Revolusi Buruh di Dunia – bag. III – Revolusi Februari 1917 di Rusia

Revolusi Buruh di Dunia bag. III - Revolusi Februari 1917

Revolusi Rusia 1917 merupakan kemenangan paling mendalam dan menginspirasi yang pernah dicapai oleh kelas buruh. Meskipun terjadi di masa silam, banyak pengalaman kelas buruh dan Partai Bolshevik yang masih relevan hari ini. Tahun 1907-1911 sebelumnya sangatlah suram bagi kaum revolusioner. Kelas penguasa Rusia mencurahkan waktunya untuk menggilas sisa-sisa semangat revolusioner dari 1905. Lenin menggambarkan periode reaksi terhadap perlawanan 1905 sebagai berikut:

Tsarisme tengah berjaya. Semua partai revolusioner dan oposisi dihantam. Depresi, demoralisasi, perpecahan, perseteruan, dan pengkhianatan, terjadi di lapangan politik…Bagaimanapun juga pada saat yang bersamaan, dari kekalahan inilah, partai-partai revolusioner dan kelas revolusioner memperoleh pelajaran nyata dan sangat berharga…suatu pelajaran dalam pemahaman perjuangan politik, dalam seni dan ilmu mengobarkan perjuangan…dimana pasukan yang terpukul kalah meraih pelajaran-pelajarannya.

Meskipun tahun-tahun buruk menerpa pasca-1905, medan politik telah berubah selamanya. Tahun 1912, aktivitas kaum buruh mulai bangkit, dengan suatu rangkaian pemogokan di tambang-tambang emas Lena untuk menuntut delapan jam kerja sehari. Saat yang bersamaan, kekuatan-kekuatan Imperialis Eropa—Inggris, Prancis, Jerman, dan Rusia—tengah berlomba-lomba berebut kekuasaan, sehingga bentrok terbuka dan meletuskan Perang Dunia I pada tahun 1914. Setelah secercah harapan yang muncul dari bangkitnya militansi kelas buruh, 1914 menjelma jadi masa tergelap seluruh gerakan revolusioner. Suatu perpecahan muncul di antara kaum sosialis moderat yang berkapitulasi pada kelas penguasa Eropa dan mendukung perang pembantaian mereka di satu sisi, serta segelintir minoritas kecil kaum revolusioner seperti Lenin dan Kaum Bolshevik serta Trotsky, yang menentang perang, di sisi lain. Slogan yang diangkat oleh Lenin dan Kaum Bolshevik adalah “Ubah perang imperialis jadi perang sipil”. Sehingga alih-alih membunuhi kaum buruh dari negara-negara lain, kaum Bolshevik beragitasi untuk melawan kaum majikan Eropa, kaum yang menorehkan penderitaan hebat terhadap rakyat jelata dalam beberapa tahun ke depan.

Pecahnya perang awalnya menai dukungan nasionalistis. Namun hal ini tidak berlangsung lama, karena langkah-langkah penetapan anggaran dan pengarahan ulang sepenuhnya terhadap ekonomi-ekonomi Eropa mulai terasa dalam bentuk menurunnya upah dan melambungnya harga barang-barang pangan. Kaum buruh perempuan Rusia, meskipun berada jauh dari parit-parit perang, mereka menanggung beban berat perang. Karena mereka dituntut untuk mengelola rumah tangga sekaligus bekerja dengan upah paling rendah di saat yang bersamaan. Maka pada Jumat, 23 Februari 1917, bertepatan dengan hari Buruh Perempuan Internasional, di Petrograd, revolusi Rusia dimuali. Seorang buruh di pabrik mesin Nobel menjelaskan apa yang terjadi disana:

Kami mendengar suara-suara perempuan di lorong belakang yang berhadapan dengan jendela-jendela departemen kami: Turunkan harga! Atasi kelaparan! Roti untuk buruh!Aku dan beberapa kawan langsung menghambur ke arah jendela-jendela tersebut…gerbang-gerbang pabrik no. 1 Bol’shaia Sampsonievskaia terbuka lebar.”

“Massa buruh perempuan yang tampak militan memenuhi lorong. Mereka yang melihat melihat kami sontak melambaikan tangannya, dan menyeru ‘Keluar! Berhenti kerja!’. Bola-bola saju berterbangan di luar jendela. Akhirnya kami memutuskan bergabung dengan demonstrasi.”

Revolusi Februari menggambarkan dinamisme kaum tertindas. Perempuan di lapisan kelas buruh yang pengorganisirannya paling buruk malah menjadi katalis bagi seluruh revolusi. Gagasan bahwa kaum perempuan harus mengorganisir diri mereka sendiri—suatu gagasan yang semakin menggema saat ini—akan tampak menggelikan bagi buruh-buruh perempuan yang mogok pada Februari 1917 tersebut. Hal yang pertama kali dilakukan oleh buruh-buruh perempuan tersebut adalah mendatangi dan menyerukan pada buruh-buruh paling militan dan paling teorganisir dengan baik untuk keluar dan bersolidaritas dengan mereka. Saat itu, mereka adalah buruh-buruh pabrik amunisi di distrik Vyborg di Petrograd yang notabene adalah buruh laki-laki. Lapisan kelas buruh inilah yang paling radikal dengan keanggotaan Bolshevik yang banyak. Para pimpinan komite pabrik di di distrik Vyborg sebelumnya tidak setuju mogok kerja karena mereka pikir aksi itu terlalu prematur. Namun karena kaum buruh perempuan memimpin aksi maka berkat tradisi kuat solidaritas mereka maka buruh-buruh lainnya langsung mogok seketika. Hal ini memicu gelombang pemogokan secara massif. Dalam beberapa hari berikutnya terdapat 200.000 buruh melancarkan aksi mogok.

Menyikapi hal ini, Tsar kemudian memerintahkan militer untuk menggulung demonstrasi-demonstrasi dan pemogokan-pemogokan. Revolusi tidak terelakkan lagi. Berbeda dengan tahun 1905 dimana tentara sebagian besar sangat setia terhadap Tsar, pada tahun 1917 terdapat keresahan meluas diantara para prajurit. Mereka menderita selama tiga tahun belakangan karena peperangan mengerikan yang dilancarkan demi kepentingan penguasa. Hal ini membuat simpati dan dukungan para prajurit terhadap Tsar makin anjlok. Trotsky, dalam bukunya mengenai sejarah revolusi, menjelaskan salah satu konfrontasi antara buruh dan prajurit:

Kayurov, seorang buruh-bolshevik, sekaligus salah satu pimpinan otentik di hari-hari itu…bersama beberapa buruh lain yang menyertainya…melepas topi mereka dan mendekati Cossacks seraya berkata: ‘Saudara-Cossacks, bantulah buruh-buruh yang bejuang untuk tuntutan-tuntutan damai mereka; lihatlah bagaimana sang firaun memperlakukan kita, buruh-buruh kelaparan. Bantulah kami!’ Sikap bersahaja penuh kesadaran ini, dengan topi di tangan—merupakan suatu pertimbangan psikologis yang akurat! Suatu isyarat yang tidak bisa dipalsukan! Seluruh sejarah pertempuran jalanan dikepung dengan improvisasi demikian…’Para Cossacks bertukar pandangan dengan cara istiewa,’ lanjut Kayurov, dan ‘kami hampir tidak menepi saat mereka mulai menyerbu. ‘Dan dalam semenit kemudian, di dekat gerbang stasiun, kerumunan buruh menyambut seorang Cossak yang membunuh kepala polisi dengan pedangnya sendiri di hadapan buruh .”

27 Februari menandai titik balik. Hari itu merupakan hari dimana seluru resimen garnisun Petrograd membelot ke kubu kaum buruh yang mogok kerja. Hai itu juga merupakan hari dimana para pemimpin Duma (parlemen) menolak perintah Tsar dan menyatakan diri sebagai Pemerintahan Transisi. Empat hari kemudian pada 3 Maret, Tsar Nicholas II turun tahta. Tsarisme berhasil dikalahkan dalam kurun waktu tidak lebih dari 12 hari. Pemogokan-pemogokan telah melahirkan komite-komite tempat kerja dan dari komite-komite ini mendirikan komite koordinasi pusat yang disebut soviet.

Revolusi Februari sering disebut sebagai perlawanan spontan karena tidak memiliki kepemimpinan jelas. Bagaimanapun juga sebutan ini jelas tidak mepmpertimbangkan peran yang dimainkan para buruh yang terpolitisir oleh revolusi 1905 dan yang berhimpun di sekitar kaum Bolshevik. Trotsky menggambarkan mereka sebagai kaum buruh yang terpelajar dan berkesadaran berkat partainya Lenin.” Kaum Bolshevik di Februari sangat kecil dan terfragmentasi namun mereka memainkan suatu peran penting sepanjang 1917. Kegigihan mereka selama masa-masa sulit telah menempa dan menyiapkan mereka. Hal itu menjadi ujian kekuatan yang berhasil mereka pertahankan selama mereka ditindas, diburu, dan terpaksa bergerak di bawah tanah. Kaum Bolshevik bertahan karena mereka telah mempelajari pelajaran-pelajaran perjuangan di masa lalu, khususnya pada masa 1905, dan membuktikan bahwa iklim politik tidak pernah sama dan kapasitas rakyat untuk melawan tidak sepenuhnya lenyap.

Dengan kemampuan menarik pelajaran, mempertahankan, dan menyampaikannya pada kaum buruh selama tahun-tahun intervensi, Kaum Boslhevik berhasil mempertahankan suatu organisasi yang menghimpun para revolusioner yang berdedikasi dan mematangkan mereka untuk peristiwa-peristiwa yang muncul di tahun 1917. Trotsky menjelaskan peran para anggota dan pendukung partai Bolshevik:

Di antara massa perlu ada buruh yang memiliki pemikiran mengenai pengalaman 1905, mengkritik ilusi-ilusi konstitusional liberal yang dianut kaum liberal dan kaum Menshevik, meneria perspektif-perspektif revolusi, mempertimbangkan ratusan kembali pertanyaan-pertanyaan mengenai tentara, mengamati dengan cermat apa yang terjadi di dalamnya—dan buruh-buruh yang mampu menarik kesimpulan-kesimpulan revolusioner dari pengamatan mereka, menyampaikannya pada buruh-buruh lainnya.

Kekuasaan Ganda

 Seiring dengan makin kuatnya pemogokan, soviet mulai mengorganisir fungsi-fungsi mendasar perkotaan dan mengorganisir kembali produksi. Buruh-buruh mulai memandang soviet sebagai pemerintahan mereka sendiri. Menurut Trotsky, yang kelak dipilih menjadi presiden soviet Petrograd, hal ini berujung pada situasi yang disebut sebagai “Kekuasaan Ganda”. Kekuasaan Ganda, kata Trotsky, “muncul saat kelas-kelas yang saling bermusuhan (kelas buruh dan kapitalis) masing-masing bergantung pada organisasi pemerintahan yang sama-sama tidak utuh—yang satu sudah sekarat dan yang lain sedang dalam proses pembentukan—yang saling dorong-mendorong dan berusaha saling menjatuhkan satu sama lain dalam setiap bidang pemerintahan.

Penggulingan Tsar berarti banyak manajer pabrik yang diusir atau bahkan melarikan diri saat revolusi pecah. Maret 1917, suatu proses demokratisasi terjadi di pabrik-pabrik. Buruh-buruh memenangkan capaian-capaian yang sangat berlimpah seperti delapan jam kerja sehari, kenaikan upah sebesar 30-50 persen dalam hitungan minggu. Meskipun capaian-capaian yang dimenangkan para buruh pasca Februari mencerminkan kekuatan dan kepercayaan diri mereka, namun kelas buruh masih belum sadar bahwa mereka bisa merebut kekuasaan untuk diri mereka sendiri. Buruh sebagian besar berperan dalam pengambilan keputusan-keputusan terkait bagaimana seharusnya pabrik-pabrik beroperasi namun upaya-upaya mereka ditujukan semata-mata hanya untuk mempertahankan Rusia yang demokratis yang memberi mereka hak yang tidak mereka dapatkan di bawah rezim Tsar.

Kaum Bolshevik pun terperangah oleh berbagai peristiwa Februari. Bagaimanapun juga pada April 1917 mereka sudah memiliki perwakilan-perwakilan dalam ukuran minoritas penting dalam soviet. Sebelum Juli 1917 soviet-soviet didominasi oleh Kaum Revolusioner Sosialis (partai kaum tani) dan kaum Menshevik (kaum moderat) yang memenangkan argumen untuk memberikan dukungan bersyarat bagi Pemerintahan Sementara yang didominasi oleh kepentingan-kepentingan kapitalis. Dukungan mereka terhadap Pemerintahan Sementara berdasarkan gagasan bahwa sebelum Rusia menjadi sosialis maka harus ada revolusi demokratis borjuis yang mengantarkan Rusia pada demokrasi parlementer. Bagaimanapun juga. Dari awal di antara buruh terdapat sentimen ketidakpercayaan yang mendalam terhadap Pemerintahan Sementara. Sentimen ini makin kentara di bulan April, saat makin jelas bahwa Pemerintahan Sementara ingin melanjutkan perang. Padahal peristiwa-peristiwa Februari pecah karena dipicu oleh angkara dan nestapa akibat perang sehingga tentu saja hal ini makin membuat mayoritas buruh murka.

Lenin kembali dari pengasingan di bulan April. Dia mempersenjatai Partai Bolshevik dengan gagasan bahwa Rusia mampu memicu suatu rangkaian revolusi sosialis di seluruh Eropa. Caranya dimulai dengan mengekspos Pemerintahan Sementara yang merupakan pemerintahan kapitalis dan menuntut agar perang diakhiri serta mengusung slogan: “Tanah, roti, dan perdamaian.” Setelah bulan April, dukungan terhadap kaum Bolshevik meningkat. Salah satunya disebabkan akibat kemerosotan kondisi ekonomi yang diakibatkan oleh perang. Pabrik-pabik mulai tutup dan banyak buruh yang menderita pengangguran dan kelaparan. Seiring dengan gagalnya kapitalisme di Rusia, slogan-slogan kaum Bolshevik yang anti-kapitalis mulai bergema. Sebagaimana yang dikatakan salah seorang buruh, “Kaum Bolshevik selalu mengatakan: ‘Bukan kami yang akan memaksa kalian namun kehidupan itu sendiri.’

Militansi kelas buruh Rusia semakin tumbuh karena terilhami kepercayaan diri akibat peristiwa-peristiwa Februari di satu sisi serta karena didorong penderitaan perang di sisi lain. Pemerintahan Sementara yang berusaha membuktikan dirinya layak dipercaya oleh kelas penguasa kemudian mulai melancarkan serangan-serangan terhadap buruh. Salah satunya dengan memfitnah demonstrasi ribuan buruh Petrograd sebagai insureksi buatan kaum Bolshevik. Kemudian Pemerintahan Sementara juga memberangus koran Bolshevik, menangkapi para pimpinan inti dan melancarkan suatu gelombang represi. Pemerintahan Sementara menunjukkan bahwa ia sepenuhnya berpihak pada kaum majikan dan bersedia melakukan apapun untuk menggilas gerakan buruh.

Banyak buruh menarik kesimpulan dari peristiwa-peristiwa Juli bahwasanya soviet-soviet perlu merebut kekuasaan. Karena para pimpinan soviet yang moderat masih ingin mendukung Pemerintahan Sementara maka buruh-buruh yang meruoakan anggota biasa yakin bahwa para pimpinan ini harus diganti dengan orang-orang yang tidak mau berkompromi—yaitu kaum Bolshevik, Paradoks situasi yang dihadapi Buruh pada Juli 1917 bisa dirangkum oleh seorang buruh yang pidatonya ditujukan pada para pimpinan soviet Petrograd: “Kami percaya pada soviet-soviet namun kami tidak percaya pihak yang dipercaya soviet-soviet.”

Soviet-soviet berkembang menjadi embryo tatanan masyarakat baru, tatanan masyarakat dimana buruh mengontrol apa yang harus diproduksi dengan dasar apa yang diperlukan. Peristiwa-peristiwa Februari dan Juli telah meradikalisasi buruh: mereka semakin diyakinkan oleh kaum Bolshevik bahwa buruh dapat merebut kekuasaan dan menghabisi kelas penguasa Rusia. Inilah fokus Revolusi Oktober, yang akan dibahas dalam tulisan berikutnya. Pentingnya mempelajari periode Februari hingga Juli adalah untuk memahami bagaimana kaum Bolshevik mampu memimpin revolusi yang menyusul di bulan Oktober.

Fakta bahwa kaum Bolshevik memahami pentingnya berupaya membangun suatu organisasi bahkan dalam iklim politik terburuk sekalipun bermakna bahwasanya mereka memiliki organisasi yang mampu merespon letupan-letupan perjuangan di bulan Februari. Aktivis-aktivis yang menanggung tahun-tahun suram penuh derita dengan tetap bekerja membangun basis partai revolusioner yang cukup fleksibel untuk merespon berbagai peristiwa yang terjadi serta mampu meyakinkan kelas buruh bahwa mereka mampu dan perlu merebut kekuasaan.

*ditulis oleh Lian Jenvey pada September 2005 sebagai bab II dari pamflet “Workers Revolutions of The 20th Century – A Socialist Alternative Pamphlet. Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan dipublikasikan ulang melalui Bumi Rakyat, bumirakyat.wordpress.com.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: