Pemogokan Guru Inggris Tunjukkan Angkara Rakyat Pekerja

Pemogokan Guru Inggris Tunjukkan Angkara Rakyat Pekerja

Kekuatan  para guru tampak jelas dalam kehadiran massif di pemogokan-pemogokan regional yang berlangsung bulan ini pada 1 dan 17 Oktober. Para guru di NUT (National Union of Teachers atau Serikat Guru Nasional) dan NAS/UWT yang mewakili 90 persen guru, beramai-ramai turun ke jalan dalam aksi mogok ribuan sekolah hari itu.

Hal signifikan lainnya adalah bukan hanya sekolah menengah yang mogok namun juga sejumlah besar sekolah dasar yang seringkali hanya memiliki setengah lusin atau selusin anggota serikat dimana lebih mudah untuk menundukkan aktivisme daripada membangkitkannya.

Para guru tengah berjuang melawan berlipat-lipat serangan terhadap hajat hidup serta kondisi kerja mereka. Dengan terus menekan upah di bawah tingkat inflasi selama tahun dan peningkatan besar-besaran dalam potongan superannuation (potongan yang diambil dari gaji guru untuk dana pensiun) maka upah guru yang bisa dibawa pulang semakin menurun 15% selama masa jabat parlemen ini. Terlebih lagi, peningkatan potongan superannuation baru dibayarkan untuk pensiun-pensiun yang lebih kecil di masa yang lebih lanjut. Sehingga para guru dituntut terus bekerja sampai umur 68 tahun atau lebih, padahal pada kenyataannya sebagian besar guru sudah semakin letih menjelang usia demikian.

Garis-garis panduan upah baru telah menghapuskan nilai upah nasional dan kini skala upah guru sepenuhnya berada di tangan para kepala guru dan para gubernur serta terkait dengan apa yang disebut sebagai “kinerja”. Faktanya, mustahil untuk mengatribusikan pembelajaran dan pengembangan anak-anak ke satu guu lain dan skema upah terkait kinerja tidak lain dan tidak bukan merupakan suatu resep melokalisir penindasan dan favoritisme. Bahkan bila para guru mampu mengelola upah skala sekolah, kenaikan-kenaikan yang sudah dicapai susah payah tidak lagi berlaku ‘portabel’ sebagaimana dahulu kala. Berpindah dari satu sekolah ke sekolah lain akan mengharuskan seorang guru harus kembali meniti dari tingkat paling bawah lagi. Jadi kalau seseorang dianggap “tidak cocok” di suatu sekolah, maka pindah ke sekolah lain bukanlah suatu pilihan, dan ini bisa jadi alat kepala-guru untuk mengintimidasi dan menindas para karyawan.

Sebagai tambahan, suatu hal yang disebut sebagai rangkaian pemrosesan “kapabilitas” kini digunakan dalam skala massif untuk menyingkirkan aktivis-aktivis serikat, anggota staf yang “canggung”, dan para guru yang lebih berpengalaman (dan dengan demikian lebih mahal) lainnya. Terdapat suatu ketidakseimbangan besar dalam pemrosesan kapabilitas terhadap para guru perempuan dan para guru yang berusia lebih tua. Kenyataannya, sebagian besar guru tidak akan bekerja sampai usia 68 tahun–karena mereka akan dipaksa mengundurkan diri atau diberhentikan dan hidupnya berakhir sebagai pengangguran–suatu alternatif yang jauh lebih murah bagi pemerintah daripada membayarkan dan pensiun pada mereka.

Kini Michael Gove (Sekretaris Negara untuk Pendidikan) menyarankan pada badan penentuan upah nasional agar mencabut tunjangan-tunjangan tambahan yang dengan susah payah dimenangkan selama beberapa tahun belakangan. Dia menyarankan penyingkiran terhadap waktu jaminan atas Persiapan, Perencanaan, dan Penilaian (waktu PPA atau Peparation, Planning, and Assessment) agar tuntutan penilaian dan perencanaan dipecah-pecah menjadi parsel-parsel kecil sepuluh atau lima belas menit disana-sini. Gove juga menyarankan pada badan nasional untuk menyingkirkan spesifikasi pusat atas hari dan jam kerja–tampaknya ini dilakukan untuk menciptakan “fleksibilitas” yang lebih besar, namun pada kenyataannya dilakukan untuk meningkatkan panjang hari sekolah dan waktu kontak guru.

Hal lain yang juga penting bagi para guru adalah daftar 21 “tugas non mengajar” yang disusun beberapa tahun lalu dimana daftar ini mencakup tanggungjawab-tanggungjawab yang bukan tugas para guru. Daftar ini mencakup hal-hal seperti administrasi, pemasukan data, kerja-kerja pameran, dan semacamnya. Kini Gove ingin menyingkirkan daftar ini agar para guru bisa dibebani sekian banyak tugas non-mengajar dan menambah berat pekerjaan mereka yang sudah ada sekarang. Terakhir namun tidak kalah parahnya, Gove ingin menghapus kesepakatan “penggantian pengajar” dimana para guru tidak diwajibkan untuk menggantikan rekan-rekan yang tidak masuk sebagaimana sebelumnya. Kalau kesepakatan ini dicabut maka sekali lagi para guru yang dianggap punya waktu “luang” di sekolah–tak peduli seberapa kecil waktu itu–akan hilang karena dipaksa menggantikan rekan kerja yang sakit.

Para guru juga murka akibat privatisasi yang merayap memangsa sistem pendidikan. Tidak ada lagi kewajiban pada akademi-akademi atau sekolah-sekolah gratis untuk mempekerjakan para guru yang berkualitas–beberapa lapangan atau lowongan kerja untuk guru-guru baru bahkan diiklankan dengan upah sangat rendah–dan ini akan menghancurkan pendidikan anak-anak kita serta entah kerusakan macam apa lagi yang akan timbul di masa depan. Pekan lalu diumumkan bahwa kepala sekolah ‘gratis’ Pimlico di London–seorang perempuan berusia 27 tahun yang tidak memiliki kepampuan mengajar sama sekali. Hal ini merupakan penerimaan memalukan dimana tanpa pelatihan serta pengalaman yang memadai, maka staf tak berkualifikasi tidak bisa ‘membajak’ masuk ke dalam ruang kelas. Menarik untuk dicatat bahwa peempuan muda dan tak berkualifikasi ini ternyata bekerja untuk Civitas, kelompok think tank sayap kanan, sebelum secara kebetulan dipilih untuk mengepalai salah satu sekolah yang baru diprivatisasi pemerintah. Think-tank ini telah memainkan suatu peran penting dalam mendorong agenda sayap-kanan Gove atas sekolah-sekolah ‘gratis’ yang diprivatisasi dengan suatu pendekatan militeristik pada pendidikan, dan tampaknya, akibat mereka, para pegawai hanya bisa mendapatkan jabatan dalam sistem sekolah kalau memiliki hubungan nepotisme dan bukannya berdasarkan kontribusi jasa.

Bukan suatu hal yang memalukan bila Tristram Hunt, jurubicara Pendidikan Bayangan (Oposisi) Partai Buruh, mengikuti jejak langkah pendahulunya, Stephen Twigg, dalam mendukung sekolah-sekolah gratis, meskipun dia menyebutnya dengan nama yang berbeda. Kaum Tories (Partai Konservatif) ingin mencabut semua pendidikan dari kontrol dan akuntabilitas komunitas lokal, dan hal inilah yang sebenarnya didukung oleh Twigg dan Hunt. Memalukan bahwa Partai Buruh tidak punya kebijakan dan komitmen apapun terhadap manajemen lokal yang demokratis terhadap pendidikan dan sekolah-sekolah melalui para pengurus lokal atau badan-badan pengelola yang dipilih secara demokratis. Partai Buruh nampaknya mengikuti preseden Partai Konservatif dalam membuat rantai-rantai akademi untuk menjalankan sekolah-sekolah, membuka jalan pada skema-skeman pencarian laba, dan  merusak sistem pendidikan.

Partai Buruh harus bangun dan menyadari betapa murka para guru saat ini. Para guru berkorban dan kehilangan banyak uang untuk melancakan pemogokan satu hari–dengan besaran mendekati 150 poundsterling atau lebih dari gaji mereka berikutnya–namun dalam jangka panjang tidak ada jalan lain selain berjuang demi profesi dan hajat hidup mereka, serta demi sistem pendidikan secara keseluruhan. Pemogokan-pemogokan ini bukanlah akhir dari isu ini. Perjuangan terus berlanjut, karena pemogokan satu hari nasional harus direncanakan kelak termasuk juga kampanye terus menerus yang melampauinya.

 

*diterjemahkan dari tulisan John Pickard, Essex NUT yang dipublikasikan pada Jumat 18 Oktober 2013 di socialist appeal dan dimuat ulang di marxist.com. Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan dipublikasikan kembali via Bumi Rakyat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: