YSF: Pemuda dan Mahasiswa, Bersatu Melawan Komodifikasi Pendidikan

YSF - Pemuda dan Mahasiswa Bersatu Melawan Komodifikasi Pendidikan

Pemuda dan Mahasiswa, Bersatu Melawan Komodifikasi Pendidikan dan Perdagangan Tenaga Kerja

”Bersatu untuk merebut Hak dan Masa depan kita, berjuang untuk Pendidikan Yang Ilmiah, Demokratis Dan Mengabdi Kepada Rakyat”

Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organzation,-WTO) yang dideklarasikan tanggal 1 Januari 1995, adalah suatu badan antar pemerintah yang dibentuk sebagai satu institusi perdagangan global. WTO berfungsi sebagai mesin ekspansi dan liberalisasi perdagangan dibawah Ilusi “Perdagangan bebas (Free Trade)” dengan melakukan penghapusan atas setiap hambatan dalam kerjasama perdagangan Internasional, baik berkaitan dengan tariff maupun non-tarif seperti regulasi, infrastruktur hingga berkaitan dengan situasi politik dalam negeri setiap negara anggotanya.

WTO merupakan metamorfosis atau perkembangan baru dari organisasi perdagangan Internasional (International Trade Organization,-ITO) yang mengadopsi prinsip perjanjian umum tentang tariff dan perdagangan (General Agreement on Tariff and Trade,-GATT). Melalui konferensi PBB (UN Conference on trade and Development) di Havana, tahun 1948, ITO telah ditetapkan sebagai suatu badan khusus PBB yang mengatur kerjasama perdagangan.

Sebagai bentuk baru dari skema dagang sebelumnya (ITO), seluruh perjanjian GATT kemudian diatur didalam WTO dengan penambahan sejumlah isu pokok, seperti:

TRIPs (Perjanjian perdagangan yang terkait dengan hak kekayaan Intelektual/HAKI), perdagangan Jasa (GATS) dan, perjanjian tentang invetasi (TRIMS). Jadi, sejatinya WTO telah menjadi tiga serangkai (triplets) dari anak kembar Bretton Woods, yakni IMF dan Bank Dunia, sebagai instrument jahat bagi imperialisme untuk melakukan monopoli perdagangan dan skema penghisapan lainnya.

Sebagai lembaga perdagangan global yang mengikat secara hukum, WTO melakukan kontrol dan pengawasan atas kebijakan dan mekanisme perdagangan disetiap negera. WTO juga membentuk badan penyelesaian sengketa (Disputes Settlement Body,-DSB), dengan keleluasaan memberikan sanksi terhadap negera-negara anggotanya. Karena itu, selain Negara-negara maju seperti: AS, Jepang, UE dan, Canada yang berdominan dan memegang kontrol atas setiap perjanjian, WTO sangat berkuasa atas Negara-negara anggotanya, karena telah terikat secara legal dengan keputusan yang tidak bisa ditarik kembali.

Konferensi Tingkat Menteri ke-9 WTO dan Paket Bali (MC-9th and Bali Package)

Meskipun terus mengalami kebuntuan demi kebuntuan dalam setiap perundigannya, WTO terus dipertahankan dan berusuha dibangkitkan kembali, terutama sebagai skema liberalisasi ditengah hantaman krisis multidimensi yang semakin akut sekarang ini.

Dalam konferensi tingkat menteri ke sembilan (MC-9 WTO) yang akan diselenggarakan di Bali, 3-6 Desember mendatang, WTO telah menyiapkan paket kebijakan yang dikenal dengan paket Bali (Bali Package). Paket Bali ditujukan untuk memperkuat perjanjian-perjanjian sebelumnya, serta perjanjian baru untuk mengintensifkan peran WTO melakukan liberalisasi ekonomi dan perdagangan. Tiga isu utama tersebut, yakni: 1). Perjanjian perdagangan produk Pertanian (Agriculture), 2). Fasilitasi Perdagangan (Trade Facilitation) dan, 3). Isu-isu terkait dengan negara-negara miskin (Least Developed Countries,-LDC).

Namun, seberapa optimis-pun usulan-usulan tersebut meng-Ilusi-kan keuntungan bagi negara-negara miskin dan berkembang, kenyataannya skema-skema tersebut sudah berlansung lama menghisap rakyat. Selain paket Bali, negara-negara maju yang berdominan atas WTO, bahkan telah melakukan negosiasi atas sejumlah perjanjian dan program yang akan dijalankan paska KTM-9 mendatang. Perjanjian tersebut dikenal dengan “Post Bali Agendas”, dengan proyek utama yakni: 1). International Services Agreement (ISA), 2). Perjanjian Teknologi Informasi (ITA) dan, 3). penghapusan (nol tarif) untuk barang dan jasa lingkungan Environmental goods and Services,-EGS).

WTO dan Imperialisme mendatangkan malapetaka bagi pendidikan, pekerjaan dan pengikisan budaya nasionalis

Dari berbagai kebijakan dan kesepakatan yang ditetapkan selama ini, WTO telah membawa berbagai dampak buruk bagi rakyat diseluruh dunia. Demikian pula terhadap pemuda yang sedikitpun tak terhindarkan dari musibah tersebut, terutama persoalan akses atas pendidikan dan lapangan pekerjaan.

Dalam catatan panjang sejarah perkembangan masyarakat dunia, sejatinya pemuda telah terbukti menjadi salah satu kekuatan ampuh untuk perubahan sosial. Dengan semangat dan kehausannya atas ilmu pengetahuan yang tak pernah ada kata puas, pemuda telah membawa berbagai penemuan-penemuan dan inovasi baru untuk kemajuan umat manusia. Namun dilain sisi, dalam setiap perkembangan jaman pula, pemuda tidak pernah mendapatkan kepastian atas jeminan masa depannya. Dalam skema neoliberalisasi yang semakin Intensif, pemuda justeru telah direndahkan dan diperjual-belikan.

Secara khusus disektor pendidikan, melalui GATS-WTO kapitalisme monopoli telah menjalankan kebijakan pencabutan subsidi pendidikan sebagai programnya secara universal. Akibatnya biaya pendidikan dari tahun ke tahun semakin naik dan tidak terjangkau oleh rakyat. Pemerintah seluruh negeri anggota WTO terus berusaha meng-intensif-kan skema deregulasi, liberalisasi dan privatisasi untuk melepaskan tanggung jawabnya atas pendidikan yang berkualitas dan dapat diakses secara luas dan terbuka.

Atas nama “Otonomi palsu”, pemerintah telah menjadikan pendidikan sebagai komoditas dan menyerahkan pengelolaannya kepada pasar untuk meraup keuntungan yang berlimpah. Dengan kenyataan demikian, dampak dan kenyataan yang terjadi atas pendidikan di Indonesia telah meyebabkan terus melambungnya biaya pendidikan dan rendahnya anggaran pendidikan yang disediakan oleh negara. Selain itu, WTO telah melegitimasi kelangsungan usaha-usaha monopoli imperialisme AS atas informasi, ilmu pengetahuan dan teknologi melalui kebijakan privatisasi atas hak kekayaan Intelektual (HAKI).

Selanjutnya, dibalik skema WTO secara komprehensif, baik dalam perjanjian-perjanjian lamanya maupun skema baru yang akan kditetapkan dalam KTM 9 hingga agenda paska Bali (Post Bali Agenda), pemuda kian terancam atas jebakan sempitnya lapangan kerja, perdagangan tenaga kerja dan dan politik upah murah. Hal tersebut, relevan dengan target perdagangan jasa mencapai 90%. Selain itu, problem tersebut telah terikat dalam perjanjian fasilitasi perdagangan, intensifikasi monopoli dan ekspor teknologi.

Tugas-Tugas Perjuangan Pemuda Dan Mahasiswa

Dengan kenyataan atas berbagai problem yang ditimpakan oleh Imperialisme melalui WTO maupun skema penghisapan lainnya, maka pemuda dan mahasiswa harus bersatu dan berjuang bersama merebut hak dan masa depan kita. Bersatu mewujudkan pendidikan yang ilmiah, demokratis dan mengabdi kepada Rakyat. Pemuda dan mahasiswa juga harus bersatu dan bergandengan tangan dengan rakyat diseluruh sektor, untuk berjuang mewujudka reforma agraria sejati, mengembangkan ilmu pengetahuan dan, membangun Industri Nasional. Sehingga terciptanya syarat ketersediaan lapangan kerja yang luas, terwujudnya kesejahteraan rakyat dan kemandirian bangsa.

Dalam rangka menyikapi KTM ke-9 WTO Desember mendatang, kami mengajak kepada seluruh rakyat untuk bergabung dalam kegiatan Perkemahan Rakyat Global (People’s Global Camp,-PGC) di Bali, pada tanggal 2-6 Desember. PGC ialah satu kegiatan kampanye global yang diselenggarakan secara parallel dengan berbagai rangkaian kegiatan yang diselenggarakan oleh Aliansi Rakyat Indonesia (Indonesian People’s Alliance,-IPA).

Secara khusus bagi sektor pemuda dan mahasiswa, kami dari gabungan organisasi pemuda dan mahasiswa di Indonesia dan Internasional sebagai panitia bersama “Festival Solidaritas Pemuda (Youth Solidarity Festival,-YSF) yang diselenggarakan secara integral didalam PGC. Kami mengajak seluruh pemuda dan mahasiswa untuk bergabung dalam acara tersebut. Kegiatan ini ditujukan untuk membangun dan memperkuat persatuan dan solidaritas perjuangan, menyusun rencana aksi bersama terhadap WTO dan Imperialisme secara keseluruhan. Melalui seluruh rangkaian kegiatan kampanye tersebut, YSF menuntut:

  1. Lawan Liberalisasi pendidikan dan skema perdagangan tenaga kerja!
  2. Cabut Undang-undang pendidikan Tinggi!
  3. Cabut UKT, hentikan kenaikan biaya pendidikan!
  4. Realisasikan 20% anggaran pendidikan!
  5. Hentikan kekerasan dan represifitas didalam kampus!
  6. Wujudkan kebebasan Mimbar akademik dan demokratisasi kampus!
  7. Rebut dan pertahankan Kedaulatan Nasional!
  8. Wujudkan Reforma Agraria dan pembangunan Industri Nasional!
  9. Lawan dan bubarkan WTO!
  10. Lawan dan Hancurkan skema globalisasi imperialisme!

Bali, 17 November 2013

Komite Bersama

Youth Solidarity Festival (YSF)

Mai Uichanco

Sekretariat Internasional

L. Muh. Hasan Harry Sandy Ame

Sekretariat Nasional

Email:youthsolidarityfestival@gmail.com

*disalin dari selebaran dan materi yang dibagikan dalam Youth Solidarity Festival&People’s Global Camp di Bali 2 – 6 Desember 2013. Dimuat kembali via Bumi Rakyat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: