Pemogokan Nasional Palestina untuk Hentikan Pemusnahan Etnis melalui Program Prawer

Pemogokan Nasional Palestina untuk Hentikan Pemusnahan Etnis melalui Program Prawer

Program Prawer yang disahkan di parlemen di bulan Juni bertujuan untuk merampas 800.000 dunam (1 dunam setara 1.000 meter persegi) dan mengusir 30.000 hingga 50.000 kaum Badui Palestina. Tiga puluh lima desa yang tidak diakui Israel juga akan dihancurkan, dan menjadi puncak kampanye pemusnahan etnis secara terang-terangan di hadapan komunitas internasional. Kaum Badui Palestina ini akan diusir dan disingkirkan ke satu persen tanah yang tersisa.

Di jejaring sosial seperti Twitter dan Facebook, tanda pagar (tagar) #StopPrawerPlan dan #برافر_لن_يمر telah digunakan untuk memobilisasi dan membangun kesadaran. Senin 15 Juli merupakan hari angkara nasional dan “Pemogokan Angkara” oleh rakyat Palestina dari sungai ke laut. Gaza dan Tepi Barat juga ambil bagian dalam aksi protes Senin.

Namun seperti yang diduga banyak orang PLO telah melarang pernyataan apapun yang mendukung aksi tersebut.

Aksi unjuk rasa bertolak dari Universitas Ben Gurion di Bir Al-Saba pada Senin jam 10 pagi dan arak-arakan pengunjung rasa menuju gedung Otoritas Pemukiman Badui. Hingga saat ini sudah 14 orang Palestina yang ditangkap, termasuk dua anak kecil.

Rakyat kota dan desa yang masuk dalam wilayah yang diduki sejak 1948 termasuk Galilee di utara, Segitiga di tengah, dan pesisir pantai, telah mengorganisir demonstrasi mereka di perempatan-perempatan, bundaran, dan alun-alun ramai.

Mengapa hal ini terjadi? Mengapa kampanye penggusuran masif, perampasan tanah, dan pengambilalihan paksa terjadi kini? Anas Abu Daabas, presiden Asosiasi Akademik di Rahat menjelaskan pada seminar 20 April yang diselenggarakan oleh kotamadya Al-Bireh.

Selama beberapa tahun terakhir Israel tengah mengalami krisis ekonomi yang dipicu oleh krisis perumahan. Israel mencoba mencari keuntungan dari luasnya tanah Naqab dengan membangun kota bagi para tentara yang akan lebih dekat ke kamp-kamp pelatihan militer, yang sudah dialihkan Israel ke seletan. Program ini tentu saja mengorbankan para penduduk pribumi yang mereka fitnah sebagai “penjajah” dan “kaum nomaden”

Perwujudan Diskriminasi Sosial

Amir Qweider, seorang mahasiswa di Universitas Ben Gurion yang tinggal di Zarnouq, desa yang tidak diakui Israel, berbicara pada seminar tersebut mengenai kenyataan dan fakta-fakta terkait desa-desa kaum Badui di Nawab. Sesungguhnya selama ini mereka dilarang membangun rumah atau bangunan permanen apapun dan pihak Israel akan menghancurkan siapapun yang melawan perintah itu.

Tidak ada jalan pavingan maupun jalan beraspal, tidak ada sekolah, tidak ada listrik maupun saluran air, tidak ada kabel telepon, dan tidak ada sistem sanitasi,” kata Amir. “Perbedaan antara pemukiman Yahudi dan kampung-kampung Arab adalah perwujudan dari diskriminasi rasial, meskipun keduanya sama-sama warga negara Israel secara resmi.”

“Menggunakan cap “kaum nomaden” untuk mengategorikan kami adalah suatu cara bagi Israel untuk melakukan pembenaran terhadap penjajahan, kolonisasi, dan pendudukan terhadap Naqab, sehingga menggambarkan selama ini kami hanya mondar-mandir di atas wilayah tersebut namun tidak memilikinya.” ungkap Abu Daabas. “Namun hal itu jelas merupakan suatu dusta. Nenekmoyang, leluhur, dan suku kami sudah hidup di kampung-kampung ini serta (dusta Israel) tidak menjelaskan mengapa kami masih memiliki struktur-struktur bangunan seperti sekolah-sekolah dan rumah-rumah yang dibangun sejak sebelum peristiwa Al-Nakba.

30 Maret 1976 silam, ribuan rakyat Palestina yang merupakan warga Israel melakukan unjuk rasa menentang pengumuman negara yang akan menyita 60.000 dunum tanah Palestina. Suatu pemogokan massa kemudian diorganisir dari gurun Naqab ke Galilee, kemudian pasukan Israel membunuh enam orang Palestina saat aksi protes tersebut terus berlangsung. Peristiwa ini kemudian dikenal sebagai Hari Tanah Palestina yang kemudian diperingati setiap tahunnya.

Rakyat Palestina harus turun ke jalan dan mengecam perampasan tanah sebesar 800.000 dunam di Naqab oleh pemerintah Israel. Sebagaimana Hari Tanah Palestina, dan mengutip kata-kata Arjan El-Fassed, “menegaskan kembali bahwa minoritas Palestina dalam wilayah Israel adalah bagian tak terpisahkan dari Palestina dan bangsa Arab,” Pemogokan Angkara 15 Juli menegaskan bahwa terleas perbedaan politik, perbedaan kepemimpinan kolaboratif dan non-representatif, Palestina, mulai dari sungai ke samudera, termasuk dengan kaum Badui di Naqab, adalah bagian integral dari populasi rakyat Palestina.

Jerusalem, Sakhnin, Yafa, Umm al-Fahem, Shifa Amro, Gaza, Nablus, Hebron, Jenin, Upper Galilee, Ramallah, Kufr Kanna, Nazareth, Haifa. Israel tidak bisa menang melawan semuanya.

Akar Perampasan Tanah oleh Israel

Gurun Naqab, yang terabaikan secara historis dalam wacana Palestina, luasnya mencakup 60% wilayah Palestina, dan vitalitasnya tidak luput dari pandangan David Ben Gurion, perdana menteri Israel yang pertama. Dalam sepucuk surat yang ditulis pada 1937 pada puteranya Amos, Ben Gurion menekankan bahwa penjajahan total terhadap Naqab sangat penting bagi konsep kolonial pemukim Israel:

“Kita harus mengusir semua orang Arab dan merebut tempat mereka…bila kita harus menggunakan kekerasan, kita sudah siap menggunakannya bukan untuk mencabut hak milik orang Arab di Negev dan mengalihkannya, namun demi menjamin hak kita untuk menduduki tempat-tempat tersebut.”

Kampanye pemusnahan etnis 1948 telah mengakibatkan 90 persen populasi Naqab terusir dengan paksa ke Jordan, Gaza, dan gurun Sinai. Sekitar 11.000 orang dari suku Badui tetap tinggal di gurun dan antara tahun 1948 hingga 1965 banyak diantaranya yang terpaksa hidup di bawah rezim militer Israel. Pengambilalihan paksa internal dilakukan terhadap kaum Badui ini dari sekitar jalan Bir Al-Saba-Jaffa ke area yang disebut Siyaj, di perbatasan dekat Hebron.

Di bawah politik pendudukan terhadap sejumlah besar rakyat Palestina yang menempati persentase terkecil tanahnya, Israel menggunakan sejumlah peraturan hukum, seperti Hukum Ordonansi Tanah, Hukum Akusisi Tanah, dan Hukum Hak Milik Absentee untuk mengonsolidasikan praktek perampasan tanah terhadap Nawab dan melegalisasi perampasan hak milik para penduduk pribumi. Pada tahun 2004, Hukum Pengusiran Penjajah diterapkan dan mencap kaum Badui sebagai seorang penjahat di tanah yang sebenarnya milik mereka sendiri.

Antara tahun 1993 hingga 2007 Israel meningkatkan penggusuran dan penghancuran rumah-rumah suku Badui dan bangunan lainnya. Pada 11 September 2011, pemerintahan Netanyahu sudah meloloskan pengesahan Program Prawer yang namanya diambil dari Ehud Prawer, mantan deputi ketua keamanan nasional. Di tahun itu saja sudah seribu rumah yang dihancurkan dan terus berlangsung di tahun 2012 berikutnya.

Pada tahun 1969 dan sepanjang dekade 1970an Israel sudah merancang tujuh pemukiman kota untuk menggusur kaum Badui, sebagai satu bagian dari skema besar untuk membangun pemukiman sejuta Yahudi di gurun tersebut. Pemukiman terbesar disebut Rahat, dan menduduki peringkat kedua dalam sepuluh besar tangga sosio-ekonomi Israel, dimana 60.000 Badui Palestina masih tinggal disana. Terdapat 46 kampung Badui (yang sudah ada semenjak tahun 1948), dimana 35 diantaranya tidak diakui oleh negara Israel. Sepuluh sisanya tetap diakui namun mereka tidak diberi layanan-layanan dasar pemerintah sama sekali.\

*diterjemahkan dari tulisan Linah Alsaafin yang diterbitkan Electronic Intifada dengan judul “Palestinian national strike to stop Israel’s “Prawer plan” ethnic cleansing”, diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan dipublikasikan Bumi Rakyat. Bumi Rakyat tidak memiliki hubungan sama sekali dengan Electronic Intifada.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: