Hasil Pemilu Yunani: Kemenangan Rapuh Kelas Penguasa sementara Kekuatan Syriza tumbuh Semakin Besar

Samaras-New_Democracy

Media massa yang dikuasai borjuasi, baik borjuasi yunani maupun kaum borjuasi internasional telah mengorganisir kampanye teror, dengan propaganda yang menggambarkan bahwa kekacauan ekonomi dan kehancuran akan terjadi bilamana Syriza (Synaspismós Rhizospastikís Aristerás atau Koalisi Kiri Radikal) memenangkan pemilihan umum (pemilu) di Yunani. Kini kita mendapati bahwa partai ND (Néa Dimokratía atau Demokrasi Baru) dengan terseok-seok berhasil menduduki peringkat pertama dalam Pemilu Yunani. Bagaimanapun juga kebangkitan Syriza, meskipun gagal menduduki peringkat teratas, menandakan bahwa masyarakat Yunani semakin bergerak ke Kiri. Dengan kemenangannya sekarang, ND akan berusaha membentuk pemerintahan koalisi dengan PASOK, yang mana akan menyetujui dan melanjutkan program pemotongan anggaran. Hal ini berarti tidak ada satupun penyelesaian masalah. Hanya ada penundaan masalah. Dengan demikian semua kondisi telah semakin matang untuk kemenangan Syriza di hari esok. Berikut kami publikasikan analisis terhadap pemilu Yunani yang ditulis oleh Kaum Marxis Yunani di tengah perkembangannya saat ini.*

Hasil pemilu parlementer kemarin sebenarnya merupakan kemenangan politik yang rapuh bagi kelas penguasa Yunani. Sementara di sisi lain kita mendapati suatu pergerakan ke arah kiri secara meluas dari Kelas Pekerja di kota-kota besar untuk berpihak kepada Syriza, khususnya para pemuda dari Kelas Pekerja Yunani. Lapisan inilah yang merupakan basis barisan nyata bagi Syriza.

ND menempati peringkat pertama dalam pemilu dengan persentase sebesar 29,66% dan itu berarti 1.825.000 suara. Mereka berhasil meraih kenaikan sebsar 635.000 suara lebih dibandingkan dengan pemilu sebelumnya pada 6 Mei dengan persentase kenaikan hampir sebesar 11%. ND menang di 36 daerah pemilihan (dapil) dari total 52 Dapil. Termasuk distrik A di AThena, distrik A dan B di Thessaloniki dan distrik A di Piraeus. Menurut data pemilu yang ditayangkan di berbagai stasiun TV, pemilih utama ND berasal dari kalangan berumur di atas 55 tahun, di kalangan inilah ND meraih persentase kemenangan sebesar 39%. Namun di kalangan pemilih yang berumur antara 18 tahun hingga 34 tahun, ND hanya berhasil meraup suara sebesar 20%. Sedangkan di kalangan pemilih berusia 35 tahun hingga 54 tahun, ND meraih 24%.

Kepulihan elektoral ND semata-mata disebabkan oleh kampanye terror meluas yang dijalankan oleh semua seksi borjuasi, dengan dukungan penuh dari para pengkhianat gerakan komunis, seperti para pemimpin Kiri Demokratik, dengan jargon utamanya “Suara untuk SYRIZA = Suatu pengembalian bencana dan malapetaka ekonomi”. Kampanye kotor ini mendapatkan gaungnya di dalam lapisan-lapisan konservatif tradisional masyarakat Yunani yang mana situasi dan posisi ekonominya membuat mereka cenderung takut pada ‘petualangan’ atau ‘ketidakpastian’ yang diciptakan oleh prospek-prospek unik dan tidak biasa dari suatu pemerintahan dengan partai yang berasal dari gerakan komunis.

Terlepas dari Kelas Kapitalis, para pemilik properti, dan kaum yang berpenghasilan besar, lapisan-lapisan konservatif tradisional ini di satu sisi merupakan kalangan yang masih menikmati pendapatan-pendapatan ‘Kelas Menengah”nya, serta masih memiliki tabungan-tabungan dengan jumlah signifikan dari masa lalu, juga memiliki sejumlah kecil properti dan di sisi lain memiliki taraf hidup yang bergantung pada penghasilan-penghasilan negara, seperti kalangan pensiunan dan para pegawai negeri tetap. Sebagaimana yang ditunjukkan oleh hasil pemilu, kepemimpinan Syriza gagal meyakinkan kelompok tersebut bahwa penghapusan Memorandum dan program umum partai dapat secara langsung menjamin pendapatan mereka saat ini.

Satu faktor yang secara khusus menguntungkan ND adalah tingginya tingkat abstinensi (golput yang tidak memilih, bukan golput yang secara sengaja membuat kertas suaranya tidak sah) sebesar 37,5% atau naik sebesar 2,5% lebih sejak pemilu 6 Mei. Benar bahwa kesulitan ekonomi yang besar pernah menjadi penghalang gerakan para pemilih yang tinggal jauh dari Tempat Pemungutan Suara (TPS) dimana mereka secara resmi terdaftar, terutama di kota-kota kecil dan desa-desa daerah terpencil. Namun tingkat abstinensi setinggi itu, di tengah pemilu yang kritis dan terpolarisasi, hanya dapat mencerminkan, meskipun secara kecil, kecenderungan apatisme politik, yang secara utama menjangkiti para pemuda di daerah-daerah tersebut, akibat kurangnya kepercayaan terhadap program alternatif pemerintah, yang diajukan oleh pemimpin Syriza.

Meskipun demikian, secara obyektif Syriza merupakan pemenang besar pemilu ini. Mereka berhasil menduduki peringkat kedua dengan persentase 26,9% atau sekitar 1.655.000 pemilih. Hanya dalam satu bulan mereka berhasil memenangkan kenaikan dukungan sebesar 10% dari total suara dan itu berarti kenaikan suara sebesar 600.000. Hal ini mencerminkan tumbuh dan semakin kuatnya gerakan kiri, yang tidak saja merupakan pertumbuhan tercepat dari gerakan kiri di sejarah politik modern Yunani, namun juga di sejarah politik modern di dunia yang masih berada dalam sistem kapitalis secara keseluruhan. Kunci utamanya, bagaimapun juga, adalah bahwa perubahan ini terjadi dalam bagian masyarakat Yunani yang paling aktif dan paling progresif, yaitu Kelas Pekerja, bersama-sama mayoritas pengangguran, Kaum Pemuda, serta pada umumnya mayoritas pemilih di pusat-pusat kota serta di antara kelompok-kelompok usia yang produktif dan aktif.

Berdasarkan data yang ditayangkan di TV, SYRIZA mencapai kemenangan sebesar 33% di kalangan usia 18 hingga 34 tahun. Sedangkan di kalangan 35 hingga 54 tahun SYRIZA mencapai kemenangan sebesar 34%. Kekuatan SYRIZA ada di daerah-daerah perkotaan telah membuktikan dirinya sendiri. Secara keseluruhan di Attica (Athena dan Piraeus) SYRIZA berada di posisi pertama dengan 600.000 suara, ini merupakan kenaikan dari 406.667 saat Pemilu Mei sebelumnya padahal di bulan itu, kedua daerah itu yang merupakan jantung kehidupan ekonomi dan politik Yunani telah ditandai dengan warna merah.

Syriza juga menempati posisi pertama khususnya di daerah konstituennya yang terbesar di Yunani yaitu di distrik kedua Athena. Kenaikan suara berhasil diraih Syriza dari 21.82% menjadi 31,43%. Ini berarti kenaikan suara dari 223.416 menjadi 314.000 suara. Misalnya di Kotamadya Nea Ionia, naik dari 24,62% menjadi 36,65%. Sedangkan di Kotamadya Peristeri naik dari 24,9% menhadu 37,71%. Sedangkan di distrik kedua Piraeus SYRIZA juga meraih posisi pertama dengan persentase 36,30%, naik dari angka 23,85% sebelumnya. Angka itu berarti kenaikan suara dari 43.122 di Pemilu Mei menjadi 63.285 di pemilu saat ini. Sedangkan di Kotamadya Perama, Syriza juga naik dari 22.3% menjadi 35,79%. Bahkan di Kotamadya Keratsini-Drapetsona, ia meraih kenaikan dari 24,41% menjadi 37,23%.

Berikutnya di Thessaloniki (region A dan B) Syriza meraih kenaikan persentase suara secara mengesankan. Distrik pertama menyumbang kenaikan dari 17,46% suara menjadi 29,95% suara. Sedangkan di distrik kedua, Syriza meraih kenaikan dari 14,42% menjadi 24,40%. Selain itu di kotamadya besar Patras, Syriza naik secara mengesankan dari 25,42% menjadi 35,86%.

Semua hasil ini mengonfirmasikan penilaian yang kami buat seketika setelah pemilu 6 Mei bahwa Syriza tengah menjadi suara politik massa luas dari kelas pekerja. Kini hal itu makin terbukti: Syriza sekarang merupakan partai massa baru bagi kelas pekerja Yunani.

Dinamika ini tak bisa dihentikan kecuali para pimpinan membuat kesalahan serius ke depannya. Namun yang patut dipahami adalah, kepemimpinan Syriza tidak diragukan lagi telah menyumbangkan semua sikap positifnya untuk mengembangkan pengaruh Syriza dalam masyarakat.

Mengapa Syriza kalah dalam pemihan umum

Bagaimanapun juga kita perlu bertanya pada diri kita sendiri mengapa Syriza tidak berada di puncak perolehan suara Pemilu. Sehingga hal ini cukup mengecewakan harapan jutaan Kelas Pekerja dan Kaum Pemuda. Sebab-sebabnya bisa ditemukan dalam kombinasi faktor-faktor obyektif dan subyektif.

Secara obyektif, semua kekuatan borjuasi saat itu dihantamkan terhadap Syriza. ND, bersama dengan semua partai sayap kanan mendukung serangan ini, dengan dibantu para pimpinan PASOK dan Kiri Demokratik, semua pendukung Troika, bersama dengan para raksasa media massa internasional menyebarluaskan kampanye teror melawan Syriza, untuk memenangkan kaum Borjuis kecil dan lapisan-lapisan yang secara politik masih terbelakang dari masyarakat Yunani.

Sedangkan para pimpinan Partai Komunis Yunani (KKE) – yang telah dihukum sangat keras oleh Kelas Pekerja – juga memainkan peran destruktif, dengan menyerang Syriza melalui sikap sektarian dan pandangan rabun dekat melalui kampanyenya. KKE menolak semua bentuk kerjasama pemerintahan dengan Syriza dan dengan demikian melemahkan prospek pemerintahan kiri, sehingga membuat semua solusi politik makin tidak mungkin di mata borjuasi kecil. Jika saja pimpinan KKE bekerjasama dengan Syriza di atas landasan elektoral bersama, kini kita pasti tidak akan menyaksikan kemarahan terhadap pemerintahan Samara yang pro memorandum. Sebaliknya akan ada pemerintahan komunis sayap kiri! Kelas pekerja tidak akan pernah memaafkan kejahatan politik para pimpinan KKE.

Selain itu kita juga harus mempertimbangkan faktor-faktor yang menjelaskan jumlah orang yang takut atas peluang Syriza untuk membentuk pemerintahan, baik kecenderungan-kecenderungan konservatif, ketakutan terhadap kekacauan yang dirasakan para pemukim pedesaan, serta kaum lanjut usia di berbagai provinsi yang berhadapan dengan apa yang mereka yakini sebagai bahaya “ketidakstabilan” konflik dengan Troika terkait Memoranda, bersama dengan keberadaan apatisme politik di antara beberapa lapisan, terutama di kalangan pemilih yang lebih muda.

Bagaimanapun juga kepemimpinan Syriza seharusnya dan sedapatnya menghadapi permasalahan ini dan menemukan solusi politik yang layak. Kampanye kotor dari para politisi borjuis, media massa dan Troika seharusnya dihadapi dengan respon seketika, sebagaimana telah kami jelaskan sebelumnya, dengan upaya serius untuk memobilisasi anggota Syriza di tempat-tempat kerja, di lingkungan perumahan, dan di desa-desa, dengan tujuan mengorganisir ribuan pejuang untuk pertempuran ini.

Alih-alih melakukan hal tersebut, kampanye Syriza terbatas pada pertemuan-pertemuan lokal terorganisir – diskusi-diskusi yang secara kurang tepat dideskripsikan sebagai “Perkumpulan Popular”. Daripada mengembangkan kampanye elektoral yang lebih kuat, mereka mempertahankan pendekatan rutin lewat anggota-anggota lama yang didukung oleh para pendukung dengan membawa papan-papan unjuk rasa. Semua pimpinan terkemukanya mengarahkan upaya mereka untuk berpartisipasi di panel-panel TV daripada turun ke bawah dan mengorganisir kampanye massa di lingkungan penduduk. Syriza, dengan demikian, dipandang dari sudut pandang organisasional, tampak memiliki petugas elektoral yang sangat lemah. Karena tak satupun yang mampu memobilisasi ribuan pejuang yang mereka menangkan di minggu-minggu terakhir. Petugas Syriza menganggap mereka hanya sebagai pemilih dan tidak berusaha secara tegas dan berani untuk mengorganisir mereka sehingga bisa menguatkan tenaga-tenaga partai baik pada struktur maupun di tingkat barisan.

Program yang ditunjukkan kepemimpinan – tanpa satu pun diskusi serius dengan pengurus dan barisan – memberikan beberapa harapan untuk pekerja, namun tidak esensial untuk memberi mereka antusiasme dan kepastian bahwa hal ini bisa menyelesaikan masalah mereka serta hal ini tidak cukup dalam hal kebijakan efektif untuk menjawab rasa takut dan kegelisahan dari ribuan borjuasi kecil, kaum pensiunan, dan pemuda pengangguran.

Kepemimpinan Syriza gagal meyakinkan mayoritas rakyat bahwa programnya serta pembatalan Memorandum pemotongan anggaran bisa diaplikasikan secara “damai dan aman” dengan tetap berada di dalam Euro dan pada saat bersamaan juga gagal meyakinkan mayoritas rakyat bahwa ancaman Uni Eropa untuk mengeluarkan Yunani dari Euro hanyalah “gertak sambal”. Ketika dihadapkan dengan ancaman nyata deklarasi perang ekonomi umum terhadap rencana internasional dan kapital lokal melawan pemerintahan Kiri, kepemimpinan Syriza tidak merespon dengan rencana programatik yang komprehensif dan diekspresikan secara terbuka, melainkan terburu-buru menenangkan dan menyakinkan rakyat dengan pernyataan sederhana bahwa mereka tidak akan berani melakukan hal seperti itu. Lebih parahnya lagi kepemimpinan membicarakan rencana yang belum bisa dilaporkan (Konferensi Pers oleh Tsipras 12 Juni). Suatu kampanye borjuis antagonistik yang berdasarkan rasa takut tidak akan pernah bosa dijawab dengan posisi abstrak dan tidak jelas yang memberi ruang lebih besar lagi bagi rasa takut untuk tumbuh.

Alih-alih mengadopsi pendekatan ini, kepemimpinan harusnya bisa secara sabar dan teguh menjelaskan kebututuhan akan program komprehensif untuk nasionalisasi di bawah kontrol pekerja dan manajemen penguatan ekonomi sebagai bagian dari rencana terpusat. Kenyataannya adalah tanpa pendirian ekonomi terencana demokratis dan sosialis, keselamatan rakyat dan pembayaran upah serta pensiun – meskipun apa yang akan dikatakan oleh para pimpinan – tidak akan bisa terjamin sama sekali di bawah sistem kapitalisme.

Selain itu, ratusan ribu pemuda pengangguran sama sekali tidak merasa yakin bahwa program yang dipresentasikan oleh kepemimpinan Syriza cukup untuk mengatasi pengangguran. Daripada menawarkan peningkatan keuntungan pengangguran dengan 100 euro dan memberikannya satu tahun di muka, kepemimpinan Syriza sebagaimana yang kami tunjukkan di artikel sebelumnya – seharusnya menaikkan tuntutan yang telah lama disuarakan gerakan buruh yaitu pengurangan jam kerja tanpa pengurangan upah. Sehingga dengan tuntutan itu, Syriza akan bisa menunjukkan pada kaum pengangguran betapa reaksionernya sistem anarki kapitalis itu, yaitu suatu sistem membawa mereka pada kemiskinan, dan dengan begini akan bisa membantu mereka untuk mengerti bahwa satu-satunya pilihan realistis untuk hidup hormat adalah dengan mendirikan ekonomi terencana demokratis dan sosialis.

*tulisan ini merupakan terjemahan dari Greek elections: Fragile victory of ruling class while Syriza is enormously strengthened – Part One yang dimuat In Defence of Marxism dan ditulis oleh Dewan Editorial Marxistiki Foni di AThena, Yunani.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: