Tirani di Semenanjung Korea bag. i: Kehancuran Feodalisme Korea dan Datangnya Fasisme Jepang

Perang Sino-Jepang 1894

Tepat enam puluh dua tahun lalu meletuslah perang pertama yang berlaku dalam skala global pertama setelah Perang Dunia II. Bukan di Eropa, bukan di Amerika, melainkan di Korea. Perang tersebut tidak hanya melibatkan orang Korea saja. Melainkan menjadi ajang keterlibatan negara-negara pemenang PD II. Blok Kapitalis pimpinan Amerika Serikat menyokong Republik Korea (Korea Selatan). Sedangkan Blok Stalinis pimpinan Uni Soviet dan Republik Rakyat Tiongkok (RRT) menyokong Republik Demokratik Rakyat Korea (Korea Utara). Kini puluhan tahun kemudian tembok berlin telah runtuh. Uni Soviet telah buyar. Sedangkan RRT telah memeluk kapitalisme dalam long march yang dipimpin kaum birokrasi PKT. Namun hingga kini rakyat semenanjung Korea tetap terbagi dua. Satu hidup di bawah kediktatoran birokrat Korea Utara (Korut). Sementara ‘saudara’ di selatan hidup di bawah kediktatoran kapital. Rakyat Korea Utara di satu sisi ditindas tidak hanya oleh represi menyeluruh melainkan juga dicekik dengan kultus individu yang mendewakan para pimpinannya. Sementara di Korsel, Kapitalisme tidak hanya memeras Kelas Pekerja namun juga menyebarkan virus hedonisme dan liberalisme. Baik lewat industri operasi plastik maupun lewat dunia ‘hiburan’nya. Bagaimana ini bisa terjadi? Bagaimana masa depan kedua Korea? Berikut ini merupakan seri tulisan dari Bumi Rakyat dalam rangka peringatan 62 tahun perang Korea yang membahas permasalahan di semenanjung Korea.

Rakyat Korea tersebar dari semenanjung Korea hingga Manchuria dan Siberiai. Sejarahnya merupakan sejarah perjuangan melawan dan bertahan dari invasi negara-negara lain. Kerajaan Qing Manchu dari Tiongkok menyerang kerajaan Korea pada 1692  dan menjadikannya koloninya. Tidak hanya dari negara tetangga, kerajaan Korea juga mengalami konflik dengan negara-negara Eropa. Inggris, misalnya, pada tahun 1885 menduduki pulau Geomun. Perancis menyerang Korea pada tahun 1886 untuk memberi pelajaran terhadap kerajaan Korea yang membantai kaum misionaris. Amerika Serikat menyerang kerajaan Korea pada 1871 dan dengan cara yang sama yang dilakukannya terhadap Jepang, mengakhiri politik isolasi. Sedangkan Kekaisaran Jepang menjajah Korea  pada 1905, membubarkan kerajaan Korea, dan menjadikannya koloni Jepang selama 45 tahun.

Kehancuran kerajaan dan institusi feodal di Korea memiliki kekhususan bila dibandingkan dengan kondisi feodalisme di negara-negara lainnya. Penghancuran feodalisme di Eropa dilakukan oleh Kaum Borjuasi. Penghapusan feodalisme di Tiongkok dilakukan oleh Kuomintang (KMT) pada revolusi 1911 (dan kemudian diteruskan oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT)). Sedangkan feodalisme di Korea  dihancurkan oleh aktor dari luar: Jepang.

Ketiadaan aktor internal yang memainkan peran penghancuran feodalisme disebabkan tingginya ketergantungan internasional dari kelas penguasa Korea untuk mempertahankan keberadaannya. Bagaimana pun juga hal ini bukan berarti tidak ada perlawanan internal sama sekali dalam upaya menjatuhkan feodalisme Korea. Karena sejarah mencatat bahwa kontradiksi tak terdamaikan dalam  sistem feodalisme di Korea sempat meletuskan perang Tani Hamba di Korea melawan Kelas Tuan Tanah.

Kelas Tuan Tanah Korea merupakan kelas penguasa yang tidak saja kaya raya akibat penindasan dan pemerasannya terhadap kaum tani namun juga sangat korup dan sewenang-wenang. Pajak-pajak yang sangat tinggi dibebankan kepada Kaum Tani sehingga banyak yang terpaksa menjual rumah dan tanahnya. Sedangkan di sisi lain tuan tanah semakin kaya tidak hanya oleh setoran yang ditariknya dari Kaum Tani melainkan juga dengan beras yang dijualnya kepada Jepang. Kelas tuan tanah bisa hidup mewah, menyekolahkan anak-anaknya, dan menikmati gaya hidup mahal yang diongkosi oleh penindasannya terhadap Kaum Tani. Kondisi ini yang kemudian meletuskan perlawanan dari Kaum Tani. Salah satunya adalah Perlawanan Kaum Tani San Nam yang meletus pada 1862 yang bangkit mengangkat senjata melawan penguasa namun dibantai secara kejam oleh pasukan pemerintah. Hal ini bukannya malah memadamkan perlawanan namun malah memunculkan berbagai perlawanan Kaum Tani di berbagai penjuru Korea. Laskar-laskar Tani ini kemudian menyatukan kekuatan dengan membentuk Tentara Petani Tonghak. Mereka menjalankan metode perang secara bergerilya. Siang hari mereka menggarap tanah. Malam hari mereka bergerilya menggempur kantor-kantor pemerintah dan menyerbu rumah-rumah tuan tanah. Metode ini tidak hanya membuahkan kemenangan berupa berhasil direbutnya kembali harta Kaum Tani yang dirampas Tuan Tanah, namun juga berhasil membagi-bagikan kekayaan Tuan Tanah kepada rakyat miskin.[1]

Tentara Petani Tonghak dalam revolusinya menuntut distribusi tanah, pengurangan pajak, penerapan demokrasi, dan perlindungan Hak Asasi Manusia (HAM). Dalam perjalanannya Tentara Petani Tonghak tidak saja berhasil menggalang kekuatan Kaum Tani Korea melainkan juga merekrut kaum terpelajar dan kaum nasionalis. Seiring dengan perkembangan kekuatannya, berkembang pulah tuntutan ekonomi ke tuntutan politik. Hal ini tercermin dari seruan-seruannya yaitu: Pertana, Jangan bunuh, jangan rampas harta kaum tani. Kedua, Lindungi hak-hak kaum tani. Ketiga, Pukul mundur Jepang, orang barat, dan bersihkan tanah air kita.  Keempat, Maju ke Seoul dan bersihkan pemerintahan. Tentara Petani Tonghak hampir saja menguasai Korea pada bulan Mei ketika mereka berhasil menduduki istana Jeonju dan mendekati Seoul, jantung kekuasaan rezim feodal Korea.

Kelas penguasa feodal di Korea yang ketakutan kemudian meminta bantuan kepada Tiongkok dan disusul Jepang yang mengirimkan bala tentaranya. Kelas feodal Korea yang semula hampir runtuh kini terselamatkan akibat intervensi internasional. Tiongkok mengirim tentara sebanyak 2.465 orang pada 6 Juni 1894 yang tiba di Korea pada beberapa hari kemudian. Sementara Jepang mengirimkan 4.000 prajurit dan 500 angkatan laut yang mendarat di Korea pada 8 Juni 1894. Besarnya kekuatan militer Tiongkok dan Jepang tidak mampu ditandingi oleh Tentara Petani Tonghak meski banyak prajurit kerajaan yang kemudian beralih mendukung kaum Tani. Kalah dalam jumlah tentara dan tertinggal dalam teknologi persenjataan, Tentara Petani Tonghak gagal mencapai kemenangan yang sudah di depan mata dan menderita kekalahan telak dan mengakhiri perlawanan pada 11 Juni 1894.[2]

Bagaimanapun juga kemenangan ini harus dibayar mahal rezim feodal kerajaan Korea. Karena konflik ini kemudian memunculkan konflik lainnya yaitu konflik antara Tiongkok dengan Jepang berupa meletusnya perang Sino-Jepang pada 1 Agustus 1894. Sebagai hasilnya, Jepang tidak saja berhasil mengalahkan Tiongkok yang tertinggal dalam hal modernisasi persenjataan dan kekuatan militernya melainkan mampu menghancurkan feodalisme Korea beserta monarkinya dan menjadikan Korea sebagai jajahannya.

Semua ini terjadi di atas wilayah Korea sebagai bagian dari benua Asia, yang merupakan panggung persaingan negara-negara kolonialisme barat. Baik dalam hal pengaruh politik, perdagangan, maupun perebutan wilayah. Jepang tidak hanya merasa terancam namun juga berambisi untuk turun menjadi negara kolonial. Jepang meraih ini di atas landasan westernisasi, modernisasi, dan industrialisasi melalui Restorasi Meji. Kepercayaan diri Jepang makin tinggi ketika ia berhasil mengalahkan Rusia dalam perang 1904 -1905 dan meneruskan lajunya untuk menguasai Korea[3].

Salah satu jalan bagi Jepang untuk menguasai Korea adalah melalui perjanjian-perjanjian antar negara tanpa melibatkan wakil dari kerajaan Korea. Pertama, Perjanjian Portsmouth pada 5 September 1905 antara Rusia dan Jepang yang mana kepentingan militer, politik, dan ekonomi Jepang terhadap wilayah Korea kemudian diakui. Kedua, perjanjian rahasia antara Jepang dan AS yang mana membagi wilayah asia, khususnya Korea untuk kepentingan Jepang dan Filipina untuk kepentingan AS. Ketiga, Perjanjian Perdamaian di Hague, yang mana tiga orang utusan dari kerajaan Korea tidak diperbolehkan masuk dan berpartisipasi sama sekali. Peristiwa-peristiwa ini semakin meyakinkan jepang bahwa penguasaan Korea sudah di depan mata dan tak ada lagi campur tangan asing yang bisa menghentikannya lagi. Karena itu Jepang kemudian memaksa Kaisar Gojong tunduk pada kekuasaannya dan menunjuk putra mahkotanya sebagai bupati yang mengabdi pada Jepang. Penolakan Gojong kemudian berbuah pada penghapusan feodalisme dan monarki/kerajaan Korea secara formal melalui Perjanjian Aneksasi Jepang-Korea pada 22 Agustus 1910. Dengan ini fasis Jepang menempatkan Terauchi Masatake sebagai Gubernur Jenderal di Korea dan Lee Wan Yong sebagai Perdana Menterinya[4]. Babak baru kekuasaan fasis Jepang di semenanjung Korea telah dimulai. (bersambung ke Tirani di Semenanjung Korea bag. ii: Perang Pembebasan Korea)


[1] The Tonghak peasant revolution, Korea Web Weekly, http://www.asianresearch.org/articles/1797.html, Asociation for Asian Research., Korea Web Weekly, Asociation for Asian Research, 23 Juli 2012.

[2] Donghak Peasant Revolution, Wikipedia The Free Encyclopedia, http://en.wikipedia.org/wiki/Donghak_Peasant_Revolution. (diakses pada 23 Juni 2012), sebagaimana dikutip dari James McClain, Japan: A Modern History, November 2001.

[3] Sudah sejak lama kerajaan korea mengandalkan pihak asing sebagai sandaran kekuasaannya untuk mempertahankan keberadaannya dari ancaman pihak lainnya, termasuk ancaman dari Jepang. Kebangkitan Jepang di hadapan melemahnya Dinasti Qing semakin menguatkan ambisi kolonialisme Jepang. Perjanjian Shimonoseki kemudian didesakkan kepada para utusan dinasti Qing setelah Jepang berhasil mengalahkan Tiongkok dan merebut semenanjung Liaodong. Hal ini dilakukan Jepang selain untuk memperluas daerah kekuasaannya juga untuk menyiapkan diri menghadapi musuh berikutnya yaitu Rusia. Sayangnya kekaisaran Rusia mengetahui niat ini dan membatalkan perjanjian tersebut dengan bantuan Perancis dan Jerman yang saat itu ada di pihaknya. Melihat membesarnya pengaruh Rusia di asia, Korea kemudian mengalihkan sandaran dukungannya dari Tiongkok ke kekaisaran Rusia. Dengan ini Korea tidak hanya mendapatkan perlindungan namun juga pengakuan sebagai kerajaan tersendiri (bukan bagian dari kerajaan Tiongkok). Sebagai imbalannya kerajaan Korea menjadi mitra Tsar untuk mewujudkan kepentingannya di Asia. Bantuan vital lain yang diberikan Tsar Rusia adalah pemberian tempat pengungsian dan perlindungan bagi Raja Gojong dan keluarganya ketika Myeongseong, istrinya sekaligus kaisar perempuan Korea dibunuh atas perintah Miura Goro, diplomat dan tokoh militer Jepang. Rusia bahkan berhasil mengembalikan Raja Gojong ke tampuk kekuasaannya di Korea. Bagaimanapun juga dukungan Rusia kemudian merosot seiring kemundurannya akibat Perang Dunia I (PD I).

[4] Korea Under Japanese Rule, Wikipedia The Free Encyclopedia,

http://en.wikipedia.org/wiki/Korea_under_Japanese_rule, (24 Juni 2012) seperti dikutip oleh Kawasaki Yutaka, “Was the 1910 Annexation Treaty Between Korea and Japan Concluded Legally?”, Murdoch University Electronic Journal of Law, 19 Februari 2007.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: