Rumusan Perspektif Revolusi Dunia 2014 bagian 1

Rumusan Perspektif Revolusi Dunia 2014 bagian 1

Kami mulai hari ini dengan publikasi analisis IMT mengenai situasi dunia. Berikut merupakan dokumen rumusan yang jadi landasan diskusi dalam Tendensi dan akan divoting dengan beberapa kemungkinan amandemen pada kongres dunia IMT tahun ini.

Marxisme memiliki pandangan jauh terhadap sejarah. Terdapat beberapa momen dalam sejarah yang merupakan titik-titik balik menentukan. Momen-momen tersebut adalah 1789, 1917, 1929. Pada saat-saat tersebut seluruh proses mengalami percepatan, dan proses-proses yang tampaknya tetap sepanjang waktu berubah jadi kebalikannya. Kita harus menambahkan tahun 2008 ke dalam daftar titik balik bersejarah besar ini. Periode baru yang dibuka dengan krisis 2008 menemukan refleksinya dalam suatu intensifikasi perjuangan kelas dan dalam hubungan-hubungan antar negara, oleh peperangan dan konflik-konflik internasional.

Dialektika berurusan dengan proses-proses dalam perkembangannya melalui kontradiksi-kontradiksi. Metode dialektis membuat kita bisa melihat melampaui (fakta-fakta) yang ada dan mengobservasi proses-proses mendalam yang ada di bawah permukaan. Sistem kapitalis secara historis memproduksi dan menghancurkan keseimbangan internalnya. Hal ini dimanifestasikan dalam interval-interval dalam pecahnya krisis-krisis. Dalam bidang ekonomi hal ini diekspresikan dalam pergantian antara boom (booming kapitalisme) dan slump (krisis kapitalisme), yang merupakan ciri fundamental sistem kapitalis selama 200 tahun terakhir. Periode-periode kemakmuran dan full employment (jaminan lapangan pekerjaan sepenuhnya) disusul oleh periode-periode krisis dimana investasi anjlok, pabrik-pabrik ditutup, pengangguran melambung tinggi, dan tenaga-tenaga produktif macet.

Marx menjelaskan bahwa sebab fundamental semua krisis kapitalis adalah overproduksi, atau, dalam jargon kaum ekonom modern, kapasitas ekses (yang merupakan akibat overproduksi dari alat-alat produksi). Fakta bahwasanya masyarakat dijerumuskan ke dalam krisis karena produksi terlalu banyak adalah suatu ciri kapitalisme yang tidak ada dalam masyarakat-masyarakat sebelumnya. Hal ini merupakan kontradiksi fundamental kapitalisme, yang tidak bisa dipecahkan dalam batasan-batasan hak milik pribadi atas alat-alat produksi serta negara bangsa. Apa yang tampaknya sebagai suatu periode panjang—kira-kira sepanjang tiga dekade, sudah terfalsifikasi (terbukti salah) oleh sejarah.

Ambruknya Stalinisme merupakan suatu titik balik penting. Dari sudut pandang psikologis hal ini memberikan kaum borjuasi dan para pembela ideologisnya suatu perpanjangan sewa hidup. Sedangkan di sisi lain hal ini semakin mendorong Sosial Demokrasi menyeberang ke kubu kapitalisme, menciptakan ilusi-ilusi baru dalam “ekonomi pasar bebas”. Hal ini memasang segel akhir pada bekas partai-partai Stalinis, yang mencampakkan semua kepura-puraannya dan dalih palsunya untuk memperjuangkan sosialisme serta menjadi cerminan pucat Sosial Demokrasi. Proses yang sama berujung pada keambrukan yang nyaris nyata dari reformisme kiri sebagai suatu tendensi pasti dalam gerakan buruh.

Selama boom terakhir, kapitalisme telah melampaui batasan-batasan alaminya melalui ekspansi kredit yang tak ada tandingan serta intensifikasi divisi kerja di tingkat dunia melalui apa yang disebut sebagai globalisasi. Pertumbuhan perdagangan dunia mendorong sistem naik di apa yang tampak pada awalnya sebagai spiral pertumbuhan tanpa akhir. Ekspansi kredit secara temporer meningkatkan permintaan. Dalam kasus Inggris, ukuran kredit swasta, sebagai suatu proporsi PDB, telah berlipat sampai 200% dalam 50 tahun terakhir. AS dan negara-negara lainnya semua menempuh jalan yang sama.

Matahari bersinar, pasar-pasar mengalami boom dan semua orang bahagia. Segala sesuatunya tampak seperti hal yang terbaik dari terbaik di semua dunia kapitalis. Kemudian datanglah krisis 2008. Dengan kolapsnya Lehman Brothers, mereka sangat dekat pada suatu malapetaka dengan skala 1929—atau bahkan bisa jadi lebih parah. Mereka hanya diselamatkan oleh suntikan uang publik secara massif. Seluruh beban hutang yang diakumulasi oleh bank-bank swasta diletakkan ke pundak para pembayar pajak. Negara—yang mana kaum ekonom bersikeras tidak punya peran untuk dimainkan dalam ekonomi—harus menopang semua bangunan “ekonomi pasar bebas” yang kini tengah ambruk.

Krisis Berlanjut

Semenjak 2008, semua faktor yang mendorong sistem naik telah berkombinasi menjatuhkannya. Peningkatan massif dalam kredit telah menjadi tumpukan hutang yang menggunung sangat tinggi, suatu beban besar terhadap konsumsi, yang menyeret ekonomi dengan semua bobotnya.

Sementara pers dan para politisi bicara tentang pemulihan, para pakar strategi kapital terperosok dalam pesimisme paling gelap. Sementara kaum ekonom yang lebih punya pandangan jauh ke depan malah tidak bicara tentang pemulihan melainkan bahaya krisis yang baru dan bahkan lebih parah. “Pemulihan” benar-benar hanya rekaan untuk memberi kenyamanan dan dibuat-buat untuk mengendorkan saraf para investor yang tegang dan memulihkan “kepercayaan”.

Sejauh mustahil membicarakannya, pemulihan parsial di AS adalah pemulihan paling lemah dari krisis dalam sejarah. Normalnya setelah suatu krisis, ekonomi cenderung mengalami rebound secara kuat di atas basis investasi produktif, yang merupakan urat nadi sistem kapitalis. Namun ini tidak terjadi kini. Menurut IMF, ekonomi dunia mengalami pertumbuhan hanya sebesar 2,9% yang secara kasar hanya setengah dari tingkat sebelum krisis.

Watak irasional kapitalisme, terperangkap dalam kontradiksi-kontradiksi tak terpecahkan telah memberikan karakter yang lebih tajam, lebih menyakitkan, dan lebih menghancurkan melalui globalisasi. “Kedaulatan nasional” telah menjadi kata kosong, karena setiap pemerintahan dipaksa tunduk pada pasar dunia.

Spekulasi berkembang meskipun semua bicara tentang regulasi. Sejumlah besar uang mengalir tumpah ruah di seluruh dunia, menambah besar bahaya keambrukan ekonomi yang tak tertandingi.Pasar derivatif global, yang menumpuk hingga $59 triliun pada tahun 2008, telah naik hingga $67 triliun pada tahun 2012. Hal ini merupakan suatu langkah kacau spekulatif tak terkendali yang mencengkeram borjuasi di masa kita. Interkoneksi pasar derivatif yang saling silang sengkarut, yang tampaknya tak seorang pun benar-benar paham, telah memperkenalkan resiko-resiko baru yang kompleks.

Kerisauan borjuasi tercermin dalam naik turunnya pasar. Satu insiden kecil saja bisa mengakibatkan kepanikan: tekanan-tekanan politik di Portugal; pergolakan sosial di Mesir; ketidakpastian ekonomi Tiongkok; kemungkinan tindakan militer di Timur Tengah telah mengakibatkan kenaikan tajam harga-harga minyak; setiap hal ini bisa menyebakan kepanikan yang dapat menjerumuskan ekonomi dunia kembali ke resesi dalam. Hasil-hasil dari permainan hutang pemerintah kurang lebih memainkan perang yang sama seperti diagram di bawah kasur rumah sakit yang mengindikasikan naik turunnya demam. Melampaui berbagai batasan, peningkatan demam demikian akan mengancam pasien dengan resiko kematian.

Urat Nadi Kapitalisme

Permasalahan paling serius adalah kurangnya investasi produk. Di AS, investasi swasta tetap berada di bawah long term share of national output, sementara investasi publik mencapai puncaknya dengan stimulus di tahun 2010 serta terus anjlok sejak saat itu. Kaum kapitalis tidak berinvestasi dalam bentuk aktivitas produktif yang akan berujung pada tindakan mempekerjakan buruh-buruh Amerika dalam jumlah yang cukup untuk membuat ekonomi bisa berjalan. Alasannya adalah tidak ada pasar untuk barang-barang mereka; dengan kata lain, tidak ada “effective demand” atau “permintaan efektif”.

Prospek masa depan ekonomi sedang suram dan penuh ketidakpastian. Tak ada seorang pun yang ingin mengeluarkan uang atau melakukan investasi karena mereka tidak bisa memprediksikan masa depan. Jumlah pekerjaan meningkat di tahun 2013 namun pekerjaan pabrik terus menurun. Prakiraan awal bahwasanya pemulihan AS akan diikuti oleh “rebound” atau pantulan telah terbukti salah sepenuhnya. Suatu pemulihan yang sehat dan dapat dipertahankan harus berdasarkan investasi produktif, bukan membolak-balik banyak burger di McDonald’s.

Biaya investasi sebenarnya jauh lebih rendah sekarang dibandingkan di tahun 2008. Namun investasi bisnis di AS masih berjalan hanya sedikit di atas tingkatan tahun 2008. Suatu survei terkini mengenai 40 perusahaan AS yang berdagang secara publik tercatat bahwa kira-kira separuhnya berniat untuk memotong perbelanjaan mereka selama 2013. Buat apa membangun pabrik-pabrik baru dan berinvestasi dalam mesin-mesin serta komputer-komputer baru yang membutuhkan banyak biaya kalau hal-hal itu tidak bisa memanfaatkan kapasitas produktif yang telah dimiliki?

Di Inggris, hanya 15% total aliran finansial yang benar-benar masuk investasi. Sisanya digunakan untuk mendukung aset-aset korporat yang ada, real estate, atau keuangan personal yang tidak aman. Alih-alih menginvestasikan uang untuk pabrik-pabrik dan mesin-mesin baru, perusahaan-perusahaan besar meminjam sejumlah besar uang dengan tingkat bunga yang tak berarti demi membeli kembali saham mereka. Sembilan bulan pertama di tahun 2013 saja, sebanyak $308 milyar dihabiskan untuk tujuan ini di AS.

Dengan demikian permasalahannya bukanlah kekurangan likuiditas. Di AS, bisnis-bisnis berkelimpahan dengan uang tunai namun tidak diinvestasikan dalam aktivitas produktif. Dalam empat tahun terakhir sejumlah besar uang digelontorkan ke dalam ekonomi, khususnya ke perbankan. Hasilnya adalah meningkatnya hutang publik hingga tingkatan-tingkatan yang membahayakan, tanpa memproduksi pemulihan ekonomi apapun. Namun perkiraan Moody pada awal 2013 (dilaporkan oleh Forbes di Maret 2013) menyatakan bahwa sebanyak $1,45 triliun disembunyikan oleh perusahaan-perusahaan non finansial AS. Peningkatan selama tahun 2012 sendiri (termasukkan di total) sebesar $130 milyar. Ini bukanlah suatu fenomena baru. Pada akhir 1920an, terdapat akumulasi massif uang yang tidak tersalurkan di ekonomi—tepat sebelum krisis pecah.

Kaum ekonom borjus punya keengganan untuk mengucapkan kata “overproduksi” (anehnya, beberapa ekonom yang mengaku Marxis juga mengidap penyakit yang sama). Namun dari suatu sudut pandang Marxis akar penyebab krisis sangatlah jelas. Nilai lebih diperas dari proses produksi, namun ini tidak menghabiskan proses menghasilkan uang. Kemampuan kapitalis untuk mewujudkan pemerasan nilai lebih dari tenaga kerja buruh sepenuhnya bergantung pada kemampuannya untuk menjual komoditas-komoditas di pasar. Namun kemungkinan ini dibatasi oleh tingkat permintaan efektif di masyarakat, dengan kata lain, kemampuan untuk membayar.

Dorongan para kapitalis untuk memproduksi demi mendapatkan keuntungan memang nyaris tak terbatas, namun kemampuannya untuk mendapatkan suatu pasar bagi produksinya punya batasan-batasan yang sangat jelas. Ekonomi dunia secara berbahaya bergantung pada AS. Pada kenyataannya, seluruh dunia kini bergantung pada konsumsi AS. Namun konsumsi di AS hampir tidak merupakan kondisi ideal untuk dijalankan sebagai mesin pertumbuhan dunia. Pendapatan median telah jatuh sebanyak 5,4% semenjak pemulihan AS dimulai. Pengangguran berkisar pada angka 7 persen. Konsumsi terhitung sekitar 70 persen dari PDB AS dan sekitar 16 persen permintaan global. Para eksportir dimanapun dengan demikian berharap bahwa konsumen AS akan selamat.

Namun hal ini menciptakan kontradiksi-kontradiksi baru. Tahun lalu, impor yang tiba-tiba melonjak mendorong perdagangan AS semakin defisit sebanyak 12 persen hingga $45 milyar per bulan, yang merupakan lonjakan terbesar dalam lima tahun. Impor-impor dari Tiongkok terhitung sebanyak hampir dua pertiganya. Bila hal ini terus berlanjut maka defisit AS-Tiongkok akan melampaui $300 Milyar. Sedangkan di sisi lain, ekspor AS jatuh. Target Obama untuk menggandakan ekspor dalam lima tahun tak lebih dari angan-angan saja. Pemulihan AS mungkin berjalan terseok-seok, menyeret ekonomi global untuk ikut jatuh bersamanya. Hal ini mencerminkan dongeng lama Rusia tentang kisah suatu gubuk yang ditopang oleh kaki-kaki ayam.

Quantitative Easings

Apa yang disebut pemulihan ini sepenuhnya berdasarkan suntikan sejumlah besar kapital fiktif ke dalam ekonomi AS dan negara-negara lainnya. Seperti pasien yang berada dalam kondisi hampir mati, kapitalisme dijaga agar tetap hidup dengan cara transfusi darah terus menerus dengan menggunakan uang publik. Bank-Bank Sentral didorong untuk terus bergantung pada quantitative easing—atau dengan bahasa awam—mencetak uang. QE dan suku bunga nol telah gagal memproduksi hasil-hasil yang serius dan jelas mengakibatkan inflasi.

Perkembangan ekonomi AS yang relatif diakibatkan oleh tidak adanya langkah kecil untuk merenggangkan kebijakan-kebijakan moneter yang dijalankan oleh Federal Reserve. Sejak 2009, Federal Reserve telah membeli aset-aset finansial—surat-surat obligasi US Treasury dan beberapa jenis hutang korporat. Melalui suatu ekspansi basis moneter, mereka membuat suku bunga rendah, yang digunakan untuk menopang bisnis-bisnis dan rumah tangga-rumah tangga yang berhutang. Hal ini merupakan faktor besar dalam apa yang disebut sebagai pemulihan, serta hal ini menopang pasar-pasar finansial seperti tongkat kruk yang menopang seorang manusia tanpa kaki.

Sistem kapitalis berdiri di atas dasar ekonomi yang kacau. Dalam kerakusan mereka untuk mengeruk laba dengan cepat melalui spekulasi kaum borjuis hanya berhasil menciptakan inflasi raksasa dari harga aset dalam dua puluh tahun sampai 2008. Hal inilah yang menimbulkan kebijakan Federal Reserve untuk menahan suku bunga. Kebijakan gila yang sama juga tengah dijalankan sebagai upaya putus asa untuk membengkakkan gelembung. Nampaknya mereka lupa bahwa kebijakan ini pula yang membawa pada keambrukan. Hal ini menunjukkan bahwa sepertinya kaum borjuasi sudah kehilangan semua akal sehatnya. Namun seperti yang Lenin katakan: “Seseorang yang berada di tepi jurang tidak bisa berpikir secara logis.”

Program Quantitative Easing dari Federal Reserve berjumlah hingga $85 milyar per bulan. Inggris, Zona Eropa, dan khususnya Jepang, semuanya dengan patuh meniru Bernanke uang menjanjikan uang mudah dalam jangka panjang. Secara paradoks, ini semua terjadi saat dia berupaya mundur dari kebijakannya. Bernanke dengan demikian mendapati dirinya berada dalam suatu keseimbangan yang rawan. Ia mencoba memberi sinyal awal berakhirnya suku bunga nol tanpa memicu kepanikan.

Mereka yang terlibat dalam aktivitas ini sepenuhnya sadar bahwa mereka tengah melakukan suatu eksperimen berbahaya. Mereka sudah mengetahuinya sejak lama. Fred Neumann, ekonom utama Asia di HSBC menjelaskan bahwa QE “memberi kita waktu namun tidak memecahkan permasalahan apapun secara mendasar.” (FT, 20/9/13) “Semakin lama hal itu berlangsung dalam proses ini maka semakin buruk akibatnya bagi kemampuan kita untuk keluar dari slump (krisis)”, kata Mike Crapo, seorang Republiken di komite perbankan Senat.

Terlebih pengalaman menunjukkan bahwa kebijakan ini merupakan sasaran law of diminishing return: semakin besar kuantitas uang yang dituntut untuk didapatkan semakin sedikit hasilnya. Gillian Tett, kepala kolumnis Financial Times menyatakan: “satu cara untuk menafsirkan putaran minggu ini di sekitar QE adalah bahwasanya para pembuat kebijakan terus menyokong suatu sistem finansial yang ganjil dan tidak stabil”. Kita berada “di suatu dunia dimana harga-harga aset dan roh-roh binatang sekarang bergantung pada uang murah”.

Financial Times mengumumkan putusannya mengenai QE di AS pada suatu editorial (21/9/2013):

“Meskipun QE telah menaikkan semangat, dampak-dampaknya lebih adem ayem daripada yang diharapkan sebagian orang. Meskipun biaya pendanaan rendah, investasi-investasi ada di doldrums. Pemerintah-pemerintah terus memotong defisit-defisit, rumah tangga-rumah tangga membayar kembali hutangnya, dan perusahaan-perusahaan terus menumpuk uang. Konsekuensinya, uangnya yang diciptakan oleh The Fed tidak digunakan untuk mendanai aktivitas seperti membangun rumah atau investasi kapital, yang akan berkontribusi secara langsung pada pertumbuhan. Sebaliknya hal ini menigkatkan nilai aset-aset yang ada.”

Agensi-agensi pendanaan perumahan Fannie Mae dan Freddie Mac tetap seperti sebelumnya, menggenjot kredit dalam pasar hipotek (kredit yang diberikan atas dasar jaminan berupa benda tidak bergerak). Namun sebelum krisis mereka menguasai 60% pasar hipotek di AS, kini mereka menguasai 90%. Hal macam ini yang kemudian berakhir dalam krisis 2008. Sadar akan bahaya yang ada, Bernanke, dengan hati-hati mengumumkan Juni lalu bahwa The Fed mungkin masih akan menghentikan QE dalam beberapa tahap. Kaum Keynesian yang dipimpin oleh Paul Krugman, ketakutan. Mereka memperingatkan bahwa hal tersebut merupakan langkah prematur yang akan mengirimkan sinyal keliru pada perekonomian dunia, bahwa bank-bank sentral akan melakukan pengetatan sebelum pemulihan sektor swasta mencapai velositas. Inilah yang terjadi pada 1937-1938.

Semua ini tiada berguna. Borjuasi jadi bergantung pada QE dan kredit murah seperti pengguna narkoba yang ketagihan dan butuh dosis rutin untuk terus hidup. Pengumuman tersebut mengakibatkan kepanikan seketika di pasar-pasar finansial, transaksi lindung nilai mendanai penjualan-penjualan surat hutang obligasi, menyebabkan kejatuhan besar dalam harga-harganya. Biaya-biaya pinjam (atau “yield”) melambung tinggi. Pada pertengahan September The Fed terpaksa mundur. Pasar-pasar naik lagi saat mendengar keputusan The Fed untuk meninggalkan “ajang baku hantam” QE3 di tempat, meskipun Janet Yellen, kepala The Fed yang baru, kini telah mengumumkan rencana-rencana untuk meruncingkannya sampai habis pada akhir 2014.

Krisis di AS

Pada tahun 2009, dua minggu setelah memasuki Gedung Putih, Obama menyampaikan suatu pidato dimana dia berkata: “Kita tidak bisa membangun kembali ekonomi ini di atas tumpukan pasir yang sama. Kita harus membangun rumah kita di atas bebatuan. Kita harus meletakkan pondasi baru untuk pertumbuhan dan kemakmuran–suatu pondasi yang akan menggerakkan kita dari suatu era pinjam dan pakai ke era dimana kita menabung dan berinvestasi; dimana kita sedikit mengonsumsi di dalam negeri dan mengirim lebih banyak ekspor ke luar negeri”.

Empat tahun kemudian, AS masih membangun pondasi-pondasi di atas pasir, menyiapkan landasan bagi suatu krisis di masa depan. Hal ini tercermin dalam angka-angka mengagetkan dari hutang-hutang negara yang terakumulasi. Sifat rawan situasi ini ditunjukkan oleh penutupan pemerintahan AS, yang mengancam menyeret AS dan ekonomi dunia jatuh bersama-sama. Hutang pemerintah AS mencapai angka mengejutkan sebesar $16,7 triliun, yang merupakan batas yang disetujui oleh Kongres.

Kekerasan krisis ini ditunjukkan oleh perpecahan terbuka dalam kelas penguasa AS dan perwakilan-perwakilan politiknya. Selama periode booming kapitalisme, dua partai kapital, secara umum mewakili dua sayap yang berbeda dari sistem kapitalisme AS yang sama, dulunya bisa melakukan tawar menawar dan kompromi dalam kebanyakan isu. Sekarang saat lemari makan sudah kosong, tatanan politik yang lapuk menjadi penghalang sepenuhnya bagi perkembangan masyarakat ke depan serta sistem kapitalis, dengan konsekuensi-konsekuensi celaka.

Kebutuhan untuk meningkatkan batas hutang AS membawa perpecahan ini pada suatu titik kritis. Kegagalan untuk melakukannya akan bermakna mendorong AS jadi gagal bayar. Hal ini diperkirakan akan memicu kejatuhan PDB sebesar 6,8 persen dan lima juta pekerjaan hilang dalam OECD. Namun Kaum Republiken “Tea Party” sayap kanan di Kongres, terdorong oleh kebencian mereka terhadap Obama, Obamacare, dan obsesi sempit mereka dengan pengurangan defisit, cukup siap untuk untuk menyeret AS dan ekonomi dunia ke dalam kehancuran.

Kaum Keynesian menunjukkan bahwa mengurangi standar-standar hidup di tengah suatu resesi hanya akan memperdalam dan memperpanjang slump. Sejauh ini, hal itu benar. Namum kaum monetaris juga sepenuhnya tepat dalam menunjukkan bahwa kebijakan-kebijakan pendanaan defisit Keynesian merupakan resep inflasi dan akan sepenuhnya menyebabkan situasi buruk makin memburuk.

Dalam suatu ekonomi kapitalis terdapat sedikit tuas untuk menarik investasi swasta saat suku bunga-suku bunga mendekati nol dan terdapat defisit publik yang massif. Merupakan suatu ironi bahwa kaum ekonom seperti Jeff Sachs–orang yang melepaskan neoliberalimse ke Eropa Timur—kini menyerukan versi global dari New Deal. Ini merupakan suatu cerminan keputusasaan kaum borjuasi, yang merasakannya dalam suatu impasse. Kelas penguasa kini terbelah atas tindakan apa yang dilakukan untuk mengatasi hutang massif yang bergantung di atas ekonomi AS seperti pedang Damocles.

Penutupan pemerintahan AS memicu kegelisahan di lingkaran-lingkaran borjuis internasional. Jim Yong Kim, Kepala Bank Dunia, menyebutnya sebagai “suatu momen yang sangat berbahaya…tiadanya tindakan bisa mengakibatkan naiknya suku bunga, kepercayaan jatuh, dan pertumbuhan melambat”. Christine Lagarde, kepala IMF, bahkan melontarkan peringatan yang lebih jelas saat dia mengatakan bahwa kebuntuan di Kongres AS mengancam memiringkan dunia ke dalam resesi baru. Dolar mulai longsor menimpa negara-negara lain seiring para investor kehilangan kepercayaan.

Kebijakan pembeslahan yang gila telah mengakibatkan pemotongan-pemotongan investasi dalam penelitian ilmiah, pendidikan, dan infrastruktur, serta secara aktif mengurangi hal-hal yang paling dibutuhkan Amerika, lebih ditujukan untuk mencapai suatu redusi minimal terkait defisit anggaran. Kaum kanan republiken menuntut Obama mencampakkan reforma-reforma kesehatan yang remeh temeh. Kebuntuan di Kongres merupakan cerminan perpecahan di antara kelas penguasa yang untuk sementara ini cuma ditambal tapi tidak diselesaikan.

Seksi lain dari ekonom borjuis kini bicara menuntut moderasi atau pencampakkan pengetatan anggaran, perlindungan terhadap kaum miskin, peningkatan keahlian-keahlian, pemfokusan pada aliran investasi terhadap energi hijau, dan lain-lain. Haql ini diniatkan untuk mendorong permintaan oleh konsumsi yang meningkat. Namun proposal-proposal demikian dengan seketika berbenturan dengan perlawanan sengit dari para bos, kaum majikan, kaum Republiken, dan kaum monetaris.

Hal ini merupakan kebijakan yang sangat beresiko, dimana beberapa ekonom telah membandingkan situasinya dengan situasi yang dihadapi Roosevelt pada tahun 1938, saat Kongres memaksanya untuk mengekang stimulus, mendorong suatu tren penurunan baru. Pada kenyataannya, apa yang mengakhiri Depresi Hebat bukanlah kebijakan-kebijakan New Deal Roosevelt  melankan Perang Dunia II. Namun pilihan ini tidak lagi mungkin saat ini dimana Presiden Amerika bahkan tidak bisa memerintahkan serbuan pengeboman terhadap Suriah.

Dalam pidato tahun 2009, Obama memilih tidak menyinggung apa yang terhadi dengan rumah yang dibangun di atas pasir: “Dan hujan pun turun, banjir datang, serta angin menderu-deru ke rumah tersebut, rumah itu pun ambruk dengan keras.”

*diterjemahkan dari “Perspectives for World Revolution 2014 (Draft document) – Part one” sebagaimana ditulis oleh International Marxist Tendency dan dipublikasikan pada 29 Januari 2014.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: