2013

Refleksi Akhir Tahun 2013 - FMN

Sebagaimana yang dikatakan Karl Heinrich Marx dan Friedrich Wilhelm Engels, sejarah rakyat adalah sejarah perjuangan kelas. Sejarah perjuangan kelas tertindas melawan kelas penindas. Sejarah buruh melawan pemodal, sejarah tani melawan tuan tanah, dan sejarah demokrasi melawan tirani. Terkadang perjuangan ini berlangsung terbuka, terkadang tertutup. Namun di tahun 2013 ini kita menyaksikan kelanjutan kebangkitan massa dan perjuangan kelas di dunia semenjak percikan bunga api perlawanan yang mekar pertama kali pada tahun 2011 dan semenjak krisis imperialisme-kapitalisme pecah pada tahun 2008.

Tahun 2013 adalah tahun meletusnya perlawanan Gezi di Turki. Suatu gerakan perlawanan yang awalnya hanya ditujukan untuk menentang penggusuran taman kota menjelma menjadi gerakan menentang rezim neoliberal di Turki, rezim Thayyip Erdogan. Selain itu juga terdapat perlawanan kaum tani Catatumbo di Kolumbia (perbatasan Venezuela) yang menentang penggusuran dan perampasan tanah serta penyelenggaraan sekolah solidaritas sebagai peringatan sepuluh tahun Zapatista, gerakan kaum tani adat bersenjata di Chiapas, Mexico, yang membangun otonomi dan melawan perampasan tanah oleh rezim penguasa Mexico untuk menjalankan politik neoliberalisme demi kepentingan Imperialisme. Tahun 2013 juga jadi saksi aksi massa di Bulgaria dan Rumania menentang rezim upah murah, pemotongan anggaran publik dan anggaran sosial, serta menentang politik-politik neoliberalisme, demonstrasi massal di Sudan, pemogokan besar-besaran oleh kelas buruh di Portugal dan Korea Selatan, serta aksi massa terbesar dalam sejarah umat manusia terjadi di Mesir dalam Juli 2013 dimana tidak hanya puluhan ribu atau ratusan ribu, melainkan lebih dari lima juta massa-rakyat Mesir turun ke jalan menumbangkan rezim Muhammad Mursi yang ternyata meneruskan kebijakan upah murah rezim Mubarak yang digulingkan pada tahun 2011, serta memberangus kebebasan berpendapat dan berserikat melalui intimidasi dan represi terhadap buruh serta pemuda-mahasiswa Mesir, hingga meneruskan kebijakan neoliberalisme melalui tindakan menandatangani perjanjian jeratan hutang dengan lembaga-lembaga Imperialis seperti IMF.

Gelombang kebangkitan massa dan perjuangan kelas ini juga turut menyapu Indonesia. Perjuangan dan kebangkitan di sektor buruh dimulai sejak akhir tahun 2011 dimana pada September 2011, di ujung barat Indonesia, delapan ribu buruh Papua mengobarkan pemogokan selama tiga bulan berturut-turut dan menghadapi kerasnya intimidasi serta represi aparat yang mengakibatkan jatuh korban tewas satu orang buruh akibat luka tembakan. Sedangkan di ujung timur Indonesia, kelas buruh di Batam memobilisasi 30 ribu buruh pabrik untuk mogok demi menuntut kenaikan UMK yang juga dihadapi dengan intimidasi dan represi aparat kepolisian yang mengakibatkan tewasnya dua orang buruh. Represi dan intimidasi ini memicu aksi solidaritas dan demonstrasi-demonstrasi, baik di organisir oleh serikat buruh maupun organisasi pemuda-mahasiswa, di berbagai kota yang mengecam kebrutalan polisi.

Namun intimidasi dan represi aparat tidak menyurutkan kebangkitan massa dan perjuangan kelas buruh. Sebaliknya aksi massa, demonstrasi, dan pemogokan semakin banyak dan semakin sering terjadi di tahun 2012. Salah satu prestasi puncaknya adalah kelas buruh memainkan peran besar dalam perjuangan menolak kenaikan BBM bersama organisasi pemuda-mahasiswa selama Maret-April 2012. Kampanye perjuangan ini membuahkan kemenangan dengan dibatalkannya kenaikan BBM. Suatu kemenangan yang sayangnya tidak berhasil diulangi pada kampanye penolakan kenaikan BBM di tahun 2013. Sebabnya, di satu sisi, gerakan mahasiswa mengalami penurunan konsilidasi dan mobilisasi. Sedangkan, di sisi lain, gerakan buruh mengalami perpecahan dan terjangkiti tendensi reformisme yang semakin menguat (reformisme adalah tendensi yang memandang bahwasanya hak-hak massa-rakyat bisa dipenuhi dalam sistem penindasan, melalui perbaikan-perbaikan, konsesi-konsesi, dan bukannya penghancuran sistem penindasan secara menyeluruh).

Ini juga menunjukkan mengapa serikat-serikat buruh raksasa moderat-reformis seperti KSPSI (Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia), KSBSI (Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia), dan KSPI (Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia), yang awalnya bersatu di bawah wadah MPBI (Majelis Pekerja Buruh Indonesia)—dideklarasikan pada Mayday 2012 dengan tiga tuntutan: tolak upah murah, hapus sistem kerja kontrak dan outsourcing, serta laksanakan sistem jaminan sosial—akhirnya pecah pada tahun 2013. Perpecahan ini sekali lagi disebabkan oleh tendensi reformisme. KSPSI dan KSBSI di satu sisi lebih mengedepankan perundingan-perundingan dengan kaum majikan dan rezim pemerintah serta meredam bahkan menghalang-halangi aksi massa, demonstrasi, dan pemogokan buruh-buruh yang menjadi anggotanya. Hal ini bertentangan dengan KSPI (yang kadar tendensi reformismenya lebih rendah) yang masih mengobarkan aksi massa, demonstrasi, dan pemogokan.

Perpecahan dan persatuan adalah kenyataan dalam hidup. Selain itu tidak semua perpecahan adalah perpecahan buruk. Perpecahan yang dilandasi prinsip-prinsip perjuangan untuk memisahkan diri dari kapitulasi (penyerahan diri) dan pengkhianatan adalah perpecahan yang baik. Sebagaimana yang dinyatakan Vladimir Ilyich Ulyanov, “Persatuan itu relatif. Sedangkan perjuangan mutlak.”, persatuan itu penting namun persatuan yang mengorbankan prinsip-prinsip perjuangan jelas berbahaya. Pecahnya MPBI kemudian membuka jalan pada pembentukan formasi baru persatuan di antara organisasi buruh berupa pembentukan KNGB (Koalisi Nasional Gerakan Buruh), yang menyatukan KSPI dan FSPMI sebagai serikat buruh moderat reformis dengan serikat buruh progresif revolusioner seperti KASBI, FNPBI, FBLP, FSPOI, dan lain-lain, termasuk GSBI. KNGB inilah yang kemudian menjadi motor mogok nasional pada akhir Oktober 2013.

Sebagaimana dikatakan Lev Bronstein, sang pendiri laskar buruh-tentara merah, “menajamnya perjuangan proletar berarti menajamnya metode yang digunakan oleh kapitalis untuk memukul balik… Suatu kemalangan bagi organisasi revolusioner, suatu kemalangan bagi kaum proletar bila mereka sekali lagi tidak siap menghadapi pukulan balik ini!” Pernyataan ini sangat terbukti relevansinya. Organisasi-organisasi preman, seperti Aspelindo, Pemuda Pancasila, dan semacamnya, dikerahkan oleh kaum konglomerat untuk merepresi buruh dengan melakukan pengancaman, pemukulan, pengeroyokan, bahkan pembacokan. Sebenarnya kelas buruh, dalam hal ini serikat buruh, di sisi lain sudah banyak yang mengembangkan milisi-milisi pertahanan buruh seperti Garda Metal milik FSPMI, BARA KASBI (Barisan Merah KASBI), BAMBU PEREMPUAN (Barisan Maju Buruh Perempuan) yang berafiliasi dengan Forum Buruh Lintas Pabrik dan Sekber Buruh, Brigade SPSI, dan lainnya, yang mana saat mereka dimobilisasi, buruh bisa memukul mundur organisasi-organisasi dan pasukan preman demikian.

Represi dan intimidasi dengan menggunakan pasukan preman demikian tidak hanya menimpa kelas buruh namun juga diderita oleh kaum tani. Konflik-konflik perampasan tanah yang melibatkan perusahaan-perusahaan perkebunan, tambang-tambang, dan institusi negara seringkali menggunakan pasukan preman. Ini menunjukkan bahwa rezim saat ini tidak sekuat rezim Orde Baru. Mereka tidak leluasa mengerahkan aparatnya untuk menghantam gerakan rakyat secara terbuka. Tidak hanya secara militer namun juga secara politik, borjuasi komprador di Indonesia semakin terpecah belah ke dalam berbagai partai politik borjuis yang legitimasinya semakin merosot di mata rakyat. Naiknya Jokowi dan Basuki Tjahaya Purnama sebagai gambaran borjuasi bersih hanya memperlambat kejatuhan borjuasi komprador-kapitalis birokrat karena sikap anti mogok buruh, mencela perjuangan buruh untuk kenaikan upah, semakin menampakkan wajahnya yang sesungguhnya.

Sektor Pemuda Mahasiswa perlu bangkit kembali membangun kekuatan organisasi dan gerakannya dalam perjuangan massa. Semakin merajalelanya komersialisasi pendidikan tumbuh seiring dengan tindakan anti demokrasi di kampus baik. Ini memang secara sengaja dikondisikan agar kampus yang berjalan dalam sistem komersialisasi pendidikan bisa semakin stabil dalam mencetak calon tenaga kerja terampil demi memenuhi kebutuhan industri Imperialisme-kapitalisme. Berbagai forum internasional seperti MDGs, APEC, dan KTM 9 WTO, merupakan alat-alat bagi Imperialisme untuk tidak hanya menguasai SDA negara-negara dunia ketiga, mengeruk keuntungan dari politik upah murah dan monopoli serta perampasan tanah, namun juga memaksakan komersialisasi pendidikan di negara-negara dunia ketiga termasuk Indonesia dalam bentuk pemotongan subsidi pendidikan, liberalisasi, dan komersialisasi pendidikan. Penyelenggaraan Festival Solidaritas Pemuda dan Kemah Rakyat Sedunia yang menggalang organisasi pemuda-mahasiswa, khususnya FMN, dan Aliansi Rakyat Indonesia, dengan disokong berbagai organisasi rakyat internasional, dalam melawan Imperialisme merupakan pengalaman yang sangat berharga. Kita harus menarik pelajaran dari kemunduran gerakan mahasiswa Indonesia di tahun 2012 sembari menyusun kekuatan untuk kembali bangkit melawan penindasan bersama sektor buruh, tani, dan kaum miskin kota di tahun 2014.*

 

Pemuda Mahasiswa, Berjuang Bersama Rakyat!

Rakyat Bersatu Tak Bisa Dikalahkan!

Buruh Berkuasa Rakyat Sejahtera!

*tulisan ini merupakan bahan pendiskusian Refleksi Akhir Tahun 2013 FMN Malang pada tanggal 31 Desember 2013. Dimuat kembali di Bumi Rakyat pada 2 Januari 2014.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: