Tunisia – Katakan Tidak pada Kolaborasi Kelas

Tunisia - Katakan Tidak pada Kolaborasi Kelas

Artikel berikut merupakan tulisan kamerad Tunisia yang mengajukan kritik terhadap gagasan suatu “pemerintahan keselamatan nasional” sebagai suatu solusi terhadap krisis politik di Tunisia dan mengajukan suatu jalan keluar revolusioner.

Setelah pembunuhan terhadap Muhammad Brahmi, deputi Nasseris dan anggota Front Rakyat (Popular Front) pada Kamis 25 Juli 2013, kepemimpinan partai-partai sayap kiri dan kanan beserta serikat buruh utama, UGTT, dan organisasi kaum majikan, UTICA, berkumpul bersama dalam suatu inisiatif politik bernama “Front Rakyat”. Tujuan-tujuan uatamanya adalah pembubaran Majelis Konstituen Nasional serta pendirian suatu “pemerintahan teknokratis”. Pemerintahan demikian akan bertugas mengambil langkah-langkah mendesak terkait “keamanan ekonomi, sosial, dan politik”. Para penandatangan menuntut pembentukan “komite pakar: yang akan bertugas untuk merumuskan konstitusi yang akan diputuskan melalui referendum. Anehnya, Front Rakyat (koalisi partai-partai sayap kiri dan partai-partai nasionalis Arab) dan UGTT malah bergabung dengan inisiatif tersebut serta berdampingan dengan Nidaa Tounès dan UTICA, partai dan organisasinya kapitalis.

Béji Caïd Essebsi, mantan Perdana Menteri dan pemimpin Nidaa Tounès, mengajukan dirinya sendiri ke publik sebagai oposisi utama terhadap Ennahda, partai Islamis yang tengah berkuasa. Ideologinya bisa dilacak kembali pada tradisi filsafat Tunisia (“Modernisme”) yang menempatkan suatu bentuk emansipasi perempuan borjuis kecil diiringi keterbukaan terhadap budaya Barat. Ideologi ini sepenuhnya bertentangan dengan tradisi filsafat Ikhwanul Muslimin (IM), yang menginginkan kembali pada suatu tatanan masyarakat yang diatur menurut hukum Islam dan menyingkirkan baik pengaruh Sufi maupun tradisi Barat.

Pemilihan umum-pemilihan umum sebelumnya merupakan latar konfrontasi lisan keras antara dua ideologi demikian bahkan hingga menyamarkan isu pokok yang sebenarnya adalah penderitaan dan keterbelakangan pembangunan yang mempengaruhi banyak daerah di kawasan, khususnya dalam negeri Tunisia. Koalisi Alternatif Revolusioner Komunis dan Nasseris merupakan satu-satunya organisasi yang mempertahankan suatu program yang prioritasnya adalah kelas dan pemuda tak berpunya.

Sejak 27 Februari hingga 24 Desember 2011, periode dimana dia masih menjadi Perdana Menteri, Béji Caïd Essebsi memprakatsai kebijakan yang sepenuhnya pro-kapitalis, di bawah otoritas Bank Dunia dan IMF. Disebut sebagai Deauville Partnership, kebijakan ini melahirkan reforma-reforma reaksioner dari sudut pandang pekerja Tunisia dan masyarakat luas. Dia meletakkan negara Tunisia di bawah diktat IMF dan Bank Dunia demi aliran kapital, hutang publik, dan regulasi sosial.

Kebijakan yang diputuskan melalui jalan anti-demokratis oleh pemerintahan yang tidak dipilih ini dijalankan di bawah pemerintahan Troika yang berkuasa pasca pemilu 23 Oktober 2011, suatu pemerintahan dimana Ennahdha adalah komponen utamanya. Di anatara semua partai oposisi, hanya Front Rakyat, yang merupakan penerus koalisi Alternatif Revolusioner, yang mencela tindakan demikian. Beberapa hari sebelum dibunuh di bulan Februari, salah satu pimpinannya, Chokri Belaïd dengan keras menentang penundukan Tunisia terhadap IMF dan Bank Dunia. Sedangkan Muhammad Brahmi, wakilnya, mencela hubungan antara Ennahdha dan Nidaa Tounès, hanya beberapa hari sebelum ia dibunuh juga. Kini kita tahu bahwa Ennahdha juga berusaha bergabung dengan Front Keselamatan Nasional!

Kenyataannya adalah apa yang disebut-sebut sebagai antagonisme antara agama dan sekulerisme hanyalah suatu mitos yang dipertahankan oleh kedua belah pihak. Di satu sisi, jelas bahwa penerapan syariah hanya akan menyebabkan malapetaka bagi perempuan Tunisia. Sedangkan di sisi lain, feminisme borjuis kecil hanya akan menguntungkan segelintir perempuan Tunisia. Merekalah yang menjalankan perusahaan-perusahaan kapitalis, mereka yang menduduki jabatan-jabatan tinggi dalam administrasi dan semua perempuan kelas menengah mapan dengan standar hidup tinggi. Namun perempuan lain di Tunisia, seperti pekerja tertindas di industri tekstil, perempuan pekerja rumah tangga (PRT) yang sudah dieksploitasi sejak kanak-kanak oleh keluarga-keluarga borjuis dan menjadi korban semua jenis pelecehan, perempuan-perempuan baru lulus yang mencari masa depan, pendek kata, mayoritas perempuan tidak memenangkan manfaat apa-apa. Hanya pembebasan kelas pekerja Tunisia yang akan memungkinkan emansipasi sosial dan politik semua perempuan Tunisia.

Dibutakan oleh ketergesaan peristiwa, UGTT dan Front Rakyat tidak mempertimbangkan mobilisasi massa yang terjadi seluruh penjuru negeri. Kelas pekerja dan kaum pengangguran telah menyerbu gubernuran dan balai kota di seluruh penjuru negeri dan memutuskan untuk mendatangi ibukota, Tunis. Berhadapan dengan gagasan pemerintah Keselamatan Nasional, alternatifnya adalah majelis revolusioner, yang berdasarkan komite-komite revolusioner di tempat-tempat kerja dan tiap lingkungan, di kota dan daerah, untuk memilih perwakilan-perwakilannya bagi Majelis Konstituen Revolusioner yang sejati untuk mengambil alih tugas menjalankan negara. Kaum revolusioner Tunisia memiliki kebutuhan mendesak atas ekspresi politik dari mobilisasinya. Alih-alih berpartisipasi dalam “Front Keselamatan Nasional”, perwujudan terbaru kolaborasi kelas, Front Rakyat dan UGTT harus mempercayai basis sosial mereka dan bergerak menuju perebutan kekuasaan, dengan demikian sekaligus memulai revolusi sosialis Arab dan revolusi sosialis dunia.

*diterjemahkan dari tulisan RB dengan judul asli “Tunisia: No to Class Collaboration” sebagaimana dimuat dalam marxist.com. Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan dipublikasikan kembali dalam Bumi Rakyat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: