Rumah Kandang dari Hongkong

Kandang dari Hongkong

Hongkong, salah satu kota terkaya di dunia, bergemerlapan dengan kemewahan boom properti. Namun kemakmuran disana punya sisi gelap, dimana puluhan ribu orang tinggal dalam kondisi yang memprihatinkan.

Foto-foto berikut ini diambil oleh Brian Cassey, fotografer Inggris yang berhasil memotret penderitaan rakyat-yang diperkirakan beberapa pihak mencapai 100.000 orang-yang terpaksa hidup dalam kandang berukuran 6×2,5 kaki.

Yan Chi Leung

Yan Chi Leung mengalami masalah kesehatan mental dan tinggal di rumah kandang seluas 6×2,5 kaki di tumpukan paling dasar dari tiga tumpukan

Kong Sui Kao

Kong Sui Kao, 64 tahun, duduk dalam rumah kandangnya dalam kamar dengan 19 kandang lainnya

Kota tersebut merupakan salah satu daerah berpenduduk paling padat di dunia, dimana sekitar 16.500 orang tinggal di tiap mil wilayah tersebut.

Majikan rumah susun menarik sewa sebesar US$200 per bulan untuk tiap kandang, dimana satu kamar terdiri dari 20 kandang dan mencapai tiga tingkat.

Kandang paling bawah adalah kandang paling mahal karena penyewa bisa hampir berdiri di dalamnya namun kondisinya sama kumuhnya.

Tai Lun Po

Tai Lun Po, 79 tahun, tinggal di kandang yang dia duduki selama lebih dari 30 tahun

Lee Ka Ying dan ibunya

Lee Ka Ying, 8 tahun, tinggal di rumah kandang seluas 6 kaki bersama ibunya

Yan Chi Keung

Yan Chi Keung makan makanan bungkusan sterofoam di luar rumah kandang – tidak ada fasilitas masak memasak di rumah susun demikian

Tai Lun Po

Tai Lun Po berjalan ke kamar mandi yang digunakan bergantian dengan para penghuni lainnya

Para penghuni harus berbagi toilet dan fasilitas cuci yang sangat sederhana. Banyak rumah susun yang tidak memiliki dapur sehingga pendapatan para penghuninya yang sudah pas-pasan terpaksa dikurangi lagi untuk membeli makanan bungkusan.

Kasus rumah-rumah kandang merupakan skandal dalam perumahan Hongkong selama berpuluh tahun. Namun alih-alih menghilang, masalah tersebut malah kian meningkat.

Seiring dengan krisis ekonomi dunia juga turut menerpa bekas jajahan Inggris tersebut yang ekonominya terfokus pada sektor-sektor finansial, kini kian banyak warga yang terpaksa tinggal di tempat kumuh demikian. Karena pilihan lainnya kalau tidak tinggl di rumah kandang ini adalah menggelandang di jalan.

Yan menghisap rokok diantara tetangganya

Yan menghisap rokok diantara tetangganya

Tai Lun Po

Tai Lun Po menyusuri koridor rumah kandang Mongkok Hongkong

Tang Man Wai

Tang Man Wai, 60 tahun, seorang pensiunan buruh restauran terpaksa mengurangi jatah uangnya untuk membeli makanan bungkusan

Gedung di Mongkok yang Menempatkan Rumah Kandang dalam Kamarnya

Gedung di Mongkok yang terdiri dari rumah kandang-kandang, dimana dalam satu kamar terkadang bisa terdapat hingga 20 kandang

Salah satu penghuni kandang, Cheung, yang tinggal di Sham Shui Po, mengatakan pada Asia Times Online, bahwa dia berusaha bertahan hidup dalam kondisi terjepit dan lingkungan berbau busuk.

“Suhu di dalam kandang bisa naik lebih panas dua hingga tiga derajat daripada suhu diluar,” katanya.

“Sangat tidak nyaman dan kadang saya tidak bisa tidur sampai jam 5 pagi.”

Kecoa, cicak, kutu, dan tikus sering muncul. “Kadang saya khawatir kalau-kalau kadal atau kecoak akan merayap masuk kuping saya pada malam hari,” kata Cheung.

*disadur dari Daily Mail, dailymail.co.uk, dengan judul asli “Cage dogs of Hong Kong: The tragedy of tens of thousands living in 6ft by 2ft rabbit hutches – in a city with more Louis Vuitton shops than Paris”. Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan dipublikasikan kembali via Bumi Rakyat, bumirakyat.wordpress.com.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: