Suriah – Tolak Agresi Imperialis

Suriah - Tolak Agresi Imperialis

Genderang perang di Washington tengah ditabuh dalam keras iama pembantaian, mengumumkan serangan Amerika Serikat (AS) terhadap Suriah yang akan terjadi di waktu dekat. Sedangkan di Inggris, David Cameron, sang juragan setia, dengan sukarela menggaungkan seruan serupa. Parlemen Inggris diharapkan membeking opsi militer dalam pertemuan darurat pada Kamis 29 Agustus 2013. Intervensi imperialis secara langsung menandai perubahan fundamental dalam situasi di Suriah setelah perang saudara sektaian yang berlarut-larut telah menyingkirkan potensi revolusioner protes-protes anti rezim yang dipicu oleh rangkaian peristiwa musim semi Arab pada Januari 2011.

Revolusi di Suriah tengah terjebak mekanisme perang saudara yang berdarah-darah dan kini menderita pukulan mundur. Lingkaran sektarian memperkuat cengkeraman rezim Assad terhadap minoritas Alawi dan minoitas Kristen serta populasi urban terancam oleh gelombang pasang reaksi fundamentalis Sunni Islam dalam kalangan oposisi. Realso telah mengambil alih kedua belah pihak.

Saat oposisi beralih dari gerakan massa pemuda melawan rezim penindas menjadi perjuangan militer maka seketika massa terdorong mundur ke belakang dan kemampuan pemuda revolusioner untuk menyeru pada massa rakyat serta memecah sekat sektarian yang membagi sepanjang garis-garis kelas menjadi dilumpuhkan. Karena itu, petanyaan mengenai siapa yang mempunyai akses ke persenjataan, suplai, dan lainnya, menjadi kian menentukan dalam kamp oposisi serta menandai naikknya reaksi hitam dalam wujud pasukan-pasukan Jihadis Sunni khususnya di sekita Jabhat Al-Nusa. Pasukan-pasukan yang diperkuat oleh tentara-tentara bayaran asing dan disokong kucuran dana serta limpahan persenjataan dari para pendukung di Qatar dan negara-negara teluk lainnya ini dikerahkan ke berbagai garis depan pertempuran di Suiah. Sejak saat itu sisa-sisa elemen revolusioner telah benar-benar dipinggirkan atau sepenuhnya dihancurkan.

Sebagaimana yang kami peringatkan di bulan juni, Imperialisme AS akhirnya sepakat untuk melakukan intervensi langsung dengan menyupai persenjataan dan memberikan pelatihan terhadap Free Syrian Army (FSA atau Tentara Suriah Merdeka) sebagai suatu upaya nekat untuk mengubah hubungan-hubungan antar kekuatan dalam oposisi dan mencegah agar kelompok-kelompok Jihadis tidak berhasil mengonsolidasikan posisi terdepan mereka.

Upaya ini sudah agak terlampau terlambat. Obama telah gagal dalam memenangkan bekingan Kongres sementara situasi militer dengan cepat berubah menguntungkan rezim Assad yang jelas-jelas tengah memenangkan perang, dengan demikian memaksa imperialisme AS untuk begegas melaksanakan intervensi langsung demi mempelambat dan pada akhirnya mencegah konsolidasi kemajuan militer rezim Suriah.

Apakah Rezim Assad Menggunakan Senjata Kimia

Pada Rabu 21 Agustus 2013, muncul suatu berita mengenai serangan dengan gas sarin atau unsur kimia lainnya terhadap ratusan rakyat di daerah yang dikontrol oposisi di Damaskus. Hampir seketika (dan bahkan dalam beberapa kasus sebelum serangan yang dituduhkan terjadi) muncul video-video di internet yang menunjukkan deretan mayat dan rumah sakit penuh dengan rakyat sipil khususnya anak-anak dan mengklaim bahwa serangan tersebut dilakukan oleh pasukan-pasukan pemerintah.

Pembenaran terhadap serangan AS yang diumumkan atas dasar kumpulan “bukti” yang dituduhkan dalam “kumpulan informasi” penyalahan lain oleh intelijen AS yang mengklaim penggunaan senjata-senjata kimia oleh rezim Assad terhadap rakyat sipil.

Sepanjang akhir pekan, presiden AS Obama memanggil tim keamanan nasionalnya bersama dan memerintahkan laporan yang dibuka kerahasiaannya untuk rilis publik sebelum pemulaan militer apapun. Selanjutnya pada Senin Sekretaris Negara AS, John Kerry, menyatakan bahwa bukti-bukti “tengah menjerit di hadapan kita” bahwa senjata-senjata kimia digunakan di Suriah dan bahwa penggunaan senjata-senjata kimia Suriah “sepatutnya mengagetkan hati nurani dunia.”

Sebagaimana yang dinyatakan berkali-kali selama bulan-bulan lalu oleh sumber-sumber pemerintahan AS, dan diucapkan lagi oleh deputi penasehat keamanan nasional ke Obama pada 14 Juni, “penggunaan senjata-senjata kimia melanggar norma-norma internasional dan melanggar garis merah yang ada di komunitas internasional selama puluhan tahun”–dengan demikian memberikan alasan untuk mengijinkan dukungan bagi rencana-rencana serangan terhadap Suriah.

Kita tidak tahu apakah ada setitik kebenaran dalam “kumpulan informasi” ini. Senjata-senjata kimia boleh jadi dimiliki kedua belah pihak, baik tentara Suriah maupun geng-geng bersenjata oposisi. Bila persenjataan kimia digunakan dalam seangan ini, bisa jadi hal tersebut merupakan akibat kesalahan fatal sebagian Tentara Suriah, sebagaimana yang dinyatakan beberapa komentator, atau bisa jadi merupakan gerakan nekat tak terkendali salah satu faksi dari oposisi bersenjata demi memancing intervensi AS-atau bisa jadi salah sepenuhnya.

Namun yang jelas tidak ada yang berkepentingan untuk menegakkan kebenaran, baik pemerintahan AS, yang menginginkan dalih untuk intervensi maupun pasukan-pasukan oposisi bersenjata yang telah terdemoralisasi yang memandang intervensi AS sebagai satu-satunya cara untuk membangkitkan kembali peluang mereka untuk membalikkan perang.

Kepada siapapun yang memupuk harapan (yang sialnya terjadi [ada beberapa pimpinan gerakan kiri internasional dan serikat buruh) bahwa Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dapat memainkan peran dalam mencegah eskalasi konflik, cukup mengulang apa yang kami nyatakan di bulan Juni:

“PBB adalah suatu ketidakrelevanan. Diplomasi sudah disapu oleh rangkaian peristiwa di medan pertempuran. Peranglah yang kini akan menentukan segalanya.”

Di sisi lain, kita tidak dapat cukup menekankan bahwa rezim Assad tidak perlu menggunakan persenjataan kimia untuk menggilas lawan-lawannya-dan nyatanya akan cukup gila bagi mereka untuk melakukannya karena mengakui AS sangat menginginkan dalih untuk melakukan intervensi secara langsung dalam konflik.

Perimbangan kekuatan dalam perang ini telah berbali cukup dramatis selama bulan-bulan terakhir dan tentara Suriah telah terbukti cukup mampu melampaui kekuatan kapabilitas bersenjata kaum oposisi.

“Dalam perang, kebenaran adalah korban pertama”-kata ungkapan dari Aeschilus-namun bahkan menyangkut standar-standar rendahan propaganda perang, ini benar-benar tampak seperti banyolan belaka.

Situasi ini tidak bisa tidak mengingatkan kita pada “kumpulan informasi” yang mana George Bush dan Tony Blair dengan khidmat bersumpah-dan dengan khidmat pula berdusta-bahwa rezim Saddam Hussein di Irak memiliki “senjata pemusnah massa” sehingga melakukan pembenaran terhadap agresi terhadap Irak yang dipimpin AS pada tahun 2003.

Apa Tujuan-Tujuan Sebenarnya dari Imperialisme AS

Intinya bukanlah apakah persenjataan kimia telah digunakan atau tidak oleh siapa. Setelah lebih dari seratus ribu korban jiwa jatuh dalam perang saudara berdarah di Suriah selama dua tahun belakangan ini, pemerintah AS kini mendadak prihatin secara ekstrim mengenai pembunuhan anak-anak, perempuan, dan rakyat sipil tak bersalah. Berapa banyak yang telah dibunuh oleh persenjataan yang disuplai oleh kekuatan-kekuatan imperialis pada satu pihak atau pihak lainnya di perang proxy ini-Rusia dan Iran yang mendukung rezim Assad dan persekutuan najis AS, Inggris, Perancis, Qatar, dan Arab Saudi di sisi lainnya?

Perbedaan tipis mengenai korban jiwa yang berjatuhan telah  berbicaa sendiri. Apakah anak-anak yang dieksekusi di jalanan atau dieksekusi di hadapan orang tua mereka oleh preman-preman reaksioner yang katanya mematuhi hukum dan aturan-aturan yang katanya Islami, itu dianggap penting oleh imperialis? Apakah anak-anak yang terbunuh oleh pengeboman yang dilakukan oleh para pemberontak maupun oleh tentara Suriah terhadap seluruh lingkungan dan perumahan dengan senjata-senjata konvensional itu dianggap penting oleh imperialis? Apakah seluruh keluarga yang disekap dan dikunci dalam bangunan yang kemudian diledakkan dengan dinamit sebagaimana yang terhadi di Khalidiya hanya karena mereka kebetulan merupakan umat Kristen atau Alawi itu dianggap penting oleh imperialis? Jelas semua hal demikian dianggap tidak cukup penting oleh imperialis yang secara munafik menganggap hal demikian belum “melanggar garis merah”.

Selain itu akankah rudal-rudal jelajah yang “pintar” milik AS akan membedakan antara personel militer dengan akyat sipil sekali rudal-rudal tersebut menghujani kota-kota Suiah dalam wujud bola-bola api? Siapa yang akan menanggung konsekuensi kehancuran infrastuktu, komunikasi, energi, dan suplai air, serta konsekuensi kehancuran jangka panjang dari penggunaan “pembedahan” persenjataan “konvensional” amerika yang menyebabkan kemusnahan secara massal (seperti proyektil-proyektil uranium dari bom-bom yang ditembakkan ke bekas Yugoslavia)? Tidak lain dan tidak bukan adalah anak-anak dan rakyat sipil yang mereka klaim mereka lindungi.

Bagaimana anak-anak dan rakyat sipil demikian bisa dibantu  oleh berondongan rudal-rudal jelajah yang menimpa negeri mereka? Namun yang paling penting, apa tujuan-tujuan sebenarnya dari intervensi imperialis?

Tujuan serangan terhadap aset-aset militer rezim Suriah dinyatakan sebagai suatu “peringatan untuk tidak menggunakan persenjataan kimia” memang bisa diangkat. Begitu pula halnya dengan dalih untuk menghancurkan stok persenjataan kimia, seakan-akan tentara Suriah tengah menanti dengan sabar kedatangan para ahli strategi militer AS selama bulan-bulan belakangan ini tanpa sedikitpun melaksanakan langkah-langkah balasan mendasar untuk melindungi stok persenjataan mereka dan mempertahankan kapabilitas operasi militer mereka dari serangan-serangan udara.

Mungkin sekilas tujuan sebenarnya dari ancaman serangan militer bisa ditampilkan dari komentar berikut yang diterbitkan New York Times Ahad lalu:

“Namun pemerintahan Obama seharursnya menolak godaan untuk mengintervensi secara lebih keras di perang saudara Suriah. Suatu kemenangan bagi salah satu kubu akan sama-sama merugikan bagi Amerika Serikat.

“Pada titik ini, suatu kebuntuan terus-menerus merupakan satu-satunya hasil yang tidak akan merugikan kepentingan Amerika Serikat (NYT, 25 Agustus 2013).

Tujuan intervensi AS yang paling masuk akal bagi kita adalah demi mempengaruhi kemampuan Tentara Suriah dalam mengambil kesempatan di momentum yang mereka perolah dalam serangat terhadap pasukan-pasukan oposisi. Para ahli strategi AS bertujuan untuk mengulur waktu agar mereka bisa mereorganisasi dan menciptakan kembali suatu situasi kebuntuan dimana perang terus berlangsung tanpa satupun pihak mampu mencapai kemenangan. Skenario ini akan membuka peluang bagi para imperialis untuk bermanuver dan mencapai suatu kesepakatan di belakang punggung massa yang menderita melalui diplomasi dan apa yang disebut sebagai “konferensi perdamaian”. Jadi selamat tinggal pada tangisan untuk membela anak-anak dan rakyat sipil tak bersenjata dari ancaman rezim Assad yang keji.

Hal ini merupakan suatu langkah yang berbahaya-dan bahkan nekat-yang dilakukan oleh imperialisme AS, yang bisa jadi tidak efektif dan malah menyeret mereka dalam keterlibatan langsung yang makin dalam di konflik-yang mana dikhawatirkan oleh para ahli strategi militer AS. Perang Suriah telah memiliki ciri-ciri perang proxy antar kekuatan-kekuatan imperialis di kawasan.

Menurut beberapa sumber, milite Rusia telah mengiimkan sederet rudal darat ke udara S-300 yang mutakhir untuk Assad, yang dioperasikan oleh para teknisi Rusia. Apa konsekuensinya bilamana serangan udara AS membunuh para tentara Rusia, secara terbuka menjadi bahan spekulasi yang diperdebatkan. Serangan AS bisa diluncurkan dari empat rudal penghancur yang dilepaskan oleh Angkatan Laut AS yang dikerahkan di daerah tersebut selama beberapa hari belakangan. Namun opsi bagi serangan AS terhadap Suriah juga mencakup pangkalan-pangkalan Angkatan Udara di beberapa negara mediterania, salah satunya Turki.

Sebagai salah satu respon terhadap hal ini, Rusia, untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun, mengumumkan pendirian keberadaan permanen di Mediterania serta menggerakan beberapa kapal induk, kapal suplai, dan kapal penghancur ke kawasan.

Melalui berbagai media internasional kita menyaksikan permulaan kampanye propaganda yang ditujukan untuk menyiapkan “opini publik” demi suatu intervensi militer langsung oleh imperialisme AS dan rekan-rekan minornya.

Sudah merupakan tugas mendasar bagi kaum revolusioner intenasional untuk membongkar kedok dan menunjukkan kepentingan imperialisme yang sebenarnya serta menentang intervensi ini, yang tidak ada hubungannya dengan pertimbangan-pertimbangan kemanusiaan sama sekali. Massa Suriah hanyalah pion dalam permainan catur yang lebih besar dari kekuatan-kekuatan imperialis.

Imperialisme tidak punya apapun untuk ditawarkan pada rakyat Suriah dan massa di Timur Tengah. Selama tiga tahun terakhir jutaan rakyat turun ke jalan dan menuntut kondisi hidup layak, keja, roti, dan kehormatan, serta akhir bagi rezim-rezim penindas brutal yang korup. Kekuatan-kekuatan revolusioner telah berhasil dalam menggulingkan beberapa rezim yang dibenci ini namun gagal dalam menggulingkan sistem yang menciptakannya dan kelas-kelas penguasa yang diuntungkan darinya. Dalam beberapa kasus, sebagaimana di Libya dan Suriah, kegagalan ini dibayar dengan perang saudara dan reaksi berdarah, dan kita telah menemukan bahwa bahkan aspirasi-aspirasi paling mendasar dari massa tidak bisa dipenuhi dalam sistem kapitalisme.

Seruan kami pada pemuda dan kelas pekerja Suriah, terlepas apapun perbedaan agama dan etnis yang ada, adalah jangan percaya pada kaum imperialis, jangan percaya pada Assad maupun pada oposisi reaksioner, namun bersiaplah dan bergabunglah dengan saudara dan saudari kalian serta massa di Timur Tengah dalam perjuangan umum melawan kapitalisme dan penindasan imperialis. Pergolakan-pergolakan revolusioner lainnya tengah disiapkan dan akan muncul di seluruh kawasan dan disinilah terdapat jalan bagi pembebasan massa di dunia Arab.

*Diterjemahkan dari artikel yang ditulis oleh Francesco Merli pada Selasa, 27 Agustus 2013, sebagaimana yang dimuat dalam marxist.com. Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan dimuat kembali melalui Bumi Rakyat.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: