Rumusan Perspektif Revolusi Dunia 2014 bagian 3

Rumusan Perspektif Revolusi Dunia 2014 bagian 3

Rumusan Perspektif Revolusi Dunia 2014 bagian 3

Krisis BRICs (Brazil, Rusia, India, Cina) secara organis terhubung dengan perlambatan ekonomi di Tiongkok. Kebangkitan Tiongkok, yang dipandang oleh beberapa pihak–bahkan beberapa pihak yang mengaku “Marxis”—sebagai suatu jaminan masa depan kapitalisme dunia, hanya mempertajam semua kontradiksi. Selama suatu periode, pertumbuhan ekonomi Tiongkok yang meledak-ledak menyediakan oksigen bagi kapitalisme dunia. Kini keuntungan raksasa ini berbalik menjadi permasalahan raksasa. Investasi massif di industri Tiongkok bertujuan untuk mengekspresikan diri dalam wujud komoditas-komoditas murah secara massal, yang harus menemukan pasar diluar Tiongkok. Bagi kaum manufaktur global, banji ekspor barang murah dari Tiongkok selama dekade lalu telah mempercepat krisis overproduksi.

BRICs

Semenjak akhir Perang Dunia II, tenaga pendorong penting bagi ekonomi dunia adalah pertumbuhan dalam perdagangan dunia. Meskipun demikian UNCTAD yang merupakan badan PBB kini memprediksikan bahwa perdagangan dunia tetap mengalami kelesuan selama bertahun-tahun, dan hal ini akan menimbulkan dampak-dampak mendalam terhadap ekonomi-ekonomi yang tengah bangkit yang sepenuhnya bergantung pada ekspor.

Harapan-harapan yang dipercepat mendambakan bahwa Asia bisa berperan sebagai tenaga pendorong ekonomi dunia yang mengalami tabrakan. Pertumbuhan Tiongkok tengah melambat dan India malah mengalami kejatuhan pertumbuhan dengan lebih cepat. Ekonomi Eropa tetap macet dan prospek-prospek Jepang sudah kabur. Pemerintahan Jepang telah berupaya untuk membangkitkan ekonomi yang stagnan dengan memompa uang lebih banyak. Namun kebijakan ini sepenuhnya tidak sehat. Hutang pemerintahan Jepang telah menggunung hingga 250% PDB. BRICS semuanya berada dalam posisi yang sama dan bahkan prediksi-prediksi IMF terhadap ekonomi Asia Tenggara telah disusutkan dan diturunkan secara tajam. Kini IMF bicara tentang “munculnya penurunan dan perlambatan struktural” di ekonomi-ekonomi yang bangkit.

Pertumbuhan di negara-negara yang disebut-sebut sebagai pasar-pasar yang bangkit kini mengalami perlambatan. Hal ini tidak sulit untuk dipahami. Jika Eropa dan AS tidak melakukan konsumsi, Tiongkok tidak bisa berproduksi. Jika Tiongkok tidak bisa berproduksi maka negara-negara seperti Brazil, Argentina, dan Australia tidak mampu mengekspor komoditas-komoditasnya.

Uang spekulatif yang mengalir ke dalam BRICs selama periode terakhir kini mengalir keluar dan menyebabkan penurunan drastis nilai mata uang mereka. Rupee India, Rupiah Indonesia, Peso Argentina, Real Brazil, dan Rand Afrika Selatan semuanya tercatat mengalami penurunan tajam. Menteri Keuangan Nigeria memperingatkan bahwa akhir dari Quantitative Easing akan menimbulkan ketakutan pada pasar-pasar yang bangkit dan menaikkan ongkos-ongkos pinjaman mereka. Hal yang intinya sama juga diutarakan Najib Razak, Perdana Menteri Malaysia, yang memprediksikan bahwa uang akan mengalir balik ke AS.

Selama dekade yang lalu, pertumbuhan ekonomi yang kuat dan naiknya hajat hidup telah menumpulkan perjuangan kelas, namun baik di Brazil dan Turki pertumbuhan telah merosot. Faktanya, di seluruh negara berkembang, pertumbuhan dunia telah mengalami perlambatan yang ditandai hingga tingkatan-tingkatan dimana sulit atau mustahil untuk mengijinkan generasi pemuda yang baru untuk masuk ke dalam pasar-pasar tenaga kerja.

Tiongkok

Krisis BRICs (Brazil, Rusia, India, China) secara organis terhubung dengan perlambatan ekonomi di Tiongkok. Kebangkitan Tiongkok, yang dipandang oleh beberapa pihak—bahkan beberapa pihak yang mengaku “Marxis”—sebagai suatu jaminan masa depan kapitalisme dunia, hanya berlaku mempertajam semua kontradiksi. Selama suatu periode, pertumbuhan ekonomi Tiongkok yang meledak-ledak menyediakan oksigen bagi kapitalisme dunia. Kini keuntungan raksasa ini berbalik menjadi permasalahan raksasa. Investasi massif di industri Tiongkok bertujuan untuk mengekspresikan diri dalam wujud komoditas-komoditas murah secara massal, yang harus menemukan pasar di luar Tiongkok. Bagi kaum manufaktur global, banjir ekspor barang murah dari Tiongkok selama dekade lalu telah mempercepat krisis overproduksi.

Kombinasi suplai buruh murah yang sangat banyak dari pedesaan dengan mesin-mesin dan teknik modern yang dibiayai oleh subsidi-subsidi negara telah membuat Tiongkok dengan cepat membangun suatu basis industri yang kuat. Tiongkok telah menghancurkan pekerjaan-pekerjaan dan kapasitas di seluruh penjuru dunia, menutup pabrik-pabrik di negara-negara pesaing. Perusahaan-perusahaan asing mulai gemetaran di hadapan banjir barang-barang murah dari Tiongkok. Awalnya memang terdapat keuntungan dengan besaran sangat tinggi, namun sebagaimana yang dijelaskan Marx, apa yang terjadi kemudian adalah kapitalis-kapitalis lainnya membanjiri pasar dan tingkat keuntungan mencapai tingkatan normal. Kita menyaksikan hal ini terjadi di Tiongkok. Periode pertumbuhan yang meledak-ledak telah mencapai batas-batasnya. Kini Tiongkok mendapati dirinya berhadapan dengan permasalahan-permasalahan serupa yang melanda setiap ekonomi kapitalis.

Barang-barang murah Tiongkok telah mendominasi banyak sektor. Namun begitu mayoritas industri manufaktur global pindah ke Tiongkok maka overkapasitas juga menyusul dengan cepat. Kini mereka semakin khawatir mengenai naiknya overproduksi (“overkapasitas”) di ekonomi Tiongkok. Hal ini menimbulkan resiko signifikan di apa yang kini disebut sebagai ekonomi terbesar kedua di dunia.

Selama krisis finansial global, Tiongkok membantu menolong sistem kapitalis dengan meluncurkan paket stimulus raksasa yang menyediakan suatu suplai oksigen bagi pasar dunia. Hasilnya, ekonomi Tiongkok ikut mengepul, tumbuh sebanyak 8,7 persen di tahun 2009 dan tumbuh 10,3 persen di tahun 2010. Ini merupakan ekspresimen terbesar di ekonomi Keynesian dalam sejarah. Namun kini kontradiksi-kontradiksi semakin kentara. Sekarang banyak industri yang diuntungkan dari stimulus—mulai industri baja sampai pembangunan kapal hingga pelelehan metal—semuanya lumpuh akibat overkapasitas, atau, untuk menyematkan nama yang tepat, overproduksi. Perlambatan pertumbuhan ekonomi Tiongkok mengakibatkan kehilangan besar dan keharusan proses eliminasi yang menyakitkan.

Financial Times (17/62013) berkomentar “Mulai industri kimia dan semen ke pengolahan bumi dan televisi-televisi layar datar, industri Tiongkok kini dilanda kapasitas ekses yang memelorotkan keuntungan-keuntungan baik di dalam maupun di luar negeri dan mengancam akan mengakibatkan destabilisasi lebih lanjut terhadap Tiongkok yang pertumbuhannya sudah rawan”.

Tiongkok memproduksi setengah dari aluminium dan baja di dunia serta sekitar 60 persen semen dunia namun kapasitas produktif yang baru sedang ditambahkan dengan cepat, bahkan saat ekonomi mengalami perlambatan dan pasar-pasar ekspor menyusut. Melalui baja Tiongkok, produksi tengah berjalan di tingkatan-tingkatan yang tercatat hanya 80 persen dari kapasitas produksi negara yang dipakai. Kepala-kepala industri dan pejabat-pejabat pemerintah mengatakan lebih banyak kapasitas ekses yang perlu ditutup agar sektor tersebut kembali seimbang.

Sekali lagi

“Hanya sekitar dua pertiga kapasitas semen yang digunakan tahun lalu, menurut suatu survei dari Konfederasi Perusahaan Tiongkok.

“Usha Haley menulis: “Terdapat overkapasitas yang sangat besar dan tidak ada pengukur atas suplai dan permintaan serta kami menemukan bahwa subsidi tercatat hingga sekitar 30 persen dari output industri. Sebagian besar perusahaan yang kami lihat juga akan bangkrut kalau tidak ada subsidi-subsidi.”

“Hampir di setiap industri, investasi perusahaan dan rencana-rencana pertumbuhan berdasarkan keyakinan bahwa pemerintah tidak akan membiarkan pertumbuhan turun di bawah 8 atau 9 persen. Namun hal itu tidak lagi terjadi. Pertumbuhan Tiongkok turun hingga 7,5% dan kemudian meningkat sekitar 7,8%. Namun angka ini pun laju terlambat dalam 13 tahun.

“Overkapasitas dalam industri otomatif terjadi secara luas dan merata. Dalam kasus Geely, yang membeli Volvo pada tahun 2010, lebih dari separuh dari laba bersihnya datang secara langsung dari subsidi-subsidi tahun 2011. Faktanya, pendapatan subsidi bagi Geely tahun itu bahkan mencapai 15 kali lebih besar daripada sumber terbesar pendapatan bersih berikutnya–‘penjualan rongsokan metal’—kalau menurut analisis dari Fathom China.” (FT, 17/6/2013)

Skala overkapasitas dan perlambatan dalam pertumbuhan Tiongkok mendorong semakin banyak perusahaan yang akan menghadapi kebangkrutan. Hal ini akan menimbulkan dampak-dampak mendalam terhadap psikologi tiap kelas di Tiongkok.

Perspektif-Perspektif Perjuangan Kelas

Semua keberhasilan ekonomi Tiongkok sepenuhnya berdasarkan tenaga kerja buruh-buruh Tiongkok, yang membanting tulang dengan upah rendah di bawah kondisi-kondisi yang menyerupai Inggris zaman Victoria. Tidak ada tempat lain dimana kesenjangan begitu subur memupuk dendam seperti di Tiongkok, yang seharusnya merupakan negara “sosialis”. Suatu kelas borjuis Tiongkok yang baru telah bangkit, berpestapora dengan kemewahan yang asing bagi mayoritas luas populasi Tiongkok.

Tiongkok dijalankan oleh segelintir elit oligarki super kaya raya yang memperkaya diri mereka sendiri dengan menjarah negara dan mengeksploitasi tenaga kerja buruh-buruh Tiongkok dengan brutal. Namun basis kelas kapitalis Tiongkok sangatlah tipis. Dari suatu populasi yang besarnya sekitar 1.354 juta, hanya terdapat 1,2 juta jutawan (juta menurut ukuran dolar AS). Golongan ini besarnya sebesar 0,1% dari populasi. Sejumlah jutawan dolar kini tumbuh dengan pesat namun menunjukkan betapa lemah kapitalis-kapitalis di Tiongkok. 1,2 jutawan itu merupakan jumlah yang jauh lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah jutawan di Inggris maupun Italia.

Benar bahwasanya di bawah mereka terdapat lapisan subgolongan penghisap dan penindas: manajer-manajer pabrik, direktur-direktur, majikan-majikan, insinyur-insinyur, birokrat-birokrat dan para pejabat di institusi-institusi Negara dan Partai. Bersama dengan keluarga-keluarga mereka, mereka membentuk bagian dari penguasa. Namun bahkan setelah menyertakan hal ini, mayoritas sangat luas dari populasi diasingkan dari kesejahteraan ekonomi dan kekuasaan yang datang seiring dengannya. Kekayaan najis elit penguasa dan anak-anaknya dengan pedih dinista oleh rakyat jelata Tiongkok, sementara di saat yang bersamaan mencoba mencegah korupsi yang secara serentak tak terhindarkan dari kombinasi rezim birokratis dan totaliter yang mengonsumsi jumlah terlalu banyak dari kekayaan yang diciptakan oleh kelas buruh.

Generasi baru buruh-buruh muda tidak siap untuk menanggung upah murah dan kondisi-kondisi buruk yang mau diterima generasi pendahulu mereka yang datang dari latar belakang bekas tani yang baru tiba di kota dari desa-desa kotor dan tertinggal. Tumbuhnya rasa ketidakpuasan di masyarakat Tiongkok diekspresikan oleh jumlah pemogokan, demonstrasi, dan bunuh diri di pahrik-pabrik yang semakin meningkat. Dalam suatu masyarakat totaliter, dimana ketidakpuasan ditindas dengan kekerasan dan hanya ada sedikit katup legal, ledakan-ledakan bisa muncul mendadak dan tanpa peringatan. Bukanlah suatu kebetulan bahwa untuk pertama kalinya dalam sejarah, negara Tiongkok menghabiskan keamanan dalam negeri lebih banyak dibandingkan pertahanan.

Rusia

Berbeda dengan mayoritas negara-negara Eropa, negara Rusia belum memiliki masalah hutang yang serius. Semua ini berkat ekspor-ekspor minyak dan gas serta pertumbuhan ekonomi dalam periode yang lalu, hal ini membangun cadangan finansial yang cukup besar. Namun hal ini pun sudah mendekati batas-batasnya. Serupa dengan negara-negara BRICs lainnya, ekonomi Rusia juga mengalami penurunan, dengan tingkat pertumbuhan diperkirakan sekitar 1%.

Inilah latar belakang bagi naiknya rasa ketidakpuasan, tidak hanya diantara kelas buruh namun juga di lapisan luas borjuasi kecil, yang tercermin dalam naiknya oposisi anti-Putin. Akibat ekspansi kredit, mayoritas buruh dan pemuda kini mendapati diri mereka dibebani hutang-hutang berat. Hal yang sama juga berlaku bagi perusahaan-perusahaan dan kota-kota. Akibatnya adalah jatuhnya investasi dan stagnansi publik. Untuk pertama kalinya, sektor-sektor ekonomi seperti industri otomotif mengalami permasalahan-permasalahan serius dengan penjualan.

Ekonomi ditopang oleh negara melalui metode-metode Keynesian berupa investasi negara secara langsung ke dalam infrastruktur, atau di proyek-proyek seperi Kompetisi Olimpiade Musim Dingin Sochi 2014 dan Piala Dunia 2018. Padanan modern pembangunan piramida Firaun Mesir hanya mungkin terjadi di atas landasan penindasan terhadap buruh-buruh yang diupah murah dan tingginya harga minyak dan gas. Bagaimanapun juga, suatu periode panjang harga minyak tingga telah menimbulkan akibat-akibat tak terhindarkan dalam teknologi-teknologi baru bagi produksi minyak dan gas di AS (“fracking”). Proyek “energi imperial” Putin jadi banyolan. Reaksi histerisnya terhadap tindakan lucu Greenpeace di Laut Barent merupakan tanda yang jelas akan kepanikan dan bukannya kekuatan.

Pertumbuhan ekonomi dalam periode lalu memungkinkan Putin mengikut suatu jenis kebijakan semi paternalistik. Inilah yang memberikan rezimnya penampilan stabilitas. Namun hal ini tidak bisa terus berjalan lama. Mayoritas buruh-buruh baru kini dihadapkan dengan upah rendah dan kondisi kerja yang buruh. Terdapat peningkatan tajam dalam jumlah imigran legal dan semi legal dari Asia Tengah. Stabilitas sosial dan politik telah menunjukkan tanda-tanda ketegangan, dan hal ini menentukan kebijakan Putin—serta kebijakan kaum oposisi.

Tujuan utama oposisi liberal adalah untuk merebut elemen-elemen borjuis kecil dari rangkulan Putin. Tokoh utama di oposisi adalah Alexey Navalny. Pada pemilihan walikota Moskow sebelumnya di bulan September 2013, ia meraih suara sebesar 27,24% melawan Sobyanin, kandidat Putin, yang meraih suara sebesar 51%, Sedangkan kandidat dari Partai Komunis dan pimpinan sayap “kiri” Partai, Ivan Melnikov, hanya meraup suara sebeasr 10,69%.

Navalny yang merupakan seorang pengacara sekaligus investor kecil, dipecat dari Partai Liberal Yabloko karena nasionalisme. Programnya menyertakan perjuangan melawan korupsi, “Pemerintahan yang murah”, pajak rendah, pengenalan suatu rezim visa bagi negara-negara bekas Soviet di Asia Tengah serta deportasi terhadap pengangguran yang bukan warga negara Rusia.

Reintroduksi kapitalisme telah berakibat pada polarisasi kekayaan secara ekstrim. Laporan Kekayaan Suisse Kredit terbaru menunjukkan grafis betapa kekayaan dunia masih terkonsentrasi di tangan-tangan AS dalam hal jumlah mutlak jutawan-jutawan dollar, serta jumlah akumulasi kekayaan yang terkonsentrasikan di tangan-tangan mereka.

Namun hal ini juga menyoroti fakta bahwa Rusia kini memiliki tingkat kesenjangan kekayaan tertinggi di dunia, di luar negara-negara Karibia dengan bilyuner-bilyuner penduduk. Di seluruh dunia, total bilyuner bertanggungjawab atas total kekayaan rumah tangga sebesar 1% – 2%; di RUsia hari ini, 110 bilyuner menguasai 35% kekayaan.

Peningkatan tekanan antar kelas secara parsial dan temporer berkurang akibat pertumbuhan ekonomi. Namun kini saat pertumbuhan tersebut menurun dengan tajam dan mencerminkan krisis umum kapitalisme dunia. IMF memotong perkiraan pertumbuhan PDB Rusia pada 2013 menjadi +1,5% dibandingkan jumlah 5% dan 8% sebelum krisis finansial. Situasi di Rusia mengarah pada ledakan sosial bahkan dalam jangka pendek.

Lenin mengatakan bahwa syarat pertama bagi revolusi adalah strata penguasa berada dalam krisis dan tidak mampu terus berkuasa dengan cara yang lama. Terdapat suatu sentimen umum pesimisme terhadap penguasa, dan dalam beberapa momen berbatasan dengan kepanikan. Gagasan utama Putin adalah membangun suatu negara polisi yang kuat sebelum pecah krisis.

Syarat kedua revolusi menurut Lenin adalah pemeraman di lapisan tengah masyarakat yang berayun antara revolusi dan kontra revolusi. Demonstrasi-demonstrasi massa menentang manipulasi elektoral, yang wataknya didominasi kelas menengah, mengindikasikan bahwa proses ini sudah dimulai.

Syarat ketiga, yaitu buruh-buruh perlu siap berjuang dan berkorban untuk mengubah masyarakat, belum matang di Rusia. Namun majunya krisis ekonomi dan tumbuhnya ketidakpuasan terhadap Putin berarti hanya masalah waktu bagi Rusia untuk mengalami ledakan-ledakan sosial yang serupa dengan yang terjadi di Turki dan Brazil.

Permasalahannya ada pada kepemimpinan. Ketidakmampuan mutlak dari apa yang disebut-sebut sebagai Partai Komunis untuk menawarkan suatu alternatif kepada massa berarti bahwa protes-protes jatuh ke tangan pimpinan kaum Liberal borjuis dan demokrat borjuis kecil. Namun gerakan-gerakan ini hanya merupakan gejala dari pergolakan yang kian tumbuh, yang cepat atau lambat harus diekspresikan dalam ledakan sosial. Pada waktunya, melalui aksi-aksi, kelas buruh Rusia akan menemukan kembali tradisi sejati Revolusi Oktober dan Bolshevisme.

India dan Pakistan

Kaum borjuasi India mengidap halusinasi akut. Perdana Menteri Monamhan Singh mengklaim bahwa “kecepatan jelajah” India sebesar 8% – 9%. Kini hanya setengahnya. Investasi swasta telah mengering. Inflasi sekarang naik lebih dari 10% dan terus naik. Rupee jatuh 13% dalam jangka tiga bulan di tahun 2013. The Economist (24/8/2013) memperingatkan: “Konglomerat-konglomerat yang dulunya menyorak-soraki kebangkkitan India sebagai suatu negara superpower kini menuai peringatan pergolakan sipil”.

Prediksi ini sudah menjadi kenyataan. Pemeraman masyarakat India tercermin dalam serangkaian gerakan massa melawan pemerkosaan serta serangan terhadap kaum perempuan. Keduanya memiliki watak borjuis kecil namun menunjukkan arusbawah ketidakpuasan terhadap fondasi-fondasi nasionalis Hindu dari negara India.

Manifestasi-manifestasi ini seperti buih di ombak di samudera; dengan kata lain gejala-gejala arus di bawah permukaan yang jauh lebih dalam dan kuat. Ketidakpuasan massa yang tidak menikmati keuntungan dari pertumbahan ekonomi India, kini menjelma jadi angkara. Ini yang ditunjukkan oleh serangkaian pemberontakan tani dan di atas segalanya, pemogokan massa dua hari pada Februari 2013.

Di sisi lain perbatasan artifisial, Pakistan telah tereduksi ke tingkat penderitaan yang paling parah sejak Kemerdekaan. Ambruknya ekonomi, serangan-serangan teroris, bom-bom bunuh diri, naiknya harga-harga, bunuh diri keluarga-keluarga melarat, perdagangan anak-anak dan organ tubuh manusia, penyiksaan dan pembunuhan terhadap perempuan. Semua ini mengingatkan kita kembali pada pernyataan Lenin: “Kapitalisme adalah horror tanpa akhir”.

Harapan-harapan massa yang mendambakan peningkatan di bawah pemerintahan PPP akhirnya dikhianati hingga koyak moyak. Kini pemerintahan sayap kanan Liga Muslim tengah menjalankan serangan-serangan lanjutan. Mereka menjarah negara melalui privatisasi perusahaan-perusahaan negara seperti Pakistan International Airlines, layanan pos, perkeretaan, WAPDA (Water and Power Development Authority atau Otoritas Pengembangan Air dan Tenaga), dan lain-lain.

Harapan-harapan massa yang mendambakan peningkatan di bawah pemerintahan PPP akhirnya dikhianati hingga koyak moyak. Kini pemerintahan sayap kanan Liga Muslim tengah menjalankan serangan-serangan lanjutan. Mereka menjarah negara melalui privatisasi perusahaan-perusahaan negara seperti Pakistan International Airlines, layanan pos, perkeretaan, WAPDA (Water and Power Development Authority atau Otoritas Pengembangan Air dan Tenaga), dan lain-lain.

Tidak ada jalan keluar di atas landasan kapitalis. Baik Liga Muslim maupun PPP maupun kediktatoran militer tidak ada yang akan bisa berhasil. Hanya Revolusi Sosialis yang bisa menunjukkan jalan keluar dari neraka dimana jutaan rakyat hidup di Pakistan, India, Bangladesh, Nepal, dan Sri Lanka. Kondisi-kondisi parah yang melanda hidup mereka sudah tak tertahankan lagi. Kondisi-kondisi obyektif tengah disiapkan untuk suatu gelombang pasang revolusioner di atas garis Revolusi 1968-1969. Revolusi demikian di masa silam tergelincir akibat kurangnya kepemimpinan. Namun kekuatan-kekuatan IMT di Pakistan yang semakin besar, dibawah kondisi-kondisi paling sulit yang bisa dibayangkan, menawarkan masa depan kemenangan. Kita harus melipatgandakan daya upaya kita untuk memperkuat angkatan-angkatan Marxis Pakistan demi menjami kemenangan tersebut.

Afghanistan

Setelah tiga belas tahun peperangan berdarah-darah, kaum Imperialis berupaya membebaskan dirinya dari rawa Afghan. Saat pasukan sekutu yang dipimpin AS masuk Afghanistan, kami memprediksikan bahwa kesuksesan awal mereka akhirnya akan berakhir dalam kegagalan:

“Kecepatan kejatuhan pertahanan Taliban dan mudahnya Sekutu Utara memasuki Kabul, telah membuat banyak orang menyimpulkan bahwa perang sudah selesai serta Taliban sudah habis. Hal ini merupakan pembacaan yang salah atas situasi […]

“Taliban memang kehilangan cengkeraman kekuasaannya, namun tidak kehilangan potensinya untuk berperang. Mereka terbiasa melancarkan perang gerilya di pegunungan. Mereka telah melakukannya sebelumnya dan akan melakukannya lagi. Di utara, mereka berperang di teritori yang asing dan bermusuhan. Namun di pedesaan dan pegunungan daerah Pushtoon, mereka berada di tanah air mereka sendiri. Prospek ini membuka jalan kampanye perang gerilya berkepanjangan yang bisa berlangsung selama bertahun-tahun. Bagian pertama kampanye perang sekutu memang gampang. Namun bagian kedua tidak akan segampang itu. Pasukan Inggris dan Amerika harus masuk ke daerah-daerah Pushtoon demi misi-misi lacak dan hancurkan, yang mana mereka akan jadi mangsa empuk bagi para gerilyawan. Jatuhnya korban jiwa tidak terhindarkan. Pada beberapa tahap hal ini akan berakibat pada opini publik di Inggris dan Amerika.

“Amerika berharap mampu melancarkan serangan pembedahan secara cepat terhadap Bin Laden, dengan bersandar pada serangan udara. Namun sebaliknya konflik malah semakin rumit dan sulit, sera prospek suatu akhir terus tertunda hampir tanpa batas. Mereka harus terus menempatkan pasukan-pasukan tidak hanya di Afghanistan namun juga di Pakistan serta negara-negara lain untuk menyokongnya […]

“Ini merupakan posisi yang jauh lebih buruk dan berbahaya dibandingkan posisi yang didapati Amerika pada 11 September. Washington kini akan terdorong menanggung rezim yang bangkrut dan tidak stabil di Pakistan, termasuk semua negara-negara ‘bersahabat’ di wilayah tersebut, yang mengalami destabilisasi oleh aksi-aksinya. Jika tujuan operasi ini adalah untuk memeragi terorisme, maka mereka akan menemukan bahwa apa yang mereka capai adalah sebaliknya. Sebelum peristiwa-peristiwa ini, kaum Imperialis mampu mempertahankan jarah yang relatif aman dari ketegangan-ketegangan dan peperangan dari belahan dunia ini, namun kini mereka sepenuhnya terbelit di dalamnya. Aksi-aksi mereka sejak 11 September telah membuat Inggris dan AS terjerumus dalam rawa yang mana mereka akan sulit melepaskan diri darinya.

Ini ditulis pada 15 November 2001 (Afghanistan after the fall of Kabul: Is the war over?). 12 tahun kemudian tidak ada satupun kata dari tulisan kami yang perlu diganti.

Dengan PDB per kapita $528 di 2010/2011, Afghanistan masuk diantara 10 negara termiskin di dunia. Tahun 2008, 36 persen populasi Afghanistan hidup di bawah garis kemiskinan, setengah dari populasi dianggap rawan. 134 dari 1.000 bayi yang dilahirkan mengalami kematian, ini merupakan tingkat kematian bayi tertinggi di dunia. Usia harapan hidup 48,1 tahun. 75 persen populasi menderita buta huruf. Afghanistan juga meripakan penyuplai opium terbesar di dunia.

Jumlah besar uang yang digunakan untuk perang-perang tak berguna akan cukup kalau digunakan untuk meningkatkan hajat hidup rakyat. Namun sebaliknya, kaum Imperialis telah memporak-porandakan Afghanistan dan kini terdesak untuk angkat kaki, tanpa memberikan solusi apapun. Mereka kini tengah bernegosiasi dengan Taliban, yang tak terelakkan lagi akan punya jatah besar dalam pemerintahan di Kabul kelak. Tak ada yang tercapai kecuali destabilisasi seluruh kawasan secara lebih lanjut, dan ini diawali dengan Pakistan.

*diterjemahkan dari “Perspectives for World Revolution 2014 (Draft document) – Part three” sebagaimana yang ditulis oleh International Marxist Tendency dan dipublikasikan pada Jumat 31 Januari 2014. Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan dipublikasikan kembali via Bumi Rakyat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: