Sosialis Revolusioner (Mesir): Kemerdekaan Ada di Tangan Rakyat

Sosialis Revolusioner Mesir - Kemerdekaan Ada di Tangan Rakyat

Bentrokan antara tentara Mesir dan para pendukung Ikhwanul Muslimin yang menghendaki dikembalikannya Presiden Muhammad Morsi ke kursi kekuasaan telah mengakibatkan tewasnya 50 orang pengunjuk rasa pada dini hari 9 Juli, 2013, menurut laporan berita. Pembunuhan tersebut terjadi setelah satu minggu pergolakan yang merupakan demonstrasi terbesar dalam sejarah dunia dimana diperkirakan 17 juta rakyat Mesir turun ke jalan pada 30 Juni menuntut pengunduran diri Presiden Morsi, dan disusul dengan intervensi militer untuk menggulingkan pemerintahan Morsi, menunjuk presiden sementara dan menjanjikan pemilihan umum (pemilu) baru.

Sosialis Revolusioner (Mesir) mengeluarkan pernyataan sikap pada 9 Juli merespon pembunuhan anggota Ikhwanul Muslimin serta menganalisis peran militer, yang menguasai Mesir via Dewan Agung Angkatan Bersenjata (SCAF) diantara kejatuhan Hosni Mubarak pada Februari 2011 dan pemiliham Morsi setahun lalu-serta rekam jejak Ikhwanul Muslimin sejak revolusi dan saat berkuasa selama tahun lalu.

Panjang umur berjuta rakyat Mesir yang menggulingkan Muhammad Morsi dengan aksi gagah berani, yang teguh dalam memprotes dan membela diri selama dua minggu belakangan ini. Mereka telah menyatakan bahwa revolusi Januari masih hidup dan memperjuangkan kehendak-kehendaknya.

Sekali lagi militer campur tangan dalam situasi politik, melakukan pembantaian berdarah-darah, membunuh puluhan dan melukai ratusan Islamis selama penyerangan aksi pendudukan di depan markas Garda Republik. Institusi militer kini menindas kaum Islamis dengan penuh keji dan penuh kekerasan.

Terlepas dari tindak kejahatan yang dilakukan Ikhwanul Muslimin akibat desakan para pimpinannya, kita tidak menikmati dan tidak mengambil keuntungan dari pembantaian ini. Karena tangan militer telah melakukan pengkhianatan serupa terhadap kaum revolusioner sebelumnya-kaum revolusioner yang berjuang menuntaskan revolusi dan menantang Tantawi dan Anan serta dewan militer mereka, sementara Ikhwanul Muslimin dan sekutu-sekutunya bergabung dengan mereka untuk melawan revolusi.

Tujuan penindasan kejam ini bukanlah untuk melindungi kaum revolusioner maupun kaum demonstran namun untuk “perlindungan perusahaan”-sebagaimana yang disampaikan juru bicara militer dengan blak-blakan dalam konferensi pers pasca pembantaian. Kenyataannya, kaum revolusioner  sendiri yang melindungi demonstrasi mereka, menjaga aksi pendudukan mereka, serta menghalau serangan-serangan Ikhwanul Muslimin, sebagaimana yang terjadi di El-Manial dan Maspero.

Media massa tergopoh-gopoh membenarkan tindak kejahatan ini dengan dalih sama yang mereka berikan terhadap pembantaian-pembantaian sebelumnya yang dilakukan oleh dewan militer atas nama revolusi Mesir. Namun alasan sesungguhnya di balik pembantaian ini adalah untuk mengambil langkah lain menuju reshuffle kelas penguasa dan memilih tokoh-tokoh pimpinan yang baru. Mereka mencoba mengonsolidasikan cengkeraman militer yang menimbulkan bahaya terhadap demokrasi dan revolusi itu sendiri dalam periode mendatang. Inilah yang terjadi sebelumnya, ketika kekuatan militer dan polisi militer menyerang kaum revolusioner, kaum demonstran, dan kaum pekerja yang mengadakan aksi mogok selama periode kekuasaan dewan militer.

Kita tidak bisa memaafkan kejahatan Ikhwanul Muslimin, yang menembak dan membunuh kaum demonstran di Mokattam beberapa hari sebelum jatuhnya Morsi dan membenarkan pembunuhan dengan seruan untuk melindungi markas-markas dan kantor-kantor Mursinya.

Kita tidak akan memaafkan serangan mereka terhadap kaum demonstran di alun-alun Tahrir atau penyerangan mereka secara terus menerus di lingkungan sekitar-suatu pelecehan terhadap warga yang menolak kembalinya kekuasaan Morsi-Mubarak, tiran diktator Mesir. Selama beberapa hari para pendukung Morsi membunuh puluhan dan melukai ratusan orang, serta melakukan tindak kejahatan yang hina di Sidi Gaber di Alexandria, di El-Manial, dan di banyak tempat lainnya, di gubernuran maupun di lingkungan Mesir.

Kita belum dan tidak akan melupakan pengkhianatan Ikhwanul Muslimin melalui persekutuannya dengan Tantawi dan Anan, yang setelahnya menghormati mereka dengan “Order of the Nile (pangkat kehormatan tinggi negara). Kita tidak akan melupakan persekutuannya dengan antek-antek Mubarak setelah Mubarak digulingkan, dan pernyataan tidak bersalah terhadap semua pendukung resmi, sembari terus mengeluarkan hasutan-hasutan melawan kaum revolusioner.

Kita tidak akan melupakan pembelaan terhadap setiap kejahatan yang dilakukan selama periode kekuasaan dewan militer, di jalan Muhammad Mahmud, di gedung Kabinet, di Port Said, dan di tempat-tempat lainnya. Belum genap 100 hari, Morsi dan Ikhwanul Muslimin, sudah menyerukan serangan terhadap kaum revolusioner di alun-alun Tahrir, pada Desember lalu di istana kepresidenan, serta serangan-serangan lainnya.

Sementara Kaum Revolusioner telah berjuang untuk menuntaskan revolusi melawan rezim militer yang telah menguasai Mesir selama setahun setengah lalu, Ikhwanul Muslimin menyambut Garda Republik dengan penghormatan dan penghargaan seolah-olah mereka adalah pahlawan saat Garda Republik bergerak memasuki Jalan Muhammad Mahmud, jalannya kaum martir dan mata kebebasan, demi mengamankan alun-alun Tahrir untuk pidato Morsi pada 1 Juli 2012.

Para pimpinan Ikhwanul Muslimin terus melakukan tindak kejahatan dengan terus menghasut perang melawan rakyat, memprovokasi serangan terhadap revolusi, dan mengerahkan ribuan orang untuk mengobarkan perang saudara, sebagai upaya kalapnya untuk menangkal halilintar revolusi Mesir. Mereka ingin memngembalikan para diktator ke kursi kekuasaannya dan mereka siap menghalalkan cara-cara jahat dan tercela untuk menumpahkan darah dan merampas hak-hak rakyat Mesir.

Mereka berupaya untuk mengobarkan kerusuhan sektarian berdasarkan agama untuk memecah-belah massa, sebagaimana yang terjadi kemarin di Nag Hassan di Luxor, dengan pembunuhan empat orang muslim dan Kristen serta pengusiran keluarga-keluarga Kristen Koptik. Hal ini diperparah dengan persekutuan menjijikkan mereka dan bekingan mereka dengan pemerintah Amerika Serikat (AS), yang sikapnya bermusuhan dengan berjuta rakyat Mesir. Mereka memperdagangkan agama dan menukar darah rakyat dengan tahta kekuasaan yang akhirnya memicu kemarahan rakyat.

Di hadapan serangan-serangan Ikhwanul Muslimin, kita tidak akan mencari perlindungan kepada siapapun dan apapun kecuali pada revolusi, dan kami akan melindunginya dari serangan demi berjuta massa rakyat yang turun ke jalan sejak 30 Juni hingga hari ini. Rakyat mampu membalas serangan-serangan apapun terhadap revolusi. Kita harus terus-menerus memobilisasi berjuta rakyat untuk turun ke jalan dan ke alun-alun, membentuk komite-komite kerakyatan kita demi mempertahan diri melawan kekerasan Ikhwanul Muslimin. Kita akan membela revolusi kita dari serangan apapun, dan di hadapan segala hal yang mencoba membendungnya maupun menghapus tuntutan-tuntunan kita atas roti, kebebasan, keadilan sosial, serta keadilan bagi para martir yang mati di tangan para pembunuh…dan kita juga harus mengadili semua pembunuh tanpa terkecuali.

Kami berjuang dengan massa rakyat yang berjuang meneruskan revolusi dan menerapkan tujuan-tujuan revolusi. Dimanapun muncul revolusi, ada rakyat yang melindungi. Semua kekuasaan dan kemakmuran untuk rakyat!

9 Juli 2013

Sosialis Revolusioner (Mesir)

*dimuat dalam socialistworker.org dengan judul “Freedom In The Peoples Hands” diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Jess Martin dari situs Sosialis Revolusioner http://revsoc.me/statement/lhry-byd-lns-msh-blskr-wlhrs . Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan dimuat dalam Bumi Rakyat. Bumi Rakyat tidak memiliki hubungan sama sekali dengan socialistworker maupun Sosialis Revolusioner.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: