Meninggalnya Iqbal Masih, Si Kecil Penentang Sistem Buruh Anak

Hari Ini dalam Sejarah Rakyat Dunia-Iqbal Masih-

Iqbal Masih 07

Iqbal Masih, mantan buruh anak dari Pakistan yang berkampanye menentang penerapan buruh anak, meninggal hari ini pada 18 tahun lalu, tepatnya 16 April 1983. Iqbal lahir pada tahun 1983 di Arshad[1], suatu desa terpencil di luar Lahore, Pakistan. Dia dijual sebagai budak sejak kanak-kanak oleh keluarganya sendiri agar orang tuanya bisa berhutang membelikan mas kawin kakaknya sebesar 600 rupee (Rp 120.000,-) dari juragan pemintalan karpet setempat. Sebagai gantinya Iqbal harus bekerja memintal karpet sampai hutang keluarganya lunas. Setiap hari dia bangun sebelum fajar menyingsing dan berjalan kaki dalam gelap menuju pabrik dimana dia dan buruh anak-buruh anak lainnya dirantai di kaki agar mau bekerja dan tidak kabur. Mereka bekerja selama 14 jam sehari, setiap hari dalam seminggu tanpa hari libur, dan dalam sehari hanya ada waktu setengah jam untuk istirahat. Ketika Iqbal mencapai usia sepuluh tahun, ia memberanikan diri kabur dari perbudakannya namun polisi malah menangkapnya dan mengembalikannya pada juragan yang memperbudaknya. Kali kedua, Iqbal melarikan diri, ia menggabungkan diri dengan Front Pembebasan Buruh Budak di Pakistan.

Ia pertama kali mengetahui keberadaan Front Pembebasan Buruh Budak, saat organisasi ini mengadakan rapat akbar, dimana saat itu ia menyadari hak-haknya. Bersama organisasi ini ia berkampanye untuk menghentikan dan menghapus buruh anak di seluruh dunia. Sepanjang hidupnya Iqbal dan kawan-kawannya berhasil membebaskan dan membantu lebih dari 3.000 anak Pakistan yang diperbudak melalui sistem buruh anak dan kerja paksa. Pidato-pidatonya menentang perbudakan, sistem buruh anak, dan kerja paksa, disampaikan di berbagai belahan dunia. Iqbal kecil dikenal sebagai orator yang tangguh, jelas, percaya diri, dan tidak kenal kompromi dalam melancarkan kritiknya terhadap sistem pembudakan anak, buruh anak, dan kerja paksa. Pidato dan wawancaranya semuanya dilakukan dengan fasih padahal tanpa membaca teks sekalipun. Gerakannya berhasil menghimpun dukungan dari berbagai negara. Dana yang berhasil dikumpulkan bahkan berhasil diorganisir untuk membangun sekolah bagi anak-anak yang dibebaskan dari sistem buruh anak dan kerja paksa.

Sayangnya hidup Iqbal tak panjang, pada 15 April, 1995 dia diterjang peluru ketika ia baru kembali di Pakistan selepas perjalanannya keluar negeri menentang perbudakan dan kerja paksa bagi anak kecil[2]. Tak mampu bertahan, Iqbal kecil meninggal keesokan harinya pada 16 April 1995. Sayangnya hingga kini pelakunya tak pernah ditemukan. Ada yang bilang ia ditembak oleh kaum penindas yang tidak suka dengan perlawanannya menentang buruh anak. Ada yang bilang ia ditembak oleh kaum kolot yang membenci penentang tradisi feodal. Tak ada yang tahu pasti. Namun yang pasti 800 orang menghadiri prosesi pemakaman Iqbal dan perjuangannya menentang perbudakan, sistem buruh anak, dan kerja paksa tidak berhenti. Sebaliknya perjuangan dan kisah hidup Iqbal Masih menginspirasi dan diteruskan oleh aktivis-aktivis kaum pergerakan di seluruh dunia.

165 tahun yang lalu di Paris, di belahan dunia yang berbeda dan jarak terentang begitu jauhnya, Karl Heinrich Marx dan Friedrich Engels menulis sepuluh program revolusioner dalam dokumen Manifest der Kommunistischen Partei Poin sepuluh sekaligus poin terakhir tersebut berbunyi, “Free education for all children in public schools. Abolition of children’s factory labour in it’s present form..[3].” yang dalam bahasa Indonesia bisa diartikan “Pendidikan gratis untuk semua anak di sekolah-sekolah umum serta penghapusan sistem pemburuhan anak-anak di pabrik…” Kini ratusan tahun telah berlalu semenjak Marx dan Engels menyerukan sepuluh program tersebut. Namun hingga kini diperkirakan masih terdapat lebih dari 20 juta buruh yang terjebak dan terhisap sistem kerja paksa di Pakistan. Sebanyak 7,5 juta diantaranya adalah anak-anak. Lebih dari 500.000 anak, seperti Iqbal, masih bekerja di industri pemintalan karpet. Ini masih berkisar di satu negara saja, Pakistan. Kenyataannya di belahan dunia lainnya, khususnya negara-negara dunia ketiga, masih banyak anak-anak yang menderita di bawah sistem penindasan ini. Beginilah kenyataan terjadi. Bohong besar kalau akademisi menara gading dan intelektual apolitis bilang bahwa sistem kapitalisme telah berubah, beradaptasi, dan jauh lebih beradab. Kenyataannya masih banyak rakyat tertindas yang hidup dalam penderitaan yang sama (bahkan sebagian lebih parah) sesuai laporan jurnalistik Engels, Kondisi Kelas Pekerja di Inggris. Kini tugas kita, untuk meneruskan perjuangan Marx, Engels, Iqbal, dan semua kelas pekerja di dunia. Karena tanpa kemenangan kelas pekerja terhadap kapitalisme, karena tanpa kemenangan sosialisme, hanya ada barbarisme.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.


[2] Young Activist’s Death Hits Pakistani Carpet Sales : Trade: Exports to West have diminished even though producers haven’t been linked to death of 12-year-old who fought child labor, http://articles.latimes.com/1995-05-31/business/fi-8016_1_child-labor

[3] Karl Marx dan Friedrich Engels, Manifest der Kommunistischen Partei (1848), dimuat dalam Bab Revolutionary Strategy and Tactics dari buku Marx and Engels Reader,1963, T.B. Boomore, Robert C. Tucker (ed).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: