PERPLONCOAN – PENDIDIKAN PENINDASAN SISTEMATIS PENINGGALAN KOLONIAL

perploncoan - penindasan sistematis peninggalan kolonial untuk membangun budaya takut, bngkam, tunduk dan memuja senioritasy
PERPLONCOAN – PENINDASAN SISTEMATIS PENINGGALAN KOLONIAL UNTUK MEMBANGUN BUDAYA TAKUT, BUNGKAM, TUNDUK, DAN MEMUJA SENIORITAS
Penggojlokan atau perponcloan merupakan salah satu bentuk kekerasan paling tua dalam dunia pendidikan Indonesia. Muasalnya bisa ditelusuri mulai dari rezim pemerintah kolonial Hindia Belanda yang mulai menjalankan politik etis. STOVIA, Geneeskundinge Hooge School (GHS), Technische Hooge School (THS), merupakan beberapa perguruan tinggi rezim kolonial Belanda di Indonesia yang menjalankan perploncoan terhadap mahasiswa baru. Mahasiswa-mahasiswa senior (mayoritas adalah kaum Belanda totok) dengan bentakan dan teriakan rasis serta mewajibkan mahasiswa baru untuk memakai atribut yang memalukan serta melakukan permainan-permainan untuk menghina kaum pribumi.Pasca revolusi nasional dan pengakuan kemerdekaan Republik Indonesia. Tradisi perploncoan ini masih diteruskan meskipun nama institusi sudah diubah menjadi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK UI) dan Institut Teknologi Bandung. Sejak rezim demokrasi liberal dan demokrasi terpimpin, banyak organisasi/gerakan mahasiswa menentang tradisi penindasan dalam kampus ini dan menuntut agar perploncoan dihapuskan. Beberapa organisasi/gerakan mahasiswa seperti Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Centrale Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI), Gema 45 (Gerakan Mahasiswa 45) tidak hanya aktif berdemonstrasi dan menggelar mimbar massal anti perploncoan, mereka juga beberapa kali membubarkan perploncoan secara langsung.

Sayangnya perjuangan ini gagal seiring pecahnya peristiwa G30S dan jatuhnya Soekarno beserta rezim demokrasi terpimpin. Begitu Soeharto dan rezim fasis Orde Baru-nya berkuasa, tradisi perploncoan ini dikembalikan lagi. Bahkan militerisme Orde Baru yang merasuk ke segala bidang, termasuk bidang pendidikan, malah memperkokoh perploncoan di pendidikan tinggi secara militeristik.

Ignatius Mahendra menyatakan, “Bagaimana pedagogi (atau pendidikan) militer tersebut? Orang yang berpendidikan selalu dikonotasikan dengan kepatuhan dan ketertundukan, yang buta sebenarnya. Perbedaan adalah sesuatu yang terlarang, demikian juga dengan kecerdasan (kritis) ataupun kreativitas.”

Bagaimana membentuk manusia seperti itu? “Pendeknya, digunakan disiplin dan kontrol yang mengekang prajurit dalam suatu ikatan baja dalam hal apapun yang ia lakukan atau pikirkan, saat bertugas maupun tak bertugas. Tiap individu dengan kejam dibengkokan, ditarik dan dipelintir hingga tulang belakang yang terkuat pun terancam patah, dan memang pada akhirnya hanya ada dua kemungkinan: bengkok atau patah.

Rezim Orde Baru berkepentingan menyelenggarakan perploncoan untuk menanamkan budaya takut, budaya bungkam, budaya tunduk, agar mahasiswa tidak berani menghadapi penindasan, diam tidak bersuara, tidak memprotes, serta tidak melawan kesewenangan tirani penguasa. Perploncoan juga terus menerus menanamkan senioritas agar tidak tercipta kesetaraan. Mahasiswa terus menerus dibenturkan dengan mahasiswa agar tidak bisa bersatu melawan biang keladi komersialisasi pendidikan yaitu tirani penguasa.

Lantas mengapa setelah rezim fasis Orde Baru tumbang, perploncoan masih terus bertahan? Sebab hanya pucuk penguasa saja yang berganti namun sistem penindasan Imperialisme-Kapitalisme masih terus bertahan. Komersialisasi pendidikan berkepentingan mencetak buruh-buruh terampil untuk kepentingan Industri. Perploncoan dipertahankan untuk terus membentuk kepatuhan dan ketertundukan.

Perploncoan juga berakibat menguatnya sauvinisme akademik (sikap mengagung-agungkan bidang pendidikan/studi masing-masing serta menjelek-jelekkan bidang pendidikan/studi pihak lain). Bukan rahasia lagi bahwa dalam setiap perploncoan selalu ada kegiatan pawai atau arak-arakan dengan dipenuhi teriakan-teriakan slogan atau yel-yel bahkan lagu yang memuja-muja bidang studi masing-masing (bahkan beberapa secara implisit menjelekkan bidang pendidikan/studi pihak lain). Sebagai contoh Fakultas Peternakan (Fapet) di suatu perguruan tinggi di Malang pada perploncoan tahun 2008 mewajibkan gestur tangan telunjuk diacungkan ke depan atas dengan menyebut nama-nama hewan ternak serta diakhiri dengan telunjuk diarahkan ke dada dengan menyebut Fapet. Suatu ungkapan implisit yang mencap kelompok lain sebagai ternak dan diri sendiri sebagai mahasiswa. Sauvinisme akademik ini bahkan menular  ke SMA (bersamaan dengan menularnya perploncoan ke tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA)), dimana banyak guru dan murid dengan latar belakang IPA menjelekkan bidang studi IPS, dan begitu pula sebaliknya. Sauvinisme akademik ini adalah ciri khas kapitalisme yang dicangkokkan ke negara-negara dunia ketiga oleh Imperialisme, dimana pendidikan semakin dispesialisasi (digolong-golongkan) sesuai kebutuhan industri dan dalam ekonomi pasar yang memberlakukan kompetisi pasar bebas memaksa setiap orang untuk menjatuhkan satu sama lain.

Kembali ke permasalahan perploncoan di kampus, birokrat kampus seringkali mengelak dan berdalih bahwa perploncoan merupakan kegiatan wewenang mahasiswa yang tidak dicampuri birokrat. Ini adalah sikap yang bias. Karena pada kenyataannya yang ditolerir dan dipelihara birokrat kampus adalah kegiatan-kegiatan perploncoan yang menanamkan budaya takut, bungkam, tunduk, dan menjunjung tinggi senioritas sedangkan kegiatan-kegiatan yang kritis seringkali dipersulit, dihalang-halangi, dilarang, bahkan dibubarkan, dan diancam dengan cap subversif. Bukan sekali atau dua kali saja pemutaran film tentang Pembantaian 65, The Act of Killing, dan semacamnya dilarang. Bahkan Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) Universitas Brawijaya (UB) pun pernah melarang bedah buku Dosa-Dosa Nurdin Halid (bekas pimpinan PSSI) sementara di sisi lain melestarikan perploncoan serta paksaan agar rambut mahasiswa dipotong cepak, wajib pakai jaket almamater, dan name tag sebesar dada, selama satu semester, suatu kebijakan yang sebenarnya tidak ilmiah. Ini menunjukkan bahwa Sistem Pendidikan Nasional masih tidak ilmiah, tidak demokratis, serta tidak mengabdi ke rakyat. Karena itu perjuangan mahasiswa untuk mewujudkan Sistem Pendidikan Nasional yang ilmiah, demokratis, dan mengabdi pada rakyat harus menyertakan perjuangan menghapuskan perploncoan agar budaya takut, bungkam, dan tunduk bisa diubah menjadi budaya berani, budaya vokal-kritis, dan berlawan dalam perjuangan melawan penindasan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: