Kebangkitan Nasional Dipelopori Sarekat Islam, Bukan Budi Utomo

Kongres Sarekat Islam - 1913 - Sumber Tempo

Selain Undang-undang, buku apa yang harus sering kita revisi? Jawaban paling umum bisa jadi adalah atlas. Karena atlas berhubungan dengan perkembangan geografi yang setiap tahun berubah. Tidak salah sebenarnya. Namun ada sesuatu selain atlas yang harus direvisi.  Sesuatu yang berpengaruh besar dalam kehidupan politik suatu negara. Buku itu adalah buku sejarah.

Sejak dulu hingga kini sejarah selalu sama. Kenyataan dan kebenaran hanya ada satu. Namun demi berbagai kepentingan, banyak sejarah yang diceritakan dengan versi berbeda. Bagi generasi saat ini, cara bercermin adalah dengan mengaca ke pengalaman generasi sebelumnya. Begitupun bagi generasi masa depan, cara mereka belajar adalah dengan melihat pengalaman pendahulunya di masa kini. Penguasa lalim mengerti betul bahwa ia bisa memberangus satu perlawanan yang ditujukan untuknya saat ini. Namun ia tak bisa menjamin esok hari tak ada orang lain yang berniat menggulingkan tahtanya.Satu orang bisa saja mati. Tapi itu tak akan menghentikan seratus orang lain yang berpikiran sama. Ini bahaya laten bagi penguasa lalim dan tiraninya. Ia tak akan bisa tenang menikmati kekuasaannya meski hanya sehari. Bagi penguasa lalim salah satu cara melanggengkan kekuasaan adalah dengan manipulasi informasi. Kenyataan memang tak bisa diubah. Tapi informasi bisa disembunyikan dan manusia bisa ditipu. Dengan menguasai masa lalu, ia bisa menguasai masa kini. Dan dengan menguasai masa kini ia akan menguasai masa depan. Satu kekuasaan dan satu rezim yang langgeng.

Buku sejarah, khususnya buku sejarah resmi, sudah sangat sering digunakan sebagai penyalur kepentingan penguasa. Generasi Jepang masa kini tak akan menemui buku sejarah berisi penjajahan oleh bangsanya di era PD II. Peristiwa pengeboman Pearl Harbor bisa dengan mudah kita temui di tiap ensiklopedia Amerika. Tapi tidak untuk penjatuhan bom atom di Jepang oleh Amerika. Buku sejarah Israel pun sudah pasti tak akan menyebutkan bahwa di hari kemerdekaannya beribu-ribu penduduk Palestina telah diusir dari tanahnya sendiri. Suatu peristiwa yang kemudian dikenal sebagai Hari Al-Nakba, hari malapetaka bagi rakyat Palestina.

Di Indonesia sama saja. Buku sejarah selalu digunakan sebagai alat indoktrinisasi. Mulai dari rezim orde lama hingga kini. Kita tak akan pernah tahu bahwa pada rezim Soekarno-Hatta, Barisan Keamanan Rakyat (BKR) yang berjasa besar pada perang kemerdekaan, dibuang dari TNI hanya karena tak bisa berbahasa belanda. Kita tak akan pernah menemui peristiwa pembantaian tanjung priok di era orde baru. Dan kita juga tak akan menemui tragedi mei di buku sejarah umum Indonesia saat ini.

Setiap tahunnya 20 Mei dianggap sebagai hari kebangkitan nasional. Peristiwa ini selalu dirayakan dengan prosesi-prosesi dan upacara-upacara yang diselenggarakan oleh berbagai instansi. Namun berapa banyak sesungguhnya yang mengetahui latar belakang sejarahnya?

Buku-buku sejarah versi pemerintah menyatakan pelopor kebangkitan nasional adalah organisasi Budi Utomo. Kelahirannya pada 20 Mei 1908 dipakai sebagai hari kebangkitan nasional. Padahal organisasi ini tidak bisa dianggap merakyat dan mewakili kepentingan nasional. Dari segi kepemimpinan, mulai dari Raden Adipati Tirtokoesoemo hingga Ario Noto Dirodjo, Budi Utomo selalu dipegang oleh golongan priyayi atau bangsawan keraton. Dari segi keanggotaan, Budi Utomo didominasi kaum terpelajar, pegawai negeri Hindia Belanda, dan kaum bangsawan. Dari jumlah anggota pun, anggota Budi Utomo tak pernah melebihi 10.000 orang (Itupun pada masa keemasannya, tahun 1909). Dari segi cakupannya pun Budi Utomo hanya berniat menyatukan Jawa, Sunda, dan Madura. Tanpa menyebut ataupun menyiratkan tujuan kemerdekaan pada pergerakannya.

Eksklusifitas Budi Utomo diperkuat berbagai pernyataan tokoh-tokohnya. Abdul Qadir Djaelani mengutip pernyataan Soewardi Soerjaningrat (tokoh Budi Utomo). Pernyataan berjudul “Het Javaanche Nationalisme in Indische Beweging” dari buku “Gedenkboek Boedi Oetomo 1908-1918, berbunyi: “…Kekuasaan dan pengaruh raja-raja Jawa itu makin lama makin ditindas Belanda. Tetapi justru karena itu orang-orang di keraton Jawa itu lebih tahu apa yang disebut ‘cinta tanah air’, yaitu cinta pada tanah Jawa, hanya pada tanah Jawa, hanya pada tanah tumpah darah ini. Hindia dikenal hanya sebagai sebagai daerah di luar tanah air, sebagai negara ciptaan Belanda, dan tanah air Jawa dengan paksa dimasukkan menjadi bagian negara itu. Memang benar, dahulu memang ada kaitan antara Jawa dan daerah-daerah seberang. Tetapi bukan Jawa yang menjadi daerah bagian suatu kerajaanbesar, tetapi sebaliknya Jawalah kerajaan itu, sedangkan seluruh tanah seberang merupakan daerah kerajaan Jawa. Jadi nasionalisme Jawa yaitu pulihnya kembali Jawa merdeka berarti dihancurkannya pemerintahan asing… “ (W. Poesporodjo, p. Cit., hal. 27 – 32)

Tak bisa dipungkiri bahwa nasionalisme yang diusung Budi Utomo bersifat sempit. Nasionalisme Jawa dan nasionalisme kaum elit yang kental dengan feodalisme. Apalagi semua golongan yang tergabung dalam Budi Utomo adalah golongan kooperatif. Golongan serekan dan satu badan usaha dengan pemerintah Hindia Belanda. Golongan yang penghidupannya ditentukan berdasarkan kebijakan pemerintah kolonial. Walhasil, apa yang mereka perjuangkan bukanlah untuk rakyat kebanyakan. Fakta ini kemudian diperkuat pernyataan Soe Hok Gie dalam desertasinya berjudul dibawah lentera merah, “Apa memangnya secara kebetulan saja, maka kaum priyayi bergabung ke dalam Boedi Oetomo dan Kaoem Santri ke dalam Sarekat Islam di sementara tempat? Apakah ini bukan merupakan perwujudan dari struktur masyarakat yang lebih tua dari kaum priyayi dan santri itu sendiri? Suatu gerakan hanya mungkin berhasil bila dasar-dasar dari gerakan tersebut mempunyai akar-akarnya di bumi tempat ia tumbuh. Ide yang jatuh dari langit tidak mungkin subur tumbuhnya. Hanya ide yang berakar ke bumi mungkin tumbuh dengan baik (Dalam hal ini, Sarekat Islam.red)”

Suatu kebangkitan nasional tidak bisa ditentukan dari tanggal kelahirannya saja. Dalam hal ini Sarekat Dagang Islam (SDI) (yang kemudian bermetamorfosis menjadi Sarekat Islam (SI)), jauh lebih layak menyandang gelar ‘pelopor kebangkitan nasional’ dibandingkan Budi Utomo. Baik itu dari segi keanggotaan, jumlah anggota, kepemimpinan, tujuan pergerakan, gerakan kongkret, sampai pengaruh yang diciptakannya.

SDI-SI Sebagai Pelopor Kebangkitan Nasional

Asal-usul SDI tak bisa dilepaskan dari kondisi sosial ekonomi masyarakat pribumi saat itu. Dalam The Kapitan Cina of Batavia 1837-1942, A History of Chinese Establishment in Colonial Society, tercantum mengenai peran istimewa orang-orang Cina. Hal ini ditegaskan Jan Pieterszoon Coon, “daer is geen volck die ons beter dan Chineesen diennen,” (Dimana tak ada rakyat yang melayani kita ketimbang orang-orang Cina) (Sabili, Juli 2004, Edisi Khusus Islam Kawan atau Lawan).

Untuk menyikapinya, kaum pedagang dan kaum muslim pribumi bersatu dalam SDI pada 16 Oktober 1905 (Endang Saifudin Ansharai, 1981, hal. 4; dan Mimbar Ulama, No. 112, hal 10, Abdul Qadir Djaelani, 1996, Perjuangan Politik Umat Islam hal. 35). Dibawah pemrakarsanya, H. Samanhudi, SDI secara tidak langsung juga melawan dominasi belanda di ranah ekonomi Hindia Belanda.

Ensiklopedia Nasional Indonesia mencatat bahwa anggaran dasar SDI memiliki tiga tujuan. Meningkatkan persaudaraan diantara anggota, tolong-menolong di kalangan muslimin, dan berusaha meningkatkan derajat kemakmuran dan kebebasan negeri. (Sabili, Juli 2004, Islam Kawan atau Lawan). Poin ketiga—berusaha meningkatkan derajat kemakmuran dan kebebasan negeri—ini lah yang patut kita perhatikan. Sedari awal, SDI bertujuan memperjuangkan kehidupan yang lebih baik bagi seluruh rakyat Hindia. Seluruh rakyat Hindia tanpa terkecuali, tanpa memandang ras dan status ekonomi. Dari segi ini secara implisit, SDI sudah menginginkan kemerdekaan dan kesejahteraan bagi rakyat Hindia. Karenanya SDI mampu menarik simpati masyarakat kebanyakan. Sehingga disisi lain, otomatis mengundang ketakutan pemerintah kolonial Hindia Belanda.

Keresidenan Surakarta membekukan SDI pada 12 Agustus 1912. Penerimaan anggota baru dan rapat-rapat dilarang. Setiap rumah dari anggota SDI digeledah. Tentunya bertujuan untuk menemukan bukti bahwa SDI organisasi perongrong pemerintah. Namun hasilnya nihil. SDI tidak terbukti sebagai organisasi subversif. Pelarangan itu dicabut pada 26 Agustus 1912.

Bertolak dari peristiwa itu, SDI yang telah berkembang pesat, merubah konsep organisasinya. Pada 10 September 1912, SDI berubah menjadi Sarekat Islam (SI) dan mengumumkan HOS Tjokroaminoto sebagai seorang komisionaris. Sejak saat itu berbagai perkembangan menyusul dengan cepat.

Cabang-cabang SI berdiri di berbagai tempat, baik di Jawa maupun luar Jawa. Berbagai advokasi pun dijalankan oleh tiap cabang SI. Umumnya berupa perlawanan terhadap praktek penindasan oleh penguasa terhadap kaum pribumi. Bersatunya bangsa Hindia Belanda dalam berbagai aksi yang dinaungi SI, menimbulkan ketakutan khusus pada penguasa. Ketakutan akan potensi revolusioner SI, pemerintah menolak memberikan pengakuan terhadap SI pusat. Pengakuan hanya diberikan kepada SI-SI lokal untuk menghambat pergerakan SI.

Kongres pertama SI di Bandung pada 17-24 Juni 1913, membuat pemerintah kolonial Belanda gempar. 16.000 orang dari utusan cabang-cabang SI di Jawa, Sumatera, Bali, dan Sulawesi, hadir mewakili 800.000 orang anggotanya. Terlebih di konggres itu Tjokroaminoto menggunakan bahasa melayu (indonesia). Kemampuan SI mengumpulkan rakyat Hindia dari segala penjuru menjadi fenomena tersendiri.

Konggres SI kedua di Oktober 1917, menghasilkan program kerja yang lebih luas. Tidak hanya bidang ekonomi, pendidikan, dan agama. Kongres turut melahirkan tuntutan-tuntutan di bidang politik, hukum, pertanian, industri, keuangan dan perpajakan, moral, serta ketenagakerjaan. Pokok tuntutan itu bisa disimpulkan menjadi perlawanan terhadap kapitalisme dan perjuangan untuk pemerintahan sendiri.

Benarlah adanya, bahwa rakyat yang ditindas akan senantiasa bangkit dan melawan. Konggres ketiga di 24 September hingga 6 Oktober 1918 memantapkan tuntutan aksinya pada penguasa kolonial Belanda. Reformasi sosial secara total. Di tahun berikutnya, 1919 kejayaan dari SI mencapai puncaknya. Jumlah keanggotaan SI di seluruh cabang mencapai angka mencengangkan, dua juta orang.

***

Seperti yang dinyatakan Peter Lowensteyn dalam The Sarekat Islam, McVey. Rise, hal. 10-11,SI adalah suatu badan besar pergerakan yang majemuk. Hal ini terbukti dari sangat beragamnya unsur dalam SI. Kaum santri dan ulama militan, kaum tradisionalis Islam (embrio dari NU), kaum modernis (embrio Muhammadiyah), bahkan kaum abangan. Dari sini dapat disimpulkan bahwa SI telah melampaui rasa sentimen kedaerahan, batas-batas kesukuan, dan sekat-sekat kelas masyarakat. Tingginya totalitas gerakan mencerminkan kemurnian tujuan SI, kesejahteraan dan kemerdekaan rakyat.

Dalam perpecahannya pun, SI melahirkan pergerakan-pergerakan besar Indonesia. Lahirnya kaum nasionalis-sekuler Indonesia, terbentuknya kaum sosialis-marxis Indonesia, serta gerakan islam politik islamisme. Darinya muncul PNI, PKI, Muhammadiyah, NU, serta MIAI yang berubah menjadi Masyumi. Kesemuanya mengambil jalan masing-masing, meski tak jarang diantaranya saling bersimpangan. Kesemuanya mengambil perannya masing-masing dalam sejarah pergerakan nasional.

Dari fakta-fakta diatas banyak kesimpulan yang bisa diambil. Dari segi kelahiran, SDI (cikal bakal SI) lahir pada 16 oktober 1905, tiga tahun lebih awal dari Budi Utomo. Dari segi jumlah anggota, SI di masa kejayaannya berhasil mencapai jumlah dua juta orang. Sedangkan Budi Utomo tak sampai seperlimanya. Lingkup perjuangan SI juga lebih menyeluruh dan membumi dibanding Budi Utomo yang hanya berkutat di ranah pendidikan dan jurnalisme saja. Pengaruh SI juga lebih besar, baik itu berupa ancaman kepada penguasa kolonial Hindia Belanda, maupun pendorong munculnya organisasi pergerakan lain.

Maka kita harus bersikap jujur terhadap sejarah. Jujur dan mau menerima bahwa SI yang lebih pantas disebut sebagai pelopor kebangkitan nasional. Jujur dan mau menerima bahwa hari kelahiran SI, 16 Oktober 1905 adalah momentum kebangkitan nasional sesungguhnya. Jangan buat buku sejarah kita jadi catatan kebohongan. Jangan jadikan diri kita sebagai kaum islam-phobi. Jangan jadikan diri kita sebagai pengkhianat sejarah.

 

Comments
One Response to “Kebangkitan Nasional Dipelopori Sarekat Islam, Bukan Budi Utomo”
Trackbacks
Check out what others are saying...


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: