Revolusi Buruh di Dunia – bag. VI – Revolusi Hungaria 1956

Revolusi Buruh di Dunia – bag. VI – Revolusi Hungaria 1956

Revolusi Hungaria 1956

Kontra-revolusi di Rusia bagaikan suatu mimpi buruk yang membayangi tradisi-tradisi revolusioner sejati Marx, Lenin, dan Trotsky sepanjang 1930an dan 1940an. Sosialisme akhirnya diasosiasikan dengan negara-negara birokratis bak monster yang mana pada kenyataannya tetaplah masyarakat kelas sebagaimana di Barat namun dengan keberadaan negara, alih-alih keberadaan kapitalis perseorangan, yang menjalankan semua perusahaan-perusahaan kapitalis.

Saat Perang Dunia II (PD II) berakhir, Eropa terbelah ke dalam kubu-kubu kekuatan imperialis dunia: Inggris, Amerika Serikat (AS), dan Rusia. Rusia meraih kontrol atas Eropa Timur, termasuk Hungaria. Partai Komunis Hungaaria, kecil dan tidak relevan, namun karena dibeking tank-tank Stalin, akhirnya mampu meraih posisi-posisi kunci dalam pemerintahan yang berkoalisi dengan elemen-elemen borjuis lama negara. Mereka membentuk suatu aparatus birokratis yang akan mensolidkan kontrol mereka. Lawan-lawan dibunuhi, diburu, atau disogok dengan posisi-posisi istimewa dalam birokrasi. Mesin negara lama tidak hancur, sebaliknya malah diteruskan oleh para pimpinan Komunis yang dipercaya Stalin.

Rezim Hungaria tidak ada hubungannya sama sekali dengan sosialisme. Rezim penguasa di Hungaria mencerminkan sistem kapitalisme negara Rusia, dimana segelintir minoritas penindas dan penghisap mengejar kepentingan-kepentingan mereka sendiri, diatas kerugian dan penderitaan massa rakyat. Akhir 1940an dan awal 1950an birokrasi yang mengendalikan Hungaria melakukan segala yang mereka bisa untuk melanjutkan ambisi imperialis Rusia. Kelas penguasa di Rusia bertekad untuk berkompetisi dengan negara-negara kapitalis lainnya di seluruh dunia. Demi mempertahankan industri persenjataan Rusia, Eropa Timur dipaksa meningkatkan produksi dalam industri-industri berat.

Hungaria, sama dengan di tempat lainnya, hal ini berarti menimbulikan pemotongan upah, perampasan tanah kaum tani, dan serangan keji terhadap hajat hidup. Hal ini juga berakibat pada produksi barang-barang konsumen dimana tidak ada cukup roti untuk memberi makan rakyat. Hungaria akhirnya terpaksa menanggung perbaikan perang yang besar dan dicangkokkan dalam hubungan perdagangan yang menguntungkan Rusia. Sedangkan pada saat yang bersamaan, elit penguasa di Hungaria mempenjarakan, mengeksekusi, dan memfitnah ribuan orang. Kepemimpinan Komunis sendiri menjalankan rangkaian ‘pembersihan’ dimana anggota partai yang “terhormat” dipecat dan dicaci sebagai musuh.

Monolith Stalinis bukan berarti tidak menemui perlawanan balik dari rakyat. Tahun 1953, tahun kematian Stalin, kelas buruh Jerman Timur bangkit melawan meskipun akhirnya direpresi seketika dengan kejam. Di Moscow, elit penguasanya terseret dalam kesemrawutan oleh kevakuman kekuasaan yang ditinggalkan akibat kematian Stalin, dan terjerumus dalam perebutan kekuasaan. Penguasa-penguasa Hungaria tiba-tiba diberitahu bahwa kesetiaan mereka yang mengekor pada perintah-perintah Moscow merupakan “penyimpangan berbahaya”. Penguasa resmi Hungaria, Matyos Rakosi kemudian dipinggirkan dan diganti dengan Imre Nagy yang bertugas menerapkan reforma-reforma. Namun pada Januari 1955 segala sesuatu berputar lagi: Rakosi dipasang kembali sementara Nagy dicaci.

Akhirnya pada Kongres Keduapuluh Partai Komunis Uni Soviet, Khrushchev membuyarkan semua sisa-sisa ilusi mengenai kehidupan di Rusia di bawah rezim Stalin, ilusi-ilusi yang bertahan di Barat selama puluhan tahun. Dia bicara dengan blak-blakan mengenai pengadilan-pengadilan rekayasa Stalin, kamp-kamp kerja paksa, penggunaan penyiksaan dan eksekusi. Saat “pidato rahasia” ini bocor, hal ini mengakibatkan kegemparan dan pergolakan di Partai-Partai Komunis di seluruh dunia.

Dalam iklim inilah, Revolusi Hungaria meletus. Sudah lima tahun berlalu sejak kematian Stalin, beberapa jurnalis, penulis, dan seksi-seksi masyarakat yang lebih berprivilese mulai mempertanyakan kebenaran yang sebelumnya mereka terima sepenuhnya. Terdapat kesemrawutan dalam partai penguasa itu sendiri akibat perubahan-perubahan mendadak yang maju dan mundur antara para pemimpin yang berbeda dan kebijakan-kebijakan ekonomi yang silih berganti dianjurkan Rusia. Suatu seksi Komunis Muda Hungaria, “lingkaran Petofi”, mulai memperdebatkan pertanyaan-pertanyaan ekonomi politik, dan melemparkan tantangan pada kepemimpinan partai.

Bagaimanapun juga, debat tidak dibatasi hanya pada birokrat-birokrat berprivilese dan pengurus-pengurus partai yang kecewa, namun yang hanya bertengkar mengenai bagaimana cara yang terbaik untuk menjalankan kapitalisme di Hungaria. Menjelang kebangkitan perlawanan di Poznan di Polandia, buruh-buruh Budapes merespon dengan berpartisipasi dalam pendiskusian dan perdebatan politik. Bahkan dalam berbagai insiden kecil, buruh-buruh mulai menantang manajer mereka terkait masalah upah dan kondisi kerja. Pemerintah kemudian berupaya memberikan beberapa konsesi untuk membungkam oposisi dari anggota internal partai dan tantangan dari bawah, namun hal ini tidak ada gunanya.

Revolusi Dimulai

Lalu pada Oktober 1956 suatu demonstrasi yang diorganisir mahasiswa dilakukan untuk bersolidaritas dengan perjuangan Polandia. Awalnya pemerintah mengijinkan arak-arakan demonstrasi namun kemudian ijin tersebut dicabut kembali secara mendadak. Demonstrasi ini, yang terdiri dari seratus ribu massa, menolak berkapitulasi. Sebaliknya, demonstrasi tersebut tumbuh semakin besar dan menyusun tuntutan-tuntutan demokrasi buruh dan kemerdekaan dari kekuasaan Rusia, Dalam demonstrasi tersebut, patung Stalin dirobohkan dan massa demonstran bergerak ke suatu stasiun radio.

Karakter demonstrasi saat itu belumlah revolusioner. Demonstrasi tersebut terdiri dari kumpulan bingung dari berbagai angkatan kelas yang berbeda, sebagian Cuma ingin Nagy dipasang lagi, sementara yang lainnya, termasuk buruh-buruh yang terlibat memprotes menentang rezim itu sendiri, meskipun tanpa kejelasan bagaimana cara memajukan perjuangan mereka. Namun di stasiun radio, polisi-polisi politik yaitu AVH, menembaki para demonstran. Tindakan ini mengubah watak perlawanan dari sekedar arak-arakan demonstrasi menjadi insureksi bersenjata.

Buruh dan Mahasiswa Hungaria Bersenjata

Buruh-buruh melawan balik dengan apapun yang bisa mereka temukan: bom-bom bensin, batu, dan pistol. Seksi-seksi tentara dan polisi mulai membelot atau setidaknya berlaku pasif. Barikade-barikade kemudian didirikan dan markas pers partai kemudian diserbu. Aparatus negara Hungaria jadi impoten dan lumpuh. Tank-tank Rusia kemudian dikerahkan ke Budapest. Saat itulah, para pimpinan Komunis yang bangkrut mengakui tuntutan-tuntutan yang disusung oleh kaum demonstran. Suatu pemerintahan baru dengan Imre Nagy sebagai Perdana Menterinya dideklarasikan. Namun kelas buruh Hungaria menolak menghentikan perjuangan mereka. Mereka tahu kalau pasukan Rusia tidak ditarik sepenuhnya maka nasib buruh dan rakyat Hungaria akan bergantung pada belas kasihan mereka. Revolusi kemudian menjalar kemana-mana, buruh-buruh pinggiran kota kemudian berduyun-duyun ke pusat kota untuk menunjukkan dukungan mereka. Salah satu pamflet mengatakan dengan tegas: “Selama pemerintahan gagal memenuhi tuntutan-tuntutan kami dan sampai para pembunuh diadili maka kami hanya akan menjawab pemerintah dengan pemogokan massa.”

Hari ketiga, dewan-dewan buruh revolusioner yang mencerminkan soviet-soviet Rusia tahun 1917 kemudian mulai bermunculan dimana-mana di Hungaria. Institusi-institusi buruh sejati yang terbentuk untuk memfasilitasi perjuangan dari bawah ini berdiri sebagai oposisi total terhadap institusi-institusi negara Hungaria lama yang korup dan menindas. Buruh-buruh Hungaria mengambil alih stasiun-stasiun radio dan mulai mengorganisir suplai makanan dan rumah sakit melalui dewan-dewan tersebut. Seluruh area dikuasai oleh kaum insurgen Hungaria. Akhirnya, rezim Nagy menyerah pada tuntutan-tuntutan insureksi. Mereka menjanjikan penarikan seluruh pasukan Rusia dan mulai bicara “dukungan” terhadap revolusi. Suatu pemerintahan bar dibentuk yang secara resmi mengakui dewan-dewan revolusioner lokal.

Kekuasaan Ganda

Crowds by Captured Russian Tank

Akhir Oktober, muncul situasi kekuasaan ganda. Meskipun di satu sisi, pemerintah masih punya “otoritas” formal, namun struktur-struktur kekuatan negara lama telah kolaps dan dewan-dewan buruh, lah, yang sebenarnya menjalankan Hungaria. Namun situasi kekuasaan ganda macam ini tidak bisa berlangsung terus tanpa henti. Meskipun banyak buruh berpartisipasi dalam perlawanan tanpa tuntutan-tuntutan jelas atau hanya berharap melihat Nagy kembali berkuasa, keberhasilan aktivitas revolusioner mereka telah meningkatkan kepercayaan diri mereka untuk menuntut lebih banyak. Penyerbuan pasukan Rusia juga semakin menyolidkan tekad mereka. Kelas buruh Hungaria kini berada dalam posisi kuat. Seruan-seruan mulai muncul untuk membentk Dewan Nasional Pusat dan pemogokan massa pun berlanjut, dimana buruh-buruh Hungaria menolak masuk kerja sebelum pasukan Rusia sepenuhnya angkat kaki.

Dewan Revolusioner Lokal di Miskolc mengajukan tuntutan: “Pemerintah harus mengajukan pembentukan Dewan Nasional Revolusioner, berdasarkan dewan-dewan buruh…yang terdiri dari delegasi-delegasi yang dipilih secara demokratis. Sedangkan parlemen yang lama harus dibubarkan.” Namun tidak semua buruh memiliki kemajuan politik sejauh itu dalam orientasinya. Tidak ada sentimen sepenuh hati bahwasanya dewan-dewan buruh—yang merupakan instrumen-instrumen sejati kelas buruh—bisa menggantikan pemerintahan sepenuhnya. Buruh-buruh Hungaria tidak mau kembali ke rezim lama yang monolitik dan represif. Mereka juga tidak mau mengganti satu bentuk kapitalisme dengan bentuk kapitaisme lain, serta dijadikan sapi perahan oleh perusahaan-perusahaan swasta.

Bertahan-tahun penindasan dan penghisapan serta retorika penuh tipu daya yang mencoleng nama Marxisme oleh mulut kelas penguasa Hungaria telah memberikan dampak yang sangat negatif. Buruh-buruh mengalami disorientasi, terkatung-katung antara aksi spontanitas revolusioner yang telah mereka lakukan di satu sisi dan kebiasaan lama di masa lalu. Tidak ada partai revolusioner yang mampu bangkit di bawah represi mengerikan di Hungaria. Berbagai peristiwa bermunculan dan datang silih berganti dengan pesat sehingga kaum buruh tidak yakin mengenai jalan ke depan. Sedangkan Partai-partai Komunis di Barat yang selama ini mendewakan Stalin, akhirnya terjebak kebingungan, dan menerima begitu saja garis resmi Soviet tentang revolusi tersebut—bahwasanya revolusi tersebut adalah pemberontakan kontra-revolusioner pro-Barat.

Dalam semua kasus, buruh-buruh terus berjuang. November, Nagy membuat konsesi terakhirnya dan menyatakan netralitas Hungaria serta niatannya untuk meninggalkan Pakta Warsawa. Lalu pada 3 November, pemerintah mengirimkan delegasi ke Rusia, untuk mendiskusikan kondisi-kondisi penarikan mundur pasukan Soviet sepenuhnya. Hari berikutnya tank-tank Rusia dan ratusan ribu pasukan Rusia malah membanjir menyerbu Budapes. Kaum Revolusioner Hungaria melawan pembantaian kejam ini dengan gagah berani selama tiga hari berturut-turut sebelum akhirnya dikalahkan oleh mesin militer Rusia. Buruh-buruh terus mogok dan dewan-dewan buruh mencoba melakukan negosiasi. Saat ini, Nagy telah dijebloskan ke penjara dan digantikan oleh Kadar.

Dewan-dewan buruh berharap bisa memaksakan konsesi dari pemerintahan, meskipun mereka sadar mustahilnya meneruskan revolusi di hadapan kekuatan brutal Rusia. Namun akhirnya pada 11 Desember 1956, Dewan Buruh Pusat Budapes Raya akhirnya dipenjara. Tanggal 15 Desember hukuman mati dijatuhkan pada setiap orang yang “menghasut untuk mogok”. Selanjutnya pada akhir 1957 suatu dekrit dikeluarkan untuk membubarkan semua dewan buruh yang tersisa. Revolusi pada akhirnya dikalahkan namun pemerintahan Kadar tidak percaya diri untuk mempertahankan cengkeramannya hanya dengan mengandalkan kekerasan semata. Pemerintahan kadar kemudian memberikan suatu program reforma-reforma kecil berupa peningkatan upah, penundaan norma-norma produksi, dan sebagainya.

Revolusi Hungaria pada akhirnya dikalahkan oleh pasukan militer negara Rusia. Namun warisan revolusioner dari kelas buruh Hungaria yang penuh tekad dan gagah berani tetaplah hidup. Perlawanan mereka menunjukkan bahwasanya birokrasi monolitik yang mendominasi Eropa Timur bisa dilawan dari bawah dan bukanlah suatu kekuatan yang statis dan tidak bisa dikalahkan sepanjang waktu. Hungaria 1956 merupakan suatu tantangan mayor pertama bagi monolit Stalinis. Hal ini kemudian memulai tradisi perlawanan yang akan diteruskan dengan kemunculan perlawanan di Praha 1968 serta gerakan Solidarnosc di Polandia pada 1980, saat kelas buruh sekali lagi menciptakan situasi kekuasaan ganda/

Gerakan revolusioner di Eropa Timur secara tegas juga mengandung tradisi revolusi buruh di Barat. Hal demikian mematahkan mitos utama tentang rezim-rezim Stalinis. Pertama, tindakan berjuta buruh menunjukkan wajah asli tatanan masyarakat disana dan membantah bahwasanya negara-negara tersebut bukanlah negara sosialis karena pada kenyataannya bukan kelas buruh yang berkuasa. Sama halnya dengan Rusia, Eropa Timur, dan negara-negara lain yang mengaku sebagai negara “sosialis”, Hungaria 1956 sebenarnya adalah masyarakat berdasarkan perbedaan kelas dan memunculkan letupan-letupan perjuangan kelas. Pemahaman ini sangatlah penting karena mendasari agar kiri revolusioner yang sejati untuk bangkit. Kedua, revolusi Hungaria menunjukkan bahwa rezim yang paling represif pun bisa ditantang oleh perjuangan buruh dari bawah. Meskipun kuatnya militer dan ideologi Stalinisme di Hungaria pada 1956 namun logika krisis kapitalis dan perlawanan kelas buruh telah menunjukkan bahwa kemungkinan buruh merebut kekuasaan tidak pernah sirna.

*ditulis oleh Kalinda Ashton sebagai bab V dari pamflet “Workers Revolutions of The 20th Century – A Socialist Alternative Pamphlet. Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan dipublikasikan ulang melalui Bumi Rakyat, bumirakyat.wordpress.com.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: