Revolusi Oktober, Kemenangan Revolusi, dan Berdirinya Republik Sosialis Dewan Pekerja untuk Pertama Kalinya

Revolusi Oktober

Tepat pada hari ini 95 tahun yang lalu untuk pertama kalinya dalam sejarah Kelas Buruh berhasil merebut kekuasaan dan mendirikan Negara Buruh di Rusia yang berhasil selamat dari sapuan gelombang Kontra Revolusi. Berbeda dengan Revolusi Februari yang berhasil menggulingkan Tsar dan menghapus Monarki. Revolusi Oktober berhasil menggulingkan rezim Pemerintahan Sementara Rusia dan memberikan kekuasaan pada Dewan-Dewan Pekerja, atau dalam bahasa Rusia dikenal sebagai Soviet. Apa sebab, meskipun Tsar telah digulingkan, namun Kelas Buruh tetap menentang pemerintah Rusia yang baru? Pertama, karena Pemerintahan Sementara Rusia tetap merupakan pemerintahan kapitalis. Kedua, Pemerintahan Sementara Rusia berusaha sekuat tenaga untuk menghentikan revolusi sosial yang dimulai sejak Revolusi Februari, termasuk dengan pembubaran dewan-dewan pekerja. Ketiga, perkembangan perjuangan kelas dan semakin tak terdamaikannya antagonisme kelas di Rusia menuntut penghancuran negara kapitalis. Untuk memahami ketiga sebab ini mari kita kupas satu persatu secara mendetail.

Sebab pertama. Mengapa Pemerintahan Sementara Rusia, kita nyatakan, masih merupakan pemerintah kapitalis? Karena meskipun tirani Tsar dan Kekaisarannya yang otoriter sudah berhasil dihapus melalui kemenangan Revolusi Februari namun alat-alat produksi dan hasil-hasilnya masih dikuasai segintir pihak, yaitu Kelas Kapitalis melalui penghisapannya terhadap Kelas Buruh. Dalam kondisi keterpurukan akibat Perang Dunia I, rakyat Rusia tidak hanya menderita karena luka-luka perang, dimana enam juta buruh yang dipaksa wajib militer meninggal dunia, namun juga menderita penurunan upah secara drastis sampai lebih dari 50 persen, bahkan di sisi lain diperparah karena anjloknya produksi barang-barang sampai 36 persen. Bahaya kelaparan mendorong rakyat pekerja di Rusia untuk turun ke jalan. Awalnya kemenangan Revolusi Februari memberikan harapan kepada rakyat pekerja akan rezim baru yang berpihak pada mereka. Namun sikap dan kebijakan Pemerintah Sementara Rusia membuyarkan ilusi mereka karena ternyata rezim tersebut lebih memilih mempertahankan monopoli kepemilikan pribadi Kelas Kapitalis di Rusia.

Hal itu kemudian mendorong Kelas Buruh untuk kembali turun ke jalan. Pemogokan massal meletus di banyak daerah. Setidaknya berjuta-juta buruh baik Kaum Buruh di Moscow, Petrograd, termasuk buruh tambang di Dobas dan Urals, buruh minyak di Baku, buruh tekstil di Kawasan Industri Pusat, dan buruh pekerja rel dan kereta api (KA) di 44 jalur KA terlibat dalam pemogokan massal tersebut. Kali ini tidak hanya untuk berdemonstrasi namun mereka memutuskan mengambil alih industri, baik mulai dari produksi hingga tingkatan distribusi.

Sebab kedua. Mengapa Pemerintahan Sementara Rusia, kita nyatakan, berusaha menghentikan revolusi sosial yang muncul sejak kelahiran Revolusi Februari? Revolusi, dimana-mana, mempunyai dua tugas pokok. Satu, untuk menghancurkan rezim dan sistem sebelumnya yang bersifat penindasan dan dua, untuk membangun rezim dan sistem baru yang bersifat pembebasan. Hal yang sama juga (seharusnya) berlaku di Rusia. Dalam konteks Rusia, rezim yang sebenarnya hendak dihancurkan oleh revolusi disana adalah Tirani Kekaisaran Tsar yang otoriter. Rezim ini memaksa jutaan buruh di Rusia masuk wajib militer dan mengirimkannya untuk saling bunuh-membunuhi rakyat pekerja dari negara-negara Poros dalam perang Imperialis. Perang Imperialis, yang dalam konteks sejarah itu disebut sebagai PD I, tidak ada kepentingannya sama sekali dengan Kelas Buruh. Kelas Buruh Jerman tidak menikmati keuntungan apa-apa ketika Kekaisaran Jerman mencaplok negara lain sebagai jajahannya. Demikian pula Kelas Buruh Rusia tidak menikmati keuntungan sedikitpun dari jajahan-jajahan Rusia. Namun mereka dipaksa saling bunuh satu sama lain demi mengamankan kepentingan kelas penguasa dari masing-masing negara tersebut. Sementara itu Kelas Buruh yang memprotes hal tersebut serta menuntut kondisi kerja yang lebih layak malah ditembaki. Kondisi macam inilah yang menjadi salah satu penyebab meletusnya Revolusi Februari, memunculkan Dewan-Dewan Pekerja sebagai instrumen perjuangan Kelas Buruh, serta mengantarkan Pemerintahan Sementara Rusia kepada kekuasaan setelah penggulingan Tsar.

Ternyata rezim baru ini tidak beritikad sama sekali untuk menghentikan keterlibatan Rusia dalam PD I meskipun secara militer tentara Rusia sudah tidak sanggup dan meskipun secara finansial Rusia sudah di ambang kebangkrutan serta bahaya kelaparan. Bahkan Kerensky sendiri menyatakan bahwa Dewan-Dewan Pekerja hanya instrumen sementara, begitu pemilihan umum digelar, Dewan-Dewan Pekerja akan dibubarkan. Hal ini makin mendorong ketidakpercayaan rakyat terhadap rezim baru Pemerintahan Sementara Rusia yang ternyata sama saja dengan rezim sebelumnya. Rakyat Rusia khususnya Kelas Buruh meneriakkan seruan, “Hentikan Perang!” dan “Berikan Kekuasaan kepada Dewan-Dewan Pekerja!”. Takut atas kekuatan Kelas Buruh, Pemerintahan Sementara Rusia berusaha mengirimkan pasukan untuk membubarkan demonstrasi Buruh tersebut. Upaya itu gagal dan dalam hitungan hari, berita atas insiden tersebut, seperti minyak yang disiramkan ke api, membuat perlawanan Kelas Buruh di Rusia terhadap Pemerintahan Sementara semakin berkobar.

Menanggapi hal ini, awalnya Kelas Buruh masih yakin bahwa tuntutan mereka bisa diperjuangkan secara damai baik melalui demonstrasi, pemogokan massa, pengambil alihan industri, dan cara-cara damai lainnya. Sayangnya Rezim Pemerintahan Sementara Kerensky bersikeras untuk lebih berpihak pada kelas penguasa. Atas perintah Kerensky dikirimlah kembali mengirim pasukan untuk menyerang Kelas Buruh yang berdemonstrasi di Petrograd. Puluhan orang mati dan ratusan menderita luka-luka dalam peristiwa tersebut.

Meningkatnya antagonisme kelas terjadi juga di sektor non-buruh, khususnya di sektor Kaum Tani. Kaum Tani yang jumlahnya merupakan mayoritas di populasi rakyat Rusia, menderita penindasan yang sangat parah dari Kelas Tuan Tanah. Revolusi Februari memberikan harapan akan adanya perbaikan nasib karena dikeluarkannya peraturan baru oleh Pemerintahan Sementara Rusia menyangkut masalah tanah. Sayangnya banyak petani dan aktivis tani yang berusaha menerapkan peraturan tersebut dan melaksanakan reforma agraria malah ditangkap dan dipenjarakan justru oleh aparat pemerintahan itu sendiri. Banyak kasus terjadi dimana aparat tersebut memiliki hubungan kekuasaan juga dengan Kelas Tuan Tanah.

Sedangkan di sektor lain, kaum Prajurit Rusia di daerah-daerah perang juga menderita karena atasan-atasan atau perwira-perwira mereka yang mayoritas berasal dari Kaum Borjuis memperlakukan mereka secara semena-mena. Banyak prajurit semakin kecewa dengan rezim Kerensky, bukan saja karena parahnya kondisi militer dan kondisi hidup di barak-barak, namun juga karena menghendaki perang segera dihentikan. Akibatnya banyak prajurit yang membangkang atasan, melakukan desersi, dan memutuskan pulang ke kampung halamannya masing-masing.

Inilah yang mengantarkan kita pada pembahasan sebab ketiga, yaitu:Mengapa, kita nyatakan, perkembangan perjuangan kelas dan semakin tak terdamaikannya antagonisme kelas di Rusia menuntut penghancuran negara kapitalis? Untuk membahas hal ini kita harus memahami bahwa sejak meletusnya Revolusi Februari hingga kemenangannya, rakyat Rusia menyaksikan kebangkitan dua institusi baru. Di satu sisi, muncul Dewan-Dewan Pekerja. Sedangkan di sisi lain, muncullah Pemerintahan Sementara Rusia yang berkuasa di atas puing-puing kehancuran monarki Kekaisaran Tsar Rusia.

Dewan Pekerja, merupakan ekspresi alamiah perjuangan Kelas Buruh. Dewan Pekerja tidak lahir karena diserukan oleh Karl Marx, Friedrich Engels, Vladimir Lenin, maupun Leon Trotsky. Sebaliknya, Kelas Buruh yang berhasil merebut alat produksi, kemudian mengorganisir diri mereka sendiri di pabrik-pabrik atau di jenis-jenis tempat kerja lainnya ke dalam Dewan Pekerja dimana mereka mengelola tempat kerja mereka secara demokratis dan gotong royong. Melalui Dewan demikian Kelas Buruh membahas permasalahan-permasalahan mereka, apa tindakan yang harus dijalankan, bagaimana solusi diputuskan,  dan apabila diperlukan untuk menunjuk delegasi untuk berunding, buruh bisa menunjuk wakil-wakilnya kapan saja sekaligus me-recall atau menarik dan menggantikannya dengan wakil yang baru bila wakil sebelumnya dianggap tidak kompeten atau bahkan mengkhianati mandat dan amanat yang diwakilinya. Demokrasi yang dijalankan oleh Kelas Buruh demikian bisa disebut lebih demokratis daripada demokrasi liberal atau demokrasi borjuis dimana rakyat hanya bisa memilih wakilnya sekali dalam empat atau lima tahun namun ternyata tidak bisa mengganti wakilnya bila ternyata wakilnya berkhianat dan lebih berpihak pada kelas penguasa.

Terkait hal itu, ketika Lenin menyerukan “Semua kekuasaan untuk Soviet!” hal ini tidak bisa diartikan sebagai seruan Partai Komunis Rusia untuk melakukan kudeta dan mengambil alih kekuasaan di Rusia. Saat itu Partai Komunis malah sama sekali belum terbentuk. Kelompok yang dipimpin Lenin, yaitu Kaum Bolshevik, saat itu adalah pecahan dari Partai Buruh Sosial Demokrat Rusia (PBSDR). Sebaliknya, seruan tersebut mewakili kepentingan Kelas Buruh di Rusia karena pada kenyataannya selama kekuasaan ada di tangan negara kapitalis maka selama itu pula Revolusi Sosial Kelas Buruh tidak akan bisa dimenangkan. Karena itu untuk memenangkan Revolusi Sosial mereka, Kelas Buruh harus mengambil alih kekuasaan dari tangan Pemerintah Sementara Rusia ke tangan Soviet atau Dewan-Dewan Pekerja.

Jelas tidak bisa dibilang bahwa Lenin mau jadi diktator. Karena pada saat seruan “Semua kekuasaan untuk Soviet”, mayoritas aktivis yang jadi pimpinan di Dewan-Dewan Pekerja bukan dari Kaum Bolshevik. Justru sebagian besar pimpinan Dewan-Dewan Pekerja berasal dari kelompok Sosialis Revolusioner (SR) dan kelompok Menshevik. Kedua kelompok ini menganggap bahwa revolusi di Rusia saat itu bukanlah revolusi sosial dan bukan revolusi Kelas Buruh melainkan revolusi borjuis demokratis dan menganggap bahwa sistem kapitalisme di Rusia harus matang terlebih dahulu seperti di Inggris atau di Jerman, baru nanti secara alami, akan ada revolusi sosial Kelas Buruh. Bagaimanapun juga mayoritas rakyat pekerja di Rusia yakin bahwa di bawah rezim Pemerintahan Sementara Rusia mereka tetap akan kelaparan dan buruh kembali dikenai wajib militer untuk dikirim mati di medan perang. Demikianlah Kelas Buruh dan rakyat Rusia menghendaki bukan hanya revolusi politik melainkan revolusi sosial sepenuhnya. Sehingga tidak hanya Kaum Bolshevik yang banyak memenangkan dukungan Kelas Buruh namun mereka berhasil mendorong pimpinan-pimpinan Dewan-Dewan Pekerja dari kelompok lain untuk melancarkan revolusi sosial. Kaum SR  kemudian terpecah dua, SR kanan yang mendukung status quo dan SR kiri yang bergabung berjuang untuk revolusi sosial. Sedangkan karena Kaum Menshevik tetap berkeras menentang revolusi sosial, mereka dipecat sendiri oleh tangan buruh-buruh yang memilih mereka.

Demikianlah tangan-tangan buruh sendiri yang menghendaki dan menjalankan revolusi sosial. Kelas Buruh kemudian mengambil alih pabrik-pabrik dan toko-toko senjata, mempersenjatai diri, dan mengorganisir milisi-milisi pekerja. Ketangguhan milisi-milisi pekerja ini kemudian terbukti ketika dihadapkan dengan pasukan Pemerintahan Sementara Rusia, khususnya ketika pada bulan Agustus pasukan Jenderal Kornilov dikirim untuk membunuhi Kelas Buruh yang telah mengambil kekuasaan di Petrograd. Namun kali ini kemenangan ada di pihak Kelas Buruh. Milisi-milisi Buruh yang menghadapi pasukan Kornilov berhasil memenangkan pertempuran dan memaksa sisa-sisa prajuritnya untuk menyerahkan diri ke Dewan Pekerja Petrograd.

Kemenangan di Petrograd ini berhasil memenangkan kepercayaan rakyat terhadap Kaum Bolshevik. Deputi Dewan Pekerja dan Prajurit Petrograd pada 31 Agustus 1917 kemudian mengadopsi usulan atau resolusi Kaum Bolshevik untuk merebut kekuasaan. Ini diikuti dengan  Deputi Dewan Pekerja Moscow yang mengambil keputusan serupa pada 5 September. Keputusan tersebut diikuti oleh Dewan-Dewan Pekerja di daerah-daerah lainnya dan menandainya pelawanan milisi pekerja yang kemudian menjalar dan meletus di berbagai kota dan berbagai daerah untuk merebut kekuasaan ke tangan Kelas Buruh. Puncak perlawanan ini terjadi pada 25 Oktober, dimana milisi-milisi pekerja menyerbu istana kepresidenan yang dinamakan sebagai Istana Musim Dingin. Hari itulah, Kelas Buruh mengambil alih kekuasaan dari negara kapitalis yang dikuasai Pemerintahan Sementara Rusia dan menggantinya dengan negara buruh yang dijalankan oleh Kongres Dewan Pekerja dan Prajurit SeRusia. Pengambil alihan kekuasaan ini nyaris tanpa darah, karena pada malam hari sebelumnya Kelas Buruh sudah menduduki dan mengambill alih bangunan-bangunan vital seperti gudang senjata, kantor pos, pusat-pusat percetakan, stasiun-stasiun, terminal-terminal, bank-bank, dan lain sebagainya. Kemenangan Revolusi Sosial Kelas Buruh pada 25 Oktober tersebut bukan berarti akhir dari perjuangan karena gelombang kontra-revolusi yang hendak menghancurkan negara buruh sudah mulai pasang dan akan menghantam hingga tahun 1922.

Berbeda dengan Negara Buruh Komune Paris yang hanya bertahan selama dua bulan, Negara Buruh di Rusia dan daerah-daerah sekitarnya berhasil memenangkan perang melawan kontra revolusi. Perang yang tidak hanya melawan rezim lama yang hendak berkuasa kembali melainkan juga melawan 21 negara imperialis, termasuk negara-negara sekutu di dalamnya.

Keberhasilan Kelas Buruh untuk mendirikan Negara Buruh yang bertahan dan selamat melawan serbuan kontra revolusi ini menjadi momentum baru perjuangan untuk perjuangan Kelas Buruh di seluruh penjuru dunia. Sekaligus merupakan titik pijakan pendirian Federasi Republik Sosialis Dewan Pekerja yang secara awam dikenal sebagai Uni Soviet. Berbeda dengan anggapan awam, Uni Soviet bukanlah suatu negara tersendiri, sebaliknya, ia merupakan federasi dari negara-negara buruh. (Federasi ini bahkan tidak memiliki nama wilayah tersendiri). Penting untuk kita pahami, ketika Revolusi Sosial Kelas Buruh meletus, bukan hanya Kelas Buruh di Rusia yang bangkit dan merebut kekuasaan. Kelas Buruh di daerah-daerah lain, yang merupakan bekas wilayah jajahan Kekaisaran Tsar, juga bangkit berjuang merebut kekuasaan. Setidaknya Kelas Buruh di daerah seperti Transkaukasia, Ukrainia, Belarusia, berhasil memenangkan perjuangan dan mendirikan Republik Sosialis Dewan Pekerja. Ketiga negara buruh ini, bersama dengan negara buruh di Rusia kemudian sepakat untuk membentuk Federasi Republik Sosialis Dewan Pekerja yang dideklarasikan pada 28 Desember 2012.

Kemenangan Kelas Buruh di Rusia juga mendorong pada pembentukan Internasionale Ketiga atau Komunis Internasional (Komintern) untuk membantu perjuangan Kelas Buruh di seluruh dunia. Pembentukan ini sekaligus menegaskan watak internasionalis dan kepastian bahwa sosialisme tidak mungkin dibangun hanya dalam satu negara. Melalui Komintern, Kelas Buruh dan Kaum Komunis bisa menimba pelajaran dari pengalaman Revolusi Oktober dan kemenangan rakyat Rusia.

Demikian besar pengaruh terbentuknya dan bertahannya negara-negara buruh yang tergabung dalam Federasi Republik Sosialis Dewan Pekerja sehingga menginspirasi dan mendorong perjuangan Kelas Buruh di berbagai negara lainnya. Partai-partai Komunis bermunculan di seluruh penjuru benua, diikuti dengan meletusnya revolusi di berbagai negara. Sayangnya sebagian besar revolusi tersebut menderita kekalahan, Kaum Komunis ditangkap, dipenjarakan, atau dieksekusi, gerakan buruh mengalami kemunduran, dan represi aparat penguasa semakin menghebat. Kesemuanya ini berkontribusi terhadap makin terisolasinya negara-negara buruh yang ada sehingga memunculkan tendensi birokratisme. Tendensi ini muncul akibat banyak bergugurannya aktivis buruh revolusioner di medan perang untuk mempertahankan negara buruh dan di sisi lain membanjirnya kaum oportunis baik ke dalam birokrasi Dewan Pekerja maupun birokrasi partai. Melalui berbagai proses gradual yang diwarnai dengan berbagai konfrontasi pula tendensi birokratisme ini berhasil menguasai partai, dewan pekerja, militer, kepolisian, dan membentuk lembaga-lembaga tersebut sesuai keinginan mereka dan agar melayani kepentingan mereka. Konfrontasi-konfrontasi tersebut tidak terbatas pada polemik bahkan juga muncul dalam bentuk konfrontasi berdarah yang tidak seimbang. Dari yang awalnya fitnah Kaum Stalinis terhadap Oposisi Kiri, pemecatan aktivis kritis dari jabatan-jabatan penting, pemenjaraan, pengasingan ke Siberia, pengadilan rekayasa, pembunuhan, hingga penghancuran kaum-kaum tani melalui kolektivisasi paksa. Proses-proses dan konfrontasi-konfrontasi tersebut mengubah Uni Soviet dari federasi negara buruh yang merupakan instrumen perjuangan sekaligus instrumen pembebasan Kelas Buruh menjadi suatu mesin instrumen penindasan.Kaum Birokrasi yang tidak hanya menghancurkan demokrasi buruh namun juga mengeksploitasi, menghisap, dan menindas Kelas Buruh juga untuk mempertahankan kekuasaan dan hak-hak istimewanya.

Mempelajari Revolusi Oktober dengan demikian tidak bisa dipisahkan dari mempelajari bahaya birokratisme dan bahaya Stalinisme. Melalui Revolusi Oktober, Kelas Buruh sedunia bisa mengetahui bahwa tidak mustahil bagi Kelas Buruh untuk menumbangkan Kaum Kapitalis, merebut kekuasaan, dan mendirikan negara buruh. Dengan garis bawah bahwa watak perjuangan Kelas Buruh adalah watak internasionalis dan tidak mungkin membangun sosialisme hanya dalam satu negara. Sedangkan melalui pemahaman terhadap apa itu bahaya birokratisme dan apa itu stalinisme, Kelas Buruh bisa mengambil pelajaran agar kelak kita bisa menghadapi dan mencegah pengkhianatan yang tidak hanya akan memberangus demokrasi pekerja melainkan juga menghancurkan negara buruh. Karl Marx suatu ketika pernah menyatakan bahwa demokrasi adalah jalan menuju sosialisme. Demikianlah kita harus meyakini bahwa tanpa demokrasi buruh, mustahil untuk mewujudkan negara buruh yang sehat, dan mempertahankannya dari terkaman Kaum Birokrat.

 

Referensi:

  1. John Reeds, Ten Days That Shook The World, liputan/laporan langsung, diterbitkan kembali oleh Penguin Books
  2. Spartacus Educational, Russian Revolution, October, 1917, dipublikasikan oleh spartacus.schoolnet.co.uk
  3. Tess Lee Ack, Revolusi Oktober 1917, sub bab dari Sejarah Revolusi Rusia, dipublikasikan oleh Suara Sosialis
  4. Sonny Prasetyo, Revolusi Oktober dan Semangatnya, dipublikasikan oleh militanindonesia.org
  5. Situs Ensiklopedia digital Wikipedia, October Revolution, dipublikasikan  dengan alamat en.wikipedia.org/wiki/October_Revolution
  6. Situs Ensiklopedia digital Wikipedia, Rusian Civil War, dipublikasikan dengan alamat http://en.wikipedia.org/wiki/Russian_Civil_War
  7. Julian, Bangkitnya rezim Stalinis di Rusia, ditulis berdasarkan karya Chris Harman, Russia: How the Revolution was Lost, dipublikasikan oleh Suara Sosialis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: