Ribuan Kaum Tani Catatumbo Cari Suaka ke Venezuela

Ribuan Kaum Tani Catatumbo Cari Suaka ke Venezuela

Merida, Selasa 23 Juli 2013, khawatir akan represi negara, kaum tani di daerah Catatumbo, Kolombia, yang berbatasan dengan Venezuela, secaa formal meminta suaka di Venezuela. Saat yang bersamaan Nicolas Maduro, Presiden Venezuela tengah bertemu dengan Juan Santos, Presiden Kolombia dalam rangka memulihkan hubungan di antara dua negara.

Kaum Tani di organisasi Ascamcat (Asosiasi Pekerja Pedesaan Catatumbo) menulis sepucuk surat publik bertanggal 21 Juni ditujukan kepada Maduro untuk meminta suaka. Mereka selama ini telah berunjukrasa dan memblokir jalan sejak 10 Juni bukan saja sebagai respon terhadap kampanye pemerintah untuk menghapus panen koka secara paksa di daerah mereka namun juga karena khawatir terhadap pembalasan kekerasan militer.

Santos, belakangan menyatakan bahwa dia tidak akan menolerir pemblokiran jalan lagi dan mengatakan bahwa “melindungi kehidupan, ketenteraman dan mobilitas transportasi Kolombia merupakan hal yang lebih penting dari apapun juga”. Ia juga menyerukan kepada para petani untuk mengakhiri pemogokan dan menyatakan bahwa “tidak ada lagi alasan untuk melanjutkkannya”.

Ascamcat meminta kepada Maduro untuk memberikan “suaka kemanusiaan internasional” di daerah Venezuela. Vladimir Carrillo, koresponden Telesur di Kolombia menyatakan bahwa permintaan ini dibuat akibat kekhawatiran bahwa kaum tani akan digusur dan diusir oleh kepolisian Kolombia.

Hingga saat ini empat petani telah tewas dibunuh dan lebih dari seratus orang terluka dalam aksi unjuk rasa Catatumbo sementara empat orang lainnya dijebloskan ke penjara. Ascamcat melaporkan bahwa 6.000 petani akan mempertahankan mobilisasi dan aksi blokir jalan.

“Melalui surat ini kami ingin meminta agar pemerintahan Venezuela membolehkan kami hak internasional mencari suaka dan mengungsi di bawah hukum organis Venezuela yang menaungi para pengungsi dan pencari suaka,” tulis mereka.

Menurut El Colombiano, Ascamcat belum menerima respon resmi dari pemerintahan Venezuela namun beberapa orang yang terlibat dalam aksi demonstrasi kaum tani sudah menyeberang perbatasan masuk ke dalam wilayah Venezuela, khususnya Zulia.

Juan Carlos Quintero, juru bicara (Jubir) Ascamcat, melaporkan bahwa sebanyak 150 orang termasuk anak-anak, kaum lanjut usia (lansia), dan orang-orang sakit telah menyeberang masuk Venezuela dan disambut dengan pemerintahan Venezuela yang menyediakan “pertolongan pertama, bantuan kemanusiaan, makanan, dan perawatan serta obat-obatan”. Cesar Jerez, Jubir lain aksi demonstrasi Catatumbo membenarkan bahwa pendampingan telah diberikan oleh otoritas Venezuela setempat.

Sebaliknya pihak oposisi di Venezuela hingga kini menentang pemberian suaka bagi para pengungsi yang merupakan demonstran Kolombia.

“Oposisi tidak setuju dengan adanya fakta bahwa pemerintahan Presiden Maduro menyediakan suaka bagi orang-orang yang berkelakuan aneh…mereka adalah orang-orang yang memiliki hubungan dengan gerilyawan, dan apa yang mereka lakukan adalah merusak proses perdamaian dan perkembangan harmonis kepentingan rakuat,” kata Nestor Solano, koordinator Front Pertahanan Negara Bagian Tachira. Dia juga menambahkan bahwa tindakan ini akan membawa hubungan Venezuela dengan Kolombia ke dalam posisi “sulit”.

Bagaimanapun juga, sore kemarin, sehari setelah surat tersebut diterbitkan, Maduro dan Santos bertemu di Puerto Ayucacho, di sisi perbatasan Venezuela serta sepakat untuk memperbaharui hubungan bilateral kedua negara.

Pertemuan ini terjadi setelah meletusnya dua insiden selama dua bulan terakhir yang merusak hubungan antara Kolombia dan Venezuela. Insiden pertama adalah pertemuan pada 29 Mei antara Henrique Capriles, pemimpin oposisi Venezuela dan Santos, dimana saat itu Capriles tengah mencari dukungan kampanyenya untuk tidak mengakui hasil pemilihan umum (pemilu) presiden Venezuela 14 April.

Maduro mengatakan pada saat itu bahwa pertemuan tersebut bagaikan “menikam Venezuela dari belakang” dan Venezuela kemudian mengevaluasi kembali perannya dalam perundingan-perundingan perdamaian antara pemerintahan Kolombia dan FARC. Pekan lalu, Capirles juga menemui Sebastian Pinera, Presiden Chile, dan juga menemui pejabat-pejabat lain di Peru demi urusan yang sama.

Insiden kedua adalah pertemuan antara pemerintahan Kolombia dengan Organisasi Traktat Amerika Utara atau North American Treaty Organisation (NATO) dan penandatanganan memorandum kerjasama organisasi militer antara Kolombia dan NATO. Pemerintah Venezuela pada saat itu menyatakan bahwa hubungan demikian menyiratkan suatu “ancaman intervensi militer” di kawasan.

Dalam konferensi pers setelah pertemuan tersebut kedua presiden tidak memberikan komentar secara langsung mengenai pertemuan Santos dengan Capriles maupun NATO.

“Kami sudah membicarakan mengenai tantangan-tantangan bersama, hubungan berdasarkan sikap saling menghormati dan menghargai, dan berdasarkan pertumbuhan kerjasama, dua model hidup bersama secara damai, dua sistem yang berbeda…secara terpisah kita tidak bisa mencapai apapun,” ungkap Maduro kepada pers.

Santos juga menyatakan bahwa meskipun terdapat poin-poin dimana kedua negara tidak sepakat dan memiliki “visi berbeda”, mereka memutuskan untuk “bekerja bersama demi kebaikan” negara mereka.

“Hal ini menempatkan kembali hubungan kita secara sangat positif,” kata Santos.

Tahun 1998 dan 1999 lebih dari 40.000 orang Kolombia menyeberang ke Venezuela setelah Persatuan Angkatan Pertahanan Diri Kolombia (AUC) menyerbu daerah Catatumbo, mengancam dan membunuhi warga. Banyak pengungsi ini kini bermukim di Venezuela.

Diperkirakan terdapat hingga 4,5 juta orang Kolombia yang tinggal di Venezuela. Menurut Komisi Kemanusiaan untuk Pengungsi PBB (UNHCR), sebanyak 200.000 orang pengungsi melarikan diri dari kekerasan dan konflik dalam negeri Venezuela, dengan kata lain ada sebanyak 3.000 pengungsi ke Venezuela per tahunnya. Sedangkan di sisi lain Asosiasi Orang Kolombia di Venezela menyatakan bahwa angka sebenarnya lebih tinggi karena mencapai hingga 350 orang Kolombia per hari.

Konstitusi Venezuela menyatakan bahwa semua orang harus diberikan perawatan kesehatan dan pendidikan gratis terlepas apapun kebangsaannya dan apakah mereka memiliki dokumen resmi atau tidak.

 

*diterjemahkan dari tulisan Tamara Pearson di venezuelanalysis.com dengan judul asli “Thousands of Protesting Colombian Farmers Request Asylum in Venezuela, Maduro Meets with Santos“. Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan dipublikasikan di Bumi Rakyat. Bumi Rakyat tidak memiliki hubungan apapun dengan Tamara Pearson dan venezuelanalysis.com.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: