Tengah Hari Perempatan Jalan

Tengah Hari Perempatan Jalan

Duduk di sana. Di bawah pohon yang tegak di sisi dalam trotoar. Berlindung ia untuk sementara dari terik raja siang yang menyengat-nyengat bumi dan manusianya. Topinya yang sudah lusuh dan berlubang di sana-sini, dilepaskan dan dikibas-kibaskannya untuk coba-coba mengundang angin sejuk

Bocah laki-laki itu mengawasi jalan dengan dahi yang tak henti-hentinya berkerut. Nah, sekarang lebih banyak mobil yang riwa-riwi. Kelihatannya orang-orang gedongan sudah banyak yang pulang, pikirnya. Digenggamnya potongan kayu dengan sekumpulan kepingan tutup botol yang dipaku tegak lurus di atasnya. Ditunggunya cahaya warna hijau itu mati dan begitu lampu merah menyala ia segera berlari. Menyeberang dulu baru toleh kiri-kanan. Seperti macan sirkus yang sudah terlatih lompat ke lingkaran api, Mamat bergerak gesit dengan refleks tinggi. Dalam sekejap sampailah ia di lampu merah di perempatan jalan.

Dihampirinya mobil terdepan dan ia bersiap-siap menyanyikan salah satu lagu tentang selingkuhan dari band Ibu Kota. Ealah, baru mulutnya terbuka dan belum sempat lagu meluncur keluar dari mulutnya, sang bapak pengemudi sudah menempelkan telapak tangannya ke jendela pintu mobil. Bapak itu jelas tak hendak mengajaknya toss. Bocah itu mengerti dan segera beralih ke sedan putih kusam di belakangnya. Di pasangnya wajah semuram mungkin sambil mengamen tepat di kaca sopir. Diharapnya bapak botak berkumis ini jatuh kasihan dan memberinya uang. Ealah, tapi hampir sampai reff ternyata ia masih tak dipedulikan.

“Si botak ini budeg atau sengaja gak nggubris aku?” pikirnya heran.

Dikeraskan lagi suaranya dan akhirnya si botak bermuka tertekuk ini menoleh padanya. Dan oalah ia dapat tangan lagi. “Sudah tuli pelit pula!” serapahnya dalam hati. Sontak ia beralih ke pengguna kendaraan bermotor yang lain mumpung belum hijau. Matanya sigap memilih. Aha, dilihatnya pasangan muda-mudi yang berboncengan sepeda motor sedang berbicara sambil ketawa-ketawa.

“Asyik bener, tu orang pacaran. Kalau suasana hati senang pasti gak bakalan diusir tanpa diberi recehan.” pikirnya.

Cepat dihampirinya mereka berdua dan langsung saja ia menyanyi sambil menggoyang-goyangkan ecek-eceknya. Ia tahu si laki-laki sudah memberi isyarat tangan yang artinya sama dengan sopir mobil tadi. Tapi si bocah tak peduli, ia menyanyi pada sang perempuan. Sang perempuan lalu merogoh kantung tasnya lalu memberinya tiga keping uang lima ratusan. Lumayan. Ia tahu kalau perempuan lebih gampang kasihan. Beda sama laki-laki yang kadang tak punya hati.

Jalanan kian sesak dan asap karbonmonoksida kian memenuhi udara menambah panas hari. Bocah pengamen bergerak di sela-sela motor dan mobil, berusaha tak tertabrak dan tak tersengat panas knalpot. Kakinya menapak trotoar bersamaan dengan lampu hijau menyala. Sedetik kemudian klakson motor dan mobil berlomba-lomba meraung menuntut segala yang di depannya minggir memberi jalan.

“Waduh-waduh” Mamat berdecak, bersyukur bisa selamat dari terjangan banjir mobil dan motor.

“Hei, Mat. Dah dapet berapa, nih?”

Kepalanya menoleh ke muasal penyeru suara itu. Rupanya abang loper koran yang menegurnya.

“Oh, Bang  Said. Sedikit, bang. Cuma lima ribu.” keluhnya

“Kenapa nggak ngamen aja di perempatan bank?”

“Disana sudah ada premannya, bang. Gak berani aku.”

“Siapa? Si Gogon? Yang kerjaannya mabuk kalo ngamennya dapet banyak?”

“Ah, Abang tahu sendiri lah…”

“Lantas ngapain sekarang ganti di sini? Sudah kuat bayar setoran ke pak Bos?

“Masak anak kecil kaya aku gini juga ditarik, bang?” tanyanya heran.

“Alaah…kaya’ gak tau aja tabiat orang sini, Mat. Gak peduli tua gak peduli muda, kalo mau slamet tetep harus bayar.”

“Pantesan sekarang yang ngamen sepi. Emang Abang bayar berapa?”

“Mereka mintanya fifty-fifty, kemaruk emang tapi asal bayar pasti gak kena sikat. Atau kalau ada razia pasti dilepasin lagi.”

Mamat menggaruk-garuk rambutnya.

“Separuh-separuh? Banyak amat! Lha, kok Abang betah di sini?”

“Habis gimana lagi? Sekarang udah gak mungkin jadi loper keliling. Kan sepeda abang udah abang jual buat nutupi utang…”

“Halaah, Bang…kalo Abang begini terus mending pindah ke perempatan Bank ajalah.”

“Lha katamu udah ada Premannya?”

“Alaah, palingan preman ngamen ama ngemis doang aja, Bang!”

“Lagian Abang kan lebih tua daripada si Gogon ama temen-temennya, masa gak berani Bang? Kalau aku yang kecil gini sih masuk akal.”

“Aku sih cuma gak mau cari gara-gara aja, Mat.”

“Abang bukannya mantan guru silat?”

“Lho, tau dari siapa?”

“Kata si Tutik kemaren gitu. Ayolah, Bang, Abang kan jago silat. Si Gogon itu tolong kasi pelajaran masa’ semua yang ngamen sama yang ngemis di perempatan Bank harus kasi setoran sama dia? Mana kalo nggak ngasi langsung main pukul aja. “

“Ah, yang bener?!” ujar Said setengah tak percaya.

“Halah, Bang…masak aku bohong sama Abang? Si Ujang aja pernah babak belur dikeroyok sama Gogon ama temen-temennya.”

“Kapan?” tanya Said.

“Minggu lalu barusan, Bang!”

“Emang Ujang salah apa?”

“Waktu itu katanya gara-gara ngasi setorannya sedikit. Pas digeledah, Gogon nemu lembaran duit diumpetin di celananya Ujang.”

Muka Said makin masam

“Gogon juga sering cari masalah Bang! Apalagi kalau mabuk. Kak Saut aja pernah digodain.”

“Hah?! Terus Mbakmu gimana sekarang?”

“Ya, nggak sampai kenapa-kenapa sih, Bang. Kakakku terus lari waktu itu.”

“Wah, udah gak bener ntuh!” ujar Said yang mulai geram.

“Makanya bang aku tuh sampe pindah ke sini. Cari yang aman aja. Eh, taunya kata Abang disini juga harus bayar setoran. Aparat keparat!”

“Hush, jangan omong kotor! Tak bilangno Mbakmu lho!”

“Makanya Bang, mending abang sama-sama Mamat balik ke perempatan Bank kasi pelajaran ama Si Gogon. Abang kan bisa silat, tuh. Temen-temen benernya banyak juga yang gak suka ama Gogon tapi gak berani. Bang Said kan bisa bantu nolongin. Daripada disini juga diporoti?!”

“Bener juga sih. Emang Gogon sama siapa aja?

Mamat berpikir lalu menghitung dengan jari-jarinya.

“Jojon, Samid, Congkel, Kepet, ama Dias…”

“Enam orang, bang, ama Gogon!”

“Ya, udah sekarang pulang aja, besok Abang omong baik-baik dulu ama Gogon”

“Halaah, langsung sikat aja, bang!”

“Hush, sudah sekarang pulang aja nanti kalo kamu ketahuan ngamen disini abang yang kena masalah”

“Ya, udalah, Bang. Mamat pulang dulu”

“Salam buat mbakmu, ya?”

“Ya! Masih naksir, ya, bang?”

“Hush!”

*

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: