Rakyat Turki Bergerak Lawan Rezim Penguasa

Rakyat Turki Bergerak Lawan Rezim Penguasa

Dari Pembelaan Ruang Publik Menuju Perlawanan Terhadap Rezim

Pendekatan rezim pemerintahan Erdogan terhadap perencanaan kota telah membangkitkan raksasa tidur. Dalam kurun waktu 24 jam, suatu demonstrasi sederhana terkait masa depan taman kota akhirnya menjelma menjadi pergolakan melawan pemerintahan otoriter, melawan kekerasan polisi, dan melawan Islamisasi suatu masyarakat sekuler. Tulisan ini merupakan terjemahan dari liputan Ruben dan Gielty.

Kemarin (1 Juni 2013) merupakan hari bersejarah yang menjadi saksi munculnya demonstrasi terbesar dalam sejarah Istanbul. Awalnya distrik Pera, jalan Istiklal, merupakan pusat perbelanjaan biasa dimana aktivitas perdagangan berlangsung normal seperti biasa, namun di ujung utara jalan, para polisi bersenjatakan tameng dan pentungan serta dibantu panser meriam air sedang menggiring para demonstran masuk ke stasiun kereta bawah tanah, kemudian melempari mereka dengan gas air mata dan mengunci semua pintu masuk dan pintu keluar. Akibatnya satu orang telah meninggal dan lusinan lainnya menderita luka-luka serius. Hingga saat ini telah jatuh empat korban meninggal dunia dari pihak demonstran, ratusan dilarikan ke rumah sakit, sementara dari pihak polisi banyak yang menderita demoralisasi berakibat pengunduran diri sebanyak lebih dari seribu anggota kepolisian.

Peristiwa ini merupakan kelanjutan dari represi brutal terhadap para demonstran yang menduduki Taman Gezi menentang rencana penggusuran pemerintah dan rencana pendirian mall perbelanjaan di atasnya. Demonstrasi ini dimulai sejak 26 Mei dan semakin bertambah besar khususnya karena pada Kamis 30 Mei ratusan hingga ribuan demonstran lainnya mulai ikut bergabung. Jumlah mereka makin membengkak ketika muncul kabar mengenai penyerbuan polisi pagi hari dimana polisi yang bersenjatakan pentungan tidak saja menyerbu kemah para demonstran namun juga menyerang para demonstran yang sedang tidur dengan gas air mata serta membakar tenda-tenda mereka. Aksi kekerasan polisi ini sempat dihentikan ketika para politisi oposisi turut datang dan memberikan dukungan namun dini hari berikutnya aksi kekerasan polisi ini kembali dilakukan. Salah satu korban luka-luka adalah Sırrı Süreyya Önder, deputi Istanbul, yang turut bergabung dalam aksi pendudukan, mengalami luka di pundak akibat lemparan kaleng gas air mata.

Para polisi Turki memang terkenal ringan tangan dalam penggunaan gas air mata. Namun kali ini para demonstran memperkirakan bahwa setidaknya dalam satu hari pada tanggal 31 Mei saja, lebih dari seratus kaleng gas air mata telah digunakan untuk melawan para demonstran. Demonstrasi Taman Gezi kini semakin mendapatkan dukungan dalam melawan privatisasi ruang publik. Banyak warga Istanbul juga mempertanyakan logika pembangunan mall perbelanjaan di ujung jalan yang sudah terkenal dipenuhi butik-butik dan pertokoan.

Fokus demonstrasi ini kemudian meluas secara signifikan hanya dalam satu hari. Sebagai perbandingannya, pada tanggal 30 Mei hanya beberapa ribu demonstran yang menduduki taman. Namun pada 31 Mei hampir seluruh penjuru kota bergolak.

Memang banyak demonstran yang masih berbicara mengenai taman Taksim Gezi dan tempat itu masih merupakan pusat perlawanan namun slogan-slogan dan yel-yel yang kemudian diteriakkan kini semakin mengarah pada perlawanan terhadap rezim dan kepolisian. Apa yang dimulai sebagai pertahanan terhadap ruang publik di Istanbul kini telah menjelma menjadi tuntutan “hükümet istifa” atau “pemerintah harus mundur”.

Brutalitas polisi di Taksim telah memicu kemarahan massa rakyat. Sisa-sisa asap dari gas air mata masih menyelimuti perkotaan. Para demonstran memperbincangkan bagaimana orang-orang digilas panser, tercekik nafasnya akibat disekap dalam stasiun kereta penuh gas air mata, atau ditembaki dengan peluru karet. Kemarahan hinggap di semua orang. Saïd, seorang pelayan di suatu restoran di Jalan Istiklal, berkata “pemerintah dan polisi disini berlagak seperti raja. Kami sudah muak.”

Sebagian besar demonstran memang berusia muda namun demonstrasi ini telah menarik puluhan ribu dukungan dari berbagai sektor kota. Kaum kiri, yang secara historis terpecah dan menderita sektarianisme di Turki, kini berada di garis depan bersama para mahasiswa dari kalangan menengah yang juga murka pada rezim ini. Populasi kaum Kurdi yang semakin banyak juga memiliki banyak perwakilan yang terlibat dalam demonstrasi ini, sebagaimana pula kaum aktivis serikat buruh. Mereka semua bersatu tidak saja dalam mempertahankan taman kota, namun juga membela hak mereka untuk berkumpul, berserikat, dan berpendapat termasuk dalam menentang otoritarianisme negara.

31 Mei juga menandai bergabungnya kaum suporter garis keras dari klub-klub sepakbola di Istanbul, seperti Çarsi, kelompok anarkis dari Besiktas yang memiliki ekspresi politis. Kemudian ada juga raksasa seperti UltrAslan dari Galatasaray dan Vamos Bien Fenerbahçe yang tidak terlalu dikenal pandangan politiknya namun kenyang akan pengalaman berkonfrontasi dengan polisi. Mereka semua datang dengan aksi tearikal meriah. Besiktas datang pada 19.03 karena klub mereka didirikan pada tahun 1903, Galatasaray datang pada 19.05 karena klub mereka didirikan pada tahun 1905, dan Fenerbahçe datang pada 19.07 karena klub mereka didirikan pada tahun 1907. Mereka semua datang dan menggabungkan kekuatan serta mengesampingkan semua rivalitas sepakbola yang ada di antara mereka. Ini merupakan suatu momen besar bersejarah.

Sekitar pukul 20.00 para demonstran mulai bicara untuk pertama kalinya mengenai demonstrasi-demonstrasi di kota-kota lain di seluruh Turki—Izmir, Bursa, Ankara, Eskisehir, dan Antalya. Harapan mereka akan munculnya gerakan seperti Revolusi Arab bagi Turki, yang sebelumnya tidak ada kemungkinan sama sekali, kini mulai menemukan peluangnya.

Banyak yang khawatir bahwa kurangnya pemberitaan di media massa arus utama di Turki akan berakibat hancurnya demonstrasi ini, apalagi polisi telah menggunakan pengacau sinyal untuk menghalangi akses internet hingga beratus-ratus kilometer di sekitar Taksim. Namun upaya rakyat tidak berhasil diredam dan informasi mengenai demonstrasi ini akhirnya tersebar luas. Represi otoritas akhirnya menampakkan batas kemampuannya dan menjatuhkan wibawanya sendiri.

Para polisi masih mengejar ribuan orang di Istiklal pada tengah malam, dan letusan gas-gas air mata terdengar dimana-mana. Hotel-hotel di Alun-Alin Taksim telah dievakuasi. Para aktivis juga menyatakan bahwa mereka akan melakukan perlawanan balik.

Ketika negara mulai kehilangan kendali atas kota berusia lama ini pada 31 Mei, salah satu anggota Partai Penguasa, yaitu Partai AKP, Sirin Ünal, mencemooh para demonstran dengan memasang tweet, “Jelas bahwa beberapa orang memang butuh di-gas airmata.”, seraya menambahkan “sistem ini harus dipatuhi.” Malamnya akun Twitternya ditutup. Hari ini kita akan melihat apakah sistem kekuasaannya akan ditutup pula.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: