2014 dan Hantu-Hantu 1914

2014 dan Hantu-Hantu 1914

    Seiring dengan datangnya tahun baru, ingatan-ingatan atas Tahun Baru yang lain kembali muncul, tepatnya seabad lalu, saat fajar tahun baru 1914 menggiring jutaan rakyat ke dalam jurang mimpi buruk.

Pada tahun baru itu sedikit orang yang membayangkan apa yang ada di toko. Seratus tahun telah berlalu sejak Pertempuran Waterloo dan ingatan akan perang telah memudar—setidaknya itu yang terjadi di Inggris. Perang di Afrika Selatan hanyalah sekedar pertikaian dan berakhir dalam kemenangan. Kerajaan yang mataharinya tak pernah tenggelam nampaknya semakin terjamin supremasi dunianya.

Di seberang Channel, memang, segala sesuatunya kelihatan tak begitu sama. Ingatan-ingatan akan perang Franco-Prussia dan pendudukan Jerman atas Alsace-Lorraine masih membekas. General Staff memang mendambakan pembalasan namun jalanan Montmartre dengan kafe-kafenya penuh dengan hiruk-pikuk dan perang bukanlah sesuatu yang akan terjadi dalam waktu dekat.

Selama abad 19, kitab suci bagi kaum borjuasi adalah Liberalisme. Ekspresi politik dari keyakinan keras bahwasanya kebangkitan kapitalisme adalah jaminan kemajuan manusia. Sebagian besar negara-negara Eropa Barat telah melalui periode kemakmuran ekonomi yang nampaknya akan berlangsung selamanya. Teknologi baru—telepon, kapal uap, rel kereta telah memainkan peran yang sangat revolusioner dalam menyatukan dunia saat itu daripada Internet di masa kita.

Perdamaian dan kemakmuran dipandang sebagai suatu normalitas” “hari ini lebih baik dari kemarin dan besok lebih baik daripada hari ini”. Banyak yang percaya bahwa ekonomi Eropa sedemikian terintegrasi sehingga perang adalah suatu kemustahilan. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat merupakan bukti atas kepastian kemajuan, suatu jaminan solid superioritas Peradaban Barat. Namun pada Agustus 1914 mimpi indah tersebut berakhir dalam mimpi buruk mengerikan. Logika menjadi tidak logis. Eropa dan seluruh dunia terseret dalam tarian kematian.

Dalam satu malam segala hal terjungkir balik. Teknologi modern, yang awalnya dianggap sebagai agen potensial kemajiuan jadi diubah menjadi alat untuk memproduksi penghancuran massal dengan cara yang paling jahanam, menciptakan malapetaka tak tertandingi dalam skala yang mengerikan. Sebagai ganti perdagangan bebas, penghalang-penghalang proteksionis ditegakkan dimana-mana. Sebagai ganti Liberalisme dan demokrasi, didirikanlah militerisme, sensor, dan kediktatoran baik secara terbuka maupun tersamar. Sedikitnya sembilan juta orang kehilangan nyawanya dalam Pembantaian Besar.

Penyebab Perang
Kesimpulan yang seringkali ditarik mengungkapkan peperangan dan konflik-konflik merupakan akibat tak terhindarkan dari watak kebuasan spesies manusia (atau laki-laku, menurut mereka yang mengaku feminis). Kenyataannya, penjelasan ini tidak menjelaskan apapun. Kalau manusia memang secara alami buas mengapa mereka tidak selalu berperang? Mengapa masyarakat tidak menghancurkan dirinya sendiri?

Kenyataannya, meletusnya peperangan secara berkala merupakan suatu ekspresi tekanan-tekanan yang muncul dalam masyarakat kelas, yang bisa mencapai suatu titik kritis dimana kontradiksi-kontradiksi hanya bisa dipecahkan oleh cara-cara kekerasan. Gagasan ini sudah dijelaskan oleh Clausewitz dalam diktumnya yang terkenal: “perang hanyalah kelanjutan politik dengan cara-cara lain.” Demi menjelaskan sebab-sebab Perang Dunia I (yang akan kami sajikan dengan lebih rinci dalam artikel-artikel yang akan datang) maka diperlukan metode ilmiah analisis Marxis.

Dalam analisis akhir, perang merupakan produk kebangkitan Jerman yang terlambat yang menempuh jalan kapitalis belakangan, tertinggal dari Inggris dan Prancis. Hal ini menciptakan kontradiksi-kontradiksi baru yang tak tertanggungkan. Jerman berada dalam posisi terjepit dan tercekik oleh saingan-saingan kuatnya yang menikmati keuntungan dan keunggulan Imperium. Setelah meraih kemenangan gampang terhadap Prancis di tahun 1871, klik penguasa di Berlin mencari alasan perang yang bisa memberinya kesempatan untuk mendominasi Eropa dan merebut wilayah, pasar, serta koloni-koloni atau daerah-daerah jajahan.

Apakah hal ini berarti Jerman, lah, yang bertanggungjawab atas Perang? Gagasan bahwa salah satu pihak bisa disalahkan atas suatu perang terhadap suatu bangsa adalah gagasan yang salah dan semu, sama salahnya dengan menyalahkan seseorang atas dasar “siapa yang menembakkan duluan” Pasukan Jerman menginvasi Belgia, dan ini tidak diragukan lagi merupakan pengalaman mengerikan bagi rakyat Belgia. Namun apa yang lebih parah adalah penderitaan jutaan budak kolonial di Kongo yang dikuasai oleh “Belgia kecil yang malang”

Kaum Imperialis Prancis ingin merebut Alsace dan Lorraine yang direbut oleh Jerman pada tahun 1871. Namun mereka juga berhasrat merebut Rhineland dan menempatkan rakyat Jerman ke bawah penindasan dan penjarahan, sebagaimana yang kita lihat kemudian dalam Perjanjian Versailles. Kaum Imperialis Inggris mengobarkan suatu “perang defensif”—dengan kata lain, suatu perang untuk mempertahankan posisi istimewanya sebagai Imperialis penjarah terbesar di dunia, yang menguasai berjuta-juta rakyat India dan Afrika dengan belenggu perbudakan penjajahan. Penghitungan sinis yang sama juga berlaku bagi setiap negara penjajah, dari yang terbesar sampai yang terkecil.

Saat kita menoleh ke belakang, dengan sikap bijak, tidaklah sulit untuk memahami sebab-sebab malapetaka 1914. Terdapat banyak faktor lain, seperti konflik antara Rusia dan Austro-Hungari yang menguasai Balkan dan ambisi Tsarisme untuk merebut Konstantinopel dari tangan lumpuh Kesultanan Ottoman yang tengah sekarat. Keganasan berdarah Peperangan Balkan 1912-1913 merupakan suatu peringatan. Dan dalam beberapa kesempatan Kekuasaan-Kekuasaan Besar hampir bertubrukan bahkan sebelum tahun 1914.

Namun terlepas dari semua tanda dan peringatan, banyak orang yang yakin bahwa perang tidak akan terjadi. Inggris dan Jerman, satu sama lain, merupakan rekan perdagangan terbesar setelah AS. Jadi untuk apa memerangi satu sama lain? Bahkan kini, seratus tahun kemudian, sebagian kaum akademik menyatakan bahwa PD I tidak perlu terjadi. Karena solusi diplomatis bisa saja dicapai dan umat manusia bisa menghindari malapetaka perang dan hidup bahagia dalam perdamaian selamanya.

Seratus tahun kemudian setelah Pembantaian Besar, menjadi suatu kelaziman, tidak hanya bagi kaum akademik, tidak hanya bagi kaum pasifis sentimentil, namun juga bagi para politisi borjuis untuk menyeka lautan air mata buaya dengan alasan “sia-sianya perang”, sia-sianya jatuhnya korban jiwa, dan seterusnya, dan seterusnya. Kita harus “belajar dari sejarah”, kata mereka, sehingga tak akan terulangi lagi. Fakta bahwa tiap hari ribuan orang terus dibantai dalam peperangan nampaknya luput dari perhatian mereka. Sedikitnya lima juta nyawa telah melayang di Kongo, yang menunjukkan betapa benar Hegel saat dia menulis bahwasanya satu pelajaran yang bisa ditarik dari sejarah adalah tak seorangpun yang menarik pelajaran dari sejarah.

Kalau saja jalannya urusan-urusan dunia bisa direbut dari tangan-tangan inkompeten para politisi, bankir, jenderal, dan diserahkan pada tuan dan nyonya bijak dari universitas! Kalau saja dunia bisa dikelola oleh tangan-tangan lembut Logika! Bayangkan betapa indah nantinya! Sayangnya, seluruh alur sejarah manusia setidaknya selama sepuluh milenium terakhir membuktikan bahwasanya urusan manusia tidak pernah dikelola oleh Logika. Hal itu sudah ditunjukkan oleh Hegel, meskipun dengan prasangka-prasangka Idealisnya, sering sampai dekat dengan kebenaran, seperti saat ia menulis bahwasanya suku bunga dan bukannya Logika yang memerintah bangsa-bangsa.

Mengapa Tidak Ada Perang Dunia Lain dalam Periode Terkini
Mungkinkah menarik paralel-paralel yang berguna antara kondisi di tahun 1914 dengan hari ini? Analogi-analogi sejarah bisa berguna dalam batas-batas tertentu, namun selalu perlu menempatkan batas-batas ini secara tegas. Sejarah memang selalu berulang namun tidak persis sama.

Paralel paling esensial kini adalah kontradiksi-kontradiksi kapitalisme telah muncul sekali lagi dalam ragam yang meledak-ledak di skala dunia. Suatu periode panjang ekspansi kapitalis—yang memiliki beberapa kemiripan mengejutkan pada periode yang mengawali PD I—berakhir secara dramatis di tahun 2008. Kita kini berada dalam krisis ekonomi paling serius dalam 200 tahun sejarah kapitalisme.

Berlawanan dengan teori-teori para ekonom borjuis, globalisasi tidak menghapus kontradiksi-kontradiksi fundamental kapitalisme. Globalisasi hanya mereproduksinya ke dalam skala yang jauh lebih luas daripada sebelumnya: globalisasi kini memanifestasikan dirinya sebagai suatu krisis global kapitalisme. Sebab akar krisis ini persis sama dengan di tahun 1914: berontaknya tenaga-tenaga produktif melawan dua penghalang fundamental yang menghalangi kemajuan manusia, yaitu kepemilikan pribadi alat-alat produksi dan negara bangsa.

Kaum bekas Marxis seperti Eric Hobsbawm percaya bahwa globalisasi akan mengakhiri konflik nasional. Karl Kautsky, sang revisionis, mengatakan hal yang persis sama seratus tahun lalu. PD I menunjukkan dangkalnya teori itu. Keadaan dunia kita di tahun 2014 bahkan menunjukkan kedunguan neo-revisionisme Hobsbawm. Sedangkan karya klasik Lenin “Imperialisme: Tahapan Tertinggi Kapitalisme” semakin menunjukkan kedalamannya dengan segar dan relevan seperti saat pertama kali ditulis.

Namun ada perbedaan-perbedaan penting. Dalam dua kesempatan kaum Imperialis mencoba memecahkan kontradiksi-kontradiksi mereka melalui perang: pada tahun 1914 dan 1939. Mengapa hal ini tidak terjadi lagi? Kenyataannya, kontradiksi-kontradiksi antara kaum Imperialis begitu tajam sehingga kalau hal ini terjadi di masa lalu  pasti akan segera berujung pada perang. Pertanyaan yang harus diajukan adalah: mengapa tidak ada perang dunia lagi?

Jawabannya ada dalam perubahan perimbangan kekuatan dalam skala dunia. Buat apa Jerman menginvasi Belgia atau merebut Alsace-Lorraine kalau Jerman sudah menguasai seluruh Eropa melalui kekuatan ekonominya. Semua keputusan-keputusan penting telah diambil oleh Merkel dan Bundesbank, tanpa satupun peluru ditembakkan. Mungkin Prancis mau memulai perang kemerdekaan nasional melawan Jerman? Kita cukup mengajukan pertanyaan demikian untuk segera mengetahui absurditasnya.

Fakta yang berlaku adalah negara-negara kerdil tua dari Eropa sudah berhenti sejak lama dalam memainkan peran independen di dunia. Itulah mengapa kaum borjuasi Eropa dipaksa membentuk Uni Eropa, agar mereka bisa bersaing dengan AS, Rusia, dan Tiongkok dalam skala dunia. Namun kemunginan suatu perang antara Eropa dengan negara-negara yang disebutkan di atas sudah tersingkirkan. Terlepas dari setiap hal lainnya, Eropa kekurangan angkatan darat, angkatan laut, dan angkatan udara. Kekuatan militer Uni Eropa saat ini dipegang di bawah kendali kelas-kelas penguasa yang berbeda-beda, yang di balik tabir “persatuan” Eropa, saling berkelahi seperti kucing dalam karung untuk mempertahankan “kepentingan-kepentingan nasional” mereka.

Dari sudut padang militer, tak ada negara yang bisa menghadapi kekuatan militer raksasa AS. Namun kekuatan tersebut juga punya batas-batasnya. Terdapat kontradiksi-kontradiksi menyilaukan antara AS, Tiongkok, dan Jepang di Pasifik. Di masa lalu hal ini sudah tentu akan berujung pada perang. Namun Tiongkok bukan lagi suatu neagra lemah, terbelakang, dan semi jajahan yang bisa dengan mudah diinvasi dan ditundukkan jadi hamba jajahan. Tiongkok adalah kekuatan ekonomi dan militer yang membesar dan menunjukkan ototnya serta menegaskan kepentingan-kepentingannya.

AS sudah membakar jemarinya dengan parah di Irak dan Afghanistan. AS juga tidak mampu mengintervensi di Suriah. Bagaimana mungkin AS mempertimbangkan mau berperang dengan suatu negara seperti Tiongkok bilamana provokasi-provokasi terus-menerus dari Korea Utara saja tidak bisa dibalasnya. Pertanyaan ini sangatlah konkret.

Sebelum 1914 ilusi-ilusi kaum borjuasi juga diidap oleh para pimpinan Gerakan Buruh di Eropa. Para pimpinan Sosial Demokratis telah mencampakkan perspektif revolusi sosialis, sembari bermanis-manis bibir bicara tentang gagasan sosialisme dan perjuangan kelas serta berpura-pura radikal dan revolusioner dalam pidato-pidato 1 Mei-nya, namun pada kenyataannya memeluk erat reformisme: gagasan yang memandang bahwa secara damai, perlahan, nyaman, mereka bisa mengubah kapitalisme menjadi sosialisme pada suatu waktu kelak di masa depan.

Dalam suatu kongres internasional pasca kongres Sosial Demokrat lain—yang saat itu menyertakan Lenin, Trotsky, Rosa Luxemburg, dan Karl Liebknecht—memvoting resolusi-resolusi yang menyeru pada Internasionale untuk menentang semua upaya kaum Imperialis untuk mengobarkan perang, dan bahkan untuk mengambil keuntungan dari siatuasi tersebut untuk mengorganisir suatu perjuangan revolusioner melawan kapitalisme dan imperialisme.

Memalukannya, semua pimpinan Internasional Kedua (dengan pengecualian para pimpinan dari Rusia, Serbia, dan Irlandia) mengkhianati kelas buruh dengan mendukung kelas penguasa “mereka” dengan alasan-alasan “patriotis”. Akibatnya, jutaan buruh berseragam dipaksa menyabung nyawa dalam medan perang Flanders. Seruan “buruh sedunia, bersatulah” terdengar sebagai suatu ironi pahit karena buruh-buruh Jerman, Prancis, Rusia, dan Inggris saling menembaki dan membayoneti satu sama lain sampai mati demi kepentingan tuan-tuan mereka. Situasi ini tampaknya tak menyisakan harapan sama sekali. Namun perang imperialis berakhir dengan revolusi.

Revolusi Rusia menawarkan jalan keluar kemanusiaan dari mimpi buruk peperangan, kemiskinan, dan penderitaan. Namun absennya kepemimpinan revolusioner di skala dunia berarti bahwa kemungkinan ini tergugurkan di berbagai negeri satu demi satu. Akibatnya suatu krisis baru dan suatu perang Imperialis baru yang lebih mengerikan, yang berujung pada kematian 55 juta manusia dan hampir mengakibatkan runtuhnya peradaban manusia.

Dua Perang Dunia merupakan bukti cukup bahwa sistem kapitalis telah sepenuhnya menghabiskan potensi kemajuannya. Namun Lenin menunjukkan bahwa bilamana kapitalisme tidak digulingkan oleh kelas buruh, maka kapitalisme selalu bisa menemukan jalan keluar bahkan dari krisis ekonomi terdalam. Apa yang dilihat Lenin sebagai kemungkinan teoritis di tahun 1920 terjadi secara nyata setelah 1945. Sebagai akibat rentetan kondisi historis, sistem kapitalis memasuki periode baru pertumbuhan. Prospek revolusi sosialis, setidaknya di negara-negara kapitalis maju, tertunda.

Sebagaimana di dua dekade sebelum 1914, kaum borjuasi dan para pembelanya mabuk dengan ilusi. Saat itu pula, para pimpinan Gerakan Buruh (seperti Partai Buruh di Inggris dan SDP di Jerman) juga membeo ilusi-ilusi ini. Bahkan kini, mereka telah mencampakkan semua sikap pura-pura mereka yang seakan-akan memperjuangkan sosialisme dan kini telah sepenuh hati memeluk “pasar”. Namun kini roda telah berputar. Pada tahun 2008 buah kesuksesan berubah jadi abu di mulut mereka. Sebagaimana di tahun 1914 sejarah telah memberikan kebangkitan yang kasar.

Banya orang di Kiri bertanya mengapa, bila ada krisis sedemikian mendalam, massa tidak bangkit? Mereka yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan demikian bisa mengacu pada tahun 1914. Mengapa krisis demikian tidak seketika menghasilkan suatu gerakan revolusioner? Mengapa buruh-buruh malah berduyun-duyun ke bendera negaranya masing-masing dengan antusias? Disini logika formal dan generalisasi abstrak tidak akan memberikan jawaban. Hanya suatu pengetahuan dialektika yang bisa menjawab pertanyaan demikian.

Tidak seperti kaum Idealis yang menganggap bahwa kesadaran manusia adalah tenaga pendorong semua kemajuan, materialisme dialektika menjelaskan bahwa kesadaran manusia sebenarnya sangatlah konservatif. Laki-laki dan perempuan selalu berpegang pada sesuatu yang familier bagi mereka: tradisi, kebiasaan, dan rutinitas yang membebani pikiran dengan sangat berat. Kapitalisme menganakpinakkan kebiasaan-kebiasaan kepatuhan dan ketundukan sepanjang hidup, yang dengan mudah ditransfer dari sekolah ke pabrik dan ke barak.

Kelas penguasa punya ribuan cara dalam membentuk kesadaran: sekolah, mimbar, media massa, dan di atas segalanya yang tak kasat mata adalah kekuatan besar yang kita sebut sebagai opini publik. Massa selalu akan mengambil jalan perlawanan yang terkecil, sampai godam peristiwa-peristiwa besar mendorong mereka untuk mulai mempertanyakan nilai-nilai, moralitas, agama, dan kepercayaan yang telah membentuk pemikiran mereka sepanjang hidupnya.

Proses ini makan waktu. Tidak berlangsung dalam garis lurus, namun sangat kontradiktif. Para prajurit yang sebelumnya melambaikan bendera dan menyanyikan lagu-lagu patriotik pada bulan Agustus dan September 1914 adalah para prajurit yang sama yang menaikkan bendera merah dan menyanyikan Internasionale tiga atau empat tahun kemudian. Suatu teluk mahabesar memisahkan dua fenomena—suatu teluk yang dipenuhi dengan kengerian, kematian, dan penderitaan mahahebat. Sungguh merupakan pelajaran keras namun hal itu merupakan pelajaran yang pantas untuk dipelajari.

Bagaimana kini? Tidak ada perang dunia seperti di tahun 1914. Namun dari sudutpandang sejarah tahun 2008 akan dipandang sebagai titik balik besar. Proses pembelajaran besar telah dimulai. Apakah hal ini tampak terlalu lamban? Namun sejarah bergerak berdasarkan hukum-hukumnya sendiri dan kecepatan-kecepatannya sendiri, yang tidak bisa dipercepat oleh ketidaksabaran.

Tahun 1806, saat Hegel tengah menyelesaikan “Pelayaran Penemuannya”, Hegel melihat Napoleon menunggang kuda di sepanjang jalanan Jena dan berseru: “Aku sudah menyaksikan Semangat Dunia di atas punggung kuda!” Alkitab mengatakan: “Mereka punya mata tapi tidak bisa melihat.” Lihatlah di sekitarmu! Tidakkah kalian menemukan bukti perubahan situasi? Di jalanan Istanbul dan Athena, Sao Paolo dan Madrid, Kairo dan Lisbon, massa mulai bergerak.

Kini bisa kita kataka bahwa Semangat Dunia Baru tengah bergerak dimana-mana, bukan dalam bentuk pahlawan individual, namun dalam bentuk berjuta-juta pahlawan kolektif yang pelan namun pasti, tengah menarik kesimpulan-kesimpulan dan bergerak beraksi merebut takdir mereka kembali ke tangan mereka.

Lenin mengatakan: “kapitalisme adalah horror tanpa akhir.” Ketegangan-ketegangan berdarah yang menyebar di seluruh dunia menunjukkan bahwa Lenin benar. Kaum moralis kelas menengah menangis dan meratapi horror-horror ini namun mereka tidak punya gambaran apa penyebabnya, apalagi solusinya. Kaum pasifis, “Greens”, feminis, dan lainnya menunjuk pada gejala-gejala namun tidak pada penyebab dasarnya, yang terletak pada sistem sosial sakit yang sudah hidup melebihi peran historisnya.
Horror yang kita saksikan di hadapan kita hanyalah gejala-gejala di kulit kapitalisme yang tengah sekarang. Namun hal ini juga sekaligus konstraksi masyarakat baru yang berjuang untuk lahir. Sudah tugas kita untuk menangani konstraksi ini dan membantu kelahiran suatu tatanan masyarakat baru yang sepenuhnya manusiawi.

Seseorang pernah berkata pada Durruti, seorang revolusioner Spanyol: “Kalian akan duduk diatas reruntuhan kalau kalian menang.” Durruti kemudian menjawab: “Kami selalu hidup di tempat kumuh dengan tembok-tembok yang berlubang. Kami akan tahu bagaimana menampung diri kami sendiri untuk suatu waktu. Jangan kau lupa, kamilah yang membangun semua istana dan kota-kota ini, di Spanyol, di Amerika, dimanapun juga. Kami, para buruh, bisa membangun yang lainnya sebagai gantinya. Bahkan dengan lebih baik lagi. Kami tidak takut akan reruntuhan. Kami akan mewarisi bumi. Tak ada sedikitpun keraguan tentang itu. Borjuasi mungkin akan meledakkan dan menghancurkan dunianya sendiri sebelum mereka meninggalkan panggung sejarah. Namun kami membawa dunia baru, di sini, di hati ini. Dunia itu terus tembuh saat ini.”

London 6 Januari 2014
*diterjemahkan dari tulisan Alan Woods berjudul “2014 and The Ghosts of 1914” sebagaimana yang diterbitkan di marxist.com dan dipublikasikan dalam bahasa Indonesia via Bumi Rakyat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: