Persimpangan Pekerja Perempuan

Persimpangan Pekerja Perempuan

Seorang kasir swalayan di tengah perjalanan pulang dicegat oleh seorang peminta sumbangan. Suaranya lembut sopan, meminta uluran tangan. Sama sopannya sang kasir tanpa menyela bersedia mendengarkan.

“Saat ini ada sekian ribu anak berada di panti asuhan.“

“Dalam tingkatan tertentu panti asuhan bisa mencukupi kebutuhan makan.”

“Namun lebih dari itu, anak-anak ini membutuhkan pendidikan.”

“Kalau tidak mereka kelak hanya akan mendapatkan kerjaan kasaran.”

“Dengan pekerjaan kasaran kelak ketika mereka menikah dan mempunyai anak mereka hanya mampu berikan pendidikan rendahan.”

“Tanpa kemampuan dan perawatan kesehatan, anak-anak mereka bisa sakit-sakitan.”

“Orang tua mereka juga tidak aman dari kecelakaan dan ancaman kematian.”

“Hanya kita yang mampu ini, yang bisa membantu memotong lingkaran setan demikian.”

“Karena itu kami minta kebaikan anda untuk bantu menyambung biaya pendidikan”

“Sedikit uang yang disisihkan, sebesar empat ratus ribu sebulan”

“Akan sangat membantu menyokong mereka dengan seragam, buku, tas, alat tulis yang mereka perlukan”

“Cukup isi formulir ini, berikut data diri dan rekening bank, lalu tanda tangan, maka kita sudah membantu meringankan beban hidup mereka dari kemiskinan”

Sang kasir pertokoan tersentuh namun tak bisa sembunyikan kecut senyuman

“Empat ratus ribu? Dari mana uang sebanyak itu? Apalagi saat ini saya belum gajian”

“Tidak harus bayar sekarang…cukup isi data diri, nomer rekening bank, dan tanda tangan…nanti kalau sudah gajian akan didebet langsung lintas jaringan.”

“Tapi uang sebanyak itu juga masih saya butuhkan.”

“Saya punya dua adik yang masih jadi tanggungan”

“Satu SMA, satu SMP, dan biayanya tidak bisa diremehkan”

“Apalagi tahun depan salah satunya ingin meneruskan ke bangku perkuliahan”

“Memang beasiswa selama ini sudah membantu meringankan”

“Namun ibu saya hanya buruh cuci sementara bapak sudah lama tiada dan hanya meninggalkan uang pensiunan”

“Uang pensiunan dan upah cuci pakaian tidak bisa diandalkan untuk membiayai hidup lima orang yang butuh makan”

“Jadi kalau saya harus menyumbangkan separuh upah saya untuk menyelamatkan orang lain, bagaimana saya bisa menjaga agar keluarga saya tetap terselamatkan?”

“Kalau saya harus memberikan anak-anak orang lain pendidikan lalu bagaimana saya bisa menjaga agar adik-adik saya tetap berpendidikan?”

Sang peminta sumbangan tertegun mendengar respon demikian.

Saat ini sudah setengah tujuh petang dan ini berarti sudah enam jam dia berada di atas jalanan.

Dibandingkan kemarin, sebenarnya hari ini cukup menguntungkan, karena cuaca cerah dan tak lagi hujan.

Namun entah kenapa, tidak banyak penyumbang yang hari ini berhasil ia yakinkan.

Saat melirik daftar tabel, ia membatin bahwa sebenarnya tinggal lima orang lagi untuk capai sasaran yang diinginkan.

Bagaimanapun juga hal ini tidak semudah yang dikatakan dan diarahkan para pelatih dan manajer pemasaran.

Bagaimana ia bisa membedakan orang berada dengan orang tak berpunya?

Seperti nona ini yang terlihat licin dan rapi dalam kemeja resmi ternyata hanya kasir pertokoan.

Bagaimana ia bisa tersenyum seharian kalau berjam-jam banyak orang yang ia sapa dengan ramah malah mengabaikan.

Namun nona ini tidak demikian.

Namun sayangnya ia hanya kasir pertokoan.

Tiba-tiba tumit kaki kiri dan kepalanya terasa gatal dalam waktu yang bersamaan.

Mungkin karena keringatan.

Mungkin karena kikuk tak tahu apa yang harus dikatakan.

Ingin hatinya terus meneruskan bujukan.

Tapi ia tahu kondisi ekonomi sang kasir pertokoan lebih buruk daripada keadaannya sendiri bila mau diperbandingkan.

Singkat kata dalam persilangan pertemuan dua pekerja perempuan demikian satu sama lain tak ada yang berhasil mencapai apapun yang mereka inginkan.

Sang pencari sumbangan tidak bisa mendapatkan sumbangan.

Sementara sang kasir pertokoan sebenarnya juga trenyuh tak bisa memberikan bantuan.

Dari suatu persilangan pertemuan, keduanya kembali dipisahkan. Berpisah pulang kembali ke keadaan yang tak tertemukan.

Namun bagaimana nasib anak-anak panti asuhan? Namun bagaimana nasib adik-adik sang kasir pertokoan?

Bukankah manusia di bawah langit yang sama adalah manusia yang sama?

Bukankah pekerja di bawah rantai penindasan juga merupakan pekerja yang sama?

 

Comments
One Response to “Persimpangan Pekerja Perempuan”
  1. habib mengatakan:

    lah ga ada nama penulisnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: