Khaled Famy – Intervensi Militer dan Masa Depan Mesir

Khaled Famy-Intervensi Militer dan Masa Depan Mesir

Khaled Famy

Khaled Famy, Sejarawan Mesir, berdialog dengan Ahram Online mengenai masa lalu dan masa depan Mesir serta mendiskusikan “peran rakyat” yang memainkan perbedaan besar dalam tindakan militer selama perubahan dua rezim di tahun 1952 dan 2013.

Enam puluh tahun memisahkan revolusi 1952, yang menggulingkan monarki Mesir yang berumur 150 tahun lamanya, dengan penggulingan bekas presiden, Muhammad Morsi. Saat itu 23 Juli 1952, Perwira Merdeka, suatu kelompok perwira militer, bergerak dari barak-barak mereka dan memaksa Raja Farouk I untuk turun dan mengakhiri semua bentuk kekuasaan Inggris. Peristiwa ini menandai intervensi militer Mesir yang pertama.

Sedangkan intervensi militer yang terakhir terjadi 20 hari lalu, pada 3 Juli 2013, saat militer menyingkirkan presiden Muhammad Morsi merespon protes berjuta-juta rakyat Mesir di seluruh negeri.

Selama 61 tahun sejak revolusi 1952, Mesir menyaksikan perubahan-perubahan radikal yang mempengaruhi cara militer berinteraksi dengan politik.

Sejarawan Khaled Fahmy berbicara dengan Ahram Online mengenai beberapa persamaan dan perbedaan di antara dua intervensi militer ini serta mengenai sejarah militer Mesir sejak didirikan di tahun 1811. Dia juga menunjukkan beberapa fakta baru mengenai biaya besar yang harus dibayar rakyat Mesir untuk membangun militer homogen.

Fahmi adalah ketua Departemen Sejarah Universitas Amerika di Kairo (AUC). Sebelum bergabung dengan AUC, dia menjabat sebagai Profesor Studi Islam dan Timur Tengah di Universitas New York.

Ia telah menerbitkan dua buku dalam bahasa Arab, antara lain “Semua Orang Pasha” dan “Tubuh dan Modernitas: Kumpulan Essai dalam Sejarah Pengobatan dan Hukum di Mesir Modern”.

Ahram Online (AO): Bagaimana anda memandang hubungan antara peristiwa 23 Juli 1952, dimana intervensi militer dilakukan untuk menggulingkan Raja Farouk I dengan intervensi militer 3 Juli 2013 yang menyingkirkan Presiden Muhammad Morsi yang Islamis?

Khaled Famy (KF): Perbedaan besar antara kedua peristiwa tersebut ada pada peran yang dimainkan rakyat Mesir. Tahun 1952, militer Mesir bergerak dengan inisiatif sendiri; rakyat tidak memanggil militer untuk mengintervensi dan menggulingkan raja. Selain itu rakyat juga tidak diberitahu sama sekali mengenai gerakan demikian. Sebaliknya, rakyat dipanggil oleh militer setelah kudeta untuk memberikan legitimasi kerakyatan.

Apa yang terjadi di tahun 1952 dianggap sebagai revolusi dua tahun setelah Perwira Merdeka memaksa Raja Farouk I turun dengan keberhasilan mereka menggalang penerimaan kerakyatan atas gerakan mereka.

Sedangkan apa yang kita saksikan pada 30 Juni 2013 adalah suatu hal yang berbeda. Peristiwa ini dimulai dengan protes massal yang menyebar ke seluruh penjuru negeri dan akhirnya militer meresponnya dengan mengambil tindakan. Legitimasi intervensi militer ini muncul dari aksi rakyat.

Inilah perbedaan mendasar. Mempelajari aksi militer sehubungan dengan dua rezim berbeda-rezim Kerajaan tahun 1952 dan rezim Islamis tahun 2013-tidak mungkin tanpa mempertimbangkan peran rakyat.

AO: Bagaimana Anda Menjelaskan Mengenai Apa yang Terjadi pada 3 Juli?

KF: Saya tidak bisa memberikan jawaban yang pasti namun apa yang bisa saya katakan adalah kita memiliki gerakan mahakuat oleh rakyat. Gerakan ini mengeluarkan pesan yang jelas pada rezim bahwa “legitimasimu sudah jatuh.” Ini merupakan suatu pesan yang sangat keras karena mereka yang berkuasa dipilih melalui pemilu dan legitimasinya dibangun dari kotak-kotak suara.

Apa yang disiratkan pesan ini adalah legitimasi suatu rezim tidak bisa semata-mata direduksi ke dalam prosedur-prosedur pemilu formal. Legitimasi rezim ini jatuh karena telah melanggar konstitusi dan menyalahgunakan institusi-institusi negara, hingga mengakibatkan terbangunnya perlawanan terhadap mereka sendiri. Kekosongan politik yang besar, karena rezim telah kehilangan dukungan institusi-institusi negara, memberi tanda bagi militer untuk mengambil tindakan menyelamatkan keberadaan negara.

Pertanyaan sulitnya kini adalah mengenai legitimasi intervensi militer.

Kalau kita sekedar menerima dan memahami “legitimasi” secara harafiah dan secara hukum, maka hal ini bisa dianggap sebagai suatu kudeta. Bagaimanapun juga bila kita mempertanyakan pemahaman prosedural legitimasi ini dengan mempertimbangkan pesan mendalam yang rakyat berikan, maka suatu legitimasi baru telah terbangun. Kita bisa katakan bahwa militer terpaksa bergerak dan tunduk pada kehendak rakyat. Legitimasi intervensi ini berasal dari kehendak rakyat.

Namun hal ini akan memunculkan pertanyaan lain: Akankah militer tunduk pada kehendak-kehendak rakyat ataukah akan mengambil keuntungan dari kekosongan politik untuk memaksakan agendanya sendiri?

Saya sadar bahwa militer tidak hanya bergerak untuk membela kebebasan dan keamanan negara namun juga untuk membela kepentingan-kepentingan dan tujuan-tujuannya sendiri.

Tantangan yang kita hadapi sekarang adalah bagaimana kita terus berkeras serta meneguhkan tuntutan kita yang menuntut hak untuk mengontrol dan mengamati semua institusi negara, termasuk militer dan kepresidenan. Namun hal ini untuk sementara masih merupakan suatu area yang belum terjamah.

Perwira Merdeka dan Revolusi Anti Monarki Mesir

AO: Mempertimbangkan perbedaan taktik intervensi militer pada 3 Juli, apakah Militer Mesir pada tahun 2013 berbeda dengan Militer pada tahun 1952?

KF: Ya, bisa kita katakan militer yang berbeda. Militer sekarang adalah militer generasi baru dengan doktrin berbeda dan bekerja dalam situasi yang berbeda. Saya yakin bahwa pertanyaan mendesak saat ini bukanlah mengenai bagaimana doktrin militer ini telah berubah namun mengenai hubungan antara militer dan masyarakat. Pertanyaan ini bisa diajukan tidak hanya terkait intervensi militer 1952 dan intervensi 2013, namun juga mengenai momen pendirian militer Mesir pada tahun 1811 silam.

AO: Bagaimana anda memandang bahwa momen pendirian militer tahun 1811, intervensi militer 1952, dan intervensi militer 2013, merupakan suatu hubungan yang secara historis saling terkait?

KF: Sebelum Muhammad Ali Pasha mendirikan apa yang kita kenal sekarang sebagai “Militer Mesir”, tidak ada keberadaan suatu “Militer Nasional” sama sekali, yang ada adalah Pangeran-Pangeran Mamluk, yang menguasai suatu hal yang menyerupai pasukan-pasukan pribadi yang kecil dan tiap pasukan merepresentasikan suatu pusat kekuasaan.

Pusat-pusat kekuasaan yang berbeda ini tidak saling bertikai satu sama lain setiap waktu sebagaimana yang dikatakan beberapa pihak. Mereka inilah yang menjaga ekonomi Mesir sebelum datangnya kampanye Perancis di Mesir. Bagaimanapun juga, mereka mulai saling bertikai dan memerangi satu sama lain selama 30 tahun menjelang kekuasaan Muhammad Ali Pasha.

Pada beberapa titik masyarakat jadi sadar bahwa kerusuhan sipil semakin merusak. Inilah momen dimana Muhammad Ali Pasha datang ketika masyarakat memutuskan untuk menghentikan kerusuhan sipil dan memberikan hak eksklusif terkait kepemilikan dan penggunaan senjata hanya pada satu entitas: negara.

Apakah ada kesepakatan sosial yang terjadi: Saya katakan, tidak. Tidak pernah ada kontrak sosial antara warga dan negara. Kerusuhan sipil berhenti dan administrasi pusat negara dan militer nasional harus didirikan. Inilah yang kemudian membentuk apa yang kita kenal kini sebagai ‘Mesir’.

Namun negara modern ini tidak pernah diletakkan di bawah kontrol masyarakat sejak pendiriannya, bahkan selama era liberal dekade 1920an.

Tahun 1952, militer melakukan apa yang dilakukan Muhammad Ali Pasha pada 1811. Mereka menghentikan krisis yang semakin berkembang dan kemudian menawarkan reforma-reforma ekonomis. Negara kemudian menyatakan bahwa ia akan bekerja untuk mewujudkan keadilan sosial sebesar mungkin dan sebagai imbalannya rakyat akan menyerahkan dan meninggalkan tuntutan-tuntutan politik dan konstitusionalnya.

Saat kita memandang perkembangan hubungan antara militer dan publik dari perspektif ini, kita melihat bahwa militer, piliar utama negara Mesir, tidak pernah diletakkan di bawah pengawasan masyarakat. Tidak ada cukup informasi mengenai doktrin perang Militer Mesir, umpamanya, karena kita tidak diperbolehkan mengetahui banyak hal tentang militer.

Kita tidak diperbolehkan mengetahui bahwaimana keputusan-keputusan dibuat dalam kepemimpinan militer.

AO: Militer Mesir berurusan dengan revolusi dengan sikap yang berbeda dibandingkan dengan militer-militer negara-negara Arab lainnya yang juga mengalami revolusi, seperti di Suriah dan Libya. Bagaimana anda menafsirkan perbedaan demikian?

KF: Saya pikir reaksi-reaksi berbeda dari militer-militer lain ini dalam beberapa derajat terkait dengan alasan-alasan lokal, termasuk watak kesukuan, sektarian, dan terkadang watak kedaerahan yang mempengaruhi militer Suriah dan militer Libya dalam bertindak. Sedangkan militer Mesir yang homogen tidak mengenal adanya perbedaan kesukuan maupun sektarian yang tidak gampang mengalami hal demikian.

Di Mesir, kita membayar harga yang sangat mahal sebagaimana yang harus dibayar rakyat Suriah dan rakyat Libya, namun itu sudah terjadi 200 tahun lalu. Militer Mesir didirikan dengan ongkos besar berupa kekerasan semasa negara berusaha menjinakkan faksi-faksi berbeda dalam masyarakat Mesir demi mencapai militer homogen sebagaimana yang kita saksikan kini.

Dua ratus tahun lalu, Mesir terpecah belah dengan sangat hebat saat militer berusaha didirikan. Cengkeraman negara pusat tidak sekeras sekarang. Terdapat aksen, tradisi, dan variasi yang berbeda dari berbagai faksi dan menyatukan mereka di bawah satu kekuasaan negara pusat memerlukan proses yang sangat panjang. Terdapat upaya-upaya untuk memberontak melawan entitas baru yang disebut sebagai “negara pusat” ini namun pada akhirnya negara pusat menang dan kerusuhan berakhir.

Kini, kita tak lagi memiliki variasi besar dalam masyarakat Mesir, bahkan antara Muslim dan Kristen. Birokrasi Mesir berikut militernya telah menjadi titik pertemuan bagi masyarakat, dan sesungguhnya birokrasi, lah, yang menghalangi keinginan IM untuk menguasai negara demi kepentingan mereka sendiri.

AO: Peran Apa yang Dimainkan Militer dan Birokrasi Mesir dalam Menyingkirkan Ikhwanul Muslimin?

IM memiliki sasaran dan tujuan yang melampaui Mesir; birokrasi Mesir bekerja hanya dalam wilayah Mesir dan keinginan-keinginan IM telah membahayakan ranah dominasinya, karenanya birokrasi melawan mereka.

Militer mesir dan institusi-institusi yang berkuasa berusia sangat tua dan mereka tidak dilahirkan hanya 20 atau 30 tahun silam; mereka memiliki mekanisme dan perangkat aturannya sendiri. Ancam terhadap peraturan dan mekanisme ini akan dihadapi dengan perlawanan kekerasan.

Saat militer mengatakan bahwa ia akan melindungi keamanan nasional dan melakukan intervensi untuk mencegah kerusuhaan sosial, pada saat yang bersamaan terdapat beberapa orang dalam IM yang memiliki koneksi dengan kekuatan-kekuatan diluar Mesir. Ini menyiratkan bahwa gerakan mereka didorong oleh bahaya-bahaya yang mengancam entitas negara itu sendiri.

AO: Tahun 1952 Militer Mesir miliki rencana-rencana radikal untuk perubahan ekonomi politik, menurut anda apakah militer sebaiknya mengajukan rencana-rencananya untuk Mesir selama periode perubahan ini? Menurut anda apakah hal ini akan membuat Militer Mesir memainkan peran yang sama yang dimainkan militer Turki, yaitu peran sebagai penjaga negara dan konstitusi, selama dekade 70an dan 80an seabad silam?

KF: Tidak, tidak sama sekali. Militer harus kembali ke barak. Militer tidak boleh menjalankan peran apapun selain menjaga keamanan.

Berbeda dengan apa yang orang-orang serukan seperti “militer dan rakyat bergandengan tangan,” militer dan rakyat sesungguhnya dua kutub yang berlawanan.

Sudah sejak lama militer telah berupaya memaksakan dirinya pada latar publik Mesir dan berkeinginan untuk memainkan peran sebagaimana yang dimainkan militer Mesir sebagai penjaga negara dan konstitusi. Meskipun demikian, secara historis, militer Mesir tidak memiliki wairsan kemenangan-kemenangan militer yang memungkinkan membangun legitimasi diri yang diperlukan untuk berperan seperti militer Turki. Sedangkan militer Turki di sisi lain memiliki warisan panjang kemenangan-kemenangan militer sejak Kesultanan Ottoman dan malahan menolak legitimasi ini. Tak ada satupun dari para pimpinan militer Mesir, termasuk Jenderal Abdel Fattah El-Sisi, yang bisa meraih klaim demikian.

Tak ada satupun pemimpin militer di Mesir yang bisa membangun legitimasinya berdasarkan kemenangan militer.

AO: Sejak 1952 hingga kini, semua presiden Mesir, kecuali Morsi, datang dari institusi Militer. Dengan mempertimbangkan hal tersebut, apakah anda setuju dengan pernyataan bahwa Mesir selama ini dikuasai oleh Militer?

KF: Saya pikir kita sudah melampaui pertanyaan ini dan kekuasaan militer di Mesir berbeda dengan kekuasaan militer di Chile maupun di negara-negara Afrika yang menjadi saksi berbagai kudeta militer. Kekuasaan Militer di Mesir dicirikan oleh logika patriarki ketokohan.

Militer Mesir memandang dirinya sendiri bukan sebagai bagian dari masyarakat namun di atas masyarakat.

Sampai mana Militer Mesir akan mengambil peran dalam politik di tahun-tahun mendatang, semua ini tergantung kemampuan kita untuk mengorganisir diri, namun saya pikir kita belum sampai di arah ini.

*diterjemahkan dari tulisan Mohammed Saad, Selasa 23 Juli 2013, sebagaimana yang dimuat Ahram Online. Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan dipublikasikan dalam Bumi Rakyat. Bumi Rakyat tidak memiliki hubungan apapun dengan Khaled Fahmy dan Ahram Online.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: