Revolusi Spanyol yang Dikhianati (bag. I)

Revolusi Spanyol yang Dikhianati

Tahun 2013 menandai 77 tahun perang saudara Spanyol dimana pada tahun 1936 Jenderal Franco memberontak terhadap Republik Spanyol yang dideklarasikan pada 1931. Peristiwa ini menandai bahwa kelas penguasa mulai tidak bisa mempertahankan kekuasaannya melalui cara-cara ‘demokratis’. Berikut merupakan salah satu tulisan Alan Wood yang diterbitkan sebagai salah satu bagian tulisan mengenai Revolusi Spanyol. Tulisan yang dibuat pada tahun 1986 ini merupakan bagian kesimpulan dari rangkaian tulisan mengenai Revolusi Spanyol 1931-1937.

Kemenangan Franco bukanlah suatu hal yang tak terelakkan. Sudah merupakan fakta yang jarang disadari bahwa kelas penguasa Spanyol menempuh perang saudara saat mereka hanya sejengkal jauhnya dari kehilangan segala yang pernah dimilikinya.

Tak diragukan lagi bahwa kelas buruh sudah menghantam kaum fasis-sebagaimana yang mereka berhasil lakukan di Catalonia-dan siap menerapkan perubahan masyarakat dengan satu prasayarat-asalkan para pimpinan pekerja menganut kebijakan revolusioner.

Jalannya perang seharusnya direbut dari kaum politisi kapitalis pengkhianat. Sumber daya Spanyol: tanah, pabrik, bank, sudah sepatutnya direbut oleh buruh dan tani. Massa harus dipersenjatai untuk membela penaklukan sosialnya dan kepemimpinan perjuangan harus ada di tangan perwakilan yang dikenal dan dipercaya mengemban amanat kelas pekerja.

Namun menteri-menteri kapitalis liberal tidak pernah menerima progam demikian-mereka berpandangan lebih baik menyerahkan Spanyol ke tangan kaum fasis daripada membiarkan kaum buruh dan tani untuk mengambil alih serta menjalankan masyarakat.

Ketidakmauan dan ketidakmampuan kaum Republikan untuk memerangi kaum fasis sudah tampak semenjak awal. Perilaku pengecut dan pengkhianat dari para pemimpimpin Republikan di hadapan kudeta, penindasan mereka terhadap berita, dan penolakan untuk mempersenjatai kelas pekerja bukanlah tanpa alasan. Semua itu mengalir dari sudut pandang kelas mereka.

Namun para pimpinan Sosialis dan Komunis terus saja menopang menteri-menteri Republikan dengan otoritasnya. Barulah pada September 1936, Largo Caballero, pimpinan Sosialis kiri, menduduki kursi Perdana Menteri, di bawah tekanan massa.

Peran yang paling berbahaya dalam situasi ini dimainkan oleh para pimpinan Partai “Komunis”, yang menerima perintah mereka dari Moscow. Stalin ketakutan atas kemungkinan menangnya revolusi pekerja di Spanyol.

Suatu contoh demokrasi buruh yang sehat di Spanyol akan memberikan dampak kuat bagi buruh Rusia yang semakin resah gelisah di bawah beban rezim birokratis totaliter.

Maka bukanlah kebetulan kalau Stalin melancarkan pengadilan pembersihannya pada saat itu. Pemberantasan berdarah-darah terhadap semua orang yang pernah memiliki hubungan dengan tradisi-tradisi demokratis dan internasionalisnya Lenin serta Revolusi Oktober merupakan “perang saudara sepihak” yang dilancarkan birokrasi Stalinis terhadap Bolshevisme. Hal demikian dimaksudkan sebagai serangan pencegahan untuk menangkal bahaya kebangkitan oposisi Leninis di Rusia yang diilhami oleh gerakan kelas pekerja Spanyol.

Dengan mencampakkan kebijakan internasionalis revolusioner Lenin yang melandaskan pertahanan Uni Soviet secara fundamental terletak pada dukungan terhadap kelas pekerja sedunia dan kemenangan sosialisme secara internasional, birokrasi Rusia mencoba meraih dukungan dari negara-negara kapitalis yang “baik” dan “demokratis” (seperti Inggris dan Perancis) untuk melawan Hitler.

Bahkan pada suatu titik mereka juga pernah mendukung fasisme Italia yang “baik” melawan fasisme Jerman yang “buruk”! Pencekikan revolusi Spanyol dengan demikian memberikan keuntungan tambahan untuk membuktikan “reputasi” Stalin terhadap London dan Paris.

Kebijakan sebenarnya dari kaum kapitalis Inggris dan Perancis sebenarnya tidak didekte oleh kecintaan mereka pada “demokrasi” melainkan oleh kepentingan-kepentingan kelas, dan lebih dari segalanya, oleh ketakutan mereka atas revolusi di Spanyol. Dengan bersembunyi di balik kebijakan keji “non-interbensi” mereka secara munafik menutup mata pada bantuan yang dengan terang-terangan diberikan oleh kaum fasis Jerman dan Itali terhadap Franco.

Kebijakan Stalin

Stalin  mengirim suplai persenjataan terbatas ke Spanyol-yang tidak cukup untuk meraih kemenangan untuk mengalahkan Franco namun lebih dari cukup untuk membantu kaum Republikan yang bersekutu dengan kaum Stalinis Spanyol-untuk membangun kembali mesin negara kapitalis yang sebelumnya hancur lebur.

Para pimpinan Partai “Komunis” Spanyol menjadi pelayan yang paling bernafsu terhadap “hukum dan ketertiban” kapitalis. Di bawah slogan “menangkan dulu perang baru revolusi”, mereka secara sistematis menyabotasi semua gerakan independen buruh dan tani.

Kaum Stalinis Spanyol yang dulunya menentang gagasan kaum sosialis harus mengambil alih pemerintahan, dan lebih memilih mendukung Republikan dari luar, malah menekan Largo Caballero untuk mencampakkan kebijakan-kebijakan sosialis yang dulunya ia pertahankan, walau hanya dalam kata-kata.

Bagi bagiannya, para pimpinan anarkis CNT, yang menolak mendirikan pemerintahan buruh di Catalonia, dimana kekuasaan ada di tangan kelas pekerja, akhirnya mereka mencampakkan semua gagasan mereka sebelumnya dan berbalik 180 derajat dengan bergabung dengan pemerintah front kerakyatan kapitalis.

Teori-teori anarkisme sebagaimana yang diobservasi oleh Trotsky, menyerupai suatu payung yang bocor. Tidak berguna saat diperlukan.

Semua angkatan masyarakat lama telah berkomplot untuk mengalahkan gerakan gagah berani dari kelas pekerja Spanyol. Di saat-saat yang menentukan, para pimpinan organisasi-organisasi buruh malah menyerah dan menyeberang ke kubu kapitalis. Mereka melakukan pembenaran atas politik kolaborasi kelas mereka di atas landasan kebutuhan untuk memerangi fasisme, “demi demokrasi”. Kelas pekerja memahami kebutuhan untuk melawan fasisme dan mempertahankan hak-hak demokratisnya yang mereka menangkan dalam perjuangan melawan para majikan, bankir, dan kapitalis yang sangat “Republikan”.

Menyangkut pertanyaan bagaimana kemenangan harus diraih, Trotsky menjawabnya sebagai berikut:

“Kalian sudah benar dalam memerangi Franco. Kita harus membasmi kaum fasis namun bukan untuk mengembalikan Spanyol yang sama sebelum perang saudara, karena Franco sepenuhnya menyatakan isu yang sama. Kita harus membasmi landasan Franco, landasan sosial Franco, yaitu sistem sosial kapitalisme.” (Revolusi Spanyol 1931-1939, halaman 255)

Pada tahun 1936 kita menyaksikan kaum SOsialis dan Komunis bersatu bukan dengan bayang-bayang “kaum kapitalis progresif” namun bersatu dengan hantu yang sebenarnya tidak ada. Karena kelas kapitalis, bankir, dan tuan tanah secara utama telah kabur dan menyeberang ke pihak Franco sejak permulaan perang saudara.

Satu-satunya kekuatan sosial yang tetap tinggal untuk berperang melawan fasisme adalah kelas pekerja dan kaum tani. Apa yang mereka perjuangkan sehingga mereka memutuskan berperang? Apakah untuk “Republik”? Namun Republik kapitalis telah gagal memecahkan permasalahan-permasalahan mendasar buruh dan tani.

Bukan untuk apa-apa kalau kaum fasis secara demagogis terus menerus menyerukan “Que te da a comer la Republica?” (Republik beri kalian makan apa?”

Cara untuk mengalahkan Franco bukanlah dengan bergantung pada aliansi dengan kaum kapitalis “liberal”-yang juga terseok-seok mencari kesepakatan dengan kaum fasis-namun dengan menghubungkan perjuangan militer melawan fasisme dengan perjuangan revolusioner demi demokrasi sejati yaitu demokrasi buruh!

POUM (Partai Buruh Persatuan Marxis) merupakan partai yang secara tertulis memperjuangan kebijakan sosialis. Namun kurangnya kejernihan teoritis dan inkonsistensi Nin, Andrade, dan para eks-Trotskyis pimpinan POUM terbukti fatal bagi kepentingan kelas pekerja.

POUM membiarkan dirinya dijebak dalam kementerianisme Front Kerakyatan, bergabung dengan pemerintahan Catalan, dengan Generalitat. Andres Nin, sangat ironis nasibnya, malah menjabat menjadi anggota majelis keadilan.

Para pimpinan POUM secara naif mencoba membujuk Front Kerakyatan Catalan untuk menempuh jalan revolusi dari dalam pemerintahan. Mereka mengerdilkan dirinya sendiri ke dalam peran penasehat gratis bagi kaum kapitalis dan politisi reformis alih-alih melaksanakan politik kelas yang independen.

Disorientasi

Politik dan kebijakan POUM mengalami disorientasi dan membingungkan kelas pekerja yang bergerak mencari kepemimpinan. Lapisan luas dari CNT yang anarkis-terutama kalangan pemudanya-saat itu begitu jijik melihat para pimpinan mereka yang kolaborasionis dan ingin mencari alternatif lain. Namun dengan bergabung dengan Front Kerakyatan, para pimpinan POUM telah membuang kesempatan berharga dalam menyediakan alternatif tersebut.

Di bawah tekanan dari kaum Stalinis, Largo Caballero setuju untuk menggantikan laskar buruh dengan “tentara reguler”. Dengan berdalihkan ini, mereka melikuidasi capaian-capaian revolusi dan menjalankan tugas algojo terhadap kelas pekerja yang mencoba mempertahankan diri melawan kontra-revolusi.

Peran paling penting untuk melaksanakan kontra-revolusi malah dijalankan oleh Partai “Komunis”, khususnya di Catalonia.

“Anggota Komunis meningkat secara signifikan mencapai 250.000 orang pada akhir 1936. Dukungan Partai Komunis terhadap hak milik pertanian dan penentangannya terhadap setiap revolusi dimanapun merupakan penyebab kenaikan anggota ini. Seorang penulis Catalan, Jose Austin Goytisolo, menulis bahwa ayahnya yang merupakan orang sayap kanan telah bergabung dengan Partai Komunis Catalan (PSUC) karena ingin mendapatkan perlindungan dari kaum anarkis yang ingin mengambil alih pabrik dimana dia bekerja sebagai seorang insinyur.

“Jose Diaz menceritakan pada Komite Sentral Komunis di bulan maret bahwa tidak kurang dari 76.000 orang (hampir sepertiga) anggota partai adalah pengusaha pertanian dan 15.482 (6,2%) adalah kaum menengah perkotaan. Dengan demikian ada lebih banyak pengusaha pertanian daripada buruh tani, suatu situasi yang luar biasa.” (Hugh Thomas, Perang Saudara Spanyol, halaman 522).

Mesin negara kapitalis lama di Catalonia sebelumnya telah dihancurkan oleh kelas pekerja di bulan Juli 1936. Selanjutnya kaum Stalinis PSUC membantu kaum borjuis nasionalis Catalan untuk kembali membangun basis kekuatannya. Maka demi mencapai hal ini, kaum anarkis dan kaum pekerja POUMis harus dihancurkan. Peran algojo inilah yang dimainkan oleh kaum Stalinis.

Hingga akhir 1936 mereka terus beragitasi mendukung pembubaran komite-komite pekerja di bawah slogan: “Semua kekuasaan untuk Generalitat (pemerintah kapitalis Catalan.) Comorera, Menteri Pangan Stalinis telah membubarkan komite-komite roti yang dikuasi oleh kaum buruh anarkis, yang mengendalikan bagian penting distribusi makanan. Dalam beberapa derajat, elemen-elemen kontrol telah dicerabut.

Sebagaimana yang terjadi di tiap revolusi yang mulai surut, kelas pekerja menyadari bahwa kekuasaan mulai jatuh dari tangan mereka. Sementara itu para pimpinan anarkis CNT tidak melakukan apapun untuk menghentikan penjagalan yang dilakukan oleh Kaum Stalinis.

Perbedaan internal mulai muncul di kalangan pengurus kaum buruh anarkis. “Kawan-kawan Durruti” suatu kelompok pekerja dibentuk dan merepresentasikan tendensi revolusioner sejati yang muncul di tengah proses memisahkan diri dengan anarkisme dan bergerak mendekati Marxisme. Seandainya saja para pimpinan POUM tetap mempertahankan politik dan kebijakan revolusioner maka mereka sudah pasti telah memenangkan mayoritas aktivis CNT.

Namun kurangnya politik kelas yang mandiri, ilusi yang memalukan pada front kerakyatanisme, dan kebimbangan terus menerus telah menyebabkan POUM dalam saat-saat yang menentukan, memainkan peran yang fatal. Hingga momen terakhir, para pimpinan POUM terus bergantung pada politik kolaborasi dengan orang-orang yang melaksanakan kontra-revolusi yaitu PSUC.

Meskipun mereka telah diusir dari pemerintahan Front Kerakyatan akibat desakan kaum Stalinis, mereka masih saja menuntut masuk kembali. Laksana Hilferding, yang pada saat revolusi Jerman tahun 1918 menganjurkan “pernikahan” antara soviet atau dewan-dewan pekerja dengan parlementarisme kapitalis, para pimpinan POUM mengajukan gagasan naif berupa suatu konferensi spesial-yang mengundang Generalitat kapitalis-untuk membentuk soviet!

Hal ini mengesampingkan detil minor bahwa Generalitat sebagai poros kontra-revolusi telah menghancurkan elemen-elemen soviet yaitu dewan-dewan pekerja yang sebelumnya sudah terbentuk.

(bersambung ke Revolusi Spanyol yang Dikhianati bagian II)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: