Kerja, Kapitalisme, dan Sosialisme

Kerja, Kapitalisme, dan Sosialisme

“Kelihatannya bagus di atas ketas, tapi sosialisme tidak akan pernah berhasil karena jika semua orang mendapatkan semua yang mereka butuhkan baik mereka bekeja atau tidak, maka tidak ada insentif untuk bekerja sama sekali!” Inilah salah satu argumen karikatur yang paling tipikal untuk menyerang sosialisme.

Kapitalisme sudah punya dua abad lebih untuk membuktikan pada kelas pekerja bahwa ia, lah, sistem terbaik yang pernah ada dan bahwa bekerja di dalam sistem kapitalisme akan membuat kita bahagia asalkan kita bekerja keras. Anehnya, suatu laporan yang diterbitkan pada tahun 2010 menunjukkan bahwa kepuasan kerja di Amerika Serikat (AS) berada di titik terendahnya selama dua dekade, dan juga mengindikasikan bahwa kepuasan kerja terlepas naik turunnya ekonomi, terus menerus merosot. Suatu jajak penjajak Gallup terkini menunjukkan bahwa 71% pekerja Amerika merasa tercerabut dari kerja mereka.

Penemuan-penemuan ini nampaknya membingungkan para ekonom borjuis karena dalam suatu ekonomi seperti ini, orang-orang “seharusnya bersyukur punya pekerjaan.” Mereka tidak mampu memandang melampaui batasan-batasa sempit kapitalisme, mereka tidak mampu menemukan penjelasan dan solusi sejati.

Diantara Kaum politisi dan pengusaha, penelitian ini telah memicu ketakutan akan menurunnya inovasi dan oleh karena itu menurunnya kesuksesan di antara perusahaan-perusahaan Amerika, sehingga akan semakin memperparah krisis.

Sedangkan di sisi lain, survei tersebut telah menciptakan fokus yang semakin meningkat terhadap apa yang membuat para pekerja bahagia dengan pekerjaan-pekerjaannya sehingga mereka bisa makin produktif. Hasil-hasil penelitian ini mungkin tak akan mengejutkan kita-namun akibat-akibat jangkauannya jauh lebih meluas dari apa yang dikehendaki kaum kapitalis.

Efek Samping Sistem: Penyakit dan Bunuh Diri

Sebelum kita bergerak pada penjelasan mengenai hasil (outcome) positif dari kerja, mari kita lihat apa dampak dari rasa tercerabut dari pekerjaan atau menganggur.

Menurut Gallup, “para pekerja Amerika yang secara emosional tercerabut dari pekerjaan dan tempat kerjanya kira-kira boleh jadi sama rasanya dengan kaum pengangguran-namun kondisinya jauh berbeda dengan mereka yang tidak tercerabut di pekerjaannya-yaitu mereka yang dilaporkan berada dalam kondisi kesehatan prima.

Dalam artikel-artikel sebelumnya di Socialist Appeal, kami telah menjelaskan akibat-akibat kurangnya akses terhadap layanan kesehatan dasar di Amerika Serikat (AS). Sistem kesehatan yang sudah tidak setara di AS demikian kini semakin tidak terjangkau lagi setelah krisis, dan hal ini bukan suatu fenomena yang hanya terjadi di negara kapitalis ini saja.

Menurut Reuters: “Pengetatan anggaran mengakibatkan dampak yang menghancurkan terhadap kesehatan di Eropa dan Amerika Utara serta memicu naikknya tingkat bunuh diri, penyakit menular, dan mempersempit akses terhadap obat-obatan dan perawatan kesehatan…”

Setidaknya sebanyak lima juta rakyat Amerika telah kehilangan akses terhadap  layanan kesehatan sebagai akibat langsung dari krisis.

Suatu kecenderungan tampak jelas ketika kita melihat statistik terkini: bukan saja jumlah orang yang tidak puas dengan pekerjaannya saja yang makin meningkat bahkan kini semakin banyak orang yang depresi, kesehatannya memburuk-dan angka-angka ini bukan lagi didominasi oleh pemuda dan paruh baya.

Sejak tahun 2009, jumlah kematian akibat bunuh diri telah melampaui jumlah orang yang terbunuh dalam kecelakaan bermotor di AS. Menurut statistik sebelumnya, orang yang berusia di bawah 35 tahun atau paruh baya lebih rentan melakukan bunuh diri, namun angka-angka terkini menunjukkan peningkatan drastis dalam hal bunuh diri di kalangan usia menengah atau orang berusia di antara 35 tahun hingga 64 tahun selama dekade lalu. Bukan hal yang kebetulan bahwa menurut survei Gallup kelompok usia yang sama didominasi mereka yang tercerabut dari kerjanya dan mereka yang mengidap kesehatan buruk.

Pusat Pengendalian Penyakit menyatakan: “Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap naiknya tingkat bunuh diri di antara kelompok ini antara lain adalah merosotnya kondisi ekonomi (secara historis, tingkat bunuh diri berkaitan dengan siklus bunuh diri, dimana tingkat tersebut semakin naik seiring dengan semakin sulitnya kondisi ekonomi).”

Selanjutnya: “Hasil-hasil ini mengungkap perlunya strategi-strategi pencegahan bunuh diri yang menangani isu-isu kesehatan mental serta stres dan tantangan-tantangan yang dihadapi kelompok usia menengah ini. Stres-stres demikian meliputi tantangan-tantangan ekonomi, tanggungjawab ganda (merawat anak-anak dan orang tua lanjut usia), serta permasalahan-permasalahan kesehatan yang beresiko muncul.

Apa strateginya, sampai kini kita tidak diberitahu.

Tak Ada Kepercayaan Diri

Socialist Appeal berulang kali menjelaskan dampak krisis terhadap masyarakat Amerika. Berikut merupakan angka-angka terkini dari suatu laporan yang dipublikasikan di awal tahun ini yang diberi judul “Hidup dan Masa Depan yang Merosot: Potret Amerika di Era Resesi Besar.” Laporan tersebut menyatakan bahwa: “Sebanyak 73% (rakyat Amerika) kehilangan pekerjaan mereka sendiri atau memiliki anggota keluarga, kerabat dekat, atau teman yang kehilangan pekerjaan pada suatu saat dalam empat tahun ini…mereka yang diberhentikan selama resesi dan cukup mujur untuk menemukan pekerjaan baru umumnya kurang menetap dalam posisi mereka yang baru.”

Penemuan paling meresahkan adalah rakyat pada umumnya tidak memiliki kepercayaan bahwa ekonomi akan membaik dalam waktu dekat. “Hanya 32% yang meyakini bahwa kondisi-kondisi ekonomi akan membaik tahun depan. Persentase yang sama meyakini bahwa tahun depan kondisi ekonomi malah akan memburuk…Saat ditanya pendapatnya berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk pulihnya kondisi ekonomi, hanya sebanyak 12$ yang mengatakan bahwa mereka mengira pulihnya ekonomi ini akan terjadi di masa depan yang dekat (satu atau dua tahun lagi). Sementara sepertiga berpikir bahwa pulihnya ekonomi sepenuhnya akan terjadi tiga atau lima tahun lagi. Sedangkan mayoritas (54%) menganggap butuh enam hingga sepuluh tahun (25%), atau menyatakan bahwa AS tidak akan pernah pulih sepenuhnya dari Resesi Hebat (29%), atau mereka tidak mengira ini akan terjadi dalam kurun waktu satu dekade.

Meskipun secara teknis AS tidak berada dalam resesi lagi, hal ini menunjukkan bahwa rakyat Amerika tidak memiliki kepercayaan atas adanya peningkatan hajat hidup mereka di masa depan. Seseorang bisa saja mengatakan bahwa kapitalisme terlihat bagus di atas kertas namun kenyataannya tidak lebih dari suatu bencana kemanusiaan-bahkan untuk ukurang negara kapitalis paling maju di muka bumi.

Keterasingan, atau, Bagaimana Kerja dalam Sistem Kapitalisme

“Saya tidak mengerti sampai lama kemudian bagaimana keja ini benar-benar berat dan terlampau banyak. Bukan karena tingkat kesulitannya, melainkan karena dipaksakan, dibebankan, diwajibkan, dan karena dikerjakan karena takut dipentung…dulu penah terpikir bahwa kalau kerja itu dimaksudkan untuk memeras manusia sampai kering-untuk menghukumnya dengan keji, untuk menggilasnya hingga bahkan seorang pembunuh paling keras akan gemetar dan ketakutan di hadapan kerja demikian, maka akan perlu memberi ciri kerjanya sebagai suatu kesia-siaan mutlak, bahkan suatu absurditas.”

Kata-kata Dostoyevsky demikian menjelaskan mengenai penyiksaan dalam wujud kerja penjara, yaitu penyiksaan akibat dipaksa kerja tanpa henti, tanpa tujuan, dan tanpa penghargaan. Tak lagi mengejutkan siapapun bahwa penelitian terkini terhadap kelayakan kerja dan produktivitas menunjukkan kerja yang sama jenisnya dengan yang dimaksud Dostoyevsky-kerja yang repetitif, terus-menerus, dan membosankan, bahkan meskipun itu merupakan kerja upahan namun tetap menurunkan semangat dan tidak meningkatkan produktivitas, malah sebaliknya.

Ketercerabutan dari kerja adalah akibat keterasingan dari kerja. Kapitalisme ada di atas basis asan produksi sosial kekayaan, dengan pencurian pivat terhadap nilai lebih. Apa maksudnya? Maksudnya adalah produksi dalam sistem kapitalisme telah dikonsentrasikan, diperluas, dan dikembangkan hingga skala maha luas yang mana hanya dengan basis suatu bentuk perencanaan dan kolaborasi maka masyarakat bisa memproduksi hal-hal yang kita butuhkan.

Hal itu juga berarti bahwa meskipun mayoritas populasi bekerja untuk memproduksi komoditas dan jasa, kita tidak menguasai alat-alat produksi, yang mana dikuasai oleh segelintir kapitalis. Kita juga tidak menikmati buah atau hasil produksi kerja kita kecuali segelintir barang-barang kebutuhan yang perlu agar kita bertahan hidup. Hasil dari kerja kreativitas, otak, syaraf, dan tubuh kita bukan jadi milik kita. Apa yang kita hasilkan saat kerja jadi milik orang lain, apa yang kita hasilkan ditujukan di atas segalanya sebagai dagangan kaum kapitalis di pasar. Inilah yang Marx istilahkan sebagai alienasi (keterasingan).

“Dengan demikian sang pekerja hanya merasakan dirinya diluar pekerjaannya, dan dalam pekerjaannya dia merasa diluar dirinya sendiri. Dia merasa di rumah saat dia tidak bekerja, dan saat dia bekerja dia tidak merasa di rumah. Kerjanya dengan demikian bukan sukarela malainkan dipaksa; hal ini dengan demikian berarti kerja paksa. Oleh karena itu hal ini bukanlah pemenuhan kebutuhan melainkan semata-mata untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat eksternal baginya.”

Seseorang mungkin berpikir bahwa kalau kerja itu begitu tidak menyenangkan maka seharusnya orang bahagia kalau menganggur. Namun ini jelas tidak benar. Hilangnya penghasilan dan hilangnya akses terhadap sandang, papan, dan perawatan kesehatan untuk diri dan keluarga menyebabkan keterpurukan yang amat sangat. Bahkan di negara-negara dengan pelayanan kesehatan gratis, pendidikan gratis, dan sokongan tuna karya, kondisi menganggur meningkatkan tingkat kematian, depresi, tekanan darah tinggi, diabetes, stres, penyakit jantung, dan bunuh diri. Ini bukan hanya masalah kehilangan penghasilan namun juga hilangnya kontak-kontak sosial di tempat kerja dan kehilangan perasaan produktif atau bernilai sebagai seseorang yang berkontribusi pada masyarakat.

Apa itu Kerja dan Mengapa Orang Melakukannya?

Kerja, hingga jangkauan yang luas, adalah apa yang membedakan manusia dari dunia binatang. Kerja-interaksi manusia dengan, manipulasi, dan modifikasi terhadap lingkungan alam sekitar-memainkan peran penting dalam perkembangan otak manusia dan transisi dari kera ke manusia, sebagaimana yang dijelaskan oleh Friedrich Engels di tahun 1876 silam.

Namun dalam masyarakat kapitalis, keja biasanya hanya dianggap sebagai kerja “nyata” bila merupakan kerja produktif, yaitu, bila menghasilkan laba bagi kaum kapitalis. Hal ini berujung pada pemahaman terbatas bahwa keja hanyalah kerja bilamana dibayar. Dari kesimpulan tersebut mengalir banyak kesalahpahaman mengenai bagaimana kapitalisme bekerja dan bagaimana penghisapan kelas berfungsi secara umum. Faktanya, bila kita mencari kata “kerja” di kamus, definisinya adalah aktivitas yang melibatkan upaya mental dan atau fisik demi mencapai suatu tujuan atau hasil.

Kerja, hingga jangkauan yang luas, adalah apa yang membedakan manusia dari dunia binatang. Kerja-interaksi manusia dengan, manipulasi, dan modifikasi terhadap lingkungan alam sekitar-memainkan peran penting dalam perkembangan otak manusia dan transisi dari kera ke manusia, sebagaimana yang dijelaskan oleh Friedrich Engels di

tahun 1876 silam.

Namun dalam masyarakat kapitalis, kerja biasanya hanya dianggap sebagai kerja “nyata” bila merupakan kerja produktif, yaitu, bila menghasilkan laba bagi kaum kapitalis. Hal ini berujung pada pemahaman terbatas bahwa kerja hanyalah kerja bilamana dibayar. Dari kesimpulan tersebut mengalir banyak kesalahpahaman mengenai bagaimana kapitalisme bekerja dan bagaimana penghisapan kelas berfungsi secara umum. Faktanya, bila kita mencari kata “kerja” di kamus, definisinya adalah aktivitas yang melibatkan upaya mental dan atau fisik demi mencapai suatu tujuan atau hasil.

Dengan demikian kerja atau memburuh adalah apapun yang kita lakukan sebagai manusia dan kerja kebanyakan tidak dibayar. Bahkan saat kita melakukan kerja bayaran kita melakukan dua jenis kera, kerja dibayar dan kerja tak dibayar sekaligus. Upah rata-rata dihitung sedemikian rupa sehingga mencakup kebutuhan dasar pekerja dan bukan setara dengan jumlah sebenarnya dari nilai yang dihasilkan buruh saat bekerja. Sebagaimana yang dijelaskan Marx, nilai lebih dihasilkan oleh pekerja yang mana dengan upah yang diterimanya merupakan kerja tak dibayar, dan inilah yang membentuk basis bagi sewa, bunga, dan laba.

Marx menjelaskan tenaga kerja manusia sebagai suatu aktivitas yang positif dan kreatif, namun dalam sistem kapitalisme, hasil dari aktivitas ini terasingkan dari pekerja. Argumen bahwa insentif utama untuk kerja adalah uang yang dibayarkan, dalam beberapa kasus bisa jadi benar bagi pekerja dalam kapitalisme, namun hal ini bukanlah satu-satunya alasan mengapa manusia bekerja-dan upah saja tidak cukup untuk membuat seseorang puas dengan pekerjaan  mereka.

Bahkan dalam kapitalisme kita menyaksikan aktivitas-aktivitas positif namun terbatas di semua penjuru masyarakat. Manusia menempuh tantangan-tantangan dan upaya-upaya hebat serta menjemukan bukan untuk alasan dan tujuan “produktif” atau lainnya. Bagaimana kita bisa menjelaskan mengapa orang-orang rela belajar menjahit atau merajut saat kita bisa membeli dengan harga lebih murah dan kualitas lebih tinggi dengan membeli barang yang diproduksi secara massal dan dijual di pertokoan? Bagaimana menjelaskan fakta bahwa orang-orang menghabiskan waktu berjam-jam menanam dan merawat kebun atau bekerja di halaman belakang, alih-alih sekedar bermalas-malasan di sofa? Bagaimana menjelaskan berjam-jam waktu yang dihabiskan oang untuk belajar memainkan suatu instrumen musik meskipun kecil kemungkinannya mereka bisa kaya dan terkenal? Mengapa orang menghabiskan waktu berbulan-bulan berlatih untuk lari maraton, yang benar-benar melelahkan serta menguras tenaga, dan terus diulangi lagi dan lagi?

Jawabannya sederhana. Jawaban yang sudah diketahui oleh para psikolog dan terapis selama berpuluh tahun: mengerjakan pekerjaan dengan hasil yang jelas, membuahkan hasil yang mempengaruhi pekerjaan, menyaksikan kemajuan pekerjaan, dan bekerja dengan orang lain meningkatkan rasa percaya dii dan memberikan energi pada dii. Pendek kata-membuat kita jadi bahagia.

Psikolog dari Universtas New York, Robert Reiner dan lainnya telah melakukan penelitian yang menunjukkan bahwa mengerjakan kerajinan bisa menurunkan stres, menurunan turunnya tekanan darah, mengurangi resiko penyakit jantung, kegelisahan, dan depresi. Faktanya, mengerjakan kerajinan sebagai suatu hobi memiliki dampak dasar yang sama dengan meditasi. Jelas bahwa kapitalisme hanya menghargai kerja upahan yang menghasilkan laba, jadi bukan berarti manusia yang “watak alaminya malas” atau bahwa manusia lebih memilih tidak bekerja sama sekali.

Dalam kapitalisme, meskipun terasing dari kerja bayaran, banyak pekerja yang dengan sukarela menghabiskan banyak waktu dan tenaga untuk mengembangkan komunitas mereka atau untuk membantu orang lain. Lebih dari seperempat rakyat Amerika diatas 16 tahun  melakukan kerja sukarela tiap tahun. Ini berarti mereka bekerja untuk suatu perusahaan atau organisasi tanpa dibayar. Banyak institusi kebudayaan seperti museum dan perpustakaan mempekerjakan tenaga kerja sukarelawan secara tetap.

Sebagai tambahan, sekolah-sekolah, rumah sakit, dan gereja, yang menyediakan banyak layanan sosial memiliki jumlah pekerja sukarelawan yang relatif besar. Tahun 2011, rakyat Amerika menghabiskan 7,9 juta jam bekerja secara cuma-cuma sebagai sukarelawan. Nilai jam kerja sukarela ini diperkirakan mencapai rata-rata $22,14/jam, yang mana lumayan tinggi di atas upah minimum, namun rata-rata masih dibawah ongkos untuk mempekerjakan pekerja profesional untuk mengerjakan kerja yang sama. Jumlah hingga $171 milyar yang dihasilkan rakyat Amerika dengan cuma-cuma di tengah krisis ekonomi.

Beberapa di antara mereka memang memiliki niatan untuk mengisi resume, atau berharap akan direkrut sebagai pegawai reguler; meskipun demikian, jutaan jam telah disumbangkan tanpa kompensasi untuk “membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik.” Faktanya, kelompok terbesar dari orang yang bekerja sukarela berasal dari kalangan 35 dan 44 tahun, yaitu orang yang sudah punya pekerjaan dan keluarga untuk dirawat.

Sebagian besar kerja yang dilakukan oleh sukarelawan belum tentu menarik, unik, atau menantang. Jadi apa insentif bagi orang-orang yang bekerja dengan cuma-cuma? Insentif terbesar yang sering dinyatakan, adalah hasrat untuk membantu komunitas mereka, meningkatkan rasa percaya diri dengan “membuat perbedaan”, berteman dengan orang-orang lain, membantu orang lain, mengembangkan keahlian-keahlian baru, dan menikmati hal yang mereka senangi. Dengan kata lain, orang-orang melakukan kerja sukarela demi menjadi bagian dab memiliki pengaruh terhadap komunitas dan lingkungan mereka; demi membantu merencanakan dan melaksanakan kerja-kerja yang bermakna; demi meningkatkan hubungan-hubungan sosial dengan orang-orang di sekitar mereka; serta untuk belajar.

Dilihat dari permukaan, semua nilai-nilai atau misi-misi yang dijelaskan oleh perusahaan manapun yang mencoba membuat paa pekerjanya lebih peduli dengan kerja yang mereka lakukan, atau setidaknya memberikan para pekerja sebuah ilusi bahwa mereka tengah membuat suatu perbedaan. Penelitian menunjukkan bahwa bahkan saat bekerja dengan upah rendah dan mengerjakan pekerjaan berkeahlian rendah, bekerja untuk suatu tujuan yang memiliki nilai personal, dan bukan semata menciptakan keuntungan untuk majikan atau perusahaan, akan membuat para pekerja lebih bahagia dan lebih produktif.

Dibayar atau tidak dibayar, orang ingin bekerja; orang ingin jadi ahli di suatu bidang; mereka ingin menjadi bagian dari sesuatu-sepanjang hal tersebut berarti baginya. Namun kenyataannya sepanjang kita bekerja untuk upah, perbedaan dan dampak nyata satu-satunya yang akan kita buat adalah laba bagi kelas kapitalis-dan ini semakin nyata bagi kelas pekerja dari hari ke hari.

Bagaimana Mendapatkan Pekerja yang Lebih Produktif

Penelitian yang disebutkan di atas menunjukkan bahwa pertama-tama, suatu lingkungan kerja yang positif meningkatkan kepuasan dan produktivitas . Kedua, lingkungan kerja yang positif setidaknya menyebabkan para pekerja memiliki pengaruh terhadap bagaimana dan dimana mereka ingin bekerja-misalnya apakah mereka ingin kantor atau tidak, apakah mereka ingin mulai bekerja pada jam 8 pagi ataukah pada siang hari, apakah mereka ingin mendesain meja kerja mereka bila mereka menggunakannya-juga merupakan hal-hal yang meningkatkan produktivitas. Ketiga, ruang dan waktu untuk bersantai dan bersosialisasi sembari bekerja, dengan menyertakan hal-hal seperti kopi, makanan yang enak, dan bahkan meja pingpong atau ruang bowling, juga meningkatkan produktivitas. Keempat, suatu ruang tidur dan istirahat juga membantu serta menjamin para pekerja dihargai kerjanya dan setidaknya punya urun pendapat dalam pengambilan keputusan.

Pendek kata, bila para pekerja diperlakukan dengan baik maka mereka akan bekerja dengan lebih baik. Hal ini sudah ditemukan oleh para sosialis utopis, misalnya Robert Owen, pada awal abad 19, bahkan sebelum kapitalisme berkembang dalam skala penuh. Kini, praktek-praktek ini pada tingkatan-tingkatan tertentu disadari dan dipraktekkan oleh perusahaan-perusahaan piranti lunak besar dan kaya seperti Google dan Apple, yang bergantung pada kreativitas para pekerjanya demi berkompetisi dengan perusahaan-perusahaan besar lainnya. Namun untuk sebagian besar, riset dan praktek dalam meningkatkan lingkungan kerja dibatasi dengan tegas pada tempat-tempat kerja yang merupakan bagian dari apa yang disebut sebagai “ekonomi pengetahuan.”

Hal ini berarti untuk kebanyakan pekerjaan, dimana para pekerja tidak diharapkan untuk “think outside the box” (berpikir di luar pakem), namun semata-mata menjalankan tugas-tugas yang sudah ditentukan sebelumnya, maka perusahaan tidak bersedia mencurahkan uang untuk meningkatkan kondisi atau lingkungan kerja. Faktanya, kebanyakan kerja kantoran kini diorganisir di sepanjang garis-garis pabrik, dan para pekerja hanya memiliki sedikit kendali terhadap kerja mereka. Hal demikian secara lucu namun juga secara akurat, digambarkan melalui film Office Space. Satu-satunya cara bagi para pekerja untuk merasa terlibat dalam proses kerja adalah melibatkan mereka dalam manajemen tingkat rendah, yang berarti membuat mereka bertanggung jawab untuk penjadwalan dan penemuan cara-cara lain untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi-serta untuk melaksanakan potongan-potongan boss.

Perusahaan-perusahaan seperti Apple telah mengobarkan dengan terang benderang ilusi bahwa mereka tidak sekedar mengejar laba dan keuntungan semata, namun juga “menginovasi dan mendorong batas-batas kreativitas manusia sejauh mungkin.” Namun mereka punya kesulitan dalam menjelaskan laporan yang datang dari pabrik Foxconn di Tiongkok, yang merupakan salah satu pemasok Apple yang utama. Mei tahun ini, tiga pekerja dari pabrik tersebut melakukan bunuh diri. Faktanya, upaya bunuh diri begitu sering terjadi, akibat kondisi-kondisi monoton dan tekanan tanpa ampun dari pihak manajemen, bahkan pabrik telah memasang jaring besar yang terbentang di sekelilingnya demi mencegah para pekerja yang hendak bunuh diri dengan melompat dari gedung.

Seperti Apa Kerja dalam Sistem Sosialisme?

Detil-detil mengenai bagaimana dan seperti apa hidup dalam sosialisme tentu saja akan bergantung pada teknologi dan sumber daya yang tersedia  begitu kelas pekerja meraih kekuasaan ekonomi dan politik. Detil-detil tersebut akan harus diputuskan secara kolektif dan demokratis oleh anggota-anggota masyarakat di masa depan demikian. Meskipun demikian, kita bisa mengekstrapolasi (memperluas data di luar data yang tersedia) beberapa kemungkinan dengan berdasarkan bagaimana hal-hal berlaku saat ini.

Inti utama yang harus diperhatikan adalah bahwa kerja dalam sosialisme-sembari di permukaannya terlihat kurang lebih sama dengan kerja yang dilakukan dalam kapitalisme-akan berbeda secara kualitatif. Alat-alat produksi akan dimiliki secara bersama dan direncanakan secara rasional di bawah kontrol buruh secara demokratis. Apa artinya? Ini berarti bahwa tempat-tempat kerja dan semua produk masyarakat akan diproduksi, didistribusikan, dan dipertukarkan secara kolektif dan demokratis, di atas basis kebutuhan dan keinginan kolektif, bukan atas dasar laba privat atau keuntungan pribadi.

Artinya alih-alih memproduksi makanan, obat-obatan, mobil, pakaian, dan untuk tujuan menciptakan laba sembari berkompetisi terhadap perusahaan lain, para pekerja dari perusahaan-perusahaan yang dimiliki negara ini akan memiliki hak suara secara langsung atas apa dan bagaimana barang-barang akan diproduksi, dengan upah tinggi dan kondisi yang baik serta manfaat yang tinggi, dengan bekerjasama dengan masyarakat secara umum.

Dengan kata lain, kita akan membangun dengan produksi kemakmuran yang sudah kita miliki dalam sistem kapitalisme, namun alih-alih menjalankan pengambilan  privat terhadap nilai lebih yang dihasilkan oleh para pekerja, kita akan menjalankan pengambilan sosial. Dengan merebut laba dari kelas kapitalis yang parasitis, akan terdapat cukup kemakmuran dalam masyarakat tidak hanya untuk sepenuhnya mendanai sekolah-sekolah, rumah sakit-rumah sakit, memperbaiki jalanan, dan lain-lainnya, namun juga untuk mengurangi jam kerja secara drastis, dengan tingkat mata pencaharian penuh (artinya tidak ada orang yang menderita pengangguran). Para pekerja yang kini menganggur, akan dipekerjakan; mereka yang kini merupakan tuna wisma akan memiliki tempat tinggal. Terdapat jutaan orang hari ini yang tidak mampu pergi ke dokter; dalam sosialisme setiap orang akan mendapatkan pelayanan dan perawatan kesehatan yang gratis dan berkualitas tinggi.

Dalam sosialisme, garis antara kerja perlu yang kita butuhkan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar kita, dan kerja yang kita lakukan sebagai manusia-seringkali diacu sebagai “hobi”-akan melebur satu sama lain. Dengan lebih banyak waktu luang untuk menyalurkan hasrat dan minat, dan dengan semakin tergantikannya kerja kasar dan repetitif melalui kemajuan-kemajuan teknologi, maka kerja akan kehilangan ciri dan konotasi jelek yang didapatnya dari sistem kapitalisme sebelumnya.

Dalam sosialisme kita bisa bekerja di pertanian organik, membantu menyembuhkan kanker, membantu mengembangkan industri yang tidak menghancurkan lingkungan, dan mementaskan konser-semua di hari yang sama! Bukan hanya para pekerja akan jadi bagian dari suatu proyek yang melibatkan semua orang, mereka juga akan menimbulkan perbedaan konkret di kerja mereka tiap hari, mereka akan semakin merasa menjadi bagian dari masyarakat, dan bekerja untuk membuatnya semakin baik, semakin efisien, dan semakin menyenangkan.

Sosialisme tidak hanya akan semakin jauh lebih produktif dan efisien dibandingkan kapitalisme, bahkan sosialisme akhirnya akan membebaskan umat manusia untuk meraih dan mencapai potensi penuhnya.

*diterjemahkan dari tulisan Dana Cooper berjudul “Work, Capitalism, and Socialism” sebagaimana yang dimuat dalam marxist.com pada Kamis, 19 September 2013. Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan dipublikasikan kembali melalui Bumi Rakyat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: