Swa-organisasi dalam Revolusi Rakyat Suriah

Swa-organisasi dalam Revolusi Rakyat di Suriah

Revolusi Suriah yang dimulai pada Maret 2011 terus berlanjut melawan rezim Baathis yang dipimpin oleh diktator Hafez al-Assad sejak November 1970 dan diteruskan oleh puteranya Bashar semenjak kematiannya pada Juni 2000.

Dengan menggunakan kekerasan dan penindasan tanpa ampun, klan penguasa Suriah mampu mengonsolidasikan kedikatoran polisi-militer yang menggilas oposisi maupun aktivitas independen manapun selama lebih dari empat puluh tahun lamanya. Kediktatoran ini bersandar sepenuhnya pada kesetiaan aparatus negara, yang berdasarkan keluarga dan ikatan kedaerahan serta keagamaan, termasuk korupsi yang meluas. Rezim ini juga bersandar pada hubungan-hubungan organisnya dengan kaum borjuasi serta hirarki-hirarki keagamaan dan aliran-aliran kepercayaan.

Kebijakan-kebijakan sosio-ekonomi neo-liberal, dipercepat dengan penindasan biadab terhadap protes kelas pekerja atau unjuk rasa kerakyatan manapun semenjak awal 2000an, telah mengakibatkan dampak parah: pembagian kapital dalam pendapatan domestik bruto naik 72% di tahun 2005 sementara sepertiga populasi jatuh di bawah garis kemiskinan (kurang dari satu dolar dalam sehari) dan hampir separuhnya berada di ambang dasar ini (dua dolar atau kurang sehari).

Apa yang terjadi saat ini adalah revolusi kerakyatan sejati; tenaga-tenaga pendorongnya adalah para pekerja serta lapisan sosial kaum miskin kota dan desa pada umumnya, Tenaga-tenaga ini mampu menciptakan suatu perlawanan bersenjata kerakyatan di tengah penindasan kekerasan rezim penguasa dan di tengah ketiadaan kepemimpinan politik revolusioner. Mereka telah menciptakan struktur-struktur swaorganisasi dan badan-badan koordinasi, berikut embrio pemerintahan sendiri, dewan-dewan lokal dan biro-biro penasehat sipil. Bentuk-bentuk kontrol dan administrasi dari bawah ini lebih berkembang dalam revolusi Suriah dibandingkan proses manapun di kawasan timur tengah.

Dokumen-dokumen berikut merupakan bagian publikasi pengalaman-pengalaman terkini dari dewan-dewan lokal yang diterbitkan di koran Al Khatt Al Amami (Garis Depan) edisi 13 yang merupakan terbitan resmi Arus Kiri Revolusioner di Suriah. Beberapa artikel diambil dari situs oposisi demokratis kritis Zaman Alwasl, yang didirikan di Homs pada 2005.

Revolusi yang dimulai pada Maret 2011 terus berlangsung melawan rezim Baathis yang dipimpin oleh diktator Hafez al-Assad sejak November 1970 dan diwariskan pada anaknya Bashar semenjak kematiannya pada Juni 2000.

Laporan Mengenai Dewan-Dewan Lokal

Dalam pertemuannya, Komisi Umum Koalisi Nasional mempresentasikan suatu laporan mengenai keberadaan dewan-dewan lokal di SUriah. Laporan ini bisa dilacak kembali pada permulaan revolusi yang bertepatan dengan krisis kemanusiaan akibat kekerasan rezim dimana banyak orang di kota maupun desa menanggung penderitaan sangat berat. Menghadapi hal ini, banyak orang mulai menawarkan layanan-layanan dasar kepada orang yang membutuhkan namun dengan meningkatnya kebutuhan maka kelompok-kelompok kecil maupun perorangan tidak bisa terus menyediakan layanan demikian tanpa bekerjasama dan berkoordinasi dengan satu sama lain.

Dari sini mulai diorganisir dewan-dewan lokal yang mencerminkan rasa tanggung jawab dan kemampuan warga untuk mengambil langkah dalam menjalankan dan menangani urusan mereka, berdasarkan kerangka kerja, pengalaman, dan tenaga…hal ini membawa kita pada pembenaran akan keperluan strategis terhadap proyek dewan-dewan lokal serta pada pentingnya mendukung mereka dengan segala cara yang mungkin…bebas dari pertimbangan partisan, rasial, maupun ideologis. Dewan-dewan ini merupakan peragaan konkret yang membantah segala anggapan yang menyatakan bahwa terdapat penyebarluasan anarki dan disorganisasi akibat situasi revolusioner terkini atau akibat rontoknya kekuasaan rezim. Semua pernyataan yang menyangkut kemampuan rakyat Suriah untuk menemukan suatu alternatif terhadap rezim Assad, untuk menjamin stabilitas dan keamanan dengan menyediakan kebutuhan-kebutuhan mendasar populasi dan mengantarkannya pada pembangunan, tetap merupakan suatu permalahan teoritis dan contoh konkret yang disebutkan di atas sudah membuktikan kemungkinan alternatif tersebut kepada rakyat Suriah.

Dewan-dewan lokal di Suriah mendirikan struktur administratif untuk menangani kehidupan sehari-hari warga di tengah ketiadaan negara…dewan-dewan tersebut hadir dalam berbagai bentuk, baik di daerah yang masih dikuasai rezim maupun di daerah yang sudah dibebaskan. Semuanya dijalankan sepenuhnya oleh rakyat.

Kepemimpinan dan Perwakilan

Laporan tersebut menyatakan bahwa pengelolaan diserahkan kepada para perorangan dan kelompok yang menawarkan layanan-layanan mereka terhadap banyak orang yang membutuhkan, dengan cara yang paling baik dan dengan perspektif jangka panjang. Sebagian besar dukungan material dan dukungan moral disediakan oleh rakyat Suriah di dalam negeri maupun di luar negeri sampai kebutuhan-kebutuhan semakin besar barulah dimulai program penggalangan dana di luar negeri…keputusan menyangkut distribusi bantuan umumnya diambil oleh orang yang menyediakannya. Namun mulai muncul kebutuhan akan metode distribusi yang lebih matang dan lebih adil. Dengan demikian perlu meningkatkan tingkatan dari tahapan kuota dan pertimbangan berdasarkan kelompok tertentu. Peran inilah yang kemudian coba diisi oleh dewan-dewan lokal. Hal inilah yang kemudian akan memberikan dewan-dewan lokal tersebut suatu kredibilitas nasional…

Karena keadaan luar biasa sulit yang dilalui oleh rakyat Suriah, jelas bahwa menurut laporan, metode memilih perwakilan-perwakilan tidak berjalan seperti pemilihan umum (pemilu) yang digelar dalam keadaan yang diinginkan. Maka perlu membuat suatu upaya permanen untuk mewujudkan perwakilan yang seksama dan teliti di semua tingkatan pemerintah. Laporan mengindikasikan bahwa dewan-dewan lokal menangani kontak dengan kelompok-kelompok oposisi revolusioner, baik sipil maupun militer. Sebagai tambahan terhadap tugas-tugas yang sudah diemban demikian, dewan-dewan lokal juga memainkan peran penting dalam revolusi melalui pembekalan layanan-layanan sipil terhadap kelompok-kelompok tersebut, sehingga membantu mereka melanjutkan kerjanya…

Laporan juga menunjukkan bahwa tujuan utama dewan-dewan lokal pada tahapan ini adalah untuk memenuhi kekosongan yang ditinggalkan negara, dengan menyediakan layanan-layanan umum dengan kondisi-kondisi terbaik kepada banyak orang. Hal ini merupakan pertanyaan membentuk embrio kotapraja yang akan dipilih kelak, sebagai agen penghubung dengan pemerintahan sementara kelak. Tujuan esensialnya adalah untuk memenuhi kekosongan administratif dan organisasional dengan cara menyediakan layanan-layanan publik. Hal ini berarti menangani kehidupan sipil di lapangan pendidikan, kebersihan, penyediaan air dan listrik, bensin, status sipil, penyaluran bantuan… Dewan-dewan juga harus menyediakan layanan menurut kebutuhan, dalam hal bantuan, obat-obatan, informasi, pertahanan sipil, hukum, rekonstruksi dan administratif, serta pengembangan media dan profesional. Tujuan mereka tidak hanya mempertahankan gerakan kerakyatan maupun menjamin fungsi jaringan-jaringan sosial namun mereka membantu menerapkan kembali nilai-nilai hidup komunitas dan kebudayaan sipil. Mereka juga bertujuan untuk menjaga institusi negara, bangunan umum, dan harta benda, serta melindungi warga, dengan bekerjasama dan berkoordinasi dengan dewan-dewan dan brigade militer.

Nilai-nilai yang Disebarluaskan

Laporan ini menyatakan bahwa tindakan dewan-dewan lokal, di semua area kekuasaan sipil, akan menyebarluaskan nilai-nilai inti, termasuk komitmen terhadap tujuan-tujuan revolusi, mewujudkan aspirasi rakyat, saling menghargai pendirian suatu lingkungan fungsional homogen, yang dikelola dengan kerjasama dan persahabatan…

Prinsip-prinsip tersebut dirumuskan melalui konsultasi dan pemilihan, terhadap keputusan-keputusan yang diambil tanpa despotisme ataupun secara arbitrer dalam kerangka kerja kesetiaan, transparansi, saling berbagi, kreasi, inovasi, dan pelestarian yang bertujuan mengembangkan pertukaran interaktif antar semua komponen masyarakat, dalam memperkuat koordinasi dan komplementaritas, memperkuat kesetaraan hak-hak rakyat Suriah tanpa diskriminasi agama, etnis, maupun kriteria nasional.

Laporan ini menyoroti banyak kesulitan yang dihadapi oleh dewan-dewan lokal, yang telah memperlemah mereka, dan yang coba mereka pecahkan. Termasuk salah satu masalah diantaranya adalah kurangnya pengalaman, karena memang dewan-dewan lokal terbentuk di tengah situasi krisis…selain itu ada kurangnya kejelasan definisi tingkat tanggung jawab dan wewenang serta kesulitan dalam menjamin keadaan baik dan kebenaran informasi yang memungkinkan untuk menaksir dan menilai kebutuhan-kebutuhan serta dengan demikian juga kesulitan untuk mengembangkan rencana-rencana aksi dan tindakan.

Tahapan-tahapan dalam Pembentukan Dewan-Dewan Lokal

Laporan ini mengamati tahapan-tahapan dalam pembentukan dewan-dewan lokal. Pertemuan pertama di gelar pada awal Juli 2012 yang dihadiri perwakilan dari Latakia, Homs, Deraa, Damaskus sera daerah-daerah pinggiran seperti Hassaka dan Idleb, dan kemudian menyusul perwakilan dari Aleppo. Tujuan pertemuan ini adalah untuk mendiskusikan gagasan dewan-dewan lokal dan membuka saluran kontak antar gubernuran untuk menjamin koordinasi yang lebih baik antar revolusioner. Dari pertemuaan ini muncullah komite yang bertanggungjawab untuk memonitor perwakilan, yang terdiri dari tujuh orang untuk tiap gubernuran, yang tugasnya adalah untuk merangkum seperangkat peraturan untuk bertindak.

Pertemuan kedua, digelar tiga pekan kemudian di Istanbul, dengan dimonitor oleh komite. Situasi revolusioner di tiap gubernuran dan mekanisme-mekanisme memilih tujuh perwakilan dari tiap gubernuran mulai dijalankan. Hadir dalam pertemuan tersebut antara lain -perwakilan-perwakilan dari Latakian, Homs, Deraa, Damaskus serta daerah-daerah pinggirannya seperti Dir, Hassaka, dan Idleb.

Pertemuan ketiga digelar di Ankara tiga pekan kemudian dan dihadiri oleh para perwakilan Latakia, Homs, Deraa, Damaskus dan daerah-daerah pinggirannya, Dir, Hassaka, Idleb, Hama, serta Aleppo. Pertemuan ini merumuskan seperangkat aturan yang akan dipresentasikan komite pemonitoran secara langsung kepada kaum revolusioner di dalam negeri Suriah.

Sumber: http://www.zamanalwsl.net/readNews.php?id=35993

Dewan Lokal di Desa Perbatasan

Suatu dewan lokal didirikan di Aqrabat, suatu desa yang terletak di perbatasan Suriah-Turki, di daerah Idleb. Dewan ini terdiri dari sepuluh kantor, termasuk kantor bantuan, keuangan, layanan, hukum, keamanan, pendidikan, dan obat-obatan.

Kapten Abdessalam Abderrazak, petugas penghubung dewan, mengisahkan pada Zaman Alwasl: “Dewan didirikan di atas landasan untuk menyatukan semua populasi melalui perwakilan keluarga mereka. Komite pendirian memiliki dua puluh anggota yang mewakili keluarga-keluarga ini. Kebutuhan akan dewan tersebut dirasakan karena naiknya permasalahan yang dialami oleh orang yang mengungsi kesana-kemari selama konflik.” Dia juga menyebutkan kebutuhan akan organisasi dan layanan-layanan seperti penyediaan nafkah dan keamanan sebagai pengganti kekosongan yang disebabkan ketiadaan negara., “akibat pembalasan rezim penguasa terhadap daerah-daerah yang telah dibebaskan dalam bentuk penghalangan layanan-layanan vital”.

Mengenai proyek-proyek dewan-dewan lokal mendatang, Abderrazak menyatakan akan ada pembangunan dapur umum untuk melayani desa dan kamp-kamp terdekat yang menampung empat puluh ribu pengungsi. Selain itu akan ada juga pengaktifan kembali kantor yudisial melalui Komite Implementasi yang dihormati oleh seluruh populasi. Kemudian juga ada kemungkinan untuk pendirian generator listrik. Zaman Alwasl telah mempelajari dari berbagai sumber berbeda dalam dewan bahwa dewan juga menangani keluarga-keluarga miskin di pedesaan agar kebutuhan mereka dipenuhi. Dapur umum otomatis juga akan menyediakan lusinan pekerjaan bagi mereka yang dipecat dari pekerjaan di pemerintah secara sewenang-wenang.

Sumber-sumber ini juga mengindikasikan bahwa eksperimen demokratis murni tengah dipraktekkan oleh adanya pemilihan presiden dewan, dua orang yang kompeten secara administratif dicalonkan dan dipilih dengan hanya selisih satu suara. Populasi Aqrabat mencapai sekitar dua ribu; pembentukan dewan-dewan lokal di Idleb dianggap sebagai langkah penting di jalan menuju pembangunan Suriah merdeka.

Mimpi Demokratis Telah Diwujudkan di Deir Izzor

Di tengah bombardir tentara rezim penguasa, kaum oposisi mengorganisir pemilihan umum (pemilu) lokal di daerah-daerah yang telah “dibebaskan” dan pemilu ini merupakan pemilu pertama kali dalam 40 tahun. Bertempat di serambi pasar kota Deir Ezzor, yang merupakan mangsa rawan mortar dan latar bentrokan-bentrokan keras, suatu proses pemilu “diorganisir untuk pertama kalinya dalam empat puluh tahun”, jelas Khadr, seorang anggota dewan lokal oposisi yang dipilih pada Ahad oleh para penduduk daerah-daerah yang “dibebaskan”.

Khadr memenangkan satu dari lima kursi “dewan lokal” di Deir Ezzor. Para penentang rezim, termasuk para pejuang diantaranya, memutuskan untuk membentuk dewan-dewan demikian, yang menangani urusan-urusan warga di zona-zona yang dievakuasi oleh angkatan bersenjata rezim dan yang diabaikan oleh pemerintah. Petugas baru yang terpilih mengatakan: “Hari ini merupakan hari bersejarah bagi semua penduduk Deir Ezzor; karena hari ini mereka bebas memilih orang yang mereka percaya bisa memberikan bantuan”.

Di lingkungan di luar kendali tentara reguler di timur Suriah, terdapat banyak tanda atau marka yang menyerukan rakyat untuk memilih. Selain itu banyak selebaran juga dibagikan di daerah perdagangan.

Lusinan pemilih berlindung dari derasnya hujan sekaligus tembakan mortar dengan bertempat di shelter bawah tanah lingkungan Sheikh Yassin sembari memeriksa daftar calon yang diajukan di pemilu. Oum Chadi, seorang perempuan berusia 56 tahun mengatakan bahwa dia akan memberikan suara untuk pertama kalinya dalam hidupnya sambil menambahkan: “Saya ingin memberikan suara untuk mengatakan pada Bashar bahwa semua yang kami inginkan sejak awal adalah pemilu bebas seperti ini, untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan di negeri kami”. Putera Oum Chadi sendiri terbunuh enam bulan lalu saat bertempur melawan pasukan reguler…

Abdelhamid, seorang mantan insinyur yang mengamati proses pemilu, mengatakan bahwa “orang-orang tetap berdatangan walaupun ada bombardir. Semua ini karena mereka mendukung revolusi…inilah cara bagi mereka untuk berkonfrontasi dengan rezim tanpa mengangkat senjata”.

Hari ini, hampir sebanyak 200.000 orang tinggal di Deir Ezzor, menurut seorang aktivis, yang mana sebelumnya populasinya lebih dari 750.000, namun kini banyak yang telah mengungsi menghindari kekerasan. Seorang penduduk yang meminta agar namanya dirahasiakan, menyatakan “Di masa silam, pemilu digelar untuk menunjukkan demokrasi Suriah kepada dunia, sementara para pemenangnya semuanya anggota partai Baath”, yang selama ini terus menguasai Suriah hampir selama seabad lamanya.

Abdulmajid, pria berumur 75 tahun, baru saja memasukkan kertas suaranya di kotak pemilu dan disambut dengan tepuk tangan, menyatakan: “Keluarga Assad telah berkuasa selama empat puluh tahun, kini sudah saatnya datang perubahan.”. Dia juga mengingatkan bahwa rezim “tidak meraih kekuasaan secara demokratis”, ucapnya mengacu pada kudeta yang menempatkan bekas presiden Hafez Al-Assad, ayah dari presiden saat ini, ke kursi kekuasaan di tahun 1870, sementara “rezim Suriah ingin meyakinkan kepada dunia bahwa pemberontakan kami tidak sah. Kami sebenarnya hanya ingin meminta hak kami yang dirampas”, ia kemudian menambahkan: “Demokrasi akan kembali ke Suriah.”

Mohammad Ahmad, seorang pemilih lainnya, menyatakan bahwa rakyat Suriah “menginginkan suatu negara demokratis, bukan negara Islam. Kami menginginkan negara yang dikelola oleh rakyat sipil, bukan oleh kaum mullah.”

Tentara Suriah Merdeka (FSA) telah melarang para anggotanya untuk berpartisipasi dalam pemilu. Bagi komandan batalyon yang bertempur di kota, “hal demikian memberi kami kesempatan untuk mendengaran suara rakyat sipil. Kami semua berjuang untuk melawan rezim.” …

Dewan Lokal Kotamadya Maadan

Daerah-daerah yang telah “dibebaskan” penuh dengan contoh keberhasilan administrasi oleh dewan-dewan lokal yang menunjukkan kemampuan rakyat untuk menangani urusan mereka sendiri. Hal ini merupakan bantahan nyata terhadap media yang terus menerus meneriakkan “datangnya anarki”.

Jawaban datang dari Maadan (daerah Raqqa) oleh Nawaf Alaali, delegasi dari kota yang sebagian sudah dibebaskan, ia menggambarkannya sebagai “suatu model penginspirasi kebanggaan atas administrasi yang baik.”

Dia mengatakan bahwa dewan lokal menjalankan area tersebut dengan “sumber daya yang sangat terbatas” sembari menyoroti absennya tindak penculikan atau pencurian apapun. Alaali, delegasi dewan-dewan lokal Raqqa menyatakan begitu tingginya keamanan dan penjagaan bahkan terhadap semua kontainer sereao yang “tidak satu butirpun yang dicuri meskipun ada kekurangan roti”.

Dia mengatakan bahwa dewan lokal telah melindungi layanan-layanan publik dan menjaganya agar tetap berjalan baik sebagaimana sekolah yang terus berfungsi “meskipun kekurangan gaji bagi para pegawai sipil dan guru”. Ia juga menyoroti bahwa komisi pendidikan dalam dewan mulai mengamandemen program setelah menghapus paragraf yang mengandung puja-puji bagi rezim Baath.

Alaali menunjukkan bahwa desanya sekarang tengah bersiap untuk memasang saluran satelit yang akan menyiarkan peran luar biasa ini dalam administrasi daerah-daerah yang dibebaskan.

Sumber:http://www.zamanalwsl.net/readNews.php?id=35824

Kongres Konstituen Umum Dewan Lokal Gubernuran Raqqa

Kantor Informasi Free Tell Abiad, Sabtu 16 Februari 2013

Hari ini kongres konstituen umum gubernuran Raqqa digelar di Tell Abiad yang bebas. Peristiwa ini dihadiri oleh lima puluh anggota yang mewakili Raqqa, Tell Abiad, Suluk, Alibajalia, Maadan, Tabaka, Alkarama dan Sabkha.

Selanjutnya kami memilih kepala petugas yaitu Dr. Hamad Soltan, anggota tertua dari dewan, berikut wakilnya, pelapor pertemuan, serta sekretaris. Terdapan suatu pendiskusian tentang kelanjutan konferensi dan persetujuan mengenai persentase perwakilan tiap area…kemudian dewan-dewan lokal Tell Abiad Maadan, Tabaka dan Alkarama menyampaikan pendapat mereka, disusul dengan masyarakat sipil yang diwakili oleh asosiasi pemuda Tell Abiad.

Pemilu dilaksanakan dengan kertas suara rahasia. Empat orang diajukan untuk pos presiden dewan. Profesor Saad Chaouich memenangkan 25 suara. Selanjutnya kami memilih wakil presiden. Kemudian dicapai konsensus mengenai 15 orang anggota komite eksekutif dan lima orang anggota komisi kontrol.

Akan ada konferensi pers hari ini untuk memberikan komentar mengenai rincian peristiwa demokratis bersejarah ini. Tell Abiad akan menjadi tempat sementara bagi dewan lokal gubernuran Raqqa sampai kota itu dibebaskan sepenuhnya…

Gerakan Kiri Revolusioner

Himbauan Solidaritas untuk Revolusioner Suriah

Rakyat Suriah sejak Maret 2011 sudah memutuskan melawan kediktatoran keji, demi memperjuangkan persamaan, kebebasan, kehormatan, dan keadilan sosial.

Kediktatoran Assad merespon tuntutan-tuntutan damai kaum demonstran dengan kekerasan yang tak ada bandingannya, mengakibatkan puluhan ribu tewas, ratusan ribu luka-luka dan dipenjara, jutaan orang terusir dan terpaksa mengungsi karena kota dan lingkungannya diporak-porandakan.

Revolusi Suriah adalah revolusi kerakyatan sejati. Revolusi Suriah mampu menggagalkan semua upaya rezim kediktatoran untuk mengubahnya menjadi perang sektarian. Rakyat yang memberontak kini teguh memperjuangkan kemerdekaannya melawan semua upaya yang memaksakan kekuasaan hegemoni.

Gerakan Kiri Revolusioner di Suriah melibatkan diri dalam dinamika demokratis dan sosial revolusioner ini. Kami memerlukan uluran bantuan untuk memperkuat peran dan kemampuannya mengintervensi perjuangan kerakyatan di Suriah. Hidup revolusi rakyat Suriah! Hidup solidaritas Internasional!

Rincian akun asosiasi:

Account details of the association:

Solidarité Syrie – Lieu-dit La Volinière – 27270 Saint-Aubin-du-Thenney – France

Caisse d’Epargne Normandie. Etablissement: 11425; guichet: 00900, compte: 08000936276.

RIB: 67

BIC: CEPARFPP142

IBAN: FR76 1142 5009 0008 0009 3627 667

Diterbitkan di: Revue Tout est à nous! No 44 (Juni 2013)

*diterjemahkan dari tulisan Ghayath Naisse dengan judul “Self-organization in the Syrian people’s revolution” sebagaimana dipublikasikan International Viewpoint pada Senin, 1 Juli 2013. Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan dipublikasikan oleh Bumi Rakyat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: