Kamerad Clara

Kamerad Clara

Hari ini, 20 Juni tepat delapan puluh tahun sudah berlalu semenjak kematian Clara Zetkin. Meskipun namanya tidak dikenal sebesar nama Vladimir Lenin ataupun Rosa Luxemburg. Namun Clara adalah seorang perempuan sosialis yang berperan penting dalam gerakan kelas buruh, baik di Jerman maupun di tataran internasional, termasuk dalam gerakan perjuangan pekerja perempuan.

Clara Zetkin awalnya terlahir dengan nama Clara Eissner. Dia berasal dari Wiederau, kampung petani di Saxony, Jerman. Bapaknya adalah kepala sekolah dan ibunya adalah ibu rumah tangga. Awalnya Clara belajar agar bisa menjadi guru sekolah namun pada umur 17 tahun ia malah tertarik ke dalam arus gerakan buruh dan perjuangan perempuan. Empat tahun kemudian dia resmi bergabung dengan Partai Pekerja Sosialis (SAP) yang mana merupakan partai hasil merger antara Asosiasi Pekerja Umum Jerman (ADAV) dan Partai Pekerja Sosial Demokratis Jerman (SDAP). Kelak di tahun 1890 SAP ini berganti nama menjadi Partai Sosial Demokratis Jerman (SPD).

Dari tahun 1895, ia menjabat sebagai anggota Eksekutif Nasional Partai Sosial Demokrat (SPD) Jerman sekaligus sebagai salah satu aktivis yang mewakili tendensi sayap kiri dalam SPD. Clara juga merupakan aktivis Serikat Buruh Penjilidan Buku di Stuttgart serta turut terlibat dalam pengorganisiran Serikat Penjahit dan dipilih sebagai Sekretaris Internasional pada 1896. Padahal saat itu perempuan masih dilarang pemerintah menjadi anggota serikat buruh.

Berkembang dan menyebarluasnya wacana dan teori-teori perjuangan kelas pekerja, khususnya sosialisme, di Jerman tidak berjalan mulus dengan lama. Kekaisaran Bismarck makin bertindak represif dan memberlakukan larangan terhadap kegiatan-kegiatan kaum sosialis. Kondisi ini memaksa Clara melarikan diri ke Paris. Selama di Paris, ia kemudian turut berperan penting dalam pendirian kelompok sosialis bernama Sosialis Internasional (Internasional Kedua). Dalam Sosialis Internasional inilah, bersama kamerad-kamerad lain dari sayap kiri SPD, yaitu Rosa Luxemburg, Clara aktif dalam menentang tesis-tesis reformis Eduard Bernstein.

Clara juga terlibat aktif dalam perjuangan pembebasan perempuan. Bersama kawan-kawan sosialis dan kawan-kawan buruh perempuan, Clara gigih menuntut persamaan hak dan kesetaraan bagi kaum perempuan. Tidak hanya aktif dalam mengorganisir gerakan perempuan sosial demokratis di Jerman, pada 1891 Clara juga menerbitkan sekaligus menjadi editor surat kabar perempuan SPD bernama Die Gleichheit yang dalam bahasa Indonesia berarti “Kesetaraan”. Selanjutnya pada tahun 1907 Clara dipilih menjadi kepala “Kantor Perempuan” yang baru didirikan di SPD. Bersama kawan-kawan aktivis lainnya, Clara aktif dalam mempelopori “Hari Perempuan Internasional” pada 8 Maret 1910.

Sebagai Sekretaris Biro Internasional Perempuan Sosialis, Zetkin mengorganisir Konferensi Perempuan pada Maret 1915. Bersama dengan Alexander Kollontai, Zetkin memperjuangkan emansipasi tanpa batas dan menentang pandangan kaum feminis borjuis. Kaum feminis borjuis saat itu mendukung hak pilih berdasarkan kepemilikan pribadi atau berdasarkan pendapatan dan gaji sementara Clara dan kawan-kawan buruh serta aktivis sosialis memperjuangkan hak pilih agar diberikan juga pada semua perempuan tanpa terkecuali.

Bersama Rosa Luxemburg, Clara juga bahu-membahu dalam perjuangan sengit melawan revisionisme yang diakibatkan oleh pengaruh Karl Kautsky.

Ketika Perang Dunia I meletus, kelompok sayap kiri dalam SPD gigih menentang perang tersebut karena perang itu tidak lain dan tidak bukan adalah perang imperialis. Dalam perang imperialis, korban yang paling menderita adalah kelas pekerja. Kelas pekerja dipaksa dalam wajib militer, dikirim ke medan perang, saling bunuh membunuh dengan kelas pekerja lainnya, yang sama sekali bukan kepentingannya melainkan kepentingan kelas penguasa. Celakanya, bukannya menyadari kenyataan ini, para pimpinan SPD malah mendukung kebijakan perang pemerintah dan memperkuatnya dengan menyetujui bahwa SPD dan serikat-serikat buruh yang berafiliasi dengan SPD tidak akan melancarkan pemogokan sama sekali selama perang berlangsung. Merespon hal ini, Clara bersama kawan-kawan sayap kiri lainnya mengorganisir gerakan-gerakan anti-perang, bahkan mereka juga sempat menyelenggarakan Konferensi Perempuan Sosialis Internasional Menentang perang di Berlin pada 1915. Sebagai akibatnya Clara dan kawan-kawannya berulangkali ditangkap dan dipenjara.

Akhirnya pada tahun 1916 Clara bersama Rosa Luxemburg, Karl Liebknecht, dan kawan-kawan sosialis lainnya mendirikan Liga Spartakis dan Partai Sosial Demokratis Jerman Independen (USPD) yang pecah dari SPD. Tiga tahun kemudian setelah meletusnya Revolusi Jerman yang menggulingkan kekaisaran Jerman dan mendirikan republik Weimar, ketiganya kemudian turut menjadi salah satu pendiri Partai Komunis Jerman (KPD) pada tahun 1918.

Dua tahun kemudian Clara terpilih sebagai delegasi yang diutus ke Reichstag, suatu badan legeslatif yang mewarisi peran dan tugas yang sebelumnya dijalankan oleh Majelis Nasional Weimar. Tahun 1919 Clara dipercaya menjabat sebagai salah satu anggota Komite Eksekutif Komunis Internasional (Komintern).

Clara menjadi anggota Kantor Pusat KPD hingga tahun 1924. Selanjutnya selama 1927 hingga 1929, Clara dipercaya dan dipilih sebagai anggota Komite Sentral KPD. Kemudian pada tahun 1925 ia juga dipilih sebagai presiden organisasi solidaritas kiri Jerman, Rote Hilfe. Mengetahui adanya bahaya fasisme, pada Agustus 1932, Clara yang saat itu menjabat sebagai Ketua Perempuan Reichstag dari segi senioritas, mengeluarkan seruan untuk melawan Nasional Sosialisme atau NAZI.

Sayangnya perlawanan ini tidak berhasil, baik karena pengkhianatan kaum sosial demokrasi di satu pihak dan serangan kaum stalinis di pihak lain. Sehingga Adolf Hitler bersama Partai NAZInya malah berkuasa. KPD akhirnya dilarang seketika. Dalih pelarangan ini diperkuat dengan peristiwa kebakaran Reichstag pada 1933. Hitler menuduh bahwa kaum komunis Jerman lah pelaku pembakaran tersebut padahal sesungguhnya orang-orang NAZI pula pelakunya. Kaum komunis Jerman akhirnya tiarap dan bergerak di bawah tanah sedangkan sebagian lainnya terpaksa melarikan diri keluar negeri, termasuk Clara yang melarikan diri ke Uni Soviet. Tak lama kemudian Clara akhirnya meninggal pada 20 Juni 1933, di tahun yang sama di Arkhangelskoye, dekat kota Moscow. Jenazahnya dikuburkan di dinding Kremlin di Moscow.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: