Les Miserables

Les Miserables

Do you hear the people sing? Singing a song of angrymen? It’s the music of the people who will not be slaves again…” (Dengar rakyat bernyanyi, nyanyian orang yang marah. Nyanyian rakyat yang tak akan diperbudak lagi…)

Les-miserables

Alur Film

Les Miserables (dalam bahasa Indonesia berarti “Yang Sengsara” atau “Kaum Miskin”) adalah film musikal karya Sutradara Tom Hooper, adaptasi terbaru dari novel karya Victor Hugo, tentang perjalanan hidup Jean Valjean, seorang laki-laki yang hidup pada abad 19, di masa dimana setelah sekian panjang revolusi melawan tirani monarki dan feodalisme, raja Perancis yang baru, Louis-Philippe, kembali bertahta di atas puing-puing republik.

Film dibuka dengan adegan para narapidana tengah melakukan kerja paksa menarik kapal layar di bawah tatapan para polisi dan sipir penjara yang mengawasi dengan sinis. Salah satu di antara narapidana tersebut adalah Jean Valjean (diperankan oleh Hugh Jackman), pria yang dihukum 19 tahun dipenjara. Lima tahun karena mencuri roti untuk keponakannya yang kelaparan, dan tambahan 14 tahun karena berusaha melarikan diri. Dalam suatu kerja paksa Jean Valjian bahkan diberi kerja tambahan yang lebih berat, yaitu kerja untuk menggotong tiang kapal seorang diri. Javert (diperankan oleh Russel Crowe), seorang sipir petugas disana, memerintahkan kerja itu hanya karena ia menganggap Javert seorang napi bandel yang harus dihukum ekstra. Setelah sekian percobaan melarikan diri yang gagal, akhirnya Jean Valjean dibebaskan pada tahun 1815 secara bersyarat dan dengan kewajiban lapor setiap saat. Pandangan Javert terhadap Jean Valjean tetap sama, ia menganggapnya sebagai seorang pelanggar hukum, kriminal, dan penjahat kambuhan. Ketika menyaksikan Jean Valjean keluar penjara ia mencibir bahwa Jean Valjean tidak akan mungkin berubah hidup jujur karena sekali penjahat maka selamanya ia penjahat.

Meski Jean Valjean dibebaskan dan tak lagi dipenjara, cap bekas narapidana membuatnya kesulitan menemukan pekerjaan. Kesulitan pekerjaan berarti kesulitan mendapatkan makanan. Kesulitan mendapatkan makanan berarti kesulitan untuk bertahan hidup. Jean Valjean yang menggelandang dan tidur di jalanan kemudian ditemukan oleh Myriel, seorang pendeta Katolik, dan kemudian memberikan Jean Valjean makanan serta tempat untuk tidur di gerejanya. Terhimpit karena tidak punya uang dan tergoda oleh perkakas gereja yang terbaut dari perak, Jean Valjean kemudian bangun dari tidurnya dan mencuri barang-barang yang ia sanggup bawa. Sayangnya ia kemudian tertangkap dan dipukuli aparat ketika berusaha melarikan diri. Pendeta Myriel yang melihat semua itu kemudian membuat pengakuan palsu bahwa sebenarnya Jean Valjean memang ditugasi untuk mengangkut barang-barang tersebut. Setelah aparat pergi, Pendeta Myriel kemudian mengatakan bahwa semua barang tersebut ia berikan ke Jean Valjean dengan syarat Jean Valjean harus menggunakannya untuk usaha yang halal. Tersentuh oleh kebaikan sang pendeta, Jean Valjean kemudian memutuskan menolak wajib lapor dan kemudian menggunakan nama palsu serta bersumpah akan hidup jujur. Sedangkan di sisi sebaliknya, Javert, seorang aparat polisi yang mengetahui Jean Valjean mangkir lapor kemudian bersumpah akan kembali menangkapnya.

Delapan tahun berlalu, Jean Valjean kemudian sukses berbisnis. Ia memiliki pabrik tekstil dan terpilih menjadi kepala Kota Madya di Montreuil-sur-Mer dengan nama samaran Monsieur Leblanc. Dalam suatu insiden, salah satu buruh perempuan yang bekerja di pabrik Jean Valjean, yaitu Fantine, tertangkap basah mengirim uang kepada Cosette, putri diluar nikah yang ia titipkan di sebuah losmen. Karena dianggap aib, mandor Jean Valjean memecat Fantine dengan sedikit sekali uang pesangon. Terhimpit karena tidak punya banyak uang sementara ada anak yang harus diberi makan, Fantine terpaksa melakukan apapun untuk bisa bertahan. Mulai dari menjual rambutnya kepada pembuat wig, mencabut giginya untuk dijual ke pembuat gigi palsu, hingga akhirnya berpaling kepada pelacuran.

Suatu ketika Jean Valjean menemukan Fantine yang hampir ditangkap aparat dengan tuduhan menyerang seorang bangsawan yang mengaku tidak sengaja lewat di pelacuran. Kenyataannya, Fantine cuma melawan balik ketika sang bangsawan bejat melecehkannya dan memaksanya berhubungan seksual padahal ia tengah sakit. Merasa bersalah karena membiarkan bekas buruhnya hidup dalam kehinaan dan kemelaratan, Jean Valjean menjamin Fantine agar tidak ditangkap dan membawanya ke rumah sakit. Kemudian Valjean diberi kabar bahwa seseorang ditangkap karena disangka sebagai Jean Valjean yang mangkir lapor dan selama ini melarikan diri. Terkoyak hati nuraninya, ia kemudian datang ke pengadilan dan mengaku sebagai Jean Valjean yang sesungguhnya. Namun Jean Valjean kembali melarikan diri, ia menolak ditangkap karena masih punya kewajiban pada bekas buruhnya dahulu, Fantine. Setibanya di rumah sakit, Jean Valjean baru mengetahui kalau Fantine mengidap penyakit Kolera dan tengah sekarat. Sebelum Fantine menghembuskan nafas terakhirnya, Jean Valjean kemudian menjanjikan Fantine bahwa ia akan merawat Cosette seperti putrinya sendiri.

Fantine dan Jean Valjean

Cosette (diperankan oleh Isabelle Allen), di sisi lain, tanpa sepengetahuan Fantine, meskipun masih anak kecil ternyata selama ini diperlakukan seperti babu oleh pasangan suami-istri Thernadiers (diperankan oleh Sacha Baron Cohen dan Helena Bonham Carter). Siang malam ia disuruh membersihkan rumah, menyapu, mengepel lantai, bahkan menimba air dari sumur, sementara Eponine, putri kandung Thernadiers disayang dan dimanjakan sekali. Terhenyak mengetahui hal ini, Jean Valjean, membayar berapapun yang diminta Thernadiers untuk melepaskan Cosette. Semenjak itu Jean Valjean menjanjikan Cosette bahwa meskipun ibunya telah meninggal, ia tak akan membiarkan Cosette menderita lagi.

Cosette-JeanValjean

Sembilan tahun kemudian berlalu dan Perancis semakin subur akan kemiskinan dan kemelaratan. Gelandangan semakin banyak, makanan semakin susah didapatkan, gagal panen terjadi dimana-mana, bahkan wabah kolera makin meluas hingga memakan 18.402 korban meninggal hanya untuk kota Paris saja. Salah satu diantara orang yang meninggal adalah Jenderal Jean Maximillien Lafarque, sosok yang dianggap merakyat karena simpati serta pembelaannya selama ini terhadap kaum miskin dan kelas pekerja. Melihat momentum itu, Marius Pontmercy (diperankan oleh Eddie Redmayne) dan Enjolras (diperankan oleh Aaron Tveit), dua orang mahasiswa hukum Perancis, mengorganisir kelompok rahasia dan memobilisasi perlawanan pada hari pemakaman Lafarque dengan harapan kembali memantik revolusi Perancis demi menggulingkan monarki. Sebagian besar mahasiswa bergabung dengan kelompok mereka ditambah dengan orang-orang dari kalangan Kelas Pekerja, Kaum Miskin Kota, dan para anak jalanan seperti Grovoche (diperankan oleh Daniel Huttlestone) dan Eponine yang telah tumbuh remaja (diperankan oleh Samantha Barks) namun jatuh melarat, turut adalah bagian dari anak-anak jalanan dan Kaum Miskin Kota ini.

Sebelumnya secara tidak sengaja, Marius bertemu dengan Cosette belia (diperankan oleh Amanda Seyfried) dan mereka jatuh cinta pada pandangan pertama. Eponine yang sebenarnya menaruh hati pada Marius, mengantarkannya ke tempat dimana Cosette tinggal. Pasangan suami istri Thernadier yang kemudian mengetahui persembunyian Jean Valjean kemudian berusaha merampok Jean Valjean namun sempat dihalang-halangi Eponine. Sebaliknya, Jean Valjean yang mengira bahwa perampokan itu merupakan usaha penyerbuan aparat pimpinan Javert untuk menangkapnya, buru-buru mengajak Cosette melarikan diri. Cosette tidak sempat bertemu kembali dengan Marius yang tengah berkeliling mengorganisir pemberontakan. Akhirnya ia menyelipkan surat perpisahan di sela-sela pagar rumah dengan harapan akan ditemukan Marius.

Eponine yang menemukan dan membaca surat Cosette kian merasa bahwa cintanya kepada Marius selamanya akan bertepuk sebelah tangan. Patah hati, ia meninggalkan surat itu terselip dan tak tersampaikan. Namun ia kemudian memutuskan bahwa kini lebih baik berdampingan dengan Marius di medan pertempuran. Sementara itu surat Cosette melah ditemukan oleh Jean Valjean. Mengetahui Cosette yang ia anggap dan ia besarkan seperti putri sendiri tengah jatuh hati kepada seorang pemuda yang mempertaruhkan nyawanya dalam pemberontakan, Jean Valjean memutuskan pergi ke seberang barikade berusaha menemui Marius dan melindunginya. Hal ini tidak saja menyeretnya ke dalam pemberontakan melainkan membawanya kembali bertemu dengan Javert yang kini naik pangkat sebagai kepala pasukan. Seluruh nasib karakter dalam Les Miserables ditentukan dalam klimaks film musikal yang berdurasi 158 menit ini.

Les Miserables - Barricades

Kritik

(Awas Bocoran Ending)

Latar belakang sejarah Les Miserables bertempat pada masa dimana monarki masih belum tumbang sepenuhnya, feodalisme masih mengurat akar, meskipun di sisi lain kapitalisme dan kaum borjuasi tengah bangkit dan mendaki tempatnya di tengah masyarakat. Kisah Jean Valjean sendiri adalah kisah kemalangan seorang kaum miskin yang dihajar sekian banyak ketidakadilan sistem penindasan. Statusnya yang jatuh menjadi seorang pencuri bukan ditimbulkan oleh keserakahan melainkan karena himpitan kemiskinan. Ia harus memilih, taat pada hukum dan membiarkan saudari dan keponakannya kelaparan atau mencuri dan dipenjarakan. Jean Valjean memilih pilihan kedua. Pilihan yang ternyata menghantui hidupnya selama-lamanya. Cap bekas napi, stigma bekas penjahat, tidak pernah bisa dilepaskan dari dirinya.
JeanValjean

Hal ini sebenarnya ciri yang sangat melekat pada sistem feodalisme yang mana manusia dibagi ke dalam kasta-kasta dan tak seorang pun bisa memperbaiki kastanya tak peduli sebaik apapun mereka. Dalam film ini, Jean Valjean juga merupakan simbolisasi dan representasi dari borjuasi yang tengah bangkit di tengah masih berkuasanya monarki dan feodalisme yang masih belum hilang sepenuhnya. Dalam novelnya, Jean Valjean diceritakan menemukan sendiri teknik  manufakturisasi dengan lebih maju dan mendirikan dua pabrik serta menjadi mapan akan usahanya sendiri bukan dengan memanfaatkan gelar kebangsawanan serta menunggu upeti. Suatu ciri-ciri yang lekat pada kelas borjuasi baru yang mengontraskan diri secara ekonomi-politik dengan kelas feodal, kalangan bangsawan, dan tuan tanah. Sementara itu stigma feodalisme yang juga menimpa Fantine, perempuan miskin ini dipecat hanya karena punya anak di luar nikah. Suatu hal yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan kinerja dan produktivitasnya di pabrik. Kesengsaraan Fantine, berhasil digambarkan dengan baik sekali oleh kemampuan seni peran Anne Hathaway. Nyanyiannya I Dreamed A Dream (Aku Punya Mimpi dan Cita-cita), benar-benar menyayat hati selain karena liriknya yang menggambarkan bagaimana seorang buruh perempuan yang melarat dan dijepit kemiskinan punya impian dan cita-cita bisa hidup lebih baik namun semua impiannya koyak-moyak oleh pahitnya kenyataan.

Fantine

Javert sendiri, di sisi lain melambangkan sosok dingin aparat sebagai instrumen kekerasan kelas penguasa. Kepercayaannya pada hukum dan kekuasaan raja sebagai perwakilan tuhan di muka bumi merupakan kepercayaan yang tak tergoyahkan. Baginya seorang penjahat tidak lebih daripada seorang pengacau dan pembangkang. Dalam keyakinan Javert, tidak mungkin seorang pembangkang bisa berubah, sama mustahilnya seperti budak yang ingin naik kasta jadi pedagang. Namun Victor Hugo bersikap adil kepada semua karakter dan di atas landasan bahwa tidak ada seorang yang baik sepenuhnya maupun jahat sepenuhnya. Javert sendiri juga sebenarnya lahir dari kalangan melarat dan kepercayaannya yang tak tergoyahkan kepada hukum dan tatanan kekuasaan semata-mata produk dari feodalisme yang masih bercokol saat itu. Ketika kepercayaannya terpatahkan oleh ketulusan dan kemanusiaan Jean Valjean, seluruh pondasi hidupnya berantakan.

les-miserables-movie-javert

Untuk mengerti guncangan demikian kita harus mengingat rangkaian adegan di barikade. Pada suatu momentum Javert ditangkap pasukan pemberontak karena samarannya sebagai mata-mata aparat terbongkar. Jean Valjean yang dipercaya karena ikut membela pemberontak mempertahankan diri dan menyelamatkan Enjolras dari tembakan sniper, dipercaya untuk mengeksekusi Javert. Dengan segala kerendahan hati dan rasa iba, ia malah secara diam-diam melepaskan Javert, tanpa menuntut imbalan apapun. Secara politik, tindakan ini merupakan kesalahan fatal yang membahayakan pemberontakan. Karena seorang mata-mata yang dilepaskan akan memberitahukan semua kekuatan dan kelemahan pasukan, berapa jumlah pemberontak, berapa banyak amunisinya, dimana posisinya, dan lain sebagainya. Namun secara mental, tentu dimaksudkan oleh Victor Hugo dan juga diamini Tom Hooper, rasa iba dan kemanusiaan macam ini meruntuhkan kepercayaan Javert yang sebelumnya tak terpatahkan. Bukan dalam sekali pukul. Pukulan pertama adalah ketika Jean Valjean berusaha melarikan diri untuk mengambil Cosette setelah ia mengaku ke pengadilan bahwa ialah Jean Valjean yang sesungguhnya. Pukulan kedua adalah ketika Jean Valjean menyelamatkan nyawa Javiert. Akhirnya pukulan ketiga, menghantam keyakinan Javiert, ketika Jean Valjean berkata kepada Javert yang berusaha menangkapnya di gorong-gorong, “Biarkan aku menyalamatkan pemuda ini (Marius) dulu. Setelah itu kau boleh menangkapku.” Demikianlah runtuhlah semua kepercayaan Javert yang keras seperti batu granit. Hampir dalam setiap kesempatan ia mencurigai maupun menangkap Jean Valjean, Jean Valjean tengah berusaha menolong orang. Baik itu menolong saudari dan keponakannya yang kelaparan, menolong seseorang yang terjepit kereta kuda, menolong Fantine yang dituduh menyerang bangsawan, menolong Cosette yang ditelantarkan, hingga menolong Marius yang terluka dan pingsan kena tembakan. Tidak bisa menerima kenyataan bahwa sepanjang hidupnya ia memberi pengabdian tak terbantahkan kepada hukum namun di sisi lain hukum juga bersikap tidak adil terhadap Jean Valjean yang sebenarnya penuh kebaikan dan kemanusiaan, Javert memutuskan menghukum dirinya sendiri, dengan bunuh diri, terjun ke sungai Seine. Adegan ini termasuk salah satu adegan yang mengerikan tidak hanya karena penonton disuguhi adegan badan Javert terjun dari ketinggian namun juga karena memperdengarkan suara remuknya tulang-tulang Javert yang menghantam dasar sungai.

Namun kematian Javert bukanlah satu-satunya kematian yang mengerikan di Les Miserables. Gavroche, sang anak jalanan yang turut membantu pemberontakan, harus menghadap kematian karena nyawanya berakhir oleh tembakan tentara lawan. Gavroche bersikeras memunguti peluru dari pemberontak yang mati demi amunisi kawan-kawan pemberontaknya yang masih bertahan sambil menyanyikan Do You Hear The People Sing (Dengar Rakyat Bernyanyi) untuk membakar perlawanan. Kematian seorang anak kecil karena ditembak adalah suatu tragedi. Bahkan film ini diputar di tengah kasus-kasus penembakan massal di sekolah-sekolah Amerika Serikat (AS), namun ada beda tegas di film ini, yaitu Gavroche tidak digambarkan sebagai korban yang tak berdaya namun sebagai pelaku pemberontakan yang penuh kesadaran dan semangat perlawanan.

Gravolche

Bila ada kematian-kematian yang tragis dan patut jadi ratapan maka sebaliknya ada kematian yang meskipun tragis namun terasa begitu herois. Kematian macam ini menimpa karakter Enjolras, pemimpin pemberontak mahasiswa, yang penuh dengan dedikasi dan satu-satunya karakter dengan kebulatan tekad politik di saat karakter lain, seperti Marius maupun Eponine, diserang kegalauan cinta. Enjolras adalah sosok pimpinan, terlepas dari kelemahan strateginya dan kurangnya persiapan sehingga menyebabkan perlawanan tidak lebih besar dari aksi putsch dan gagal memenangkan dukungan massa-rakyat luas, dengan gagah berani bertahan, tidak memutuskan untuk melarikan diri ataupun mengemis ampunan. Sambil ditatapnya maut, ia mengenggam dan mengangkat tinggi-tinggi bendera merah, lambang perlawanan, sampai akhirnya nyawanya direnggut kematian.

Enjolras

Sayangnya, di sisi lain, hampir seluruh kematian yang merenggut perempuan dalam Les Miserables, adalah kematian yang mengakhiri penderitaan. Kematian Fantine adalah kematian seorang perempuan yang penuh ketidakberdayaan. Sedangkan kematian Eponine adalah kematian seorang perempuan demi menyelamatkan nyawa seorang pemuda yang mana cintanya kepadanya bertepuk sebelah tangan. Nyaris tidak ada peran perempuan yang benar-benar terlibat secara sadar dalam revolusi dan pemberontakan padahal dalam kenyataannya banyak perempuan yang memainkan peran sadar dan signifikan dalam berbagai babakan Revolusi Perancis, termasuk Revolusi 1848.

les-mis-eponin-marius

Les Miserables secara umum adalah kisah tentang kaum melarat atau kaum miskin yang dihadapkan pada kebengisan hukum dan kekuasaan, dan secara khusus menyoroti Pemberontakan Juli yang gagal total dan tidak berhasil sedikitpun menggulingkan kekuasaan kerajaan. Les Miserables adalah kisah tragedi. Marius yang merupakan satu-satunya pemberontak mahasiswa yang selamat, kehilangan semua radikalitasnya, memutuskan kembali ke pangkuan keluarga kayanya dan menikahi Cosette demi hidup berbahagia. Sementara Jean Valjean yang hidup dalam kesepian, mati dalam usia tua dalam persembunyiannya di gereja.

Sebagai adegan penutupnya, Tom Hooper menggambarkan roh Fantine menjemput Jean Valjean, dan Jean Valjean dibawa ke suatu tempat dimana barikade berdiri tinggi sekali, dan roh-roh pemberontak lainnya berdiri disana sambil mengibarkan bendera Perancis dan bendera merah, menyanyi “…do you hear the people sing, singing a song of angry men. It’s the music of the people who will not be slaves again. When the beating of your heart echoes the beating of the drums, there is life about to start when tomorrow comes…” (…dengar rakyat bernyanyi, nyanyian orang yang marah, nyanyian rakyat yang tidak mau diperbudak lagi. Bila hatimu berdetak menggema dentum genderang, ada hidup yang akan dimulai saat hari esok tiba…)

LesMiserablesFinal

Les Miserables dimulai dan disertai pencantuman tahun-tahun untuk menunjukkan latar belakang peristiwa dan relevansinya dengan plot cerita. Namun tak ada pencantuman tahun sama sekali di adegan penutup, sehingga penonton dibiarkan tanpa penjelasan. Apa makna adegan tersebut? Mengapa berbeda dengan momen pemberontakan dimana lebih banyak bendera merah dan sedikit bendera Perancis, kini lebih banyak bendera Perancis dikibarkan dan hanya satu bendera merah? Apakah adegan tersebut adalah representasi keinginan rakyat dan roh-roh yang telah mati? Ataukah adegan tersebut menggambarkan bahwa di kemudian hari, rakyat kembali bangkit dengan jumlah lebih banyak, kekuatan lebih besar, berhasil menggulingkan monarki (karena revolusi ini pada kelanjutannya memang benar terjadi), dan kehadiran para tokoh yang mati adalah perlambang jiwa-jiwa yang terlibat pemberontakan tetap bersama rakyat yang melawan? Kita tidak tahu pasti dan memang ada kemungkinan Tom Hooper membebaskan interprestasi. Satu hal yang pasti, selama sistem penindasan masih berkuasa, selama rakyat masih ditindas, diperas, dan dimiskinkan, selama ketidakadilan masih berdiri tak tergoyahkan, maka selama itulah, karya macam Les Miserables ini tetap akan relevan.

Do you hear the people sing?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: