Politik

Arthur Rackham-The-Twa-Corbies

Stalin pernah berkata, “Kematian satu orang adalah tragedi. Kematian satu juta orang adalah statistik”. Mungkin dia tengah mengejek. Mungkin juga dia mengamini. Apa yang pasti adalah ada pragmatisme dan kemiskinan empati dari seorang politisi. Apa itu politisi? Apa itu politik? Banyak pengertiannya namun persamaan paling umum tentang politik adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan negara dan kekuasaan. Apakah politik itu kotor? Ya dan tidak. Bisa jadi “ya” bila kita pahami negara adalah alat penindas. Bisa jadi “tidak” bila kuasa adalah emansipasi manusia.

Memang tidak pasti. Politik bisa jadi kotor. Politik bisa jadi tidak kotor. Apa yang pasti adalah semua orang tidak bisa menghindari politik. Kalau mau mengutip Njoto, bisa kita katakan “Seribu satu kali manusia tidak mau mencampuri politik. Seribu satu kali pula politik akan mencampurinya.” Bagaimana bisa begitu? Sederhana saja. Setiap orang adalah warga dari suatu negara. Setiap warga negara wajib membayar pajak. Dengan membayar pajak berarti kita sudah berhubungan dengan negara sekaligus mengakui dan memberi kekuasaan pada negara. Mau tidak membayar pajak berarti kita juga berhubungan dengan negara. Hubungan dalam bentuk menolak mengakui negara dan menentang kekuasaannya. Konsekuensinya bisa diterka: dikejar sebagai kriminal atau dicap sebagai sampah masyarakat.

Berpolitik dengan demikian terjadi dengan dua sifat. Politik penindasan ataukah politik pembebasan. Seorang kepala negara yang menandatangani perjanjian asing yang memberi jalan perusahaan-perusahaan imperialis untuk menjarah kekayaan alam dan membiarkan rakyat miskin jelas memainkan politik penindasan. Sedangkan kuli, petani, dan mahasiswa yang bergabung dalam demonstrasi menentang penjarahan dan pemiskinan tersebut jelas melakukan politik pembebasan. Begitu pula aparat yang menembaki para demonstran. Mereka menjalankan politik penindasan. Rela atau tidak rela. Sadar atau tidak sadar. Berpolitik dengan demikian terjadi dengan dua cara. Berpolitik secara sadar ataukah secara tidak sadar.

Bagaimanakah kesadaran bisa diraih? Dengan pengalaman dan pelajaran yang berhubungan secara dialektis. Mereka yang mengalami penindasan saja namun tidak mempelajarinya belum tentu menyadari penindasan itu sepenuhnya. Mereka yang mempelajari penindasan namun tidak mengalaminya belum tentu mengembangkan kesadaran untuk menghapus penindasan itu sepenuhnya. Sama halnya dengan seorang buruh tani yang puluhan tahun menggarap tanah belum tentu sadar dirinya ditindas tuan tanah. Seorang bakul yang digusur dan dilarang jualan dimana-mana belum tentu sadar dirinya ditindas aparat. Seorang buruh yang diupah murah dengan kondisi kerja yang berat belum tentu sadar dirinya dihisap kapitalis. Sedangkan seorang mahasiswa yang mempelajari apa itu kapitalisme, sekedar membaca buku-buku, menonton film dokumenter, namun dirinya sendiri hidup dengan kemelimpahan, bisa jadi tidak merasa perlu untuk melibatkan diri dalam perjuangan massa.

Apakah hal yang sebaliknya bisa terjadi? Apakah mungkin seorang penindas tidak sadar dirinya menjalankan penindasan? Bisa jadi. Karena sebagaimana yang dikatakan Karl Marx, “…bukanlah kesadaran sosial yang menentukan keadaan sosial. Sebaliknya keadaan sosial seseorang yang menentukan kesadaran sosialnya.” Seorang tuan tanah akan terdorong untuk mempertahankan monopoli tanahnya. Karena dengan cara demikian ia memenuhi kebutuhan ekonominya, meskipun ia tidak menggarap sendiri tanahnya. Begitu pula seorang kapitalis akan terdorong untuk mempertahankan kapitalnya dan akan mempertahankan monopoli modal serta alat-alat produksi meskipun ia tidak bekerja. Karena dengan cara demikian ia berkuasa. Bahkanmengembangkan gagasan-gagasan untuk membenarkan kekuasaannya. Namun pada titik demikian sudah terjadi pergeseran dari ketidaksadaran akan penindasan menjadi kesadaran untuk menindas. Cepat atau lambat, ia pasti akan menemui pertentangan dari mereka yang dihisapnya. Sebagaimana yang dikatakan Tan Malaka, “Selama ada penindasan, selamanya itulah pula ada perlawanan. Cacingpun, yang diinjak bergerak kiri kanan, lebih-lebih manusia yang terinjak itu akan berusaha melepaskan dirinya dari injakan itu. Si Bengis Nero, menguatkan majunya Kaum Kristen. George III mengadakan Washington, yang melepaskan Amerika dari tindasan Inggris. Tsarisme di Rusia mengadakan Bolshevisme. Inggris di India melahirkan Pergerakan Boikot dan Swaray, demikianlah tak akan putus putusnya.” Itu pasti. Sepasti pernyataan ada aksi ada reaksi. Demikianlah politik penindasan pasti akan berbenturan dengan politik pembebasan.

Lalu mengapa kata “politisi” bisa berkesan kotor? Mengapa politisi menjadi suatu kata yang begitu peyoratif? Sederhana dan ini bisa dijawab dengan pertanyaan pula: Siapa yang dalam hidupnya tidak melakukan sesuatu kecuali politik formal belaka? Siapa yang dalam pekerjaannya tidak melakukan apa pun kecuali mengurusi pemilu, kampanye, adu urat di parlemen, dan debat kusir di media massa? Mereka bisa disebut wakil rakyat, seorang wakil yang digaji jauh lebih tinggi dengan fasilitas yang jauh lebih berkelas daripada rakyat yang diwakilinya. Mereka juga bisa disebut kapitalis birokrat, kalangan yang mengadakan kampanye besar-besaran dengan dana yang dipinjam dari kaum borjuasi, kelas kapitalis, atau kaum pemodal, yang ketika berkuasa menuntut gaji, tunjangan, dan fasilitas setinggi-tingginya, agar mampu membayar hutangnya pada tuannya. Ketika itu semua masih belum cukup untuk melunasinya maka ia akan melakukan segala korupsi dan konspirasi. Ketika itu semua masih belum cukup untuk melunasinya maka mereka akan membuat peraturan-peraturan atau regulasi yang memuluskan penghisapan kelas penindas terhadap rakyat. Bisa dalam bentuk perjanjian asing yang membolehkan buruh digaji semurah-murahnya dan dipecat kapan saja. Bisa dalam bentuk aturan yang menyatakan bahwa lahan hutan lindung sah untuk dijadikan mall dan pabrik. Bisa dalam bentuk pencabutan subsidi. Bisa dalam bentuk lainnya. Apa yang pasti adalah mereka ini juga disebut politisi.

Politisi profesional sama tidak bergunanya dengan filsuf penuh waktu (full time). Sama menyedihkannya dengan fakta bahwa arsitek elit digaji begitu tinggi, sementara suruhlah ia mengaduk semen seperti yang dilakukan kuli-kuli (yang gajinya belum tentu cukup untuk makan sehari-hari), belum tentu ia mampu. Padahal Ludwig Wittgenstein saja pernah bilang, “Kerja fisik itu bagus untuk otak.” Namun apa yang lebih menyedihkan daripada hal itu adalah kenyataan bahwa bertahun-tahun kita masih ditipu politisi. Bertahun-tahun kita bisa bersorak, berkorban, dan menangis terisak karena para politisi. Bukan hanya kita namun juga seniman dan ilmuwan yang katanya lebih pintar dari orang biasa. Demikianlah Eric Clapton pernah berteriak “Let’s keep england white” (Mari kita jaga agar Inggris tetap (berkulit) putih). Demikianlah Himmler percaya pada panggilan tugas keilmuannya: menjaga kemurnian ras Arya.

Suatu ketika seorang perempuan menyanyikan ironi “Shake it, shake it baby. Shake your ass out in that street. You’re gonna make us scream someday. You’re gonna make us weep.” (Salaman, sayang, ayo salaman. Bawa pantatmu ke jalanan. Suatu hari kau akan membuat kami bersorak dan berteriak. Suatu hari kau akan membuat kami menangis dan terisak.) Dalam Ballad of A Politician (Balada Seorang Politisi) Regina Spektor, yahudi yang kabur dari Stalinisme Rusia itu bercerita bagaimana seorang politisi bisa mendekatkan diri ke orang miskin papa dan pada hari yang lain membuat mereka menderita. Persis seperti yang terjadi di Indonesia ketika musim pemilu. Para politisi berlomba-lomba masuk pasar dan pemukiman kumuh. Ada yang menyalami para bakul. Ada yang merangkul para kuli. Ada yang sampai makan nasi aking segala. Semua tentu di bawah lampu sorot dan di depan kamera tentunya. Hal serupa terjadi di negara-negara lainnya. Ada yang menyalami seorang suster padahal ia menentang tunjangan kesehatan negara. Ada yang merangkul seorang buruh padahal kebijakannya mendukung PHK dan memberi talangan pada kaum juragan.

Seorang yahudi lainnya yang juga pernah hidup sebagai pelarian bernama Leon Trotsky, suatu ketika pernah berkata bahwa seorang administrator tidak boleh digaji lebih tinggi daripada gaji seorang buruh terampil. Seorang pejabat harus dipilih berdasarkan pekerjaannya oleh pekerja-pekerja lainnya. Harus bisa dipilih sewaktu-waktu mewakili kepentingan pekerja yang bersangkutan.  Harus bisa ditarik (di-recall) sewaktu-waktu kalau tidak menjalankan mandat atau amanat sektornya. Setiap orang harus punya akses dan menjalankan fungsi pengawasan. Sehingga ketika semua orang menjadi birokrat maka tidak ada lagi seorang birokrat. Inilah demokrasi pekerja. Inilah konsepsi sosialisme. Sebagaimana yang diyakini Marx, Engels, Lenin, dan lainnya.

Memang itu yang membuat Lenin berbeda dengan Stalin. Untuk memenangkan gagasannya Lenin harus memenangkan voting dan suara. Stalin memenangkannya dengan doktrin dan birokrasi. Itu pula yang membuat Marx berbeda dengan Mao. Marx sekuat tenaga menentang dan menolak kultus individu sementara Mao justru mengobarkannya. Demikianlah pada titik tertentu seorang revolusioner berubah menjadi seorang politisi. Demikianlah pada suatu tahap seorang pejuang berubah menjadi seorang penindas.

Apa yang lebih mengerikan adalah penindas dengan puluhan ribu pengikut. Pengikut yang dibentuk dengan ilusi, didorong dengan kultus, dan diatur dengan tangan besi. Sebagaimana Hitler dengan dukungan dan kebungkaman orang Jerman. Sebagaimana Kim dengan kepatuhan dan ketakutan orang Korea. Ribuan orang mengangguk dan mengutuk dalam rapat raksasa sebagaimana yang diperintahkan. Ribuan orang berduka dan berbela sungkawa sebagaimana yang diumumkan. Sebagaimana yang dinyanyikan Spektor, “You love so deep, so tender. Your people and your land. You love ’em ’till they can’t recall. Who they are again.” (Cintamu begitu dalam, begitu lembut. Kepada rakyatmu dan tanah airmu. Kau begitu mencintai mereka sampai mereka tidak ingat. Siapa mereka lagi.) Demikianlah seruan tidak lagi bisa dibedakan dengan sabda. Tokoh tidak lagi bisa dibedakan dengan tuhan. Tak ada yang boleh mempertanyakan. Tak ada yang boleh menentang.

Seorang pastor yang hidup hingga akhir perang dunia kedua, suatu ketika pernah bersaksi, “Ketika mereka mulai menangkapi orang komunis, aku tidak berbuat apa-apa. Karena aku bukan orang komunis. Ketika mereka mulai menangkapi aktivis serikat buruh, aku tidak berbuat apa-apa. Karena aku bukan aktivis serikat buruh. Ketika mereka mulai menangkapi orang yahudi, aku tidak berbuat apa-apa. Karena aku bukan orang yahudi. Hingga suatu ketika mereka juga datang untuk menangkapku. Saat itu sudah tidak ada orang yang tersisa untuk berbuat apa-apa sama sekali.” Mungkin inilah yang disebut Sarj Tankian sebagai The Silent Majority atau mayoritas yang bungkam. Mungkin inilah yang disebut Benedict Anderson sebagai kelas menengah yang tidak berbuat apa-apa dan cari aman sendiri. Mungkin ini juga yang terjadi sebagaimana yang dikatakan Edmund Burke, “All that is necessary for the triumph of evil is that good men do nothing” (Apa yang dibutuhkan agar kejahatan berkuasa adalah orang-orang baik yang tidak berbuat apa-apa). Itulah yang terjadi ketika yahudi dikirim ke kamp konsentrasi. Itulah yang terjadi ketika muslim Bosnia dibunuhi. Itulah yang terjadi ketika pembantaian 65 berlangsung. Itulah yang terjadi. Ketika politisi berkuasa dengan penipuan, pembodohan, penyembahan, dan pengambinghitaman. Sebagaimana yang dinyanyikan Spektor, “You’re gonna make us scream someday. You’re gonna make us weep.” (Suatu hari kau akan membuat kami bersorak dan berteriak. Suatu hari kau akan membuat kami menangis dan terisak.)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: