Apa Itu WTO dan Mengapa Kita Harus Melawannya

Apa Itu WTO dan Mengapa Kita Harus Melawannya

Akhir September 2000, puluhan ribu orang mencoba memprotes pertemuan Bank Dunia dan IMF (Dana Moneter Internasional) di Praha. Protes demikian adalah tindakan yang benar untuk dilakukan. Namun apa yang mereka protes? Bank Dunia, IMF, dan WTO (World Trade Organization atau Organisasi Perdagangan Dunia)– langkahnya telah dihentikan di Seattle Desember lalu–merupakan pilar-pilar tatanan ekonomi kapitalis global. Mereka menyarakan bahwa permasalahan-permasalahan seperti kelaparan dunia, kerusakan lingkungan, dan peracunan makanan “terjadi begitu saja”. Padahal semua hal ini sebenarnya akibat perusahaan-perusahaan multinasional raksasa yang mengendalikan sumber daya-sumber daya ekonomi dunia. Tiga institusi (Bank Dunia, IMF, dan WTO) adalah para pemaksanya.

Protes WTO

Apa Itu WTO?

Mari kita lihat WTO terlebih dahulu. WTO muncul dari GATT (General Agreement on Tariffs and Trade) pada tahun 1994. Ia memandang dirinya sendiri sebagai sejenis pengadilan yang menjamin terdapat “lapangan bermain yang datar” di arena perdagangan dunia. Ia tidak lain dan tidak bukan adalah gendarme pasar bebas. Gregory Palast, dalam salah satu edisi Big Issue, memberikan kilasan apa sebenarnya kepentingan WTO. Awal tahun 2000, seorang perempuan berusia 30 tahun meninggal akibat kanker payudara di London. Maude, nama perempuan itu, bisa saja diselamatkan namun, Otoritas Kesehatan lokalnya memutuskan bahwa mereka tidak mampu membeli obat Taxol. Taxol adalah obat yang sangat mahal yang diproduksi oleh Bristol-Myers Squibb, yang menjualnya dengan mark up sebesar 900%. Perusahaan tersebut bisa menetapkan harga semahal itu karena perusahaan tersebut adalah suatu perusahaan monopoli. Bila perusahaan atau negara lain berusaha memproduksi Taxol sesuai harga yang mampu dijangkau oleh otoritas kesehataan, maka Bristol-Myers Squibb akan menuntut dan menyeret mereka ke meja hijau. Mereka bisa membawa kasusnya ke WTO di bawah klausa-klausa TRIPS (Trade in Intellectual Property Rights atau Perdagangan Hak-hak Kekayaan Intelektual). WTO menganggap bahwasanya melindungi hak-hak monopoli perusahaan-perusahaan multinasional itu lebih penting daripada menyelamatkan nyawa “rakyat kecil”.

Bagaimana bisa mereka membenarkan ini? WTO menyatakan bahwa perusahaan-perusahaan seperti Bristol-Myers Squibb telah menghabiskan sejumlah uang yang sangat besar untuk mengembangkan obat-obatan yang manjur seperti Taxol. Mengapa mereka repot-repot mengurusi kalau obat-obatan tersebut bisa “dirampas” oleh si Budi, si Toni, si ini, si itu, dan sebagainya? Karena melindungi “hak-hak kekayaan intelektual” mereka adalah satu-satunya cara untuk merangsang kemajuan. Memang hal ini menyebabkan Maude meninggal dalam penderitaan namun beginilah cara kerja dunia kapitalis.

Sesungguhnya penelitian dan pencetusan pemikiran-pemikiran cemerlang demikian tidak dilakukan oleh perusahaan-perusahaan demikian melainkan dilakukan oleh para pekerja. Namun tiap pekerja yang bergabung dengan Bristol-Myers Squibb dipaksa menandatangani kontrak yang menyerahkan hak-hak kekayaan intelektual mereka pada perusahaan-perusahaan tempat mereka bekerja. Lagipula bukanlah perusahaan obat yang menemukan Taxol. Sebenarnya Taxol ditemukan oleh para peneliti pemerintahan. Semua yang dilakukan oleh Bristol-Myers adalah mematenkan ukuran dosisnya. Dengan itu, kini dunia harus menebusnya ke Bristol-Myers kalau ingin mendapatkan obatnya. Peran WTO adalah membantu perusahaan-perusahaan demikian dengan semua kekuatan yang ada. Jadi siapa yang membunuh Maude? Pelakunya adalah WTO.

Bagi WTO dan Perusahaan-Perusahaan Demikian Laba Lebih Penting daripada Rakyat

Kisah yang dialami Maude bukanlah satu-satunya yang menimpa rakyat. Afrika Selatan kini terancam oleh wabah AIDS dengan tingkatan yang lebih serius daripada wabah apapun yang pernah dialami di Eropa sejak wabah Maut Hitam (Black Death). Usia harapan hidup diperkirakan anjlok sampai di bawah empat puluh tahun. Meskipun belum bisa menyembuhkan sepenuhnya, ada obat-obatan yang bisa membantu para penderita. Glaxo memproduksi suatu obat yang disebutAZT. Harganya tidak murah, karena Glaxo bisa me-mark up-kannya hingga 400% karena monopoli patennya. Afrika Selatan butuh banyak obat demikian, namun tidak mampu membayar harga-harga yang ditetapkan Glaxo. Argentina menawarkan diri untuk memproduksi AZT dengan harganya yang bisa dijangkau oleh Jasa Kesehatan Afrika Selatan. Namun Al Gore, Wakil Presiden Amerika saat itu sekaligus tukang pukul bagi bisnis-bisnis raksasa atau konglomerasi AS seketika memperkarakan Argentina ke WTO. Dalam hal hak-hak kekayaan intelektual, WTO adalah hakim algojo. Argentina dipaksa menyurutkan niatnya, sehingga jutaan orang akan menderita dan mati di Afrika Selatan. Terima kasih banyak, WTO!

Apakah WTO melindungi inovasi? Apa yang pasti adalah WTO tidak melindungi hajat hidup dan nyawa kita! AZT dirancang di laboratorium-laboratorium AS, dua puluh tahun sebelum virus AIDS ditengarai. Semua yang dilakukan Glaxo adalah mematenkan hasil-hasil penelitian orang lain–waktu kita masih kecil ibu kita pernah berkata bahwa nama tindakan tercela macam ini adalah pencurian. Manajemen Glaxo dengan jelas meyakini bahwa sektor publik harus menanggung ongkos-ongkos penelitian dasar namun hasil-hasilnya malah dikantongi “para pencipta kaya” dengan dalih imbalan atas entrepeneurship mereka.

Contoh paling ekstrim dari hal ini adalah Rice Tec, perusahaan Amerika yang mengklaim nasi basmati adalah hak ciptanya yang sudah dipatenkan. Klaim ini bermasalah karena beras basmati sudah ada selama ratusan tahun. Jadi beras basmati dikembangkan oleh kaum tani India sendiri. Bayangkan kemarahan kaum tani yang leluhurnya telah menemukan beras basmati ini dan mendapati bahwa berabad-abad kemudian perusahaan-perusahaan kapitalis bisa mengklaim makhluk hidup (berupa benih padi) yang  tidak mereka kembangkan sama sekali.

Aksi ANTI WTO dan ANTI IMPERIALISME AS

Pelajaran ekonomi pertama yang kita dapat di sekolah adalah mengenai kedaulatan konsumen. Hal ini adalah tentang bagaimana dalam pasar, kapitalis-kapitalis saling bersaing satu sama lain untuk memberi apa yang kita inginkan. WTO telah melangkah lebih jauh dari pelajaran pertama ini. Bila kita tidak ingin ada organisme yang direkayasa secara genetis di dalam makanan kita (dan survei membuktikan mayoritas rakyat menentang rekeyasa genetis demikian) maka WTO bertekad agar bisnis-bisnis raksasa tetap bisa mencekoki pangan yang sudah direkayasa genetis tersebut ke dalam kerongkongan kita, suka atau tidak suka. Mereka memberi jalan pada saudagar-saudagar benih dan pangan untuk mencampur produk-produk pangan yang sudah direkayasa secara genetis dengan panen yang belum direkayasa serta melarang adanya pelabelan untuk membedakan mana yang direkayasa dan mana yang tidak sehingga akibatnya konsumen tidak bisa memilih mana yang mereka ingin beli. Setelah skandal listeria, salmonella, dan BSE, WTO bertekad untuk memberi jalan pada agribisnis-agribisnis raksasa agar bisa terus meracuni kita demi kepentingan menumpuk laba. Ini bukanlah tindakan mendorong perusahaan atau menjamin lapangan main dalam perdagangan dunia. Ini adalah tindakan memaksa para buruh dan konsumen untuk saling berjejer agar bisa ditembak oleh penindasan dan penghisapan perusahaan-perusahaan multinasional. Peran inilah yang dimainkan WTO.

IMF dan Bank Dunia

IMF dan Bank Dunia, sebagaimana GATT yang ditransmutasikan menjadi WTO, merupakan badan-badan yang didirikan setelah Perang Dunia II (PD II) untuk mengatur atau meregulasi kapitalisme dunia. Meskipun perbedaan antara keduanya tidak sepenuhnya jelas, namun Bank Dunia berperan untuk pengembangan finansial jangka panjang, sedangkan IMF bertugas untuk manajemen krisis–atau sebagaimana yang disebut penulis Anthony Sampson sebagai “sheriff finansial”. Faktanya kedua instusi tersebut menjalankan agenda neo-liberal secara kejam, dengan menggunakan jeratan-jeratan hutang sebagai kapak untuk menjebol dan membuka negara-negara rapuh sehingga bisa dijarah oleh perusahaan-perusahaan multinasional. Mereka juga menjalankan peran sebagai suatu sistem asuransi bagi kaum bankir negara dunia pertama. Selama 1980an dan awal 1990an, pinjaman terhadap pemerintah negara-negara miskin dipandang sebagai suatu lisensi untuk mencetak uang. Oleh karena itu institusi-institusi finansial maju memandang bahwa sudah merupakan tugasnya untuk masuk–demi kepentingan “perusahaan”. Dengan adanya krisis Mexico tahun 1994 dan keruntuhan Asia Timur tahun 1997, ini merupakan situasi panik bagi kaum bankir. Bank Dunia kemudian mengambil kesempatan sementara IMF kemudian masuk dan menangani mismanajemen ekonomi berbagai negara yang beberapa minggu sebelumnya dijuluki sebagai keajaiban ekonomi. Akibatnya Bank Dunia telah “menasionalisasi” hutang dunia ketiga yang tidak berjalan untuk membebaskan bank-bank di negara-negara imperialis.

Baik Bank Dunia maupun IMF masuk untuk “kebijakan-kebijakan penyesuaian struktural” sebagai syarat agar negara-negara lain bisa mendapatkan kucuran hutang. Sebagai akibatnya, mereka menuntut suatu “open-house” bagi bisnis-bisnis raksasa. Faktanya, Pasal 1 Charter Bank Dunia menggariskan lima sasaran organisasi tersebut. Satu, untuk “mempromosikan investasi asing swasta,” lainnya adalah untuk “menjalankan operasi-operasinya dengan mengacu pada efek investasi internasional di atas syarat-syarat bisnis dalam wilayah-wilayang anggota”. Jelas sudah!

Apa yang diakibatkan oleh penyesuaian struktural di negara-negara termiskin? Berikut adalah neraca Afrika pada 1980an:

“Antara 1980 dan 1989 sekitar tiga perempat negara-negara Afrika menerima hutang-hutang penyesuaian struktural. Selama periode yang sama itulah rata-rata produk domestik bruto per kapita di negara-negara tersebut turun 1,1% per tahun, sementara produksi pangan per kapita juga mengalami penurunan secara terus-menerus. Nilai riil upah minimum anjlok sampai 25%, anggaran pendidikan turun dari $11 milyar ke $t ilyar dan pendaftaran anak sekolah dasar turun dari 80% di tahun 1980 menjadi 69% di tahun 1990. Jumlah orang miskin di negara-negara tersebut meningkat dari 184 juta di tahun 1985 menjadi 216 juta di tahun 1990, meningkat sebanyak 17%.

Terimakasih banyak, kawan!

“Dan Ampuni Utang Kami!”

Tahun 1999 Gordon Brown membual bahwa melalui Bank Dunia dia berhasil mendorong negara-negara kapitalis maju untuk melaksanakan suatu program pengampunan hutang yang sangat terbatas untuk segelintir negara-negara termiskin–asalkan mereka bersedia menjadi anak-anak manis yang patuh di hadapan kapitalisme dunia. $100 milyar hutang dihapuskan. Namun rencana tinggal rencana. Oxfam kemudian murka atas tidak dipenuhinya janji tersebut. Mereka mengatakan: “Bank Dunia dan jajarannya terus gagal melaksanakan mandat dan visinya terutama mengenai pengurangan beban hutang.” Memang hutang adalah beban tak berguna bagi negara-negara miskin. Ambil contoh Republik Guinea-Bissau. Ekspor utama mereka adalah jambu mete. Namun hutang negaranya lebih dari sepuluh kali total ekspornya. Demi melunasi jeratan hutang yang makin tak terkendali maka negara tersebut harus mengekspor jambu mete dua setengah kali lebih banyak dari jumlah yang saat ini bisa mereka produksi.

Dalam semua kasus, hutang-hutang Bank Dunia bukanlah solusi bagi kemiskinan dunia melainkan bagian dari permasalahan. Bank Dunia meraup keuntungan $1 milyar per tahun dari praktek meminjamkan hutang. Hal ini jelas merupakan perampasan sumber daya dari yang miskin ke yang kaya.

Apa syarat-syarat yang diharuskan oleh kebijakan-kebijakan penyesuaian struktural? Di Zambia, mereka menuntut pemotongan anggaran pembelanjaan negara serta menuntut privatisasi. Kaum orang tua sekarang harus membayar untuk menyekolahkan anak-anak mereka. Jelas banyak yang tidak mampu sehingga sistem pendidikan merosot. Selain itu akibat “pertolongan” dan “bantuan” Bank Dunia, tingkat kelahiran bayi dengan selamat, anjlok sebesar 25%.

Di Bolivia, IMF dan Bank Dunia menuntut pemerintah agar memprivatisasi air. Sistem itu dijual ke suatu konsorsium Amerika dan Inggris. Keuntungan yang dihasilkan oleh konglomerat-konglomerat yang merampok konsumen-konsumen Inggris digunakan untuk memiskinkan rakyat Bolivia. Di Kota Cochabamba, rakyat jelata bangkit menentang undang-undang air yang baru. Militer Bolivia merespon dengan menembaki lima orang demonstran sampai mati. Semua dilakukan untuk melindungi keuntungan bisnis imperialis. Sementara militer Bolivia menembaki rakyatnya sendiri, Presiden Bank Dunia menyatakan dukungannya terhadap represi demikian secara blak-blakan dan mendukung privatisasi tersebut. Mereka berkata: “Menurut pandangan kami, menutut sektor swasta dalam bisnis air bukan hanya tidak realistis namun juga menghalangi solusi untuk penyediaan air pada rakyat miskin. Itulah mengapa Bank Dunia bekerjasama dengan pemerintah untuk memobilisasi inisiatif dan sumber daya swasta.” Perkataan indah ini memang menipu karena pada kenyataannya di lapangan kepentingan perusahaan imperialis dijalankan dengan tangan besi diatas genangan darah rakyat.

Aksi ANTI WTO

Waktunya Bergerak!

Terlepas dari pemotongan-pemotongan anggaran belanja pemerintahan dan privatisasi yang terjadi, IMF dan Bank Dunia juga bersikeras untuk menghapus undang-undang dan semua peraturan yang pro serikat buruh dan melindungi kesehatan serta keamanan kerja; IMF dan WRO menuntut agar pensiun layak dan skema-skema kesejahteraan dihapuskan; mereka ingin agar setiap negara dibuka lebar pada masuknya kekuasaan perusahaan multinasional. Bukan hanya “negara dunia ketiga” yang menjadi mangsa penerapan program busuk berupa penyesuaian struktural yang memiskinkan rakyat buruh. Negara tuan rumah yang mengadakan pertemuan, yaitu Republik Ceko, juga terpaksa mengemis hutang sebesar $ 3,9 milyar. Ongkos ini harus dibayar. Sistem kesejahteraan “direformasi” sampai hampir habis sama sekali. Tunjangan-tunjangan anjlok hingga 44% sejak tahun 1997 akibat tuntutan IMF dan WTO. Jumlah itu bahkan tidak sampai setengah total tunjangan di tahun 1991.

Kaum demonstran sedunia melawan kapitalisme global ini. Sekaranglah saatnya sistem penindasan dan instrumen-instrumen pemaksanya ini, untuk dienyahkan!

Aksi Melawan WTO

* ditulis oleh Mick Brooks dan dipublikasikan marxist.com pada Rabu 4 Oktober 2000. Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan dipublikasikan kembali via Bumi Rakyat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: