Di Tanah Penindasan (Sajak Buruh Migran)

Di Tanah Penindasan - Sajak Buruh Migran

Jauh dari apapun
Dari keluarga dan negara
Jauh dari apapun
Termasuk keadilan
Jauh dari apapun
Kecuali dari bahaya
Disini keringat telah mengering dan kulit terbakar
Namun upah belum dibayar
Disini luka telah mengeras
Dan hak kerap dirampas
Disini tanah penindasan
Kita tak akan tinggal diam
Disini tanah penindasan
Kita akan menanam perlawanan
Disini tanah penindasan
Kelak akan tumbuh kemenangan

Comments
26 Responses to “Di Tanah Penindasan (Sajak Buruh Migran)”
  1. jacob ereste mengatakan:

    En Jacob Ereste :
    Buruh dan Organisasi Buruh Harus Berbenah
    Jika Tidak Mau Keok Seperti Partai Buruh

    Tantangan membangun organisasi buruh (serikat buruh maupun serikat pekerja) pasca Orde Baru harus dengan paradigma baru setidaknya sejajar dengan semangat reformasi. Dalam bahasa akademis sering disebut oleh kalangan aktivis buruh semacam menginjeksi semangat pembaharuan. Minimal tidak lagi bisa dilakukan dengan cara dn model lama seperti semasa menghadapi rezim otoritarian sebelumnya.

    Model dan cara rezim pasca Orde Baru pun sudah berubah dan terus merambah atau memperluas wilayah jelajahnya seperti membangun dan mengembangkan gairah pasar bebas, sehingga langsung maupun tidak langsung imbasnya bagi buruh dan organisasi buruh harus dihadapi sebagai bagian dari suatu kendala atau bahkan hambatan.

    Gairah pasar bebas yang sudah mulai menggeliat, konseksuensi-nya mendesak kaum buruh sekaligus organisasi buruh semakin berada dalam posisi semakin tidak berdaya. Mulai dari pasar tenaga kerja yang terbuka dan bersaing ketat, hingga kesempatan kerja yang semakin sesak lantaran nilai barang dan harga maupun tingkat upah yang bertambah susah diraih kaum buruh.

    Dalam konisi buruh yang semakin sulit mengkalkulasi pendapatan upah yang tidak memadai untuk memenuhi kebutuhan hidup yang semakin mahal — seperti kenaikan harga bahan bakar minyak, misalnya — peluang dan kesempatan buruh untuk aktif apalagi hendak mendukung aktivitas organisasi buruh bertambah susah. Itulah sebabnya kalangan aktivis buruh mengalami kesulitan melakukan rekrutmen anggota. Kecuali buruh tidak memiliki dana yang bisa dianggap ektra untuk ber-organisasi, waktunya untuk lebih konsentrasi mencari uang sebanyak mungkin seperti mabuk kepayang.

    Pada sisi lain — sejak reformasi — jumlah organisasi buruh semakin semarak tumbuh, seperti cendawan di musim penghujan. Oleh karena itu, organsiasi buruh harus menemukan kiat baru, atau semacam paradigma termodern bila sungguh berkeinginan melakukan pengorganisasian terhadap buruh Indonesia.

    Mengelola organisasi kaum buruh Indonesia, pertama memang harus memahami kepentingan kaum buruh itu sendiri manakala hendak diajak berorgansiasi. Sebab pertanyaan paling sederhana yang biasa mereka lontaran adalah, apa keuntungan bagi dirinya bila ikut berorganisasi. Begitu juga sebaliknya bagi aktivis atau fungsionaris organisasi buruh. Karena bila sungguh semuanya itu dilakukan dengan penuh harap sosial semata, maka kegagalan akan terus berulang dialami buruh maupun aktivis perburuhan.

    Di masa pertumbuhan birahi kapitalisme sekarang ini, segenap semangat dan gairah maupun haraan diorientasikan pada materialisme. Karenanya, bila buruh maupun aktivis buruh tidak cukup memiliki sarana dan prasarana seperti yang telah menjadi prasyarat kehidupan pada zaman ini, maka ketertinggalan dalam banyak hal tidaklah perlu diratapi. Era komunikasi canggih dalam merebut akses atau semacam pengaruh dalam tataran wilayah maupun sektor, sudah menjadi semacam persyaratan yang tidak bisa ditawar-tawar.

    Kebutuhan buruh dan aktivis buruh maupun organsiasi buruh semakin mendesak harus dibayar, semurah apapun harganya. Artinya, tidak lagi bisa mengandalkan semangat pengorbanan atau pengabdian seperti pada masa Orde-orde sebelumnya. Persaingan yang semakin ketat bagi buruh, aktivis buruh hingga organisasi buruh, merupakan konsekuensi logis dari semangat kehidupan ideologi kapitalisme yang sudah merasuk dan merajalela pada segenap sendi segi kehidupan segenap warga masyarakat.

    Karenanya tidak mengherankan, di sejumlah maskas organsasi buruh sekarang semakin terkesan elite atau lebih tepatnya luks, tidak lagi kumuh seperti pada masa-masa sebelumnya. Soalnya bukan hanya untuk mendongkrak gengsi dan daya tarik bagi buruh yang hendak diraih sebagai anggota, tetapi kaum buruh sendiri bisa menjadi tidak yakin dengan organisasi yang bersangkutan untuk menambah daya tarik tersendiri. Sudah begitu pun sesungguhnya organisasi buruh maupun aktivis buruh harus tetap memberi pelayanan dan programatik yang jelas, terukur dan terencana.

    Tantangan organisasi buruh sejak tumbangnya reformasi 1998, menuntut model dan cara baru. Lantaran selama reformasi bergulir, buruh dan organisasi buruh nyaris tidak melakukan apa-apa dalam konteks mereformasi diri. Maka itu wajar, tatkala reformasi meraih kemenangan, buruh dan organisasi buruh tatp memble, tidak mendapat posisi apa-apa. Kekalahan kaum buruh dan organsiasi buruh ini semakin diyakinkan tatkala buruh dan organisasi buruh genit membuat partai politik.

    Kekalahan partai buruh atau partai pekerja merupakan bukti yang nyata dari ketidaksiapan buruh dan aktivis buruh menikmati reformasi yang gigih diperjuangkannya selama Orde Baru berkuasa. Peralihan rezim berikutnya, buruh dan organisasi buruh semekin nelangsa, persis semacam warga negara kelas dua. Itulah sebabnya aksi dan unjuk rasa kaum buruh hingga kini masih dilihat dengan sebelah mata, baik oleh rezim yang berkuasa maupun elite politik di negeri ini. Akibatnya, pengusaha pun masih tetap menganggap keberadaan buruh dan organisasi buruh soal yang enteng.

    Minimal, kaum buruh — bahkan organisasi buruh sekalipun — masih dapat dibuat linglung dengan tetap mempertahankan sistem kerja kontrak dan outsourching. Buurh gamoang di PHK sepihak. Organisasi buruh cuma bisa blusak-blusuk mencari jalan terbaik agar tetap membuktikan komitmennya membela kaum buruh. Sementara PHK tetap berlangsung dan gampang dilakukan pihak pengusaha. Lantaran dalam sistem kerja yang tidak jelas itu, pengusaha dapat mengalihkan tanggung jawab kepada pengusaha lain yang sering juga disebut lebih elok dengan istilah alihdaya.

    Celakanya, maraknya perusahaan alihdaya ini bukan hanya memperlemah buruh dan organisasi buruh, tetapi juga dominan menelan para aktivis buruh yang sebelumnya tidak mempunyai pekerjaan tetap dengan penghasilan yang mantap memanfaatkannya. Jadi jangan heran, para pengusaha alih daya di Indonesia justru dominan dijalankan oleh mantan aktivis buruh yang sebelumnya gigih memperjuangkan hak-hak kaum buruh Indonesia yang ditilep pengusaha.

    Pada level serupa ini jelas kekalahan buruh, keoknya aktivis buruh, dan memblenya organsiasi buruh seperti yang diunjukkan oleh sejumlah aktivis buruh yang menggebu-gebu semasa orde Baru, namun sekarang menjadi kaki tangan pengusaha alias cecunguknya kapitalis. Oleh karena itu, bagi buruh dan aktivis buruh maupun orgnisasi buruh yang masih hendak bertahan dengan idealisme ideologi sosialisme demokratis, harus merinci ulang mulai dari cara dan model hingga sarana dan prasara sampai pelayanan serta penampilan dalam manakala sungguh hendak menggelindingkan organsasi buruh yang sehat.

    Pengertian organisasi buruh yang sehat hendaknya tidak bisa hanya dianggap dengan melahap kepala ikan dari warung kelas menengah di Indonesia misalnya. Kepiawaian pengelola organisasi, keunggulan pelayanan terhadap buruh serta masalah aktivis dan fungsionaris organsiasi buruh itu sendiri patut diverifikasi dari berbagai bentuk, hingga kesejahteraan dan keadilan yang diusung organisasi buruh itu sendiri hendaknya bisa dinikmati oleh aktivis dan fungsionaris organisasi.

    Pemahaman kaum buruh sendiri terhadap tingkat kesejahteraan dan keadilan yang dinikmati aktivis maupun fungsionaris organisasi, senantiasa akan dijadikan cermin bagi kaum buruh mengenai apa yang diidealkan mereka hendak menajdi anggota organisasi buruh. Pendek kata, organisisi buruh tidak lagi bisa dilakukan seperti cara-cara lama semasa Orde Baru. Setidaknya sekarang — buruh maupun orgnasasi buruh sejarang — sudah melampaui Orde Reformasi. Bayangkan saja, saya yang terlanjur mengaku sebagai aktivis buruh tidak jarang mendapat sanepo lantaran masih menggunakan hand phone jadul. Apalagi tidak bisa facebooks dan ngetuit atau nge-bebe, hanya lantaran pulsa yang terbatas atau karena perangkat komunikasinya sendiri sudah out up date. ***

    En Jacob Ereste:
    Labour and Labour Organization Must Picking
    If Do Not Want Cluck As Labour

    The challenge of building workers’ organizations (trade unions and union) post-New Order should be with the new paradigm at least level with the spirit of reform. In academic language is often referred to by some kind of labor activists inject the spirit of renewal. Minimal no longer be done by dn older models such as the face during the previous authoritarian regime.

    Model and how the post-New Order regime has changed and continues to explore or expand the travel area as build and develop the passion of the free market, so that the direct and indirect impact for workers and labor organizations must be faced as part of an obstacle or even a hindrance.

    Passion free market has begun to pick up, its consequence at the same time urging workers labor organizations are in a position increasingly more helpless. Starting from the open labor market and competing, until employment is increasingly congested due to the value of goods and price and wage rates increased workers’ hard-won.

    In an increasingly difficult labor konisi calculating wage income is inadequate to meet the needs of increasingly expensive – such as rising fuel prices, for example – chances and opportunities for active workers especially want to support the activities of labor organizations to increase difficulty. That is why among labor activists have difficulty recruiting members. Unless workers do not have the funds that could be considered extra for air-organization, more time to focus on finding as much money as possible as intoxicated.

    On the other hand – since the reforms – the number of labor organizations grew more lively, like mushrooms in the rainy season. Therefore, organsiasi workers must find a new issue, or some kind of paradigm-the-art when it was willing to organize against Indonesian workers.

    Manage the organization of the workers of Indonesia, the first is to understand the interests of the workers themselves when about to be invited berorgansiasi. For the simplest question they usually throw is, what are the advantages for themselves when participating organization. Vice versa for activists or labor organization functionaries. Because if indeed everything was done with a mere social hopefully, it will continue to be repeated failures experienced by workers and labor activists.

    In the infancy of capitalism lust today, all the zeal and passion as well as haraan oriented towards materialism. Therefore, when the workers and labor activists do not quite have the facilities and infrastructure as it has become a prerequisite of life at this age, then dropping in many cases it is not necessary lamented. The era of advanced communications in seizing some sort of access or influence in the region or sector level, has become a sort of requirements that can not be bargained.

    The needs of workers and labor activists and labor organizations exist the more urgent to be paid, as cheap as any price. That is, no longer can rely on the spirit of sacrifice or devotion as in the Order-order in advance. Increasingly fierce competition for workers, labor activists to labor organizations, is a logical consequence of the spirit of life that has been pervasive ideology of capitalism and rampant in all aspects of life joints all members of society.

    It is not surprising, in a number of workers’ organizations maskas now increasingly impressed elite or rather luxury, no longer seedy as in earlier times. The problem is not only to boost the prestige and appeal for workers to be achieved as a member, but the workers themselves may be unsure as to the organization concerned to increase the attractiveness of its own. It has been so even true labor organizations and labor activists should remain to provide services and programmatic clear, measurable and planned.

    Challenges labor organizations since the collapse of the 1998 reform, demanding models and new ways. Because during the reformation, workers and labor organizations barely do anything in the context of the reform itself. Then it was reasonable, when the reform victory, workers and labor organizations TATP disappointingly, did not receive any position. The defeat of the workers and labor organizations exist is increasingly convinced when workers and labor organizations flirtatious create a political party.

    The defeat of the Labor party or the party workers are the best proof of a lack of workers and labor activists enjoy persistent reforms advocated during the New Order. The next transition regime, workers and labor organizations semekin miserable, exactly the sort of second-class citizens. That is why the action and rally the workers are still seen with the eye, both by the regime and the political elite in this country. As a result, employers also still considers the presence of workers and labor organizations matter lightly.

    At a minimum, the workers – even though the labor organization – still may be dazed by maintaining the system of contract labor and outsourcing. Buurh gamoang in unilateral layoffs. Labor organization can only blusak-blusuk find the best way to keep proving its commitment to defend the workers. While layoffs continue and easily carried out by the employer. Because the system is clearly not working, employers may assign responsibility to other entrepreneurs who are often also referred to as outsourcing more elegant.

    Unfortunately, the rise of the outsourcing company is not only weaken the workers and labor organizations, but also dominant swallow labor activists who previously did not have a regular job with a steady income to use it. So do not be surprised, the businessman over the dominant power in Indonesia it is run by a former trade unionist who had previously determined to fight for the rights of Indonesian workers who ditilep entrepreneurs.

    On the same level is a clear defeat of the workers, keoknya labor activists, and labor organsiasi memblenya as demonstrated by a number of labor activists were passionate during the New Order, but now pandering alias cecunguknya capitalist entrepreneur. Therefore, for the workers and society together labor activists and workers who still want to stick with the ideals of democratic socialism, must specify the re-start of the ways and models to facilities and infrastructures to service and performance really want to roll in when healthy workers’ organizations.

    Definition of a healthy labor organization should not be simply regarded by devouring a fish head on the stall middle class in Indonesia, for example. Expertise managing organization, excellence and service to labor issues labor activists and functionaries organsiasi itself should be verified from various forms, to the welfare and justice promoted labor organization itself should be enjoyed by activists and functionaries of the organization.

    Understanding of the workers themselves on the level of welfare and justice enjoyed by activists and functionaries of the organization, will always be used as a mirror for the workers of what they want menajdi idealized members of labor organizations. In short, labor organisisi no longer be carried out as long ways during the New Order. At least now – the workers and laborers society together now – already surpassed Reform Order. Just imagine, my already admitted as labor activists are not infrequently gets sanepo because they use a mobile phone old school. Moreover, could not facebooks and ngetuit or jamming bebe, just because pulses are limited or because their own communication devices already out up to date. ***

  2. jacob ereste mengatakan:

    En Jacob Ereste :
    Kaum Pergerakan Yang Tergadai

    Etika dan moral kaum pergerakan terus diuji sepanjang waktu
    nilai luhurnya beda dengan milik mereka yang tergadai demi uang
    konsistensi dan komitmen pastu tercatat sejarah
    untuk jadi pelajaran bagi generasi berikutnya

    Adakah kita diantaranya ?

    Banten, 1 Mei 2011

    En Jacob Ereste :
    The Movement The spout

    Ethics and morals of the movement continues to be tested all the time
    virtuous values different from those belonging to for money
    consistency and commitment pastu recorded history
    to be a lesson for the next generation

    Do we include?

    Banten, May 1, 2011

  3. jacob ereste mengatakan:

    En Jacob Ereste :
    Buruh Indonesia (2)

    Outsourching tak bergeming
    Takut semakin kecut
    Gamang tambah meregang
    Kalut begitu kusut.

    Anak menghiba ingin sekolah
    Kesehatan terus memburuk
    Sakit menjadi sulit.

    Jika mati tiada berpeti
    Bila hidup tiada cukup itu hakekat perjuangan utama
    Merebut hak yang dirampas
    Tanpa pernah mengharap belas kasihan.

    Petarung kemanusiaan yang sejati
    Sadar
    Hak memiliki dan menikmati

    Tangerang, 2003

    En Jacob Ereste :
    Indonesian Workers (2)

    Outsourching unmoved
    Fear increasingly sour
    Giddy added stretch
    Frantic so tangled.

    Children pleaded want school
    Health continues to deteriorate
    Ill be difficult.

    If the dead no berpeti
    When life was not enough main essence of the struggle
    Seize rights deprived
    Without ever expect mercy.

    True humanity fighter
    conscious
    The right to have and enjoy

    Tangerang, 2003

  4. jacob ereste mengatakan:

    En Jacob Ereste :
    Buruh Indonesia (2)

    Outsourching tak bergeming
    Takut semakin kecut
    Gamang tambah meregang
    Kalut begitu kusut.

    Anak menghiba ingin sekolah
    Kesehatan terus memburuk
    Sakit menjadi sulit.

    Jika mati tiada berpeti
    Bila hidup tiada cukup itu hakekat perjuangan utama
    Merebut hak yang dirampas
    Tanpa pernah mengharap belas kasihan.

    Petarung kemanusiaan yang sejati
    Sadar
    Hak memiliki dan menikmati

    Tangerang, 2003

    En Jacob Ereste:
    Indonesian workers (2)

    Outsourching unmoved
    Fear increasingly sour
    Giddy added stretch
    Frantically so tangled.

    Pleaded want school children
    Health continues to deteriorate
    Ill be difficult.

    If the dead no berpeti
    If life was not enough main essence of the struggle
    Deprived of their rights snatch
    Without ever expect mercy.

    Fighters true humanity
    conscious
    Have rights and enjoy

    Tangerang, 2003

  5. jacob ereste mengatakan:

    En Jacob Ereste :
    Buruh Indonesia (1)

    Status kontrak
    Upah murah
    Tak ada jaminan social
    Gampang di PIHK
    Nihil THR susah berorganisasi
    Dianggap enteng pengusaha dan penguasa
    Hari tua tak teraba dan menakutkan

    Tangerang, Mei 2003

    En Jacob Ereste :
    Indonesian Workers (1)

    contract status
    low wages
    There is no social security
    Easy in PIHK
    Nil THR difficult to organize
    Taken lightly employers and authorities
    Old days was palpable and scary

    Tangerang, May 2003

  6. jacob ereste mengatakan:

    Pembaca Puisi

    Tadi pagi aku melihat seorang pemuda
    membaca puisi heroik keliling kampung
    “ … merdeka … merdeka …. … “
    terus dia pekikkan sampai esok pagi hingga mati.

    Di surga kulihat dia
    bersama rezim yang korup
    mereka berunding mau menyogok malaikat
    seperti jaksa dan hakim serta polisi
    bersama sipir penjara yang tamak dan rakus

    Begitukah kamu saudara ?

    Tangerang, Ramadhan akhir 2011

    Readers Poetry

    This morning I saw a young man
    heroic poetry reading around the village
    “… Freedom … freedom …. … ”
    he continued yelling until tomorrow morning to die.

    I saw her in heaven
    together with the corrupt regime
    they would negotiate bribe angel
    such as prosecutors and judges and police
    together jailers greedy and greedy

    Is that your brother?

    Tangerang, Ramadan end of 2011

  7. jacob ereste mengatakan:

    REZIM YANG RAKUS

    Di setiap tikungan ada tempat ibadah
    di setiap kantor banyak koruptor.

    Di negeri kaya ini
    rakyatnya miskin-miskin, termasuk aku
    dan diantara warga negeri yang ramah
    tipu daya tiada terkira.

    Sumpah dan jani bagimu negeri
    telah menjadi lagu pelipur duka derita dan lara
    saudara-saudaraku telah dijadikan mangsa penguasa.

    Masalahnya perlawanan tak bisa sesepak terjang
    sebab harus tuntas tertebas
    jangan kasih ampun
    ikhwal rezim terus beranak pinak.

    Termasuk ketamakan diri kita sendiri
    tak kecuali.

    Tangerang, 13 September 2011

    Regime The Voracious

    In every corner there is a place of worship
    in each office many criminals.

    In this rich country
    poor-poor people, including me
    and among the citizens of a friendly country
    no measurable deceit.

    Oath and you jani country
    has become a song solace pain and sorrow
    brothers and sisters have made prey ruler.

    The problem of resistance can not sesepak lunge
    cause to be completed tertebas
    do not love mercy
    exposures regime continued to breed.

    Including greed ourselves
    no exception.

    Tangerang, 13 September 2011

  8. jacob ereste mengatakan:

    Binatang Jalang

    Wahai rezim yang korup
    kami menyeru kamu sebagai seteru
    karena kamu tamak dan rakus
    merampas hak-hak rakyat yang kau tindas
    tanpa rasa ada rasa pirasa kemanusiaan
    hingga sisa warisan untuk anak cucu kami kelak
    kau lumat dengan lahap tiada hirau dosa.

    Kami percaya kelak laknat
    kau terima sebagai ganjarnya
    menikam sampai ke anak cucumu
    seperti kau menikam anak cucu kami.

    Ingatlah perlawanan kami yang tak pernah mau menyerah
    karena ketamakam dan kerakusanmu sudah melampuai batas
    jauh di luar garis kesabaran
    seperti yang selama ini kami pendam dan tahan
    mungkin sekiranya kalian insaf
    tapi nyatanya semakin merajalela dan buas
    seperti binatang liar yang tak terjinakkan.

    Ternyata kaum tak hanya rezim yang tamak dan rakus,
    tapi binatang jalang yang liar
    jaug dari peradaban dunia sirkus sekalipun.

    Dasar binatang !
    Kau !

    Serang, 15 Juli 2011

    Animals Bitch

    O corrupt regime
    we call on you as enemies
    because you are greedy and greedy
    depriving the rights of the people that you afflict
    without feeling any sense of humanity pirasa
    to the rest of the legacy for our children and grandchildren in the future
    You creamed with gusto not bother sin.

    We believe the future anathema
    you receive as ganjarnya
    stabbed to your children
    as you stab our children and grandchildren.

    Remember resistance we are never going to give up
    due to-the-greedy and greedy-to-Sanmu already goes beyond the limits
    far beyond the line of patience
    as long as we are buried and hold
    maybe if it were you aware
    but in fact more and more rampant and wild
    like wild animals Untamed.

    It turns out that the regime is not only greedy and greedy,
    but wild animals bitch
    jaug of world civilization circus though.

    Basic animals!
    You do!

    Serang, Banten, July 15, 2011

  9. jacob ereste mengatakan:

    En Jacob Ereste :
    Negeri Predator

    Alangkah bahayanya negeri predator ini
    dikelola oleh mafia tanpa mengindahkan hukum dan peradilan
    sehingga sebagai jelata tak ada harapan menikmati keadilan
    aturan dan hukum sudah dikangkangi perampok-perampok
    tipu daya merajalela
    dan etika moral tak ada ceritanya
    semua tak bermalu
    dan tidak memiliki kemaluan
    tamak, rakus egoistis diumbar dimana-mana
    dari rumah sampai ke kantor
    dari tempat kerja hingga ke pusat perbelanjaan.

    Ada semacam perlombaan untuk lebih kaya dari yang terkaya
    guna membeli segala rupa
    kemauan syahwat
    menabur birahi kekuasaan dengan menebat duit.

    “Sebagai rakyat yang mereka tindas
    kita harus bangkit dan melawan
    sebab ketamakan dan birahi rezim yang korup dan biadab
    tiada pernah akan surut dan insyaf
    semua milik kita akan dirampas tuntas
    tanpa kecuali ideology dan keyakinan
    yang tekah mereka konversikan dalam bentuk uang,

    Sekarang kita harus bergerak
    ambil tindakan
    melakuan perlawanan
    dengan segenap perhitungan;
    menang atau seterusnya miskin dan tertindas.

    Kita harus bergerak sekarang !
    jangan lagi ditunda-tunda
    sebab rezim yang tamak dan rakus semakin semena-mena
    bumi dan air yang mengalir di sungai milik leluhur kita
    sudah mereka kapling buat bangsa asing.

    Yang tersisa bagi kita sekarang
    hanya harga diri !

    Bandung, 17 September 2011

    En Jacob Ereste :
    Predator State

    It would be the danger of this predator country
    managed by the mafia without regard to law and justice
    so as commoners hopeless enjoy justice
    rules and laws already dikangkangi robbers
    rampant deceit
    morals and ethics no story
    all do not have a feeling of shame
    and do not have pubic
    greedy, greedy selfish diumbar everywhere
    from home to office
    from the workplace to the shopping center.

    There is a race to be richer than the richest
    to buy all sorts of
    willingness lust
    menebat sowing lust of power with money.

    “As a people they afflict
    we must rise up and fight
    because greed and lust corrupt and barbaric regime
    nothing ever will recede and insyaf
    all of ours will be deprived of due
    without exception ideology and beliefs
    which they had recently converted in the form of money,

    Now we must move
    take action
    undergo resistance
    with all calculations;
    win or so poor and oppressed.

    We have to move now!
    should no longer be delayed
    because the greedy and rapacious regime increasingly arbitrary
    earth and water flowing in the river belongs to our ancestors
    they’ve made lots of foreign nations.

    What remains for us now
    only self-esteem!

    Bandung, 17 September 2011

  10. jacob ereste mengatakan:

    En Jacob Ereste:
    Rezim Kanibal

    Baju gamis klimis itu
    Membalut sukma yang kusut
    Dengan pandangan resah gelisah
    Menghitung pundi-pundi ketakutan sepenuh lumbung
    lambung yang tak terhingga
    dikonversi dosa sekujur umur.

    Jasadnya amis
    Meski mandi setanggi dan kesturi
    Dengan senyum menyala bagai kompor bersumbu 17

    Koran dan majalah sore memberitakan kematiannya tanpa kepala
    Istrinya berlumur darah
    Anak cicitnya
    Tersungkur bersama mobil mewah termahal di dunia.

    Tak ada batu nisan
    Tak ada penguburan
    Jasad-jasad itu dimakan binatang kabibal
    Yang tamak dan rakus
    Persis seperti mereka
    Lahap menggasak hak rakyat.

    Banten, 9 September 2009

    En Jacob Ereste:
    Regime cannibals

    The shiny shirt
    Embodies the tangled soul
    With a view restless restless
    Counting all my fears coffers barn
    gastric infinite
    converted sin entire lifespan.

    His body was fishy
    Although bath incense and musk
    With a smile lit up like a stove wheelbase 17

    Newspapers and magazines proclaiming the death headless afternoon
    His wife bloodstained
    Children grandson
    Fall down with the most expensive luxury cars in the world.

    There was no tombstone
    There was no burial
    The bodies were eaten by animals kabibal
    Greedy and greedy
    Just like them
    Voraciously devour people’s rights.

    Banten on 9 September 2009.

  11. jacob ereste mengatakan:

    En Jacob Ereste :
    Puisi Kaum Proletar

    Tak ada maaf yang dikirim
    pun tak ada maaf yang mau dia terima
    karena lebaran baginya masih terlalu mewah
    dan terlanjur dilupakan sejenak dari kamus tradisi leluhur
    seperti sosok dirinya yang tinggal bayang
    tak jelas rebahnya.

    Ketika takbir mengiris fajar
    sempurnalah proletariat yang disungginya mendakwa bumi
    lantaran perseteruan dengan majikan
    telah menjadi warisan zaman.

    Tak ada THR
    itulah dosa tak termaaf
    pembiaran perusakan tata nilai kehidupan yang terkacau
    bersama rezim dan elite penguasa
    tamak melahap segenap santapan
    entah dalam bentuk apa saja
    sementara kita cuma menonton kepongahannya
    tanpa inisiatif melawan.

    Kawasan Industri Tangerang, Menjang Hari Raya 2011

    * Judul aslinya adalah Sajak Kaum Proletar. Karena sajak tidak ada padanannya dalam bahasa Inggris, maka diubah menjadi Puisi

    En Jacob Ereste :
    Poetry Proletariat

    There was no apology sent
    there was not sorry that he would receive
    because for him it was too fancy Eid
    and already forgotten moment of ancestral traditions dictionary
    like figure himself who live shadow
    rebahnya unclear.

    When Takbir slicing dawn
    Perfected proletariat disungginya indicting earth
    because of a feud with the employer
    has become a legacy of age.

    Nothing THR
    That sin was termaaf
    omission destruction of values life terkacau
    together with the regime and the ruling elite
    greedy to devour the entire meal
    whether in the form of any
    while we just watch kepongahannya
    without initiative against.

    Tangerang Industrial Area, Menjang Hari Raya 2011

    * Original title is a poem of the Proletariat. Because rhyme no equivalent in English, then changed to Poetry

  12. jacob ereste mengatakan:

    En Jacob Ereste :
    Doa Untuk Kaum Pergerakan

    Betapa sialnya kaum pergerakan
    karena terlalu lama membiarkan
    para komprador merusak dan menggadaikan republik ini
    akibatya kaum pergerakan harus ikut menanggung dosa
    atas ketidak-berdayaan mengenyahkan kebathilan itu.

    Tuhanku, biarlah doa ini menjadi tasbih
    saat mengawali puasa ku.

    Biarlah ia menjadi semacam hukuman bagiku
    untuk segala dosa karena belum mampu
    untuk menegakkan ajaran dan perintah-Mu.

    Banten, 1 Ramadhan 1436 H

    En Jacob Ereste:
    Prayer For The Movement

    How unfortunately the movement
    because it is too long to let
    the comprador damage and pawn the republic
    akibatya the movement should bear the sin
    top helplessness baatil rid of it.

    My God, let this be a rosary prayer
    when I started fasting.

    Let it be some sort of punishment for me
    for all sins because not afford
    to uphold the teachings and your commands.

    Banten, 1 Ramadan 1436 H

  13. jacob ereste mengatakan:

    En Jacob Ereste :
    Ingin Pulang

    Lelaki itu ingin sekali pulang ke rumah
    tragisnya ia lupa jalan menuju pulang
    60 tahun kemudian ia temukan
    sayangnya semua sudah berubah
    semua penghuni rumah
    sudah berjalan lebih jauh dari yang pernah dia tempuh.

    Diujung kampung
    ia melihat semua saudaranya
    bergegas pergi ke kota.

    Mereka tinggalkan rumah leluhur penuh pusaka.

    Kembali ke kota pun ia temukan semua saudaranya
    sudah berubah.

    Menjelang sore
    ia jumpa terakhir kali di pemakaman.
    Tak jelas entah siapa nama yang dia doakan
    ia menangis habis penuh sesal
    mengaoa rasa cengengnya baru menghajar telak.

    Jakarta, 14 Februari 2015

    En Jacob Ereste :
    want To Go Home

    He was eager to go home
    tragically he forgot the way to go home
    60 years later he found
    unfortunately all been changed
    all residents
    already goes further than he had ever traveled.

    tip of the village
    he saw all his
    rushed to the city.

    They leave the ancestral home of the full inheritance.

    Back to the city were he found all his
    have changed.

    By evening
    The last time he met at a funeral.
    It is unclear whether the name of which he prayed
    he cried exhausted contrite
    mengaoa taste new cengengnya beat hands down.

    Jakarta, February 14, 2015

    • jacob ereste mengatakan:

      En Jacob Ereste :
      Ingin Pulang

      Lelaki itu ingin sekali pulang ke rumah
      tragisnya ia lupa jalan menuju pulang
      60 tahun kemudian ia temukan
      sayangnya semua sudah berubah
      semua penghuni rumah
      sudah berjalan lebih jauh dari yang pernah dia tempuh.

      Diujung kampung
      ia melihat semua saudaranya
      bergegas pergi ke kota.

      Mereka tinggalkan rumah leluhur penuh pusaka.

      Kembali ke kota pun ia temukan semua saudaranya
      sudah berubah.

      Menjelang sore
      ia jumpa terakhir kali di pemakaman.
      Tak jelas entah siapa nama yang dia doakan
      ia menangis habis penuh sesal
      mengaoa rasa cengengnya baru menghajar telak.

      Jakarta, 14 Februari 2015

      En Jacob Ereste :
      want To Go Home

      He was eager to go home
      tragically he forgot the way to go home
      60 years later he found
      unfortunately all been changed
      all residents
      already goes further than he had ever traveled.

      tip of the village
      he saw all his
      rushed to the city.

      They leave the ancestral home of the full inheritance.

      Back to the city were he found all his
      have changed.

      By evening
      The last time he met at a funeral.
      It is unclear whether the name of which he prayed
      he cried exhausted contrite
      mengaoa taste new cengengnya beat hands down.

      Jakarta, February 14, 2015

  14. jacob ereste mengatakan:

    En Jacob Ereste :
    Qurban Sembelihan

    Sekerat daging qurban kuterima
    menjelang magrib
    lalu kugulai dengan kuah sepanci besar

    Seluruh keluarga berbagi rata
    menikmatinya penuh suka cita

    Di mesigit Agung
    petinggi negeri parade menyembelih qurban
    entah peliharaan siapa
    tak terang pemiliknya
    entah siapa puka yang meregang nyawa dan raganya.

    Begitulah darah mengucur dari urat leherku
    daging itu jelas jasadku yang terbantai
    ditumbalkan jadi santapan lebaran.

    Betapa kejinya rezim zalim memaksaku membantai jasad sendiri

    Kau ikut menikmati ?

    Banten, Menjelang Idhul Adha, 1426 H.

    En Jacob Ereste :
    Sacrifice Slaughtering

    I received a piece of meat would
    before sunset
    then a large pot of gravy kugulai

    The whole family shared flat
    joyfully enjoy it

    The Supreme Sariti
    State officials would parade slaughter
    Pets who somehow
    evidently got their owners
    whoever puka the dying and the patient.

    That blood pouring from my neck veins
    the meat was obviously my body is slain
    ditumbalkan so fine widths.

    Just how deep unjust regime forced to slaughter his own body

    You’ve come to enjoy?

    Banten, By Idhul Adha, 1426 H.

  15. jacob ereste mengatakan:

    En Jacob Ereste :
    Kutukan Rakyat

    Karena kau khianat
    rakyat dibair didera derita
    ditindas di tempat kerja
    upah murah
    anak tak sekolah
    pupuk jadi mainan rentenir
    ikan tangkapan dimangsa tengkulak
    mana sumpah dan janji kesetiaanmu pada kami ?

    Karena kau ingkar
    aku mengutukmu
    sebagai rakyat yang kau pimpin
    dan sebagai rakyat yang kau wakili.

    Tak sepatutnya amanahku yang pasrah
    kau tuba dengan kebohongan dan keculasan.

    Kejahatanmu terlampau besar
    untuk dimaafkan
    karena aku sebagai rakyat sudah kau gadaikan
    persisi komoditas perdagangan.

    Banten, 28 Oktober 2012

    En Jacob Ereste :
    People’s curse

    Because you’re treacherous
    dibair abused people suffering
    bullied in the workplace
    low wages
    children not in school
    Toys moneylenders fertilizer so
    prey fish wholesaler
    where the oath and pledge your allegiance to us?

    Because you’re in default
    i curse
    as people who’re pimpin
    and as the people you represent.

    Amanahku which should not surrender
    You tuba with lies and harshness.

    Overly large wickedness
    to be forgiven
    because I as the people you already mortgaged
    precision commodity trading.

    Banten, October 28, 2012

  16. jacob ereste mengatakan:

    En Jacob Ereste :
    Rakyat Bertindak

    Mesin Negara telah macet
    tak ada jaminan kehidupan
    kemiskinan dibar mendera
    hubungan kerja yang mesra
    nelayan pun takut melaut
    dan petani dicekit tengkulak bersama rentenir
    sementara mahasiswa gemang menatap remang petang
    pun segenap warga bangsa tersuruk dalam kesuraman
    mengerikan.

    Rakyat berdaulat
    tidak bisa abai pada politik
    ekonomi Negara manipulative
    rezim merusak tata budaya leluhur.

    Kini kesadaran rakyat telah bangkit
    daya juang sudah terhimpun
    rezim zalim pasti tumbang.

    Sekarang kita mulai
    klimaknya 10/11/12
    karena kita adalah pahlawan atas diri sendiri

    Banten, 2004

    En Jacob Ereste :
    people Acting

    State machine was jammed
    there is no guarantee of life
    Bar poverty whack
    friendly working relationship
    fishermen were afraid of dogs
    and farmers pain wholesaler with loan sharks
    while students Gemang ghostly stare pm
    all citizens regardless of race sunk in gloom
    horrible.

    sovereign citizens
    can not ignore the political
    National economic manipulative
    undermine governance regime ancestral culture.

    Now the consciousness of the people has risen
    adventurousness already collected
    despotic regime must fall.

    Now we start
    climax 10/11/12
    because we are heroes for yourself

    Banten, 2004

  17. jacob ereste mengatakan:

    En Jacob Ereste :
    Batu Nisan Ini

    Waktu mati itu datang
    mendekat dan semakin dekat
    baru kupaham tak mampu menyapanya.

    Aku terbungkam
    tak bisa apa-apa
    karena memang tak punya apa-apa.

    Maka itu kubuat batu nisan ini
    untuk kau kenang.

    Banten, 1 November 2012

    En Jacob Ereste :
    Tombstone It

    The dead time comes
    closer and closer
    new kupaham unable to say hello.

    I silenced
    can not be anything
    because it does not have anything.

    Thus I made this tombstone
    for you recalled.

    Banten, 1 November 2012

  18. jacob ereste mengatakan:

    En Jacob Ereste :
    Kemaluan Siapa

    Rezim tak bermalu
    akibatkan rakyat yang menonton makin sekarat.

    Sumpah dan janji telah menjadi khianat
    menjual diri bersama asset Negara dan bangsa
    jadi karamlah biduk
    tenggelamkan kehidupan
    seperti Lapindo melimat jagat.

    Lihat kemaluan siapa
    jadi tontonan di parlemen ?

    Kemaluan siapa teronggok di istana ?

    Surabaya-Jakarta, 2004

    En Jacob Ereste :
    Who genitals

    Got thirsty regime
    cause people are watching more and more dying.

    Vows and promises have become treacherous
    selling state assets themselves together and race
    therefore illegitimate Dipper
    immerse life
    like Lapindo Telimat world.

    See genital who
    be demonstrated in parliament?

    Genital who sat in the court?

    Surabaya-Jakarta, 2004

  19. jacob ereste mengatakan:

    En Jacob Ereste :
    Pamplet Penyair

    Karena kau khianat
    rakyat kau biarkan didera derita
    tertindas di tempat kerja
    upah murah
    anak tak sekolah
    pupuk jadi mainan rentenir
    ikan tangkapan dimangsa tengkulak
    mana sumpah dan janji keberpihakanmu pada kami ?

    Karena kau ingkar
    aku mengutukmu sebagai rakyat yang kau pimpin
    dan sebagai rakyat yang kau wakili.

    Tak sepatutnya amanat kami yang pasrah
    kau tuba dengan kebohongan dan keculasan
    sungguh tak terampunkan.

    Kejahatanmu terlampau besar untuk dimaafkan
    karena aku sebagai rakyat sudah kau gadaikan
    seperti komoditas perdaangan.

    Banten, 28 Oktober 2012

    En Jacob Ereste :
    Pamphlet Poets

    Because you’re treacherous
    you let people tortured anguish
    oppressed in the workplace
    low wages
    children not in school
    Toys moneylenders fertilizer so
    prey fish wholesaler
    where the oath and promise all of you in our favor?

    Because you’re in default
    I curse you as you lead your people
    and as the people you represent.

    Should not surrender our mandate
    You tuba with lies and keculasan
    really unpardonable.

    Wickedness too great to be forgiven
    because I as the people you already mortgaged
    such as commodities trading.

    Banten, October 28, 2012

  20. jacob ereste mengatakan:

    En Jacob Ereste :
    Menjelang Sore

    Mandi matahari setengah badan
    menjelang sore kelinci jinak datang menghampiri
    Jelas kulihat paras Tuhan
    menyapa aduhai sempurna
    dan kuasa-Nya atas jagat raya semakin tiada terkira
    aku pun terasa semakin kecil
    tak ada apa-apa
    tak bisa apa-apa

    Tuhan, datanglah setiap waktu
    agar cintaku pada-Mu
    tak pernah berlalu.

    Ter Nood, Belgia, 1996

    En Jacob Ereste :
    Towards evening

    Sun bathing half-body
    late afternoon tame rabbit comes over
    Clearly seen God face
    greet fantastic perfect
    and his power over the universe is getting no measurable
    I, too, was getting smaller
    no nothing
    can not be anything

    God, come every time
    that my love for Thee
    never passed.

    Ter Nood, Belgium, 1996

  21. jacob ereste mengatakan:

    En Jacob Ereste :
    Kita Bukan Warga Terjajah

    Pamflet penyair itu bergelayut di gerbang parlemen dan seluruh instansi
    menggedor jantung hati dan nurani setiap petinggi negeri
    minta mandat dan amanat dikembalikan
    bab konsolidasi dan rekonsiliasi telah kadaluarsa.

    Tak lagi ada tawar-menawar
    kesabaran sudah merentang panjang
    satu generasi sudah punah terbilang.

    Ya, saatnya pelaksanaan nyata
    dalam gerak sempurna
    merdeka atau selamanya terdera
    karena takdir kita bukan warga bangsa terjajah

    Taman Ismail Marzuki, Jakarta
    Menjelang Agustus 2009

    En Jacob Ereste :
    We are not Citizens Occupied

    The pamphlet was hung on the gate poet parliament and all institutions
    heart pounded heart and conscience of every country officials
    ask the mandate and the mandate is returned
    consolidation and reconciliation chapter has expired.

    There was again no bargain
    patience has been stretched length
    one generation extinct fairly.

    Yes, real-time implementation
    in perfect motion
    independent or forever scourged
    because we are not a citizen of the nation’s destiny colonized

    Taman Ismail Marzuki, Jakarta
    Towards August 2009

  22. jacob ereste mengatakan:

    En Jacob Ereste :
    Buat Rama & Ratuku :
    Bahagiaku Bagi dua Kalian

    Ketika mentari bersimpuh memasuki senja
    lambaiannya menggapai raga
    do’a mengucur
    mengharap Tuhan nantikan di surga.

    Ingin kucium sepasang hati sekali lagi
    isyarat rela kesiapan sendiri
    bergandenglah kalian setiap berkirim salam kerinduan
    aku pasti ada pada setiap cinta kasih indah kalian berdua.

    Aku suka kemesraan kalian penuh meruah
    sebab kerinduan sudah terjawab tanpa kata.

    Kebahagiaanku bagi kalian berdua
    dambaan bukti konsisten dan konsekuen
    mengemban amanah leluhur kita
    Gunung di puncak tertinggi
    Terbang senantiasa melangit biru
    jadi kompas petunjuk angin.

    Tangerang – Jakarta, 27 Agustus 2012

    En Jacob Ereste :
    Create Rama & Ratuku:
    Happily for two guys

    When the sun is entering the twilight knees
    waving arms reach
    pouring prayer
    Lord looketh forward in heaven.

    Want a pair of hearts kiss again
    willing signal readiness own
    you adjoin each send greetings longing
    I’m sure there are beautiful in every love you both.

    I like the warmth you are full of hail
    longing for’ve missed without a word.

    Happiness for you both
    and the consequent desire of consistent evidence
    carry out the mandate of our fathers
    The highest mountain peak
    Always fly in blue sky
    so compass wind indicator.

    Jakarta – Jakarta, 27 August 2012

  23. jacob ereste mengatakan:

    En Jacob Ereste :
    Amar Ma’ruf Nahi Munkar

    Musthadaafin mangsa bagi yang zalim
    kalas tertindas dan penindas harus dilawan
    inilah tugas mulia kita

    Caranya dilakukan secara bertahap :
    ditegur, diingatkan, jika tidak maka wajib diperangi
    hingga tuntas terberantas

    Amar ma’ruf nahi mungkar
    tidak ada tawar menawar
    landasan filosofis hukumnya pasti
    karenanya berdosalah
    orang yang membiarkan kezaliman terjadi dimanapun juga
    humanisme teosentris
    hakikatnya kewajiban melakukan pemberantasan
    memerdekakan
    dan kemaslahatan (kesejahteraan) dalam arti luas yang berkeadilan

    Implementasi menuju rahmatan lil alamin bagi manusia
    hingga sempurna sebagai utusan Allah di bumi.

    Banten, Ramadhan 2010

    En Jacob Ereste :
    Amar Ma’ruf Nahi Munkar

    Musthadaafin prey for the unjust
    Kalas oppressed and oppressor must be resisted
    This is our noble task

    The trick is done in stages:
    reprimanded, warned, if not then it must be fought
    thoroughly terberantas

    Enjoining nahi unjust
    no bargaining
    legal philosophical foundation for sure
    therefore sinner
    people who let injustice happen anywhere also
    theocentric humanism
    Essentially obligation to eradicate
    free
    and welfare (welfare) in the broad sense that justice

    Implementation towards rahmatan lil alamin to humans
    to perfect as a messenger of God on earth.

    Banten, Ramadan 2010

  24. jacob ereste mengatakan:

    En Jacob Ereste :
    Bersama Kaum Pergerakan

    Apa bedanya kucing kurap dan tikus got
    yang menebar wabah di negeri entah berantah
    sementara pemuda dan mahasiswa
    gamang memandang masa depan yang kelam
    sementara kaum pergerakan dan aktivis riuh berebut posisi
    menyelamatkan diri sendiri.

    Di ruang kerja
    kulihat kau asyik menyusul proposal
    yang tidak pernah jelas tujuan dan laporan akhirnya.

    Kesaksian ini kutulis,
    karena jelas tak lama kagi kau akan datang melayat
    untuk sekedar mengenang jika kita pernah bersama
    dan setiap kali kau datang jangan lupa bacakan sejak perlawanan kita
    meski pada kahirnya aku saksikan kau berada di seberang sana.

    Jakarta, 1 April 2014

    En Jacob Ereste :
    The Joint Movement

    What is the difference between a cat ringworm and rat got
    which spread the plague in the country either nowhere
    while youth and students
    giddy future looked dark
    while the movement and boisterous activists jockeying for position
    save yourself.

    In the workspace
    I see you have fun following the proposal
    which is never clear objectives and final report.

    Write this testimony,
    because obviously no longer are you going to come to mourn
    for just remembering if we ever shared
    and every time you come do not forget to read since our resistance
    although the kahirnya I see you’re on the other side.

    Jakarta, 1 April 2014

  25. jacob ereste mengatakan:

    En Jacob Ereste :
    Waktu Berhenti Di Jakarta

    Kukira ini pertanda kiamat tiba
    nyanyian “aku ora opo-opo” tak ada hubungannya kemacetan
    jauh sebelum kampanye dimulai
    penyanyi sudah dikontrak lunas
    leling kampung sampai ujung kepualaun Riau

    Lagu Melau terkulai tak berdaya
    penyanyi gambus terpana mononton
    lantaran pantun sudah dibajak para pelawak
    biar keren tanpil di tivi
    sekalipun sudang amat sangat membosankan
    soalnya banyolan siapa pun kalah lucu dari para anggota parlemen

    Meski saat menjelang presiden harga sastra sempat melambung
    karana ternyata cukup ampuh melumpuhkan kejumawahan dan kemunafikan
    toh pada akhirnya keok juga dengan harga sembako* yang merolet saat menjelang Ramahdhan.

    Pukimaknya
    macet dimana-mana
    tidak kecuali jam yang berdetak di balai kota

    Jakarta, 1 Juni 2014

    En Jacob Ereste :
    Stop Time In Jakarta

    I think it’s a sign of the apocalypse arrives
    singing “I ora opo-opo” had nothing to do congestion
    long before the campaign begins
    singer has been contracted in full
    leling maritime village until the end of Riau

    Melau song droop helpless
    psaltery singer stunned mononton
    because the poem has been hijacked comedians
    let cool tanpil on television
    sudang though very dull
    because anyone less funny jokes from MPs

    Although the eve of the presidential literary prices could soar
    karana powerful enough paralyze kejumawahan and hypocrisy
    anyway eventually beaten well with food prices * are merolet just before Ramahdhan.

    Pukimaknya
    jammed everywhere
    not unless the clock ticking in the town hall

    Jakarta, June 1, 2014

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: