Revolusi Spanyol yang Dikhanati (bag. II)

Revolusi Spanyol yang Dikhianati II

Hari-Hari Mei Barcelona (Barcelona May Days)

Setelah menyiapkan reaksi selama enam bulan lamanya maka pada Mei 1937 Kaum Stalinis mulai menyerang. Kaum buruh anarkis sebelumnya telah merebut dan mengambil alih telepon Barcelona selama insureksi 1936. Kini Kaum Stalinis mengerahkan pasukan dan tank-tank untuk merebutnya.

Kaum buruh anarkis melawan. Pemogokan massa diserukan dan barikade-barikade didirikan di seluruh penjuru Catalonia. Suatu upaya untuk menggunakan Brigade Internasional untuk melawan kaum buruh Barcelona digagalkan oleh keengganan Brigade Internasional untuk campur tangan. Sekali lagi kekuasaan berada di tangan proletar Catalonia.

Ini adalah kesempatan terakhir untuk mengobarkan revolusi di Spanyol. Dengan kepemimpinan yang tepat maka Hari-Hari Mei sudah pasti akan membuahkan kemenangan bagi kelas pekerja. Namun setelah peristiwa itu, Solidaridad Obrera, koran anarkis menyatakan: “Kalau kita ingin merebut kekuasaan, kita bisa saja meraihnya dengan pasti di bulan Mei. Namun kita menentang kediktatoran.”

Suatu fakta yang menjijikkan bahwa ternyata para pimpinan CNT dan POUM, lah, yang menyelamatkan negara kapitalis tiap kali negara itu berada di ambang bahaya penggulingannya. Para pimpinan anarkis, Garcia Oliver dan Federica Montseny malah menyerukan para pekerja untuk meletakkan senjata dan kembali bekerja. Pusat anarkis, Casa CNT juga malah memerintahkan para pekerja untuk meninggalkan barikade.

Selama empat hari kelas pekerja menguasai Barcelona secara efektif.

Seandainya saja POUM menyerukan kelas pekerja untuk berkuasa, maka tidak akan ada satupun yang bisa menghentikannya. Suatu contoh keberadaan pemerintahan revolusioner buruh dan tani di Catalonia pasti akan menjalar seperti kobaran api yang membakar seluruh Spanyol.

Seandainya saja POUM merebut kekuasaan mereka bisa menawarkan front persatuan melawan Franco ke pemerintahan di Madrid. Karena sesungguhnya pemerintah tidak memiliki pasukan sama sekali yang bisa mereka andalkan. Sangat banyak massa di Madrid, Valencia, dan di garis depan lainnya yang akan dan bersedia bergerak di bawah bendera Sosialisme yang berkibar di Barcelona. Kekuatan pemerintahan Madrid sudah pasti akan runtuh dan meluruh.” (Ted Grant, Revolusi Spanyol 1931-1937, halaman 56)

Kekalahan kaum proletar Barcelona mengakibatkan meletusnya orgi-kontra-revolusi. Kaum Stalinis mulai membekuk kaum Anarkis dan POUMis serta melucuti kelas pekerja. Komite-komite pekerja dan kolektif-kolektif pekerja mulai dihancurkan. POUM dinyatakan ilegal dan difitnah telah berkomplot dengan Franco. Nin dan para pimpinan lainnya disiksa secara kejam dan dibunuh agen-agen Stalin di Spanyol.

Largo Caballero berupaya memprotes tindakan-tindakan kaum Stalinis di Catalonia. Sebagai akibatnya kaum Stalinis bersekutu dengan sayap kanan kaum Sosialis pimpinan Prieto untuk memprovokasi krisis kabinet yang berujung pada jatuhnya Caballero.

Cabellero kemudian digantikan oleh Sosialis sayap kanan Juan Negrin, yang dijelaskan oleh Hugh Thomas sebagai “lelaki grande borjuasi, penjaga kepemilikan swasta, dan penjaga kapitalisme.” (Perang Saudara Spanyol, halaman 667). Di bawah Negrin kaum Sosialis Kiri dan Kaum Anarkis secara sistematis diburu, disingkirkan, dan dibersihkan dari tiap jabatan dan posisi-posisi yang diembannya.

Membangun Kembali Negara Kapitalis

Dengan pendampingan antusias dari kaum “Komunis”, Negrin membangun kembali aparatus negara kapitalis dan menempatkan angkatan bersenjata di bawah kendali para perwira militer yang “loyal” (baca: reaksioner pro-kapitalis) seperti Jenderal Miaja yang memiliki kartu keanggotaan Partai Komunis (berikut kartu anggota partai-partai lainnya juga).

Hakim-hakim lama, kepala-kepala kepolisian, sipir-sipir penjara dan pejabat-pejabat pegawai negeri kembali bangkit. Kaum pengacara radikal yang dianggap terlalu simpatik pada tujuan-tujuan perjuangan kelas pekerja, dipecat seluruhnya. Kolektif-kolektif kaum tani dibubarkan dan para pimpinannya dijebloskan ke dalam penjara.

Awal April 1937, Leon Trotsky memperingatkan bahwa demokrasi kapitalis di Spanyol sudah hancur terlepas siapapun pihak yang memenangkan perang. Alur pemikiran Negrin tampak bahkan sebelum dia meraih kekuasaan dengan mengatakan bahwa Spanyol “membutuhkan kediktatoran dengan aturan-aturan demokratis [!] yang akan menyiapkan rakyat bagi masa depan.” Prediksi Trotsky dibuktikan oleh peristiwa-peristiwa selanjutnya.

Pemerintahan Negri yang ironisnya dijuluki Partai Komunis sebagai “pemerintahan kemenangan” malah berlumur serangkaian kekalahan militer. Semangat kelas pekerja telah dipatahkan oleh likuidasi capaian-capaian revolusi.

Kenyataannya, pemerintahan Republikan memang tidak mencari kemenangan militer namun mencari kesepakatan dengan Franco. Prieto sang Sosialis kanan diam-diam menawarkan koalisi kepada kaum fasis antara Gil Robles dan dirinya sendiri. Namun pada titik itu Franco tidak memiliki niatan untuk memberikan konsesi sama sekali.

Serangan ofensif Ebro malah berakhir dengan kekalahan sehingga mengakibatkan Catalonia berada di ujung tanduk ampunan Franco. Penghancuran kaum pekerja Barcelona telah menghancurkan semangat tempur ibukota, yang segera jatuh pula ke tangan fasis, yang selanjutnya melancarkan penindasan mengerikan.

Sebagaimana yang telah diperkirakan Trotsky, kekalahan kelas pekerja secara tak terelakkan akan memicu kemenangan kontra-revolusi meskipun seandainya pihak Republik yang memenangkan peperangan. Kaum Stalinis telah membantu membangun kembali negara kapitalis dan mengerahkan pasukan untuk dikuasai kasta para pejabat militer lama. Mereka inilah yang pada selanjutnya menendang kaum “Komunis” dan menjalankan kudeta di garis belakang.

Jenderal Casado dan Miaja (masih mengantongi kartu anggota Partai Komunis) berkonspirasi dengan Negrin untuk mengilegalkan partai “Komunis” dan mencoba merundingkan kesepakatan dengan Franco. Casado bahkan memberi tawaran untuk menangkap para pimpinan Partai Komunis dan pimpinan-pimpinan lainya untuk diserahkan kepada Franco.

Para pimpinan Sosialis sayap Kanan seperti Besteiro juga terlibat perkomplotan. Besteiro bahkan menawarkan untuk menghadap dan menyerah kepada Franco secara langsung.

La Pasionaria dan para pimpinan Stalinis lainnya akhirnya kabur ke Perancis dan meninggalkan para anggota biasa Partai Komunis untuk memperjuangkan sendiri nasibnya masing-masing. Partai “Komunis” membayar pengkhianatannya dengan penghancurannya bukan oleh tangan Franco namun oleh tangan-tangan Jenderal dan para Politisi Republikan “demokratis” dan “progresif” yang mereka pasang di kursi kekuasaan.

Dengan pemberantasan kaum Stalinis, Jenderal Casado mencoba berunding dengan Franco. Namun sekarang sudah tidak ada yang bisa dirundingkan. Tengah hari, 27 Maret 1939, pasukan Franco berhasil menduduki Madrid tanpa perlawanan sama sekali. Negrin, Prieto, dan para pimpinan Sosialis sayap kanan lainnya naik pesawat dan kabur ke Meksiko dengan memboyong banyak emas dan batu mulia, bekal cukup untuk hidup mewah di pengasingan sementara para pengurus Sosialis yang tersisa di Spanyol hanya bisa mengharap belas kasihan algojo-algojo Franco.

Sementara itu Besteiro tetap tinggal, bodohnya dia berharap bahwa dia akan diampuni namun ia berakhir dibui dan meninggal dalam penjara. Sementara itu Largo Caballero bersama dengan ribuan pengungsi Spanyol, tertangkap saat invasi Jerman berhasil menduduki Perancis, dan mereka dikirim ke kamp-kamp konsentrasi NAZI.

Represi Francois

Kelas pekerja Spanyol membayar harga yang sangat mahal atas kesalahan-kesalahan politik dan kepengecutan serta pengkhianatan para pimpinannya. Kaum fasis menjalankan balas dendam yang mengerikan terhadap kelas pekerja. Sebanyak satu juta orang telah terbunuh dalam perang saudara itu sendiri. Sementara ribuan lainnya dibunuh menjelang kekalahan Republik dan kemenangan Franco.

Di tiap desa ada suatu jalan setapak sunyi yang menuju pinggiran perkampungan. Hingga saat ini kaum lanjut usia menerangkan bagaimana kaum “nacionales” mendatangi si ini dan si itu untuk jalan-jalan cari angin namun yang diajak jalan-jalan tidak pernah pulang kembali karena yang sebenarnya terjadi adalah kaum tuan tanah dan kaum kapitalis membalaskan dendamnya pada musuh-musuhnya.

Penjara Spanyol penuh sesak oleh narapidana. Hingga tahun 1942 diperkirakan ada dua juta orang yang dijebloskan ke penjara dan kamp-kamp. Sebagian besar divonis hukuman mati. Lainnya cukup “beruntung” hanya divonis 30 tahun penjara.

Hak-hak paling dasar kelas pekerja telah dirampas; organisasi-organisasi politik maupun serikat buruh mereka dilarang sepenuhnya. Malam barbarisme telah menjelang menyelimuti Spanyol selama hampir 40 tahun lamanya.

Kekalahan kelas pekerja Spanyol juga telah menentukan nasib Eropa. Trotsky telah memprediksikan bahwa kekalahan demikian akan membuat perang dunia kedua tidak terelakkan. Kelas penguasa “demokratis” di Inggris dan Perancis yang berkomplot memperbolehkan kemengan Franco (Chamberlain menulis di catatan hariannya: “Kupikir kita harus menjalin hubungan baik dengan Franco yang tampaknya bersikap baik pada kita) terpaksa bersiap menghadapi penjagalan Hitler terhadap Polandia dan Spanyol yang terjadi setahun setelah Madrid jatuh ke tangan fasis.

Hitler telah menjalankan perannya dengan melakukan perundingan rahasia dengan Hitler bahkan selama perang saudara Spanyol masih berlangsung. Perang dunia kedua, dimana korbannya mencapai puluhan juta, yang membawa umat manusia ke bibir jurang barbarisme, merupakan buah langsung dari kegagalan kelas pekerja Spanyol untuk berkuasa pada 1936-1937.

“Mereka yang tidak belajar dari sejarah akan terkutuk untuk mengulanginya.” Krisis kapitalisme dunia saat ini sekali lagi akan memberikan beban tugas transformasi masyarakat.

Maka sudah merupakan tugas kaum pekerja yang berkesadaran untuk mempelajari pelajaran-pelajaran revolusi Spanyol demi mempersenjatai diri mereka untuk melaksanakan perjuangan menuju kesimpulan-kesimpulan yang bisa mendatangkan kemenangan.

*diterjemahkan dari tulisan Alan Woods tahun 1986 berjudul “The Spanish Revolution Betrayed” sebagaimana dipublikasikan dalam marxist.com. Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan dimuat Bumi Rakyat. Bumi Rakyat tidak memiliki hubungan apapun dengan Alan Woods maupun marxist.com.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: