Sumpah

Kongres Pemuda 2

28 Oktober 2012 merupakan momen dimana kita memperingati Sumpah Pemuda yang kini telah berusia 84 tahun lamanya. Hari ini kita tidak hanya melihat ada warna merah di kalender, ada bendera dikibarkan di depan rumah-rumah dan ada upacara dilaksanakan di berbagai instansi negara (mulai pusat pemerintahan, barak militer, hingga sekolah-sekolah) namun kita juga menyaksikan beberapa stasiun televisi menggelar konser dengan menanggap penyanyi, band, boyband, dan girlband, tempat-tempat perbelanjaan mengadakan diskon, lomba-lomba, dan sehimpun kegiatan lainnya. Apa yang semula merupakan peringatan kemudian bisa menjadi perayaan. Apa yang semula merupakan persatuan kemudian menjadi rutinitas. Dimanakah posisi kita berdiri diantara pidato-pidato resmi hingga diantara perayaan-perayaan yang hingar bingar ini? Sebelum kita dibunuh kebosanan atau menyerah pada ketidakpedulian marilah kita pertanyakan apa pentingnya kita mengingat Sumpah Pemuda?

Sumpah itu sendiri merupakan pernyataan yang diucapkan untuk menegaskan kebenaran suatu hal. Ketika seseorang bersumpah maka dia (atau mereka) sudah memiliki tiga jenis keberanian (dan bisa dikatakan juga mengemban tiga beban). Berani menyatakan sesuatu yang ia anggap sebagai kebenaran, berani menghadapi mereka yang bersaksi terhadap kesungguhan pernyataannya sendiri, dan berani menanggung konsekuensi sumpahnya untuk membuktikan kebenaran yang ia percayai. Dengan demikian sumpah bukanlah perkataan yang diobral dan dilontarkan sembarangan. Sumpah cenderung diikrarkan dalam kondisi darurat dan terpaksa. Maka kita kenal ada sumpah jabatan, sumpah dokter, sumpah saksi dalam pengadilan, sumpah palapa, sumpah setia, bahkan sampai sumpah pocong. Bukan saja agar seseorang bisa dipercayai dan dipegang kebenaran pernyataannya melainkan agar mereka didorong untuk berani bergerak sesuai tekad yang disepakati.

Ada perkara apa memangnya yang membuat kaum pemuda-mahasiswa mengikrarkan Sumpah Pemuda 84 tahun silam? Banyak. Teramat banyak. Ada kolonialisme kulit putih yang berkuasa ribuan kilometer jauhnya dari eropa dan dengan pongahnya memeras kekayaan pribumi, ada penguasa feodal baik raja-raja, bangsawan, dan tuan tanah, yang memilih menghamba daripada kehilangan harta dan nyawa dalam perjuangan, ada kepercayaan yang luntur terhadap perlawanan berbalut mistisme, takhayul, dan gelar ratu adil, ada pikiran-pikiran tercerahkan bahwa modernitas membawa teori-teori organisasi dan perjuangan yang bisa digunakan dalam pergerakan, dan yang paling penting:adanya cita-cita. Cita-cita untuk menggapai kemerdekaan lepas dari belenggu kolonialisme. Lepas bukan untuk kembali dalam tempurung kerajaan-kerajaan daerah namun untuk merdeka dengan bersatu bersama mereka yang selama ini sama-sama ditindas dan diperas.

Sumpah Pemuda bukanlah sumpah yang ditulis dengan bahasa revolusioner atau agitasi menggebu-gebu. Tidak seperti deklarasi kemerdekaan milik kaum pemberontak Amerika, tidak seperti deklarasi hak asasi manusia buah perjuangan revolusioner Prancis, juga tidak seperti manifesto komunis. Sumpah Pemuda ditulis dalam bahasa yang sederhana:Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah satu, tanah air Indonesia. Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia. Kami putra dan putri Indonesia menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Bila kita cermati, maka di dalamnya hanya tercantum kebenaran sederhana tentang pengakuan dan penghormatan. Namun seperti kata George Orwell, “In a time of universal deceit – telling the truth is a revolutionary act.” Pernyataan tersebut kurang lebih bisa diterjemahkan menjadi: ”Di dalam masa tirani, menyampaikan kebenaran adalah sebuah tindakan revolusioner.” Hal inilah yang terjadi dan dialami pula oleh pemuda di masa itu. Mereka mengaku bertumpah darah satu, tanah air Indonesia. Bukan tanah air Hindia Belanda jajahan Belanda atau negara kolonialis manapun. Melainkan Indonesia yang merdeka dan diperintah sendiri oleh rakyatnya. Bukan pula kembali terpecah-pecah dalam kerajaan dan kesultanan dalam balutan provinsialisme dan feodalisme. Mereka mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia. Tidak peduli latar belakang ras, suku, agama, maupun pandangan politik masing-masing. Entah itu suku jawa, batak, ambon, entah itu beragama Islam, Katolik, Kristen, Hindu, Budha, entah itu berpaham nasionalis, konservatif, liberal, islamis, agamis, sosialis, maupun komunis, mereka semua mengaku berbangsa satu:bangsa Indonesia. Bangsa yang identitasnya diteguhkan bukan melalui ikatan ras seperti nasionalisme Otto Van Bismarc. Bukan pula bangsa yang identitasnya diteguhkan melalui identitas keagaman seperti Iran. Namun bangsa yang memiliki identitas bersama karena kesamaan nasib, sama-sama dijajah, diperas, dieksploitasi kolonialisme, dan oleh karena itu sama-sama berjuang untuk menggapai cita-cita bersama:kemerdekaan. Karena kemerdekaan itulah prasyarat untuk mencapai kesejahteraan dan keadilan sosial.

Pertanyaannya sekarang, sudahkan kita mencapai kemerdekaan? Sudahkah kita mencapai kesejahteraan dan keadilan sosial? Belum. Kita masih dijajah imperialisme. Kita masih diperas baik oleh kapitalisme maupun kapitalisme birokrasi. Kita masih dicengkram monopoli dan perampasan tanah, oleh tuantanah-tuan tanah tradisional maupun kapitalis-kapitalis agraria. Tengoklah kekayaan alam yang dulu hendak disimpan terlebih dahulu sebelum putra putri bangsa menguasai ilmu, teknik, dan bisa mengolahnya sendiri, ternyata sejak Orde Baru berkuasa malah digadaikan ke perusahaan-perusahaan Imperialisme asing.

Ini terjadi ketika pada tahun 1966, Soeharto yang sudah menggenggam kekuasaan Indonesia mengundang masuk IMF dan Bank Dunia. Bahkan rezim Soeharto dengan pesanan pihak Imperialis mengadakan konferensi bisnis untuk mengambilalih kekayaan di Indonesia. Konferensi ini diikuti kapitalis raksasa seperti david Rockefeller dan beberapa perusahaan imperialis lain seperti General Motors, Britis Lyeland, ICI, British American Tobacco, Lehman Brothers, American Express, dan lain-lain. Hal yang lebih memalukan adalah dalam konferensi itu di satu sisi meja duduk para utusan Soeharto mendengar patuh dan disisi lain utusan Imperialis yang mendiktekan apa saja yang harus dilakukan pemerintah Indonesia. Jeffrey Winters dari Universitas Northwestern dalam The New Rulers of The World, sebuah film dokumenter karya John Pillger menyatakan bahwa ini adalah pertama kalinya muncul kejadian dimana para kapitalis global seluruh dunia bertemu sebuah negara dan menentukan syarat masuk ke sebuah negara.”Konferensi itu berlangsung tiga hari. Hari pertama perwakilan Indonesia memaparkan uraiannya. Hari kedua, mereka membaginya menjadi lima:pertemuan sektoral, pertambangan, jasa makanan, industri ringan, perbankan dan keuangan…kemudian mereka menyusun kebijakan yang menguntungkan investor sedunia itu untuk masuk ke setiap sektor…Mereka berkata kepada para pemimpin Indonesia, ‘inilah yang perlu kami lakukan, ini, ini, ini…” kemudian mereka menyusun infrastruktur hukum untuk kepentingan investasi mereka di Indonesia.”

Inilah jawaban dari pertanyaan mengapa kekayaan alam kita dikuasai pihak asing dan segelintir orang di Indonesia, alih-alih untuk menyejahterakan rakyat malah digunakan untuk meraup keuntungan pribadi. Inilah yang kita sebut penindasan Imperialisme, penjajahan secara tidak langsung, bekerjasama dengan kapitalisme-birokrat, yaitu birokrasi di pemerintah yang menggunakan kekuasaan dan kedudukannya untuk memperkaya diri dengan menindas rakyat, termasuk di dalamnya adalah mereka yang jual beli pasal-pasal hukum negara dan melakukan korupsi untuk menambah pundi-pundi kekayaan. Inilah mengapa selama ini koruptor bebas merampok negara, inilah sebabnya buruh diperlakukan semena-mena, inilah alasannya para petani ditembaki ketika memperjuangkan tanahnya sendiri. Bahkan ini juga yang menjadi akar penindasan terhadap rakyat pribumi di Papua selama puluhan tahun lamanya.

Tentu saja penindasan ini juga bukanlah hal yang terjadi jauh dari kehidupan pemuda. Meskipun tak tampak, penindasan ini juga terjadi di bidang pendidikan. Penindasan Imperialisme di bidang pendidikan ini salah satunya bermula dengan dipaksanya Indonesia untuk menandatangani The Washington Consensus atau Konsensus Washington (1989-1990) yang salah satu dari 10 butir rumusannya berbunyi “Mengarahkan kembali pengeluaran masyarakat untuk bidang pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur” (sehingga beban tanggungjawab pemerintah berkurang). Padahal pendidikan seharusnya merupakan bidang sosial yang mana merupakan tanggungjawab negara untuk mencerdaskan bangsa (dan diatur dalam undang-undang). Maka dikurangilah bahkan kalau perlu dicabutlah berbagai subsidi serta diprivatisasilah berbagai lembaga pendidikan kita. Pemuda-mahasiswa di hari ini adalah mangsa bagi komersialisasi pendidikan.

Inilah jawaban mengapa biaya pendidikan makin lama makin mahal, inilah jawaban mengapa Indonesia masuk peringkat buta huruf terbanyak nomer sembilan di dunia, inilah jawaban mengapa kian lama prosentase putus sekolah dan putus kuliah makin tinggi di negeri kita. Karena komersialisasi pendidikan tak akan pernah mewujudkan sistem pendidikan nasional yang ilmiah, demokratis, dan mengabdi pada rakyat.

Hal ini terjadi 67 tahun sejak kemerdekaan Indonesia diproklamasikan dan 84 tahun sejak Sumpah Pemuda diikrarkan. Kenyataan pahit yang terjadi adalah kita masih belum merdeka, kita masih dijajah, dan ditindas. Karena itulah, semangat Sumpah Pemuda sebenarnya masih sangat relevan. Semangat untuk mewujudkan satu tanah air yang berdaulat. Bebas dari penghisapan imperialisme. Semangat untuk mewujudkan satu bangsa yang utuh, bangsa Indonesia, dengan keadilan sosial untuk semua suku, tidak hanya suku Jawa, namun juga Ambon, Batak, Madura, dan suku-suku lainnya, dengan kesejahteraan untuk semua daerah, tidak hanya di Jakarta dan di Jawa, namun juga di Sumatera, di Kalimantan, di Madura, dan semua daerah di Indonesia. Tanpa diskriminasi. Tanpa monopoli.

Namun semangat pembebasan dalam Sumpah Pemuda saya tidak cukup. Karena kita juga menyadari bahwa meski dalam satu bangsa terdapat dua kaum yang bertolak belakang. Dalam satu bangsa terdapat dua kaum yang saling bertentangan. Dalam satu bangsa terdapat kaum penindas dan kaum tertindas. Di satu sisi kita menemui adanya Kelas Kapitalis, para pemodal yang memonopoli alat produksi, tidak pernah terlibat dalam kerja produksi, namun mereka meraup keuntungan dan kekayaan yang sebesar-besarnya dari penghisapannya terhadap Kelas Buruh. Kelas Buruh, di sisi lainnya, merupakan kaum yang sepenuhnya mengerjakan kerja produksi namun tidak menguasai alat produksi sama sekali dan menikmati hasil produksi paling sedikit. Kemudian kita juga menemui kaum Kapitalis Birokrat (Kabir), golongan yang menumpuk kekayaan dengan hak-hak istimewa dan penyalahgunaannya dalam menduduki jabatan-jabatan birokrasi pemerintahan. Golongan inilah yang biasanya kita sebut sebagai politisi, sebagai kaum yang melakukan kampanye pemilu besar-besaran dengan berhutang kepada kapitalis industrial dan atau kapitalis finansial. Maka begitu mereka memenangkan jabatan, mereka harus mengembalikan hutang tersebut kepada Kelas Kapitalis. Ini menegaskan watak mereka yang selalu menuntut gaji setinggi-tingginya meskipun kinerja mereka begitu rendah. Ini menegaskan watak mereka yang selalu menuntut fasilitas dan bonus tambahan meskipun mereka tidak becus mengelola pemerintahan. Bahkan apabila dari sekian gaji dan fasilitas yang demikian besar itu masih belum cukup untuk membayar hutangnya kepada Kelas Kapitalis, maka Kabir ini harus membayar dengan cara membuat dan mengesahkan peraturan-peraturan yang berpihak pada Kelas Kapitalis. Demikianlah maka kita saksikan banyak institusi pemerintahan yang lebih berpihak pada pengusaha mall yang menggusur pasar tradisional dan pedagang kaki lima. Demikianlah kita saksikan banyak politisi yang lebih berpihak pada Kapitalis yang melanggar hak Kelas Buruh. Demikianlah kita saksikan kekayaan alam kita dikeruk habis melalui perjanjian asing yang ditandatangani kaum borjuasi lokal dengan Kaum Imperialis dan hanya menyisakan limbah serta kerusakan alam untuk kaum pribumi jelata sekitarnya.

Inilah contoh dan bukti bahwa Sumpah Pemuda saja, dengan demikian, tidak cukup untuk melawan penindasan. Karena kita mengetahui sendiri meskipun kita satu bangsa, namun kita masih dibedakan lagi, apakah kita termasuk Kaum Penindas atau Kaum Tertindas. Bagaimana mungkin Buruh dari suku Jawa yang setiap harinya diperas keringatnya, membanting tulang di pabrik, namun menderita di bawah sistem kerja kontrak dan outsourcing mempunyai kesamaan nasib dengan Kapitalis dari suku Jawa, yang meskipun sama-sama berkulit coklat namun hidupnya bergelimang harta tanpa perlu bekerja produksi dan memeras keringat? Contoh lain yang bisa kita pakai dari dua kaum yang saling bertentangan adalah Kaum Tani dengan Kaum Tuan Tanah. Keduanya tentu sama-sama memiliki tanah air yang satu, tanah air Indonesia, namun bagaimana Kaum Tani hidup dan mengolah tanah air jelas sangat berbeda dengan Kaum Tuan Tanah. Di satu sisi, Kaum Tani, khususnya Tani Miskin, mengalami penderitaan akibat monopoli tanah yang dilakukan oleh Kaum Tuan Tanah. Seringkali tanah yang mereka miliki sangatlah kecil untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup keluarganya sehingga mereka terpaksa bekerja pula sebagai buruh tani dengan imbalan bagi hasil sangat kecil dari Kaum Tuan Tanah yang menguasai beribu-ribu hektar.

Karena Sumpah Pemuda saja tidak cukup untuk membongkar dan melawan penindasan yang diderita Kelas Buruh, Kaum Tani, Pemuda Mahasiswa, dan Rakyat Miskin, atau Rakyat Pekerja secara keseluruhan, oleh karena itu kita memerlukan Perjuangan Kelas. Perjuangan dari Kelas Tertindas melawan Kelas Penindas untuk menghapuskan penindasan. Baik di lapangan ekonomi, politik, sosial, maupun kebudayaan. Perjuangan Kelas untuk menghapuskan dominasi Imperialisme, menggulingkan Kapitalisme, dan menghapus semua unsur Feodalisme yang masih bercokol di Indonesia.

Terkait perjuangan kelas demikian, jelas Kelas Buruh lah yang memainkan peran kepemimpinan. Karena Kelas Buruh, lah,satu-satunya Kelas yang paling berkepentingan untuk menghapuskan Kapitalisme, merebut alat produksi dari monopoli borjuasi dan menjadikannya sebagai milik bersama, mengelolanya melalui kontrol buruh dengan demokrasi pekerja. Kelas Buruh juga yang memiliki kekuatan utama untuk mengguncangkan sistem kapitalisme. Hal ini sudah terbukti dalam mogok nasional 3 Oktober lalu yang mana dalam tempo satu hari saja, Kelas Buruh Indonesia bisa membuat Kelas Kapitalis merugi puluhan trilyun rupiah. Suatu hal dan suatu kekuatan yang tidak dimiliki oleh sektor kelas atau kaum lainnya, baik Kaum Tani, Pemuda Mahasiswa, maupun Kaum Miskin Kota.

Tahun 2012 ini merupakan momentum gelombang pasang perjuangan kelas di Indonesia. Rakyat Indonesia telah menyaksikan dari bulan ke bulan, dari momen ke momen, Kelas Buruh di Indonesia semakin memainkan peran kepemimpinan dalam perjuangan kelas. Perjuangan buruh Freeport dan pemogokannya meskipun menderita represi oleh aparatus negara telah menginspirasi perjuangan buruh di daerah-daerah lainnya dan memicu solidaritas dimana-mana,. Kemudian, perjuangan buruh Bekasi melawan gugatan hukum APINDO yang bermaksud menggagalkan kenaikan upah menemui kemenangannya berkat taktik pemogokan massa dan blokade yang mereka jalankan. Berikutnya, pada Maret 2012 kita menyaksikan kesuksesan kampanye penolakan kenaikan harga BBM dimana Kelas Buruh juga memainkan peran signifikan serta bergandengan tangan saling bahu membahu dengan para aktivis berbagai organisasi mahasiswa. Selanjutnya, pada Mayday, Hari Buruh 2012, kita menyaksikan jutaan buruh turun ke jalan, dan membuat pencapaian historis dimana pada hari itu Mayday di Indonesia adalah Mayday terbesar di Asia. Belum lagi kita menyaksikan gegap gempitanya mogok kerja nasional pada 3 Oktober lalu yang merupakan mogok nasional pertama di Indonesia dalam lebih dari 50 tahun terakhir. Semua ini menunjukkan bahwa Kelas Buruh semakin memainkan peran kepemimpinan dalam perjuangan kelas yang juga memimpin dan memperjuangkan kelas tertindas lainnya.

Demikianlah pembebasan rakyat hanya bisa dilakukan melalui perjuangan kelas. Bukan perjuangan nasional yang membuat kelas tertindas disubstitusikan ke dalam kepentingan kelas penindas pribumi. Penindasan harus dihapuskan sepenuhnya. Penindas harus dipreteli semua kekuasaannya. Tak peduli apakah dia penindas berkulit putih atau berkulit coklat. Tak peduli apakah dia penindas dari luar negeri ataupun dari kampung sendiri. Karena Rakyat Pekerja sudah muak diobrak-abrik dan dijarah Imperialisme dan Kapitalisme yang bekerjasama dengan antek-anteknya kapitalis-birokrat dan kalangan feodal. Rakyat Pekerja di Indonesia sudah muak dihasut oleh pergerakan tidak ilmiah dan bersentimen SARA yang menganggap permasalahan rakyat berakar dari masalah moral, kesalehan, dan agama. Sehingga tak ada yang lebih baik untuk dilakukan dalam momentum Sumpah Pemuda, selain mengombinasikan semangat anti penindasan yang dikandung di dalamnya dengan kesadaran, praktek-praktek, dan teori-teori revolusioner Perjuangan Kelas. sehingga kita bisa membongkar akar penindasan rakyat hari ini dan bersama-sama berjuang untuk menghapuskannya sepenuhnya dan selama-lamanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: