Kiri – Pandangan dan Gerakannya

Kiri - Pandangan dan Gerakan 1

Apa itu kiri? Istilah kiri merupakan salah satu istilah yang paling sering digunakan untuk menggolongkan seseorang atau suatu pihak. Apakah ia berada di sayap kiri atau sayap kanan. Termasuk bagaimana sikap dan pandangannya terhadap suatu rezim dan sistem yang berlaku.

Kalau kita hendak mengacu pada penjelasan kebahasaan, dengan mudah kita akan menemukannya di kamus dimana Kiri adalah ” …sebutan kepada partai (golongan) berhaluan sosialisme yang lama yang menghendaki perubahan secara radikal (terkait politik, partai, dan sebagainya)[1]”. Namun disini saja kita sudah dibawa ke istilah baru, yaitu sosialisme, dan juga ungkapan “menghendaki perubahan secara radikal”. Apa yang hendak diubah kalangan Kiri atau kelompok Sosialis? Secara lebih detil Kiri atau politik Sayap Kiri merupakan kaum dengan pandangan mendukung perubahan sosial untuk menciptakan masyarakat yang lebih setara atau egaliter[2]. Kaum Kiri ini umumnya menaruh perhatian dan kepedulian pada mereka yang dirugikan dan ditindas akibat tatanan masyarakat yang tidak adil. Sehingga Kaum Kiri bermaksud untuk mengurangi atau menghapus sistem tersebut. Sementara Kaum Kanan di sisi lain, memandang ‘ketidaksetaraan’ tersebut sebagai sesuatu yang alami atau merupakan suatu tradisi (yang perlu dilestarikan)[3].

Tentu saja karena suatu rezim dan suatu sistem berlaku pada suatu tahapan historis dengan konteks tertentu, maka pandangan sayap kiri terhadapnya juga merupakan refleksi dari identitas kiri yang berbeda pula dengan Kiri dalam sistem dan rezim yang berlainan pula. Sehingga membahas Kiri saat ini, tidak bisa dilepaskan dari Kiri di hari kemarin, di dasawarsa terdahulu, dan di masa awal ketika istilah Kiri (dan Kanan muncul). Dengan kata lain kita akan membahas istilah Kiri, dari awal kelahirannya, tepatnya di masa Revolusi Perancis.

 

Kiri dan Revolusi Perancis

                Revolusi Perancis meletus karena kontradiksi tak terdamaikan di sistem feodal Perancis. Ketika Perancis nyaris bangkrut karena hutang negara yang membumbung tinggi akibat perang, kelas penguasa Perancis malah bebas dari pajak. Padahal mereka tidak menjalankan kerja apa-apa dan malah menikmati kemewahan hidup serta berfoya-foya. Hal ini dimungkinkan karena sistem feodal di Perancis membebaskan kaum Bangsawan dan Agamawan dari kewajiban membayar pajak. Sedangkan di sisi lain, kaum Tani Hamba yang hanya memiliki sedikit tanah untuk memenuhi kebutuhan makannya dibebani pajak paling besar. Ini menyebabkan permasalahan kedua yakni munculnya kelangkaan pangan akibat berbagai kasus gagal panen pada dekade 1780an. Roti menjadi susah didapat dan ketika ada harganya pun mahal sekali.[4]

                Perancis, pada masa itu, memiliki badan perwakilan bernama Permusyawaratan Umum. Permusyawaratan Umum merupakan sistem dimana berlaku suatu badan perwakilan berdasarkan tiga kasta sosial yaitu kaum Pendeta di Permusyawaratan Pertama (Kependetaan atau Clergy), kaum Bangsawan di Permusyawaratan Kedua, dan orang-orang biasa di Pemusyawaratan Ketiga. Baik Permusyaratan Pertama maupun Permusyawaratan Kedua merepresentasikan Kelas Tuan Tanah yang menguasai tanah dalam jumlah besar dan tidak dikenai pajak[5]. Sedangkan kaum Borjuis, kaum Tani Hamba, dan Kelas Buruh yang baru muncul, digolongkan ke dalam Permusyawaratan Ketiga. Permusyawaratan Umum ini menganut hak pilih (voting) satu suara untuk satu permusyawaratan. Jadi dua hak pilih untuk kelas Tuan Tanah sendiri sudah cukup untuk mengalahkan satu hak pilih dari Permusyawaratan Ketiga, yang berdiri di luar kelas penguasa atau Kelas Tuan Tanah. Walaupun harus digarisbawahi bahwa hanya Raja yang berhak mengadakan Permusyaratan Umum.

Tahun 1789 menandai diselenggarakannya kembali Permusyawaratan Umum setelah absen selama 175 tahun sejak 1614. Kali ini Permusyaratan Umum diadakan pada 5 Mei 1789 di tengah kondisi Perancis yang carut marut dengan tujuan utama untuk memutuskan apakah Permusyawaratan Pertama dan Kedua akan dikenai pajak atau tidak. Dalam pertemuan Permusyawaratan Umum itulah, perbedaan pendirian dan sikap tampak dari posisi tempat duduk yang saling berlawanan. Mereka yang duduk di samping kanan pimpinan sidang merupakan kalangan pendukung rejim kerajaan/monarki dan tatanan sosial feodal. Sedangkan mereka yang duduk di samping kiri merupakan kalangan yang menghendaki perubahan sosial bahkan berkeinginan untuk menghapuskan foedalisme, kebangsawanan, kerajaan, dan mendirikan republik. Pertentangan dalam Permusyawaratan Umum berjalan sangat tajam, sehingga jangankan memutuskan masalah pajak, semua pihak pun gagal menyepakati mekanisme hak pilih.

Pihak Permusyawaratan Ketiga yang menuntut agar hak pilih ditentukan per kepala, bukan per kasta, akhirnya menempuh jalan radikal pada 17 Juni 1789. Mereka mendirikan Majelis Nasional untuk menggantikan Estates Generaal atau Permusyawaratan Umum, yang mereka nyatakan sebagai perwakilan rakyat, bukan perwakilan kasta. Meskipun mereka mengundang anggota Permusyawaratan Pertama dan Kedua untuk hadir, mereka memperingatkan bahwa mereka tetap akan melanjutkan persidangan untuk menentukan masalah nasional dalam Majelis Nasional, dengan atau tanpa perwakilan dari kaum Pendeta ataupun kaum Bangsawan. Louis XVI, Raja Perancis, menjawab hal itu dengan mengirim pasukan untuk membubarkan Majelis Nasional. Peristiwa inilah yang kemudian memicu perlawanan balik berupa Penyerbuan Penjara Bastille dan meletusnya Revolusi Perancis.

 

Capaian Revolusi Perancis

                Revolusi Perancis merupakan kemenangan pertama untuk menggulingkan monarki dan menghapuskan feodalisme. Dampaknya tidak hanya transformasi total di bidang politik namun juga ekonomi, sosial, budaya, dan lain sebagainya. Kasta-kasta sosial secara formal dihapuskan. Permusyawaratan yang merupakan dewan perwakilan berdasarkan kasta sosial dibubarkan. Selanjutnya status-status istimewa feodalisme seperti kebangsawanan dan kependetaan juga dihilangkan. Monopoli tanah dihilangkan dan status bebas pajak dicabut seiring dengan dicabutnya status-status berdasarkan kasta sosial. Sedangkan capaian lain muncul dalam bentuk dideklarasikannya Deklarasi Hak Asasi Manusia dan Warga Negara. Deklarasi tersebut, selain mencakup hal-hal yang sudah disebutkan di atas, juga mendeklarasikan kedaulatan hukum, asas praduga tak bersalah, kebebasan berpendapat, kesetaraan warga negara, dan berbagai HAM lainnya.

                Dengan demikian, Kiri, terutama pada awal kemunculannya, terkait konteks Revolusi Perancis, bisa dimaknai sebagai pihak yang menghendaki perubahan sosial secara menyeluruh berupa dihapuskannya feodalisme berikut bawaan absolutisme, monarki, dan filistinisme[6]-nya. Serta pada saat yang bersamaan menghendaki demokrasi, pendirian republik, sekularisme dan kebebasan beragama, serta kebebasan untuk pengembangan ilmu pengetahuan.

Meskipun Revolusi Perancis berhasil menghapus feodalisme, namun ia tidak berhasil menghapus sistem sosial ekonomi yang menindas. Sebaliknya ia malah memunculkan sistem sosial ekonomi baru yang juga menindas: kapitalisme. Secara tak terelakkan ‘misi’ perubahan sosial yang melekat pada identitas ‘Kiri’ masih belum selesai. Bahkan pertarungan gagasan di dalam Kiri sendiri berkembang seiring dengan perkembangan kapitalisme sendiri. Namun sebelum itu, kita harus mencari tahu apa itu kapital, kapitalis, dan kapitalisme?

Apa itu Kapital?[7]

Kapital adalah segala sesuatu yang dipergunakan untuk mendatangkan nilai baru disamping nilai yang ada dalam dirinya sendiri, terlepas dari banyaknya jumlahnya. Sesuatu yang besar tidak bisa disebut kapital bila ia tidak mendatangkan nilai baru. Misalkan uang sebesar satu milyar yang hanya dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan selama setahun. Ia tidak bisa disebut kapital karena tidak menimbulkan pertambahan nilai. Nah, lain halnya dengan uang seribu rupiah yang dipinjamkan dengan bunga. Misalkan uang seribu rupiah tersebut dipinjamkan dengan bunga sebesar 10% maka peminjam harus mengembalikan sebesar Rp 1.100,-. Disini uang seribu rupiah tersebut disebut kapital, karena telah mendatangkan nilai baru sebesar Rp 100,- disamping nilai yang dikandung dirinya sendiri sebesar Rp 1.000,-.

Kita akan kembali membahas mengenai nilai lebih. Pertambahan nilai lainnya juga bisa muncul dalam bentuk selain peminjaman bunga. Misalkan uang Rp 1.000,- tadi dibelikan suatu barang, lalu barang tersebut dijual diatas harga belinya semula sebesar Rp 1.000,- menjadi seharga Rp 1.100,-.  Disini uang Rp 1.000,- tersebut juga menjadi kapital karena mendatangkan nilai baru sebesar Rp 100,-.

Bentuk lain juga bisa muncul dalam contoh sebagai berikut: Uang Rp 1.000,- dipakai untuk membeli bahan mentah dan membayar tenaga kerja untuk menggarap bahan mentah tersebut menjadi barang jadi. Kemudian barang jadi tersebut dijual sebesar Rp 1.500,-. Disini barang jadi dijual melebihi nilainya sendiri (yaitu Rp 1.000,-) dengan cara menambahkan nilai baru sebesar Rp 500,-. Karena pertambahan nilai itulah maka disini, sekali lagi, uang Rp 1.000,- tersebut disebut sebagai kapital.

Selain dalam bentuk uang, kapital juga bisa berbentuk barang. Misalnya satu mesin pompa angin seharga Rp 1.000.000,-. Mesin ini kemudian disewakan kepada seorang montir bengkel atau usaha tambal ban dengan harga sewa sehari sebesar Rp 1.000,-. Katakanlah daya tahan atau umur mesin tersebut bisa mencapai lima tahun. Maka dalam lima tahun penyewaannya, mesin  pompa angin tersebut telah mendatangkan total setoran dari montir kepada pemilik sebesar Rp 1.800.000,-. (360 (hari) x 5 (tahun) x Rp 1.000 (sewa per hari) = Rp 1.800.000,-). Dalam hal ini nilai baru yang dihasilkan oleh mesin pompa angin tersebut sebesar Rp 800.000,- (Rp 1.800.000 (total setoran) – Rp 1.000.000 (harga mesin pompa angin). Karena mesin pompa angin tersebut berhasil mendatangkan nilai baru diluar nilainya yang asli maka mesin pompa angin tersebut disebut kapital. Hal yang sama berlaku pada mesin cetak, mobil, truk, dan barang-barang lainnya yang mendatangkan nilai baru di luar nilai aslinya, sehingga digolongkan juga sebagai kapital.

Begitu juga daging rusa. Daging rusa yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan tidak bisa disebut kapital karena tidak menghasilkan nilai lebih. Sementara daging rusa yang diperoleh dengan menggaji seorang pemburu kemudian daging yang diperoleh dijual ke pasar untuk menghasilkan nilai lebih, maka daging tersebut menjadi kapital pula.

Dari pembahasan di atas maka kita sudah mengenal bahwa kapital memiliki dua bentuk, yaitu kapital uang dan kapital barang.Kapital uang atau lazim disebut sebagai kapital finansial (finance capital) memiliki kekuatan yang lebih besar dibandingkan dengan kapital barang. Sebab kapital finansial mudah dipindahkan, disimpan, dijaga, dan dipertukarkan kepemilikannya, dibandingkan dengan kapital barang. Demikianlah kapital finansial memiliki dominasi lebih besar dalam sistem perekonomian dibandingkan dengan kapital barang.

Dalam kegiatan usaha ekonomi, dua bentuk kapital ini melahirkan tiga macam kapital, yaitu kapital riba, kapital dagang, dan kapital usaha. Kapital riba adalah kapital finansial yang bergerak dalam usaha pinjam-meminjam dengan disertai bunga. Mulai dari ukuran dan skala kecil seperti renternir hingga skala besar seperti bankir. Sedangkan kapital dagang adalah kapital barang yang diperjualbelikan tanpa melalui proses produksi. Dengan pengecualian kapital barang yang disewakan, karena kapital barang yang disewakan digolongkan sebagai kapital riba. Serta macam ketiga, yaitu kapital usaha. Apa itu kapital usaha? Kapital usaha adalah kapital untuk memproduksi komoditas. Komoditas adalah barang atau produk yang diproduksi untuk memenuhi kepentingan pasar. Dengan kata lain untuk diperjualbelikan demi mencari keuntungan. Bukan untuk memenuhi kebutuhan. Kapital usaha ini dalam memproduksi komoditas harus melibatkan tenaga kerja untuk menggarap komoditas, serta untuk menghasilkan nilai lebih harus mengeksploitasi tenaga kerja tersebut.

Bagaimana bisa tenaga kerja dieksploitasi? Tenaga kerja dieskplotasi atau diperas karena upah yang diterima pekerja tersebut bukan ditentukan dari seberapa banyak produk yang dihasilkan pekerja. Bagaimana bisa begitu? Ambillah contoh, seorang buruh yang bekerja di pabrik pakaian. Ia wajib bekerja selama delapan jam per harinya. Upah umum kira-kira sebesar Rp 1.040.000 per bulan. Sementara ia wajib bekerja selama delapan jam sehari untuk 26 hari kerja. Berarti dalam sehari ia bekerja dengan imbalan Rp 5.000 per jam. Dalam delapan jam kerja, buruh mampu menghasilkan 10 potong celana dari satu gulung kain. Harga kain sebagai bahan setengah jadi sebelum diolah menjadi bahan jadi, yaitu celana, seharga Rp 120.000,- per gulung. Biaya produksi tambahan seperti harga benang, listrik, perawatan mesin, dan lain-lain, ditetapkan sebesar Rp 30.000,-. Dengan demikian total biaya produksi per hari untuk 10 celana jadi siap pakai, sebesar Rp 190.000,- ( Rp 40.000,- untuk upah buruh + Rp 120.000,- untuk bahan mentah + Rp 30.000,- untuk biaya produksi tambahan). Namun kapitalis dapat menjual ke pasar minimal seharga 50.000,- untuk satu celana. Sehingga dari 10 celana bisa didapatkan uang sebesar Rp 500.000,-. Dengan demikian nilai baru yang dihasilkan sebesar Rp 310.000,- (Rp 500.000,- dari total harga 10 celana di pasar – Rp 190.000,- dari total biaya produksi untuk 10 celana). Pertanyaannya adalah siapa yang menghasilkan nilai lebih tersebut? Siapa yang mengerjakan pekerjaan selama delapan jam sehari untuk mengolah bahan setengah jadi menjadi celana siap pakai? Jawabannya adalah buruh. Namun kemanakah uang Rp 310.000,- tersebut masuk? Apakah masuk ke kantong buruh? Bukan. Karena buruh hanya dibayar Rp 40.000,- sehari. Bahkan dalam banyak kasus di kota Malang di pabrik-pabrik yang menerapkan sistem kerja kontrak dan atau outsourcing hanya membayar buruh sebesar Rp 10.000,- sehari. Inilah bentuk perampasan nilai lebih yang sebenarnya dihasilkan oleh buruh namun tidak dibayarkan kepada buruh. Jadi salah satu dasar kontradiksi kapitalisme adalah buruh menghasilkan nilai lebih dalam jumlah besar namun dirampas oleh kapitalis tersebut.

 

Apa itu Kapitalis?

Dengan demikian muncullah pertanyaan siapakah yang merampasnya nilai lebih dari kelas buruh atau kaum pekerja? Mereka adalah pihak yang mempekerjakan dan mengupah buruh namun mereka sendiri tidak bekerja atau terlibat dalam kerja produksi namun menumpuk keuntungan melalui kapital yang mereka miliki. Siapakah mereka yang tidak bekerja ini? Mereka adalah kaum pemodal atau dengan kata lain kaum kapitalis.

Terdapat banyak kasus lain dimana bahkan bilamana ada tuntutan untuk memenuhi kebutuhan ekspor, buruh wajib bekerja hingga sampai 16 jam per hari. Dalam satu hari minimal buruh harus mengerjakan 3.000 celana boxer. Berapakah harga celana boxer itu di pasaran? Sebuah celana boxer GAP yang dijual di outlet ternyata mencapai Rp 112.000,-. Berapakah upah yang diterima buruh GAP tersebut? Hanya sebesar Rp 500,-.[8]

 

Apa itu Kapitalisme?

Demikianlah apa yang disebut kapital dan kapitalis. Kapitalisme sebagai suatu era datang dengan menghancurkan era feodalisme. Kapitalisme dimulai di eropa dengan penghapusan tatanan feodal, penghancuran absolutisme dengan penegakan sistem demokrasi, penghancuran dogma agama dan relasinya terhadap kekuasaan dengan penetapan sekulerisme, kebebasan beragama, serta digalinya kembali pemikiran-pemikiran Yunani.

Sedangkan sebagai sistem sosial ekonomi, kapitalisme adalah corak produksi dimana kapitalis (para pemodal atau pemilik kapital) yang menguasai alat produksi dan tidak terlibat dalam proses produksi meraup mayoritas hasil produksi dengan cara mengeksploitasi kaum buruh (atau disebut juga dengan kelas proletar) yang tidak memiliki kapital sama sekali, tidak menguasai alat produksi sedikit pun, namun terlibat secara penuh dalam kerja produksi. Malahan menghasilkan nilai lebih yang dinikmati oleh para kapitalis.

Kelas Kapitalis menjalankan kegiatan ekonomi bukan untuk memenuhi kebutuhan pribadinya melainkan untuk menumpuk keuntungan. Sehingga proses pertukarannya tidak sama dengan perdagangan tradisional. Perdagangan tradisional memiliki yang bisa digambarkan sebagai Barang – Uang – Barang. Dimana barang  dipertukarkan dengan uang untuk memperoleh barang lagi (yang menjadi kebutuhan dari penukar). Misalnya seorang petani memiliki beras kemudian menjual beras tersebut untuk memperoleh uang. Uang yang diperoleh petani tersebut kemudian digunakan untuk membeli pakaian. Disini jelas petani bukan seorang kapitalis karena selain ia tidak melakukan pertukaran dengan pertambahan nilai, ia juga melakukan pertukaran untuk memenuhi kebutuhannya. Bukan untuk menumpuk keuntungan. Hal ini berbeda dengan kapitalis yang mana skema pertukarannya berupa Kapital – Barang – Kapital atau Kapital – Kapital – Kapital. Misalkan seorang kapitalis dagang memiliki uang sebesar Rp 1.000.000.000,- yang kemudian ia belikan telepon seluler (ponsel) sebanyak 1.000 unit yang masing-masing unitnya ia jual lagi sebesar Rp 1.250.000,- sehingga untuk 10 unit ia bisa menjual sebesar Rp 1.250.000.000,-  dan dengan demikian ia memperoleh nilai tambah sebesar Rp 250.000.000,-. Begitulah contoh skema pertukaran kapitalis yang bergerak dalam macam kapital dagang.

Kehidupan seseorang dalam sistem sosial ekonomi dan dalam era kapitalisme, ditentukan oleh kepemilikannya atas kapital. Seseorang yang tidak memiliki kapital maka secara langsung maupun tidak langsung tidak memiliki nilai dan kedudukan di masyarakat. Sebaliknya, semakin besar kapital yang dimilikinya maka semakin besar peran dan kedudukannya di masyarakat. Ini membuat kapitalis memiliki peran dan kedudukan paling tinggi di masyarakat sebaliknya kelas buruh memiliki peran dan kedudukan yang paling rendah. Demikianlah kapitalisme tidak hanya berpengaruh pada sistem sosial ekonomi sebagai basis tatanan masyarakat yang berlaku melainkan juga mempengaruhi bangunan atas atau suprastrukut tatanan masyarakat.

Kesimpulannya adalah Kelas buruh mengalami penindasan paling besar dari kapitalisme, karena meskipun kelas buruh menciptakan nilai lebih namun mereka tidak menikmatinya. Nilai kerja yang diterima oleh Kelas buruh yang menjual tenaga kerjanya untuk memproduksi komoditas ditekan serendah-rendahnya oleh kapitalis agar hanya mampu membeli komoditas untu bertahan hidup. Dari nilai kerja berbentuk upah kerja itu pun kemudian dikembalikan lagi kepada kapitalis agar bisa membeli komoditas yang ironisnya mereka ciptakan sendiri. Inilah lingkaran setan kapitalisme. Buruh merupakan produsen sekaligus konsumen namun semua nilai lebih yang mereka hasilkan malah masuk kantong kapitalis.

Kiri, Marxisme, dan Posisinya terhadap Kapitalisme

Kalau Kiri pada awal kemunculannya menampakkan identitasnya dengan ciri-cirinya; anti feodalisme, anti monarki, dan anti filistinisme, maka seiring dengan dinamika tatanan masyarakat, identitas dan ciri Kiri juga turut berkembang (bahkan terbelah ke dalam berbagai kelompok), terutama dengan bangkit dan berkuasanya kapitalisme, yang membelah Kiri ke dalam berbagai kelompok.

Salah satu arus dalam sayap Kiri yang bangkit dan memberikan kontribusi besar dalam perjuangan membongkar dan melawan penindasan adalah Marxisme. Abad 19 menandai bangkitnya Marxisme yang mulai menandingi republikanisme radikal dan sosialisme utopis. Manifesto Komunis karya Karl marx dan Friedrich Engels yang sangat berpengaruh diterbitkan pada 1848 mendeklarasikan bahwa sejarah manusia adalah sejarah perjuangan kelas. Perjuangan antara kelas tertindas melawan kelas penindas. Perjuangan antara kelas budak melawan tuan budak, antara tani hamba melawan tuan tanah feodal, dan antara proletar atau kelas buruh melawan kelas kapitalis. Marx-Engels selanjutnya memprediksikan bahwa revolusi proletar akan menggulingkan kapitalisme dan menciptakan masyarakat pasca-moneter, tanpa kelas dan tanpa negara. Bagaimana Karl Marx bisa sampai pada kesimpulan ini?

Pertama-tama, patut kita ketahui bahwa kapitalisme merupakan tahapan khusus dalam sejarah tatanan masyarakat. Kapitalisme hadir melalui sebab-sebab konkrit sebagai bagian dari dan yang menggantikan tatanan-tatanan masyarakat, berdasarkan corak produksi atau sistem sosial ekonomi, yang mendahuluinya. Seperti masyarakat komunal primitif digantikan masyarakat perbudakan, perbudakan digantikan feodalisme, dan feodalisme digantikan kapitalisme. Namun untuk memahami hal ini, kita harus menyimak teori materialisme historis terlebih dahulu (bersambung ke Kiri – Pandangan dan Gerakannya bag. ii)

.


[1] Ebta Setiawan, KBBI Offline Versi 1.3, mengacu pada data dari KBBI Daring (Kamus Besar Bahasa Indonesia Dalam Jaringan) (edisi III) diambil dari http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/ sekarang berganti di http://pusatbahasa.kemdiknas.go.id/kbbi/ (Jakarta: Kementerian Pendidikan Nasional, 2010).

[2] Steven Lukes, “Epilogue: The Grand Dichotomy of The Twentienth Century”, Bab Kesimpulan dalam “The Cambridge History of Twentieth-Century Political Thought”, Terrence Ball dan Richard Paul Bellamy (eds) (Cambridge, Cambridge University Press, 2003).

[3] Ibid.

[4] Harold Damerow, “French Revolution”, http://faculty.ucc.edu/egh-damerow/french_revolution.htm, (diakses pada 6 Juni 2012)

[5] Pada saat pra-Revolusi Perancis, Permusyawaratan Pertama terdiri dari 10.000 pendeta Katolik dan menguasai tanah hingga 10 persen dari total wilayah Perancis. Sedangkan Permusyawaratan Kedua terdiri dari 400.000 Bangsawan, termasuk perempuan dan anak-anak mereka. Mereka memonopoli berbagai jabatan/dinas terkemuka di pemerintahan, kedudukan-kedudukan keagamaan, posisi-posisi militer, dan berbagai birokrasi lainnya baik yang bersifat publik maupun semi-publik.

[6] Sikap anti-ilmu pengetahuan akibat absolutisme di masa feodalisme dimana tidak ada kebebasan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan.

[7] Bagian Apa itu Kapital, Kapitalis, dan Kapitalisme disini diambil dari tulisan sebelumnya berjudul Nilai-Nilai dalam Kapitalisme – Sebuah Tanggapan terhadap Bung Rusman.

[8] Lihat, The New Rulers of The World, film dokumenter karya jurnalis investigasi dari Australia John Pillger.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: