Rakyat Suriah Masih Punya Swa-Organisasi Perjuangan Rakyat Melawan Rezim dan Kelompok-Kelompok Islamis

Rakyat Suriah Masih Punya Swa-Organisasi Perjuangan Rakyat Melawan Rezim dan Kelompok-Kelompok Islamis.

Rakyat Suriah Masih Punya Swa-Organisasi Perjuangan Rakyat Melawan Rezim dan Kelompok-Kelompok Islamis.

Selama lebih dari dua tahun, mayoritas pengamat menganalisis proses revolusioner melalui perspektif geopolitis, dari atas, dan mengabaikan dinamika-dinamika politik dan sosio-ekonomi di bawah. Ancaman intervensi Barat hanya memaksakan pandangan atas pertentangan antara dua kubu: Kubu negara-negara Barat dan monarki-monarki Teluk di satu sisi, serta kubu Rusia, Iran, dan Hizbullah di sisi lain. Kami menolak memilih diantara kedua kubu ini, kami menolak logika “yang paling sedikit mudharatnya (yang kurang jahat)” yang hanya akan berujung pada kalahnya revolusi Suriah dan tujuan-tujuannya, yaitu, demokrasi, keadilan sosial, dan penolakan terhadap sektarianisme. Dukungan kami ditujukan pada rakyat revolusioner yang memperjuangkan kebebasan dan kesetaraannya. Memang, hanya rakyat yang berjuang yang tidak hanya memungkinkan jatuhnya rezim namun juga pembentukan negara demokratis sekuler dan bangkitnya keadilan sosial. Suatu masyarakat yang menghormati dan menjamin hak tiap orang untuk beribadah dan menghargai kesetaraan mereka tanpa diskriminasi berdasarkan agama, etnis, gender, dan lain sebagainya.

Hanya massa yang mengembangkan potensi mobolisasinya sendiri yang bisa mewujudkan perubahan melalui aksi kolektifnya. Inilah abc politik revolusioner. Namun abc ini, kini, menghadapi skeptisisme mendalam dari banyak lingkungan kiri di Barat. Kami dibilang bahwa kami tak bisa membedakan antara angan-angan dan kenyataan, bahwa memang awalnya ada revolusi di Suriah dua setengah tahun lalu, namun segala sesuatunya telah berubah sejak saat itu. Kami dibilang bahwa jihadisme telah mengambilalih pertempuran melawan rezim, bahwasanya ini bukan lagi revolusi melainkan peran serta bahwasanya terdapat kebutuhan untuk memilih satu kubu untuk menemukan solusi konkret.

Semua “perdebatan” di antara kaum kiri telah tercemari oleh logika “kubu” ini, serta teori-teori konspirasi yang mengaburkan perbedaan-perbedaan mendasar antara Kiri dan Kanan-khususnya ekstrim Kanan. Saat seorang jurnalis bersaksi bahwa dia menyaksikan secara langsung di lapangan, di daerah yang dikuasai oleh kaum pemberontak, serta bahwasanya kesaksiannya membantah penjelasan-penjelasan mengenai adanya hegomoni jihadis, dengan seketika jurnalis ini diabaikan. Beberapa pihak malah menyiratkan bahwa kesaksian demikian hanyalah kisah-kisah buatan dan bagian dari dusta media massa, yang bertujuan untuk membuat kelompok oposisi tampak layak ditampilkan serta layak menerima dukungan intervensi imperialis, dengan demikian kesaksian sang jurnalis dianggap tidak faktual.

Kami menanyai Joseph Daher, aktivis revolusioner Suriah, anggota dari Gerakan Kiri Revolusioner di Suriah, yang kini tengah berada di Swiss, untuk menjelaskan bagaimana keadaan gerakan-gerakan kerakyatan di negaranya, khususnya swa-organisasi massa di daerah-daerah yang telah dibebaskan, dan bagaimana perjuangan mereka melawan sektarianisme dan melawan kaum Islamis. Kesimpulan yang bisa diambil sangat jelas: Ya, revolusi masih hidup di Suriah dan mereka membutuhkan solidaritas kita.

Komite-Komite Rakyat, Pemilihan Umum, dan Administrasi Sipil

Dari permulaan revolusi, bentuk-bentuk utama organisasi adalah komite-komite rakyat di tingkatan desa, kota, dan regional. Komite-komite rakyat merupakan ujung tombak-ujung tombak gerakan yang memobilisasi rakyat dalam aksi-aksi demonstrasi. Selanjutnya, daerah-daerah yang dibebaskan dari rezim mengembangkan bentuk-bentuk swadaya berdasarkan organisasi massa. Dewan-dewan rakyat yang terpilih muncul untuk mengelola daerah-daerah yang dibebaskan demikian, sekaligus membuktikan bahwa rezim yang memprovokasi anarki, bukan rakyat.

Di beberapa daerah yang dibebaskan dari angkatan bersenjata rezim, administrasi sipil juga diadakan untuk mengisi kekosongan negara dan mengambil alih tugas-tugasnya di berbagai lapangan, seperti sekolah-sekolah, rumah sakit, jalan, sistem-sistem pengairan, kelistrikan, komunikasi, dan sebagainya. Administrasi-administrasi sipil tersebut diterapkan melalui pemilihan umum dan (atau oleh) konsensus rakyat serta telah menjalankan tugas-tugas pokok untuk menyediakan layanan-layanan sipil, keamanan, dan ketenteraman.

Pemilihan umum-pemilihan umum setempat gratis di zona-zona yang “dibebaskan” telah muncul sejak pertama kali dalam 40 tahun di beberapa daerah, lingkungan, dan pedesaan tertentu. Hal demikian pula yang berlangsung di kota Deir Ezzor, akhir Februari 2013, saat salah satu pemilih Ahmad Muhammad menyatakan bahwa “kami menginginkan suatu negara demokratis, bukan negara Islam, kami menginginkan suatu negara sekuler yang dikelola oleh rakyat sipil dan bukannya oleh para mullah.”

Dewan-dewan lokal demikian mencerminkan rasa tanggung jawab dan kapasitas warga untuk mengambil inisiatif dalam mengatur urusan mereka dengan bertumpu pada staf manajerial, pengalaman-pengalaman, dan energi bersih. Bentuknya beraneka ragam baik di daerah-daerah yang masih dikuasai rezim maupun di daerah-daerah yang sudah bebas.

Contoh konkret lain dari dinamika swa-kelola ini terlihat pada pertemuan pendrian Koalisi Pemuda Revolusioner di Suriah, yang muncul awal Juni di Aleppo. Reuni yang berhasil menghimpun jajaran luas aktivis-aktivis komite dan komite koordinasi tersebut, memainkan peran penting di lapangan sejak awal revolusi di Suriah. Mereka datang dari berbagai daerah di negeri dan mewakili segmen-segmen luas masyarakat Suriah. Konferensi demikian diperkenalkan sebagai suatu langkah kunci untuk merepresentasikan pemuda revolusioner dari semua komunitas.

Hal ini tidak berarti bahwa terkadang tidak ada batas-batas yang dihadapi dewan-dewan rakyat demikian, seperti kurangnya perwakilan dari kaum perempuan, atau dari kelompok-kelompok minoritas tertentu. Dengan menyatakan kita tidak bermaksud memoles kenyataan namun ingin menegakkan kembali kebenaran.

Contoh Raqqa

Contoh penting dari swa-kelola massa adalah kota Raqqa, satu-satunya ibukota provinsi yang telah dibebaskan dari rezim (sejak Maret 2013). Meskipun kota tersebut masih menghadapi hujan pengeboman, kota Raqqa telah sepenuhnya otonom dan mandiri serta merupakan kota dengan populasi lokal yang mengelola semua layanan sipil demi kolektivitas. Elemen lain yang tidak kalah pentingnya dalam dinamika kerakyatan revolusi adalah tumbuh sumburnya koran-koran independen yang diterbitkan oleh organisasi-organisasi rakyat. Jumlah koran naik dari tiga koran sebelum revolusi-yang mana dikuasai oleh rezim Assad-hingga mencapai lebih dari 60 koran yang ditulis oleh kelompok-kelompok rakyat.

Kota Raqqa menjadi saksi banyaknya organisasi rakyat yang dipimpin oleh kaum pemuda. Jumlahnya telah berlipat ganda hingga lebih dari 42 gerakan sosial yang secara resmi terdaftar pada akhir Mei. Komite-komite rakyat telah mengorganisir berbagai kampanye. Salah satu contohnya adalah kampanye “bendera revolusioner mewakiliku” yang mencakup kegiatan mengecat bendera revolusioner di lingkungan-lingkungan dan jalanan kota, untuk menentang kampanye kaum Islamis yang memaksakan bendera Islamis warna hitam. Sedangkan di front kebudayaan, suatu pentas mengolok-olok rezim Assad ditanggap di pusat kota dan, pada awal Juni, organisasi-organisasi rakyat telah mengorganisir suatu pertunjukan seni dan kerajinan-kerajinan lokal. Pusat-pusat didirikan untuk merawat pemuda dan penyakit psikologis yang diakibatkan oleh perang. Sedangkan ujian-ujian kesarjanaan Suriah digelar pada bulan Juni dan Juli sepenuhnya oleh para sukarelawan.

Jenis-jenis pengalaman swa-kelola demikian ditemukan di banyak daerah yang dibebaskan. Patut dicatat bahwa paa perempuan memainkan peran besar dalam gerakan-gerakan demikian dan dalam aksi-aksi demonstrasi pada umumnya.

Misalnya pada 18 Juni 2013 di kota Raqqa, suatu aksi demonstrasi massal dilakukan oleh kaum perempuan dihadapan markas-markas kelompok Islamis, Jabhat Al-Nusra, dimana kaum demonstran menuntut pembebasan para tawanan yang dipenjarakan. Kaum demonstran menyerukan yel-yel melawan Jabhat Al-Nusra serta mengutuk tindakan-tindakan mereka. Kaum demonstran bahkan tidak ragu untuk mengusung slogan yang digunakan pada Februari 2011 lalu, yaitu: “Rakyat SUriah menolak untuk dipermalukan.” Kelompok “Haquna” (yang artinya hak kita), dimana banyak perempuan terlibat di dalamnya, juga telah mengorganisir banyak vergadering menentang kelompok-kelompok Islamis di Raqqa sembari menyerukan berbagai yel-yel yang salah satunya “Raqqa kini merdeka, bubarkan Jabhat Al-Nusra.”

Sedangkan di kota Deir Ezzor, suatu kampanye diselenggarakan pada bulan Juni oleh para aktivis setempat yang bermaksud untuk mendorong warga untuk berpartisipasi dalam proses pengawasan dan pendokumentasian praktek-praktek dewan-dewan rakyat setempat. Salah satunya, dorogan untuk memperjuangkan hak-hak mereka serta budaya Hak Asasi Manusia (HAM) di masyarakat. Secara keseluruhan terdapat penekanan mengenai gagasan hak-hak dan keadilan untuk semuanya.

Melawan Kaum Islamis

Mereka adalah organisasi-organisasi rakyat yang sama yang juga menentang kelompok-kelompok Islamis bersenjata. Kelompok-kelompok Islamis demikian ingin menggunakan senjata dan kekerasan untuk mengambil alih daerah-daerah yang dibebaskan padahal mereka tidak punya akar di gerakan rakyat dan mereka juga bukan dari revolusi.

Kota Raqqa, misalnya, telah menyaksikan perlawanan terus -menerus dan tak tergoyahkan dalam melawan kelompok-kelompok Islamis. Semenjak kota Raqqa dibebaskan dari tentara rezim, pada Maret 2013, banyak demonstrasi diorganisir untuk menolak ideologi dan praktek-praktek otoriter kelompok-kelompok Islamis.

Terdapat pertemuan-pertemuan solidaritas menuntut pembebasan para aktivis yang ditawan di penjara Islamis. Aksi-aksi demonstrasi demikian memungkinkan pembebasan beberapa aktivis namun banyak lainnya yang masih dipenjara hingga hari ini, seperti Bapa Paolo dan Firas, putra dari cendikiawan Yassin Hajj Saleh.

Aksi demonstrasi serupa yang menentang praktek-praktek otoriter dan reaksioner kelompok-kelompok Islamis juga dilakukan di Aleppo, di Mayadin, di Al-Qusayr, dan kota-kota lainnya seperti Kafranbel. Perjuangan demikian terus berlangsung hingga hari ini.

Warga pemukiman Bustan Qas di Aleppo yang berkali-kali melakukan protes mengecam tindakan-tindakan Dewan Syariah Aleppo yang menghimpun banyak kelompok Islamis. Misalnya pada 23 Agustus, para demonstran Bustan Qasr sembari mengutuk pembantaian mealui persenjataan kimia yang dilakukan oleh rezim terhadap rakyat di Ghouta Timur, juga menuntut pembebasan Abu Maryam, aktivis terkemuka yang dipenjarakan lagi oleh Dewan Syariah Aleppo. Kaum demonstran terus melakukan aksi hingga kini untuk menuntut pembebasannya. Sedangkan akhir Juni 2013, di lingkungan yang sama, kaum aktivis meneriakkan “Enyahkan Dewan Islamis” sembari memprotes politik otoriter dan represif kelompok Islamis demikian. Kemarahan rakyat yang meluas juga muncul akibat pembunuhan kelompok Jihad asing yang tergabung dalam ISIS (Negara Islam Iraq dan Suriah) terhadap bocah 14 tahun yang dituduh membuat candaan tentang Nabi Muhammad. Suatu protes diorganisir oleh Komite Rakyat Bustan Qasr melawan dewan Islamis dan kelompok-kelompok Islamis. Kaum aktivis menyerukan “Dasar memalukan. Revolusioner hilang Shabiha datang.”, serta membandingkan bahwa dewan Islamis berkelakuan sama dengan polisi rahasia rezim Suriah. Suatu sindiran yang mengena terhadap praktek-praktek otoriternya.

Terdapat pula aksi demonstrasi tiap pekan pada hari Jumat. Selama salah satu aksi pada Jumat 2 Agustus 2013, Komite Koordinasi Lokal (LCCs) yang bukan saja memainkan peran informatif penting tentang revolusi namun juga memainkan peran dukungan dalam menyuplai makanan, barang, dan jasa terhadap warga penduduk dan pengungsi, mengeluarkan pernyataan sikap: “dalam suatu pesan terpadu dari revolusi untuk seluruh dunia, kami menyatakan bahwa penculikan aktivis dan pelaku penting revolusi merupakan tindakan yang menghamba pada tirani, mencederai kebebasan dan kehormatan revolusi.” Pesan demikian ditujukan secaa langsung pada kelompok-kelompok Islamis reaksioner. Dalam nada yang sama, pada 28 Juli 2013, LCCs menulis pernyataan sikap dengan tajuk “Baik atas nama agama ataupun atas nama sekulerisme, Tirani tetaplah Tirani,” yang menolak baik rezim penguasa maupun rezim Islamis.

Kita juga perlu mencatat bahwa beberapa pasukan Jihad, seperti Jabhat Al-Nusa dan ISIS, telah memfokuskan upaya mereka untuk meraih hegemoni di daerah-daerah yang dibebaskan dengan cara menyerang kaum aktivis dan batalyon-batalyon Tentara Suriah Merdeka (Free Syrian Army atau FSA) alih-alih memerangi rezim, sementara banyak Jihadis masuk ke Suriah melalui negara-negara seperti Iraq dan Lebanon bukan menuju garis-garis depan. Sebaliknya mereka memfokuskan upaya-upaya mereka dalam mengkonsolidasikan kendali di daerah-daerah yang dikuasai pemberontak di utara negeri. Banyak prajurit Jabhat Al-Nusa berdiam di tengah operasi pemberontakan yang berlangsung di Homs, Hama, dan Idlib, untuk seketika bergerak menuju provinsi Raqqa begitu ibukota probinsi jatuh pada Maret 2013. Selain itu selama pertempuran Qusayr di akir Mei, unit-unit Jabhat Al-Nusra tidak terlihat sama sekali. Sedangkan pada awal Juni, bala bantuan pemberontak bergerak ke kota Talbiseh, utara kota Homs, sementara para prajurit Jabhat Al-Nusa memilih tinggal di daerah-daerah yang dibebaskan untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan FSA.

Kami ulangi sekali lagi bahwa para jihadis dan kelompok-kelompok reaksioner Islamis tersebut merupakan musuh revolusi, dan begitu pula semua kelompok yang melakukan sektarianisme, penculikan, penyiksaan, pembunuhan, sebagai suatu praktek kekuasaan yang harus dipandang sebagai musuh-musuh revolusi yang harus diperangi.

Beberapa peristiwa terkini semakin membuktikan kelakuan reaksioner mereka.

Perebutan terhadap kota Maaloula misalnya digambakan oleh akun resmi Jabhat Al-Nusra sebagai suatu kampanye balas dendam yang dilancarkan seketika setelah serangan senjata kimia di Ghouta. Salah satu foto serangan Jabhat Al-Nusra terhadap Ma’loula dipublikasikan di Facebook dengan mengutip ayat Al-Qur’an, “Allah berilah kami kesabaran dan kemenangan terhadap kaum kafir”-yang mungkin bukan slogan yang terbaik untuk digunakan saat melancarkan serangan pimpinan Al-Qaida dimana seorang Islamis Yordania meledakkan diri di gerbang desa Kristen tertua di Suriah.

ISIS juga dituding melakukan pungutan pajak secara paksa pada para pemilik toko di berbagai daerah berbeda yang dikuasai mereka, seperti di Raqqa (dimana pajaknya mencapai hingga 15.000 lira Suriah), di Tell Abiyad, dan di kota-kota lainnya.

Beberapa pekan lalu, Pengamat Hak-Hak Asasi Manusia Suriah menerima rekaman para prajurit ISIS memenggal kepala dua orang pria, dimana salah seorang dalam rekaman tersebut menyatakan bahwa para pria yang dipenggal tersebut telah bekerjasama dengan rezim. Para aktivis di kota Aleppo melaporkan bahwa eksekusi ini terjadi pada akhir AGustus di dekat desa Al-Dweiraniya di timur Beting Aleppo.(http://www.youtube.com/watch?v=SvXIYzU3ou8&feature=youtu.be). Kelakuan demikian harus dikecam keras sebagaimana pula serangan-serangan mereka terhadap kaum aktivis pro revolusi dan batalyon-batalyon FSA.

Arab dan Kurdi Bersatu

Daerah timur laut Suriah yang memiliki populasi mayoritas berupa Bangsa Kurdi dan menjadi medan pertempuran antara laskar Kurdi dari PYD (yang berafiliasi dengan PKK) dan kelompok Islamis telah memicu munculnya inisiatif-inisiatif kerakyatan dari berbagai aktivis dan warga setempat. Inisiatif-inisiatif kerakyatan ini ditujukan untuk menunjukkan persaudaraan antara bangsa Arab dan bangsa Kurdi di daerah tersebut dan untuk menegaskan kembali bahwa revolusi rakyat Suriah merupakan revolusi untuk semua, dan mengecam rasisme serta sektarianisme. Selama pertempuran-pertempuran tersebut, di provinsi Raqqa, kota Tall AByad telah menyaksikan pembentukan bigade “Chirko Ayoubi” yang bergabung dengan brigade Front Kurdi pada 22 Juli 2013. Brigade ini telah menghimpun bangsa Arab dan Kurdi bersama. Mereka menerbitkan pernyataan bersama mengutuk kekerasan yang dilakukan oleh kelompok-kelompok Islamis dan upaya-upaya untuk memecah belah rakyat Suriah di atas sentimen etnis dan sekyarian. Sayangnya beberapa pasukan FSA lainnya ada yang betempur di sisi kaum Islamis.

Di Kota Aleppo, di lingkungan Achrafieh-sebagian besar dihuni oleh bangsa Kurdi-suatu protes diorganisir pada 1 Agustus 2013, menghimpun ratusan orang mendukung persaudaraan antara Arab dan Kurdi serta mengecam tindakan-tindakan yang dilakukan oleh kelompok-kelompok ekstrimis Islamis terhadap warga Kurdi serta menyerukan yel-yel persatuan rakyat Suriah.

Sedangkan di kota Tell Abyad yang menderita pertempuran beat, kaum aktivis telah berupaya untuk mengorganisir berbagai inisiatif untuk mengakhiri pertempuran militer antara kedua kelompok dan menghentikan pengusiran paksa rakyat sipil, serta menempatkan komite rakyat untuk mengelola kota dan mempromosikan inisiatif-inisiatif dan tindakan-tindakan antara warga Arab dan Kurdi, untuk mencapai suatu konsensus melalui cara-cara damai. Upaya-upaya tersebut terus berlangsung meskipun ada pertempuran terus menerus antara kaum Islamis dan laskar Kurdi.

Kemudian di kota AMouda, sekitar tiga puluh aktivis berkumpul pada 5 Agustus 2013 dengan bende-bendera revolusioner Suriah dan Kurdi di belakang poster bertuliskan “Aku Cinta Padamu Homs,” untuk menunjukkan solidaritasnya dengan kota yang terus digempur oleh tentara rezim Suriah.

Belakangan, di kota Quamishli-dimana warga Arab (baik Muslim dan Kristen) serta Kurdi dan Assuriah tinggal-para aktivis setempat telah mengorganisir sejumlah proyek untuk menjamin hidup berdampingan dan administrasi pemukiman serta lingkungan tertentu oleh komite-komite gabungan. Di kota yang sama, cabang Serikat mahasiswa Kurdi Merdeka telah memulai kampanya internet kecil yang menyerukan kemerdekaan, perdamaian dan persaudaraan, toleransi dan kesetaraan untuk masa depan Suriah.

Dalam mayoritas besar kasus, gerakan kerakyatan Suriah belum pernah berhenti mengulang penolakannya terhadap sektarianisme, meskipun terdapat upaya-upaya oleh rezim dan kelompok-kelompok Islamis untuk menyulut api berbahaya ini. Slogan-slogan para demonstran, seperti “Kita semua adalah rakyat Suriah, kita semua bersatu” dan “Tolak sektarianisme” terus diulang hingga hari ini.

Dengan demikian, komite-komite rakyat dan organisasi-organisasi rakyat memainkan peran penting dalam mendorong proses revolusioner, karena keduanya merupakan pelaku penting yang memungkinkan gerakan rakyat untuk terus melawan. Bukan berarti mengecilkan peran yang dimainkan oleh perlawanan bersenjata, namun perlawanan bersenjata bergantung pada gerakan rakyat untuk terus berjuang. Tanpanya kita tidak akan bertahan sama sekali.

Lebih baik mati daripada dipermalukan”

Kesimpulannya, revolusi Suriah masih ada, masih terus berlangsung, dan tidak akan berhenti. Revolusi akan terus berlangsung meskipun perang tanpa ampun terus dilancarkan oleh rezim terhadap gerakan rakyat, sebagaimana pembantaian terus menerus yang dilakukannya terhadap rakyat sipil; dan terlepas ancaman-ancaman internal dari kelompok-kelompok Islamis dan kelompok-kelompok reaksioner. Meskipun mereke merepresentasikan suatu minoritas, kelompok-kelompok tersebut tetap berbahaya dan merupakan musuh-musuh revolusi, melalui ideologi sektarian, praktek-praktek otoriter, serta penentangannya terhadap tujuan-tujuan pemberontakan yaitu demokrasi dan keadilan sosial.

Seperti kaum demonstan yang terus bernyanyi di banyak aksi demonstrasi “rakyat Suriah tidak akan dipermalukan” dan “kematian lebih baik daripada dipermalukan”. Gerakan rakyat akan terus berjuang hingga mencapai kemenangan dan mewujudkan tujuan-tujuan revolusi.

 

Hidup revolusi rakyat!

 

Kekuasaan dan kemakmuran untuk rakyat!

 

Post Scriptum menyangkut Intervensi Asing dan Mobilisasi-Mobilisasi Anti Perang

Gerakan Kiri Revolusioner di Suriah bersama lima organisasi revolusioner lainnya di kawasan, telah menyatakan penentangannya terhadap rencana intervensi Barat di masa depan sekaligus mengutuk intervensi Iran, Rusia, dan Hizbullah yang masif, keji, dan brutal, di pihak rezim Assad yang memerangi kaum revolusioner. Deklarasi ini juga menentang intervensi dari kelompok-kelompok jihadis reaksioner dan kelompok-kelompok teroris yang didukung oleh bangsawan-bangsawan teluk yang ingin membelokkan revolusi kerakyatan ini menjadi perang sektarian karena mereka sesungguhnya takut akan potensi kemenangan dan menyebarnya revolusi kerakyatan ini ke perbatasan-perbatasan dan wilayah-wilayah meeka. Kami tahu bahwa intervensi AS tidak memiliki niatan untuk menggulingkan rezim namun semata-mata untuk menghukumnya, dalam kata-kata Obama, kepemimpinan Suriah saat ini dan menyelamatkan muka pemerintahan AS, setelah semua ancaman menyangkut penggunaan persenjataan kimia dan untuk mendorong agar rezim mengarah ke meja perundingan. Serangan AS harus dipahami dalam kerangka kerja untuk mempertahankan kepentingan-kepentingan vitalnya, sebagai tambahan kepentingan-kepentingan dan keamanan Israel. Kami, Gerakan Kiri Revolusioner di Suriah, menuntut pemberian senjata pada komponen-komponen demokratis FSA dan penyediaan bantuan-bantuan kemanusiaan pada warga yang membutuhkan baik di dalam maupun di luar Suriah tanpa prasyarat politik apapun.

FSA bukanlah pasukan Islamis sebagaimana yang digambarkan di banyak media massa, mereka merupakan batalyon-batalyon yang merepresentasikan keanekaragaman masyarakat Suriah yang tediri dari Muslim Sunni, Alawi, Kristen, Druze, Kurdi, Assuriah, dan lain sebagainya. Di banyak daerah, mereka tunduk dan bekerjasama dengan otoritas sipil, bekerja berdampingan dengan dewan-dewan pemerintahan lokal. Selain itu mereka telah berjuang untuk menjamin bahwa perlawanan mereka terhadap Assad akan memberi jalan bagi masyarakat demokratis baru. Bahkan di beberapa daerah yang dikuasai oleh FSA, digelar forum-forum dan pertemuan-pertemuan tiap pekan yang mana warga bisa berbicara dengan bebas dan bisa menyampaikan keprihatinan dan kepeduliannya langsung pada otoritas-otoritas lokal seperti yang telah kami jelaskan di atas. Sedangkan di saat yang bersamaan, rezim Assad yang mengaku-ngaku sebagai pelindung kaum Minoritas, telah menghancurkan lebih dari 30 gereja sejak awal revolusi.

Sekali lagi kami menyatakan dukungan kami bagi revolusi Suriah dan tujuan-tujuannya: demokrasi, keadilan sosial, dan menolak sektarianisme.

Gembar-gembor Solidaritas dengan rakyat Suriah tidak lebih dari sebuah banyolan dan penghinaan dari berbagai organisasi dan orang yang menolak intervensi Barat di Suriah sementara mereka bungkam terhadap masifnya intervensi asing yang dilakukan oleh Rusia, Iran, dan Hizbullah, dan di atas segalanya tidak peduli dan tidak mengucapkan sepatah kata pun untuk mengutuk ratusan ribu pembunuhan terhadap martir revolusi, berbagai pembantaian, yang mengakibatkan jutaan pengungsi dan kehancuran sejak awal revolusi di Suriah dan kejahatan-kejahatan yang dilakukan oleh rezim Assad, sebagai tambahan kelakuan mereka yang menolak mendukung gerakan rakyat untuk demokrasi dan keadilan sosial melawan rezim Assad, sebaliknya mereka telah menggerogoti atau mencoba menggambarkan gerakan tersebut sebagai suatu konspirasi yang sama dengan garis-garis propaganda rezim Assad dari waktu ke waktu. Padahal Solidaritas harus pertama-tama didasarkan pada dukungan terhadap gerakan kerakyatan dan revolusinya yang memperjuangkan demokrasi dan keadilan sosial baik di Suriah maupun dimanapun juga, dan dilakukan di atas landasan internasionalisme, dengan kata lain dukungan terhadap rakyat yang memperjuangkan kesetaraan dan pembebasan. Hanya ketika pokok ini telah dipahami maka slogan solidaritas bisa diusung.

Apapun yang terjadi, kami percaya sebagaimana apa yang ditulis Pemuda Revolusioner Suriah di Homs di plakat mereka:

“Pernyataan Obama dan pernyataan lainnya tidak penting bagi kami. Kami yang memulai revolusi dan kami pula yang akan menuntaskannya. Persatuan kami lebih kuat daripada serangan asing manapun.”

 

Revolusi terus berlangsung dan masih hidup…revolusi butuh solidaritas kita!

 

*Tulisan ini merupakan terjemahan dari artikel blog Syrian Freedom Forever yang dikelola oleh Gerakan Kiri Revolusioner di Suriah (Revolutionary Left Current in Syria), tulisan tersebut merupakan terjemahan bahasa Inggris dari artikel berbahasa Perancis yang ditulis di Liga Revolusioner Komunis pada 4 September 2013 (http://www.lcr-lagauche.be/cm/index.php?view=article&id=3000%3Alauto-organisation-des-luttes-populaires-en-syrie-face-au-regime-et-aux-groupes-islamistes%E2%80%93oui-ca-existe-&option=com_content&Itemid=53) dan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Audrey Annh Lavallee. Tulisan ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan dipublikasikan ulang melalui Bumi Rakyat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: