Brazil Berlawan*

Brazil Berlawan

Benar: Kupikir semua tanda di Portugis adalah masalah bagi mereka yang ingin memahami protes yang kini terjadi di negeriku. Kuharap artikel ini akan berguna memberikan pencerahan atas apa yang tengah terjadi di Brazil kini. Mungkin kau sudah dengar alasan-alasan tidak berbobot yang diulang-ulang media massa, yaitu kenaikan tarif bus sebesar R$ 20 sen, menjadi R$ 3,20 (yang mana setara dengan Rp 15.124,-).

Foto-foto yang menghiasi halaman-halaman berbagai media massa internasional terkemuka seperti foto tong sampah terbakar di jalanan Rio de Janeiro, mobilisasi massa di São Paolo, granat gas air mata yang ditembakkan aparat polisi, sebagian besar foto bentrokan, menimbulkan pertanyaan: benarkah semua ini terjadi karena kenaikan tarif 20 sen? Banyak yang sudah menanyakan hal ini kepada dirinya sendiri. Jawabanku adalah, “Tidak, semua ini bukan hanya karena 20 sen”.

Rakyat Brazil Turun ke Jalan

“Kalau Tarif Tidak Turun Maka Kota akan Mogok!”

Brazil masih merupakan negara miskin, dihuni oleh populasi rakyat yang umumnya miskin sesuai dengan standar global. Upah minimumnya meskipun mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir, masihlah rendah, yaitu sebesar R$ 678, padahal biaya hidup satu orang saja minimal sebesar R$ 400 per bulan, dan ini sebenarnya bukan biaya hidup yang layak. Kalau kita juga menghitung pengeluaran untuk pangan, perlengkapan, transportasi umum, telepon genggam, asuransi kesehatan, maka per bulan bisa mencapai R$ 1.195.

Banyak pekerja tinggal jauh dari tempat kerja, artinya mereka harus membeli banyak karcis untuk pulang-pergi. Uang sebesar R$ 20 sen di akhir bulan bisa jadi perbedaan besar antara makan atau tidak makan. Sejumlah buruh yang dibayar rendah bahkan mengaku bahwa akibat kenaikan tarif bus, mereka jadi terpaksa tidur tanpa makan lebih sering daripada sebelumnya.

Meskipun demikian, pergolakan ini tidak dimulai karena 20 sen ini dan tidak akan berakhir meskipun tarif kembali diturunkan. Sama seperti gerakan Taman Gezi di Istanbul yang tidak meletus murni akibat keputusan pembangunan mall, atau seperti demonstrasi di Tunisia, yang tidak disebabkan murni karena Muhammad Bouazizi bunuh diri, begitu pula di Brazil tak ada yang berdemonstrasi murni hanya karena 20 sen. Semua perlawanan ini memiliki sebab-sebab mendalam yang sama, yang menumpuk selama bertahun-tahun, yang diikuti peristiwa simbolis yang memicu percikan api pembakar perlawanan.

Seperti berbagai negara hari ini, Brazil tengah mengalami perang saudara antara negara melawan rakyat. Perang ini, sampai beberapa minggu lalu, berlangsung hampir tanpa suara; sebaliknya berlangsung secara lebih tenang daripada saat ini. Selama lebih dari seabad, Brazil diperintah oleh para politisi yang menarget pendapatan dari pajak-pajak yang dibayarkan warga negaranya—yang mereka anggap mereka wakili. Seluruh negara dikuasai oleh kelompok tertentu atau dinasti politik, keluarga yang sebelum dilantik dan menjabat, sudah menjadi tuan tanah-tuan tanah feodal, dengan silsilah keluarga yang sama tuanya dengan kedatangan bangsa Portugis di Brazil. Di Brazil, kaum penindas hari ini masih sama dengan kaum penindas di masa depan.

Fondasi Brasilia di tahun 1960 tidak meningkatkan apa pun. Kenyataannya, jalan-jalan dari ibu kota lama Rio de Janeiro ke ibukota baru di tengah negeri, direncanakan dan dibangun dalam kurun waktu lima tahun, suatu bentuk pendewaan modernitas, yang diteguhkan kembali melalui politik Brazil yang menjijikkan. Rio de Janeiro adalah pusat kosmpolitan di hari-hari itu, dihuni lebih dari sejuta penduduk, jantung gerakan buruh dan gerakan rakyat. Brasilia, sebaliknya, merupakan ibukota buatan, yang tidak memiliki populasi sama sekali sebelum ia berdiri; dan meskipun ini mulai berubah seiring waktu, Brasilia tetap lebih banyak dihuni oleh kumpulan birokrat yang tidak akan sering-sering mengkritik pemerintahan, karena mereka juga bergantung kepadanya dan dibayar tinggi olehnya. Tak ada metropolitan lain di Brazil yang memiliki kepentingan politik dan mayoritas terlalu jauh dari Brasilia untuk bepergian kesana dan menunjukkan kemarahan mereka pada Presiden.

Brazil kini tengah mengalami suatu momen istimewa. Beberapa program politik yang diterapkan dengan baik selama satu dasawarsa telah membawa hasil menakjubkan: kesenjangan ekonomi—kanker sesungguhnya di Brazil—telah dikurangi secara menyolok. Program Bolsa Familia juga berhasil mengurangi kemiskinan dan investasi di pendidikan untuk kaum miskin termasuk minoritas etnis telah menunjukkan hasil yang menggembirakan.

Namun protes dan demonstrasi ini bukanlah menentang semua pencapaian dan keberhasilan demikian. Sebaliknya semua pencapaian terkini di bawah administrasi PT (Partido dos Trabalhadores atau Partai Buruh) harus dilindungi dan diperluas bila kita ingin menciptakan suatu tatanan masyarakat dengan lebih sedikit kemiskinan dan penindasan akibat kekuatan-kekuatan penindas dari masa lalu, seperti tuan tanah-tuan tanah feodal dari dinasti Sarney. Hal ini bukan sekedar tentang memprotes melawan pemerintahan PT, melawan Presiden Dilma, atau melawan Geraldo Alckmin, Fernando Haddad or Eduardo Paes. Hal ini adalah tentang membebaskan negeri dari sisa-sisa kediktatoran dan otoriterisme yang masih bercokol.

Bila, di akhir protes-protes ini, kelas politik Brazil—suatu kelas tersendiri lebih dari kelas lainnya—dan tentara Kapitalis Crétins yang memperkaya diri mereka bukan lewat kerja tapi melalui lobi-lobi dan koneksi-koneksi pribadi, elit media massa yang melacurkan diri demi borjuasi, serta para polisi yang membunuh tanpa pikir dua kali, bilamana semua penindas ini disingkirkan dari kekuasaan dan dipaksa mengakui datangnya era demokrasi sejati, maka aku akan dengan senang hati membayar 20 sen untuk karcis bus.

Kongres Demonstran

Revolusioner Bohemian Borjuis Brazil?

Inilah hal yang membuat penasaran: Di Brazil, demonstrasi sering dipandang suatu hal milik “bo-bos”, hiburan bagi anak-anak kaya yang tidak punya kegiatan produktif, sebagai suatu alasan untuk mencat wajah dan berteriak di jalanan. Kalau demonstrasi-demonstrasi terlihat seperti ini, maka itu karena hal itu, dalam beberapa tingkatan, memang benar. Mayoritas orang yang berpartisipasi dalam demonstrasi memang secara efektif adalah para pemuda dari keluarga kaya (kadang sangat kaya) yang memiliki pandangan politik kiri, sesuatu yang sebenarnya sangat aneh bila melihat kelas sosial mereka. Kombinasi aneh dari yel-yel demonstrasi yang terinspirasi gerakan buruh abad 20 dan penampilan demonstran yang sama sekali tidak mirip buruh seringkali jadi bahan olok-olokan media massa. Perspektif ini berujung internalisasi oleh mayoritas penduduk Brazil, suatu negeri dengan sinisme fatalistis yang telah diangkat ke tingkat seni.

Namun ini situasi menariknya: ketika aku bergabung dalam demonstrasi “Gerakan 20 Sen” (penggunaan nama ini tampaknya, pada saat itu, lebih praktis daripada “Gerakan Mengurangi Tarif Bus Sebesar 20 Sen Lagi”), kami berhenti dekat Central do Brasil, stasiun kereta terkenal yang mungkin kalian kenal dari film berjudul sama. Demonstrasi hingga titik ini sepenuhnya berjalan damai, benar-benar pesta demokrasi yang sejati. Mayoritas kami, pada kenyataannya, adalah mahasiswa dari keluarga berkecukupan, namun kami sudah bisa melihat bahwa gerakan ini memiliki basis sosial yang lebih heterogen: kami juga terdiri dari orang-orang dari profesi independen, kaum pensiunan, dan buruh miskin di antara kami yang kecewa dengan peningkatan tarif ini. Sangat jarang demonstrasi di Rio de Janeiro bisa menarik lebih dari 200 orang namun kali ini demonstrasi bahkan berhasil mengumpulkan dua ribu orang yang terdiri dari kelas-kelas sosial yang berbeda. Aku kemudian mulai menyadari bahwa ada yang berbeda kali ini. Kali ini rakyat Brazil bangun dari tidur panjang mereka dan kali ini mereka marah.

Situasi tenang tidak tinggal lama. Pasukan khusus dari kepolisian, membawa tameng, berseragam hitam, berwajah bengis, dan bersenjatakan “senjata yang tidak mematikan” (katanya), datang dan mulai membuat barikade di depan kami. Kami langsung berhenti. Nyanyian-nyanyian perjuangan tidak terdengar lagi. Situasinya menyerupai duel yang terjadi di film-film koboi. Tiba-tiba, sesuatu terjadi, massa keluar dari Central do Brasil dan menggabungkan diri ke dalam demonstrasi. Mereka adalah pedagang kaki lima, penjual gorengan, ibu-ibu beranak empat, anak-anak jalanan, bahkan gelandangan dan pengemis juga ikut serta. Kaum miskin, kaum paling miskin dari kota Rio, datang bersama dan menempatkan dirinya tepat di antara kami dan barisan polisi. Beberapa menit kemudian, polisi huru-hara melepaskan tembakan pada kami. Empat puluh orang ditangkap, dan banyak diantaranya adalah kawan-kawan dekatku. Saat aku tengah lari dari represi polisi dan mencoba bersembunyi di halte terdekat, aku lihat ada orang yang menangis kesakitan. Dia yang bersimbah darah ini korban senjata yang katanya tidak mematikan.

Represi Polisi Sao-Paulo

Represi: Rontoknya Topeng Demokrasi

Pemandangan-pemandangan demikian terus terulang berkali-kali, di semua tempat dimana rakyat memiliki keberanian angkat suara melawan keputusan yang berakibat pada mayoritas penduduk yang diambil tanpa berdiskusi dan melibatkan rakyat terlebih dahulu. Suatu cara otoriter dalam berpolitik, dan suatu jenis politik yang hanya tertarik untuk menguntungkan kartel perusahan-perusahaan bus, yang terkenal koneksinya dengan kampanye-kampanye Walikota Rio dan tokoh-tokoh penting lainnya. Di atas semua ini yang bertanggung jawab adalah pemerintahan federal yang menyandera rakyat demi kepentingan perusahaan-perusahaan swasta yang dibiayai oleh uang rakyat. Hasilnya adalah: layanan yang buruk, tingginya tarif, dan meletusnya perlawanan.

Di São Paulo, para polisi bahkan menembaki para demonstran yang hanya membawa bunga. Hanya beberapa hari kemudian, mereka mulai mengeluarkan larangan bagi orang yang membawa cuka hanya karena cuka bisa digunakan untuk melawan efek gas air mata. Bahkan aparat kepolisian melakukan penyisiran dan penggeledahan terhadap orang-orang yang diduga membawa cuka. Di Minas Gerais, semua demonstrasi juga dilarang selama Piala Konfederasi FIFA 2013. Parahnya terdapat proyek yang didiskusikan di Kamar Deputi yang membahas bahwa semua demonstrasi yang dilakukan selama Piala Dunia 2014 akan dianggap sebagai tindakan terorisme dan akan dihukum sama dengan para teroris.

Sementara itu di Rio de Janeiro menjelang konforntasi baru dengan kepolisian pada 16 Juni di dekat Stade du Maracanã, beberapa demonstran berusaha kabur dan menghindari bentrokan dengan cara bersembunyi di rumah teman-temannya. Para polisi bereaksi dengan menyerbu masuk ke rumah-rumah tersebut dan memperlakukan mereka seperti penjahat kambuhan. Aksi-aksi penyerbuan polisi yang brutal macam ini jelas menunjukkan bahwa topeng demokrasi mulai rontok dan akar otoriter bangunan politik makin menampakkan wajah sesungguhnya sekali lagi. Akar ini berasal dari komporomi dengan kediktatoran militer dari tahun 1964 hingga 1985 yang berakhir dengan mendekatnya mereka yang dulu memperjuangkan demokrasi, ke sisi tokoh-tokoh otoritarian tua.

Aliansi simbolis antara Lula, pahlawan gerakan buruh di masa 70an dan 80an, serta Paulo Maluf, calon presiden dari rezim militer yang hampir mati, menunjukkan bahwa kelas politik hanya tertarik pada kekuasaan itu sendiri dan tidak memiliki program politik yang bisa ditawarkan. Namun terima kasih kepada mereka dan anjing-anjing penjaga di dalam aparat kepolisian “Gerakan 20 Sen” kini menjadi gerakan yang membuat kami bisa mengatakan apa yang kami pikirkan, menegaskan apa yang benar untuk dikatakan bahwa kita ingin hidup dalam demokrasi sejati.

Represi Polisi Brazil

Inilah yang terjadi di Brazil. Namun hal ini tidak hanya berhenti di perbatasan kita—ini adalah perjuangan global, melawan semua diktator, baik mereka yang muncul dari Partai Persatuan, dari Moscow, ataupun dari Ibukota kita. Dunia kita saling tergubung dan begitu pula perlawanan global melawan mereka yang percaya bahwa mereka bisa menguasai kita dengan perintah-perintah mereka. Saat ini sedang musim dingin di Brazil namun kita tengah memasuki musim semi perlawanan dan gerakan rakyat melawan ketidakadilan yang makin meluas. Aku harap musim semi ini akan terus berlangsung—kalau tidak, musim ini akan jadi musim semi terakhir sebelum musim dingin abadi.

*Tulisan ini adalah karya Franco A., mahasiswa  S1 Hubungan Internasional Universitas Katolik Pontifical Rio de Janeiro. Artikel ini ditulis pertama kali dalam bahasa Perancis dan dipublikasikan pertama kali oleh Truth Is A Beaver. Diterjemahkan oleh Bumi Rakyat dari versi bahasa Inggris yang dimuat di majalah ROAR.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: