Revolusi dan Kontra Revolusi di Mesir

Revolusi dan Kontra-Revolusi di Mesir

Ahad, 30 Juni akan diingat sebagai titik tolak lain bagi Revolusi Mesir. Para penentang Presiden Muhammad Morsi dari Ikhwanul Muslimin turun ke jalan memperingati satu tahun kekuasaan Morsi di kursi kepresidenan dengan menuntut Morsi untuk mundur.

Mobilisasi massa 30 Juni ini merupakan puncak kampanye petisi “Tamarod” (Pemberontakan). Para aktivis menyatakan bahwa mereka telah mengumpulkan lebih dari 15 juta tanda tangan mendukung tuntutan agar Morsi mengundurkan diri. Jumlah ini lebih besar daripada jumlah pemilih Morsi dalam pemilihan umum presidensial tahun lalu. Kedua belah pihak menyatakan demonstrasi ini akan sebesar revolusi 2011 yang menggulingkan Hosni mubarak meskipun terdapat kekhawatiran di antara kaum aktivis bahwa para pendukung Morsi dan Ikhwanul Muslimin akan memprovokasi aksi kekerasan.

Sameh Naguib, salah satu pimpinan Sosialis Revolusioner di Mesir menulis artikel berikut yang menganalisis situasi politik di Mesir menjelang kampanye Tamarod, sebagaimana dimuat dalam Catatan Sosialis, jurnal politik mereka.

Krisis Kekuasaan Ikhwanul Muslimin

Ikhwanul Muslim berkuasa di tengah kondisi historis yang mereka sendiri tidak pahami. Kaum Ikhwanul Muslimin membayangkan bahwa demokrasi kotak suara adalah tujuan revolusi yang harus ditempuh. Mereka tidak memahami konteks sosial fundamental dan demokratis dari revolusi bersejarah yang besar ini.

Kompas mereka tidak menunjuk pada massa revolusioner tetapi kepada mereka yang memiliki kepentingan sama yaitu pengusaha Mesir, pejabat Amerika Serikat (AS), kaum bangsawan Timur Tengah. Mereka memang telah mampu meyakinkan ketiga pihak tersebut bahwa mereka mampu melindungi kepentingan yang sama sebagaimana rezim Mubarak sebelumnya sembari mencoba memuaskan rakyat Mesir dengan janji-janji palsu dan slogan-slogan semu berkedokkan agama.

Akibatnya mereka mencoba mengosongkan revolusi dari wataknya sosial dan demokratisnya demi menjaga kepentingan pihak-pihak yang takut terhadap revolusi. Dengan segera mereka berhadapan dengan perlawanan berjuta rakyat yang sebelumnya telah menggulingkan Mubarak dan menolak kooptasi. Janji-janji palsu penguasa yang baru tidak berarti apapun selain provokasi yang memicu kemarahan rakyat terhadap oportunisme Ikhwanul Muslimin dan pengkhianatan mereka terhadap revolusi.

Dua pilihan pahit terbentang di hadapan Ikhwanul Muslimin. Pertama membuat kesepakatan dengan sisa-sisa rezim lama dan kaum semi-oportunis di antara kaum liberal. Pilihan lainnya adalah membuat aliansi dengan kelompok-kelompok Salafi, termasuk akar-akar sisa mereka di Said, Mesir atas, dan di antara perkampungan kumuh perkotaan.

Sejak awal, Ikhwanul Muslimin telah mengambil langkah besar menuju pilihan pertama, dengan konsesi-konsesi yang tak ada bandingannya terhadap institusi-institusi militer dan keamanan, yang mana merupakan jantung dari rezim sebelumnya. Namun institusi-institusi tersebut menerima tawaran di atas dasar penilaian keliru terhadap kapabilitas Ikhwanul Muslimin untuk mengooptasi rakyat dan mengeringkan kemarahan revolusioner dengan cara memanipulasi pemilihan umum.

Bagaimanapun juga setelah mereka menemukan inkompetensi Ikhwanul Muslimin, mengetahui perubahan pesat kesadaran nasional melawan Ikhwanul Muslimin, menyadari cepatnya keruntuhan ekonomi melalui serangkaian kesalahan-kesalahan fatal kepemimpinan Ikhwanul Muslimin, maka mereka mulai mempertimbangkan ulang tawaran mereka. Hal ini tampak dalam kegoyangan, kontradiksi, dan tegangan dalam pernyataan-pernyataan para pimpinan tentara.

Hal itu dengan demikian membuka proses persekutuan sisa-sisa rezim lama dengan organisasi-organisasi liberal menentang Ikhwanul Muslimin. Kondisi pengepungan yang dialami Ikhwanul Muslimin dalam kehidupan sehari-hari telah membawa mereka pada upaya pendekatan ulang dengan kelompok-kelompok Salafi dan peningkatan penggunaan bahasa sektarian baik yang diarahkan terhadap Kaum Kristen Koptik, Kaum Shia, maupun memberikan cap kafir pada semua kelompok penentang Morsi dan Ikhwanul Muslimin.

Krisis Ekonomi

Semenjak naiknya Muhammad Morsi dan Ikhwanul Muslim ke kursi kekuasaan, mereka telah menerapkan program ekonomi yang sama dengan Gamal Mubarak dan Komite Kebijakan sebelum meletusnya revolusi. Program Mursi adalah program Neoliberal yang berintikan liberalisasi pasar dan peningkatan integrasi Mesir ke dalam ekonomi kapitalis dunia. Kebijakan-kebijakan demikian yang sama dengan kebijakan rezim sebelumnya telah memainkan peran penting dalam memantik bara Revolusi Mesir.

Karena kebijakan-kebijakan ini bukanlah sekedar serangan brutal terhadap kepentingan dan hajat hidup rakyat miskin, demi kepentingan Ikhwanul Muslimin, kaum jutawan dan pemimpin militer. Melainkan juga merepresentasikan tuntutan-tuntutan yang sama dari institusi finansial global dan kaum bangsawan Timur Tengah agar Mesir menerapkan kebijakan yang semakin memiskinkan rakyat miskin dan semakin memperkaya kaum kaya.

Nampaknya Morsi, Shatir, dan Ikhwanul Muslimin tidak menyadari tiga hal berikut yang sebenarnya disadari oleh orang yang berpikir logis.

Pertama, Revolusi Mesir muncul dari harapan dan cita-cita jutaan buruh, tani, dan kaum miskin akan keadilan sosial, akan redistribusi kekayaan dari bisnis-bisnis besar kepada rakyat, dan bukan sebaliknya.

Kedua, dunia kapitalis tengah menderita luka akibat krisis-krisisnya semenjak tahun 1930 akibat kebijakan-kebijakan kapitalis yang sama, yang mana, bila kita mengacu kepada Al-Quran, hal ini tidak lain dan tidak bukan adalah berhala yang disembah para pimpinan Ikhwanul Muslimin.

Ketiga, kapitalisme global, baik dari Teluk maupun di Barat. tidak akan menurunkan investasinya ke dalam rawa ekonomi Mesir. Mereka tidak akan coba-coba masuk ke dalam negara yang keberadaannya masih terus diguncang revolusi, suatu revolusi yang mengguncang seluruh dunia sebagaimana yang kita saksikan akhir-akhir ini di Turki dan Yunani.

Kapitalisme Global, di bawah kepemimpinan Imperialisme Amerika dan sekutu-sekutunya di negara-negara Timur Tengah, ingin membalas dendam kepada rakyat Mesir karena rakyat Mesir telah mengobarkan revolusi akbar yang menginspirasi kaum miskin di seluruh dunia. Revolusi inilah yang meneguhkan abad 21 sebagai abad penggali kubur terhadap perampokan yang dilakukan kapitalis dan despotisme. Agen-agen mereka dalam balas dendam kali ini adalah Ikhwanul Muslimin dan wakil mereka yang gagal, Muhammad Morsi.

Serangkaian perdamaian dengan rezim korup sebelumnya, termasuk pembebasan tokoh-tokoh penting rezim lama dari penjara, terjadi di sepanjang pemerintahan Ikhwanul Muslimin. Di satu sisi mereka telah menerapkan persekutuan dengan Saudi dan Qatar yang rapuh dengan perseteruan, yang memainkan peran penting dalam mendukung kontra-revolusi di Mesir dengan meningkatkan hutang. Sedangkan di sisi lain, mereka membutuhkan dukungan dari orang-orang besar rezim lama untuk menghadapi krisis.

Kebijakan-kebijakan ini telah menyebabkan ekonomi mesir memasuki periode paling brutal dalam krisis-krisisnya selama berpuluh-puluh tahun. Defisit anggaran mencapai 14% Produk Domestik Bruto (PDB), dan total beban hutang mencapai 80% PDB. Cadangan devisa Bank Sentral Mesir juga telah merosot dari US$ 32 juta menjadi tinggal $13 juta. Terlebih, setengah dari sisa cadangan yang tersisa ini terdiri dari emas batangan yang tidak segera dilikuidasi.

Ambruknya mata uang mesir terhadap dolar telah menurunkan nilainya sebesar 12% pada paruh pertama tahun ini. Semua hal ini telah berujung pada kaburnya kapital dalam dan luar negeri, serta ketidakmampuan negara untuk memenuhi komitmen-komitmen nasionalnya. Hal ini juga mengakibatkan kekurangan dan langkanya komoditas-komoditas dasar (yang tentu saja berasal dari impor, melalui mata uang asing),  langkanya barang-barang vital seperti berbagai macam bahan bakar, gandum, dan sebagainya. Hal ini menyebabkan bahaya serius tidak hanya pada kelas buruh namun juga pada kelas kapitalis dan negara kapitalisnya.

Serangan barbar terhadap hajat hidup kaum miskin, telah memicu gelombang gerakan dan demonstrasi buruh yang menuntut penyitaan harta dan kekayaan para pengusaha, menuntut nasionalisasi perusahaan-perusahaan besar, baik dalam maupun luar negeri, serta menuntut penolakan pembayaran hutang beserta bunga hutang dari pinjaman-pinjaman asing. Tuntutan-tuntutan ini tidak dapat tidak akan berujung tidak hanya penggulingan Morsi dan Ikhwanul Muslimin dari kursi kekuasaannya, namun juga penggulingan terhadap negara kapitalis.

Sulit untuk membayangkan seberapa besar negara Mesir dan Ikhwanul Muslimin terisolasi dari kenyataan. Di tengah krisis yang sangat menghancurkan ini, jatah yang diperoleh militer dari anggaran negara untuk tahun 2013-2013 telah ditingkatkan hingga 31 milyar pound mesir (meningkat 3,4 milyar pound mesir dibandingkan anggaran tahun lalu). Jumlah ini belum ditambah dengan jumlah bantuan militer AS yang sebesar $1,4 milyar atau hampir setara dengan 15 milyar pound Mesir.

Gerakan Buruh

Terlepas dari penurunan aktivitas politik dalam beberapa bulan sebelum gempa sosial akibat kampanye Tamarod dan persiapan untuk demonstrasi 30 Juni, gerakan buruh Mesir terus melancarkan pemogokan dan pendudukan serta mendemonstrasikan suatu skala aksi buruh tertinggi di tataran internasional selama periode Maret hingga Mei, dan ini masih terus berlangsung. Aktivitas saat ini telah memberikan motivasi baru terhadap kemungkinan dan kepentingan yang paling besar yang bisa dicapai oleh gerakan buruh.

Gerakan Buruh Mesir telah menghadapi serangkaian tantangan dan membayar harga yang sangat mahal melalui pertempuran-pertempuran mereka, yang selama ini masih merupakan pertempuran berwatak defensif daripada ofensif. Salah satu tantangan pertama dari sekian tantangan tersebut adalah serangan brutal kapitalis terhadap gerakan buruh, baik dengan menggunakan preman-preman bersenjatakan pentungan untuk membubarkan aksi pendudukan, menggunakan senjata penutupan pabrik untuk menekan kelas buruh di satu sisi, sementara beban ekonomi krisis memberikan tekanan di sisi lain.

Tantangan kedua adalah konflik di antara serikat buruh dan serikat pekerja. Terlepas dari kemenangan tak terbantahkan atas keberhasilan mendirikan lebih dari seribu serikat pekerja independen, terdapat kesenjangan antara para pimpinan dan militansi serikat-serikat ini. Perubahan drastis mengarah pada birokratisasi serikat, penyandaran terhadap konservatisme, kerja lamban dan bertahap, penentangan terhadap politisasi, serta pemecahbelahan gerakan ke dalam dua federasi yang saling bersaing telah melipatgandakan tantangan bagi Kelas Buruh Mesir dan Gerakannya.

Hal-hal demikian ditambah dengan kerja ulet Ikhwanul Muslimin untuk membangkitkan organisasi serikat buruh lama yang berada di bawah kendali gabungan dengan sisa-sisa rezim lama, sebagai upaya untuk mengepung dan membaurkan serikat buruh dan serikat pekerja independen.

Hal-hal tersebut memberikan gerakan politik kerakyatan yang kini tengah bangkit, sebuah peluang luar biasa yaitu perubahan kualitatif dalam Gerakan Kelas Buruh.

Semua hal ini kemudian memberi kita suatu tugas yaitu membentuk komite-komite koordinasi aksi buruh lintas sektor, lintas industri, dan lintas wilayah, serta menghubungkan tuntutan-tuntutan parsial dan tuntutan-tuntan total, serta menghubungkan tuntutan-tuntutan ekonomi dengan tuntutan-tuntutan politik. Inilah tugas mendesak bagi kaum revolusioner di periode yang menjelang ini.

Institusi Militer

Isu institusi militer dan hubungannya dengan malapetaka kekuasaan Ikhwanul Muslimin kembali muncul ke permukaan sebagai isu tekanan dalam kehidupan politik Mesir selama beberapa bulan belakangan.

Di antara sekian tuntutan para komentator dan pimpinan liberal, kadang-kadang tersirat, kadang-kadang tersembunyi, pesan akan perlunya intervensi militer untuk menyingkirkan kekuasaan Ikhwanul Muslimin. Hal ini tidak lain dan tidak bukan merupakan suatu tuntutan kudeta militer. Terdapat banjir pernyataan dan tulisan menyangkut independensi, netralitas, dan patriotisme institusi militer Mesir.

Banjir ini tidak kunjung surut semenjak krisis Sinai, dengan penculikan tentara, keajaiban pembebasan atau pelepasan sandera tanpa intervensi militer, kurangnya negosiasi dengan para penculik dan tentu saja tanpa tangkapan mereka. Hal ini terus-menerus ditunjukkan melalui teater politik yang mengelilingi bendungan Ethiopia, dengan diskursus atas perlunya solusi militer, dan akhirnya melalui keputusan mengejutkan mahkamah konstitusi atas perlunya mengijinkan para perwira dan tentara angkatan bersenjata untuk memberikan hak suaranya dalam pemilihan umum. Keputusan ini sebenarnya merupakan keputusan yang diajukan oleh kedua belah pihak, yaitu Ikhwanul Muslimin dan kaum liberal bersama-sama, dan ini tidak hanya memberikan ancaman politisasi tentara namun juga ancaman pecah belah tentara.

Terlepas dari jaminan-jaminan yang diberikan oleh para pimpinan Militer bahwa mereka tidak akan melakukan kudeta sedikitpun dan jaminannya akan netralitas dan patriotisme, kaum liberal Mesir masih sangat berharap bahwa tentara akan melancarkan intervensi demi “menyelamatkan” negara dari mimpi buruh Ikhwanul Muslimin, untuk menukar mereka dengan pejabat-pejabat militer. Betapa kaum liberal menyayangi militer, yang bahkan sampai tahun sebelumnya merupakan penghantam rakyat Mesir dan tenaga kontra-revolusi. Militer Mesir hingga kini masih merupakan tembok kokoh yang menghalangi perkembangan Revolusi Mesir dan pencapaian tujuan-tujuan revolusi.

Terdapat sejumlah fakta yang harus kita ingat menyangkut skenario komikal ini. Pertama, institusi militer bukanlah suatu institusi netral melainkan sebongkah jantung baja dari negara kapitalis Mesir, negara Mubarak dan sisa-sisa pendukungnya, negara pengusaha besar, serta di belakang mereka ada Imperialisme Amerika. Kedua, militer merupakan cermin masyarakat dan tidak akan terceraikan dari masyarakat ini, karena para pimpinannya adalah bagian fundamental dari kelas penguasa Mesir, baik dari sayap sekulernya maupun sayap Islamisnya.

Sedangkan lain halnya bagi para tentara dan perwira militer Mesir, terdapat sebagian yang berasal dari kalangan pekerja, petani, dan kaum miskin. Bukanlah kepentingan para pimpinan dan pejabat atau jenderal-jenderal militer untuk mendukung kemenangan Revolusi Mesir, karena hal itu tidak hanya berarti memberi jalan bagi pengadilan terhadap kejahatan-kejahatan yang telah mereka lakukan terhadap Revolusi Mesir. Melainkan juga karena kepentingan dan kekuasaan para pimpinan, pejabat, dan jenderal Militer ini mengharuskan mereka di sisi kontra-revolusi. Sedangkan para perwira rendahan militer tidak memiliki kepentingan langsung dalam penerapan tujuan-tujuan Revolusi Mesir (yaitu keadilan sosial, kemerdekaan, dan kehormatan) baik di dalam militer maupun diluarnya.

Ketiga, mitos bahwa militer Mesir melindungi rakyat Mesir dan negara Mesir tidak memiliki landasan nyata. Hubungan antara institusi militer Mesir dengan militer AS, kepentingan-kepentingan AS, serta senjata-senjata AS adalah dasar kepatuhan para pimpinan institusi militer Mesir. Tidak ada sedikitpun bagian dari kesetiaan mereka yang ditujukan bagi kesetiaan terhadap rakyat Mesir. Hal ini juga berarti secara regional melindungi kepentingan nasional Kaum Zionis dan Imperialis AS, serta bukan keselamatan dan keamanan rakyat Mesir.

Sebagai tambahan, kita harus ingat bahwa militer berpartisipasi dengan Ikhwanul Muslimin dalam menguasai Mesir. Ini merupakan tawar-menawar di antara mereka, suatu jalan keluar aman, dewan keamanan nasional, jatah anggaran rahasia tanpa pengawasan demokratis dan keberlanjutan kontrol militer terhadap kerajaan ekonomi mereka, yang meliputi porsi signifikan dari ekonomi Mesir. Tawaran ini masih berlaku hingga kini.

Krisis bagi kepemimpinan Militer Mesir adalah Ikhwanul Muslimin tak mampu menjalankan perannya dalam tawaran ini, yang mana peran tersebut adalah pelaksana likuidasi revolusi Mesir dan pasifikasi populasi. Krisis ini juga dialami pejabat AS dan beberapa negara Timur Tengah lainnya.

Masuknya tank-tank tentara dan perangkat-perangkat bersenjata ke dalam Sinai bukanlah demi mencegah terorisme atau menghadapi lawan Zionis namun mengonfrontasi rakyat Sinai. Rakyat Sinai juga bangkit sebagaimana saudara-saudara tertindas dan terhinanya di penjuru Mesir lainnya serta melawan ketidakadilah penguasa-penguasa Kairo dan para perampas hak-hak dasar mereka sebagai warga negara.

Perbedaan-perbedaan yang muncul di antara Ikhwanul Muslimin dan pihak militer terkait kegagalan Ikhwanul Muslimin dalam menyelesaikan krisis ekonomi dan menghancurkan revolusi Mesir. Semua hal ini berkaitan langsung dengan kekhawatiran para pejabat militer bahwa gelombang revolusioner akan sampai juga di kalangan militer dan menyapu para perwira dan prajurit.

Hal inilah yang akan terjadi bila Revolusi Mesir mampu mempertahankan dirinya dan menghantam balik kontra-revolusi yang terdiri dari persekutuan antara para pimpinan Ikhwanul Muslimin, militer, dan sisa-sisa rezim lama. Kita juga menyaksikan di bawah rezim Morsi, tokoh-tokoh rezim lama kini telah dilepaskan dari penjara, dipuja-puji, dan diagung-agungkan, padahal tangan mereka bersimbah darah martir-martir revolusi.

Front Keselamatan Ikhwanul Muslimin

Semenjak oposisi kaum liberal terhadap Ikhwanul Muslimin membentuk Front Keselamatan Nasional, kelemahan oposisi ini langsung tampak seketika. Semenjak awal, mereka telah mendorong-dorong agar konflik berkembang menjadi konflik identitas antara kaum sekuler yang diwakili oleh Front dengan Kaum Islamis yang diwakili oleh Ikhwanul Muslimin dan sekutu-sekutunya di antara Kaum Salafi. Hal ini, tentu saja, makin menguatkan posisi Ikhwanul Muslimin. Kaum Liberal selanjutnya memberikan hadiah lain bagi Ikhwanul Muslimin dengan bersekutu dengan sisa-sisa rezim Mubarak, dan akibat tuntutan-tuntutan tanpa henti mereka yang meminta intervensi militer.

Ini semua makin memperhebat fragmentasi dan oportunisme para pimpinan Front Keselamatan Nasional, bahkan beberapa diantaranya telah menemui para pimpinan Ikhwanul Muslimin, sementara yang lain terus mengkritisi, hanya untuk menyusul menemui Ikhwanul Muslimin secara diam-diam. Inilah kekonyolan terbaru dari kaum oposisi borjuis dan para pemboncengnya yang sering mengaku kaum nasionalis dan kaum kiri.

Kebimbangan Kaum Liberal dan sisa-sisa rezim lama dalam menentang Ikhwanul Muslimin datang dari kenyataan bahwa mereka, seperti Ikhwanul Muslimin, tidak ingin ada pendalaman atau keberlanjutan revolusi. Mereka hanya menginginkan pertempuran antara penguasa, namun tidak menginginkan perubahan watak kekuasaan. Mereka bahkan siap untuk memobilisasi penentangan terhadap Ikhwanul Muslimin, khususnya dengan menggunakan media massa, namun mereka takut bahwa mobilisasi ini akan berujung pada revolusi baru yang akan menggulingkan kekuasaan Ikhwanul Muslimin sekaligus kekuasaan mereka sendiri. Untuk alasan inilah mereka terus mencoba menggunakan massa untuk mendongkrak negosiasi mereka dengan Ikhwanul Muslimin atau untuk mendorong intervensi militer. Namun ketakutan mereka atas kehilangan kendali terhadap gerakan massa luas tetap menjadi obsesi penting mereka.

Selain itu, mereka juga tidak punya skenario ekonomi alternatif untuk menggantikan skeneario Ikhwanul Muslimin. Mereka masih menganut kapitalisme, menganut kebijakan-kebijakan pasar yang sama, serta menggunakan strategi-strategi sama: mengemis-ngemis kepada Barat dan Monarki Timur Tengah serta melayani kepentingan mereka.

Tamarod, 30 Juni, dan Alternatif Revolusioner

Kampanye Tamarod (Pemberontakan) telah bangkit setelah periode kemunduran dalam gerakan revolusioner untuk menyalakan kembali api gerakan hingga ke skala nasional yang belum pernah disaksikan sebelumnya. Kejeniusan pemilihan nama dan kesederhanaan kampanye dengan cepat mentransformasikannya menjadi gerakan nasional dimana jutaan rakyat berpartisipasi dengan memberikan tandatangan mereka.

Lebih penting lagi, ratusan ribu telah berpartisipasi dalam proses pengumpulan tandatangan. Mayoritas bahkan mengaku bahwa ini adalah partisipasi pertama mereka dalam proses revolusioner, yang telah meningkatkan nafas dan kedalaman radikalisasi massa rakyat Mesir. Hal ini tercermin dari persiapan-persiapan hebat untuk demonstrasi 30 Juni serta pendirian komite-komite koordinasi di tiap gubernuran untuk menyiapkan hari penting tersebut. Hal-hal demikian mencakup permulaan pertempuran baru di antara pertempuran-pertempuran dalam revolusi Mesir.

Sebagaimana yang terjadi dalam krisis-krisis dan pertempuran-pertempuran revolusioner sebelumnya, situasi kini makin rumit. Semua tenaga yang bermusuhan dengan Ikhwanul Muslimin berpartisipasi dalam Kampanye Pemberontakan dan Aksi 30 Juni. Namun tenaga-tenaga ini memiliki tujuan yang berbeda-beda dalam gerakan.

Sedangkan bagi Kaum Revolusioner, tujuan mereka dalam berpartisipasi di Kampanye Pemberontakan dan di pertempuran-pertempuran sejak 30 Juni adalah untuk merebut revolusi dari para pencuri Islamis.

Kami menentang mereka bukan karena mereka adalah Kaum Islamis namun karena mereka telah mengkhianati revolusi, menyelamatkan negara Mubarak, dan menerapkan kebijakan-kebijakan kapitalis penindas. Termasuk menunjukkan kepatuhan mereka pada kepentingan-kepentingan imperialis Amerika serta kepentingan-kepentingan para pengusaha besar dari era Mubarak dengan mengorbankan kepentingan-kepentingan rakyat Mesir dan darah para martir revolusi. Mereka telah melestarikan pengaruh jenderal-jenderal tentara dan kepolisian serta aparat-aparat dan institusi-institusi negara, dengan para pimpinan mereka berbagi kekuasaan dengan sisa-sisa rezim sebelumnya di pucuk-pucuk institusi dan aparatus ini, dengan watak korup dan penindas yang tetap dilindungi.

Bagi Kaum Revolusioner, keselamatan dari kekuasaan Ikhwanul Muslimin bukanlah suatu tujuan namun merupakan penyingkiran penghalang dalam penuntasan Revolusi Mesir. Revolusi Mesir tidak akan tuntas tanpa retribusi dari pengorbanan kaum martir dan massa rakyat revolusioner Mesir yang terluka. Pengorbanan Revolusi Mesir hanya bisa ditebus dengan pengadilan revolusioner yang akan mengadili dan menghukum para petinggi militer serta perwira tentara dan kepolisian, para pengusaha Mubarak beserta preman-preman mereka. Revolusi Mesir juga hanya akan tuntas dengan penghancuran negara penindas, pemeras, dan predator yang kini masih berdiri.

Muhammad Morsi dan kelompoknya hingga kini masih terus melindungi negara demikian, sama seperti para pendahulu mereka. Revolusi hanya bisa dituntaskan bila negara penindas digantikan dengan negeri demokratis yang secara langsung mengekspresikan keinginan massa buruh, tani, dan kaum miskin Mesir, suatu negeri yang mencapai tujuan-tujuan revolusi: kemerdekaan, kehormatan, dan keadilan sosial.

Dengan demikian jelas, apa yang tampak sebagai suatu kesatuan di antara berbagai pihak yang ingin menggulingkan Muhammad Morsi ternyata memiliki perbedaan-perbedaan tujuan dan kepentingan. Bukanlah kepentingan Kaum Revolusioner untuk mengaburkan, menyembunyikan, atau menunda menyoroti perbedaan-perbedaan ini, namun untuk membedakan dari pertama kali manakah lawan-lawan revolusi dan manakah yang ingin menuntaskan revolusi. Hal ini tidak hanya berarti kemandirian sepenuhnya dalam gerakan dari para oportunis dan para pengkhianat, namun juga bekerja untuk membongkar kedok mereka dan menunjukkan tujuan asli mereka kepada rakyat.

Beberapa orang membayangkan bahwa pendirian macam ini akan menunjukkan kelemahan dalam pertempuran melawan Morsi dan ambruknya kekuatan melawannya. Sebaliknya, sandaran terhadap oposisi Borjuis malah akan memperkuat Morsi dan bukannya melemahkannya. Di antara lapisan-lapisan populasi, Ikhwanul Muslimin mampu menggambarkan pertempuran seakan-akan pertempuran Ikhwanul Muslimin dan sisa-sisa rezim lama.

Karena itu kecermatan, kejelasan, dan kemandirian tentang sisa-sisa rezim lama dan para pengkhianat merupakan prasyarat kemenangan melawan Morsi dan Ikhwanul Muslimin. Sedangkan oportunisme dan persekutuan dengan sisa-sisa rezim lama, dan oposisi borjuis, hanya akan berujung pada hilangnya kredibilitas para pelaku kejahatan ini dan malah memperkuat kemampuan Ikhwanul Muslimin untuk tetap berkuasa.

Kampanye Pemberontakan dan demonstrasi serta pendudukan 30 Juni bisa berkembang menjadi permulaan Revolusi Mesir kedua. Namun kita wajib belajar dari pelajaran-pelajaran gelombang-gelombang revolusioner sebelumnya.

Kedua, gerakan buruh dan gerakan-gerakan kerakyatan harus menjadi jantung front politik baru ini, karena mereka memiliki kepentingan langsung tidak hanya dalam penggulingan Morsi namun juga untuk menuntaskan revolusi. Hal ini berarti suatu front revolusioner alternatif harus melampaui batas rivalitas sekuler-relijius antara Front Keselamatan Nasional dengan Ikhwanul Muslimin. Front revolusioner alternatif ini harus berlandaskan basis kesetaraan sosial antara kelas buruh dan kaum miskin serta kepentingan-kepentingan mereka.

Ketiga, retribusi atas kejahatan-kejahatan rezim lama, militer, dan Ikhwanul Muslim yang telah membunuh martir-martir kita harus menjadi agenda, tuntutan, dan prioritas terdepan kita. Karena kita tidak dapat menuntaskan revolusi di bawah bayang-bayang pelepasan para pembunuh-pembunuh yang mendukung kontrarevolusi, yang dihormati dan dipuja-puji sementara darah martir kita masih bersimbah di tangan mereka.

Keempat, kita perlu untuk merumuskan program rinci dan jelas sebagai suatu alternatif di tataran ekonomi, masyarakat, politik, dan kebudayaan. Tanpa memenangkan rakyat ke dalam alternatif revolusioner yang meyakinkan, saat pertanyaan mengenai program diajukan oleh Ikhwanul Muslimin dan Kaum Salafi di satu sisi, serta sisa-sisa rezim lama dan Kaum Liberal di sisi lain kita tidak akan mampu mengalahkan kontrarevolusi dan menuntaskan jalan revolusioner kita yang susah payah kita tempuh.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

*ditulis oleh Sameh Naguib, salah satu pimpinan Sosialis Revolusioner di Mesir, diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Jess Martin, dipublikasikan di socialistworker.org pada Sabtu, 27 Juni 2013, dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia serta dipublikasikan di Bumi Rakyat sebagai solidaritas dengan perjuangan rakyat pekerja Mesir. Bumi Rakyat tidak memiliki hubungan apapun baik dengan Sosialis Revolusioner maupun socialistworker.org.

Comments
One Response to “Revolusi dan Kontra Revolusi di Mesir”
  1. Ilham Miftahuddin mengatakan:

    bung share juga tentang kajian RUU ORMASS. terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: