Puluhan Ribu Rakyat-Pekerja Bulgaria Menentang Neoliberalisme

Puluhan Ribu Rakyat-Pekerja Bulgaria Menentang Neo-Liberalisme

Jumat 28 Juni 2013, puluhan ribu rakyat Bulgaria tetap bertahan berunjuk rasa di depan gedung parlemen Bulgaria sejak 17 Juni 2013[1]. Mereka memprotes penunjukan Deylan Peevski, seorang kapitalis media massa, sebagai Kepala Dinas Keamanan Nasional Negara (DANS)[2] semacam Badan Intelijen Nasional (BIN) atau Central Intelligence Agency (CIA) versi Bulgaria.

Pelantikan Peevski

Demonstrasi ini sebenarnya dimulai pertama kali pada 28 Mei 2013 dan berkembang pesat pada 14 Juni. Awalnya aktivis lingkungan dan aktivis hijau berunjukrasa menentang penunjukan Kalin Tiholov sebagai Menteri Perencanaan Investasi. Sebab Tiholov terlibat dalam skandal “Dyuni Gate” dimana sejak awal 2013 dia terlibat sebagai pemodal besar dalam pembangunan konstruksi ilegal yang melanggar lingkungan yang seharusnya dilindungi di pesisir Laut Hitam Bulgaria. Selain itu dia juga tersangkut skandal kontroversial dimana dia terlibat dalam proyek pembangunan Kotamadya Tsarevo yang melanggar batas-batas Uni Eropa serta dimana pembangunan tersebut juga akan melanggar wilayah Cagar Alam Strandzha[3]. Sebanyak 200an kaum demonstran berunjukrasa di Jembatan Elang, Sofia pada 28 Mei. Empat hari berikutnya demonstrasi berkembang menjadi skala nasional dimana massa aksi membesar hingga 2.000 orang di Sofia serta ratusan di kota-kota lain Bulgaria. Akibat protes ini Tiholov kemudian mengundurkan diri. Namun protes ini kemudian membuka berbagai isu lainnya seperti pengaktifan kembali Reaktor dan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Belene dan pembangunannya di daerah yang sebenarnya harus dilindungi.

Isu-isu dalam aksi kemudian berkembang semakin politis sering penunjukan Deylan Peevski sebagai Kepala DANS yang baru. Peevski selain merupakan anggota partai Gerakan Hak dan Kebebasan (DPS) juga adalah seorang konglomerat media massa di Bulgaria, pemilik perusahaan Alegro Capital LTD yang juga menguasai jaringan TV7[4]. Dia dan keluarganya menguasai 80% media massa di Bulgaria serta tidak memiliki pengalaman dan pengetahuan sama sekali dalam hal keamanan. Klaim kabinet baru sebagai kabinet Teknokrat tidak lebih sebagai omong kosong belaka.

Pengangkatan Peevski disetujui oleh parlemen Bulgaria hanya dalam kurun waktu satu jam sejak dicalonkan koalisi pemenang pemilu: DPS dan Partai Sosialis Bulgaria (BSP). Pencalonan Peevski sontak memicu protes di seluruh negeri pada malam itu pula dimana pengorganisirannya dibantu banyak oleh media jejaring sosial[5]. Meskipun BSP berkilah bahwa penunjukan Peevski dilakukan secara spontan namun laporan investigasi yang diturunkan majalah Capital mengungkap bahwa lobi pencalonan Peevski sudah dilakukan lama sebelum koalisi DPS dan BSP berkuasa dan membentuk kabinet. Dalam laporannya diungkapkan bahwa empat hari sebelum penunjukan kontroversial parlemen terhadap Delian Peevski sebagai kepala DANS, Peevski diberi ijin untuk mengakses semua informasi tertutup yang masuk kategori “rahasia negara” dan “sangat rahasia”[6].

Kemarahan publik diperparah oleh kenyataan bahwa selama beberapa hari dan beberapa pekan menjelang penunjukan Peevski, parlemen telah mengesahkan berbagai perubahan besar dalam struktur DANS yang memberikan kekuasaan makin besar. Perubahan itu antara lain meliputi:

  1. Mengeluarkan DANS dari struktur Kementerian Dalam Negeri dan menempatkannya di bawah pengawasan langsung Kabinet
  2. Mengeluarkan Direktorat Anti Kejahatan Terorganisir dari Kementerian Dalam Negeri dan menempatkannya langsung di bawah kontrol DANS
  3. Mengambil alih hak presiden untuk menunjuk Kepala DANS[7]

Protes terus berlanjut dengan jumlah demonstran yang semakin bertambah. Meskipun Peevski menulis bahwa pada 15 Juni dia akan mengundurkan diri, aksi protes ini berkembang dari ketidakpuasan umum rakyat Bulgaria terhadap pemerintahan secara keseluruhan.

Bagaimanapun juga kita tidak boleh tertipu dengan label dan penggunaan kosakata di kalangan partai dan politisi dari atau terkait Bulgaria seperti Partai Sosialis Bulgaria, Partai Sosialis Eropa, karena mereka sebenarnya mewakili spektrum politik sosial demokrasi yang menolak perjuangan kelas pekerja, mendukung reformasi, menentang revolusi, serta menerima kapitalisme.

Namun berbeda dengan partai buruh di Inggris, Australia, Israel, dan lainnya, yang mana basis materialnya tumbuh akibat negosiator serikat buruh yang bekerja penuh waktu mengalami kedekatan akibat negosiasi dan jamuan yang dinikmati akibat kesepakatan-kesepakatan dengan kapitalis, sosial demokrasi di Bulgaria tumbuh akibat menyusutnya kekuatan represif kaum Stalinis yang berkuasa atas nama Komunisme pada tahun 1989 menjelang bubarnya Uni Soviet. Kombinasi demoralisasi, oportunisme, dan revisionisme kaum Stalinis Bulgaria kemudian semakin bergerak ke jalur sosial demokrasi yang bermuara pada pembentukan BSP. BSP meskipun berbeda akar sejarahnya, namun memiliki karakter kelas yang sama dengan Partai Buruh di Inggris, Australia, dan sebagainya, yaitu partai buruh borjuis. Partai yang memiliki basis buruh namun dikuasai para pimpinan yang borjuis.

Aksi Anti-Oligarki Sebagai Bagian Aksi Anti Neo-Liberalisasi

Aksi demonstrasi menentang oligarki sekaligus persekongkolan antara birokrat politisi dengan kaum kapitalis Bulgaria ini tak terpisahkan dari gelombang aksi anti neo-liberalisasi di Bulgaria yang bangkit sejak 28 Januari 2013 lalu dan berhasil menumbangkan kabinet sebelumnya pada 20 Februari 2013.

Latar belakang pemicu aksi adalah kenaikan tarif listrik yang sangat membebani rakyat pekerja Bulgaria. Sama seperti aksi massa di Turki dan Brazil, aksi ini kemudian mengalami perkembangan tuntutan secara ekonomi-politis. Massa rakyat menyadari bahwa beban hidup akibat kenaikan tarif listrik tak terpisahkan dari kenyataan dimana penguasaan sektor swasta terhadap sektor vital (termasuk sektor energi) telah menggurita dan bertemu dengan kuatnya oligarki antara politisi borjuis dengan kaum kapitalis[8]. Lengkap dengan korupsi di pemerintahan, kebijakan pengetatan anggaran, serta tingginya angka pengangguran, yang makin mendorong rakyat pekerja di Bulgaria untuk turun ke jalan. Aksi ini bahkan makin berkembang serta kembali menggaungkan seruan agar sektor-sektor ekonomi strategis dinasionalisasi[9].

Distribusi tenaga listrik di Bulgaria sebenarnya dikelola oleh negara. Sayangnya hal ini berubah pada tahun paruh pertama dekade 2000an ketika Bulgaria turut terkena gelombang neo-liberalisme. Neo-liberalisme di Bulgaria salah satunya dijalankan dengan privatisasi sektor energi. Pemerintah Bulgaria pada tahun 2004 memutuskan bahwa 67% distribusi tenaga listrik dijual ke tiga perusahaan asing yaitu E.ON dari Jerman, EVN Group dari Austria, serta ČEZ Group dari Ceko[10]. Enam tahun kemudian, E.ON menjual bagian dari cabang Bulgarianya ke Energo-Pro, suatu perusahaan swasta sektor energi dari Ceko. Setahun berikutnya, pemerintah Bulgaria menjual saham-sahamnya ke CEZ. EVN, ČEZ, dan Energo-Pro beroperasi sebagai perusahaan swasta yang memiliki monopoli regional di bawah pengawasan Komisi Pengaturan Energi dan Air Negara (SCEWR). Negara juga menjual infrastruktur distribusi tenaganya ke distributor-distributor swasta tersebut, sehingga negara sama sekali tidak memiliki kontrol manajemen laba atau penghasilan.

Hal ini diperparah dengan banyaknya keluhan dari warga Sofia terhadap Penyedia Pemanas tingkat Distrik yaitu Toplofikatsiya Sofia yang memonopoli distribusi pemanas di kota Sofia[11]. Keluhan yang berlangsung selama bertahun-tahun ini disebabkan perusahaan hanya mencatat kalorimeter selama setahun sekali serta sisanya hanya diukur dengan menggunakan “perkiraan-perkiraan”. Formula rumit dan ilegal yang digunakan perusahaan untuk menghitung tagihan serta diperparah dengan minimnya akuntabilitas dan praktek firma-firma akuntasi pemanasan yang bertindak sebagai penengah antara Toplofikatsiya dan para pelanggannya semakin menumbuhkan rasa kekecewaan dan kemarahan di kalangan warga Sofia.

Pada waktu yang bersamaan, Bulgaria menerapkan pengembangan massif di pasar energi terbaharukan[12]. Pertumbuhan di sektor tersebut melampaui perkiraan-perkiraan sebelumnya bahkan meningkatkan beban listrik selama beberapa tahun belakangan. Sejak tahun 2005, tarif-tarif listrik untuk pelangan-pelanggan industri, berikut disertai dengan perlengkapan lain, telah melonjak dua hingga tiga kali. Pada tahun 2011, SCEWR menolak permintaan-permintaan dari perusahaan-perusahaan pemonopoli regional untuk menaikkan tarif listrik namun serangkaian kenaikan harga secara signifikan terjadi di tahun 2013 sebagai akibat penerapan tagihan-tagihan energi terbaharukan. SCEWR juga meningkatkan ongkos transmisi tenaga sebesar 50% dalam upayanya untuk mengendalikan produksi energi hijau. Tindakan-tindakan ini berakibat jatuhnya ekspor listrik dan penarikan proyek-proyek investasi namun harga-harga tetap mengalami kenaikan secara perlahan di bulan-bulan berikutnya. Inflasi yang menyusul kemudian terjadi disebabkan kenaikan biaya-biaya produksi yang merupakan kenaikan tertingga dalam empat tahun terakhir.

Tagihan-tagihan listrik adalah salah satu pengeluaran utama yang membebani rakyat Bulgaria. Para analis lokal memperkirakan bahwa dengan kenaikan biaya hidup maka hampir 100% pendapatan bulanan rata-rata rumah tangga Bulgaria akan digunakan untuk membiayai perlengkapan, pangan, transportasi, kesehatan, dan pendidikan. Saat ini saja sudah 85% pendapatan bulan rumah tangga yang digunakan untuk menanggung kebutuhan-kebutuhan dasar. Harga-harga di Bulgaria jumlahnya 49% rata-rata Uni Eropa. Sedangkan pada saat yang bersamaan upah rata-rata rakyat pekerja Bulgaria sepuluh kali lebih rendah di antara negara-negara anggota Uni Eropa, sebesar 310 leva (159 euro), atau 1 euro per jam. Sebanyak 22% tenaga kerja diupah dengan upah minim. Selama tiga tahun belakangan, nyaris tidak ada kenaikan pendapatan sementara harga barang-barang telah naik secara signifikan. Tindakan-tindakan pengetatan anggaran yang didorong oleh Uni Eropa serta IMF selama resesi telah menyebabkan malapetaka sosial menurut Konfederasi Serikat Buruh Internasional. Pemerintahan saat itu di bawah pimpinan Perdana Menteri Boyko Borisov, secara keras menerapkan tindakan-tindakan pengetatan anggaran dan stabilitas finansial namun di saat yang bersamaan juga menunda pembayaran negara ke prusahaan-perusahaan swasta serta dikritik telah menumbuhkan dan memperparah korupsi, membatasi kebebasan pers, meningkatkan otoritarianisme politik, dan stagnansi ekonomi. Akibatnya dukungan bagi orisov dan Partai Warga Pembangunan Eropa dan Bulgaria (GERB) semakin menurun sejak tahun 2010.

Rakyat Pekerja Bulgaria Merespon dengan Aksi Massa

Aksi Massa Bulgaria

Akhir Januari 2013, demonstrasi muncul di Blagoevrad setelah warga menerima tagihan listrik yang dua kali lebih mahal dibandingkan bulan sebelumnya. Kaum demonstran yang berunjuk rasa di jalanan kemudian membakar tagihan mereka secara simbolis. Salah seorang demonstran menjelaskan bahwa tagihannya mencapai 310 leva yang mana 128 leva diantaranya merupakan konsumsi listrik serta sisanya adalah berbagai tarif dan pajak.

Selanjutnya pada 10 Februari, demonstrasi serupa bermunculan di Sofia, Plovdiv, Varna, Burgas, Ruse, Veliko Tarnovo, Shumen, Blagoevgrad, Sandanski, Silistra, Yambol, Gotse Delchev, Belene, Montana, Pazardjik, Dobrich, dan Kardzhali. Hari yang bersamaan, dua kendaraan EVN dibakar di Plovdiv. Kaum demonstran di Sofia berkumpul di depan Kementerian Ekonomi, Energi, dan Pariwisata serta melemparkan bola-bola salju ke Menteri Delyan Dobrev. Salah seorang demonstran sempat ditikam di Varna pada 13 Februari 2013. Selain itu pemerintah daerah di Kraneco juga menyuarakan ketidakpuasan atas kenaikan tarif listrik setelah jasa-jasa komunal mengalami kenaikan harga dua kali dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya. Walikota Kranevo mengatakan bahwa banyak daerah mengalami permasalahan serupa serta desanya bukanlah pengecualian.

Selama pertengahan Februari puluhan ribu rakyat turun ke jalan, menuntut nasionalisasi aset-aset regional yang telah dikuasai dan dimonopoli  pihak swasta, menuntut penghapusan subkontraktor, menuntut  agar distribusi dan penyaluran energi dikelola NEK EAD (Perusahaan distribusi listrik yang dimiliki negara), serta menuntut pengungkapan semua kontrak antara negara dan perusahaan-perusahaan energi, berikut peraturan-peraturan penggunaan panas dan energi pendukung liberalisasi.

Pada 17 Februari, demonstrasi berskala nasional menentang monopoli swasta muncul dan menggerakkan 10.000 rakyat untuk turun ke jalan di Plovdiv serta sebanyak 8.000 hingga 30.000 di Varna kota-kota lainnya, dengan jumlah total 100.000 rakyat Bulgaria dari 35 kota ikut berpartisipasi dalam demonstrasi. Jalur-jalur sepeda motor dan rute-rute transportasi di Bulgaria diblokade oleh kaum demonstran. Bentrokan akhirnya tak terhindarkan ketika aparat dikerahkan dan demonstran melawan balik dengan melempar batu, botol, bahkan telor. Rakyat pekerja yang turun ke jalan meneriakkan slogan menentang persekutuan mafia dan negara serta menuntut pemerintah untuk mundur bahkan mengeluarkan ultimatum seminggu bagi pemerintah untuk merespon tuntutan mereka. Bentrokan lain juga muncul di dekat markas CEZ di Sofia.

Aksi massa demonstrasi kembali meletus di sepenjuru negeri Bulgaria pada 18 Februari. Beberapa daerah seperti di Sofia, demonstrasi berkembang menjadi perlawanan sipil bahkan kaum demonstran sempat berupaya menyerbu Majelis Nasional. Namun barisan demonstran dipukulmundur sampai Jembatan Elang, yang mana merupakan titik permulaan demonstrasi, dan setelah tuntutan mereka untuk ditemukan dan berunding dengan perwakilan pemerintah tetap tidak dijawab, barisan demonstran kemudian bergerak menuju Istana Nasional Kebudayaan. Bentrokan kembali muncul antara kaum demonstran dengan polisi dan gendarmarie (semacam polisi militer dan brigade mobil) serta mengakibatkan dua polisicedera dan enam kendaraan patroli rusak, dan sebelas orang ditangkap. Sementara itu di Veliko Tarnovo bahkan ada pria yang membakar dirinya sendiri dan kemudian meninggal di rumah sakit. Hari yang bersamaan, Perdana Meneteri Boyko Borisov kemudian memberhentikan Menteri Keuangan Simeon Dyankov namun kemarahan rakyat tidak sedikitpun tersurutkan. Dyankov sendiri sangat tidak disukai baik karena tabiatnya yang kasar maupun kekeraskepalaannya dalam memaksakan tindakan-tindakan pengetatan anggaran.

Kemudian pada 19 Februari, bertepatan dengan 140 tahun eksekusi Vasil Levski, pejuang kemerdekaan Bulgaria, kembali meletus bentrokan antara kaum demonstran dengan polisi di Sofia. Sebanyak tujuh orang, termasuk dua petugas Gendarmerie, cedera akibat upaya polisi menyerbu kaum demonstran di Jembatan Elang. Sementara itu Presiden Rosen Plevneliev yang menyampaikan pidatonya di Monumen Levski menuai cemooh dan terikan “huu”. Pertama kalinya terjadi di sejarah Bulgaria, rakyat sipil hari itu dilarang meletakkan bunga di monumen tersebut. Hari itu jumlah demonstran di Varna mencapai 8.000 orang.

Selanjutnya pada 20 Februari, Boyko Borisov mengumumkan bahwa dia bersama kabinetnya akan mengundurkan diri. Pengunduran diri ini kemudian disetujui melalui voting di Parlemen dimana sebanyak 209 anggota parlemen menyetujui dan hanya lima suara yang menolak. Sedangkan di luar gedung parlemen, massa yang dicurigai sebagai massa bayaran pendukung Borisov dan pemerintahan menggelar demonstrasi tandingan meskipun hal ini disanggah oleh pihak koalisi yang saat itu masih berkuasa.

Aksi Massa Pasca Pengunduran Diri

Tua Muda Beraksi Massa di Depan Parlemen Bulgaria

Pasca pengunduran diri perdana menteri dan kabinetnya secara resmi, rakyat Bulgaria membentuk berbagai Komite Aksi di berbagai penjuru negeri. Tiga hari berikutnya pada 23 Februari, para koordinator demonstrasi berkumpul di Sliven untuk mendiskusikan perkembangan gerakan serta tindakan-tindakan ke depan pasca pengunduran diri kabinet. Beberapa anggota partai yang ketahuan kemudian diusir dari pertemuan. Muncul tuntutan untuk mengubah sistem politik Bulgaria serta melarang semua partai politik yang berkuasa, penghapusan nilai pajak tambahan dalam produksi listrik, serta tuntutan nasionalisasi yang berkembang dari sekedar nasionalisasi terhadap perusahaan energi menjadi nasionalisasi terhadap semua sektor sumber daya alam dan sektor strategis. TIM, suatu perusahaan setengah legal, dilaorkan karena mengorganisir penyerbuan terhadap pertemuan komite aksi di Varna. Sementara militer Bulgaria mulai mengalami keretakan yang ditandai dengan bergabungnya “Legiun Rakovski”, organisasi perwira militer dan pendukung Tentara Bulgaria ke dalam demonstrasi.

Perwakilan Komite Aksi-Komite Aksi di Bulgaria tengah Berdiskusi

Demonstrasi juga mengalami internasionalisasi dimana para imigran dari Bulgaria yang berada di berbagai negara menggelar demonstrasi solidaritas serentak dengan massa aksi di Bulgaria pada 24 Februari. Sehingga aksi demonstrasi tidak hanya muncul di kota-kota besar Bulgaria namun juga di Wina, Munich, Paris, London, Barcelona, Düsseldorf, Frankfurt, Athena, Berlin, Madrid, Dublin, dan berbagai kota besar dunia lainnya. Kaum demonstran di luar negeri tersebut memobilisasi massa aksi untuk berunjukrasa di depan kedutaan dan konsulat Bulgaria.

Pasca pengunduran diri Boyko Borisov dari kursi perdana menteri beserta kabinetnya, Presiden Plevneliev mengajukan mandat pembentukan pemerintahan baru dalam masa jabatan Parlemen kepada GERB, BSP, dan DPS, namun ketiganya menolak. Presiden Plevneliev kemudian pada 13 Maret 2013 menunjuk pemerintahan penyelenggara dengan mengangkat Marin Raykov, duta besar Bulgaria di Paris untuk menjabat sebagai Perdana Menteri merangkap Menteri Luar Negeri. Marin Raykov bertugas sampai 29 Mei 2013 dan digantikan perdana menteri yang muncul dari pemenang pemilihan umum (pemilu) parlemen berikutnya pada 12 Mei 2013.

Pemilu Mei 2013 ini dimajukan dua bulan lebih cepat dari jadwal sebelumnya. Namun tingginya kekecewaan rakyat pada pemerintah dan kemarahan rakyat pada partai-partai yang ada, membuat pemilu kali ini merupakan pemilu yang paling rendah angka partisipasinya sepanjang sejarah Bulgaria dengan jumlah partisipan hanya mencapai angka 51,3% dari total pemilih[13]. Meskipun partai incumbent, partai GERB, menduduki jumlah suara tertinggi namun secara teknis tidak mencapai jumlah yang dibutuhkan untuk menjadi kekuatan mayoritas di parlemen. Sehingga GERB tidak bisa membentuk kabinetnya sendiri. Ini diperparah dengan sikap para pimpinan GERB yang kemudian menolak hasil pemilu. Mandat penunjukan Perdana Menteri kemudian diberikan Presiden kepada Plamen Oresharski, yang sebelumnya menjabat sebagai Menteri Keuangan dengan dukungan koalisi BSP dan DPS yang menggabungkan kekuatan mereka.

Pergantian pemerintahan dari kabinet lama ke kabinet baru hanya menunjukkan pergantian kepemimpinan namun tidak ada pergantian sistem. Hal ini diperparah dengan tidak adanya satu pun tuntutan rakyat pekerja Bulgaria yang disetujui pemerintah. Sebaliknya kabinet yang baru malah semakin membuka topeng demokrasinya dan menunjukkan wajah aslinya sebagai perselingkuhan antara politisi dengan kaum kapitalis.

Puluhan ribu rakyat Bulgaria yang turun ke jalan dan berpartisipasi dalam aksi massa adalah jawaban yang sangat menggembirakan. Angka sebesar itu adalah angka yang secara proporsional sangat besar mengingat populasi Bulgaria total sebesar 7.364.570 jiwa.[14]  Terutama Bulgaria jarang menyaksikan mobilisasi sosial dan demonstrasi jalanan. Kesadaran massa rakyat juga kian besar bahwa tidak ada solusi di bawah sistem ini dan tidak ada harapan di partai-partai borjuasi Bulgaria sama sekali.

Meskipun terdapat pasang surut antara Januari hingga Juni namun dinamika perjuangan rakyat Bulgaria menunjukkan harapan termasuk dengan terbentuknya komite-komite aksi dan pengaruh solidaritas internasional tidak hanya diantara rakyat Bulgaria di luar negeri namun juga dengan rakyat yang mengalami pergolakan sosial seperti di Turki, Brazil, dan lainnya. Apalagi gelombang aksi di Bulgaria sudah mempengaruhi negara-negara tetangganya seperti Slovenia Kita harapkan perjuangan rakyat pekerja Bulgaria sebagai bagian dari rakyat pekerja Eropa dan dunia terus maju dan menang melawan penindasan kapitalisme.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.


[1] The Washington Post, Protests in Bulgaria, Nikolay Doychinov, http://www.washingtonpost.com/world/protests-in-bulgaria/2013/06/28/d928ab00-e001-11e2-b2d4-ea6d8f477a01_gallery.html#photo=1, diakses pada 29 Juni 2013.

[2] Eastern Thoughts, #ДАНСwithme or why are Bulgarians protesting, soregashi, http://iliatemelkov.wordpress.com/2013/06/18/%D0%B4%D0%B0%D0%BD%D1%81withme-or-why-are-bulgarians-protesting/, diakses pada 20 Juni 2013.

[3] Novinite, Controversial Bulgarian Ministerial Nominee Withdraws amid Public Outcry, Sofia News Agency, http://www.novinite.com/view_news.php?id=150749, diakses pada 29 Juni 2013.

[4][4] John O’Brennan, The spirit of protest in Brazil and Turkey has now swept into Bulgaria – Tens of thousands of Bulgarians are voicing their anger over political corruption, abuse of power and economic hardship, The Guardian, http://www.guardian.co.uk/commentisfree/2013/jun/25/turkey-brazil-bulgaria-protest, diterbitkan Rabu 26 Juni 2013.

[5] Wikipedia, Protests against the Oresharski cabinet, http://en.wikipedia.org/wiki/Protests_against_the_Oresharski_cabinet.

[6] Capital, Peevski governed by tolerance outlaw – Since its first days government is applying the plan to install the son of Irena Kristeva in SANS, http://www.capital.bg/politika_i_ikonomika/bulgaria/2013/06/18/2084980_peevski_ureden_s_dopusk_izvun_zakona/, dipublikasikan 18 Juni

[7] Open Democracy, Ivan Krastev, Bulgaria, Protest for The Future, http://www.opendemocracy.net/ivan-krastev-centre-for-liberal-strategies/bulgaria-protest-for-future, dipublikasikan pada 25 Juni 2013.

[8] Al Jazeera, Maria Petkova, Protests in Bulgaria and the new practice of democracy, http://www.aljazeera.com/indepth/opinion/2013/02/201322163943882279.html, dipublikasikan pada 21 Februari 2013.

[10] Novinite, Rallies Call for Nationalization of Bulgaria’s Power Utilities by Febr 22, http://www.novinite.com/view_news.php?id=147917, dipublikasikan pada 17 Februari 2013.

[11] Ibid 9

[12] Reuters, Bulgaria cuts preferential prices for renewable energy, http://www.reuters.com/article/2012/06/29/bulgaria-renewables-cuts-idUSL6E8HP05S20120629, dipublikasikan 29 Juni 2013.,

[13] Wikipedia, Bulgarian Parliamentary Election, http://en.wikipedia.org/wiki/Bulgarian_parliamentary_election,_2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: