirkan untuk mengembalikan kejayaan sebelumnya dengan ciri pembeda tidak hanya berdasarkan kelas penguasa namun juga sebagai keberadaan geopolitik melalui penggabungan aspek wilayah kekuasaan dengan identitas ras dan kebudayaan, yang sekali lagi tetap saja merupakan bentukan kelas penguasa.

Meskipun menurut analisis kelas terdapat dua kelas inter-anatagonistik, tuan tanah dan tani hamba, di masa feodalisme, namun terdapat banyak sekali status-status sosial, sebagian besar menerima secara turun temurun (misalnya kaisar, raja, raja lokal, baron, dan lainnya) sedangkan sebagian lainnya berdasarkan pengangkatan, misalnya ksatria. Dalam waktu yang bersamaan dengan penciptaan status-status sosial ini muncullah perkembangan perdagangan antar negara-bangsa yang memunculkan kelas baru yaitu para saudagar atau pedagang. Keberhasilan dan kekayaan pedagang ini kemudian mengubah mereka menjadi kelas baru, yaitu kelas kapitalis atau kaum borjuasi. Kaum borjuasi ini dengan cepat menemui pertentangan dengan kelas tuan tanah atau kalangan bangsawan. Karena tuan tanah-tuan tanah feodal itu tidak bisa menerima perubahan sosial yang diinginkan para borjuasi. Kelas tuan tanah berkepentingan untuk mempertahankan kekuasaannya (yang berlandaskan sistem feodal). Sedangkan di sisi lain kaum borjuasi yang tergerak oleh motif mencari laba ini terhalang perkembangannya. Karena watak feodal selalu merintangi kegiatan dan perkembangan mereka. Contohnya, status sosial kaum bangsawan membuat sebagian besar diantara mereka menolak membayar pajak sementara kaum borjuasi selalui ditarik pajak kian besar. Contoh lain misalnya, kebutuhan kaum borjuasi akan buruh sebagai tenaga kerja bertentangan langsung dengan kebutuhan kaum tuan tanah untuk mempertahankan tani hamba. Pertentangan-pertentangan ini kemudian berkembang sampai meletuskan berbagai macam revolusi sosial. Contoh-contoh revolusi sosial yang terkenal adalah, Revolusi Perancis tahun 1789 serta Perang Saudara Inggris dan Revolusi 1688. Revolusi-revolusi ini mengakhiri masa feodalisme dan mengantarkan kita pada masa kapitalisme.

Masa Kapitalisme

Kapitalisme adalah tahapan keempat dalam perkembangan sejarah manusia menurut teori materialisme historis. Sebagian besar pembahasan mengenai kapitalisme sudah dilakukan di paragraf kesebelas dalam tulisan ini.  Karl Marx sendiri menaruh perhatian besar untuk menganalisis dan membongkar sistem kapitalisme. Baik Karl Marx sendiri maupun kaum Marxis lainnya memberikan beberapa ciri yang melekat pada kapitalisme.

Pertama, Kapitalisme beroperasi melalui Ekonomi Pasar: Kapitalisme merupakan sistem ekonomi yang menerapkan semua kegiatan ekonomi agar dipimpin oleh kekuatan pasar. Ketika baru lahir, kapitalisme menuntut agar campur tangan pemerintah dihilangkan atau ditekan sampai sekecil-kecilnya. Bagaimanapun juga ketika kapitalisme mencapai tahapan tertingginya, pemerintah kemudian digunakan untuk kepentingan kapitalisme, khususnya agar negara-bangsa kapitalis mampu menaklukkan dan menciptakan pasar-pasar baru.

Kedua, Penguasaan Alat-Alat Produksi dan Hasil-Hasilnya di Tangan Kapitalis: Alat-alat produksi tidak lagi dikuasai kelas Tuan Tanah, baik kalangan raja-raja maupun kerajaan namun sudah dikuasai oleh kapitalis. Kelas kapitalis menguasai alat produksi melalui sarana-sarana berbentuk perusahaan-perusahaan komersil yang bertujuan untuk mengeruk laba sebanyak-banyaknya.

Ketiga, Penguasaan Pemerintah melalui Demokrasi Borjuis untuk Kepentingan Kapitalis. Kelas kapitalis meluaskan kekuasaannya ke pemerintahan melalui suatu parlemen, konggres, kabinet, dan bentuk-bentuk lainnya, yang dipilih melalui pemilihan umum. Hal ini yang membuat kapitalisme secara fundamental berbeda pola kekuasaannya bila dibandingkan dengan masa feodalisme dan di masa perbudakan. Meskipun demokrasi borjuis bisa diperluas partisipasinya ke seluruh anggota masyarakat, namun demokrasi borjuis tidak serta merta berarti atau membawa emansipasi universal. Apalagi terbukti bahwa dalam sejarahnya, demokrasi borjuis pernah melarang partisipasi beberapa kelompok. Misalnya Kaum Perempuan, lapisan bawah dari masyarakat, bekas budak, kaum kulit berwarna dan lain sebagainya. Melalui demokrasi borjuis, Kelas Kapitalis bisa maju sendiri atau menunjuk serta mensponsori wakilnya untuk berpartisipasi dan memenangkan pemilu sehingga ketika pemerintahan dikuasai maka bisa diarahkan untuk kepentingan kapitalisme.

Keempat, Keberadaan Kerja Upahan dan Perampasan Nilai Lebih oleh Kapitalis: Ketika sistem kapitalisme berlaku, kaum pekerja, khususnya Kelas Buruh  diberi imbalan berupa upah oleh majikan yang mempekerjakan mereka. Kalangan penguasa menyebarkan dan menanamkan ilusi bahwa kekuatan pasar berarti upah akan bergerak mencapai titik keseimbangan dimana kaum pekerja dibayar sesuai produktivitas mereka. Padahal kenyataannya, kaum pekerja dan Kelas Buruh dibayar lebih kecil dibandingkan nilai produktivitas mereka dan perbedaan inilah yang menghasilkan keuntungan bagi para majikan. Sehingga pada akhirnya semua kerja upahan adalah eksploitasi dan pekerja terasingkan dari kerja mereka. Selama watak mengeruk laba yang mengoperasikan pasar maka tidak akan mungkin bagi kaum pekerja untuk dibayar sesuai nilai produktivitas kerja mereka sepenuhnya, karena watak tersebutlah yang dimiliki oleh kalangan majikan atau pemberi kerja.

Kelima, Perang sebagai Sarana Perluasan dan Mempertahankan Kapitalisme: Kapitalisme menyebar dari negara-negara terkaya ke negara-negara termiskin karena kapitalis bertujuan menyebarkan pengaruh dan menaikkan keuntungan mereka. Karena kapitalisme membutuhkan ekspansi wilayah baru untuk menguasai bahan baku (seperti minyak, gas, hutan, dan lain sebaginya) maupun untuk menciptakan pasar. Salah satu cara yang tak terhindarkan adalah melalui perang, ancaman akan perang, atau ekspor kapital. Sekali lagi, penguasaan kapitalis terhadap negara dalam hal ini sangat penting dalam perkembangan kapitalisme. Karena negara bisa digunakan untuk menjalankan perang atau setidaknya memainkan campur tangan dalam hubungan internasional.

Keenam, Keberadaan Institusi Finansial untuk Mengalirkan Kapital. Keberadaan institusi finansial sangat penting bagi kapitalisme. Karena baik bank maupun pasar-pasar finansial seperti bursa efek akan mengalirkan kapital-kapital tak terpakai ke tempat yang dibutuhkan. Hal ini akan mengurangi halangan-halangan agar bisa memasuki semua pasar, khususnya pasar di wilayah miskin. Institusi finansial, khususnya bank, dalam hal ini secara dramatis di satu sisi meningkatkan mobilitas kelas namun di sisi lain ia meningkatkan mobilitas kapital dengan lebih cepat dan lebih besar.

Ketujuh, Kapitalisme Mengarah pada Kecenderungan Monopoli. Kekuatan pasar secara alami akan memunculkan monopoli-monopoli akibat perusahaan-perusahaan yang memenangkan persaingan dalam pasar bebas. Monopoli bisa muncur baik dalam bentuk hancurnya para saingan, semakin dikuasainya bahan baku sekaligus alat produksi, serta kemenangan untuk menentukan harga dan menguasai pasar.

Kapitalisme pada masanya bangkit dan mempromosikan kekuasaan motif mencari keuntungan serta membebaskan manusia dari kebaktian terhadap kaum feodal, dimana kini manusia bisa bekerja kepada kaum kapitalis dengan imbalan upah. Dengan demikian pada masanya, kapitalisme bersifat progresif, ketika berhadapan dengan tahapan sebelumnya, yaitu feodalisme. Tidak ada lagi kalangan bangsawan yang tidak melakukan kerja namun bisa menumpuk harta. Tidak ada lagi keistimewaan berdasarkan keningratan yang membuat seseorang bebas tidak membayar pajak. Semua orang setara di mata hukum. Setiap orang yang bekerja dan meraih kesejahteraan dari kerjanya dilindungi hak miliknya oleh hukum. Tidak ada kekuasaan pemerintahan yang diwariskan secara turun temurun. Terdapat jaminan atas hak asasi manusia (HAM). Muncul kebebasan berpendapat, berserikat, dan bahkan beragama, dan lain sebagainya.

Namun seperti halnya masa Perbudakan dan masa Feodalisme, kapitalisme juga mengandung cacat-cacat fatal yang bisa mengantarkannya kepada kehancuran karena kontradiksi internalnya. Karena dalam kapitalisme, kaum Pekerja atau khususnya Kelas Buruh, bekerja keras untuk memproduksi komoditas dan menumpuk keuntungan bagi Kapitalis sementara Kapitalis sendiri hampir tidak bekerja sama sekali selain memberikan sekian perintah dan inspeksi. Sepanjang hidupnya Kelas Buruh tidak pernah dibayar sesuai dengan nilai produktivitas yang dia hasilkan. Selisih dari upah yang diterima buruh dengan nilai produktivitas sebenarnya menjadi nilai lebih atau surplus value yang masuk ke kantong Kapitalis. Oleh karena itu Marx juga menyebut nilai lebih ini sebagai upah yang tidak pernah dibayarkan Kapitalis kepada Kelas Buruh. Mengapa Kapitalis berlaku demikian? Karena sebagai watak dasar kapitalisme, kapitalis akan bergerak dengan motif “keuntungan sebesar-besarnya melalui kerugian sekecil-kecilnya”. Bilamana ia berusaha mencari keuntungan (sekaligus memenangkan persaingan pasar) dengan alat produksi yang murah bisa jadi ia mendapatkan bahan baku jelek atau mesin-mesin berkualitas rendahan. Karena itu jalan satu-satunya adalah bagaimana agar dia bisa membayar upah buruh semurah-murahnnya dengan jam kerja sepanjang-panjangnya. Hal inilah yang mewujudkan konflik antara Kapitalis dengan Kelas Buruh sebagai dua kelas inter antagonistik. Melalui pertentangan ini, Kelas Buruh akan mengembangkan kesadaran kelasnya, mengoptimalkan Serikat-Serikat Buruh sebagai alat perjuangan kelas, dan melalui perjuangan kelas tersebut ia berkepentingan untuk mengakhiri Kapitalisme dan mendirikan Sosialisme.

*

Sebelum kita melanjutkan pembahasan mengenai tahapan sejarah selanjutnya menurut teori materialisme-historis, yang merupakan teori penting dalam marxisme, sebagai gerakan kuat dalam arus Kiri, kita harus menggarisbawahi bahwa Kiri telah berkembang jauh dan terpecah ke dalam berbagai gerakan. Perkembangan sejarah telah membawa pada dinamika dalam gerakan sayap Kiri itu sendiri yang terbagi ke dalam berbagai macam kelompok. Sejak Revolusi Perancis hingga masuknya peradaban manusia pada abad 21, terdapat berbagai macam pandangan dan sikap yang berlainan antar Kaum Kiri termasuk terkait kondisi dan konteks yang berlainan pula baik secara historis maupun secara geografis. Berikutnya kita akan membahas berbagai gerakan dalam arus sayap Kiri, termasuk Marxisme, itu sendiri. (Bersambung ke Kiri – Pandangan dan Gerakannya bag. iii)


[1] Dinamika Tatanan Masyarakat, (Transfer Wacana Sosial, PPMI Dewan Kota Malang)

[2] Ibid

[3] Antonio Gramsci sebagaimana dikutip dalam Marxisme untuk Pemula, ResistBook, Yogyakarta,

[4] Pembahasan materialisme-historis ini banyak dibantu oleh Teori Marx terhadap Sejarah yang diterjemahkan dari situs ensiklopedia dalam jaringan wikipedia. http://en.wikipedia.org/wiki/Marx%27s_theory_of_history

[5] Ketika itu pemburu komunal primitif tidak mengenal konsep regenerasi binatang buruan. Sehingga ketika semua binatang buruan dari muda, dewasa, dan tua, atau baik induk maupun anakan ditangkap untuk dimakan, populasi binatang buruan akan habis dan punah.

[6] Ibid 1

[7] Suharsih dan Ignasius Mahendra, Bergerak Bersama Rakyat, Resistbook, 2007

[8] Karl Heinrich Marx, Friedrich Wilhelm Engels, Manifesto Partai Komunis, diterjemahkan dari Manifest der Kommunistischen Partei, Yayasan Pembaruan (Jakarta, 1959).

[9]  Walter Scheidel, The Roman Slave Supply. Stanford University

Comments
One Response to “Kiri – Pandangan dan Gerakannya bag. ii”
Trackbacks
Check out what others are saying...
  1. […] Pertama-tama, patut kita ketahui bahwa kapitalisme merupakan tahapan khusus dalam sejarah tatanan masyarakat. Kapitalisme hadir melalui sebab-sebab konkrit sebagai bagian dari dan yang menggantikan tatanan-tatanan masyarakat, berdasarkan corak produksi atau sistem sosial ekonomi, yang mendahuluinya. Seperti masyarakat komunal primitif digantikan masyarakat perbudakan, perbudakan digantikan feodalisme, dan feodalisme digantikan kapitalisme. Namun untuk memahami hal ini, kita harus menyimak teori materialisme historis terlebih dahulu (bersambung ke Kiri – Pandangan dan Gerakannya bag. ii) […]



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: